2 April 2008

Terbuai Kenikmatan  

1 komentar

Aku seorang wanita walau belum pernah menikah tapi sempat
berhubungan intim dengan seorang pria kekasihku beberapa tahun
yang lalu. Hubungan kami terpaksa berhenti setahun yang lalu
ketika orang tuanya yang kaya raya tidak menyetujui hubungan
kami tersebut. Terakhir ku dengan mantan kekasihku itu telah
menikah dan pindah kekota lain yang tidak ingin kuketahui
persisnya dimana.

Saat ini umurku 28 tahun dan bekerja sebagai salah satu
karyawan di perusahaan swasta asing sebagai salah satu staf
public relation. Gaji yang kuterima cukup lumayan untuk
tamatan sarjana publikasi, kemampuanku untuk berkomunikasi
dengan baik dan ramah terhadap siapa saja membuat aku
dipercaya untuk menghadapi persoalan-persoalan pelik, dan
menerima tamu-tamu penting.

Suatu hari aku dipanggil oleh big bossku, dia mengeluh karena
ada inspektor dari kantor pusat di Australia yang datang dan
nampaknya boss kewalahan menghadapi pertanyaan-pertanyaannya.
Aku ditugasi untuk menemani tamu tersebut selama di Jakarta.

Terus terang hatiku agak bergetar ketika pertama kali bertemu
dengan Steve. Terus terang dia mempunyai sex appeal yang luar
biasa, matanya tajam, mukanya bersih dan bicaranya jernih
ditambah pakaiannya yang selalu rapih dan bermerk, termasuk
wewangian yang digunakan. Mula-mula aku nervous juga di
buatnya, tetapi setelah lama-lama hubungan kami makin relaks.
Aku berusaha untuk menyembunyikan ketertarikanku padanya,
tetapi dia nampak malah sengaja menggodaku. Mula-mula dia ajak
aku makan beberpa kali sampai aku rileks. Terus satu hari dia
ajakain aku ke cafe, nemenin dia minum, aku habis dua gelas
wine kali padahal aku nggak pernah minum. Aku rasanya nggak
mabuk tapi badan aku rada hangat dan rileks. trs dia ngajakin
nonton, aku mau aja karena nggak terlalu malam. Karena yang
nonton sepi, dia bebas rangkul-rangkul aku. Anehnya aku diem
aja, rasanya nyaman dipelukin dia. Ngeliat aku diem aja dia
makin berani, mukanya mulai di deketin ke aku tapi aku nolak
kalo dia mau cium bibir aku. Tapi tambah parah karena yang dia
cium kuping dan leher aku lama-lama lagi. Padahal itu termasuk
daerah sensitif. Kelihatannya dia tau aku mulai ser... ser
an... tangannya mulai turun ke dada aku dari bahu. Tangannya
lihai banget meskipun dari luar putaran-putaran jarinya mampu
membuat aku sesak karena buah dadaku mengeras.Tangannya terus
aku pegang, tapi yang satu ketahan yang lain aktif, dia
berhasil buka kancing-kancing bajuku bagian atas, tangannya
muter-muter diatas BHku yang tipis, malu juga rasanya kalau
dia tahu pentilku keras banget. Bibirnya yang bermain
dileherku, mulai turun ke bahu, dan.... wah gawat ternyata dia
sudah menurunkan tali beha dan bajuku sampai ke pinggang,
bibirnya bermain dia atas behaku, dan sekali rengut buah dada
kiriku terekspos pada bibirnya.......

Begitu buah dada aku terekspos dia nggak langsung caplok tapi
pentil aku yang keras disengol-sengol dulu sama hidungnya.
Napasnya yang hangat aja sudah berhasil membuat putingku makin
keras. Terus dia ciumin pelan pelan buah dadaku yang 34 C itu
mula-mula bagian bawah terus melingkar sehingga hampir semua
bagian buah dadaku dicium lembut olehnya. Belum puas menggoda
aku lidahnya kemudian mulai menari-nari di atas buah dadaku.
Aku tak tertahan mulai mendesah. Akhirnya apa yang akau
khawatirkan terjadi lidahnya mulai menyapu sekitar puting dan
akhirnya..... akh....... putingku tersapu lidahnya... perlahan
mula mula, makin lama makin sering dan akhirnya putingku
dikulumnya. Ketika akau merasa nikmat dia melepaskannya.....
dan kemudian mulai mengecup dari bagian tepi lagi... perlahan
mendaki ke atas dan kembali ditangkapnya putingku. Kali ini
putingku digigit perlahan sementara lidahnya berputar putar
menyapu puting itu. Sensasi yang ditimbulkan luar biasa, semua
keinginanku yang kupendam selama ini serasa terpancing keluar
dan berontak untuk segera dipuasi.

Melihat aku mendesah di tambah berani. Selain menggigit-gigit
kecil putingku sembari lidahnya menyapu-nyapu, tangannya mulai
bermain di lututku. Terus terang aja selama menjanda aku belum
pernah ML lagi. Perasaan yang kupendam selama ini kelihatannya
mulai bergolak. Itu membuatku membiarkan tangannya
menggerayangi lutut dan pahaku. Dia tahu tubuhku merinding
menahan nikmat, karena kulitku mulai seperti strawbery
titik-titik. Dengan lihai tangannya mulai mendaki dan kini
berada diselangkanganku. Dengan lembut dia mengusap-usap
pangkal pahaku dipinggiran CDku. Hal ini menimbulkan sensasi
dan nikmat yang luar biasa. Aku tak dapat duduk tenang lagi,
sebentar bentar menggelinjang. Aku sudah tak dapat lagi
menyembunyikan kenikmatan yang kualami. Hal ini dia ketahui
dengan lembabnya CDku. Jarinya yang besar itu akhirnya tak
mampu kutahan ketika dia memaksa menyelinap dibalik CDku dan
langsung menemukan clitku. dengan gemulai di amemainkan
jarinya sehingga aku terpaksa menutup bibirku agar lenguhan
yang keluar tak terdengar oleh penonton lain. Jarinya lembut
menyentuh clitku dan gerakannya memutar membuat tubuhkupun
serasa berputar-putar. Akhirnya pertahananku jebol, cairan
kental mulai mengalir keluar di vaginaku. dan dia tahu persis
sehingga dia mengintensifkan serangannya. Akhirnya puncak itu
datang, kepeluk kepalanya dengan erat dan kuhujamkan bibirku
ke bibirnya dan tubuhku bergetar. Dia dengan sabar tetap
mengelus clitku membuatku bergetar-getar seolah tak berhenti.
Lubang vaginaku yang basah dimanfaatkan denga baik olehnya.
Sementara jari jempolnya tetap memainkan clitku, jari
tengahnya mengorek-ngorek lubangku mensimulasi apa yang dapat
dilakukan laki-laki terhadap wanita. Aku menggap-menggap
dibuatnya.

Entah berapa lama dia membuatku seperti itu dan sudah beberapa
kali aku mengalami orgasme, tapi tidak ada tanda-tanda
bagaimana dia akan mengakhiri permainan ini. Akhirnya aku yang
memulai... gila... entah apa yang mendorongku, tanganku tau
tahu meraba-raba selangkangannya..... disana jemariku
menemukan gundukan yang mulai mengeras. Begitu tersapu oleh
belaianku, gundukan itu berubah menjadi batang hangat yang
mengeras. Entah mengapa aku jadi senang menggodanya, jariku
terus membelai turun naik sepanjang batang tersebut yang
menurutku agar luar biasa ukurannya. Secara perlahan batang
tersebut bertambah panjang dan besar menimbulkan
getaran-getaran yang membuatku kembali mencapai orgasme.
Ketika orgasme tanganku secara tak sengaja meremas-remas
bola-bolanya sehingga dia pun terangsang. Sambil mengecup daun
telingaku Steve berbisik... shall we... go... Aku tak tau
harus bagaimana dan menurutinya saja ketika dia menarik
tanganku bangkit dari tempat duduk dan berjalan mengikutinya
keluar bioskop melewati mall dan akirnya sampai di lobi sebuah
hotel yang menyatu dengan bioskop dan mall tersebut. Langkahku
agak tersendat ketika melewati lobi, tetapi jari tanganku
tergengam erat padanya dan dia dengan sangat pasti
menggiringku kerah lift yang mengantarkan kami ke kamar yang
ternyata telah dipersiapkan sebelumnya olehnya. Di dalam lift
Steve sempat mencium bibirku dengan lembut seperti mencium
kekasihnya ini membuat tubuhku bertambah lunglai. Aku tertegun
berdiri di depan kamar yang telah dibuka pintunya oleh Steve,
dan dia dengan sopan mempersilahkan aku masuk. Beberapa saat
aku berdiam di depan pintu bimbang. Melihat kebimbanganku
Steve tidak memberi kesempatan dianggkatnya tubuhku dengan
kedua tangannya yang kekar dan dibopongnya kau masuk. Dengan
cekatan dia menutup dan mengunci pintu. Aku sempat berontak
tetapi kembali bibirnya melumat bibirku cukup lama dan dalam
sehingga kenikmatan tak tuntas di bioskop tadi kembali muncul.

Sambil membopong aku Steve terus melumat bibirku dan perlahan
namun pasti dia berjalan ke rah tempat tidur ukuran king size
yang ada dalam ruang suite tersebut. Aku agak gelisah melihat
situasi ini. Steve menyadari hal itu dan tanpa melepaskan
ciumannya dia menurunkan tubuhku dengan perlahan tepat
dipinggir ranjang. Kami berhadapan berpandangan sejenak, dia
tersenyum dan kembali bibirnya mengecup ngecup bibir bawah dan
atasku bergantian dan berusaha membangkitkan gairahku kembali.
Aku berdesah kecil ketika tangannya memeluk pinggangku dan
menarik tubuhku merapat ketubuhnya. Bibirnya perlahan mengecup
bibirku, lidahnya merambat diantara dua bibirku yang tanpa
sadar merekah menyambutnya. Lidah itu begitu lihai bermain
diantara kedua bibirku mengorek-ngorek lidahku untuk keluar.
Sapuan lidahnya menimbulkan sensasi-sensasi nikmat yang belum
pernah kurasakan, sehingga perlahan lidahku dengan malu-malu
mengikuti gerakan lidahnya mencari dan mengikuti kemana
lidahnya pergi. Dan ketika lidahku menjulur memasuki mulutnya
dengan sigap dia mengulumnya dengan lembut, dan menjepit
lidahku diantara lidah dan langit-langit. Tubuhku menggeliat
menahan nikmat yang timbul. Aku merasa melayang tak berpijak,
pengaruh minuman juga menambah aku kehilangan kontrol. Pada
saat itulah aku merasa Steve membuka kancing-kancing gaun
malamku yang terletak dipunggung. Tubuhku sedikit menggigil
ketika, angin dingin dari mesin AC menerpa tubuhku yang
perlahan-lahan terbuka ketika Steve berhasil melorotkan gaun
malamku kelantai. Aku membuka mataku perlahan-lahan dan
kulihat Steve sedang menatap tubuhku dengan tajam. Dia nampak
tertegun melihat tubuh mulusku yang hanya terbungkus pakaian
dalam yang ketat. Sorotoan matanya yang tajam menyapu
bagian-bagian tubuhku secara perlahan. Pandangannya agak lama
berhenti pada bagian dadaku yang membusung. BH ku yang
berukuran 34 D memang hampir tak sanggup menampung bongkahan
dadaku, sehingga menampilkan pemandangan yang mengundang
syahwat lelaki. Tatapan matanya cukup membuat tubuhku hangat,
dan dalam hati kecilku ada perasaan senang dan bangga
dipandangi lelaki dengan tatapan penuh kekaguman. Aku terseret
maju ketika lengan Steve kembali merangkul pinggangku yang
ramping dan menariknya merapat ketubuhnya. Tanganku terkulai
lemas ketika sambil memelukku Steve mengecup bagian-bagian
leherku sambil tak henti-hentinya membisikan pujian-pujian
akan kecantikan bagian-bagian tubuhku.

