JellyMuffin.com - The place for profile layouts, flash generators, glitter graphics, backgrounds and codes
6 April 2008

17Tahun "Bapak Itu Menyimpan Kami"  

0 komentar

Bagian Satu
Sore itu Nungki masih sibuk di depan surat kabar kesayangannya. Matanya menelusuri kata demi kata yang tertulis di halaman tengah. Alis gadis itu mengerenyit. "Ma, lihat, ada seorang lagi gadis yang dinyatakan hilang." Seorang wanita setengah baya, yang terlihat sibuk memintal benang sulam, menoleh dan tersenyum, "Ah, mungkin hanya kawin lari atau semacamnya. Lagipula kejadian seperti tu sudah banyak terjadi bela- kangan ini, bukan?" Nungkin menatap wajah mamanya dan mengangguk, "Iya juga, sih. Tapi ini kan sudah yang kelima kalinya sejak bulan lalu." Sang ibu kembali sibuk dengan pekerjaannya, hanya menggumam. "Bagaimanapun pasti ada alasan yang rasionil atas hilangnya gadis-gadis itu.
Sudahlah, itu kan urusan polisi." Nungki menutup koran di tangannya dan mendekati ibunya, "Bagaimana kalau aku yang hilang?" Sang ibu tertawa dan mengelus kening anak semata wayangnya, "Jangan bilang begitu. Kata orang itu pamali." Nungki tersenyum dan beranjak menuju dapur. Ruang dapur itu terlihat sederhana, hanya beberapa rak di atas tempat cuci piring, sebuah rice cooker, dan kulkas tua di sudut ruangan. Nungki dan ibunya memang hidup sederhana, apalagi sepeninggal kepala rumah tangga mereka yang meninggal akibat serangan kanker paru-paru. Hal itu pulalah yang selalu membuat Nungki merasa antipati pada perokok. Nungki mengambil termos air panas dan mengisi dua mug kosong di hadapannya. Benaknya masih menyimpan rasa penasaran akan kehilangan perempuan-perempuan itu. Mungkin aku terlalu banyak membaca cerita detektif, pikir Nungki lalu tertawa sendiri.

Suasana kampus ramai seperti hari-hari aktif lainnya. Nungki seperti biasa pula menghabiskan waktunya di ruang baca, suatu kegemarannya yang membuatnya jauh terkucil dari pergaulan anak kampus. Sedang asiknya membaca, mendadak terdengar sebuah sapaan dari belakangnya, "Hai Nungki, sedang apa?" Nungki menoleh dan melihat Deni sudah membungkuk di belakangnya, menjuluran kepala melewati bahunya. Nungki menjauh dengan gusar, sementara Deni hanya terkekeh, "Dih, begitu saja takut. Aku kan bukan drakula." Tapi Nungki tidak mengacuhkannya. "Nungki," ucap Deni setelah mengambil tempat di sebelah gadis itu,"bagaimana kalau nanti aku yang mengantar kamu pulang?" Nungki memandang dengan sebal, ini sudah yang kedua kalinya minggu ini, "Sori, aku naik angkutan saja." Deni menghela nafasnya, mendadak wajahnya tampak lesu, "Mengapa sih kamu selalu menghindar dariku. Memangnya aku salah apa?" Sekejap Nungki merasa kasihan juga, "Bukan salah apa-apa, kok. Aku memang anaknya begini." "Baiklah," ucap Deni kemudian, seraya bangkit berdiri, "mungkin suatu saat nanti kamu akan lebih ramah padaku." Nungki tersenyum dan memandang pemuda itu berlalu dan keluar dari ruang baca. Sebenarnya Nungki juga menyukai Deni, dari cara bicaranya yang ceplas ceplos dan gayanya yang kata anak jaman sekarang `funky'. Tapi Nungki,
tetap lebih suka berkonsentrasi pada studi dan dunianya sendiri.

