17 April 2008

Cerita Panas Salon Plus  

1 komentar

“Silakan duduk, Mas..” sambut seorang wanita setengah baya sambil tersenyum dan menunjukkan ruangan di mana kami berdua duduk. Di ruangan depan yang cukup luas itu berjajar kursi-kursi untuk potong rambut beserta perlengkapannya. Di sampingnya, terdapat ruang tamu tak begitu luas dan menjorok ke dalam agak tersembunyi. Di ruang tamu ada bar kecil dan berjajar sofa yang telah diduduki oleh sekitar 7 wanita muda.

Kutebarkan pandanganku ke wanita-wanita muda itu. Ada yang lagi makan baso, ada yang merokok, memotong kukunya sendiri, yang bengong saja, dan ada yang sedang membaca majalah. Segera saja aku “mengevaluasi”, 3 orang di antaranya menarik perhatianku karena tergolong cantik dan putih. Yang pertama, tinggi, putih dan cantik. Alis tebalnya dibiarkan lebat tak dikerik, kakinya panjang mulus dan rok mininya memperlihatkan sepasang paha yang berbulu lembut “berbaris” rapi, buah dada yang hanya sedikit menonjol tipe peragawati. Yang kedua, lebih putih, sama-sama mulus, pendek mungil dada sedang. Ketiga, sama putihnya dengan yang pertama, tingginya di antara keduanya, tak begitu cantik, dada menonjol mempesona dibalut baju ketat. Keempat orang sisanya tak perlu kuperhatikan, karena “diluar perhitungan”.

Aku sedang menimbang-nimbang mana yang akan kupilih. Kalau ingin menikmati buah dada, jelas yang ketiga memenuhi syarat. Jika ingin paha dan kaki indah, tentu yang pertama. Kalau suka kulit yang betul-betul putih, pilih yang kedua. Kalau sudah memilih, terus gimana ? Ruangan potong rambut itu terbuka, mana bisa pegang-pegang, apalagi diloco ?
“Mau potong rambut, atau dirawat, Mas ?” tanya wanita paruh-baya tadi.
“Dirawat ?” celetuk temanku.
“Iya… rawat muka, biar bersih, halus. Ini perawatnya” jawabnya sambil menunjuk ke wanita-wanita muda itu. “Mau sama Susy, Ina, Euis, Tini, pilih aja” lanjutnya.
“Dirawatnya di situ ?” aku membuka suara sambil menunjuk ke kursi cukur.
“Engga, di dalam ada ruang rawat” jawabnya.
Kembali kami terdiam menimbang. Mata kawanku sedang “meneliti” wanita ketiga. Rupanya dia suka buah dada.
“Mau sama Euis, Mas” kata wanita tadi kepada temanku. Si dada molek itu Euis namanya. Kawanku mengangguk.
“Yuk ke dalam. Antar dong Euis !” Mereka berdua beranjak, menyeberangi ruang depan menuju pintu di belakang.
“Mas sama siapa ?” Aku menunjuk si “peragawati” yang ternyata Ina namanya. Aku penasaran ingin menikmati paha mulus berbulu halusnya.

Masuk pintu belakang itu kami belok kiri, terdapat ruang-ruang bersekat dengan pintu dari kain korden, mirip ruang panti pijat.
“Masuk Mas” sapa Ina.
Di ruangan yang tak luas itu terdapat satu kursi tinggi sepanjang dipan beralaskan jok busa warna hijau tua. Separoh panjang kursi itu berlipat menyudut ke atas, sehingga kalau aku rebahan di situ mirip rebahan di kursi-malas. Kemudian ada rak yang berisi peralatan salon, juga ada baskom. Ini adalah kunjungan pertamaku, jadi aku tak tahu mau ngapain atau diapain. Atau langsung serang saja ? Jangan. Lihat situasi dulu.
“Sering ke sini, Mas ?” tanya Ina sambil mempersiapkan peralatan membelakangiku. Sepasang kaki itu memang mulus.
“Baru kali ini” jawabku.
“Oh.. ya” katanya, masih membelakangiku. Walaupun tubuhnya tinggi langsing, Ina punya kelebihan lain, pantatnya. Tak begitu lebar, menonjol kebelakang, dan membulat. Ina mengambil “baju” dengan model seperti kimono warna hijau muda polos.
“Mas ganti pakai ini” perintahnya.
Aku melepas baju dan singletku sekaligus lalu memakai kimono. Ina membantuku. Alisnya yang tebal menambah cantiknya.
“Singletnya engga usah dilepas” katanya.
“Biarin aja, udah terlanjur”
“Celananya dilepas juga, dalemnya engga, lho” perintah Ina lagi. Aku nurut saja. Tiba-tiba muncul isengku. CDku kupelorotkan juga, Ina engga tahu kelakuanku ini. Dalam kondisi yang hanya mengenakan kimono dan berduaan di kamar dengan cewe, aku jadi terangsang. Penisku mulai bangun.
“Naik, Mas”
Bulatan pantat itu menggairahkan. Ina kupeluk dari belakang. Kutekan kontolku di bulatan indah itu. Kini aku benar-benar ngaceng.
“Eeee…… disuruh naik malah…. kita rawat dulu” katanya sambil melepas pelukanku.