Akhirnya kecupannya sampai di daerah telingaku dan lidahnya
secara lembut menyapu bagian belakang telingaku. Aku
menggelinjang, tubuhku bergetar sedikit dan rintihan kecil
lepas dari kedua bibirku. Steve telah menyerang salah satu
daerah sensitifku, dan dia tau itu sehingga hal itu
dilakukannya berkali-kali. Dengan sangat mempesona Steve
berbisik bahwa dia ingin menghabiskan malam ini dengan
bercinta denganku, dan di amemohon agar aku tak menolaknya,
kemudia bibirnya kembali menyapu bagian belakang telingaku
hingga pangkal leherku. Aku tak sanggup menjawab, tubuhku
terasa ringan, tanpa sadar tanganku kulingkarkan di lehernya.
Rupanya bahasa tubuhku telah cukup dimengerti oleh Steve
sehingga dia menjadi lebih berani. Tangannya kini telah
membuka kaitan BHku, dan dalam sekejap BH itu sudah tergeletak
di lantai.
Tubuhku terasa melayang, ternyata Steve telah mengangkat
tubuhku, dibopongnya ke tempat tidur dan dibaringkan secara
perlahan. Kemudian Steve menjauhi ku dan dengan perlahan mulai
melepaskan pakaiannya secara perlahan. Anehnya aku menikmati
pemandangan buka pakaian ini. Tubuh Steve yang kekar dan
sedikit berotot tanpa lemak ini menimbulkan gairah tersendiri.
Dengan hanya mengenakan celana dalam kemudian Steve duduk di
ujung ranjang. Aku berusaha menduga-duga apa yang akan
dilakukannya. Kemudian dia membungkuk dan mulai menciumi
ujunung-ujung jari kakiku. Aku menjerit kegelian dan berusaha
mencegah, namun Steve memohon agar dia dapat melakukannya
dengan bebas. Karena penasaran dengan sensasi yang
ditimbulkan. akhirnya aku biarkan dia menciumi, menjilat dan
mengulum jari-jari kakiku. Aku merasa, geli, tersanjung dan
sekaligus terpancing untuk terus melanjutkan kenikmatan ini.
Bibirnya kini tengah sibuk di betisku yang menurutnya sangat
indah itu. Mataku terbelalak ketika kurasakan perlahan tapi
pastibibirnya makin bergerak keatas menyusuri paha bagian
dalam ku. Rasa geli dannikmat yang ditimbulkan membuat aku
lupa diri dan tanpa sadar secara perlahan pahaku terbuka.
Steve dengan mudah memposisikan tubuhnya diantara kedua
pahaku. Pertahananku benar-benar runtuh ketika Steve
menyapu-nyapukan lidahnya dipangkal-pangkal pahaku. Aku
berteriak tertahan ketika Steve mendaratkan bibirnya diatas
gundukan vaginaku yang masih terbungkus celana dalam.

Tanpa memperdulikan adanya celana dalam Steve terus melumat
gundungkan tersebut dengan bibirnya seperti dia sedang
menciumkum. Aku berkali-kali menjerit nikmat, dan persaan yang
telah lama hilang kini muncul kembali getaran-getaran orgasme
mulai bergulung-gulung, tanganku meremas-remas apa saja yang
ditemuinya, sprei, bantal dan bahkan rambut Steve, tubuhku tak
bisa diam bergetar, menggeliat, dan gelisah, mulutku mendesis
tak sengaja, pinggulku meliuk-liuk erotis secara reflek dan
beberapa kali terangkat mengikuti gerakan kepala Steve. Untuk
kesekian kalinya pinggulku terangkat cukup tinggi dan pada
saat itu Steve tidak menyianyiakan kesempatan untuk menarik
celana dalamku lepas. Aku agak tersentak, tetapi puncak
orgasme yang semakin dekat membuat aku tak sempat berpikir
atau bertindak apapun. Bukit vaginaku yang sudah lama tak
tersentuh lelaki terpampang di depan mata Steve. Dengan
perlahan lidah Steve menyentuh belahannya, aku menjerit tak
tertahan dan ketika lidah itu bergerak turun naik di belahan
vaginaku, puncak orgasme tak tertahankan. Tanganku memegang
dan meremas ramput Steve, tubuhku bergerta-getar dan
melonjak-lonjak. Steve tetap bertahan pada posisinya, sehingga
lidahnya tetap bisa menggelitik klitorisku, ketika puncak itu
datang. Aku merasa-dinding-dinding vaginaku mulai lembab, dan
kontraksi-kontraksi khas pada lorong mulai terasa. Itulah
salah satu kelebihanku lorong vaginaku secara refleks akan
membuat gerakan-gerakan kontraksi, yang bisa membuat lelaki
tak bisa bertahan lama. Steve nampaknya dapat melihat
kontraksi-kontraksi itu, sehingga membuat bertambah nafsu.
Kini lidah nya semakin ganas dan liar menyapu habis daerah
selangkanganku, bibirnya ikut mengecup dan bahkan bagian
cairanku yang mulai mengalir disedot habis olehnya. Nafasnya
mulai memburu. Aku tak lagi bisa menghitung berapa kali aku
mencapai puncak orgasme. Steve kemudian bangkit, dengan posisi
setengah duduk dia melepaskan celana dalamnya, beberapa saat
kemudian aku merasa batang hangat yang sangat besar mulai
menyentuh, nyentuh selangkanganku yang basah. Steve membuka
kakiku lebih lebar, dan mengarahkan kepala kemaluannya ke
bibir vaginaku.

Meskipun tidak terlihat olehku, aku bisa merasakan betapa
keras dan besarnya milik Steve itu. Dia mempermainkan kepala
penisnya di bibir kemaluanku di gerakan keatas ke bawah dengan
lembut, untuk membasahinya. Tubuhku seperti tak sabar menanti
tindakan yang selanjutnya. Kemudian gerakan itu berhenti. Dan
akau merasa sesuatu yang hangat mulai mencoba menerobos lubang
kemaluanku yang sempit. Tetapi karena liang itu sudah cukup
basah, kepala penis itu perlahan tapi pasti terbenam, makin
lama-makin dalam. Aku merintih panjang ketika Steve
membenamkan seluruh batang kemaluannya. Aku merasa sesak,
tetapi sekaligus nikmat luar biasa, seakan seluruh daerah
sensistif dalam liang itu tersentuh. Batang kemaluan yang
keras dan padat itu disambut oleh kehangatan dinding vaginaku
yang telah lama tidak tersentuh. Cairan-cairan pelumas
mengalir dari dinding-dindingnya dan gerakan kontraksi mulai
berdenyut, membuat Steve membiarkan kemaluannya terbenam agak
lama merasakan kenikmatan denyutan vaginaku. Kemudian Steve
mulai menariknya keluar perlahan-lahan dan mendorongnya lagi,
makin lama makin cepat. Sodokan-sodokan yang demikian kuat dan
buas membuat gelombang orgasme kembali membumbung, dinding
vaginaku kembali berdenyut, kombinasi gerakan ini dengan
gerakan maju mundur membuat batang kemaluan Steve seolah-olah
diurut, kenikmatan tak bisa disembunyikan oleh Steve,
gerakannya semakin liar, mukanya menegang, dan keringat
menetes dari dahinya. Melihat hal ini, timbul keinginanku
untuk membuatnya mencapai nikmat. Pinggulku kuangkat sedikit
dan kemudian membuat gerakan memutar manakala Steve melakukan
gerak menusuk. Steve nampaknya belum terbiasa dengan gerakan
dangdut ini, mimik mukanya bertambah lucu menahan nikmat,
batang kemaluannya bertambah besar dan keras, ayunan
pinggulnya bertambah cepat tetapi tetap lembut.

Akhirnya pertahanannya bobol, kemaluannya menghujam keras
dalam vaginaku, tubuhnya ambruk menindihku, tubuhnya bergetar
dan mengejang ketika spermanya mencemprot keluar dalam
vaginaku berkali-kali. Akupun melenguh panjang ketika untuk
kesekian kalinya puncak orgasmeku tercapai. Sesaat dia
membiarkan batangnya di dalamku hingga nafasnya kembali
teratur. Tubuhku sendiri lemas luar biasa, namun harus kuakui
kenikmatan yang kuperoleh sangat luar biasa dan belum pernah
kurasakan sebelumnya. Kami kemudian terlelap kecapean setelah
mereguk nikmat.


TAMAT
Pengirim: resender (resender@yahoo.com)

Tanteku Menjebakku dalam Birahi  

4 komentar

Umur saya waktu itu sekitar 21 tahun
kuliah di semester 7. Ceritanya begini, sewaktu kuliah dulu di Jakarta saya tinggal di rumah Om Franky dan instrinya atau tanteku bernama Mita. Sedikit saya memperkenalkan diri nama saya Ivano atau sering dipanggil Ivan, Kelahiran Batak cina, tentu Om Franky aslinya orang cina dan istrinya Orang Sunda Garut asli. Tinggi badanku 177 cm kulit putih bersih. Ceritanya begini, Waktu itu Om Franky bepergian ke Singapura selama 2 minggu, dan kejadian ini terjadi setelah 4 hari keberangkatan om Franky. Bisa dibilang saya sangat disayang di rumah Om Franky dan bahkan sudah dianggap seperti anaknya sendiri dan tak heran karena Om Franky belum punya anak sudah 20 tahun menikah dengan tante Mita, ngak tahu siapa yang salah katanya sih yang
salah Om franky tapi tak tahulah. Saya juga berusaha sebaik mungkin di rumah dan tidak berbuat macam-macam bukan seperti orang yang kuliah sering keluyuran dan ngak pernah betah dirumah.

Karena saya punya keinginan harus selesai saya kuliah tepat waktu dengan prestasi yang memuaskan, sudah 6 semester saya selesaikan kuliahku dan Kumulatif nilaiku rata-rata 3.85 ini merupakan prestasi yang sangat Kumlaut kalau istilah di perkuliahan. Maka saya sangat disayang di sisi keluargaku. Tapi apa boleh buat kejadian ini
terjadi diluar kemampuanku. Waktu itu saya baru pulang kuliah sekitar jam 9 malam, sewaktu saya masuk rumah kelihatan rumah sepi sekali Hallo.. saya mencari orang di rumah dan tidak ada suara yang menyahut satupun. Saya pergi kekamarku dan meletakkan bukuku dan segera bergegas mandi dan selesai mandi saya mau makan malam dan menuju kedapur untuk ambil makanan malam. Selesai makan sambil duduk-duduk menonton TV, mungkin karena volume Televisi agak kencang membuat tante Mita terbangun dari tidurnya dan keluar hanya mengenakan daster tipis terbuat dari sutra, saya kaget melihat tanteku, eh...tante terbangun TVnya terlalu kencang ya.. sorry tante tergangu. Tan... Bok dimana kok ngak kelihatan dari tadi. Oh mbak pulang sama suaminya supir pribadi om Frengky, katanya orang tuanya sakit keras. Oh.... tante suaranya agak berat kelihatan apa tante sakit.... tanya saya, Iya nih....dari tadi
sore mungkin karena kena hujan gerimis tadi waktu tante pulang belanja dari Goro.

Tante ikutan duduk di ruang tamu dan sambil nonton TV. Sekitar 5 menit kami berdiam dan menikmati acara di Televisi, tiba-tiba tante ngomong, Ivan ngak kuliah besok kan besok hari minggu tan, oh sampe lupa hari-hari, kepala Tante agak berat nih bisa ngak Ivan mijitin kepala tante, Oh..,.Bisa tan..dengan cepat saya berdiri dan tante Mita membelakangi saya dan tepat tante menghadap ke Televisi dan saya berada di belakangnya, pelan-pelan saya pijitin kepala tante Mita ada sekitar 10 menitan saya memijitin kepalanya. Tante udah agak ringan sedikit kepalanya sekarang kaki tante yang pegal habis tadi keliling-keliling di Goro memang Goro luas dan kalau mau belanja sendiri pasti pegal. Saya berdiri dan tante Mita merebahkan tubuhnya di
sofa, waktu dia merebahkan badannya tersikap dasternya ke atas dan terlihat jelas paha yang mulus dan ditumbuhi bulu-bulu halus, ser.... jantungku berdegup sedikit melihat pemandangan itu tante.....tadi belanjanya apa, itu biasa belanja bulanan Van, oh.... sambil saya meneruskan pijitan saya. Tante mita agak memiring sedikit menghadap saya dan dasternya makin tersikap keatas dan tante Mita tidak berusaha untuk membereskan dasternya sedikitpun ya saya tentunya sangat kaget melihat keselangkangan tanteku rupanya tidak mengenakan CD (celana dalam) ya ampun kenapa ini tanteku dalam hati, dengan sedikit memiijitin dengkulnya dengan maksud supaya lebih dekat ke pahanya dan ingin rasanya untuk menjamah gunung surganya tanteku, entah apa yang menggerakkan keinginanku, ternyata suara setan menang kali ini, dia mungkin tertawa kegirangan karena menang.

Peduli setan pikirku biar tanteku saya, pokoknya saya mau meniduri tante Mita malam ini. Dengan sedikit berhati-hati saya memijitin pahanya dan saya perhatikan nafasnya agak tersenggal-senggal ya ampun tante Mita rupanya mengetahui apa yang saya perbuat tapi tidak ada sedikitpun keberatan atas perlakuanku. Kuteruskan kegiatanku sedikit demi sedikit saya menjulurkan tanganku keatas dan makin keatas tiba-tiba tersentuh pinggiran Memeknya, sedikit agak gugup saya dan menarik kembali tangan saya.

