14 Januari 2008

Sebuah persahabatan  

1 komentar

Sejak aku melakukan hubungan sexual yang pertama kali dengan Oom Pram, bapak kostku, aku tidak yakin apakah selaput daraku sobek atau tidak. Karena pada saat itu aku tidak merasakan sakit dan tidak mengeluarkan darah. Yang jelas sejak saat itu sex menjadi kebutuhan biologisku. Repotnya aku tidak dapat memenuhi kebutuhan biologisku ini kepada pacarku yang sebangku kuliah, dia sangat alim dan selalu membatasi diri dalam berpacaran.

Akhirnya aku semakin terjerat dengan bapak kostku yang mempunyai perbedaan umur 25 tahun (dia berumur 46 tahun). Kami melakukan selalu pada siang hari, yaitu pada saat istrinya sedang berada di kantor, dan semua teman kostku sedang kuliah. Sudah enam bulan berlalu, tanpa satu orang pun yang tahu, hanya barangkali pembantu rumah tangga yang mencium sesuatu diantara kami berdua.

Oom Pram pandai memainkan sandiwara dalam pergaulan sehari-hari di rumah. Dia memperlakukanku secara wajar, dihadapan rekan kostku yang lain maupun dihadapan istrinya. Jika tidak ada kuliah dan rumah kosong (kecuali pembantu), aku hampir selalu memuaskan hasratku. Dan untuk keamanan, aku selalu mempunyai stock kondom di lemariku yang selalu terkunci (walaupun pembelian kondom ini selalu menjadi masalah tersendiri bagiku, karena aku masih malu untuk membeli alat kontrasepsi tersebut).

Nani (bukan nama sebenarnya) adalah teman karibku yang tinggal sekamar denganku yang saat ini entah berada dimana, karena sejak kami lulus sarjana 15 tahun yang lalu, kami tidak pernah berhubungan lagi, dan mudah mudahan membaca cerita ini sekaligus sebagai nostalgia bersama.

Pada suatu hari Nani pulang dari kuliah. Seperti biasanya tanpa ketuk pintu dia langsung masuk ke kamar. Ketika itu aku terbangun dari tidurku. Nani langsung mencopot sepatu dan mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan t-shirt yang ketat. Dia memang tampak sexy dengan pakaian itu, buah dadanya tampak membusung, ditambah wajahnya yang cantik, aku yakin banyak pria yang menyukainya.

Dia tiba-tiba mengambil sesuatu dari pinggir bantal yang kupakai, aku terkesiap ketika mataku melirik barang yang baru diambilnya. Jantungku hampir copot rasanya.
"Lin, ini punya siapa..?" matanya melotot, mulutnya terbuka penuh kekagetan.
Aku tidak dapat menjawab, aku masih mencoba menenangkan hatiku. Di ujung jarinya masih dipegangnya kondom bekas pakai yang ujungnya masih berisi cairan putih.

Memang ini kecerobohanku, biasanya sehabis melakukannya selalu kubungkus tissu dan kusimpan di tas atau lemari. Tapi kali ini aku ketiduran sehingga lupa mengamankan benda berharga itu.
"Dengan pacarmu..?"
Aku hampir mengangguk, tetapi mulutku berbicara lain, "Oom Pram.." jawabku pendek.
"Oh.., hebat sekali kamu, ceritain dong, aku pikir kamu alim, sungguh mati aku nggak nyangka kalau kamu juga udah pinter. Kamu curang, aku selalu jujur dan cerita apa adanya sama kamu. Eh nggak taunya pengalamanmu lebih hebat dariku." Nani terus menerocos sambil merebahkan tubuhnya di sampingku.

"Sudah berapa kali kamu sama Oom Pram..?"
Aku memaklumi protes dan rasa penasarannya, karena Nani selama ini selalu terbuka denganku. Dia selalu menceritakan hubungaan sex-nya dengan pacarnya sedetil-detilnya , dari ukuran penis sampai posisi pada saat melakukannya. Sedangkan aku sama sekali tidak pernah menceritakannya karena rasa malu, karena kulakukan justru tidak dengan pacarku tetapi dengan laki-laki yang seumur dengan pamanku.

Sejak saat itulah aku mulai menceritakan aktifitas sexual kami kepadanya, aku ceritakan bagaimana pengalaman pertamaku yang tanpa rasa sakit dan tanpa darah, bagaimana Oom Pram mengajariku dan membimbingku dengan penuh kesabaran . Dan kuceritakan pula bagaimana induk semangku itu begitu perkasanya di atas ranjang, bahkan beberapa kali aku mengalami orgasme lebih dari satu kali. Pernah suatu kali aku ceritakan pengalaman yang tidak kulupakan hingga sekarang (kini aku sudah mempunyai dua orang anak yang sudah besar-besar), yaitu ketika kami hanya berdua, aku dan Oom Pram bercinta di atas sofa ruang tamu. Sungguh pengalaman yang fantastis.

Dia duduk bersandar ke sofa, sedangkan aku dalam posisi duduk atau lebih tepatnya jongkok di pangkuannya menghadap ke arahnya, kelamin kami menjadi satu, saling mengisi, saling menggesek dan menekan, menjepit dan menggoyang. Dan hubungan intim kami akhiri dengan rintihan panjangku di pojok karpet di bawah meja tamu. Sungguh pengalaman yang sangat hebat. Sampai kini pun aku selalu mengkhayalkannya dan mengimpikannya.

Hingga suatu saat Nani mengusulkan seuatu yang membuatku termenung. Memang pada awalnya usulannya masih bersifat gurauan, tetapi akhir-akhir ini ia semakin mendesakkan kemauannya. Bahkan sambil bergurau ia mengancam akan membeberkan kisahku ini ke pacarku. Aku butuh waktu seminggu untuk menimbangnya, aku belum rela untuk berbagi cinta dengan kawanku ini, tetapi lama-lama aku tergelitik, apalagi Nani selalu membujuk dan mengkhayalkan keindahannya bagaimana kalau kami melakukan hubungan sex bertiga. Dan akhirnya aku pun menyetujuinya.

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Oom Pram tidak keberatan dengan gagasan ini. Dan dipilihnya waktu yang paling tepat, yaitu ketika istrinya sedang mengunjungi orang tuanya di Jawa Tengah. Dan tempat yang telah disepakati adalah di kamar tidurnya bukan di kamarku. Kamarnya ada di rumah induk, sedang kamarku ada di Paviliun yang memang disediakan untuk indekost.

Sekitar jam sembilan malam, ketika teman kost lain sudah masuk kamar masing-masing. Aku pun masuk ke kamar Oom Pram tanpa satu orang pun yang melihat. Oom Pram yang sudah menunggu sambil nonton TV di kamar menyambutku dengan dekapan dan ciuman yang hangat. Kuedarkan mataku keliling kamar, sebuah kamar yang luas, indah dan mengagumkan, kamar yang tidak kalah dengan sweet room di hotel berbintang lima. Inilah pertama kali aku melihat kamarnya, diam-diam kukagumi taste istrinya dalam menata kamar yang begitu indah dan mengagumkan.

Tidak berapa lama kemudian Nani datang menyusul, terlihat kecanggungannya, hilang sifat lincahnya. Kubimbing dia ke arah Oom Pram. Oom Pram memeluk Nani dan mencium pipinya. Kecanggungan dicairkan oleh Oom Pram dengan obrolan ringan dan gurauan kecil. Karena kulihat baik Oom Pram maupun Nani masih sungkan untuk melakukannya, maka aku pun berinisiatif untuk memulainya.

Kubimbing Oom Pram ke tempat tidurnya yang sangat luas, kucumbu dan kucium dia. Kami berciuman, saling mengelus cukup lama dan birahiku mulai naik ketika tangannya meremas dengan lembut buah dadaku. Kulihat Nani masih duduk pasif di ujung tempat tidur memperhatikan kami. Kulepas pelukanku dan kutarik tangan Nani ke arah kami, dan ia segera masuk ke dalam rengkuhan Oom Pram.

Walaupun birahiku sudah mulai bangkit, tetapi kugeser posisiku untuk memberi kesempatan pada Nani menikmati ciuman dan belaian Oom Pram. Nani terlihat sangat bernafsu, apalagi ketika buah dadanya yang sexy diremas-remas oleh Oom Pram. Tubuhnya menindih tubuh Oom Pram dengan posisi miring memberi kesempatan buah dada kirinya untuk diremas, dua belah pahanya menjepit paha kanan Oom Pram, bahkan dari gerakan pinggulnya aku yakin Nani sedang menggesekkan selangkangannya di paha Oom Pram.

Kuhampiri Nani, kubuka resleting di punggungnya, ia menghentikan kegiatannya untuk memberikan kesempatan aku melepas pakaiannya, dan dalam sekejab dia sudah telanjang bulat, seperti diriku dia juga tidak mengenakan BH maupun CD. Tubuhnya memang indah dan aku selalu mengagumi tubuhnya itu, karena sebagai teman sekamar, aku sudah terbiasa melihat kepolosannya itu. Hanya ada satu hal yang belum pernah kulihat, yaitu bibir bawahnya tampak sedikit membengkak dan warna kemerahan membayang di balik rambut kemaluan yang tidak terlalu lebat.

Oom Pram segera meraih kedua buah dadanya untuk mencium sekaligus meremasnya, Nani tampak menikmatinya dan membiarkan seluruh tubuhnya dinikmati oleh Oom Pram. Tangannya kulihat mulai mengelus pangkal paha Oom Pram yang masih terbungkus piyama. Aku sebenarnya sangat terangsang dengan adegan itu, apalagi ketika mereka berdua sudah tanpa busana, dan percintaan mereka makin seru dimana dalam posisi tidur telentang di tengah tempat tidur yang harum dan mewah. Oom Pram mempermainkan kelamin Nani dengan lidah dan bibirnya, sedangkan Nani setengah jongkok di kepala Oom Pram merintih-rintih keenakan sambil menunduk melihat kemaluannya yang sudah makin membengkak.

Kulepas pakaianku, kurasakan buah dadaku sudah mengeras dan vaginaku sudah terasa basah. Kudekati penis Oom Pram yang tegak berdiri dengan kepala yang mengkilat, dikelilingi oleh otot yang kebiru-biruan, sebuah pemandangan yang bagiku sangat indah. Kugenggam batang penisnya, kadang kukecup ujung penisnya. Tidak seperti biasanya, kali ini aku tidak berani memainkannya seperti yang disukainya. Aku tidak menelusuri otot batangnya dengan lidahku, tidak pula menyedot seperti menyedot es lilin ketika aku masih kanak-kanak. Karena aku sadar, bahwa perjalanan masih panjang. Kali ini dia akan bercinta dengan dua orang wanita muda yang sedang haus-hausnya. Aku takut dia akan "selesai" sebelum waktunya.

Ketika Nani mengerang makin keras, dan gerak pinggulnya terlihat makin tidak terkendali, Oom Pram segera mengakhiri permainan. Dia bangkit dan membimbing Nani untuk rebah di sampingnya berbantal lengan kirinya. Direngkuhnya aku, sambil mencium bibirku tangan kanannya merangkulku dan mengelus pungggungku. Kunikmati permainan lidahnya, kadang lidahnya menjalar dalam mulutku, kadang lidah kami saling beradu. Kubiarkan tangan Nani ketika dari posisinya dia mejulurkan tangan untuk ikut meremas buah dadaku, karena menambah kenikmatan yang kurasakan. Bahkan ketika dia bangkit dan jarinya menyibak bukit kemaluanku yang sudah basah, aku malah merentangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Aku sama sekali tidak merasa risih, bahkan sebenarnya aku ingin dia melakukan lebih dari mengelus klitorisku. Aku ingin bibir Nani yang sensual itulah yang melakukannya. Tapi itu tidak dilakukannya.

Oom Pram bangkit dari posisi tidurnya, dari gerak dan sikapnya aku segera tahu bahwa dia sudah akan menyudahi pemanasan yang bagi kami terasa sangat lama dan menyenangkan, walaupun sebenarnya Nani sudah memintanya sejak tadi. Aku memberi kesempatan Nani untuk melakukannya terlebih dahulu, ia sudah dalam posisi telentang dengan kaki yang ditekuk dan kedua belah paha terbuka lebar, sehingga dua bukit kemaluannya terbelah dengan menampakkan semburat magma merah dari celahnya. Sebuah pemandangan yang sangat indah, sebuah tubuh putih yang mengkilat karena keringat, buah dadanya yang padat pinggang yang ramping. Mata Nani memandang sayu ke arah Oom Pram yang sudah berada di depannya siap melakukan tugasnya.

Oom Pram masih menjelajahi tubuh indah itu dengan matanya sambil tangan mengelus paha Nia, tubuhnya masih kelihatan kokoh. Aku tak pernah bosan memandang, entah sudah berapa kali aku menjamah dan menikmati tubuh lelaki itu. Aku lah yang tak sabar melihat adegan sejoli ini berlama-lama, kuraih penisnya dan kutuntun ke arah lubang kawah yang merah menyala. Nani sedikit mendongakkan kepala ketika ujung kemaluan Oom Pram mulai masuk ke vaginanya, mulutnya mendesis lembut. Jika sedang bercinta denganku, Oom Pram selalu memulai dengan tidak memasukkan penuh, tetapi hanya kepalanya saja, kemudian menancapkan berkali-kali ke arah atas di belakang klitoris, memutar dan menggoyangnya.

Demikian juga yang dilakukan kepada Nani, kocokan ringan itu membuat Nani makin mendesis-desis, disertai sapuan lidah di bibirnya sendiri. Lututnya terlihat bergerak membuka dan menutup kadang-kadang pinggulnya diangkat mencoba menenggelamkan batang yang mempesona itu, tetapi selalu gagal. Aku tidak dapat menahan diri, tanganku kuremaskan ke buah dada Nina yang bergoncang lembut, bahkan lama-lama jari tanganku mengelus-elus klitoris Nani yang tidak lagi mendesis tetapi sudah merintih-rintih.
"Oom... masukkan yang dalam.., sampai habis..!" ia menghiba sambil tangannya menekan pantat Oom Pram.
Dan dia merintih panjang ketika penis Oom Pram menancap makin dalam sampai ke pangkalnya.

Kulihat di depan mataku sepasang manusia sedang malakukan persetubuhan, sang wanita sambil mendekap pasangannya, mulutnya merintih dan mendesis. Sang lelaki dengan tubuh yang berkeringat mengayunkan pinggulnya ke atas ke bawah, kadang desis kenikmatan juga terdengar dari mulutnya. Sesekali sang lelaki dengan mata penuh nikmat menatap kosong kepadaku. Aku mundur ketika Nani mulai liar, kakinya mendekap tubuh Oom Pram dengan kencang, pinggul diangkat ke atas seakan ingin menyatu dengan lawan mainnya, dagunya mendongak disertai lenguhan panjang, "Aaahhh..."

Detik-detik indah Nani telah lewat, beberapa saat Oom Pram masih menindih di atas tubuhnya, dibelainya rambutnya dan dicium lembut bibirnya. Sebenarnya pada saat yang sama vaginaku sudah berkedut nikmat, aku sangat terangsang penuh birahi, tapi aku masih harus besabar beberapa menit untuk memberi kesempatan Oom Pram mengambil nafas. Walaupun aku tahu pasti bahwa dia belum berejakulasi.