Aku terlentang di kursi panjang. Ina berdiri di sisi bagian kepalaku mulai membersihkan mukaku dengan kapas. Posisi yang sulit untuk “kurangajar”. Aku mulai mengutuki temanku pemberi info. Katanya bisa pegang-pegang dan diloco. Tadi coba kupeluk, ditolak. Tapi sempat juga sebelah tanganku menggapai pahanya…… halus….! Hanya sebentar, Ina langsung menepis tanganku. Tak mau diganggu selagi kerja. Mungkin nanti kalau rawat-merawatnya selesai, kataku dalam hati menghibur diri. Sekarang mukaku dilumuri dengan cream, lalu dibersihkan dengan air. Aku iseng lagi. Seolah tak sengaja, aku menyingkap kimonoku sehingga kontol tegangku mencuat. Sekilas Ina memandang milikku itu.
“Iihhhh…. nakal… ya” katanya sambil mencubit pipiku.
Aku bangkit setelah Ina selesai melap mukaku dengan handuk kecil. Kupikir sudah selesai.
“Entar dulu…. belum selesai..”
Kemudian mukaku dilumuri lagi dengan semacam krem tapi agak keras.
“Apa nih…” tanyaku
“Masker. Udah tunggu sampai kering dulu. Jangan gerak dulu Mas, juga jangan ngomong”
“Kenapa ?”
“Supaya maskernya engga rusak. Tunggu sampai kering”. Lalu tiba-tiba…….
“Geser sono dikit, Mas” Aku menggeser dan Ina ikut naik, rebahan juga di sebelahku. Ini dia……….. mulai…….!
Dengan terlentang dan kedua lututnya terlipat, kontan rok mininya tergeser menampakkan sepasang paha mulusnya dengan utuh. Kubelai pahanya. Kali ini Ina tak bereaksi menolak. Ah… halusnya bukan main. Paha mulus berbulu halus memang sedap untuk dielus. Sementara Ina terus mengoceh, aku tak mendengarkan. Konsentrasiku ke pahanya. Tangannya kuraih kutuntun ke penisku. Acuh aja ia memremas-remas penisku sambil terus bicara, seolah “tak terjadi apa-apa”. Sementara aku sudah kelimpungan. Dari paha tanganku pindah ke dadanya. Dada yang kecil, apalagi dengan posisi terlentang begini. Ina memakai gaun terusan yang pendek, dengan kancing di tengahnya sampai ke bawah. Kubuka 3 biji kancing teratasnya. Ina “mengizinkan”. Tanganku menyusup kutangnya mencari-cari puting susunya. Bicaranya berhenti setelah aku meremasi dada dan memelintir putingnya. Tapi gaya tak acuhnya tetap saja, meskipun ujung jari-jariku merasakan puting itu mulai mengeras. Demikian juga ketika aku menggeser kutangnya ke atas sehingga sepasang buah dada putih mulus itu terbuka. Seolah tak terjadi apa-apa, padahal tangannya mulai mengocok penisku. Baru setelah aku bangkit hendak menindihnya, Ina berreaksi.
“Eehh, entar dulu. Ini belum kering” katanya menunjuk mukaku. Aku kembali terlentang. Ina masih meneruskan “pekerjaan” di penisku. Tanganku yang di dadanya beralih ke bawah, menyingkap roknya lebih ke atas sehingga CD dan perutnya yang rata dan putih itu tampak. Kuusap perutnya, lalu geser kebawah tanganku menyusupi CDnya. Amboi…. bulu-bulu itu lebat banget ! Dia tetap saja acuh, meskipun telunjukku telah menekan-nekan kelentitnya ! Dia malah memegang-megang masker di mukaku sementara aku menggosoki “pintu” yang sedikit membasah.
“Udah kering… bersihin dulu…” katanya sambil tak acuh menarik tanganku dari CDnya.
Masker di mukaku dilepasnya perlahan. Bentuknya seperti plastik transparan. Dibilasnya lagi mukaku. Tiga kancing gaunnya masih terbuka. Kutangnya hanya menutupi sebelah dadanya sehingga mataku lebih jelas menikmati puting merah jambunya. Lalu mukaku dilap, dan selesai. Ina naik lagi.
Kubuang kimonoku, dengan telanjang bulat aku menindih tubuhnya. Kontolku tepat di selangkangannya, mulutku merayapi buah dadanya dan berhenti di puting untuk menyedot-nyedot.