Ser....Ser...darah muda ku muali memanas dan sekali lagi saya coba menyentuh bibir memknya, ah....ah.....suara tante Mita mendesah saya diamkan tanganku tepat diatas memknya, tiba-tiba tangan tante menahan tangnku di Kemaluannya, sayapun semakin berani menjamahnya tampa tunggu komando lagi saya menaikkan tanganku lagi dan mengelus-ngelus bukitnya, terus Van terus..... saya mendekatkan wajahku kewajahnya dan menempelkan bibirku agak kaku dan bernafsu mengulum bibirnya dan dia membalas mengulum bibirku. Tante kamu cantik sekali.... ah kamu bercanda umur tantekan udah 38
tahun mana cantik lagi, saya bangkit dan saya langsung menindinya dengan cepat saya hanya menggunakan celana pendek tanpa celana dalam memang kebiasaanku kalau dirumah. Dengan cepat saya sikapkan dasternya sampai keperut dan saya langsung tindih dia dan mengarahkan batang jakarku kebibir memeknya yang mulai basah, sedikit aku terburu-buru maklum belum berpengalaman soal seks, terasa jakarku mendapat jalan masuk dan sekali tekan masuk sudah setengah dan saya dorong lagi dan amblas semua jakarku Blest...... kugoyang dengan semangat kuayunkan dengan ganas dan tergesa-gesa dengan nafas memburu, ah.....ah....ugh.....suara Mita Ivan.....aku mau ke....ll..uar tunggu tante aku juga....tiba-tiba.....Crut...crut.. ada kali 8 kali maniku muncrat di dalam memeknya tante Mita. dan tidak lama juga tante mita menegang juga terasa air hangat menyembur batang jakarku, Van kamu hebat tidak seperti Ommu tidak punya daya. Terasa jakarku mengecil saya cabut. kita pindah kekamarnya tante Mita dan kita melakikannya lagi dengan pemanasan dulu. ada sekitar 4 kali kami melakukan sampai saya baru terbangun jam 10 pagi dan saya tidur telanjang bulat dengan tante Mita satu selimut karena kamarnya ber AC dan sangat dingin.

Waktu terbangun ternyata kontolku masih di dalam memeknya dan terangsang lagi saya muali lagi mengenjotnya sampai keluar ada kali 15 menitan saya mengenjotnya. sehabis itu saya mandi dan tante Mita juga kita mandi bareng dan seperti orang lagi halimun. Selama 9 hari kita melakukannya dan paling sedikit 2 kali dalam 1 malam. Selang 2
bulan tanteku muntah-muntah eh tenyata tanteku periksa ke dokter kandungan positif Tante Mita hamil. Om saya tidak merasa curiga sedikit pun. Lahirlah anaknya laki-laki dan sekarang udah umur 5 tahun. Dan hal ini kami rahasiakan sampai sekarang. sekian dulu kalau ada kekurangan saya minta saran dari pembaca.

Pengirim: peter (peter@uksw.edu)

BH Hitam Tante Wike  

1 komentar

Aku sedang tidur ketika HPku berdering. Suara yang tak asing terdengar ditelingaku. Rupanya tante Wike ada di Ykt. Katanya sich ada tugas kantor dengan teman-temannya dan aku diminta datang kehotel *** tempat mereka menginap. Sambil jalan aku membayangkan sosok tante Wike. Dia adik ibuku yang berusia 39 tahun. Kulitnya kuning langsat dengan tinggi 175 cm, tubuhnya ramping dan seksi. Dadanya dihiasi oleh sepasang payudara yang indah dan besar. Waktu kecil dulu aku sering mengintip dada tante Wike dan kalau onani sering membayangkan dadanya itu. Kalau membandingkannya dengan artis, tante Wike mirip Vina Panduwinata.

Sesampai di hotel aku diperkenalkan dengan 2 teman tante Wike, Pak Bondan(46) dan bu Shinta(37). Mereka memintaku menjadi penunjuk jalan selama mereka di Ykt, dan aku menyanggupinya. Setelah itu kami berkeliling kota sampai jam 21:47. Karna sudah malam tante Wike meminta aku menginap dikamarnya saja. Kesempatan batinku, dari tadi aku sudah gatal melihat payudara tante Wike dibalik baju tang top biru yang ketat. Aku tak ingat lagi kalau dia tanteku, yang penting hasratku tersalurkan pikirku.

Setelah masuk kamar tante Wike pergi mandi, aku langsung memikirkan cara bagaimana agar aku bisa menikmati tubuh tante Wike yang tetap seksi walau telah memiliki 2 anak. Saat dia keluar aku menelan ludah, dengan celana pendek ketat sampai diatas lutut dan baju kaos putih tanpa lengan benar-benar memamerkan lekuk-lekuk tubuhnya yang sempurna. Saat tante Wike lewat didepanku tercium wangi sabun dari tubuhnya, saat ia hendak mengeringkan rambutnya terlihat BH hitam kesukaanku dari balik ketiak tante Wike.

Aku jadi gelap mata. Begitu tante Wike membelakangiku, langsung kurangkul dia. Bibirku menyedot lehernya, sementara tanganku yang satu meremas sepasang payudara dan yang satu lagi bermain diselangkangan dan paha tante Wike. Hanya sebentar ia meronta setelah itu tubuh tante Wike menjadi tenang.
"Izinkan aku merasakan tubuh tante yang indah ini ya?" Desahku di kuping tante Wike.
"Gimana Ndra? Tapi sekali ini aja ya Ndra.. dan kamu harus janji ini menjadi rahasia kita berdua" Kata tante Wike. Aku mengangguk kecil tanda bersedia.

Tante Wike lalu mencopot bajunya dan terlihatlah buah dadanya yang putih mulus terbungkus BH hitam, aku diam memperhatikan, birahiku mulai naik. Lalu tante Wike mencopot celana ketatnya terlihat paha mulus yang kugerayangi tadi. Saat ia hendak melepas tali BH aku cegah. Dengan lembut tanganku kebelakang pundak tante Wike membuka kaitnya lalu memelorotkan BH itu sambil menggesek puting susunya. Sepasang payudara berukuran 36 B terlihat sangat indah dipadu dengan puting susunya yang mencuat kedepan.

Tante Wike lalu mencopot celana dan CD hitamnya. Dan kini ia telah telanjang bulat, penisku terasa tegang karna tak menyangka tubuh tante Wike seindah itu. Lalu ia naik keatas ranjang dan merebahkan badannya telentang. Aku begitu takjub, tubuh tanteku yang aduhai telanjang dan pasrah berbaring diranjang tepat dihadapanku.
"Ayo Ndra.. apa yang kamu tunggu, tante udah siap, jangan takut kalau belum pernah nanti tante bantu" Kata tante Wike.
"Iya.. tolong ya tante" Jawabku berbohong.

Segera aku melepas semua pakaianku karna sebenarnya aku juga sudah tak tahan. Kulihat tante Wike memperhatikan kejantananku yang berdenyut-denyut, lalu aku naik keatas ranjang dan memulainya. Langsung saja kukecup bibirnya, kulumat-lumat bibirnya, terasa ia kurang meladeni bibirku, masih canggung pikirku, tapi tidak aku hiraukan terus aku lumat bibirnya. Sementara kuarahkan tanganku ke dadanya. Kutemukan gundukan bukit, lalu aku elus-elus dan remas buah dadanya sambil sesekali memelintir puting susunya.

"Ooh.. Ndra.. apa yang kau lakukan.. ergh.. sshh.." Tante Wike mendesah tanda birahinya mulai naik, sesekali aku merasakan ia menelan ludah yang mulai mengental. Setelah puas dengan bibirnya, kini bibirku kuarahkan kebawah, aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengulum buah dada tante Wike. Sejenak aku pandangi buah dada yang kini berada tepat dihadapanku, ooh sungguh indahnya, putih mulus tanpa cacat sedikitpun, seperti belum pernah terjamah laki-laki. Langsung aku jilati dari bawah lalu kearah putingnya, sementara buah dada kanannya tetap kuremas-remas sehingga tambah kenyal dan mengeras.

"Emmh oh aarghh" Tante Wike mendesah hebat ketika aku menggigit puting susunya.
Kulirik wajahnya dan terlihat matanya merem melek dan giginya menggigit gigi bawahnya, kini jariku kuarahkan keselangkangannya. Disana kurasakan rambut yang tumbuh disekeliling vagina tante Wike. Jari-jariku kuarahkan kedalamnya, terasa lubang itu sudah sangat basah, tanda bahwa dia sudah benar-benar terangsang. Kupermainkan jari-jariku sambil mencari kelentitnya. Kupermainkan jariku keluar-masuk didalam lubang vagina tante Wike yang semakin licin tersebut.

"Aarrgghh.. eenhh.. Ndra kam.. mu ngapain oohh.." Kata tante Wike meracau nggak karuan, kakinya mengecak-ngecak sprei dan badannya menggeliat. Tak kuperdulikan kata-katanya, maka tubuh tante Wike makin menggelinjang dikuasai nafsu birahi. Kurasakn tubuh tante Wike menegang dan wajahnya memerah bercucuran keringat, aku pikir dia sudah mau klimaks. Kupercepat gerakan jariku didalam liang vaginanya.
"Oohh.. arghh.. oohh.." kata tante Wike dengan nafas tersengal-sengal dan tiba-tiba.

"Ooh..aahh.." Tante Wike mendesah hebat dan pinggulnya terangkat, badannya tergetar hebat beberapa kali. Terasa cairan hangat memenuhi lubang vaginanya.
"Oohh.. ohh.. emhh.." Tante Wike mendesah-desah meresapi kenikmatan yang baru diraihnya.
"Ndra apa yang kamu lakukan kok tante bisa kayak gini?" Tanyanya padaku.
"Kenapa memangnya tante?" Kataku sambil meremas payudaranya.
"Baru kali ini aku merasakan kenikmatan seperti ini, luar biasa" Kata tante Wike. Ia lalu bercerita kalau om Widya (suaminya) hanya sebentar saja jika bercumbu sehingga ia kurang puas.

"Sayang.. sekarang giliranku" Bisikku ditelinganya, tante Wike mengangguk kecil.
Aku mulai mencumbunya lagi, kulakukan seperti tadi, mulai dari bibirnya yang kulumat, lalu buah dadanya yang aku nikmati. Setelah kurasa cukup, kusejajarkan tubuhku diatas tubuhnya dan tante Wike tahu. ia lalu mengkangkangkan pahanya lalu kuarahkan batang kejantananku keliang senggamanya. Perlahan-lahan aku masukkan batang penisku dan aku nikmati. Batang kejantananku mudah saja memasuki liang senggamanya karna sudah sangat basah dan licin. Kini perlahan-lahan aku gerakkan pinggulku naik turun. ooh nikmatnya.

"Lebih cepat Ndra.. aarghh.. mmhh" Kata tante Wike terputus-putus dengan mata yang merem melek. Aku percepat gerakanku lalu terdengar suara berkecipak dari selangkangannya.
"Iya.. begitu.. aahh.. terr.. russ.. aarghh.." kata tante Wike tak karuan.
Keringat kami berucuran menjadi satu, kulihat wajahnya semakin memerah.
"Ndra, tante mau.. enak lagi.. ohh.. ahh.. aahh ahh.." Kata tante Wike sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar dan kurasakan vaginanya dipenuhi cairan hangat menyiram batang penisku.

Remasan dinding vaginanya begitu kuat, akupun mempercepat gerakanku dan.. croott.. akupun mencapai klimaks.. aahh.., kubiarkan air maniku keluar didalam liang senggama tante Wike. Kurasakan nikmat yang luar biasa, kupeluk tubuhnya erat-erat sambil mengecup puting susunya menikmati kenikmatan sex yang sesungguhnya. Setelah cukup menikmatinya kucabut penisku dan kubaringkan tubuhku disampingnya.

"Tante Wike, terima kasih ya.." Kubisikkan lirih ditelinganya sambil kukecup pipinya.
"Tante juga Ndra.. baru kali ini tante merasakan kenikmatn seperti ini, kamu hebat" Kata tante Wike lalu mengecup bibirku.
Kami berdua lalu tertidur karna kelelahan.

Sekitar jam 3 pagi aku terbangun. Setelah meminum segelas air aku memandangi tubuh telanjang tante Wike. Benar-benar menggairahkan sekali, kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya masih terjaga diusianya yang hampir berkepala 4 ini. Lalu aku mulai mencumbunya lagi, kali ini aku ingin menikmati dengan sepuas hatiku setiap inci tubuh tante Wike. Perlahan-lahan aku lumat bibir tante Wike dengan penuh kelembutan sampai ia mulai terbangun lagi.

Setelah tante Wike terbangun kugunakan lidahku untuk membelah bibirnya, kupermainkan lidahku didalam mulutnya. tante Wikepun mulai berani, lidahnya juga dipermainkan sehingga lidah kami saling beradu, membuatku semakin betah saja berlama-lama menikmati bibirnya. Tanganku beroperasi didadanya, kuremas-remas payudaranya yang kenyal mulai dari lembah sampai ke puncaknya lalu aku pelintir putingnya shingga ia menggeliat dan menggelinyang. Dua bukit kembar itu semakin mengeras. Ia menggigit bibirku saat kupelintir puting susunya.

