25 April 2008

Cerita Panas Sepupuku Part 1  

0 komentar

Kisah ini bermula setahun yang lalu, dimana aku harus jaga rumah, karena
anak dan istriku sedang berkunjung ke saudaranya selama lebih dari
seminggu.

Sore itu sekitar jam lima sore, teleponku berdering, aku angkat . . .
terdengar suara lembut seorang wanita namun dengan background yang
lumayan ramai. "Halo . . . , dik Yanti ada", suara yang sepertinya aku
kenal, namun sungguh aku lupa siapa dia, yang lebih membuat aku
bertanya-tanya, dia mencari istriku (Yanti).
Aku pun menjawab apa adanya "Yanti sedang ke Solo, ada yang bisa saya
bantu ?".
"Lho, ini dik Bandi ya . . . aku Arie, dik, aku sedang di terminal Bis ,
boleh aku mampir ke rumah sebentar?". Belum sempat aku menjawab
permintaannya, telepon sudah ditutup, dan aku sendiri masih
bertanya-tanya, siapa Arie itu?.

Selang satu jam kemudian, ada sebuah taxi yang berhenti didepan rumah,
aku melihat dari arah dalam jendela rumah, seorang wanita muda keluar
serta menenteng sebuah tas traveler yang lumayan besar. Dibawah
keremangan sinar lampu jalan, aku mulai bisa melihat wajahnya. Ya ampun
. . . ternyata dia adalah mbak Arie, kakak sepupuku. Meskipun dia
kupanggil "kakak" tapi dia sepuluh tahun muda dari aku, dia anak budeku,
kakak dari ibuku. Tersentak aku dari kekagetanku, manakala dia berusaha
membuka pintu pagar, akupun berlari menyambutnya, menenteng tasnya yang
. . . upss ternyata lumayan berat. Kupersilahkan dia untuk istirahat
sebentar di ruang tamu, dan kuletakkan traveler bag-nya di kamar depan,
yang memang biasanya selalu kosong itu.

Aku bergegas menemui mbak Arie dan mengajaknya ngobrol sebentar.
"Mbak Arie mau kemana?"
"Aku mau ke Bali dik, tempat kerjaku pindah kesana"
Kenanganpun muncul, tatkala aku menatap wajahnya lekat-lekat. Sungguh
ia belum berbeda ketika aku ketemu dia sembilan tahun yang lalu, ketika
ia masih kelas tiga SMP!.
Arie adalah gadis yang manis, sekilas ia seperti artis Maudy Koesnaedy.
Tubuhnya yang putih bersih dengan tinggi sedang dibalut T-shirt MCM
putih dan celana jeans strecth yang membungkus pinggul dan kakinya yang
indah (paling tidak menurutku). Payudaranya sedang besarnya, padahal
dulu lumayan kecil kalau tidak bisa dibilang rata. Aku bisa mengatakan
demikian, karena dulu . . . sungguh kenangan ini seperti barusan kemarin
terjadi.