Aku segera turun dari tempat tidur, kuambil tissue dan kondomku, kubersihkan dengan hati-hati penisnya yang basah kuyup oleh lendir Nani. Kusarungkan kondom berwarna merah jambu di kemaluannya. Beda dengan Nani yang tidak menyukai memakai alat itu, dia lebih menyukai pil KB yang diminumnya secara rutin, karena hubungannya dengan pacarnya.

Kulihat Oom Pram sambil telentang memperhatikan apa yang sedang kulakukan, mulutnya medesis penuh nikmat ketika penis yang sudah bersarung itu kukulum dan kusedot. Dalam nafsuku yang puncak itu, aku merasakan tidak perlu lagi pemanasan, aku segera memposisikan diri jongkok di atasnya, kamaluan kami sudah berhadapan nyaris menyentuh. Aku masih sempat bermain di luar sebentar, sebelum semuanya kumasukkan sampai ke dasar dinding rahimku. Kurebahkan tubuhku di atas tubuhnya, kuhisap mulutnya.

Kukerutkan otot-otot di dalam vagina untuk mencengkeram penisnya. Bersamaan dengan itu kuputar pinggulku sambil kutarik ke atas sampai ke leher kemaluannya. Kemudian dengan cara yang sama kulakukan dengan arah ke bawah, dan kulakukan berulang-ulang. Ia mengelus dan meremas bokongku, pinggulnya menyodok vaginaku dari bawah dengan irama yang sudah sangat harmonis. Posisi ini adalah posisi favoritku (hingga kini). Buah dadaku terhimpit di dadanya, perutku menggeser-geser perutnya dan desis kenikmatan kami semakin menyatu.

Kurasakan gesekan otot dan kulit penisnya di dalam vaginaku, rasanya enak sekali, kepala penisnya yang besar yang menyodok-nyodok dinding rahimku makin menambah kenikmatan yang kualami. Bagian dalam vaginaku berkedut makin dalam. Aku melenguh panjang, kutepuk pundaknya dan ia segera mengerti untuk menghentikan kocokannya. Sementara aku juga menghentikan gerakanku dan meikmati kedutan yang merambah jaringan kemaluanku. Aku mengalami orgasme ringan, aku tidak ingin permainan cepat selesai, baru lima belas menit kami bersetubuh, biasanya aku tahan lama sekali. Mungkin karena aku menonton dan terlalu meresapi permainan Nani tadi.

Aku masih menumpuk di atas tubuh Oom Pram, kemaluannya masih terjepit dalam sekali di dalam kelaminku yang masih menjalar rasa nikmat.
"Oom.., enak sekali. Aku pengen lama. Lamaaaa sekali..!" kucium pipinya dan kudekap tubuhnya.
Dan ketika dia mulai mengocokku dengan ringan dari bawah, segera kutepuk kembali pundaknya, "Aaaah, jangan dulu Oom.., Lani belum turun.."
Kurebahkan kepalaku di samping kepalanya, kudekap tubuhnya yang kekar, kuluruskan kakiku sehingga paha kami saling menempel, dengan posisi ini aku merasa menjadi satu dengannya. Kemaluannya masih tetap di dalam tubuhku.

Wajahku berhadapan dengan wajah Nani yang sejak tadi menonton pertunjukan kami, tangan kirinya meremas-remas buah dadanya sendiri, sedangakan tangan kanannya menggosok-gosok klitorisnya. Nani sudah mulai bangkit lagi nafsunya, wajahnya menampakkan kenikmatan mansturbasinya. Menit berikutnya Oom Pram sudah menggulingkan tubuhku ke samping tanpa melepaskan kesatuan kami. Dan dalam sekejap tubuh yang mengkilat oleh keringat sudah dihadapanku dengan posisi push up, kedua tangannya berada di samping tubuhku, kedua kaki lurus dan merapat. Penisnya sangat besar dan keras masih terasa menekan dalam lubang kenikmatanku.

Kulipat kakiku dan kubuka lebar-lebar pahaku, karena aku tahu bahwa Oom Pram akan segera mengaduk-aduk isi kelaminku dengan alatnya itu. Aku sudah siap untuk dipuasinya, dan aku pun siap untuk memberikan peyananku. Dia mulai menarik pelan-pelan penisnya, kuimbangi dengan remasan otot vagina, kurasakan nyeri kenikmatan dari bawah tulang kemaluanku. Aaahhh.., aku mulai mendesis, kuputar pinggulku, dan kuremas-remaskan dan kusedot habis kemaluannya, aku merintih tidak tahan, Oom Pram mendesis.

Aku dipompa dengan putaran ke kanan kadang ke kiri, kadang diulir kadang ditancap lurus ke bawah. Rasa geli dan desiran nikmat makin merambat di seluruh kemaluanku. Kakiku sudah terangkat tinggi menggapit pinggangnya, pinggulku selalu melekat erat dengan pinggulnya. Pangkal kemaluan kami saling melekat, klitorisku bergetar hebat. Oom Pram mendekapku erat, diciumnya bibirku, nafasnya sudah memburu, kocokan penisnya menghujam dengan kencang dan dalam, bersamaan dengan itu kedutan dahsat dalam lubang kemaluanku. Dia telah memancarkan spermanya.

Bersamaan dengan itu kulepas pula keteganganku. Kutahan jeritan kenikmatanku.
"Oom Pram.., oh..."
Aku tergolek lemah di samping Nani yang sedang menuju klimaks dalam mansturbasinya. Malam yang indah yang sampai kini pun aku sering melamunkannya. Sobatku jika kau membaca ini kau pasti tahu bahwa ini aku sobatmu yang dulu, apakah kau masih merindukan Oom kita..? Aku pun begitu.
TAMAT
Pengirim: gewa (gewa_bule@yahoo.com)

Goyangan Maut Tante Ninik  

1 komentar

"Kriing.." jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata.

"Wah gawat, telat nih" dengan tergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi.

Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis sinetron, namanya Ninik. Tinggi badan 168, payudara 34, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali dari Malang, aku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Ninik, karena suaminya sering ditugaskan ke luar pulau. Oh ya, tante Ninik mempunyai dua anak perempuan Dini dan Fifi. Dini sudah kelas 2 SMA dengan tubuh yang langsing, payudara 36B, dan tinggi 165. Sedangkan Fifi mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 168 dan payudara 36. Setiap aku berada di rumah tante Fifi aku merasa seperti berada di sebuah harem. Tiga wanita cantik dan seksi yang suka memakai baju-baju transparan kalau di rumah. Kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Ninik di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar pulau untuk 5 hari.

Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Ninik. Setelah perjalanan 15 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah. Sepertinya Dini dan Fifi masih belum berangkat sekolah, begitu juga tante Ninik belum berangkat kerja.

"Met pagi semua" aku ucapkan sapaan seperti biasanya.
"Pagi, Mas Firman. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya?" Fifi membalas sapaanku.
"Iya nih kesiangan" aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga.
"Fir, kamu antar Dini dan Fifi ke sekolah ya. Tante belum mandi nih. Kunci mobil ada di tempat biasanya tuh." Dari dapur tante menyuruh aku.
"OK Tante" jawabku singkat.
"Ayo duo cewek paling manja sedunia." celetukku sambil masuk ke mobil. Iya lho, Dini dan Fifi memang cewek yang manja, kalau pergi selalu minta diantar.
"Daag Mas Firman, nanti pulangnya dijemput ya." Lalu Dini menghilang dibalik pagar sekolahan.
Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu mobil ke rumah tante Ninik.

Setelah parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya. Tante Ninik masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Ninik tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya. Ternyata tante Ninik sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan.

Terdengar suara desahan lirih, "Hmm, ohh, arhh".

Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Ninik ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Ninik, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Ninik berhubungan badan denganku.

"Lho Fir, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho." Tiba-tiba suara tante Ninik mengagetkan aku.
"Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya." Celetuk tante Ninik sambil masuk kamar.

Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Ninik berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur.

"Hmm.. geli ah" Aku terbangun dan terkejut, karena tante Ninik sudah berbaring di sebelahku sambil tangannya memegang Mr. P dari luar sarung.
"Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun." Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat Mr. P menegang 90%.
"Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang." Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja.
"Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya Mr. P mu" Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya.
"Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Firman tahu kok kalau tante tadi pagi masturbasi di kamar mandi" celetukku sekenanya.
"Lho, jadi kamu.." Tante kaget dengan mimik setengah marah.
"Iya, tadi Firman ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?" agak takut juga aku kalau dia marah.

Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan Mr. P di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah.

"Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini.." dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya.
"Emm.., nggak kok tante. Maafin Firman ya." Aku semakin salah tingkah.
"Lho kok jadi munafik gitu, sejak kapan?" tanya tanteku dengan mimik keheranan.
"Maksud Firman, nggak salahkan kalau Firman pingin pegang ini..!" Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku.

Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan.

"Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli Fir." tante Ninik merengek perlahan.
"Hmm..shh" tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya.

Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Ninik. Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras.

"Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh." tante mengagumi Mr. P yang belum pernah dilihatnya.
"Ya sudah dibuka saja tante." pintaku.

Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum.

"Wah, rupanya tante punya Mr. P lain yang lebih gedhe." Gila tante Ninik ini, padahal Mr. P-ku belum besar maksimal karena terhalang CD.

Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat Mr. P yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya.

"Tante.. ngapain berhenti?" aku beranikan diri bertanya ke tante,dan rupanya ini mengagetkannya.
"Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?" agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku.
"Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding" sambil tersenyum dia ngoceh lagi.

Tante masih terkesima dengan Mr. P-ku yang mempunyai panjang 14 cm dengan diameter 4 cm.

"Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama Mr. P ku." Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya.
"Hmm, iya deh." Lalu tante mulai menjilat ujung Mr. P.

Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal Mr. P

"Ahh.. enak tante, terusin hh." aku mulai meracau.

Lalu aku tarik kepala tante Ninik sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Ninik. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu. Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.

"Ayo Fir, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini." Sambil tangan tante mengusap vaginanya.
"OK tante" aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih.
"Shh.. ohh" tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku.
"Hh.. mm.. enak Fir, terus Fir.. yaa.. shh" tante mulai berbicara tidak teratur.

Semakin dalam lidahku menelusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Ninik. "Ahh..Fir..shh..Firr aku mau keluar." tante mengerang dengan keras.

"Ahh.." erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang.

Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya.

"Hmm..kamu pintar Fir. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan?" dengan manja tante memeluk tubuhku.
"Ehh, gimana ya tante.." aku ngomgong sambil melirik ke Mr. P ku sendiri.
"Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya" tante sadar kalau Mr. P ku masih berdiri tegak dan belum puas.

Dipegangnya Mr. P ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok Mr. P. Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok.

"Fir, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya." tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuatu dari Mr.Pku.

Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Ninik, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesek-gesekkan ujung Mr. P ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. PErlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan.

"Tante siap ya, aku mau masukin Mr. P" aku memberi peringatan ke tante.
"Cepetan Fir, ayo.. tante sudah gak tahan nih." tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan Mr. P.

Dengan pelan aku dorong Mr. P ke arah dalam vagina tante Ninik, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh Mr. P sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru.

"Fir, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh" tante berbicara sambil merasa keenakan.
"Ahh.. shh mm, tante ini cara Firman agar tante juga merasa enak" Aku membalas omongan tante.

Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa Mr. P ke dalam vagina tante.

"Ahh.." kami berdua melenguh.

Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Ninik ini masih kencang, pada saat aku menarik Mr. P bibir vaginanya ikut tertarik.

"Plok.. plok.. plokk" suara benturan pahaku dengan paha tante Ninik semakin menambah rangsangan.
Sepuluh menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras "Ahh.. Fir tante nyampai lagi"

Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan Mr. P masih menancap dan dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Ninik, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di Mr. P.

"Tante, aku mau keluar nih, di mana?" aku bertanya ke tante.
"Di dalam aja Fir, tante juga mau lagi nih" sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun.

Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol.

"Arghh.. tante aku nyampai".
"Aku juga Fir.. ahh" tante juga meracau.

Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra.

"Fir, kamu hebat." puji tante Ninik.
"Tante juga, vagina tante rapet sekali" aku balas memujinya.
"Fir, kamu mau kan nemani tante selama om pergi" pinta tante.
"Mau tante, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?" aku balik bertanya.
"Gak apa-apa Fir, tante masih ikut KB. Jangan kuatir ya sayang" Tante membalas sambil tangannya mengelus dadaku.

Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi.

*****

Itulah pengalamanku dengan tante Ninik. Ternyata enak juga bermain dengan wanita yang berumur 40-an. Semenjak itu aku sering dapat telepon ajakan untuk berkencan dengan tante-tante. Rupanya tante Ninik menceritakan hal kehebatanku kepada teman-temannya.

Napas Berdesah, Mobil Bergoyang  

1 komentar

Nama saya Citra (samaran), dan saya adalah mahasiswa semester
5 di salah satu universitas swasta ternama di bilangan Jakarta
Pusat , dan apa yang akan saya ceritakan disini adalah kisah
yang terjadi sekitar beberapa tahun yang lalu.

Hari Rabu adalah hari yang paling melelahkan bagiku ketika
semester lima, bagaimana tidak, hari itu aku ada tiga mata
kuliah, dua yang pertama mulai jam 9 sampai jam tiga dan yang
terakhir mulai jam lima sampai jam 7 malam, belum lagi kalau
ada tugas bisa lebih lama deh. Ketika itu aku baru menyerahkan
tugas diskusi kelompok sekitar jam 7 lebih. Waktu aku dan
teman sekelompokku, si Dimas selesai, di kelas masih tersisa
enam orang dan Pak Didi, sang dosen.

"Bareng yuk jalannya, parkir dimana Citra ?" ajak Dimas "Jauh
nih, di deket psikologi, rada telat sih tadi"

Dimas pulang berjalan kaki karena kostnya sangat dekat dengan
kampus. Sebenarnya kalau menemaniku dia harus memutar agak
jauh dari jalan keluar yang menuju ke kostnya, mungkin dia
ingin memperlihatkan naluri prianya dengan menemaniku ke
tempat parkir yang kurang penerangan itu. Dia adalah teman
seangkatanku dan pernah terlibat one night stand denganku.
Orangnya sih lumayan cakep dengan rambut agak gondrong dan
selalu memakai pakaian bermerek ke kampus, juga terkenal
sebagai buaya kampus.

Malam itu hanya tinggal beberapa kendaraan saja di tempat
parkir itu. Terdengar bunyi sirine pendek saat kutekan remote
mobilku. Akupun membuka pintu mobil dan berpamitan padanya.
Ketika aku menutup pintu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh Dimas
yang membuka pintu sebelah dan ikut masuk ke mobilku.

"Eeii... mau ngapain kamu ?" tanyaku sambil meronta karena
Dimas mencoba mendekapku.

"Ayo dong Citra, kita kan sudah lama nggak melakukan hubungan
badan nih, saya kangen sama vagina kamu nih" katanya sambil
menangkap tanganku.