Setelah aku puas dibibirnya, kini aku melumat dan mengulum payudaranya. Dengan sigap lidahku menari-nari diatas bukitnya yang putih mulus itu. Tanganku tetap meremas-remas buah dadanya yang sebelah kanan. Kulihat mata tante Wike sangat redup, ia memagut-magut bibirnya sendiri, mulutnya mengeluarkan desahan erotis.
"Oohh.. aarghh.. en.. ennak Ndra, emmh.." Kata tante Wike mendesah-desah.

Tiba-tiba tangannya memegang tanganku yang sedang meremas-remas payudaranya dan menyeret ke selangkangannya. Aku paham apa yang diinginkannya, ia ingin agar aku segera mempermainkan liang vaginanya. Jari-jariku pun segera bergerilya divaginanya. Kugerakkan jariku keluar masuk dan kuelus-elus klentitnya yang membuat tante Wike semakin menggelinyang tak karuan.
"Ya.. terruss.. argghh.. eemmh.. enak.. oohh.." Mulut tante Wike meracau.

Setiap kali tante Wike terasa mau mencapai klimaks, aku hentikan jariku menusuk vaginanya, setelah ia agak tenang, aku permainkan lagi liang senggamanya, kulakukan beberapa kali.
"Emhh Ndra.. ayo dong jangan gitu.. kau jahat oohh.." Kata tante Wike memohon.
Mendengarnya membuatku merasa kasihan juga, tapi aku tidak akn membuatnya klimaks dengan jariku tapi dengan mulutku, aku ingin menerapkan hasil latihanku dengan bu Denok dan bu Atika.

Segera kuarahkan mulutku keselangkangannya. Kusibakkan rambut-rambut hitam yang mengelilingi vaginanya dan terlihatlah liang senggamanya yang merah dan mengkilap basah, sungguh indah. Segera aku jilati lubang itu, lidahku kujulurkan keluar masuk.
"Ndra.. apa yang kamu lakukan.. arghh itu kan ji.. jik emhh.." Kata tante Wike.
Aku tak perdulikan kata-katanya, lidahku terus menari-nari didalam liang senggamanya bahkan menjadi semakin liar tak karuan

Ketika lidahku menyentuh kelentitnya, ia mendesah panjang dan tubuhnya menggeliat tak karuan dan tak lama tubuhnya bergetar beberapa kali, tangannya mencengkram sprei dan mulutku dipenuhi cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.
"Ohmm.. emhh.. ennak Ndra.. aahh.." Kata tante Wike ketika ia klimaks.
Setelah tante Wike selesai menikmati kenikmatan yang diperolehnya, aku mencumbunya lagi karna aku juga ingin mencapai kenikmatan. Kali ini posisiku dibawah tubuh tante Wike.

Aku tidur telentang dan tante Wike melangkah diatas batang penisku. Tangannya memegang batang kejantananku yang tegak perkasa, setelah menjilatinya lalu perlahan-lahan pinggangnya diturunkan dan vaginanya diarahkan ke batang penisku dan dalam sekejap bless burungku hilang ditelan liang kewanitaannya. Tante Wike lalu mulai melakukan gerakan naik turun, ia angkat pinggannya dan ketika sampai dikepala penisku ia turunkan lagi. Mula-mula ia pelan-pelan tapi kini ia mempercepat gerakannya.

Kulihat wajahnya penuh dengan keringat, matanya sayu sambil merem melek dan sesekali ia melihat kearahku. Mulutnya mendesis-desis, sungguh seksi wajah wanita yang sedang dikuasai nafsu birahi dan sedang berusaha mencapai puncak kenikmatan. Wajah tante Wike terlihat sangat cantik seperti itu ditambah lagi rambut sebahunya yang terlihat acak-acakan terombang ambing gerakan kepaalanya. Payudaranya terguncang-guncang, lalu tanganku meremas-remasnya. Desahannya tembah keras katiak jari-jariku memelintir puting susunya.
"Oh emhh yaah.. oohh.." Itulah kata-kata yang keluar dari mulut tante Wike.

"Tante nggak kuat lagi Ndra.." Kata tante Wike sambil berhenti menggerakkan badannya.
Aku tahu ia segera mencapai klimaks, lalu aku rebahkan tubuh tante Wike dan kupompa liang senggamanya, tak lama tante Wike mencapai klimaks. Kuhentikan gerakanku untuk membiarkan tante Wike menikmati orgasmenya yang kesekian. Setelah itu kucabut batang penisku dan kusuruh tante Wike menungging lalu kumasukkan batang penisku dari belakang. Tante Wike terlihat hanya pasrah saja terhadap apa yang kulakukan padanya. Ia hanya mendesah kenikmatan.

Setelah puas dengan posisi ini, aku suruh tante Wike rebahan lagi dan aku masukkan lagi batang kejantananku dan memompa vaginanya lagi, karna aku ingin mengakhirinya. Beberapa saat kemudia tante Wike ingin klimaks lagi, wajahnya memerah dan tubuhnya menggelinjang ke sana ke mari.
"Ahh.. oh.. tante mau enak lagi Ndra. arrghh ahh.." kata tante Wike.
"Tunggu sayang, ki.. kita barengan.. aku juga sedikit lagi.." desahku.
"Tante udah nggak tahan Ndra.. ahh.." kata tante Wike mendesah panjang.

Lalu tubunya bergetar hebat, pinggulnya terangkat naik. caran hangat membasahi batang kejantananku. Cairan hangat menyirami batang penisku dan kurasakan dinding vaginanya seakan akan menyedot penisku begitu kuat dan akhirnya aku pun tidak kuat.. crott.. aku pun mencapai klimaks. Nikmatnya luar biasa. Lalu kami saling berpelukan erat meresapi kenikmatan yang merasuki kami berdua.
"Thank's tante" Bisikku sambil memelintir puting susunya.

Setelah itu 3 malam berturut-turut aku memuaskan hasrat yang terpendam sejak aku kecil sampai tante Wike kembali pulang ke Smr.
"Kalau pulang.. jangan lupa kerumah ya" Bisiknya saat akan naik ke pesawat terbang di bandara.
Aku tersenyum penuh arti. Sebentar lagi aku akan pulang berlibur, aku sudah rindu dengan tante Wike yang aduhai.

E N D
Pengirim: 17thn (17thn@yahoo.com)

Akibat Film Porno  

1 komentar

Namaku Iwan (nama samaran). Aku itu sudah kuliah semester dua di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Aku tinggal masih bareng orangtua dan adikku yang masih SMP, Dina namanya (juga samaran). Orangtuaku dua-duanya kerja. Jadi rumah sering tinggal adikku dan aku saja, sama pembantu.

Pada waktu sore rumah sedang kosong, orangtua sedang pergi dan kebetulan pembantu juga sedang tidak ada. Adikku sedang pergi. Aku menyewa VCD BF XXX dan X2. Aku senang sekali, karena tidak ada gangguan pas sedang nonton. Cerita X2 di VCD itu kebetulan bercerita tentang seks antara adik dan kakak. Gila sekali deh adegannya. Kupikir kok bisa ya. Eh, aku berani tidak ya melakukan itu sama adikku yang masih SMP? tapi kan adikku masih polos sekali, kalau di film ini mah sudah jago dan pro, pikirku dalam hati. Sedang nonton plus mikir gimana caranya melakukan sama adikku, eh, bel berbunyi. Wah, teryata adikku, si Dina sama temannya datang. Sial, mana filmnya belum selesai lagi. Langsung kusimpan saja tuh VCD, terus kubukakan pintu. Dina sama temannya masuk. Eh, temannya manis juga loh.
"Dari mana lo?" tanyaku.
"Dari jalan dong. Emang kayak kakak, ngedekem mulu di rumah," jawabnya sambil manyun.
"Aku juga sering jalan tau, emang elo doang. Cuman sekarang lagi males," kataku.
"Oh iya, Kak. Kenalin nih temenku, namanya Anti, temen sekelasku," katanya.
Akhirnya aku kenalan sama itu anak. Tiba-tiba si Dina tanya, "lihat VCD Boyzone aku tidak?"
"Tau, cari saja di laci," kataku.
Eh, dia membuka tempat aku menaruh VCD BF. Aku langsung gelagapan.
"Eh, bukan di situ..." kataku panik.
"Kali saja ada," katanya.
Telat. Belum sempat kutahan dia sudah melihat VCD XXX yang covernya lumayan hot itu, kalau yang X2 sih tidak pakai gambar.
"Idih... Kak. Kok nonton film kayak begini?" katanya sambil memandang jijik ke VCD itu.
Temannya sih senyam-senyum saja.
"Enggak kok, aku tadi dititipin sama temanku," jawabku bohong.
"Bohong banget. Ngapain juga kalo dititipin nyasar sampe di laci ini," katanya.
"Kak, ini film jorok kan? Nnnggg... kayak apa sih?" tanyanya lagi.

Aku tertawa saja dalam hati. Tadi jijik, kok sekarang malah penasaran.
"Elo mao nonton juga?" tanyaku.
"Mmmm... jijik sih... tapi... penasaran Kak..." katanya sambil malu-malu.
"Anti, elo mao nonton juga tidak?" tanyanya ke temannya.
"Aku mah asyik saja. Lagian aku udah pernah kok nonton film kayak begitu," jawab temannya.
"Gimana... jadi tidak? keburu mama sama papa pulang nih," desakku.
"Ayo deh. Tapi kalo aku jijik, dimatiin ya?" katanya.
"Enak saja lo, elo kabur saja ke kamar," jawabku.

Lalu VCD itu aku nyalakan. Jreng... dimulailah film tersebut. Aku nontonnya sambil sesekali memandangi adikku dan temannya. Si Anti sih kelihatannya tenang nontonnya, sudah "expert" kali ya? Kalau adikku kelihatan begitu baru pertama kali nonton film seperti begitu. Dia kelihatan takut-takut. Apalagi pas adegan rudalnya cowok dihisap. Mana itu rudal besarnya minta ampun. "Ih, jijik banget..." kata Dina. Pas adegan ML sepertinya si Dina sudah tidak tahan. Dia langsung kabur ke kamar.
"Yeee, malah kabur," kata Anti.
"Elo masih mao nonton tidak?" tanyaku ke si Anti.
"Ya, terus saja," jawabnya.
Wah, boleh juga nih anak. Sepertinya, bisa nih aku main sama dia. Tapi kalau dia marah gimana? pikirku dalam hati. Ah, tidak apa-apa kok, tidak sampai ML ini. Sambil nonton, aku duduknya mendekat sama dia. Dia masih terus serius nonton. Lalu kucoba pegang tangannya. Pertama dia kaget tapi dia tidak berusaha melepas tangannya dari tanganku. Kesempatan besar, pikirku. Kuelus saja lehernya. Dia malah memejamkan matanya. Sepertinya dia menikmati begitu. Wow, tampangnya itu lho, manis! Aku jadi ingin nekat. Waktu dia masih merem, kudekati bibirku ke bibir dia. Akhirnya bersentuhanlah bibir kami. Karena mungkin memang sudah jago, si Anti malah mengajak French Kiss. Lidah dia masuk ke mulutku dan bermain-main di dalam mulut. Sial, jagoan dia daripada aku. Masa aku dikalahin sama anak SMP sih. Sambil kami ber-French Kiss, aku berusaha masukkan tanganku ke balik bajunya. Mencari sebongkah buah dada imut. Ukuran dadanya tidak begitu besar, tapi sepertinya sih seksi. Soalnya badan si Anti itu tidak besar tapi tidak kurus, dan tubuhnya itu putih.

Begitu ketemu buah dadanya, langsung kupegang dan kuraba-raba. Tapi masih terbungkus sama bra-nya. "Baju elo gue buka ya?" tanyaku. Dia ngangguk saja sambil mengangkat tangannya ke atas. Kubuka bajunya. Sekarang dia tinggal pakai bra warna pink dan celana panjang yang masih dipakai. Shit! kataku dalam hati. Mulus sekali! Kubuka saja bra-nya. Payudaranya bagus, runcing dan putingnya berwarna pink. Langsung kujilati payudaranya, dia mendesah, aku jadi makin terangsang. Aku jadi pingin menyetubuhi dia. Tapi aku belum pernah ML, jadi aku tidak berani. Tapi kalau sekitar dada saja sih aku lumayan tahu. Gimana ya? Tiba-tiba pas aku lagi menjilati payudara si Anti, adikku keluar dari kamar. Kami sama-sama kaget. Dia kaget melihat apa yang kakak dan temannya perbuat. Aku dan Anti kaget pas melihat Dina keluar dari kamar. Si Anti buru-buru pakai bra dan bajunya lagi. Si Dina langsung masuk ke kamarnya lagi. Sepertinya dia shock melihat apa yang kami berdua lakukan. Si Anti langsung pamit mau pulang. "Bilang sama Dina ya... sorry," kata Anti. "Tidak apa-apa kok," jawabku. Akhirnya dia pulang.

