15 April 2008

Cerita Panas My Sex Experience: Tol Jagorawi  

3 komentar

Ibarat sepasang muda mudi yang sedang jatuh cinta, segalanya hanya milik berdua. Tidak peduli dengan sekitar. Orang lain dianggap hanya sebagai pelengkap. Begitulah rasanya jika sudah dilanda dewi amor. Demikian pula yang terjadi pada diriku, Dinan, 29 tahun, ketika masa remaja dahulu.

Jakarta-Bogor
Selepas SMA aku diterima di salah satu universitas ternama di kota hujan Bogor. Aku diterima melalui jalur tanpa test. Ini memungkinkan karna nilai-nilaiku dari kelas 1 sampai kelas 3 di atas rata-rata. Akupun termasuk menjadi pelajar teladan di sekolahku. Sudah menjadi tardisi di keluargaku untuk melanjutkan sekolah sampai jenjang sarjana melalui universitas negeri. Dan aku, si bungsu, yang kemudian menutup tradisi tersebut, karena semua kakak-kakaku sudah menjelang selesai perkuliahannya. Bahkan ada yang melanjutkan ke S2. Teman-teman dan para guru menyambut gembira. Termasuk Lina, pacarku (Mengenai Lina bisa dibaca di bag 1). Berbagai persiapan aku lakukan sampai dengan mendaftar langsung ke Bogor. Semua kulakukan sendiri.

Aku kost di dekat kampus, agar memudahkan dalam perkuliahan. Hanya jalan beberapa menit, aku sudah mencapai kampus. Banyak juga penjual makanan di sekitar kost ku. Aku kost di tempat khusus laki-laki dengan jumlah keseluruhan 35 orang penghuni. Meski semua laki-laki, nuansa religius sangat kuat. Aku yang berasal dari Jakarta dengan kehidupan metropolitan jadi sedikit kaget dengan suasana yang baru ini. Akan tetapi aku berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dan memang bukan menjadi masalah untukku.

Hampir setiap hari sabtu aku pulang ke rumah di Jakarta. Dengan membawa setumpuk cucian agar bisa dicuci oleh pembantu di rumah. Karena baru, aku belum mendapatkan tukang cuci di Bogor. Dan memang beberapa bulan kemudian aku sudah mendapatkan tukang cuci. Jadi tidak perlu lagi aku membawa cucian kotor ke Jakarta. Aku pulang terkadang menggunakan bis via tol Jagorawi atau naik kereta api listrik. Waktu tempuhnya kurang lebih sama, sekitar 1,5 jam sudah sampai rumahku. Ada juga teman yang tiap hari pulang pergi Jakarta-Bogor.

Aku termasuk yang malas kuliah. Sering menitipkan absen ke teman-teman. Kadang hari Kamis aku sudah pulang ke Jakarta, padahal perkuliahan sampai hari Jumat atau Sabtu. Lumayan lama aku bisa santai di rumah atau berkumpul dengan teman-teman di klub pecinta alam. Kadang aku pergunakan untuk travelling untuk hiking ke gunung-gunung di Jawa Tengah atau Timur, atau rock climbing di kawasan gunung kapur Bogor. Sesekali caving di gua-gua sekitar Bogor.

Meskipun aku aktif di dunia alam bebas, aku masih memiliki waktu untuk jalan-jalan dengan Lina. Lina yang tinggal di Jakarta juga kuliah di salah satu universitas swasta terkemuka di daerah Jakarta Barat. Kadang kita janjian bertemu meskipun harus mengorbankan jam kuliah. Lina sendiri masih ditemani dengan supir pribadinya yang kemana-mana selalu diantar dengan Kijangnya. Terkadang kita bolos hanya untuk jalan-jalan ke Dufan Ancol, nonton 21 theatre atau aku ajak jalan ke air terjun di daerah Bogor.

Suatu kali, ketika aku baru 5 bulan kuliah di Bogor, Lina telpon ke sellularku.
"Hallo Dinan, lagi apa?" tanyanya manja.
"Lagi di kost, nanti jam 1 ada kuliah. Elo dimana Lin?" tanyaku.
"Di kampus nih. Lagi bosen dan kangen." Jawabnya.
"Haahh...bosen ama gue, trus kangen ama siapa dong?" tanyaku bercanda.
"Ihh...Dinan sih kok begitu, maksud Lina sih bosen di kampus, trus kangen dengan elo." Jawab lina.
"Ohh...begitu. Ya udah, main ke bogor aja yuk. Nanti kuajak makan di ayam goreng yang enak", ajakku.
"Nah lho, emang gak kuliah?" tanya Lina.