"Ihh... nggak mau ah, saya capek nih, lagian kita masih di
tempat parkir gila !" tolakku sambil berusaha lepas.

Karena kalah tenaga dia makin mendesakku hingga mepet ke pintu
mobil dan tangan satunya berhasil meraih payudaraku lalu
meremasnya. "Dimas... jangan... nggak mmhhh!" dipotongnya
kata-kataku dengan melumat bibirku.

Jantungku berdetak makin kencang, apalagi Dimas menyingkap
kaos hitam ketatku yang tak berlengan dan tangannya mulai
menelusup ke balik BH- ku. Nafsuku terpancing,
berangsur-angsur rontaanku pun melemah. Rangsangannya dengan
menjilat dan menggigit pelan bibir bawahku memaksaku membuka
mulut sehingga lidahnya langsung menerobos masuk dan menyapu
telak rongga mulutku, mau tidak mau lidahku juga ikut bermain
dengan lidahnya. Nafasku makin memburu ketika dia menurunkan
cup BH ku dan mulai memilin-milin putingku yang kemerahan.

Teringat kembali ketika aku ML dengannya di kostnya dulu. Kini
aku mulai menerima perlakuannya, tanganku kulingkarkan pada
lehernya dan membalas ciumannya dengan penuh gairah. Kira-kira
setelah lima menitan kami ber-French kiss, dia melepaskan
mulutnya dan mengangkat kakiku dari jok kemudi membuat posisi
tubuhku memanjang ke jok sebelah. Hari itu aku memakai bawahan
berupa rok dari bahan jeans 5 cm diatas lutut, jadi begitu dia
membuka kakiku, langsung terlihat olehnya pahaku yang putih
mulus dan celana dalam pink-ku.

"Kamu tambah nafsuin aja Citra, saya sudah tegangan tinggi
nih" katanya sambil menaruh tangannya dipahaku dan mulai
mengelusnya.

Ketika elusannya sampai di pangkal paha, diremasnya daerah itu
dari luar celana dalamku sehingga aku merintih dan menggeliat.
Reaksiku membuat Dimas makin bernafsu, jari-jarinya mulai
menyusup ke pinggiran celana dalamku dan bergerak seperti ular
di permukaannya yang berbulu. Mataku terpedam sambil mendesah
nikmat saat jarinya menyentuh klistorisku. Kemudian gigitan
pelan pada pahaku, aku membuka mata dan melihatnya menundukkan
badan menciumi pahaku. Jilatan itu terus merambat dan semakin
jelas tujuannya, pangkal pahaku. Dia makin mendekatkan
wajahnya ke sana sambil menaikkan sedikit demi sedikit rokku.

Dan... oohh... rasanya seperti tersengat waktu lidahnya
menyentuh bibir vaginaku, tangan kanannya menahan celana
dalamku yang disibakkan ke samping sementara tangan kirinya
menjelajahi payudaraku yang telah terbuka.

Aku telah lepas kontrol, yang bisa kulakukan hanya mendesah
dan menggeliat, lupa bahwa ini tempat yang kurang tepat,
goyangan mobil ini pasti terlihat oleh orang di luar sana.
Namun nafsu membuat kami terlambat menyadari semuanya. Di
tengah gelombang birahi ini, tiba- tiba kami dikejutkan oleh
sorotan senter beserta gedoran pada jendela di belakangku.
Bukan main terkejutnya aku ketika menengok ke belakang dan
melihat dua orang satpam sampai kepalaku kejeduk jendela,
begitu juga Dimas, dia langsung tersentak bangun dari
selangkanganku. Satu dari mereka menggedor lagi dan menyuruh
kami turun dari mobil. Tadinya aku mau kabur, tapi sepertinya
sudah tidak keburu, lagian takutnya kalau mereka mengejar dan
memanggil yang lain akan semakin terbongkar skandal ini, maka
kamipun memilih turun membicarakan masalah ini baik-baik
dengan mereka setelah buru-buru kurapikan kembali pakaianku.

Mereka menuduh kami melakukan perbuatan mesum di areal kampus
dan harus dilaporkan. Tentu saja kami tidak menginginkan hal
itu terjadi sehingga terjadi perdebatan dan tawar-menawar di
antara kami. Kemudian yang agak gemuk dan berkumis membisikkan
sesuatu pada temannya, entah apa yang dibisikkan lalu keduanya
mulai cengengesan melihat ke arahku. Temannya yang tinggi dan
berumur 40-an itu lalu berkata,

"Gini saja, bagaimana kalau kita pinjam sebentar cewek kamu
buat biaya tutup mulut ?"

Huh, dasar pikirku semua laki-laki sama saja pikirannya tak
jauh dari selangkangan. Rupanya dalam hal ini Dimas cukup
gentleman juga, walaupun dia bukan pacarku, tapi dia tetap
membelaku dengan menawarkan sejumlah uang dan berbicara agak
keras pada mereka. Di tengah situasi yang mulai memanas itu
akupun maju memegangi tangan Dimas yang sudah terkepal
kencang.

"Sudahlah Mas, nggak usah buang-buang duit sama tenaga, biar
saya saja yang beresin" kataku

"Ok, bapak-bapak saya turuti kemauan kalian tapi sesudahnya
jangan coba ungkit-ungkit lagi masalah ini !"

Walaupun Dimas keberatan dengan keputusanku, namun dia mau
tidak mau menyerah juga. Aku sendiri meskipun kesal tapi juga
menginginkannya untuk menuntaskan libidoku yang tanggung tadi,
lagipula bermain dengan orang-orang seperti mereka bukan
pertama kalinya bagiku. Singkat cerita kamipun digiring mereka
ke gedung psikologi yang sudah sepi dan gelap, di ujung
koridor kami disuruh masuk ke suatu ruangan yang adalah toilet
pria. Salah seorang menekan sakelar hingga lampu menyala,
cukup bersih juga dibanding toilet pria di fakultas lainnya
pikirku.

"Nah, sekarang kamu berdiri di pojok sana, perhatiin baik-baik
kita ngerjain cewek kamu !" perintah yang tinggi itu pada
Dimas.

Di sudut lain mereka berdiri di sebelah kanan dan kiriku
menatapi tubuhku dalam pakaian ketat itu. Sorot mata mereka
membuatku nervous dan jantungku berdetak lebih cepat, kakiku
serasa lemas bak kehilangan pijakan sehingga aku menyandarkan
punggungku ke tembok.

Kini aku dapat melihat nama-nama mereka yang tertera di atas
kantong dadanya. Yang tinggi dan berusia sekitar pertengahan
40 itu namanya Egy, dan temannya yang berkumis itu bernama
Romli. Pak Egy mengelusi pipiku sambil menyeringai mesum.

"Hehehe... cantik, mulus... wah beruntung banget kita malam
ini !" katanya

"Kenalan dulu dong non, namanya siapa sih ?" tanya Pak Romli
sambil menyalami tanganku dan membelainya dari telapak hingga
pangkalnya, otomatis bulu-buluku merinding dan darahku
berdesir dielus seperti itu.

"Citra" jawabku dengan agak bergetar.

"Wah Citra yah, nama yang indah kaya orangnya, pasti dalemnya
juga indah" Pak Egy menimpali dan disambut gelak tawa mereka.

"Non Citra coba sun saya dong, boleh kan ?" pinta Pak Romli
memajukan wajahnya

Aku tahu itu bukan permintaan tapi keharusan, maka kuberikan
satu kecupan pada wajahnya yang tidak tampan itu.

"Ahh...non Citra ini di mobil lebih berani masak di sini cuma
ngecup aja sih, gini dong harusnya" Kata Pak Egy seraya
menarik wajahku dan melumat bibirku.

Aku memejamkan mata mencoba meresapinya, dia makin ganas
menciumiku ditambah lagi tangannya sudah mulai meremas-remas
payudaraku dari luar. Lidahnya masuk bertemu lidahku, saling
menjilat dan berpilin, bara birahi yang sempat padam kini
mulai terbakar lagi, bahkan lebih dahsyat daripada sebelumnya.
Aku makin berani dan memeluk Pak Egy, rambutnya kuremas
sehingga topi satpamnya terjatuh. Sementara dibawah sana
kurasakan sebuah tangan yang kasar meraba pahaku. Aku membuka
mata dan melihatnya, disana Pak Romli mulai menyingkap rokku
dan merabai pahaku.

Pak Egy melepas ciumannya dan beralih ke sasaran berikutnya,
dadaku. Kaos ketatku disingkapnya sehingga terlihatlah buah
dadaku yang masih terbungkus BH pink, itupun juga langsung
diturunkan.

"Wow teteknya montok banget non, putih lagi" komentarnya
sambil meremas payudara kananku yang pas di tangannya.

Pak Romli juga langsung kesengsem dengan payudaraku, dengan
gemas dia melumat yang kiri. Mereka kini semakin liar
menggerayangiku. Putingku makin mengeras karena terus
dipencet-pencet dan dipelintir Pak Egy sambil mencupangi leher
jenjangku, dia melakukannya cukup lembut dibandingkan Pak
Romli yang memperlakukan payudara kiriku dengan kasar, dia
menyedot kuat-kuat dan kadang disertai gigitan sehingga aku
sering merintih kalau gigitannya keras. Namun perpaduan antara
kasar dan lembut ini justru menimbulkan sensasi yang khas.

Tak kusadari rokku sudah terangkat sehingga angin malam
menerpa kulit pahaku, celana dalamku pun tersingkap dengan
jelas. Pak Romli menyelipkan tangannya ke balik celana dalamku
sehingga celana dalamku kelihatan menggembung. Tangan Pak Egy
yang lainnya mengelusi belakang pahaku hingga pantatku.
Nafasku makin memburu, aku hanya memejamkan mata dan
mengeluarkan desahan-desahan menggoda. Aku merasakan vaginaku
semakin basah saja karena gesekan-gesekan dari jari Pak Romli,
bahkan suatu ketika aku sempat tersentak pelan ketika dua
jarinya menemukan lalu mencubit pelan biji klitorisku.
Reaksiku ini membuat mereka semakin bergairah. Pak Romli
meraih tangan kiriku dan menuntunnya ke penisnya yang entah
kapan dia keluarkan.

"Waw...keras banget, mana diamaternya lebar lagi" kataku dalam
hati "bisa mati orgasme nih saya"

Aku mengocoknya perlahan sesuai perintahnya, semakin kukocok
benda itu makin membengkak saja.

Pak Romli menarik tangannya keluar dari celana dalamku,
jari-jarinya basah oleh cairan vaginaku yang langsung
dijilatinya seperti menjilat madu. Kemudian aku disuruh
berdiri menghadap tembok dan menunggingkan pantatku pada
mereka, kusandarkan kedua tanganku di tembok untuk menyangga
tubuhku.

"Asyik nih, malam ini kita bisa ngerasain pantat si non yang
putih mulus ini" celoteh Pak Romli sambil meremasi bongkahan
pantatku yang sekal.

Aku menoleh ke belakang melihat dia mulai menurunkan celana
dalamku, disuruhnya aku mengangkat kaki kiri agar bisa
meloloskan celana dalam. Akhirnya pantatku yang sudah
telanjang menungging dengan celana dalamku masih menggantung
di kaki kanan.

"Pak masukin sekarang dong" pintaku yang sudah tidak sabar
marasakan batang-batang besar itu menjejali vaginaku.

"Sabar non, bentar lagi, bapak suka banget nih sama vagina
non, wangi sih !" kata Pak Romli yang sedang menjilati
vaginaku yang terawat baik.

ak Usep mendorong penisnya pada vaginaku, walaupun sudah becek
oleh lendirku dan ludahnya, aku masih merasa nyeri karena
penisnya yang tebal tidak sebanding ukurannya dengan liang
senggamaku. Aku merintih kesakitan merasakan penis itu melesak
hingga amblas seluruhnya. Tanpa memberiku waktu beradaptasi,
dia langsung menyodok-nyodokkan penisnya dengan kecepatan yang
semakin lama semakin tinggi. Pak Egy sejak posisiku
ditunggingkan masih betah berjongkok diantara tembok dan
tubuhku sambil mengenyot dan meremas payudaraku yang
tergantung persis anak sapi yang sedang menyusu dari induknya.
Pak Romli terus menggenjotku dari belakang sambil sesekali
tangannya menampar pantatku dan meninggalkan bercak merah di
kulitnya yang putih. Genjotannya semakin mambawaku ke puncak
birahi hingga akupun tak dapat menahan erangan panjang yang
bersamaan dengan mengejangnya tubuhku.

Tak sampai lima menit dia pun mulai menyusul, penisnya yang
terasa makin besar dan berdenyut-denyut menggesek makin cepat
pada vaginaku yang sudah licin oleh cairan orgasme.

"Ooohh... oohh... di dalam yah non... sudah mau nih" bujuknya
dengan terus mendesah "Ahh... iyahh... di dalam aja... ahh"
jawabku terengah-engah di tengah sisa-sisa orgasme panjang
barusan.

Akhirnya diiringi erangan nikmat dia hentikan genjotannya
dengan penis menancap hingga pangkalnya pada vaginaku,
tangannya meremas erat-erat pinggulku. Terasa olehku cairan
hangat itu mengalir memenuhi rahimku, dia baru melepaskannya
setelah semprotannya selesai. Tubuhku mungkin sudah ambruk
kalau saja mereka tidak menyangganya kuhimpun kembali tenaga
dan nafasku yang tercerai-berai. Setelah mereka melepaskan
pegangannya, aku langsung bersandar pada tembok dan merosot
hingga terduduk di lantai. Kuseka dahiku yang berkeringat dan
menghimpun kembali tenaga dan nafasku yang tercerai- berai,
kedua pahaku mengangkang dan vaginaku belepotan cairan putih
seperti susu kental manis.

"Hehehe...liat nih, air sperma saya ada di dalam vagina wanita
kamu" kata Pak Romli pada Dimas sambil membentangkan bibir
vaginaku dengan jarinya, seolah ingin memamerkan cairan
spermanya pada Dimas yang mereka kira pacarku.

Opps...omong-omong tentang Dimas, aku hampir saja melupakannya
karena terlalu sibuk melayani kedua satpam ini, ternyata sejak
tadi dia menikmati liveshow ini di sudut ruangan sambil
mengocok-ngocok penisnya sendiri. Kasihan juga dia pikirku
cuma bisa melihat tapi tidak boleh menikmati, dasar buaya sih,
begitu pikirku. Sekarang, Pak Romli menarik rambutku dan
menyuruhku berlutut dan membersihkan penisnya, Pak Egy yang
sudah membuka celananya juga berdiri di sebelahku menyuruhku
mengocok penisnya.

Hhmmm...nikmat sekali rasanya menjilati penisnya yang
berlumuran cairan kewanitaanku yang bercampur dengan sperma
itu, kusapukan lidahku ke seluruh permukaannya hingga bersih
mengkilap, setelah itu juga kuemut-emut daerah helmnya sambil
tetap mengocok milik Pak Egy dengan tanganku. Aku melirik ke
atas melihat reaksinya yang menggeram nikmat waktu kugelikitik
lubang kencingnya dengan lidahku.