Waktu itu (sembilan tahun yang lalu dan masih bujangan) , aku berkunjung
kerumahnya (di sebuah kota besar di Jawa Tengah), selama seminggu aku
tinggal dirumahnya yang besar, yang dihuni Bude, mas Bayu (sulung) dan
mbak Arie (ragil). Aku sendiri seperti menaruh perhatuan khusus
kepadanya. Aku tidak tahu ini perasaan sayang atau hanya sekedar suka
saja. Ia kelihatan bongsor untuk anak seusianya 14 tahun, namun sungguh,
ia seperti kekanak-kanakan. Sering disaat aku membantunya dalam belajar
bahasa inggris, kucium keningnya disaat ia mulai suntuk, untuk memberi
semangat supaya giat belajar kembali, namun lama-lama perasaan yang
sekedar memberi semangat itupun berubah, aku sering juga mencium kelopak
matanya, pipinya dan akhirnya kucium bibirnya disaat ia benar-benar
ketiduran di atas meja belajarnya, karena kupaksa untuk menyelesaikan
latihan ulangannya. Kugendong tubuhnya untuk, kupindah ke tempat
tidurnya. Mbak Arie tak bergerak sedikitpun, saat kubaringkan di
ranjangnya, terlalu capek rupanya. Terkesiap sejenak aku dibuatnya,
jantungku mulai berdegup kencang, saat kulihat rok mininya tersingkap
keatas. Kontolku mendadak menggeliat bangun. Kukunci pintu kamarnya,
entah dorongan dari mana, ada keinginan untuk mencium memeknya.
Perlahan-lahan kuturunkan celana dalamnya . . . dan terlepas !. Kulihat
lekat-lekat memeknya yang tak satupun bulu tumbuh diatasnya . . . sebuah
gundukan daging yang mengundang hasratku untuk segera menciumnya.
Kuangkat kedua pahanya, sehingga posisi kakinya membentuk huruf "O".
Kelentit-nya yang merah muda menyembul keluar. Akupun menciumnya lembut
dan aroma memek seorang perawan yang khas-pun tercium. Kontolku semakin
tegang dan sakit, karena posisiku yang kurang menguntungkan. Aku terus
mencium dan menjilati naik turun. Lobang vaginanya basah karena ludahku.
Sejenak aku kaget, karena mbak Arie mulai menggeliat, aku cepat-cepat
menarik selimut untuk sekedar menutupi posisi kakinya. Namun posisinya
tidak berubah sampai ia tertidur kembali . . . seperti bayi. Akupun
semakin penasaran untuk mengulangi kembali, kali ini aku tidak saja aku
jilati, tapi aku mulai menghisap kelentitnya yang kelihatan semakin
memerah, aku seperti kesetanan menghisap yang lainnya. Aku berusaha
membuka memeknya dengan kedua ibu jariku, kelihatan lubang memeknya
masik kecil dan terlihat nyaris rapat. Kujilati lubangnya, kuusahakan
ujung lidahku menerobos lobang yang sempit itu, sampai pada saatnya
kemudian . . . ia terbangun dalam keadaan aku masih asyik menjilati
memeknya.
"Kamu apakan tempikku dik . . .?"
Tenggorokanku seakan tersekat sesuatu, sehingga tidak mampu menjawab,
apalagi melihat wajahnya. Naluriku mengatakan pasti ia benar-benar marah
atas kelakuanku tersebut, dan aku tidak tahu, aku harus bagaimana
setelah ini, aku hanya bisa menunggu . . . . Sampai beberapa menit
kemudian, tangannya meraih wajahku dan mengangkatnya perlahan-lahan,
sampai wajahku dan wajahnya berhadap-hadapan. Sekali lagi dia bertanya
"Diapakan tempikku dik . . . ?"
"Aku sayang mbak Arie . . . maafkan aku mbak" kataku menghiba. Namun
keadaan yang tidak kuduga-duga, mbak Arie mencium bibirku.
"Aku sudah merasakannya, sejak dik Bandi menciumku di meja tadi"
bisiknya ditelingaku . Akupun langsung melumat bibirnya, tangan kananku
berusaha mencari-cari payudaranya yang hanya seperti putting saja .
Akupun menyingkap t-shirt nya untuk mengalihkan ke payudaranya. Kuhisap
putingnya, mbak Arie hanya mendesis-desis dan mencengkeram pinggangku
erat-erat. Kuhisap bergantian kiri dan kanan putting payudaranya, sampai
akhirnya kuhisap kembali tempiknya (demikian ia menyebut memeknya) yang
sudah sangat basah. Kuhisap kelentitnya dengan gemas,dicengkeramnya
kepalaku, ia menggerakkan bokongnya naik turun, sampai pada saat
berikutnya, ditendangnya pundakku keras-keras sehingga bibirku terlepas
dari memeknya. Belakangan aku ketahui ia mengalami orgasme yang hebat,
sehingga ia tidak bisa lagi menguasai gerakannya. Kupeluk dia, agar ia
segera dapat menguasai dirinya kembali. Demi menjaga perasaannya, akupun
berusaha untuk mengeluarkan kontolku yang sudah tersiksa sedari tadi dan
kuperlihatkan kepadanya. Dielus-elusnya kontolku, sambil diamatinya
cermat-cermat (mungkin mbak Arie baru melihat kontol yang membesar itu
pertama kali), dipermainkannya kontolku sampai digesek-gesekannya ke
putting payudaranya, sampai pada saat aku sudah tidak bisa lagi menahan
cairan di kontolku muncrat kemana-mana. Mbak Arie terlihat bergerak
sekenanya untuk menghindari.
"Apa itu tadi dik . . . ?"
" Itu spermaku mbak, itu yang bisa membuat perempuan hamil kalau sempat
masuk kesini" sambil kuusap memeknya.
Mbak Arie memelukku, akupun menyambutnya dengan mendekapnya erat-erat.

What next?

You can also bookmark this post using your favorite bookmarking service:

Related Posts by Categories