Setelah puas mengeksplorasi dadanya, aku bangkit mermaksud melanjutkan membuka kancing gaunnya.
“Jangan…. engga boleh bugil”
“Saya ‘kan udah bugil”
“Mas boleh. Kalau nanti ada inspeksi, saya bisa dipecat”
“Gimana dong…. saya pengin”
“Udah… gini aja…. yuk saya keluarin” Ina bangkit meraih hand-body lotion. Aku disuruh terlentang. Aku tahu maksudnya, tapi aku menolak. Aku ingin hubungan seks.
“Boleh aja… asal saya engga bugil dan Mas pakai kondom”
“Iiyyaaalah” apapun mau asal bisa masuk. Udah tegang begini.
“Mana kondomnya biar saya pakein…”
Inilah masalahnya. Niatnya tadi hanya mau pegang-pegang dan dikocok, Aku engga bawa “perlengkapan”.
“Saya engga bawa, mintain sana deh….”
“Ngaco…. engga bisa dong, ketahuan gawat…”
“Minta temennya ‘kan bisa”
“Engga bisa… Mas. Di sini engga boleh gituan….”
“Engga usah pakai kondomlah…”
“Engga mau”
Akhirnya aku mengalah. Aku berbaring terlentang. Ina menuangkan lotion ke tangannya, lalu mulai meng-onani penisku, sementara tanganku meremasi dadanya. Ina memang sudah ahli melakukan masturbasi. Tangannya trampil. Terkadang meremas, mengurut, mengocok pelan, mempercepat, pelan lagi. Aku merem-melek dibuatnya…..
Sampai tiba saatnya….aku menumpahkan maniku ke perutku sendiri………!
Dengan cermat Ina membersihkan kelamin dan perutku dengan handuk basah.
“Makasih” katanya ketika aku menyelipkan uang yang lebih dari jumlah yang tertulis di bon.”Datang lagi ya.. Mas…. jangan lupa kondomnya”. Sambil keluar ruangan, tak lupa aku juga memberi uang kepada wanita paruh-baya penerima tamu itu.
“Jangan kapok… ya Mas” sahutnya. Engga, mukaku menjadi betul-betul bersih.

Belum sampai seminggu aku kembali memasuki ruang tamu yang agak tersembunyi itu. Begitu melihatku, Ina langsung menghampiriku dan duduk di sebelahku rapat-rapat. Tangannya di atas pahaku, Aku merangkul bahunya.
“Dirawat lagi, Mas” ajak Ina, kemudian mulutnya mendekati kupingku ” Saya bawa kondom” bisiknya.
“Saya bawa juga”
“Hayooo…. bisik-bisik apa nih” sahut kawan-kawannya.
“Ada deh….” Sahut Ina.
“Kawannya mana Mas…” Kali ini aku memang datang sendirian.
“Ada. Entar lagi datang”
Singkat cerita, kembali mukaku dirawat Ina. Bedanya, kali ini Ina nurut saja ketika aku “mengganggunya”, walaupun sambil kerja. Dan selama dirawat muka, Kontolku tegak terus. Plastik transparan sudah diangkat dari mukaku, Ina sudah berbaring di sampingku, pakaiannya masih lengkap. Aku melepas kimonoku, bugil. Lau kuambil kondon dari saku celanaku di gantungan. Yang membuatku ‘exciting’ adalah, begitu aku sudah pegang kondom, masih terlentang Ina langsung memelorotkan celana dalamnya. Hanya CD yang dilepas, lainnya masih komplit. Lalu diangkatnya roknya sedikit sampai ke perutnya saja. Bulu kelaminnya memang lebat. Segera saja jari-jariku menelusuri bulu-bulu lebat itu, terus ke bawah sampai ke pintu vaginanya, dan kugosok. Tanganku satu lagi sibuk menyingkap kutangnya. Sementara tangan Ina juga sibuk memasang kondom di penisku.
Saatnya tiba. Kubuka paha Ina lebar-lebar. Kelentit merahnya jelas menonjol kedepan. Kutempatkan kontolku yang sudah “berbaju” tepat di bawah tonjolan merah itu. Aku masuk. Agak susah juga, karena Ina belum basah rupanya. Maju-mundur sebentar di sekitar pintu, lalu menusuk lagi. Bleessss. Tekan lagi hingga seluruh batang penisku ditelannya. Berhubungan kelamin dengan memakai kondom ada plus-minusnya. Kekurangannya, sentuhan penis tak langsung ke dinding vagina berakibat “rasa” yang beda. Kelebihannya, bisa lebih lama, dan bebas penyakit.
Vagina Ina sebetulnya “masih ada remnya”. Yang membuatku kurang nyaman adalah bangku panjang itu. Ketika aku memperkuat pompaanku, bangku itu mulai “ribut”, sehingga Ina menahanku khawatir kedengaran ke ruang sebelah. Goyangan pantat Inapun terbatas, khawatir bunyi.
Untuk mengurangi bunyi, logikanya kita harus meminimalkan sentuhan badan kita pada bangku. Makanya, dengan kedua tanganku, kuangkat pantat Ina dan kumainkan kocokanku dengan setengah berlutut. Dengan cara begini ternyata tusukanku bisa lebih efektif. Yang kemudian membuatku “naik-naik ke puncak gunung”, lalu terbang melayang…… dan …… sseerrr…… sseeerrr……. seerrrr…………………