Aku ketuk kamarnya Dina. Aku ingin menjelaskan. Eh, dianya diam saja. Masih kaget kali ya, pikirku. Aku tidur saja, dan ternyata aku ketiduran sampai malam. Pas kebangun, aku tidak bisa tidur lagi, aku keluar kamar. Nonton TV ah, pikirku. Pas sampai di depan TV ternyata adikku lagi tidur di kursi depan TV. Pasti ketiduran lagi nih anak, kataku dalam hati. Gara-gara melihat dia tidur dengan agak "terbuka" tiba-tiba aku jadi keingat sama film X2 yang belum selesai kutonton, yang ceritanya tentang hubungan seks antara adik dan kakak, ditambah hasrat aku yang tidak kesampaian pas sama Anti tadi. Ketika adikku menggerakan kakinya membuat roknya tersingkap, dan terlihatlah CD-nya. Begitu melihat CD-nya aku jadi semakin nafsu. Tapi aku takut. Ini kan adikku sendiri masa aku setubuhi sih. Tapi dorongan nafsu semakin menggila. Ah, aku peloroti saja CD-nya. Eh, nanti kalau dia bangun bagaimana? Ah, cuek saja. Begitu CD-nya turun semua, wow, belahan kemaluannya terlihat masih amat rapat dan dihiasi bulu-bulu halus yang baru tumbuh. Kucoba sentuh, hmmm... halus sekali. Kusentuh garis kemaluannya. Tiba-tiba dia menggumam, aku jadi kaget. Aku merasa di ruang TV terlalu terbuka. Kurapikan lagi pakaian adikku, terus kugendong ke kamarnya.

Sampai di kamar dia, it's show time, pikirku. Kutiduri dia di kasurnya. Kubukakan bajunya. Ternyata dia tidak pakai bra. Wah, payah juga nih adikku. Nanti kalau payudaranya jadi turun bagaimana. Begitu bajunya terbuka, buah dada mungilnya menyembul. Ih, lucu bentuknya. Masih kecil buah dadanya tapi lumayan ada. Kucoba hisap putingnya, hmmm... nikmat! Buah dada dan putingnya begitu lembut. Eh, tiba-tiba dia bangun! "Kak... ngapain lo!" teriaknya sambil mendorongku. Aku kaget sekali, "Ngg... ngg... tidak kok, aku cuma pengen nerusin tadi pas sama si Anti, tidak papa kan?" jawabku ketakutan. Aku berharap orangtua aku tidak mendengar teriakan adikku yang agak keras tadi. Dia menangis.
"Sorry ya Din, gue salah, habis elo juga sih ngapain tidur di ruang TV dengan keadaan seperti itu, tidak pake bra lagi," kataku.
"Jangan bilang sama mama dan papa ya, please..." kataku.
Dia masih nangis. Akhirnya kutinggali dia. Aduh, aku takut nanti dia ngadu.

Sejak saat itu aku kalau ketemu dia suka canggung. Kalau ngomong paling seadanya saja. Tapi aku masih penasaran. Aku masih ingin mencoba lagi untuk "ngegituin" Dina. Sampai pada suatu hari, adikku sedang sendiri di kamar. Aku coba masuk,
"Din, lagi ngapain elo," aku mencoba untuk beramah-tamah.
"Lagi dengerin kaset," jawabnya.
"Yang waktu itu, elo masih marah ya..." tanyaku.
"...." dia diam saja.
"Sebenernya gue... gue... pengen nyoba lagi..." gila ya aku nekat sekali.
Dia kaget dan pas dia mau ngomong sesuatu langsung aku dekati mukanya dan langsung kucium bibirnya.
"Mmhhpp... Kakk... mmmhph..." dia seperti mau ngomong sesuatu.
Tapi akhirnya dia diam dan mengikuti permainanku untuk ciuman. Sambil ciuman itu tanganku mencoba meraba-raba dadanya dari luar. Pertama merasakan payudaranya diraba, dia menepis tanganku. Tapi aku terus berusaha sambil tetap berciuman. Setelah beberapa menit berciuman sambil meraba-raba payudaranya, aku mencoba membuka bajunya. Eh, kok dia langsung mau saja dibuka ya? Mungkin dia lagi merasakan kenikmatan yang amat sangat dan pertama kali dirasakannya. Begitu dibuka, langsung kubuka bra-nya. Kujilati putingnya dan sambil mengusap dan mneremas-remas buah dada yang satunya. Walaupun payudara adikku itu masih agak kecil, tapi dapat memberikan sensasi yang tak kalah dengan payudara yang besar. Ketika sedang dihisap-hisap, dia mendesah, "Sshh... ssshh.. ahhh, enak, Kak..." Setelah kuhisap, putingnya menjadi tegang dan agak keras. Terus kubuka celanaku dan aku keluarkan "adik"-ku yang sudah lumayan tegang. Pas dia melihat, dia agak kaget. Soalnya dulu kami pernah mandi bareng pas "punya"-ku masih kecil. Sekarang kan sudah besar dong.

Aku tanya sama dia, "Berani untuk ngisep punya gue tidak? Entar punya elo juga gue isepin deh, kita pake posisi 69."
"69... apa'an tuh?" tanyanya.
"Posisi dimana kita saling mengisap dan ngejilatin punyanya partner kita pada saat berhubungan," jelasku.
"Ooo..."
Langsung aku membuka celana dia dan CD-nya. Kami langsung mengambil posisi 69. Aku buka belahan kemaluannya dan terlihatlah klitorisnya seperti bentuk kacang di dalam kemaluannya itu. Ketika kusentuh pakai lidah, dia mengerang,
"Ahhh... Kakak nyentuh apanya sih kok enak banget..." tanyanya.
"Elo mestinya ngejilatin dan ngisep punya gue dong. Masa elo doang yang enak," kataku.
"Iya Kak, habis takut dan geli sih..." jawabnya.
"Jangan bayangin yang bukan-bukan dong. Bayangin saja keenakan elo," kataku lagi.
Saat itu juga dia langsung menjilat punyaku. Dia menjilati kepala anu-ku dengan perlahan. Uuhhh, enak benar. Terus dia mulai menjilati seluruh dari batanganku. Lalu dia masukkan punyaku ke mulutnya dan mulai menghisapnya. Oohh... gila benar. Dia ternyata berbakat. Hisapannya membuatku jadi hampir keluar.

"Stop... eh, Din, stop dulu," kataku.
"Lho kenapa?" tanyanya.
"Tahan dulu entar aku keluar," jawabku.
"Lho emang kenapa kalau keluar?" tanyanya lagi.
"Entar game over," kataku.
Ternyata adikku memang belum mengerti masalah seks. Benar-benar polos. Akhirnya kujelaskan kenapa kalau cowok sudah keluar tidak bisa terus pemainannya. Akhirnya dia mulai mengerti. Posisi kami sudah tidak 69 lagi, jadi aku saja yang bekerja. Kemudian aku teruskan menghisapi kemaluannya dan klitorisnya. Dia terus menerus mendesah dan mengerang.
"Kak Iwan... terus Kak... di situ... iya di situ... oohh... ssshhh..."

Aku terus menghisap dan menjilatinya. Dia menjambak rambutku. Sambil matanya merem-melek. Akhirnya aku sudah dalam kondisi fit lagi (tadi kan kondisinya sudah mau keluar). Kutanya sama adikku,
"Elo berani ML tidak?"
"..." dia diam.
"Gue pengen ML, tapi terserah elo... gue tidak maksa," kataku.
"Sebenerya gue takut. Tapi sudah kepalang tanggung nih... gue lagi 'on air'," kata dia.
"OK... jadi elo mau ya?" tanyaku lagi.
"..." dia diam lagi.
"Ya udah deh, kayanya elo mau," kataku.
"Tapi tahan sedikit. Nanti agak sakit awalnya. Soalnya elo baru pertama kali," kataku.
"..." dia diam saja sambil menatap kosong ke langit-langit.

Kubuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Kelihatan bibir kemaluannya yang masih sempit itu. Kuarahkan ke lubang kemaluannya. Begitu aku sentuhkan kepala "anu"-ku ke liang kemaluannya, Dina menarik nafas panjang, dan kelihatan sedikit mengeluarkan air mata. "Tahan ya Din..." Langsung kudorong anu-ku masuk ke dalam lubang kemaluannya. Tapi masih susah, soalnya masih sempit sekali. Aku terus mencoba mendorong anu-ku, dan... "Bleesss..." masuk juga kepala kemaluanku. Dina agak berteriak,
"Akhhh sakit Kak..."
"Tahan ya Din..." kataku.
Aku terus mendorong agar masuk semua. Akhirnya masuk semua kemaluanku ke dalam selangkangan adikku sendiri.
"Ahhh... Kak... sakit Kak... ahh..."
Setelah masuk, langsung kugoyang maju-mundur, keluar masuk liang kemaluannya.
"Ssshhh... sakittt Kak... ahhh... enak... Kak, terusss... goyang Kak..."
Dia jadi mengerang tidak karuan. Setelah beberapa menit dengan posisi itu, kami ganti dengan posisi "dog style". Dina kusuruh menungging dan aku masukkan ke lubang kemaluannya lewat belakang. Setelah masuk, terus kugenjot. Tapi dengan keadaan "dog style" itu ternyata Dina langsung mengalami orgasme. Terasa sekali otot-otot di dalam kemaluannya itu seperti menarik batang kemaluanku untuk lebih masuk.

"Ahhh... ahhha... aku lemess banget... Kak," rintihnya dan dia jatuh telungkup. Tapi aku belum orgasme. Jadi kuteruskan saja. Kubalikkan badannya untuk tidur terlentang. Terus kubuka lagi belahan pahanya. Kumasukkan kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya. Padahal dia sudah kecapaian.
"Kak, udah dong! Gue udah lemes..." pintanya.
"Sebentar lagi ya..." jawabku.
Tapi setelah beberapa menit kugenjot, eh, dianya segar lagi.
"Kak, yang agak cepet lagi dong..." katanya.
Kupercepat dorongan dan genjotanku.
"Ya... kayak gitu dong... ssshh... ahhh.. uhuuh," desahannya makin maut saja.
Sambil menggenjot, tanganku meraba-raba dan meremas payudaranya yang mungil itu. Tiba-tiba aku seakan mau meledak, ternyata aku mau orgasme. "Ahhh, Din aku mau keluar... ahhh..." Ternyata saat yang bersamaan dia orgasme juga. Kemaluanku seperti dipijat-pijat di dalam. Karena masih enak, kukeluarkan di dalam kemaluannya. Nanti kusuruh minum pil KB saja supaya tidak hamil, pikirku dalam hati.

Setelah orgasme bareng itu kucium bibirnya sebentar. Setelah itu aku dan dia akhirnya ketiduran dan masih dalam keadaan bugil dan berkeringat di kamar gara-gara kecapaian. Ketika bangun, aku dengsr dia lagi merintih sambil menangis.
"Kak, gimana nih. Punyaku berdarah banyak," tangisnya.
Kulihat ternyata di kasurnya ada bercak darah yang cukup banyak. Dan kemaluannya agak sedikit melebar. Aku kaget melihatnya. Gimana nih jadinya?
"Kak, aku udah tidak perawan lagi ya?" tanyanya.
"..." aku diam saja.

Habis mau jawab apa. Gila! aku sudah merenggut keperawanan adikku sendiri.
"Kak, punyaku tidak apa-apakan?" tanyanya lagi.
"Berdarah begini wajar untuk pertama kali," kataku.
Tiba-tiba, gara-gara melihat dia tidak pakai CD dan memperlihatkan kemaluannya yang agak melebar itu ke aku, anu-ku "On" lagi!

TAMAT
Pengirim: 17thn (17thn@yahoo.com)

Perjakaku Buat Rita  

1 komentar

Malam minggu itu jam 21:15.. aku ketinggalan kereta di stasiun bogor, tapi aku hrs ke jakarta, ada urusan kerjaan yang harus diselesaikan malam itu juga buat senin pagi. Aku tidak bisa nginep Imagedi rumah orang tuaku malam itu. Akhirnya aku ke terminal bis dan akan naik bis ke uki baru nanti nyambung lagi taxi ke rawamangun, kostku di sana.. Dengan naik angkot sekali aku dah sampai di terminal, aku lihat bis ke uki masih ngetem.. aku naik, masih kosong.. cuma ada 2 org bapak2 di bangku depan. Aku memilih bangku deretan ketiga dari depan yang sebelah kiri bis.

lama juga menunggu tapi penumpang yang naik baru 6-7 org.. itupun duduk di bagian tengah.. penjual makanan sudah beberapa kali naik-turun, tak lama.. seorang ibu2 muda naik dan dia duduk dideretan kedua bangku sebelah kanan, pas naik sepertinya dia sempat merilirik aku lalu duduk, tukang gorengan naik lagi, dipanggilnya.. dan sambil memilih dan mengambil gorengan dia sempat melirik lagi ke aku.. hmh.. lumayan.. ga tua2 amat.. cantik dan bersih lagi.. aku senyum ! dia nawarin gorengan ke aku.. aku ngangguk pelan, malu juga tar kl ketauan penumpang lain kalau kami saling memberi kode.