"Hei, sudah dong saya juga mau disepongin sama si non ini"
potong Pak Egy ketika aku masih asyik memain-mainkan penis Pak
Romli.

Pak Egy meraih kepalaku dan dibawanya ke penisnya yang
langsung dijejali ke mulutku. Miliknya memang tidak sebesar
Pak Romli, tapi aku suka dengan bentuknya lebih berurat dan
lebih keras, ukurannya pun pas dimulutku yang mungil karena
tidak setebal Pak Romli, tapi tetap saja tidak bisa masuk
seluruhnya ke mulut karena cukup panjang. Aku mengeluarkan
segala teknik menyepongku mulai dari mengulumnya hingga
mengisap kuat-kuat sampai orangnya bergetar hebat dan menekan
kepalaku lebih dalam lagi. Waktu sedang enak-enak menyepong,
tiba- tiba Dimas mengerang, memancingku menggerakkan mata
padanya yang sedang orgasme swalayan, spermanya muncrat
berceceran di lantai. Pasti dia sudah horny banget melihat
adegan-adegan panasku.

Merasa cukup dengan pelayanan mulutku, Pak Egy mengangkat
tubuhku hingga berdiri, lalu dihimpitnya tubuhku ke tembok
dengan tubuhnya, kaki kananku diangkat sampai ke pinggangnya.
Dari bawah aku merasakan penisnya melesak ke dalamku, maka
mulailah dia mengaduk-aduk vaginaku dalam posisi berdiri.
Berulang-ulang benda itu keluar-masuk pada vaginaku, yang
paling kusuka adalah saat-saat ketika hentakan tubuh kami
berlawanan arah, sehingga penisnya menghujam vaginaku lebih
dalam, apalagi kalau dengan tenaga penuh, kalau sudah begitu
wuihh... seperti terbang ke surga tingkat tujuh rasanya, aku
hanya bisa mengekspresikannya dengan menjerit sejadi-jadinya
dan mempererat pelukanku, untung gedung ini sudah kosong,
kalau tidak bisa berabe nih. Sementara mulutnya terus melumat
leher, mulut, dan telingaku, tanganya juga menjelajahi
payudara, pantat, dan pahaku. Gelombang orgasme kini mulai
melandaku lagi, terasa sekali darahku bergolak, akupun kembali
menggelinjang dalam pelukannya. Saat itu dia sedang melumat
bibirku sehingga yang keluar dari mulutku hanya erangan-
erangan tertahan, air ludah belepotan di sekitar mulut kami.
Di sudut lain aku melihat Pak Romli sedang beristirahat sambil
merokok dan mengobrol dengan Dimas.

Pak Egy demikian bersemangatnya menyetubuhiku, bahkan ketika
aku orgasmepun dia bukannya berhenti atau paling tidak
memberiku istirahat tapi malah makin kencang. Kakiku yang satu
diangkatnya sehingga aku tidak lagi berpijak di tanah disangga
kedua tangan kekar itu. Tusukan-tusukannya terasa makin dalam
saja membuat tubuhku makin tertekan ke tembok. Sungguh kagum
aku dibuatnya karena dia masih mampu menggenjotku selama
hampir setengah jam bahkan dengan intensitas genjotan yang
stabil dan belum menunjukkan tanda-tanda akan klimaks. Sesaat
kemudian dia menghentikan genjotannya, dengan penis tetap
menancap di vaginaku, dia bawa tubuhku yang masih digendongnya
ke arah kloset. Disana barulah dia turunkan aku, lalu dia
sendiri duduk di atas tutup kloset.

"Huh...capek non, ayo sekarang gantian non yang goyang dong"
perintahnya

Akupun dengan senang hati menurutinya, dalam posisi seperti
ini aku dapat lebih mendominasi permainan dengan
goyangan-goyangan mautku. Tanpa disuruh lagi aku menurunkan
pantatku di pangkuannya, kuraih penis yang sudah licin itu dan
kutuntun memasuki vaginaku. Setelah menduduki penisnya, aku
terlebih dahulu melepaskan baju dan bra-ku yang masih
menggantung supaya lebih lega, soalnya badanku sudah panas dan
bemandikan keringat, yang masih tersisa di tubuhku hanya rokku
yang sudah tersingkap hingga pinggang dan sepasang sepatu hak
di kakiku. Aku menggoyangkan tubuhku dengan gencar dengan
gerakan naik- turun, sesekali aku melakukan gerakan meliuk
sehingga Pak Egy mengerang karena penisnya terasa diplintir.
Kedua tangannya meremasi payudaraku dari belakang, mulutnya
juga aktif mencupangi pundak dan leherku.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh tangan besar yang menjambak
rambutku dan mendongakkan wajahku ke atas. Dari atas wajah Pak
Romli mendekat dan langsung melumat bibirku. Dimas yang sudah
tidah bercelana juga mendekatiku, sepertinya dia sudah
mendapat ijin untuk bergabung, dia menarik tanganku dan
menggenggamkannya pada batang penisnya.

"Mmpphh... mmmhh !" desahku ditengah keroyokan ketiga orang
itu. Toilet yang sempit itu menjadi penuh sesak sehingga udara
terasa makin panas dan pengap.

"Ayo dong Citra... emut, sepongan kamu kan mantep banget"

Dimas menyodorkan penisnya kemulutku yang langsung kusambut
dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma sperma pada
benda itu, lidahku terus menjelajah ke kepala penisnya dimana
masih tersisa sedikit cairan itu, kupakai ujung lidah untuk
menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Ini
tentu saja membuat Dimas blingsatan sambil meremas-remas
rambutku. Aku melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan
Pak Egy dan mengocok penisnya Pak Romli, sibuk sekali aku
dibuatnya.

Sesaat kemudian penisnya makin membesar dan berdenyuk-denyut,
lalu dia menepuk punggungku dan menyuruhku turun dari
pangkuannya. Benar juga dugaanku, ternyata dia ingin
melepaskan maninya di mulutku. Sekarang dengan posisi berlutut
aku memainkan lidahku pada penisnya, dia mulai merem-melek dan
menggumam tak jelas. Seseorang menarik pinggangku dari
belakang membuat posisiku merangkak, aku tidak tahu siapa
karena kepalaku dipegangi Pak Egy sehingga tidak bisa menengok
belakang. Orang itu mendorongkan penisnya ke vaginaku dan
mulai menggoyangnya perlahan. Kalau dirasakan dari ukurannya
sih sepertinya si Dimas karena yang ini ukurannya pas dan
tidak menyesakkan seperti milik Pak Romli. Ketika sedang
enak-enaknya menikmati genjotan Dimas penis di mulutku mulai
bergetar

"Aahhkk... saya mau keluar... non"

Pak Egy kelabakan sambil menjambaki rambutku dan
creett...creett, beberapa kali semprotan menerpa menerpa
langit-langit mulutku, sebagian masuk ke tenggorokan, sebagian
lainnya meleleh di pinggir bibirku karena banyaknya sehingga
aku tak sanggup menampungnya lagi.

Aku terus menghisapnya kuat-kuat membuatnya berkelejotan dan
mendesah tak karuan, sesudah semprotannya berhenti aku
melepaskannya dan menjilati cairan yang masih tersisa di
batangnya. Dengan klimaksnya Pak Egy, aku bisa lebih
berkonsentrasi pada serangan Dimas yang semakin mengganas.
Tangannya merayap ke bawah menggerayangi payudaraku. Dimas
sangat pandai mengkombinasikan serangan halus dan keras,
sehingga aku dibuatnya melayang-layang. Gelombang orgasme
sudah diambang batas, aku merasa sudah mau sampai, namun Dimas
menyuruhku bertahan sebentar agar bisa keluar bersama. Sampai
akhirnya dia meremas pantatku erat-erat dan memberitahuku akan
segera keluar, perasaan yang kutahan-tahan itu pun kucurahkan
juga. Kami orgasme bersamaan dan dia menumpahkannya di
dalamku. Vaginaku serasa banjir oleh cairannya yang hangat dan
kental itu, sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di
daerah selangakanganku.

Aku langsung terkulai lemas di lantai dengan tubuh bersimbah
peluh, untung lantainya kering sehingga tidak begitu jorok
untuk berbaring di sana. Vaginaku rasanya panas sekali setelah
bergesekan selama itu, dengan 3 macam penis lagi. Lututku juga
terasa pegal karena dari tadi bertumpu di lantai. Setelah
merasa cukup tenaga, aku berusaha bangkit dibantu Dimas.
Dengan langkah gontai aku menuju wastafel untuk membasuh
wajahku, lalu kuambil sisir dari tasku untuk membetulkan
rambutku yang sudah kusut. Aku memunguti pakaianku yang
berserakan dan memakainya kembali. Kami bersiap meninggalkan
tempat itu.

"Lain kali kalau melakukan hubungan badan hati-hati, kalau
ketangkap kan harus bagi-bagi" begitu kata Pak Egy sebagai
salam perpisahan disertai tepukan pada pantatku.

"Citra... Citra... sori dong, kamu marah ya !" kata Dimas yang
mengikutiku dari belakang dalam perjalananku menuju tempat
parkir.

Dengan cueknya aku terus berjalan dan menepis tangannya ketika
menangkap lenganku, dia jadi tambah bingung dan memohon terus.
Setelah membuka pintu mobil barulah aku membalikkan badanku
dan memberi sebuah kecupan di pipinya seraya berkata

"Saya nggak marah kok, malah enjoy banget, lain kali kita coba
yang lebih gila yah, see you, good night"

Dimas hanya bisa terbengong di tengah lapangan parkir itu
menyaksikan mobilku yang makin menjauh darinya.

TAMAT

Cinta di Hutan Karet 1  

1 komentar

Hujan begitu deras sore ini. Istriku, wanita sederhana yang kunikahi 3 tahun yang lalu nampak asyik menekuni kegemarannya mengisi TTS. Ah, mengapa setiap memandang wajah sederhananya selalu terbersit perasaan bersalah? Mengapa tidak bisa kuberikan seluruh cintaku padanya? Hujan memang bangsat. Setiap titik airnya selalu menggoreskan rinduku padanya. Istriku? Bukan, Neva. Wanita yang selama sepuluh tahun ini dengan setia mengisi satu pojok hatiku. Wanita yang selalu membuatku merasa bersalah pada istriku.

Perkenalan pertamaku dengannya terjadi sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu aku harus mengikuti KKN dari universitas paling ternama di Yogyakarta. Pertama kali kenal, aku tidak peduli karena waktu itu aku baru putus dari pacarku. Bayangkan saja 4 tahun aku pacaran dan dia memutuskanku begitu saja. Neva bertubuh sedang, rambut dipotong pendek ala Demi Moore, wajahnya lumayan manis. Tapi yang paling menarik adalah sinar matanya yang hangat, tulus , bersahabat dan selalu tertawa. Seminggu orientasi aku masih tidak begitu peduli bahkan sering terganggu dengan gaya ketawanya yang begitu spontan. Kebetulan kami satu regu. "Mas.. mau kopi?" sapaan istriku membuyarkan lamunanku ttg Neva. Dengan cepat aku mengangguk. Entah mengapa aku kesal karena lamunanku terhenti.

"Aduh... Yok... bagus ya desanya... Uih... kayak negeri para dewa," Neva spontan berkomentar saat kami tiba di desa yang terletak di lereng Merbabu. Hm.. bener juga gumanku. Tempat regu kami tinggal adalah rumah kosong di pinggiran hutan karet. Tiap pagi embun turun dan menari di sela-sela hutan karet itu dimana sinar matahari dengan lembut menyeruak di antaranya. Dan setiap bangun pagi, aku selalu dikejutkan senyum Neva sambil menyeruput kopinya (entah jam berapa dia bangun pagi). "Pagi.. Yok! uh... tadi bagus deh..." dan berceritalah dia tentang kegiatan jalan-jalan paginya.

Entah, akhirnya setiap pagi kami selalu bercerita tentang bayak hal sambil menikmati kopi. Baru kusadari wanita ini di samping begitu mandiri dia juga cerdas luar biasa. Dia bisa bercerita mulai dari Nitsche, harga saham, Picasso, Pink Flyoid sampai kemiskinan. Yang luar biasa dia ternyata pernah mendapat beasiswa pertukaran pelajar, pinter main piano dan bekerja part time (meski dia berasal dari keluarga yang cukup berada). Aku semakin suka berada di sampingnya.

Di mataku kecerdasannya membuat dia begitu menarik, cantik dan seksi. Hingga suatu malam saat kami ngobrol berdua saja di teras dia mengejutkanku dengan pernyataannya, " Yok... aku ini sudah nggak perawan." Aku begitu terkejut, bagi orang sepertiku yang dididik sejak kecil bahwa seorang wanita harus menyembunyikan emosinya, pernyataan seperti ini begitu mengguncang emosiku "Ya... Tuhan... wanita seperti ini yang aku cari..." seruku dalam hati. Betapa jujurnya dia.

Dia bercerita tentang rasa cintanya yang begitu besar pada pacarnya, kesedihannya karena pacarnya tak pernah memintanya menjadi istrinya meski mereka telah pacaran hampir 6 tahun. Tanpa kutahu pasti, aku telah jatuh cinta padanya dan yang menyedihkan aku tidak berani menyatakannya. Aku nikmati saja hari-hari KKN ku. Kami main air di sungai, jalan-jalan. Setiap pacarnya datang, kutekan rasa cemburuku dan sakitku bahkan aku dengan gaya yang sok berbesar hati sering mengantarnya ke terminal untuk pulang menengok pacarnya. Setiap kali sehabis pulang, dengan gaya lucunya dia bercerita tentang persetubuhannya dengan pacarnya. Neva... tahukah kau aku mencintaimu? Sampai suatu hari, aku dan dia pergi ke kota asalku Solo untuk mencari sponsor bagi pasar murah yang akan kami selenggarakan. Tanpa terasa kami kemalaman.
"Nev... kita nginap di rumah ibuku yuk?" Sungguh! Waktu itu aku tidak punya pikiran apapun. Dan seperti yang sudah kuduga, keluargakupun sangat menyukainya. Bahkan ibuku bilang, "Dia lain ya sama Rini? Anaknya ramah dan baik". Ah.. betapa inginnya aku bilang, "Dia wanita yang kuinginkan jadi istriku, bu".
"Yok... aku tidur dimana?" tanya Neva.
"Dikamarnya Iyok aja, nak. Itu di kamar depan." ibuku begitu bersemangat menata kamarku.
"Wah... ntar Iyok tidur dimana?"
"Biar tidur di sofa ruang tamu".