Sore itu Nungki sudah di sudut jalan sambil menunggu mobil angkutan datang. Mendadak perhatian gadis itu tersita pada seorang lelaki cina yang sibuk mempertahankan tas coklat di tangannya dari dua orang pemuda bertampang beringas. Nungki melihat ke sekellilingnya dan menyaksikan orang-orang di pinggir jalan yang hanya menonton tanpa bertindak apa-apa. Nungki merasa jantungnya berdebar menyaksikan adegan itu, dan tanpa disadarinya mulutnya berteriak lantang, "Polisi! Polisi!!" Kedua pemuda bertampang beringas itu langsung terlihat panik dan meninggalkan si bapak yang masih terengah-engah. Seseorang di belakang Nungki berbisik, "Waduh, Non. Kok sampeyan berani sekali, kedua orang itu anak sekitar sini yang sudah biasa mengompasi orang.." Nungki melirik ke arah sumber suara dan memandang sinis, "Tapi bukan begitu caranya kalau ada copet." Sementara bapak yang nyaris kehiangan barangnya tadi sudah menghampiri Nungki dengan senyum di bibirnya. "Terima kasih, Dik. Untung tadi Adik berteriak." Nungki tersenyum dan mengangguk, "Ah, tidak apa-apa, Pak." Lelaki itu menatapnya sejenak seolah memperhatikan, lalu menolehkan wajahnya ke seberang jalan, "Saya lihat tadi Adik menunggu sendirian di sini. Bagaimana kalau saya mengantarkan Adik pulang? Kendaraan saya ada di sana." Nungki melirik ke arah pandangan si bapak dan melihat sebuah sedan berwarna hitam metalik. Nungki menggelengkan kepalanya, "Wah, terima
kasih, Pak." Si bapak dapat menangkap pancaran keragu-raguan itu dari gadis di depannya. Dengan tersenyum bapak itu mengangguk, "Baiklah, tapi terima kasih sekali lagi." Nungki ikut tersenyum.

Sesampainya di rumah Nungki menceritakan kejadian itu pada ibunya, sang ibu tersenyum dan dalam hati merasa bangga, "Bagus, kamu sudah bertindak benar." Nungki juga merasa senang dalam hatinya. Hari itu ia jadi pahlawan.

Bagian Dua
Hari Minggu itu Nungki bangun kesiangan, sehingga ia mendapati dirinya sudah sendirian di rumah. Ibunya sudah berangkat ke toko benang yang dikelolanya. Nungki merasa bingung harus makan apa, tapi akhirnya Nungki memutuskan untuk berjalan kaki ke pasar, membeli bahan-bahan masak dan memasak makan siangnya sendiri. Pasar tradisional di daerahnya terletak tak jauh dari rumahnya, hanya lima menit berjalan kaki. Suasana siang itu cukup panas, walau mata- hari belum tinggi. Jalanan terlihat sepi, hanya beberapa pembantu kesiangan yang searah dengannya menuju ke pasar. Nungki menikmati suasana itu. Matanya memandangi pepohonan yang menghijau rindang sepanjang jalan, mendadak sesuatu menabraknya dari belakang, tubuhnya terjatuh dan tulang punggungnya terasa sakit sekali. Nungki menoleh dan melihat seorang bapak turun dari mobil. "Aduh, maaf. Saya tdak sengaja, tadi saya sedang menelpon. Aduh, aduh," si bapak terlihat panik. Nungki mengamati dengan seksama bapak itu, dan ia langsung teringat bapak yang kemarin nyaris kecopetan. Bapak itu juga mengenalinya, "Ya ampun. Ini kan Non yang kemarin. Aduh, apa yang telah saya lakukan?" Nungki berusaha bangkit berdiri, namun punggungnya terasa begitu nyeri. Si bapak langsung membungkuk dan membantunya berdiri, "Kali ini Adik harus mau saya tolong." Nungki merintih kesakitan saat bapak itu memapahnya masuk ke dalam mobil.

"Saya bawa ke rumah sakit saja ya, Dik," ucap si bapak di dalam mobil. Tapi Nungki menggeleng, "Sudahlah, Pak. Antar saya ke rumah saja." Bapak itu mengangguk, wajahnya masih terlihat panik, "Oh, baiklah. Rumahnya di mana?" Nungki mengacungkan tangannya, dan mobil yang mereka naiki langsung melaju. Si bapak membantu Nungki turun dari mobil dan memapahnya ke teras rumah. "Nah, apa lagi yang bisa saya lakukan?" tanya si bapak seraya menyeka peluhnya. Nungki tersenyum geli, "Sudahlah, Pak. Mungkin Bapak lebih baik pulang saja." "Ah, jangan begitu, dong," ucap si bapak dengan nada khawatir, "bagaimanapun kan saya yang salah."
"Sudahlah, Pak. Saya tidak apa-apa kok." "Benar saya disuruh pulang?" tanya si bapak.

Nungki memandang kakinya yang lecet di beberapa tempat ketika terjatuh tadi dan merintih lagi, "Iya." Benar, nih?" mendadak Nungki menangkap nada yang aneh dari si bapak. Nungki mengangkat kepalanya dan memandang si bapak. Mendadak bapak itu menutupi wajahnya dan mulai menangis. "Mengapa semua orang menyuruh saya pergi? Mengapa?" Dan sebuah pukulan melayang ke wajah Nungki.

What next?

You can also bookmark this post using your favorite bookmarking service:

Related Posts by Categories



News