Bis masih ngetem.. sesekali dia melihat ke aku, dari matanya.. sepertinya dia minta aku duduk di sampingnya.. aku cuma bisa senyumin dia, aku ga enak, malu.. aku belum pernah kenalan sama cewek di bis.. memang aku sudah 27 tahun (3 tahun yang lalu), sudah bekerja tapi untuk urusan sex aku masih hijau, aku memang sering petting dan oralsex sama mantan pacarku dulu, tapi sejak putus dengan Dian 4 bulan yang lalu aku ga pernah kencan dengan siapapun, tapi kami ga pernah lebih jauh dari itu, dan sekarang aku jomblo. satu-satu penumpang mulai mengisi bangku kosong, dan disebelah mba itu juga dah diisi 2 org laki-laki. sesekali.. sambil pura2 melihat keluar jendela bis, mba itu meneruskan pandangannya ke aku dan matakupun tidak lepas melihat dia.. hmh.. pengen ada disebelahnya.. mana hujan mulai turun saat bis mulai berjalan dingin.. ! Dalam perjalanan dia masih sering curi2 pandang.. pikiranku mulai menerawang membayangkan sebuah cerita romantis dengannya, membuat si "dd" mulai bangun, ahh.. tak terasa bis sudah sampai pintu tol TMII, pasti sebentar lagi akan sampai di UKI.

"uki abiss... uki abiss.." teriak kenek bis. Penumpang siap2 berdiri untuk turun, mba itu juga.. sambil melirik ke arahku dan aku senyumin dia, di bawah jempatan penyeberangan uki dia berdiri, aku coba deketi. "maaf mba.. mau kemana ? naik apa ?"

"pasar minggu, metromini 64 masih ada gak yaa ?" jawabnya.. melihat seperti berharap akupun akan searah.

"waduh.. jam 10:22 lho mba.. ga tau juga yah..'"

"kalo adek mau kemana ?"

"aku mau naik taxi ke rawamangun mba.."

"tapi kalo S64 gak ada.. boleh aku anter mba ke pasar minggu ?

jakarta lagi ga aman soalnya mba.. " tambahku.. "hmh... boleh.. tapi apa ga ngerepotin adek ?" katanya sambil melihat jam tangannya

"ah gapapa mba.. lagian dah malam bgt ni.. kasian kalo mba nunggu lama disini.

"ayuk mba.." kataku sambil nyetop taxi

Kami naik..

"pasar minggu ya pak.." kataku pada sopir

beberapa ratus meter kami masih saling diam.. lalu aku menoleh ke arahnya.. dia senyum..

Ini memang pengalaman pertamaku kenal cewe di bis.. tapi nggak tau kenapa, naluri telah menuntunku untuk bisa lebih dekat dengan mba ini.

"maaf mba.. namaku nino.. aku manggil mba.. ? kataku berbisik.. sambil mendekat ke arahnya, takut ketauan sama sopir kalau kami belum saling kenal

"Rita.." bisiknya lebih dekat ke kupingku

kamipun bersalaman.. tapi sepertinya aku males melepaskan jabatan tanganku, dan dia juga kelihatannya enggan.. jadilah kami pegangan tangan.. Aku duduk lebih mendekat aku genggam tangannya dan kami saling pandang dan senyum, tangan kami saling meremas..

"mba kok sendiri ? dari mana ?"bisikku ke kupingnya, tercium bau parfumnya yg enak banget..

"dari rumah adekku di ciomas, gak taunya kemalaman pulangnya.. kalo kamu dari mana ?" jawabnya, juga berbisik.. hmh.. nafasnya enak.. "dari rumah tadi mba.. tapi ada kerjaan yang harus saya selesaikan malam ini di kost saya.. makanya balik ke jakarta " balasku berbisik lebih dekat di kupingnya..

dia menggenggam erat tanganku.. memainkan jarinya du telapak tanganku. pikiran yang engga-engga mulai merasuki.. si "dd" tambah bangun, aku lebih mendekat, aku cium kupingnya.. bahunya diangkat, geli deh pasti.. lalu dia menatap mataku..

"kamu kok jadi nakal..?'" katanya dengan pandangan genit..

"abis.. mba yang bikin aku jadi nakal.. mba cantik.. lagian tadi sapa yg suruh liat2 ke aku di bis.." jawabku, sekarang tanganku sudah pindah ke bahu kirinya.

"kamu sih.. sapa suruh ganteng.. pasti pacar kamu cantik yah..?"

balesnya berbisik di kupingku.. kali ini dia cium pipiku.. waw.. !!

"aku lagi nggak punya pacar mba" jawabku

Aku tau.. aku lumayan untuk ukuran cowo.. putih, 170/62, dan wajahku lumayan menurutku, tapi Dian mantan pacarku juga pernah bilang kalo aku ganteng.. ah.. ga tau deh..

Wah.. kami sudah hampir sampai di ps minggu.

"mba mau langsung pulang ?" tanyaku.. berharap dia akan bilang tidak

"hmh.. emang kalo engga kita kemana lagi rhin..?" dia menatap mataku

"kalo mba mau.. gimana kalo kita nonton aja ?" kami masih berbisik "boleh tapi dimana ?"

"kalibata aja yuk !"

dia senyum mengangguk.

"maaf pak.. kita kembali ke kalibata mall saja.. maaf ya pak.."

kataku pada sopir taxi. Aku sudah lupa kalau aku harus menyelesaikan pekerjaan malam itu. Taksi berbalik arah ke kalibata mall.

sampai di kalibata21 kami lihat sudah mulai antrian tiket midnite, aku ikut antri.. mba rita aku minta duduk aja nunggu aku. Sampai di depan penjual tiket, aku pilih film.. aku lihat di bangku paling belakang masih ada tempat di pojok yang belum terisi. "A 1-2 aja mba" pilihku ke mba penjual tiket.. dia melirik, seakan tau niatku, huh.. !

sambil menunggu pintu theater 3 dibuka aku ngobrol sama mba rita. "maaf mba.. hmh.. mba sudah berkeluarga ?"

"sudah rhin.. tapi suamiku kebetulan lagi keluar kota sejak 3hr yl, mungkin sampai minggu depan, ada urusan kantor katanya"

"oww.. " aku cuma bengong melihat ke arah mba rita..

Diraihnya tanganku.. aku genggam.. kami saling pandang.. "jangan panggil aku mba lagi yah rhin.. panggil namaku aja.. makasih kamu dah ngajak aku nonton malam ini, soalnya kalopun aku pulang, sepi, males, aku blm punya anak soalnya, lagian ga ada siapa2 di rmh, kami tinggal berdua saja, kadang sesekali ada adikku cowok yg nemenin, tapi kl malam minggu ini, dia pasti ngapel, dan ntar pulang ke rmuah ortu.. gak tau kenapa.. padahal kami dah nikah 8 th" katanya lirih..

Aku remas jemarinya.. Aku membetulkan letak si "dd", soalnya mulai bangun dan menggeliat, menggelinjang dan keluar jalurnya emang si "dd" nggak panjang2 amat, cuma 15cm/4, tapi setelah selama ini ternyta banyak memberi kepuasan pada wanita. Rita melihat itu. "hayoo.. kok ada yang bangun.." katanya sambil mencubit lenganku

"iya sayang.. ga tau nih.. tau aja dia kalo aku sama cewe sexy

(ups..aku manggil dia sayang ?) eehmm.. aku juga makasih dah bisa kenal sama mba.. eh rita.. kamu cantik rita.." hmh.. mulai gombalku..

Akhirnya pintu theater 3 dibuka.. setelah beli popcorn dan minuman kamipun masuk. SAmapi film main.. deretan kami cuma diisi 6 orang.. yang 2 pasang itupun di lajur kiri, jadi di kanan cuma kami berdua.. sambil ngobrol kami makan popcorn, dan minuman kaleng aku buka. Aku mulai berpikir.. malam ini akhirnya aku kencan juga dengan rita yang cantik.. putih.. dan berkulit bersih.. kami pegangan tangan.. aku peluk dia.. aku cium rambutnya, dan film pun mulai main..

Tapi kami malah asyik saling cium pipi, saling peluk, saling remas jemari, akhirnya.. aku cium bibir merahnya.. kamipun jadi makin liar.. dia isep lidahku dalam.. hmh.. tanganku mulai ke arah dadanya.. aku lepas kancing bluesnya, aku remas teteknya, mm.. gede.. kalo ga salah pasti 36c, masih kenceng bho.. ! Rita mengerang lirih, tangannya mulai mencari pegangan, kontolku.. ! diusap2nya dari luar jeansku.. akhirnya dia lepas zippernya.. dia lepas sabukku.. tangannya masuk mencari kontolku yang dah dari tadi tegak dan keras.. emang si kontolku nggak panjang2 amat, cuma 15cm/4cm, tapi setelah selama ini ternyata kuat dan banyak memberi kepuasan pada wanita, ahhh... lembutnya belaian rita.. membuat makin keras.. tak mau kalah.. aku pelorotin bra-nya rita aku jilat tetek besar itu.. aku gigit2 putingnya, aku isep dan aku sedot, tangan kananku meremas tetek kanannya dari belakang, dan tangan kiriku masuk ke dalam celana rita.. dia mengempiskan perutnya, seakan memberi jalan buat tanganku lebih masuk lagi, memang.. tanganku mulai masuk ke cd rita, dan lebih dalam, hmh.. terasa tak ada jembut, dicukur habis, jariku mulai mencari memeknya yang sudah lembab, ohh.. anget.. aku elus.. aku mainin klitorisnya.. dia melenguh sambil meremas dan mengocok kontolku lebih cepat..

"sayang.. Ahhh... aku mau dimasukin... tapi aku belum pernah" bisikku..

"Aku juga mau yang.. tapi gmn caranya.." jawabnya dengan pandangan sendu..

Aku melihat sekeliling.. pada asyik nonton semua.. lagian yg di deretan kiriku juga kelihatan pada asyik.. aku menatap mata rita.. dia kelihatannya mengerti.

"Rhino sayang.. pliss.. rita minta perjakamu sayang, rita akan lakukan apapun untukmu honey.." rita memohon di kupingku, sambil dijilatinya kuping dan leherku.

Ahh aku tak kuasa untuk menolak tapi juga ragu untuk memulai, aku sangat menginginkannya, tidak ada salahnya, toh rita cantik dan sexy..

Akhirnya aku pelorotin jeansku lalu cdku.. dia senyum.. aku tarik rita ke pangkuanku.. celana dan cdnya aku pelorotin juga..

Diraihnya kontolku yang dah berdiri keras.. ditempel ke memeknya.. dia gesek2.. ahhhhh.. rita sayang.. aku cumbu lehernya.. aku peluk dari belakang.. 2 teteknya aku remas dan aku mainin putingnya.. aku meremas dan mengelus.. dia mualai memasukkan kontolku ke memeknya yang sudah basah..

"aaarrgghhhh...rita sayang.. ennnak..." bisikku..

aku naik turunkan pantatku.. rita juga mulai memberi gerakan yang berlawanan.. ooghhh.. memek rita.. suami orang.. tapi masih saja sempit.. jepitannya membuat aku melayang.. dalam bioskop ini.. kamu saling menggenjot, tidak terlalu bersemangat, karena kami takut ada yang lihat.. gerakan kami saling mengimbangi, desahan kami saling bersahutan,, tapi lirih..dan pelan.. kupingnya aku jilat dan gigit kecil.. membuat rita semakin merintih halus.. mendesah nikmat.. saat dia menggerakkan pantatnya memutar.. kontolku berasa diremas dan dipijet.. aku sodok ke atas.. aku ikutin puteran pantat rita aku cubit2 kecil putingnya.. tangan kiriku mengelus perlahan ke perut rita.. dan terus mencari klitorisnya.. aku tekan-tekan.. aku beri cubitan kecil.. posisi kami memang memungkinkan untuk itu.. rita dipangkuanku.. menghadap kedepan.