Rumah ku memang agak aneh, hampir seluruh kamarnya ada di belakang, hanya kamarku yang terletak di depan. Malam itu aku gelisah tak dapat tidur. Entah mengapa aku begitu rindu pada Neva. Gila! Padahal seharian tadi aku bersamanya. Seperti ada yang menggerakkan aku pergi ke kamarku di mana Neva tidur dengan memakai daster ibuku!. Nampak tidurnya begitu damai. Ya... ampun baru kusadari betapa besar cintaku padanya. Tanpa terasa aku belai pipinya dengan lembut. Dia menggeliat. Oh.. sungguh seksi sekali. Tiba-tiba saja tanpa dapat kubendung kucium bibirnya dengan kelembutan yang tak pernah kuberikan dengan pacarku dahulu. Neva membuka matanya, dan baru kusadari betapa indah mata itu. "Yok?" Tapi dia tidak berbuat apa-apa. Kembali kukulum bibirnya, diapun menyambut dengan hangat ciumanku. Lidahnya bermain begitu luar biasa di lidahku. Tanpa terasa sesuatu yang keras menyembul dari balik celanaku. Kuciumi dengan hangat lehernya, dia menggelinjang geli. Dibalasnya ciumanku dengan ciuman lembut di leherku, turun ke dadaku. Lalu dengan gerakan yang begitu lembut, dilepasnya kaosku. Kubalas ciumannya dengan ciuman di dadanya. Ya... ampun... dia tidak memakai bra. Terasa putingnya mengeras dan dadanya begitu kencang. Tanganku masuk dari bawah dasternya. Ugh... dadanya begitu penuh. Gelinjangannya begitu mempesona. Dia begitu meenikmati sentuhanku. Tiba-tiba dia menggerang, " Don... ah...". Bagai tersengat listrik, kulepaskan cumbuanku. Ada rasa nyeri menyeruak di dalam dadaku. Dia menyebut nama pacarnya! Neva pun tersadar.

"Yok... maaf..." segera diambilnya kaosku.
"Pergilah... maaf... aku... aku... kangen sama Don". Diapun menundukan kepalanya. Mungkin orang menanggapku gila karena keterusterangannya justru membangkitkan gairahku. Entah aku begitu yakin akan perasanku padanya, rasa cintaku dan aku ingin dia memilikiku. Akan kuberikan keperjakaanku padanya. Ya... aku masih perjaka! Meski aku pacaran serius selama 4 tahun dengan Rini, aku adalah laki-laki yang begitu menghargai keperjakaan. Bahkan aku pernah bersumpah hanya kepada istriku akan kuberikan keperjakaanku. Seperti ada kekuatan gaib tiba-tiba aku bertanya.
"Nev... maukah kamu mengambil keperjakaanku?"
"Tapi... Yok?"
"Aku tidak peduli Nev... aku mencintaimu... aku ingin kamu yang mengambilnya... aku ingin kamu menjadi istriku" sambil kugenggam tangannya. Ada buliran air mengalir dari mata bulatnya. Neva hanya terdiam, dan dengan lembut diambilnya tanganku dan dibawanya ke dadanya.
"Kamu begitu tulus...Yok...". Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutnya. Selanjutnya dia mencium bibirku, pertama lembut sekali tapi makin lama makin liar, dibaringkannya tubuhku di tempat tidur. Lidahnya menjilati belakang telingaku, turun.. keputingku... ke tanganku... lalu turun ke ibu jari kakiku.. ke.. atas... ke paha... ya ampun! Aku belum pernah melakukan ini. Dulu dengan Rini aku hanya melakukan sebatas 'pas foto', itupun dengan baju yang terpakai. Tiba-tiba gigitan kecil dikelelakianku membuatku tersentak, dengan giginya, dibukanya celana pendekku, lalu celana dalamku. Ya.. aku telanjang bulat di hadapannya. Lalu dengan gerakan lembut dia membuka dasternya, lalu celana dalamnya. Aku masih dalam posisi terlentang. Antara bingung dan gejolak yang luar biasa. Dengan senyum manisnya, Neva menjulurkan lidahnya ke arah lelakianku. Dimainkannya ujung lidahnya di pangkal kelelakianku. Aaggh... ya Tuhan... inikah Surga-Mu? Aku tak mampu berkata apa2 saat mulutnya mengulum kelelakianku sambil sesekali diselang-seling dengan mencepitkan buah dadanya.. Aku hampir saja tak kuat menahan lava di dalam kelelakianku. Tapi di saat aku hampir menyemburkannya, tangannya dengan lembut memijat pangkal kelelakianku itu. Ajaib, lava itu tak jadi keluar meski tetap bergejolak.

Demikianlah... hal tersebut dilakukannya berulang kali. Hingga dia berkata... "Yok... aku ingin memberimu hadiah yang tak kan kamu lupakan". Dia lalu duduk di atasku, tepat di atas kelelakianku. Diambilnya kelelakianku terus dengan gerakan begitu lembut dimasukkannya ke dalam kewanitaanya. Ugh... ah.. erangannya begitu mempesona. Dan akupun memegang pantat bulatnya. Tapi segera dia berkata" Ssst... I will make you happy Yok!". Terus dengan gerakan memompa dan memutar, kurasakan seluruh darah mengalir ke bawah.

Keringat membasahai seluruh tubuhnya. Sambil berciuman kurasakan dia memompa kewanitaaanya. Lalu dicengeramnaya tubuhku kuat-kuat. Aggh.. agh... seluruh ototnya meregang. Putingnya tegak berdiri dan disorokannya ke mulutku. Lalu dengan keliaran yang tak kubayangkan sebelumnya kulumat habis puting itu sambil membalas pompaannya. "Ah... terus.. Yok.. terus... jangan berhenti" rangannya semakin mebuatku liar. "Lagi... Yok.. lagi... ini ketiga kalinya... ayo Yok..." Dan tanpa dapat kutahan lavaku menyembur. Neva segera menariknya keluar. Lalu dijilatinya cairan lava itu. Kenapa dia tidak jijik? Dengan senyum manisnya seakan dapat membaca pikiranku. "Nggak Yok... aku ingin membuatmu senang". Ya Tuhan, aku sangat terharu mendengarnya. Bagiku dia telah menjadi istriku. Malam itu, kami tiga kali bercinta dan ketiganya Neva yang 'memberiku'. Hm... aku berjanji, suatu saat aku akan memberikan 'sesuatu' yang sangat hebat... "Mas... kopinya kan sudah dingin. Kok nggak diminum?" Ah...lagi-lagi sapaan istriku membuyarkan lamunanku. Neva... dimana kamu sekarang (istriku)?

"Pada sepi yang tiba
Keyakinanku yang rapuh
Kuusik sendiri...
Wajahmu tak tahu berjanji
Dalam sinar baur kabur
Dan bunyi seretan sandal
Kusumpahi engkau
Yang terus membuntutiku
Membuntukan seluruh
perjalananku..."

Hutan karet itu masih seperti dulu. Bau tanah basahnya, getah karetnya, bahkan dangau tempat para pemanen karet beristirahatpun masih ada di tepinya. Neni istriku tampak sesekali merapatkan pegangannya di pinggangku. Langit sangat gelap, mendung menari dengan seenaknya dan membawa udara dingin menerpa perjalanan kami menuju rumah kepala desa tempatku dulu KKN dan motorku dengan usia rentanya nampak terpatah-patah mendaki jalanan yang berbukit. Ah, semoga kami belum terlambat menghadiri pemakaman kepala desa yang baik hati itu. "Kenapa sih mas... motor butut ini nggak dijual saja. Beli motor Cina juga nggak apa-apa." keluh istriku. Dan seperti biasanya aku hanya terdiam tak tahu bagaimana cara menerangkannya alasanku sesungguhnya.
"Ha.. ha.. Yok... ini sih sepeda onthel bukan motor" tawa lepas Neva waktu motorku mogok di jalan dekat hutan karet itu saat itu.
"Biarin, kenapa kamu mau aku goncengin?" Aku pura-pura marah. Mendengar nada suaraku yang kelihatan kesal. Mata Neva yang bulat segera membelalak dengan lucunya.
"Ah.. kamu nggak asyik. Gitu aja marah" Dia gantian memberengut dan mulutnya terkatup rapat. Garis mukanya mengeras, dahinya mengrenyit. Lho? Aduh gimana nih? Sumpah, aku tidak bermaksud membuatnya tersinggung. Aku kelabakan "Ngg... anu. Nev... aku... aku... maaf... tadi... ngg" Aku tidak bisa meneruskannya karena tak tahu harus bagaimana. Sungguh mengapa aku begitu takut membuatnya marah, takut dia tak mau lagi bersamaku. Saat aku bergulat dengan kekawatiranku, tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di pipiku "Mmuah!" Neva menciumku sambil terkekeh-kekeh geli karena berhasil mengecohku. Antara lega, kaget, senang dan malu. Terlebih beberapa penadah karet yang berpapasan dengan kami nampak jengah dan malu melihat kespontanannya yang tak bosan-bosannya memukauku.

"Nev.. sst.. ntar dilihat orang"
"Ha.. ha... biarin! ha.. ha... gotcha!
Takut aku marah ya? He.. he..." Dia masih ketawa geli. Begitu menggemaskan, ingin rasanya kupeluk erat-erat. Segera kuusap-usap rambutnya yang mulai memanjang dan awut-awutan itu dengan penuh kasih.
"Sayang ya?" tanyanya manja (baru kusadar, dia tidak penah menampakkan kemanjaan ini kepada siapapun selama kami KKN. Beginikah dia sama Don? Persetan! Segera kuusir perasaan buruk ini). Kupandang dalam ke mata lucunya. Aku tahu pasti, dia bisa membaca apa yang terukir indah di dalam hatiku. Hujan tumpah tanpa terbendungkan lagi. Angin menjadi semakin kencang seolah mengejek motorku yang semakin terseok. "Nen.. kita berteduh di dangau itu saja" segera kupinggirkan motorku ke dangau di tepi hutan itu. Daun kelapa kering yang menjadi atapnya nampak koyak di beberapa bagian. Tapi masih lumayanlah di pojok sebelah kanan masih ada tempat yang kering. Sebelum kami duduk di bangku bambu yang sudah tampak lusuh dan banyak sisa pohon kering, kubersihkan bangku itu dengan tanganku, dan dengan ketergesaanku itu mengakibatkan sebuah paku kecil yang menyembul menyayat jari telunjukku. Darah segar segera mengalir.
"Oouch!"
"Yok... aduh... tanganmu berdarah" Neva berteriak dengan kecemasan yang tak dapat disembunyikannya. Segera diambilnya jari telunjukku dan dikulumnya di bibirnya yang tak tersentuh lipstik. Pemandangan di depanku membuatku tak mampu berkata sepatah katapun. Begitu indah, begitu ingin kubekukan dan kubingkai selamanya. Rambut dan mukanya yang basah karena guyuran hujan membuat bibirnya sedikit kebiruan. Celana jeans dengan dengkul sobek plus kaos putihnya basah kuyup dan membuat lekukan di dadanya menjadi sangat jelas. Warna hitam dari branya memberi aksen pada lukisan indah dihadapanku ini. Dengan perlahan dan lembut dikulum dan disedotnya darah dari jariku. Kurasakan di ujung jariku kelembutan lidahnya menyentuh lukaku. Perih yang tadinya begitu kuat menggigit ujung jariku secara perlahan berganti menjadi kehangatan yang menjalari seluruh ujung kepekaanku. Masih kurasakan kebahagiaan yang kuperoleh beberapa hari yang lalu di rumahku saat kami menginap. Aku rindu sentuhannya, aku rindu....

"Nah... sudah mendingankan?" jariku yang dicabut dari mulutnya membuyarkan kenanganku. Ada sedikit rasa kecewa di perasaanku. Tapi rasa maluku mampu menekannya dalam-dalam. Entah, sejak kejadian di rumahku itu, aku merasakan kedekatan yang luar biasa di antar kami. Nevapun semakin jarang membicarakan Don, meski dihadapan teman-temanku seregu dia nampak dengan sengaja melontarkan kerinduannya pada kekasihnya itu dengan ujung mata yang sesekali mencuri pandang ke diriku. Kekasihnya? Siapa? Don? Aku? Aku takut dengan jawaban pertanyaan itu dan aku tidak pernah mempertanyakannya. Aku hanya yakin, Neva juga melakukannya dengan hatinya.

"Hey.. jangan melamun dong, Mas!" sapaan istriku lembut tapi kurasakan ada kejengkelan di dalamnya. "Nggak... cuma hujan kayak gini pasti lama... kita terjebak di sini nih!" sambil kupeluk istriku. Ada rasa syukur yang besar saat hujan turun dengan derasnya diiringi angin besar. Neva merapatkan duduknya sambil tak bisa menyembunyikan gigilan dingin yang menerpanya. Sepenuh hati segera kupeluk karunia indah ini dan kuberikan seluruh kehangatan jiwaku padanya. Kurasakan balasan pelukannya begitu lembut tapi tegas. Dengan rasa sayang yang luar biasa kucium rambut basahnya. Nampak dia terpejam menikmati rasa sayangku itu. Tanpa sadar kuteruskan ciumanku di telinganya, dia mengelinjang kegelian, kutelusuri belakang telinganya dengan ujung lidahku, kemudian lehernya. Dia lalu menengok dan dengan hangat diciumnya bibirku. Lidah-lidahnya bermain di rongga mulutku dan tangan kanannya mengambil tangan kiriku untuk diletakkan di atas dadanya.

Hujan yang semakin deras melarutkan percumbuan kami. Ditariknya mulutnya dari mulutku "Yok... tapi nggak usah main ya?". Dengan kelu kuanggukkan kepala. Neva kemudian pindah ke depanku menghadap ke arahku, bra hitam basahnya yang nampak samar di kaos basahnya tepat di hadapanku. Disorongkannya dadanya ke mulutku, segera kulumat kaos basah itu sambil mulutku sesekali menggigit lembut ke dua bukit indahnya. Sambil memekik kecil karena gigitan itu ditariknya kasonya ke atas, nampak bra hitamnya memiliki bukaan di depan. Dibukanya bukaan itu. Ya ampun, kedua bukit itu tegak berdiri dengan puncak hitamnya yang mengeras (entah karena kedinginan atau keinginan). Kulahap habis kedua puncak hitam itu bergantian. Kugigit-gigit lembut dan Nevapun mengelinjang kegelian. Kuremas-remas pantatnya yang tergolong besar itu sehingga dia dengan gerakan yang begitu ekspresif semakin menyorongkan dadanya ke mulutku. Kedua bukit itu makin keras. Tiba-tiba dengan gerakan yang agak kasar ditariknya kedua dadanya dari mulutku. Neva segera berjongkok, dibukanya risleting celana jeansku dan dikeluarkannya kelelakianku, segera dilumatnya kelelakianku dengan gerakan yang menagihkan. Digigit-gigit kecilnya ujung kelelakianku, ditelusurinya batang tubuhnya dengan ujung lidahnya hingga ke pangkal. Gelinjang sensasi kenikmatan yang kurasakan membuatnya mempercepat gerakan makan es krimnya. "Ugh... ah...... akhhhhhhhh... Nev.. ahhhhhhh" tak mampu aku berkata apa-apa. Lavaku sudah mendekati puncak dan Neva akan menekan pangkal batang kelelakianku bagian bawah, tiba-tiba... Grung... grung... suara mobil membuat kami bagaikan kesetanan segera membenahi baju kami. Dengan napas tersengal, kami segera duduk sambil ngobrol yang tak jelas.