Ina dengan cekatan memberesiku. Dilepasnya kondom yang berisi dari penisku, kemudian dibungkusnya dengan tissu dan digenggamnya. Kemudian ia membenahi kutangnya, menutup kancing, dan segera Ina telah rapi kembali.
“Sebentar.. ya.. Mas, buang ini dulu” katanya sambil keluar ruangan dengan menggenggam tissu yang membungkus kondom berisi air maniku. Ina merapikan diri dengan cepat dan lalu keluar ruangan untuk menghilangkan kecurigaan teman-temannya tentang apa yang baru saja kami lakukan, walaupun ia belum mengenakan CD-nya…….!
Aku telah menikmati pelayanan "plus"-nya. Harapanku hanya untuk pegang-pegang lalu di-onani, ternyata aku dapat lebih : hubungan seks.
Sewaktu aku sudah berberes dan hendak pulang, aku kemukakan komplainku kepada Ina tentang ketidak nyamanan jika berhubungan kelamin di atas bangku rawat muka ini.
“Lain kali Mas ambil saja ruang ‘studio’, di situ ada dipannya” katanya.
“Studio ? apaan tuh ?”
“Persis kamar aja, ada pintunya yang bisa dikunci, engga seperti ruang ini”
“Dimana ?”
“Dari pintu tadi Mas belok kanan, kalau belok kiri kan ke sini” jelasnya.
Benar juga. Disayap kanan bangunan itu ada 2 kamar yang tertutup. Tapi ada yang lebih menarik perhatianku dibanding kamar-kamar itu. Seorang wanita cantik, sangat putih, agak pendek sedang duduk sendirian di sebelah kamar itu. Rok mininya demikian pendek serta cara duduknya dengan kaki menyilang mempertontonkan pahanya yang benar-benar putih dan mulus. Siapa dia ? Dalam dua kali kunjunganku ini aku tak pernah melihat wanita cantik ini.
Aku samperin si penerima tamu. Sambil memberi tip, aku tanyakan perihal si Cantik itu.
“Lia, namanya. Pengin kenalan ? yuk”
“Kok tadi saya engga lihat”
“Dia datengnya emang suka agak sore”
Akupun kenalan sama Lia. Benar-benar cantik, pembaca. Matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya indah. Kulitnya putih mulus. Sambil ngobrol berbasa-basi, mataku sering menatap pahanya. Diapun tahu kenakalan mataku ini, tapi acuh aja. Ingin aku langsung membawanya ke “studio”, sayangnya aku tak punya waktu lagi.
“Oke Lia, entar saya kesini lagi sama Lia, ya” kataku pamitan sambil menepuk pahanya.
Haaluuuuus !
“Boleh. Ditunggu ya…?” sahutnya.
Melihat wajah dan mulusnya Lia ini, kupikir seharusnya Lia tidak kerja di sini. Dia lebih pantas sebagai foto model. Kekurangannya hanyalah tubuh Lia pendek, dan tak remaja lagi. Kutaksir umurnya sekitar 25 –28 tahun. Barangkali karena kedua faktor itulah makanya Lia “kerja” di sini………!
Gimana ya “rasa”nya Lia ?

What next?

You can also bookmark this post using your favorite bookmarking service:

Related Posts by Categories