"aahh.. rhino honey.. memek rita diapain.. kok enak banget sayang.." desahnya

Semakin liar tapi hening.. semakin bersemangat memberi jepitan dan sodokan.. hanya desahan2 kecil yang ada.. Gila.. sensasi ngentot di bioskop enak banget, takut ketahuan dan kelihatan orang menambah kenikmatan kami.. Apalagi ini penglaman pertamaku. Rita makin cepat menaik turunkan pantatnya, sesekali memutar.. aku juga semakin cepat menusuk memek rita, ahh.. keringat rita di leher aku jilat.. memang dingin di sini, tapi kami berdua basah oleh keringat birahi. "rhino.. rita mau keluar sayang.. cepat.. kita bareng.." "iya rita.. aku juga.. ahhhh lebih cepat.. jepit yang kuat sayang" goyangan pantatku ke memek rita makin cepat, rita juga.. sesekali terdengar bunyi derik tempat duduk kami.. sudah kepalang basah.. kami tak menghiraukan lagi akan takut ketahuan... aku genjot.. rita menjepit.. tangan kananku meremas buah dada besar itu.. tangan rita meremas rambutku.. semakin liar.. semakin cepat.. "aahhh..... ooghhhh.... rrhhhiiiii.... nnoooooo... rriii..taaa.. kellll...rgghh.." desah suara rita tertahan..

"aarrggggggghhhhhhh........ ouuugghhhhhhh.... ritaaaaaaaaaaaa.. "bales rintihku.. Aku keluar... spermaku muncrat tanpa sempat bertanya keluarin di dalam apa diluar.. croooott..... crroootttt.. ahhh menyemprot ruang2 vagina rita.. dan terasa memeknya membuat kedutan dan jepitan di kontolku... Kami lemas... dan kamipun kembali berciuman.. setelah membersihkan sisa cairan di masing-masing kelamin kami, lalu kami membereskan pakaian. Tak lama filmpun selesai, dan kami tidak tau sama sekali jalan ceritanya.. anda yang tau cerita kami..!

bubarnya film, kamipun keluar.. dan kami sepakat untuk menghabiskan malam itu berdua.. kami naik taxi ke sebuah hotel di daerah pramuka. Maaf pembaca.. cerita antara saya dan rita di hotel akan saya kirimkan dalam lanjutan kisah kami, dan saya mohon maaf kalau cerita ini kurang membuat anda "bergidik" mohon koreksi dan tanggapannya lewat email saya. Sekarang saya sesekali masih mencari sex partner walaupun saya sudah menikah dan punya seorang anak yg lucu dan cantik tapi pengalaman sex yang tanpa rencana terasa lebih nikmat, untuk anda ibu2 muda atau tante2 yang tertarik menikmatinya dengan saya silakan hubungi saya. Untuk Rita.. terima kasih atas pengalaman indah yang kamu ajarkan padaku.

TAMAT
Written by Henry
Pengirim: Henry (henry@yahoo.com)

TONY DAN YUNI  

1 komentar

"Edan!" Teriak gua seketika. Yuni, pacarku minta three-some.
"Tenang, loe kenal juga kok cewe ini." Lenny menenangkan gua.
"Gila loe! Loe panas ato apa?"
"Mas Tony, ayo donk. Gua janji kalo loe ngeliat dia bakal ngaceng deh! Kalo kaga, gua turutin apa aja loe mao deh."

"Emangnya sapa cewe itu? Kapan maunya" Tanya gua mulai entusias. Gua harap cewe itu si Amy, cewe gua punya cousin kalo bukan dia, si Monica, cousin Yuni dari keluarga lainnya.

"Ntar loe tahu aja deh. Besok gua bakal ke rumah loe agak telat and bawa cewe ini deh."

Gua masih inget waktu baru jadian ama die. Malem itu juga, gua hilangin dia punya keperawanan. Sejak itu pula, dia mulai Gila Sex. Pertamanya sih dia brontak and bilang kaga mao. Tapi habis rasain kontol gua masuk memek dia, langsung tiap kali ketemu minta kontol gua deh. Soal ngemut pun begitu, dia mulanya kaga mao juga tapi, akhirnya ketagihan juga dia ama rasa peju gua. Kadang-kadang kalo gua nyetir keluar kota di Indonesia barengan ama die, gua harus berhenti di pinggir jalan beberapa kali. Haus katanya. Minta peju gua terus tuh anak.

Malam itu gua kaga bisa tidur mikirin posisi-posisi dan kemungkinan yang ada untuk pesta besok. Akhirnya, gua kalah juga dengan nature dan tidur nyenyak malem itu. Pagi-pagi gua bangun and masih inget mimpi gue. Gue mimpi ngentot bertiga, gua, Amy dan Yuni. Gua siap-siap ke sekolah dan berangkat naik bus. Gua murid di satu skolah cowo di singapore dan karena adanya krisis moneter, gua dilarang naik Taxi ke sekolah. Gua tinggal sendirian dan temen gue banyak yang sering ke rumah gua untuk nonton bokep ato ngentot ama cewenya. Sampe di skolah gua nglamunin aja apa yang bakal terjadi nanti malam.

"Ting tong…" bel gua bunyi. Dalam hati gua tahu itu Yuni. Makan malem yang baru gua buat lansung gua simpen and gua open the door. Bener juga dugaan gua, itu si Yuni. "Kok sendirian Yun, mana temen loe?" gua tanya.

"Wah, Mas Tony udah ngebet yah? Tenang mas, dia setengah jam lagi dateng, dia bakal bawa teman loh…" Dia tersenyum nakal. Sapa lagi yang bakal ikutan. Kalo yang ikutan cowo, males ah pikir gua.

"Cowo ato cewe sih yang bakal ama dia?"

"Rahasia donk! Ntar loe tahu sendiri deh. Eh mana dinnernya?" Gua keluarin dinnernya and kita orang makan malam. Pas, gua abis cuci-cuci bel pintu bunyi lagi. Gua bukain pintu.

GILA! pikir gua. Semua yang bakal gua ngentotin ini malam cewe-cewe impian gua deh. Di depan pintu ternyata Amy dan Monica. Body Amy yang aduhai bikin gua ngiler, tapi muka cewe gua si Yuni memang paling cakep dari mereka bertiga, sementara si Monica ini kaya dua orang punya kelebihan digabung aja. Gua kaga bisa ngomong apa-apa. Gua cuman tercengang bengong ngeliatin mereka berdua. Yuni muncul dari belakang dan mempersilahkan mereka masuk. Sambil menutup pintu, Yuni mengelus adikku yang mulai keras. "As I told you Ton, you'll be fucked happy tonight." Katanya setengah berbisik.

Gimana mau tahan? Mereka berdua pakai baju ketat banget, apa lagi si Amy, gila dia punya breast, gede banget, si Monica pun juga gede tapi masih kalah sama 36D sih Amy. Cewe gua punya sih biasa aja, 33C. Si Monica pasti at least 35C. Tangan gua muali gatal, jadi gua permisi mao ke wc dengan alasan mao boker. Sampe di WC, adik gua langsung gua keluarin dan gua langsung aja ngocok. Sambil ngocok gua tutup mata ngebayangin ngentot ama tiga cewe ini. Tiba-tiba aja, pintu WC gua kebuka. Tiga cewe keren itu ngeliatin gua punya kontol nyemprotin peju ke lantai WC. Gua shock and malu. Langsung aja gua buru-buru sembunyiin adik gua ke dalam celana dalem gua.. Rupanya si Yuni ngambil kunci serep WC dan membuka pintu WC ini.

"Eh kita lagi enak-enak nonton kok di sembunyiin sih?" Tanya Amy dengan nada sexy. "Iya tuh." sambung Yuni dan Monica bersamaan. Gua cuman bisa diem aja. Amy masuk kedalam diikutin ama Yuni dan Monica. Gua berdiri, belon sempat pake jeans gua, dan mao balik ke kamar, di stop oleh Amy. Tangannya masuk ke dalam celana gue dan mulai mengelus-ngelus adik gue. Adik gue langsung aja bangun dan siap kerja. Mereka bertiga kelihatannya lumaya terkesan dengan adik gue. Sambil ngelus, ngelus pelan, Amy terkadang meremas dengan lembut. Enak banget rasanya. Tiba -tiba aja, si Amy narik adik gua dengan tujuan agar gua ikutin dia keluar. Genggammanya yang kuat dan tarikannya yang tiba-tiba, membuat gua merasa sedikit tidak enak.

Sampe di kamar, dia langsung dorong gua ke ranjang. Si Amy sendiri mulai melepas bajunya dan rok mininya. Ternyata dia kaga pake BH ato celana dalam. Gila, dia punya buah dada dan perut kencang banget. Jumbutnya pun dicukur abis, kaya anak kecil. Dia langsung tarik turun celana dalam gua dan mulai kasih gua blow job. Mulutnya bergerak naik turun, dan badannya berada diatas gua. Memeknya ditaruh di depan muka gua seolah-olah minta dijilat. Gua menoleh dan memandang ke arah Yuni. Yuni ternyata sudah lagi 69 dengan Monica. Yuni melirik ke arah gua seolah mengerti kalo gua minta persetujuan dia untuk jilatin and ngentontin si Amy. Dia kaga tanya ato apa-apa, cuman ngangguk dan menerusin pekerjaanya. Gua buka kaos gua dan langsung jilatin si Amy. Pertama mulai dari vaginanya, tapi dalam satu gerakan, gua sekaligus sentuh dia punya clitoris. Dia sudah basah banget.

Amy langsung aja mendesah, "Ohh Ton, lick me there, suck my cunt! Lick my Clit! Make me cum!" tangan gua yang dari tadi diam mulai main dengan pentilnya. Efeknya kaga perlu nunggu lama-lama. Sebuah aliran deras membasahi mukaku dan untuk sementara gerakan mulut Amy berhenti. Rupanya Amy sudah climax. Amy kemudian melanjutkan blow jobnya, tapi gua suruh dia berhenti. Gua suruh dia tiduran di ranjang sebentar. Gua pergi ke lemari nyari kondom gua tapi kaga ketemu. Gua langsung aja teriak, "Eh gimana nih, kondom gua udah habis."

Si Amy cuman ketawa dan bilang, "Tenang aja Mas Tony kita-kita ini pake pil kok. Selaen itu, kita-kita ini dijamin kaga ada penyakit loh." Gua langsung aja balik ke ranjang dan menciuminya. Dia pun membalas ciumanku dengan ganasnya. Tanpa perlu ku arahkan lagi, homing missile gua langsung gua masukin vaginanya, vaginanya yang basah dengan sedia menerima kontol gua yang gede itu. Tapi baru masuk sedikit gua mulai merasakan hambatan yang berada di dalam lubang cintanya itu.

"Loe masih perawan toh, loe yakin kasih gua masuk." Tanya gue. Kalo dia bisa jaga keperawanannya selama ini, gua salut dan menghargai keteguhan imannya.

"Masukin donk Ton, gua mohon. Yang lain pada kecil jadi gua kaga kasih masuk. Loe punya gede sih jadi pasti enak." Jawabnya dengan suara yang memelas.

"Siap yah, pertama bakal sakit loh."

"Iya iya… cepetan donk."

Gua langsung tancepin masuk gua punya adik. Mukanya menunjukkan rasa sakit. Kubiarkan adik gua beristirahat di dalam lubang cinta itu sesaat untuk membiarkan Amy terbiasa dengan adik gua dulu. Sementara itu gua mulai meciumi dan memencet serta memaini payu dara si Amy. Si Amy mulai mendesah keenakan. Mukanya yang penuh sakit sudah hilang. Sementara itu erangan Yuni dan Monica pun semakin keras dan dalam waktu sekejap erangan berganti dengan teriakan-teriakan "I'm cumming" "Enak" "Gua climax" dan sebagainya, akhirnya mereka pun diam. Gua pun mulai maju mundurin pinggul gue. Gerakan gua itu membuat Amy mendesah "ooh… nice… wonderful…", semakin cepat tempo gua, semakin keras juga erangannya. Gua menurunkan bagian atas badan gua untuk menciumi buah darahnya yang indah. Amy menaruh kedua tangannya di belakang kepala gua. Dalam posisi begitu, gua angkat dia dan seluruh berat badan dia bertumpang di pantatnya yand kupegang. Kudorong badannya ke dinding dan ngen! totin dia sambil berdiri. Kakinya memeluk perut gua. Dalam posisi ini, gravitasi pun membantu gerakan kami dan kontol gua serasa masuk semakin dalam. Setelah lima menit berlalu, gua merasakan gua bakal kaga lama lagi klimaks, gua langsung kasih tahu Amy. Jawabannya cuma, "Ton, Fuck harder… kerasan donk… tancap gas Ton… fuck me like a slut Ton." Mendengar kata-kata kotornya, gua semakin bergairah. Gerakan gua semakin cepat dan akhirnya gua merasakan otot-otot Vaginanya mulai kencang, gua percepat gerakan gua dan akhirnya gua rasain gelombang deras menabrak adikku. Akhirnya gua tidak tahan lagi. Gua mulai menyemprotkan peju gua. Semprot demi semprot masuk ke dalam lubang cinta Amy.