"Mbak.. Mas... bareng aja yuk?" pak lurah yang baik hati itu menghentikan mobil kijang bak terbukanya. Dengan senyum sedikit kecut kami terpaksa numpang mobil itu dengan motor tuaku nangkring di bak belakang. "Nev.. aku pusing!" bisikku. Neva hanya mengangguk sambil jarinya meremas jemariku. "Yah... memang hujan seperti ini membuat kita gampang masuk angin, pusing. Nanti sampai di rumah biar ibunya anak-anak bapak suruh ngerokin nak Iyok." Pak lurah yang baik hati itu dengan polosnya menyahut. Aku dan Nevapun berpandangan dengan senyum antara geli dan kecut.

"Kematian adalah tantangan,
Kematian mempertegas kita untuk tida melupakan waktu,
Kematian memberi tahu kita untuk saling mengatakan saat ini juga bahwa....
kita saling mencintai..."

Rumah pondokan KKNku juga masih seperti dulu. Dinding batakonya, kedua kamarnya (satu untuk Neva dan Santi, sedangkan yang lainnya untuk Hendra, Made, Sugeng dan aku. Ah... teman-teman sereguku itu juga tak kuketahui rimbanya kini...) kini ditempati keponakan pak lurah yang baik hati itu. Rumah pak lurah hanya beberapa ratus meter dari rumah itu. Bu lurah dengan mata yang masih sembab menyambut kedatanganku dengan keharuan yang mendalam. Kukenalkan Neni, kemudian kusalami dia. Masih kurasakan kehangatan perhatiannya saat mengerokiku dulu ditangannya

"Makanya mas Iyok... mbok motornya diganti saja. Kalo gini kan kasihan mbak Neva nggak bisa nonton ke Salatiga sama mbak Santi dan yang lain. Mereka tadi nunggunya lama lo... mas Made yang ngusulin ninggal. Marah lo dia" sambil sesekali dipijitnya tengkukku. Sambil tersenyum menahan kerokan yang tak kuinginkan ini aku hanya diam saja. Kalau kutanggapi bisa-bisa sampai subuh bu lurah yang masih menyisakan kecantikan masa mudanya ini tak bisa menghentikan obrolannya. Padahal aku begitu ingin segera kembali ke pondokanku menyusul Neva yang tapi pura-pura pamit menyelesaikan persiapan mengajarnya di SMP desa. Akhirnya siksaan kerokan itu berlalu, sambil pura-pura mengantuk karena Procold aku bergegas ke pondokanku. "Nen.. ini kamarku dulu, dan yang itu kamar Santi dan Neva" waktu kusebut namanya ada kelu yang mnyekat di kerongkonganku. Untunglah keponakan pak lurah segera menyuruh kami minum teh hangat. "Nev... mau teh hangat?" kuambilkan secangkir teh dari rumah pak lurah, jangan-jangan Neva sakit beneran? Ada rasa cemas yang menyusup saat aku masuk kamarnya dan kulihat dia meringkuk tak bergerak. "Mau dong" sambil mengeliat bangun dari tidur ayamnya. Syukurlah, dia tak apa-apa. Sesaat setelah menghabiskan teh dia menengadah...
"Yok?" bisiknya
"Ya?"
"Selesain yuk?". Ah.. betapa inginnya aku agar Neni bisa mengutarakan keinginannya seperti dia. Segera kukunci pintu depan. Dan dengan setengah berlari aku kembali ke kamar Neva. Begitu kubuka kamar, Neva ternyata telah menanggalkan seluruh celana pendek dan kaosnya. Hanya tinggal bra hitam dan celana hitamnya (aku tak tahu kenapa dia begitu tergila-gila warna hitam, hampir seluruh pakaian dalamnya hitam). Dengan reflek kubuka bajuku segera kutubruk dia. Neva sedikit meronta dan itu membuatku semakin bergairah. Tak tahu, rasanya kami terburu-buru, mungkin karena rasa takut ketahuan. Neva segera menanggalkan pakaian dalamnya dan segera memintaku untuk memasukkan kelelakianku di lubang kewanitaannya. Entah, aku justru menunduk dan kuciumi dengan lembut. Bau kewanitaan itu begitu khas, aku belum pernah membauinya.

Dengan reflek kujilati pinggirannya dan benda kecil yang tampak memerah tegang ditengahnya. Neva mengelinjang dengan hebat tangannya sedikit menjambak rambutku dan membenamkan kepalaku semakin dalam ke lubang itu. Aku begitu menikmati permainan ini. Sumpah aku belum pernah melihat gambar atau film seperti ini. Semuanya kulakukan dengan reflek naluriku belaka. Lidah-lidahku semakin liar menari-nari di lubang itu dan kumasukkan semakin dalam dan dalam. Kedua tanganku ke atas memegang bukit indahnya yang semakin keras dan mengeras. Kupelintir kedua puncak hitamnya, kumainkan sampai kurasakan air semakin deras di kewanitaannya. Kujilati air itu, kuhisap, kutumpahi ludahku bercampur dengan air itu. Kuhisap lagi. Kedua puncak hitam bukit indahnya semakin keras kupelintir, kugemggam dengan liar kedua bukit itu, kuremas-remas, kuperas dan... "aaaahhhhh... oh yes... yes. uh...... ahhhh.." panggul Neva dengan sangat liarnya melakukan gerakan memompa. "Oooohhhhh... Yesss!!!!" dibenamkannya semakin dalam kepalaku ke dalamnya. Ya.. Tuhan.. begitu bahagianya diriku melihatnya begitu puas. Segera kucabut lidahku dan dengan ujung lidahku kujilati seluruh tubuhnya. Neva semakin menggelinjang, kulumat habis kedua bukit indahnya dengan puncak yag begitu keras. Ah... aku tak kuasa menahannya lebih lama dan... Blesss!!! Kumasukkan kelelakianku ke dalam kewanitaannya. Dipegangnya kedua pantatku dan ditariknya ke dalam lubang itu semakin dalam. Sambil kulumati kedua bukit indahnya, kelelakianku terus mempa dengan rasa cintaku yang luar biasa. "Yok... ayo... yok... ah... terus... terus.. oh yesssss!" saat itu kusemburkan lava kelelakianku di atas tubuhnya. Segera dioles-oleskannya ke seluruh tubuhnya. Ah betapa cantik dan seksinya dia... Saat Santi dan teman-temanku pulang, Neva sudah tertidur kelelahan. Dan aku pura-pura nonton TV di rumah pak lurah. Waktu teman-temanku menceritakan betapa hebatnya film yg ditonton. Aku hanya pura-pura kesal dengan kebahagiaan yang tak terkira. "Mas.. pulang yok.. udah sore nih..."

Angin senja membawaku kembali ke Solo sambil masih terngiang dengan jelas bisikan Neva sesudah mengakhiri permainan kami.

"Aku ini badai dan samudera,
hutan tergelap dan pegunungan terjal dan liar.....
betapa inginnya kualamatkan selalu kerinduanku
pada tempat ini"

Telah sebulan KKN selesai. Dan selama itu pula aku tidak bertemu dengan Neva. Rindu ini begitu mencabik-cabik pembuluh darah dalam nadiku dan mengakumulasi ke kelenjar otak. Bambang dan Panca, teman-teman sekontrakanku sampai heran dengan diriku yang tiba-tiba menjadi pemarah dan sensitif. Akhirnya aku ceritakan bahwa aku jatuh cinta dengan perempuan itu. Saat kutunjukkan fotonya, Panca begitu terkejut ternyata Neva teman basketnya di tim universitas. "Wah... kamu pinter milih, Yok! Kalo dia aku ya mau juga," jawabnya terkekeh

Aku tahu saat ini pasti Neva sedang ngebut nyelesain skripsinya. Dia pernah bilang dia harus selesai dalam hitungan 2 bulan. Benar-benar gila anak itu otaknya. Aku jadi malu ke diriku sendiri. Dibandingkan dia aku belum melakukan apa-apa dalam hidupku untuk diriku sendiri. Panca jadi heran dengan perubahanku yang begitu tiba-tiba. Aku jadi lebih sering mengerjakan proposal skirpsiku yang telah sekian lama terbengkelai. Jadi sering ke perpustakaan pusat (hm... siapa tahu Neva ke sana). Sudah beberapa kali aku coba ke rumahnya yang sangat besar di utara Yogya itu. Tapi mobil Don yang sering nongkrong di depan rumah itu membuatku kecul sendiri. Kamu memang pengecut Yok! Entahlah. Sampai suatu hari aku pergi ke perpustakaan dan wanita yang duduk tekun di pojok membuat wajahku pias. Neva? Dia duduk sambil memelototi buku the Trial-nya Frans Kafka (Pasti buat referensi skripsinya.) Kacamata bacanya membuat wajahnya menjadi begitu menarik. Sosok kecerdasan yang luarbiasa digabung dengan keperempuanan yang menyihirkan.
Kudekati dia dan kusapa.
"Hei!"
"Hey!" jawabnya datar.
"Sedang apa?
"Berenang!" jawabnya seenaknya. Seharusnya aku tahu, aku tak bisa mengganggunya kalau sudah ada buku di tangannya. Biar ada bom meledakpun dia tak akan bergeming. Aku hanya terdiam memandangnya sambil berharap dia akan memandangku, tapi harapanku itu sia-sia. Dia tak bergeming sedikitpun. Sampai sebuah sosok laki-laki mendekat ke arah kami, Don! "Hey.. Yok? sudah lama?" sapanya hangat Aku hanya mengangguk dengan senyum yang pasti begitu aneh. Neva segera bangkit. "Yuk Don pulang... pulang dulu ya Yok!" tanpa menunggu jawabanku dia mengeloyor pergi begitu saja. Aku hanya terbengong dan kelu.

Kriiing! Weker ayamku membangunkan tidur siangku. Dengan kecepatan kilat yang luar biasa aku mandi dan segera bergegas mengambil ranselku, Sialan, kenapa sih pak Sutoyo dosen pembimbingku bikin janji jam 4 sore gini. Saat membereskan laporan-laporanku si Bambang menggedor pintu kamarku. "Yok... aku berangkat dulu, pulangnya mungkin bulan depan," pamitnya. Ya ampun baru aku ingat sore ini dia mau ke Sulawesi mau melamar tunangannya. " Ya... hati-hati... salam buat Tasya!". Tak berapa lama kemudian pintuku mulai digedor lagi. Kenapa lagi sih ? "Ngapain Mbang? Ada yang ketinggalan?" "Ngg... anu Yok ada tamu!" Kenapa sih anak itu, ada tamu kok mbingungi. Segera kubuka pintu kamarku. Seolah-olah ada sebongkah besar batu menyekat tenggorokanku dan aku hampir tak bisa dibuat bernapas karenanya. Neva! Perempuan itu berdiri dengan kostum seperti biasanya, kaos dan jeans belel. Tapi di pundaknya ada ransel yang lumayan besar. Mau ke Merapikah? "hey... boleh nginap di sini?" tanyanya cuek dan tanpa menunggu jawabanku dia langsung masuk kamar. Ah anak itu memang penuh dengan kejutan. Seperti orang linglung aku bahkan tak sempat mengenalkan Bambang yang terburu-buru pergi. "Mama nyusul Papa ke New York. Don pergi ke Kalimantan. Ada riset di Kalcoal. Males di rumah. Sepi!" seolah-olah tahu keherananku dia merebahkan tubuhnya ke kasur yang tergeletak begitu saja di lantai. Anak tunggal pasangan dokter bedah ternama di kota ini memang paling takut sendiri di rumahnya yang super besar itu. "Sampai kapan?" tanyaku sekenanya. "Tahu! Mungkin sebulan. Kalo mama dan papa sih lima minggu. Soalnya mereka mau ke Eropa sekalian. Nengokin om Jon, adik mama di Paris. Kamu kalo mau pergi, pergi aja aku ngantuk!" dia lalu membalikkan tubuhnya . Kalau tidak ingat dosenku itu sangat susah ditemui, pasti kubatalkan kepergianku.

Sepanjang pertemuanku dengan pak Sutoyo, tidak sedetikpun konsentrasiku ke proposal yang aku bikin. Sialnya dosenku itu justru malah kuliah panjang lebar tentang teoriku yang salah. Saat sesi itu selesai, baru kusadar telah tiga jam aku meninggalkan Neva di rumah kontrakkanku. Bagaikan kesetanan aku memacu motor tuaku ke rumah kontrakkanku di daerah Mbesi sambil tak lupa menyempatkan di warung langggananku untuk 2 botol besar Coke dan seplastik es batu (minuman kesukaan Neva). Hm.. mengapa rumahku gelap? Pasti si Neva ketiduran. Kubuka gerendel, aku terkejut beberapa lilin menerangi kamar tamuku. Mati listrikkah? Sayup-sayup kudengar kaset Michael Frank dari kamarku. Lalu dengan pelan takut menganggu tidur perempuan itu kubuka kamarku. Dan pemandangan di kamarku membuat kedua mataku hampir keluar dari tempatnya karena ketakjubanku. Beberapa lilin yang mengapung di tembikar yang penuh dengan kemboja nampak menghiasi beberapa sudut ruangan. Spreiku telah diganti menjadi biru tua polos dan bertaburan melati dan bau dupa eksotis membuat kamarku demikian cozy. Beginikah honeymoon suite room? Neva dengan rok terusan selutut bertali dan sersiluet A tersenyum menyambutku. Kain rok itu begitu tipis dan ringan, warna putihnya mengingatkan aku pada turis-turis yang sering memakainya di Malioboro. Tampak kedua dadanya penuh dan kedua puncak hitamnya yang menonjol menyadarkanku bahwa dia tidak memakai bra hitam kesukaannya. Setangkai kamboja menyelip di telinganya. Ah... pantas bule-bule itu menyukai perempuan negeri ini. Ada satu karakter yang kuat memancar dengan dahsyatnya. Saat lagu "Lady wants to Know" mengalun, Neva memegang tanganku. "Shall we dance?". Kuletakkan semua bawaanku begitu saja dan dengan ketakjuban yang masih menyelimuti perasaanku kusambut tangannya, kupeluk dia dengan kerinduan yang tak kunjung usai. Harum parfum Opiumnya Yves Saint Laurent semakin meempererat pelukanku. Sesekali kucium tangannya yang kugemnggam sangat erat. Kamipun terus berpelukan hingga satu lagu itu usai. Saat lagu kedua mulai, tiba-tiba perempuan itu mendongakkan kepalanya yang tadinya rebah di dadaku.
"Bercintalah denganku?
Setubuhi aku dengan jiwamu...
Bawalah aku ke dalam darahmu
Biarlah aku terus menjadi hantu yang selalu menghuni satu sudut ruang hatimu..." bisiknya lembut. Kata-kata itu bagaikan sihir yang membutakan seluruh sendi kesadaranku. Tanganku turun dan dengan perlahan kusentuh dengan lembut kedua dadanya. Bibirnya yang penuh kukecup dengan penuh kasih lalu segera kulumat dan kuteruskan dengan penjelajahan ke lehernya dengan kecupan-kecupan hangat. Gigitan-gigitan kecil di dadanya terkadang membuatnya tersengat. Kain di dadanya segera basah oleh ciumanku dan kedua puncak hitamnya tegak berdiri di balik samar warna putih. Dengan kepasrahan yang penuh, perempuan itu kugendong ke ranjangku. Kubuka dengan perlahan bajuku dan dalam hitunga detik kami telah ada dalam kepolosan yang purba."Please... explore me!" rintihnya saat kujilati bibir kewanitaannya. Entah mengapa aku begitu kreatif saat itu. Segera kuambil ikat pinggangku dan kuikat kedua tangannya kebelekang lalu dia kududukkan sambil kututup mataku dengan syal batik ibuku yang selalu kubawa. Oh Tuhan (masih pantaskah aku menyebutNya?) betapa menggairahkan pemandangan di dekapanku. Kuambil bongkahan es batu dalam plastik dan kubanting ke lantai. Gedubraaaak!