"Gampang deh, elo nyampe kampus jam 3 an aja yah. Nanti ketemu di kampus aja, di dekat tempat parkir mobil. Gimana?" tanyaku.
"Ok deh. Seneng banget jalan-jalan ke Bogor nih." Jawab Lina.

Pk 15.00 aku sudah keluar dari ruang kuliah, dan langsung menuju tempat parkir. Hari ini kuliah hanya 1 jam saja. Sebenarnya ada lagi yang jam 3 siangnya, tapi aku sudah menitipkan absen ke teman. Di kejauahan mobil Lina sudah parkir, mesinnya maih menyala. Tidak kelihatan apakah ada orang di dalamnya, sebab kaca gelapnya cukup membuat orang kesulitan melihat dari luar. Ketika sudah dekat dengan mobilnya, kacanya turun perlahan-lahan, tampak senyum ceria Lina menghias di wajahnya. Segar wajahnya. Dengan kemeja warna merah muda, celana krem Reply membuat penampilnnya makin trendy.

"Hallo cowok, mau kemana?" goda Lina dari dalam mobil.
"Hallo juga cewek, mau makan siang nih. Ikut nggak?" jawabku.
"Boleh juga nih, tapi traktir yah cowok?" kata Lina.
"Boleh aja sih, tapi ada syaratnya lho..." kataku.
"Apaan tuh syaratnya?" tanya Lina.

Aku mengedipkan mata sambil mengerling ke supirnya yang lagi duduk di belakang kemudi, sambil aku tersenyum nakal. Lina pun senyum melihat gaya ku tadi. Aku langsung naik ke mobil dan menuju tempat makan. Kita makan di kawasan pertokoan Internusa. Waktu itu belum kebakaran, jadi masih bagus dan ramai dikunjungi orang. Ada ayam goreng terkenal di mal itu, namanya ayam goreng fatmawati. Masakan ala sunda dengan pilihan menu yang variatif sekaligus sambal lalapnya. Kami makan berdua sambil ngobrol panjang lebar. Supirnya diberikan uang makan untuk cari makan sendiri. Dengan ditemani minuman dingin membuat nikmat menu makan siang itu.

"Lin, elo bilang gak ke ortu kalo ke Bogor hari ini?" tanyaku di sela-sela makan siang.
"Gak usah, nanti kan gue pulang langsung ke rumah. Gampanglah," jawab Lina.
"Eh Dinan, kost elo dari sini jauh gak?" tanya Lina.
"Ga juga sih, kalo jalan sih lumayan jauh. Tadi dari kampus deket sebenarnya. Mau main?" tanyaku.
"Pingin tau aja sih kaya gimana kost an cowok," jawab Lina.
"Ga kesorean nantinya? Sekarang aja udah hampir setengah lima'" kataku.
"Ga apa deh. Malam sampai jakarta juga gak apa, nanti gue telpon mamah klo telat pulang," jawab Lina.
Setelah membayar semua makanan, kita lihat-lihat sebentar mal terbesar di kota Bogor waktu itu. Setelah itu kita ke mobil dan langsung menuju kost ku. Sekitar 10 menit kita sudah berada di halaman kost ku. Teman-teman agak heran ada mobil siapa yang masuk di halaman kost. Ketika aku turun dari mobil, suasana jadi ramai.
"Gile Dinan...bawa mobil nih ceritanya..!" kata mereka bersahut-sahutan.
Aku memang akrab dengan seluruh teman-teman di kost, juga dengan kakak angkatan kelas. Jadi saling ledek adalah hal yang biasa. Ketika Lina turun dari mobil, suasana makin meriah. Wajah Lina tampak memerah dengan suasana seperti itu. Lina tampak berusaha berlindung di belakangku sambil menahan senyum.
"Wahhh...bawa siapa tuh Dinan..?"
"Dinan, yang kemarin rambut pendek mau dikemanain tuh?"
"Iya nih, sekarang kok jadi panjang rambutnya, apa salah orang yah kemarin gue lihat di jalan?"
"Wah baru sekali nih lihat peragawati, cakep banget yah..."
Suasana ramai membuat kita berdua senyum-senyum aja. Lina memang seorang peragawati. Dia lulusan salah satu sekolah peragawati terkenal saat itu dan masih aktif dalam dunia model. Akhirnya aku ajak Lina menuju kamarku yang terletak di lantai 2. Kamarku berukuran 3x4m lumayan rapi untuk ukuran anak cowok. Apalagi kalau dibanding dengan kamar teman-temanku. Sengaja aku memilih lantai 2 agar lebih tenang dalam belajar, karena tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Apalagi posisi kamarku dari jendela tampak gunung Salak yang selalu kelihatan sejuk dipandang. Kita ngobrol-ngobrol santai sambil mendengarkan alunan lagu dari radio compo milikku. Cuaca Bogor pun tidak panas. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB. Sudah sore.
"Dinan, udah sore, gue pulang dulu yah," kata Lina.
"Yahh...masih kangen tau...," kataku merayu.
"Kalo kangen, ikut aja yah ke Jakarta?", Lina mengajak.
Aku berpikir, kenapa tidak. Sudah beberapa hari tidak pulang ke Jakarta. Aku OK in ajakan Lina yang disambut cium hangat di pipiku. Senang rasanya diperlakukan seperti itu. Aku langsung mempersiapkan perlengkapanku untuk ke Jakarta dan tidak ada 5 menit kita sudah menuju tol Jagorawi jurusan Jakarta. Cuaca agak mendung. Biasalah, kota Bogor waktu itu memang masih dijuluki kota Hujan. Hampir tiap sore hujan. Saat ini sudah berubah julukan menjadi kota Angkot, karena dimana-mana angkot melulu yang ditemui.