"Suara apa itu?" pekiknya kaget. Pertanyaan itu tidak kujawab dengan jawaban tetapi dengan ciuman liar dan hangat di bibirnya. Tanganku memegang sebongkah es batu dan kutelusuri seluruh tubuhnya dengan es itu dengan gerakan bagai lidah di tempat-tempat sensitifnya."Arrgh.. ah... ugh.. ugh!" dia menggelinjang dengan hebatnya karena sensasi itu. Saat kupermainkan bongkahan es di puncak hitamnya yang sangat kaku mengeras dia mengaduh "Uuuh... hisap... please!" rintihnya. Lalu kuhisap ke dua puncak itu sambil kugigit-gigit kecil. Gelinjangnya semakin liar. Lalu es itu kujelajahkan di atas kewanitaannya. Tanpa dapat dibendung lagi dia mengerang hebat dengan erangan yang tak pernah kudengar (ah mungkin waktu itu tempatnya tidak sebebas di kontrakkanku). "Arrgh.. uh.. oh... yessss... oh... ah.. great... baby..." saat es yg semakin kecil itu kumasukkan ke dalam kewanitaannya dan kumainkan bagai lidahku dia mengerang dan memohon untuk kusetubuhi dengan kelelelakianku. "Please Yok... setubuhi aku.. ayo.... ah...." tapi aku tidak melakukannya, justru aku segera melumat kewanitaannya dengan lidahku. Karena kedua tangannya masih terikat dia tidak bisa memegang kepalaku untuk dibenamkannya ke kewanitaannya dan dia menggunakan kedua kakinya untuk menjepit tubuhku. Erangannya makin hebat saat kuhisap cairan di kewanitaannya, kujulurkan lidahku makin dalam... dan dalam...

"Aaaaaaaaargh!... argh....oh yesssssssssssssssss!" Kuhisap, kulumat dengan keliaran yang tak terkendali. Persetan dengan yang mendengar saat kudengar bunyi pintu terbuka. Itu pasti Panca. Benar, mungkin karena sungkan, dia segera masuk ke kamarnya. Erangan perempuan itu, semakin keras saat kutanamkan dalam-dalam kelelakianku ke lubang kewanitaannya. "Oh yesssssssss!... arghhhhhh!" dia tak bisa bebas meronta, hanya panggulnya yang diangkatnya tinggi-tinggi untuk dibenamkan semakin dalam. Saat kubuka matanya dan talinya dia segera mendorongku hingga aku terjembab dan dicabutnya kewanitannya. Dia lalu jongkok di atas wajahku dengan posisi terbalik. Lalu dengan liar dihisapnya kelelakianku. Dikulumnya dalam-dalam, di saat yang bersamaan akupun bisa memainkan lidahku di kewanitannya. "Ahh.. uh... ah..." begitu nikmat luar biasa, Kulumannya semakin liar di kelelakianku sambil sesekali digigit kecil pangkalnya. Kedua bukit indahnya yang menggantung segera kuremas dan kupilin keras. "Auw...." Jerit kecilnya saat aku memilin putiknya terlalu keras. Neva semakin hebat mengulum kelelakianku sambil menggoyangkan kewanitaannya agar lidahku bisa masuk lebih dalam. Lalu dengan waktu yang bersamaan kami mencapai sensasi erangan yang memekakkan. "Aaargh... oh YESSSSSSSSS!" lava yang begitu deras keluar dari kelelakianku, segera direguknya cairan itu. Oh indah luar biasa... Tuhan.. aku begitu mencintainya. Dan malam itu kami terus bercinta hingga pagi menjelang.

Sudah hampir 2 minggu ini Neva tinggal bersamaku. Selama itu pula erangan-erangan dan lenguhan-lenguhan kami telah menjadi seuatu yang biasa di kontrakkanku. Setiap hari kami bercinta, terkadang pagi, siang dan setiap malam. Hampir seluruh sudut rumah ini telah sempat menjadi 'ranjang' kami (tentunya saat Panca pergi). Panca sudah terbiasa mendengar teriakan-teriakan kepuasan dari kamarku, bahkan kami terkadang berciuman dengan seenaknya di depannya. Pancapun hanya menggerutu, "Huh... jadi kambing congek nih..." Lalu kamipun hanya tertawa melihat ekspresi sahabatku itu. Lalu dengan sekali pandang kami segera masuk kamar. Biasanya Neva masih sempat menggoda Panca dengan kenakalannya.
"Hey... jangan pengin lho Pan?"
"Huh cah edan!" sahabatku itu begitu pengertian sambil tetap bersungut dia masuk kamar sambil meneruskan gerutuannya:
"Tereaknya jangan kenceng-kenceng!" lalu erangan-erangan hasratpun kembali menguak di antara keringat-keringat kami. Hari-haripun berlalu demikian indahnya. Hingga suatu siang, saat aku pulang dari kampus aku begitu terkejut saat melihatnya berkemas.
"mau ke mana Nev...?"
"Pulang," Jawabnya pendek.
"Mama Papa udah balik?" dia hanya menggeleng.
"Besok Don pulang!"
Pyaaaar! Tiba-tiba kepalaku pening. Ada kemarahan yang tiba-tiba meyerang. Tidak, aku tidak marah kepadanya, aku hanya marah dengan situasi ini.
"Tinggallah bersamaku," pintaku. Kurasakan ada nada putus asa di dalamnya. Perempuan itu menggelengkan kepala.
"Tidak. Don akan marah kalau ke rumah aku nggak ada". Don, lagi-lagi Don! Kenapa nama itu tidak hilang dari hatinya. Tidak puaskah dia dengan cintaku? Keputusasaanku akhirnya terakumulasi dengan kemarahanku. Kutarik tubuhnya ke pelukanku, kudekap tubuhnya kuat-kuat. Diapun mengejang dengan pandangan bingung. Tiba-tiba kudengar suaraku meninggi.
"Tidak! Kau harus tinggal!" melihat perempuan itu tetap menggeleng aku semakin tak terkendali. Yang ada di kepalaku cuma satu, dia harus jadi milikku, selamanya! Dan keluarlah kalimatku yang kusesali hingga saat ini: "Jadi, kuanggap aku gigolomu. Harusnya kamu bayar aku mahal, Nev!"
Plaak! Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Kulihat kemarahan luar biasa di matanya. Badannya bergetar dengan hebat. Aku semakin kalap segera kugumul dan kutindih dia dengan tubuhku. Dia meronta dan akupun semakin marah. Segera kubuka celanaku dan kupelorotkan celana pendeknya sekaligus celana dalamnya. Lalu dengan kasar kusetubuhi perempuan kecintaanku itu dengan ganas. Neva berteriak kesakitan karena secara alami tubuhnya menolak. Tapi aku tidak peduli dan dengan sengaja kumasukkan dalam-dalam lava kelelakianku (selama ini aku tidak pernah memasukkan ke dalam kecuali dengan karet pengaman). Aku ingin dia hamil. Hanya itu satu-satunya cara untuk memilikinya.

"Oh..jangan..." Teriakannya semakin membulatkan niatku. Setelah semuanya selesai, baru kusadari ada buliran air mengalir dengan deras dari kedua mata indahnya. Ya... Tuhan Apa yang telah kuperbuat terhadap perempuan yang sangat kucintai dalam hidupku ini? Tanpa berkata sepatahpun dia segera meberei tubuhnya dan sambil membawa bawaannya dia pergi tanpa menoleh sedikitpun kepadaku. Siang itu di tengah guyuran hujan yang turun dengan tiba-tiba, menjadi saat terakhir aku melihatnya. Aku begitu sakit ....

Aku berusaha puluhan kali menemuinya ke rumahnya, tapi hanya pembantunya yang keluar dan bilang nonanya pergi atau seribu alasan lainnya. Nev... aku hanya minta maaf. Di hari wisudanyapun ternyata dia tidak datang. Aku semakin tenggelam dalam rasa bersalahku. Hingga suatu siang ada suara mengetuk. Nevakah? Begitu kubuka ternyata Don. Belum sempat aku bertanya sebuah pukulan mendarat di mukaku. Don hanya berkata lirih sambil melemparkan sepucuk surat, "Goblok! Kamu hampir memilikinya, tapi kamu sendiri yang merusaknya". Sambil menahan perih kubaca surat itu. Surat Neva!

"Don-ku sayang...
Maafkan aku. Saat kau baca surat ini aku sudah di Paris, kebetulan om Jon nawarin aku tinggal di sana. Jadi sekalian aku ambil sekolah film sekalian. Maafkan aku tak sempat bilang padamu tentang keputusanku ini. Don, tadinya kamu adalah satu-satunya lelaki yang ingin kuberikan seluruh hidupku. Aku menjadi sangat terluka saat kamu tidak menginginkan anak dariku. Meski kamu akhirnya mau menikah denganku.... Tetapi ternyata semuanya menjadi lain saat aku bertemu Iyok (Ah alangkah senangnya jika ada satu sosok gabungan antar dirimu dan Iyok). Aku juga menginginkan hidup bersamanya. Dan itu tidak adil bukan? Aku merasa mengkhianatimu saat bersamanya dan mengkhianatinya saat bersamamu. Saat kamu pergi ke Kalimantan aku pikir itu saat yang tepat untuk menguji perasaanku kepadamu dan kepadanya. Hidup bersamanya begitu rileks aku sungguh menikmatinya. Hampir saja kuputuskan untuk hidup bersamanya. Tapi ternyata rasa cintanya begitu 'menyesak'kan ruangku. Akupun tidak bisa hidup dengan cara itu. Don, aku harap kamu mengerti dengan pilihanku ini. Aku mencintaimu selamanya aku mencintaimu. Jika kamu sempat bertemu Iyok, tolong katakan bahwa aku hanya menyesal dia tidak bisa merasakan perasaanku kepadanya... just take care of yourself. Neva."

Aku hanya termangu. Karena itu setiap tahun aku pasti menyempatkan pergi ke hutan karet itu dengan seribu satu alasan ke istriku....

Catatan: Lima tahun yang lalu, Panca pernah melihatnya di bandara Changi. Neva bersama seorang anak perempuan usianya sekitar lima tahunan. Mereka sendirian sambil menunggu pesawat ke Paris. Aku begitu gemetar mendengarnya. Aku tidak berani memikirkan segala kemungkinan... itu anak hubungan gelapku besama neva

TAMAT

Cerita Nyata: Gairahku dengan Cewek Seksi  

2 komentar

Ini kisah nyata gua kejadian beneran I swear to God, so help me God.

Gua mau ceritain gimana pengalaman gua ngentot sama cewe karier.

Ini adalah pengalaman waktu gua baru kerja di daerah kuningan. Gua masih ingat waktu itu awal April 1997 setahun yang lalu, Jam udah nunjuk ke jam 1/2 12 siang. Gua pergi ke tempat makan siang yang rada sepi di bilangan ... buat menghindari macet Pas abis liat-liat menu ala carte makan siang gua lihat ada cewe oke punya. Tingginya sekitar 170 cm, pake sepaetu yang haknya 7 centi. Rambutnya yang lebat dicat merah, panjangnya sepinggang. Bodynya yang molek juga motul (montok betul) dan kulitnya yang putih bersih, terbalut dengan setelan warna cyan, serta bajunya yang modis pake belahan dada V nya yang menyiratkan buah dadanya yang penuh en pake rok mini. Yang tambah bikin nafsu kita aja kalo ngeliat pahanya yang mulus dan betisnya yang panjang *gulp*

Yang kebayang ama gua waktu itu Bodinya yang menggiurkan dan toketnya yang gede (toge) Bayangin coba nih cewe ukurannya 36D 24 32 Gua tegur tuh ceweq, Gua nanya ke do'i, makan sendiri aja ? Dia tersenyum maniezz banget, iya. Gua liat matanya yang keliatan ngesex banget..mengerling genit sambil senyum-senyum simpul penuh arti. Gua bales senyumnya.. Sambil mengenalkan diri ke do'i. O'iya nama do'i Katryn (nama samaran biar safe..:) hhehhehee)

Lantas kita duduk makan siang sama-sama..Do'i duduk di seberang gua, kita duduk berhadap-hadapan, dari hadapannya gua bisa ngintip ke isi belahan buah dadanya.. do'i tambah salting aja sambil tersenyum risih menyadari pandangan gua yang ngga' lepas-lepasnya dari do'i punya barang. Pembicaraan kita masih biasa-biasa aja.

Tiba-tiba gua ngerasa di betis kaki gua udah ada yang mengusap-usap lembut banget, dan terus ke atas sampe ke ruitsluiting celokan gua, pas gua liat gila.. nih kaki telanjang do'i sebelah kanan yang putih mulus udah nyebrang sampe di atas cock gua.. Kemudian pembicaraan kita beralih ke hal-hal yang menjurus-jurus dan berbau sex dan menyimpang

Ngobrol punya ngobrol, udah jam 1/2 3, gua pikir wah kalo balik ke kantor ngga' lucu dah yau!, mending sekalian aja baliknya besok.
Abis ini mau kemana ?, tanya gua..
Ngga' tau nih.. Abis lunch gua bebas sih sampe selesai cuti..
Loh napa cuti ? tanya gua..
Iya bosen seh kerja rutin terus ngga' ada variasi, katanya..
Cuti berapa hari ?
Yah 2 hari aja, besok sama lusa..
Kebetulan nih, pikir gua.
Kita check in aja yuk!,katanya
Apa seh ? kata gua belagak begok.
Udah ikut aja..sahut do'i cepet-cepet.

Dalam perjalanan dan di sela-sela lampu merah kita berdua beraksi, do'i menuntun tangan gua untuk membelai-belai CD dan bra-nya sedang do'i selalu melumat-lumat bibir dan mengulum-ngulum lidah gua.