Masuk pintu tol, gerimis sudah mulai. Suasana sejuk kota Bogor ditambah AC mobil membuat badan terasa dingin. Sebelumnya kita beli batagor dan minuman ringan untuk menemani perjalanan kali ini. Sambil ngobrol kita makan dan minum, sesekali mengulas tentang kuliah masing-masing. Di daerah Cibinong, hujan mulai deras, malam mulai turun. Di luar hanya kelihatan gelap dan titik-titik cahaya mobil. Mobil tidak bisa melaju dengan cepat karena terhadang oleh hujan. Lina yang tampak lelah mulai bersandar pada diriku. Aku merapatkan badan dan melingkarkan tangan di pingganggnya. Hangat terasa. Alunan Kla Project memecah kesunyian yang ada.

Udara dingin membuat kita berdua makin merapatkan badan. Kucium dahinya dengan mesra, Lina hanya diam saja, malah lebih merapatkan diri. Kuanggap ini isyarat bahwa Lina tidak menolak ciumanku. Kukecup bibirnya perlahan, takut ketahuan supirnya. Kalau toh supirnya melihat di kaca tengah, gelap ruangan mobil tidak akan kelihatan apa yang kita lakukan. Lagi pula supirnya harus konsentrasi dengan jalan yang hujan.

Lina pun menyambut ciumanku. Kami berciuman lembut. Desahan Lina terdengar menggairahkan. Mungkin karena suasana yang dingin membuat aku semakin berairah. Salah satu fantasiku adalah bercinta di dalam mobil yang sedang berjalan. Maka kucoba merebahkan Lina dalam pangkuanku segingga posisinya tiduran di pahaku. Kubelai rambutnya dan kuraih tangannya untuk kucium. Tangaku bergerak menyusuri lehernya dan melepaskan 2 kancing baju teratasnya. Perlahan jariku masuk ke dalam kemejanya dan meremas dada yang masih mengenakan bh. Lina melenguh pelan ketika kuremas dadanya. Padahal masih menggunakan pelapis bh. Tangan yang satu kuraih tangan Lina dan kugerakkan menuju kemaluanku yang sudah menonjol tampak dari luar celanaku. Linapun mengerti apa yang kumaksud.

Usapan dan remasan Lina di celanaku membuat kemaluanku makin terasa keras. Akupun mulai meraba dada bagian dalam Lina. Terasa putingnya yang keras, kucoba memilin-milin ujungnya. Lina melenguh pelan lagi. Kedua kakinya tidak bisa diam, seperti sedang menggesek sesuatu di betisnya. Aku mengerti, itu tanda Lina sudah mulai bergairah. Kucoba raih selangkangan Lina dari luar celananya. Kuraba pelan sambil sesekali menekan di daerah sensitifnya. Setiap tekanan tampak Lina menahan nafas dan bergerak erotis. Aku senang sekali melihatnya. Linapun makin kuat meremas kemaluanku. Ingin rasanya langsung membuka celanaku waktu itu. Tapi kupikir, suasana belum memungkinkan.

Perlahan tapi pasti, kucoba membuka kancing celana dan menurunkan resleting celana Reply milik Lina. Lina diam saja. Bahkan ketika kumasukkan jariku memebelai bulu-bulu halus sekitar kemaluannya, Lina mencoba memberi jalan dengan sedikit mengecilkan perutnya agar tanganku tidak terjepit perut dan celananya. Aku senang dengn perlakuannya. Maka dengan sedikit deg-degan, aku mulai meraba kemaluannya. Basah. Itu yang aku rasakan pertama kali. Dan ketika menyentuh daerah yang basah itu, Lina seperti terkaget dan refleks menjepit tangan dan jariku. Perlahan kucoba membuka belahan pahanya. Lina pun manut, dan mulai mengurangi tegangan di kedua pahanya. Kuelus sekitar kemaluannya untuk sedikit memberikan fantasi, aku tidak langsung meraba titik lubangnya. Kubiarkan Lina menikmati sensasi pada kemaluannya. Dan secara tidak sadar, paha Lina terbuka untuk memberikan ruang lebih leluasa bagi jari-jariku di daerah sensitivnya.

Perlahan aku mulai mengusap titik lubang kemaluannya. Lina mendesah, nafasnya sedikit keras. Sedikit kuberikan tekanan pada vaginanya untuk melihat reaksi Lina. Dan hasilnya pantat dan pinggulnya ikut bergoyang. Sedikit kumasukkan telunjukku. Sudah semakin basah. Kucoba masukkan lagi telunjukku, Lina makin bergelora. Tangannya mencoba membuka kancing celana dan risleting celanaku. Aku surprised dengan tanggapannya. Dan tanpa basa-basi kemaluanku yang sudah tegang dikeluarkan dari celana dalamku, kemudian dijilat dengan lembut. Rasanya darahku langsung naik ke ubun-ubun. Lina pandai memainkan kemaluanku. Dijilati juga kepala kemaluanku, geli yang tak terkira. Seolah-olah membersihkan, Lina menjelajahi lekuk kepala kemaluanku dengan sabar. Aku tenggelam dalam kenikmatan.

Tiba-tiba Lina memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. Hangat. Hangat sekali. Rasanya kemaluanku seperti diselimuti sesuatu yang licin dan hangat. Lina pun tidak lupa dengan perlahan mengurut pangkal kemaluanku. Justru hal ini yang membuat aku gemas, rasanya diurut dan dikocok kuat pun aku tidak keberatan. Kehabisan akal, aku coba menaik turunkan kemaluanku seolah-olah seperti berhubungan intim. Linapun mengimbanginya dengan menaik turunkan mulutnya dengan lebih cepat. Gesekan bibir Lina yang merah dengan kulit kemaluankku membuat sensasi yang dasyat. Hujan yang deras menambah hangat gairah kita berdua.

Jariku pun makin nakal memainkan vagina Lina. Dan kelihatannya semakin cepat aku mainkan kemaluannya, semakin semangat pula Lina mengisap kemaluanku. Jariku sudah hampir masuk seluruhnya. Tiga perempat telunjuk sudah tenggelam dalam vaginanya. Ku coba mainkan klitorisnya. Lina menggelinjang menahan nafsu. Terkadang telunjukku dijepit kedua pahanya. Bukan hanya telunjukku saja yang basah, tapi jari-jari lain juga ikut terkena cairan vaginanya. Semakin basah jari-jariku, nafsuku makin memuncak. Aku membayangkan betapa indahnya vagina yang basah dengan cairan kenikmatan. Kucoba memasukkan seluruh jari tengahku, dan berhasil. Lina tampak menegang seperti ada yang ditahan. Perlahan kutarik keluar jariku dan kemudian kumasukkan lagi. Pelan tapi pasti tanganku mulai bergerak.