Akhirnya kita check-in di hotel S di bilangan segitiga emas, Jakarta Pake KTP Nasional gua, setelah beres urusan checkin kita masuk deh ke kamar. Katryn bilang do'i mau mandi dulu, trus gua tahan do'i, gua bilang Ngga' usah ah!, lama nanti..! ,kata gua, sambil memeluk Katryn serapet-rapetnya gua peluk do'i erat-erat dan gua kecup serta mendaratkan ciuman-ciuman ke bibirnya yang merah basah.. Katryn juga ngga' kuasa buat menahan ciuman gua lama-lama, Katryn bales ciuman gua. Katryn pagut lidah gua dalem-dalem sementara tangannya melingkar di leher gua. lantas gua pegang toketnya yang hangat, do'i tersenyum hangat..dan menekan tubuhnya ke tubuh gua hingga buah dadanya yang tergencet nyembul keluar, Suka khan ?, katanya sambil memainkan dan melepaskan kancing-kancing bajunya, dengan tangan gemetaran gua bantu do'i untuk melepas kancingnya satu per satu, kaus dalem putihnya gua lepasin ampe tinggal bra nya yang tipe cup, gua rengkuh sekali gasak lepas ampe tuh payudaranya yang besar, mancung dan kencang menantang lepas bebas, lantas gua remes-remes tuh toge kenyal..sampe Katryn blingsatan keenakan

gua jilatin tuh puting toketnya yang warnanya pink kecoklatan dan makin lama makin mengeras, gua tinggalin cupang banyak-banyak di kiri kanan toge kenyal dan di perut dan pusar, lantas sambil cium-ciumin mengarah ke bawah gua plorotin roknya hingga tinggal cd nya yang warna merah darah, gua ciumin cd nya

gua liatin mukanya yang udah merah, sekali-sekali gua liat Katryn udah nelan air liurnya .. tanda nafsunya udah naek...

Katryn udah ngga' sabar buat ngelepas semua kemeja gua, Katryn renggut kerah gua sampe kancing-kancing kemeja gua hampir lepas semuanya.. Sambil ciuman do'i lepas underwear dan buka belt celokan gua.. gua juga buka ruitsluiting celokan gua... sampe kita berdua udah bugil...

Gua bopong do'i ke atas tempat tidur.. sambil nerusin ciuman gua dan mengulum bibir dan lidahnya yang terasa enak di mulut

Do'i dorong badan gua ke atas spring bed, kemudian do'i jilat-jilatin seluru h atas badan gua..Gua merasa kegelian dijilat-jilat dan dicium-ciumin kayak gitu.. Geli ah...!

Gua ambil inisiative, gua cumbu do'i mulai dari bibirnya yang basah, tangan gua mulai mengelus-elus ke pinggulnya, jari-jari gua mulai membelai-belai vagina do'i, pas sampe di clitnya do'i menggeliat, kejutan ini membuat gua tambah terangsang melihat nafsu berahi do'i sudah menggebu-gebu karena bibir dan liang vaginanya sudah mulai basah dan hangat waktu gua tekan-tekan jari -jari gua ke dalam liang memeknya..do'i merem melek menikmati cumbuan-cumbuan gua di bibirnya.. makin lama jari-jari gua makin cepat bergerak-gerak membelai-belai bibir dan liang vaginanya....terus do'i mengangkat-angkat pantatnya menyambut ketrampilan jari gua... do'i merintih-rintih..ahhhnnngggghh. huuuuaahhhngghh... udah-udah.. gua udah ngga' tahan.. pake kontol lu aja... cepet ngentotin gua dong, pleeeeeasssshheee... c'mo... fuck me... katanya. Kasian juga gua ngeliatnya... akhirnya gua masukin penis gua perlahan-lahan ke dalam liang vaginanya yang udah licin ...owhhh gooodd... gosshh, feeling good, hun... katanya... gua terusin penetrasi gua ke liang vaginanya...uhmmmm sempit amat nih memek, pikir gua... c'mon hun...,deeeepppeeer... deeepppeeer...., do'i mendesah sambil menahan napas..tangannya terus menjaga dan membimbing cock gua berlabuh di vaginanya... gue entotin nih ceweq en gue ngerasa ni memek becek banget seh enak gila..kalo penetrasi licin begini..gua tambah speed goyangan gua makin kenceng...do'i ngebales iramanya dengan mengiringi ngikut goyangan gua... fuck yess...owhh.. fuck me good...hun...katanya gua denger desahannya Owhhh....hhhahhhh ...nghhhahhh fuck me yess! hhhhahhhh ennnakkkkkhhh!!...mmmmhh enakkkh...

Trus Katryn bilang, mau spank ngga' ?, katanya.. Apa tuh kata gua.. Katryn bimbing gua cabut cock dari memeknya terus do'i jepit cock gua pake toketnya yang gede, trus do'i bekap toketnya diantara cock gua di sela-sela toketnya...Udah,.Goyang dong ... katanya Gua langsung ngerti maunya do'i apa langsung gua tarik dan sodok cock gua di sela-sela toketnya yang kenyal dan hangat.. pas cock mau dekat mulutnya do'i jilat-jilatin palkon gua..ih merinding gua ngerasain kenikmatan yang luar biasa..Ooooooooh!! YEA!! Do'i menggelinjang gelinjang enak

gua minta do'i sekarang yang di atas, yeah this is it, this is all i want i want to get on top of you, katanya akhirnya do'i berjongkok dan nangkring tepat di atas cock gua, perlahan-lahan do'i pegang cock gua dan do'i tembak tepat di lubang memeknya... perlahan-lahan pinggul do'i mulai bergoyang-goyang hebat...do'i putar putar pinggulnya seperti sekrup..rasane ?? ciamik nek!.. uhh ni ceweq expert banget deh..Katryn emang ahli kalo ngewe dari atas...doh! do'i terus goyang naik turun bikin enak cock gua.. lantas do'i mulai mencumbu dan mengulum bibir gua... wah rasanya enak banget... sampe gua rasanya udah mau keluar.. trus gua tahan aja sedikit .terus gua jambak rambutnya yang panjang dan gua tarik sampe bisa gua remes tuh toketnya yang gede.. geli juga waktu rambutnya yang panjang kena tangan gua.. lantas gua singkap rambutnya ke samping dan belakang sambil membelai-belai rambutnya ke belakang.. lantas do'i mainin sendiri nipplenya, do'i tarik-tarik kayak catapult, sedang gua mengelus-elus punggung dan pantat do'i yang halus... di sela-sela rambutnya yang terurai berantakan..dan peluhnya yang segede-gede jagung ..do'i goyang terus..

trus do'i bilang capek ah di atas, Katryn cabut memeknya dari cock gua yang nancep tegak lurus, kemudian pelan-pelan Katryn elus elus cock gua yang udah mulai menegang terus Katryn kocok pelan-pelan kontol gua pake tangannya yang putih montok terus Katryn kocok-kocokin sampe kontol gua udah berdiri tegak, sebentar-sebentar Katryn genggam, sebentar lagi Katryn cium-ciumin cock gua ngga' lama kemudian Katryn mulai mengulum-ngulum batang cock gua, ehmm... enak emang kalo ngentotin mukanya yang cantik.. tapi rambutnya yang panjang menjuntai-juntai terurai bebas kena cock gua bikin gua tambah terangsang dan kegelian.. do'i ludahin cock gua i love your cock... mmm, let me lick your balls... lantas do'i mulai ngulum-ngulum biji-biji balon dibawah batang cock gua, trus do'i gigit-gigit kecil.. ni gigitan kecil-kecil yang bikin gua meringis kenikmatan campur kesakitan yang bikin gua takluk sama do'i.

Trus Katryn ganti posisi doggy style, nungguin cock gua masuk ke memeknya, akhirnya pelan-pelan do'i bimbing cock gua masuk ke vaginanya... gua dorong cock gua maju mundur slide in her cunt..stroke....stroke...stroke ... please don't stop katanya.. gua goyang terus goyang keenakan sambil terus gua elus-elus pantatnya, wah ni pantat bulet banget, gua suka ngeliat nih pantat menari-nari indah, merasa keenakan pake cock gua, di depan mata gua..gua liat ada lubang lagi di atas memek yang gua sodok..gua selipin aja jari-jari gua di tuh lubang ..gua liat do'i diemin aja..do'i merintih kenikmatan ...do'i terus mendorong-dorong pantatnya ke belakang dan naik turun bikin gua merasa mau keluar lagi... buru buru gua cabut kontol gua dari lubang memeknya

do'i kaget..sebelum do'i ngomong apa-apa gua cumbu dan kulum bibirnya..hingga do'i yang merasa clit Katryn yang udah mulai horny lagi do'i masih minta di terusin doggy style-nya karena belum tuntas..tas..tas Katryn mendesah-desah kenceng banget... gua bilang ganti posisi yah.. ? akhirnya kita sepakat lewat anal, gua mengambil inisiatif pindahin cock gua to her ass hole. pelan-pelan gua masukin, cock gua to her ass sambil gua remes-remes pantatnya yang bulet en sekal..gua liat do'i memejamkan mata ngerasa'in kontol gua di lubang ass nya... do'i udah ngga' sabar mulai menggerak-gerakin pinggulnya ke arah cock gua... gua sodok lubang ass makin lama makin kencang goyangan dan sodokan gua, gua goyangin pinggul gua ke kiri en kanan do'i juga berbuat yang sama mengikuti irama persis seperti gua..gua remes-remes lagi buah dadanya yang kenyal.. do'i menjerit fuck you!...wah do'i napa nih ??..gua cubitin putingnya keras-keras...oooowhhh...fuckkk yessss!! fuck me harder hun... don't stop..., katanya. gua pikir gua ngga' mau lama-lama ngewe di ass kerna bisa-bisa gua ketagihan.. gua cabut cock gua lagi en pindah ke memek do'i dan ngelanjutin doggy style gua goyang makin lama makin kenceng, do'i juga bales nambah kenceng... do'i minta goyang yang keras dan kasar sampe do'i ngerasa kesakitan..gua turutin apa maunya do'i. makin lama goyangan kita makin kencang

i'm gonna cumm... gua berbisik bilangin ke Katryn.. tiba-tiba do'i berenti trus cabut memeknya dari cock gua, sampe gua kaget...

relax hun..., i wanna swallow your cumm gua terkejut ngedengernya... gila nih ceweq.. maniak sex kali ya ?? Lu ngga' takut kena penyakit apa gitu..?, tanya gua. Katryn bilang biar awet muda dan supaya kulitnya jadi halus katanya... Gua sih percaya-ngga-percaya aja.. mungkin cuman alesan do'i buat nelen peju aja.. pikir gua Dasar ! kebanyakan makan sperma, nyaho nanti lu ?, gua ingetin ke do'i. Biar aja.., lu suka ngeliatnya khan ? Do'i balik nanya Iya juga seh, sahut gua Udah diem lu!, katanya sambil ngelanjutin nafsunya buat nyepong kontol gua yang masih tegak dan pengen keluar.. Gua bantu do'i dengan menekan-nekan kepalanya.. Gua liat do'i dengan tekun menambah nafsu gua sampe ke ubun-ubun.. gua liat palanya yang naik turun dengan indah mengisap isap cock gua yang udah ampir meledak-ledak... dengan bibirnya yang makin cantik kalo lagi ngembang kempis...do'i isap-isap sambil sekali-sekali menjilat-jilat pinggir batang kontol gua pake lidahnya yang liar dan ganas.. Ini emang pemandangan indah yang engga' bisa dilupain koq.. Gua belai-belai aja rambut do'i, sementara do'i lagi sibuk menekuni cock gua

Tiba-tiba cock gua tambah menegang dan ....crottt...crott... peju gua muncrat di dalem mulutnya...terasa peju gua mengalir di dalam mulutnya.. pasti bener deh ada yang Katryn telen trus Katryn buka mulutnya sambil nungguin sperma-sperma gua mendarat di ujung lidahnya... *ughh* setelah selesai ngecret trus Katryn jilat-jilatin palkon gua sampe bersih banget hingga tinggal sisa-sisa cairan ludahnya do'i aja yang nempel.. mukanya yang udah memerah dan ngesex banget bikin gua tambah nafsu lagi ama Katryn, gua sodok sodok aja kontol gua ke mukanya lagi, gua dorong-dorong aja palanya terasa dengusan napasnya yang terengah-engah yang hinggap di batang kontol gua

Abis itu Katryn minta gantian supaya diisap clitnya ama gua, maxudnya jadi posisi 69, mulai dah gua jilat-jilatin clitnya pake ujung lidah gua .... nggak kebayang deh rasanya.., trus gua cium-ciumin memeknya, emang ada baunya yang khas... mmmhmmh *make me feels good* gua mulai makan deh tuh memek gua gigit-gigit kecil Katryn keliyatn mulai sempoyongan dan mulai ngejerit-jerit keenakan ....huuuuaaaahhhh!!!!!..... jeritannya yang keras bikin gua tambah nafsu en then gua percepat gerakan lidah gua yang menjilat-jilat clitnya, semua clitnya yang udah basah membanjiri memeknya habis gua jilat .....enngggghhh..hhnggg...haaaaannggggghhh!!...

trus Katryn stop minta cock gua dimasukin lagi ke memeknya, gua sih nurut aja, padahal cock gua udah mo relax. dengan susah payah kita berdua berusaha masukin cock gua ke memek do'i..Setelah berhasil, do'i coba goyang-goyangin pinggulnya dikit.. tapi akhirnya gua diemin aja..do'i kerja keras sendirian..ampe do'i lemes sendiri.. tapi do'i ngga' cabut memeknya dari kontol gua.. gua juga gitu.. abis rasanya *enak* seh.. Jelas kita sepakat mempertahankan status quo kayak gini kontol gua di memek do'i, memek do'i di kontol gua.. Win-Win deh! Ngga' lama kemudian badan ama kontol gua udah lemes, tapi do'i masih nafsu aja ama gua, akhirnya gua minta istirahat sambil cium-ciuman ama do'i. Do'i kulum bibir gua lama-lama, trus gua juga ngebales sambil mainin lidah kita berdua, nih bener-bener asik deh..

6 menit kemudian cock gua mulai menegang lagi, do'i teriak kegirangan.. hhhaaahh, do'i minta spank lagi, doggy-style trus gua tindih badannya gua di atas do'i di bawah..Gerakan dan goyangan kita makin lama makin kencang kencang Ngga' lama kemudian gua mulai terasa mau keluar lagi, I wanna cum again darling.. Again ?? tanyanya sambil mengerling genit ke gua, trus Katryn bilang ke gua Hun, please do me a favor... Wat ??, gua nanya ke do'i Bathing my tits with your cum.. Wateva.. gua sautin. Gua pikir, "Your wish is my command..." Katryn stop lagi, trus Katryn isep dan melahap habis dah kontol gua Sambil Katryn kocok-kocokin cock gua.. Gua bilang ke do'i, "Stop, I'm cumming...', gua cabut kontol gua dari mulutnya yang rakus.. Gua kocokin kontol gua..sampe mo keluar.. Gua keluarin dah peju gua di atas breastnya yang bulat dan montok banget-banget... Tuh peju muncrat dan mendarat di mukanya, ngebasahin semua mukanya, leher, rambut, dada, dan nipplenya.. Wow, banyak banget..., katanya trus Katryn gosok-gosokin peju-pejunya pake tangan ke seluruh badan.. trus do'i jilat-jilatin tuh tangan.. sambil senyum senyum kesenengan..dengan muka kemerah-merahan

I love your stiff cocks!, katanya Gua rasa Katryn ngalamin multiple orgasm sama gua

Katryn bilang Katryn suka gua, terus Katryn lebih suka manggil nama gua Steve (bacanya sih Stiff) !

This story is original and copyrighted (c) 1998, by dicklucca@hotmail.com

Bagi yang tertarik pengalamanku or ingin share pengalaman dan memiliki kegiatan/minat yang sama silakan disalurkan / kontak dengan gua bisa langsung lewatdicklucca@hotmail.com

TAMAT