Entah bagaimana, aku punya pikiran nakal. Aku ingin anal sex di dalam mobil. Kubisikkan ke telinga Lina " Lin, dimasukkin yah...?"
"Gimana caranya?" tanya Lina, berbisik juga.
"Kamu duduk menghadap depan aja, pura-pura lihat depan," jawabku.
Lina paham maksudku, maka dengan cepat Lina pura-pura bangkit dari duduknya. Supaya tidak mencurigakan supirnya, Lina sengaja mengajak bicara supirnya.
"Sudah sampai daerah mana Pak?' tanya Lina basa-basi ke supirnya, sementara aku membuka celana panjangku. Aku hanya membuka satu saja untuk memudahkan pahaku dilebarkan.
"Daerah cibubur Non." Jawab supirnya sopan.
"Berapa lama lagi sampai rumah Dinan?" tanya Lina lagi mencoba mengulur waktu, sebab aku masih menurunkan celana dalamku.
"Paling lama setengah jam," jawab supirnya.
Aku sudah berhasil menurunkan celana dalamku, sehingga kemaluanku tegak berdiri, dan mengkilat karena cairan mulut Lina. Kubantu Lina menurunkan celaman panjangnya sebatas paha saja. Kurasa cukup karena kemaluanku sudah bisa menyentuh lubang pantatnya. Kemudian Lina pura-pura mengganti lagu sambil berdiri. Kugunakan kesempatan itu untuk menggeser dudukku tepat di bawah Lina. Lina pun menurunkan pantatnya perlahan-lahan. Posisi duduknya pun sengaja agak kedepan, untuk memudahkan masuknya kemaluanku. Pelan-pelan, sambil digesek-gesek sejenak, kemaluanku pun basah oleh cairan vagina Lina. Dan Linapun mengarahkan ke lubang pantatnya. Ditekan sedemikian rupa, masuklah kemaluanku ke dalam lubang pantatnya. Sempit dan geli rasanya. Aku merasakan gairah yang luar biasa. Kupeluk Lina sambil menahan nafsu yang memuncak. Linapun memulai gerakan naik turunnya. Dan secara tiba-tiba Lina menurunkan pantatnya sampai ke pahaku, artinya kemaluanku masuk semua ke dalam lubang pantatnya. Nikmat sekali, terasa dijepit hangat.
Posisi ini baru kita lakukan kali ini, mungkin karena keadaannya. Tapi justru menambah sensasi. Tanganku leluasa meremas dadanya dari belakang. Puas dengan dadanya, tanganku meraba lubang vagina Lina dari belakang. Jadi sambil Lina menaik turunkan pantatnya, tanganku pun aktif memasukkan ke lubang vaginanya. Tampak Lina semakin nafsu dengan hal tersebut. Udara dingin ac mobil jadi tidak terasa, tubuhku malah berkeringat. Sangat nikmat. Kubantu menekan paha dan pantatnya ketika gerakan pantat Lina ke arah bawah. Ini menambah tekanan pada kemaluanku.
Makin lama terasa ada dorongan di kemaluanku. Aku sudah menjelang klimaks. Kubisikkan ke Lina kalau aku sudah mau klimaks. Lina mempercepat gerakan pantatnya. Aku seperti kehilangan kesadaran mencoba menahan nafsu. Kuremas dadanya dengan penuh nafsu, juga kuraba paha dan bulu kemaluannya. Cairan kenikmatan sudah hampir meledak keluar, kugigit punggung Lina karena begitu hebat nikmat yang kurasakan. Ketika sudah di ujung klimaks, kuangkat pantat Lina agar kemaluanku bebas menyemprotkan sperma kental. Kuarahkan ke perutku sambil kukocok dengan cepat. Serasa ada yang mengalir deras membasahi perutku. Terengah-engah aku menahan gairah klimaks. Kulihat Lina sedikit berdiri untuk membetulkan dan memakai celananya. Kulihat di luar jendela, sudah keluar tol Cawang.

Indah sekali apa yang kita lewati bersama di tol Jagorawi. Kita berpisah di depan rumahku dan sudah membuat janji untuk ketemu lagi esok harinya.
"Pelajaran"

Terkadang, melakukan seks dengan keadaan dan suasana yang terbatas, justru memberikan kenikmatan. Apalagi dilakukan dengan keinginan dari kedua belah pihak. Benarlah jadinya, dunia serasa milik berdua.
Selanjutnya...

Kita sering melakukan anal sex, karena memang menghindari hubungan layaknya suami istri. Dan kita (mungkin saya yang lebih sering mengusulkan lokasi bercinta) sering mencoba tempat-tempat yang tidak umum untuk bercinta. Dapur rumah pun tidak luput. Cerita selanjutnya masih dengan Lina di toilet sebuah gedung pertemuan acara pernikahan.

What next?

You can also bookmark this post using your favorite bookmarking service:

Related Posts by Categories



3 komentar: to “ Cerita Panas My Sex Experience: Tol Jagorawi