Kami berdua kelelahan dan akhirnya berbarin di ranjang beberapa untuk istirahat. Belon puas beristirahat, Monica datang, rupanya setelah main 69 dengan Yuni tadi dia masih belon berpakaian. Melihat badannya yang aduhai dan mukanya yang manis, membuat darahku mendidih penuh nafsu.Dengan sebuah elusan mesra, adik gua yang sudah capek akhirnya bangun lagi.

"Strong dick!" komentar Monica. "As I said!" balas Yuni.

Setelah itu dia langsung memasukkan kontol gua ke dalam mulutnya, dan seperti vacuum cleaner, kontol gua disedotnya. Gua cuman bisa mendesah kecil. Kemudian dia langsung bilang, "Fuck me in the ass." Gua langsung ke lemari ngambil baby oil, gua olesin baby oil di kontol gua dan dipantatnya. Pelan-pelan gua masukin kontol gua ke lubangnya dengan posisi doggy style. Setelah kontol gua masuk semuanya, gua mulai ngentotin dia pelan-pelan. Dengan irama yang pelan, buah dadanya yang keren itu bergesekan dengan permukaan meja gua. Setiap kali buah dadanya bergesek dengan meja, otot-otot vaginanya semakin kencang. Gua biarin begini terus untuk lima menit. Akhirnya dua tangan gua buah dadanya dan gua mainin. "Ooh… ooh… yes baby… do it … yes… pinch my nipple… oh yes… Ton, I'm cumming soon." Tangan kiri gua mulai main dengan clitorisnya sementara tangan kanan gua memainkan pentil dan payudaranya, sementara gua fuck dia di pantatnya dengan lebih cepat. Akhirnya dia teriak " YYESSS! I'M! CUMMING!!" Setelah itu dia lansung mengemut gua punya kontol sekali lagi.Sesekali dia menghisap seperti vacuum cleaner. Amy dan Yuni sambil nonton, mereka finger fuck each other.

Melihat pemandangan yang erotic ini gua langsung mulai merasakan tanda-tanda mulai akan klimaks. Gua coba kasih tahu Monica, tapi dia diem aja dan tetap ngisap gua. Akhirnya semprotan demi semprotan ditelannya dan sampai adik gua mulai lemah pun masih dia hisap, seolah-olah seperti cerutu aja di mulutnya. Akhirnya Yuni dan Amy pun mencapai klimaks.

Gua bener-bener cape udahan. SewaktuYuni mendatangi gua, gua cuman bisa geleng kepala tanda tak kuat lagi. Tapi Yuni tidak putus asa. Dia ciumi gua dan mengikuti jejak Yuni, mereka juga mulai menciumi gua sambil memainkan kontol gua. Setelah begitu sampe lima belas menit, mereka akhirnya putus asa juga. Tapi Yuni tersenyum nakal. Dia memanggil cousin-cousinnya dan mengajak mereka keluar. Mereka kembali berpakaian. "Yuni pasti marah deh," pikir gua. "Kenapa sih adik gua kaga bangun-bangun pikir gua lagi. Lima menit kemudian, mereka bertiga masuk lagi, kali ini mereka membawa satu CD. Gua mulai bertanya-tanya apa yang mereka maukan. Akhirnya setelah nyalain CD, mereka mulai berdansa, dan akhirnya mereka bertiga give me a strip tease show. Adek gua yang udah loyo bangun lagi kaya tugu Monas. Walaupun sudah melihat gua ready, mereka tidak stop dancing sampe akhirnya mereka telanjang lagi.

"Ton, kita bertiga udah siapin rencana supaya kita berempat bisa fucking in one go. Mao ngga?" tanya Yuni

"Masih tanya lagi. Tentu saja mau donk!" jawab gua dengan penuh intusias. Mereka semua mulai merunduk dalam posisi doggy style di tanah. Satu di belakan satunya. Akhirnya paling belakang adalah Yuni. Gua langsung ngerti maksud mereka. Sewaktu gua fuck Yuni, dia langusng lick Amy, dan akhirnya Amy bakal lick Monica.

Gua langsung siap dan langsung aja fuck Yuni dari belakang. The chain reaction pun mulai akhirnya kami berempat mengerang keenakan. Aku pun menemukan memek kesukaanku. Biarpun sudah sering gua bobolin, tapi memek Yuni yang satu ini memang benar-benar kencang. "Ahhhh… ohhh…" kita berempat terus menerus mengerang. Setelah 7 menit, akhirnya cewe-cewe ini dapetin klimaks mereka. Amy dan Monica sudah KO. Gua juga ngeliat, kalo Yuni sudah capek.

"Yun, loe cape ya?"

"Iya nih, tapi loe blon klimaks, terusin aja."

"Ngga deh Yun, ntar loe sakit."

"Mas Tony memang baek deh. Gini aja mas, gua kasih loe breast fuck gua aje ok?"

Dengan senang hati gua menerimanya. Gua mulai menyiram baby oil ke dada Yuni yand sedang rebah di ranjang. Badannya kini mengkilap oleh pantulan cahaya lampu. Gua tekan dua buah payudara tersebut agar mendekat. Akhirnya, dibawah sepasang payudara itu gua masukin kontol gua. Gua sekarang maju mundur kaya kesetanan, Amy dan Monica pun mendekat. Setiap kali kontol gua tembus, mereka pasti mejilat kepalanya. Setelah 8 menit, gua tidak tahan lagi, melihat gelagat ini Yuni langsung berdiri dan berusaha untuk menghisapnya. "Argh…" teriak gua. Semprotan pertama mengenai tenggorokannya dan semprotan kedua mengenai mukanya, semprotan-semprotan berikutnya ditelan habis-habis oleh Yuni. Peju gua yang tidak masuk mulutnya mulai turun ke payudaranya. Amy dan Monica mulai membersihkannya sementara gua menciumnya dan merasakan rasa peju gua. Akhirnya mereka semua menginap semalam dirumah gua. Hari itu jumat malam. Besoknya adalah hari libur. Apa saja yang terjadi besok pasti keren deh…

"Bagi yang suka cerita ini, mohon kirim email ke Saint_31@yahoo.com dan kasih komentar. Saya akan mulai membuat cerita kedua jika menerima dukungan dari saudara/saudari sekalian. Cerita yang anda baca tadi adalah fiksi. Jika kejadian tersebut mirip/sama dengan sesuatu yang terjadi sebenarnya, itu hanyalah kebetulan saja."

TAMAT
Pengirim: Saint_31 (Saint_31@yahoo.com)

Traning Nikmat  

2 komentar

Kisah ini berawal ketika aku sering ditugaskan kantorku ke luar kota untuk mengikuti training, melakukan negosiasi dan maintain pelanggan yang umumnya adalah perusahaan asing.

Oh ya, saya John, 32 tahun, berkeluarga dan tinggal di wilayah timurnya Jakarta. Bekasi kali ye. Sebetulnya sejauh ini tidak ada yang kurang dengan keluarga dan profesiku sebagai orang marketing. Sebagai tenaga penjual dengan berbagai training yang pernah kuikuti aku tidak pernah kekurangan teman, pria maupun wanita. Di mata istriku aku adalah seorang ayah yang baik, penuh perhatian dan selalu pulang cepat ke rumah. Namun di balik itu, sebuah kebiasaan, yang entah ini sudah kebablasan, aku masih suka iseng. Iseng dalam arti awalnya cuma ingin memastikan bahwa ilmu marketing ternyata bisa diterapkan dalam mencari aPapaun termasuk teman cewek, hehehe..

Marketing menurutku bersaudara dengan rayu merayu customer, yah si cewek tadi juga bisa tergolong customer. Anyway, Anne adalah orang kesekian yang masuk perangkap ilmu marketing versi 02 (versi 01 adalah customer beneran). Anne gadis berkulit putih berusia 23 tahun, lulusan universitas ternama, tinggi 167, berat 50, (buset, kapan gue ngukurnya ya). Ukuran bra gak hapal, karena sebetulnya aku lebih terkonsentrasi dengan yang di balik bra itu. Mojang Bandung ini kukenal dalam sebuah training di Puncak, Bogor. Dia dari sebuah perusahaan Periklanan di seputaran Sudirman Jakarta dan aku dari perusahaan konsultan Manajemen di sekitar Casablanca, juga di Jakarta. "Hai Anne, tadi kulihat kamu ngantuk ya?" kataku ketika rehat kopi sore itu di sebuah training yang kuikuti. "Iya nih, gue ngejar deadline 2 hari dan boss langsung nyuruh ke training ini" katanya. "Kemari dengan siapa?" kataku menyelidik "Sendiri.., napa, elo diantar ama bini ya?" Buset dah ketahuan nih gue udah punya bini. "Ah, enggak, gue sama Andre.. tuh.." kataku sambil menunjuk Andre yang sedang asyik ngobrol dengan peserta lain. "Lo sendiri kok gak ngantuk sih?" "Gimana bisa ngantuk sebelah gue ada cewe cakep, hehehe.." "Ah, masa? Siapa?" Ye, pura pura dia, pikirku. "Itu tuh, yang tadi ngantuk.." "Ah, sialan lo.." sambil tangannya mencubit lenganku.

Usai sesi yang melelahkan sore itu, kami kembali ke kamar masing masing. Aku antar dia sampai pintu kamarnya dan janjian ngobrol lagi sambil makan malam. "Hmm..elo kok nggak bawa jaket An?" kataku ketika dia kulihat agak meringkuk kedinginan di meja makan. "Iya nih, buru buru.. kelupaan" "Aku masih punya satu di kamar, biar aku ambilkan" "Oh, gak usah John.. toh cuma sebentar.." Tapi aku keburu pergi dan mengambilkan baju hangatku untuknya. "Thanks, John.. elo emang temen yang baik" katanya sambil mengenakan sweater. Aku membayangkan seandainya aku jadi sweater, heheheh.. Usai makan nampaknya dia buru buru ingin masuk ke kamar. Anne tidak menolak ketika aku menawarkan mengantarkannya. Di depan pintu kamar dia malah menawarkan aku masuk, pengen ngobrol katanya. Alamak, pucuk dicinta ulam tiba. Aku pura pura lihat jam.

Masih jam besar 20.15. "Lain kali aja deh, gak enak kan ntar apa kata teman teman" kataku agak nervous tapi dalam hati aku berdoa, mudah mudahan dia tidak basa basi. "Cuek aja John, kita kan ada tugas bikin outline.." Memang kebetulan aku dan Anne satu group dengan 3 orang lainnya, tetapi tugas itu sebetulnya bisa dikerjakan besok siang. Akhirnya aku masuk, duduk di kursi. Anne menyetel TV lalu naik ke ranjang dan dengan santai duduk bersila. "Gimana An, kamu udah punya gambaran tentang tugas besok?" kataku basa basi. "Belum tuh, males ah ngomongin tugas, mending ngobrol yang lain saja" Horee.. aku bersorak, pasti dia mau curhat nih. Bener juga. "John, gue jadi inget cowok gue yang perhatian kayak elo..sama bini elo juga begitu ya?" "Yah, Anne.. biasa sajalah, sama siapa siapa juga orang marketing harus baik dong, apa lagi sama cewe kayak elo.. hehehe.." "Tapi gue akhirnya mengerti kalau cowo perhatian itu gak hanya punya satu cewe, tul gak sih?" "Tergantung dong An, buktinya gue punya bini satu, hahaha.." "Tapi kayaknya elo juga punya cewe lain.. ya kan?" "Kok tau sih?" kataku pelan. Aku jadi ingat Vina mahasiswi yang minta bantuanku menyelesaikan skripsinya dan akhirnya bisa tidur dengannya. Tapi sungguh, aku tidak merusaknya karena aku mengenalnya dengan cara baik baik dan dia tetap virgin sampai akhirnya menikah. "Stereotip saja, berbanding lurus dengan keramahan dan perhatiannya" katanya lagi dengan senyum yang genit. "Kenapa emang An, elo lagi ada masalah dengan cowo lo yang ramah itu?" "Justru itu John, gue lagi mikir mau putus sama dia. Eh, sori kok malah curhat.." "Santai aja An, setiap orang punya masalah dan banyak cara menghadapinya" kataku seolah psikolog kawakan. "Gue melihat dia jalan ama temen gue, dan kepergok di kosan temen gue itu" "Trus?" "Gue gak bisa maafin dia.." "Ya, sudah mungkin kamu masih emosi saja, santai saja dulu masih banyak pekerjaan. Toh kalau jodoh dia pasti pulang ke pangkuanmu.." kataku. "Kadang gue pengen balas aja, selingkuh sama yang lain, biar impas.." "Hmm.. tapi itu kan gak menyelesaikan?" "Biar puas aja.." Tiba tiba dia menangis. Wah gawat nih, pikirku. Aku mendekat dan berusaha membujuknya. Lalu entah bagaimana ceritanya aku sudah memeluknya. "An, jangan nangis, entar orang orang pada dengar" Bukannya mereda, tangisnya malah makin keras. Kudekap dia sehingga tangisnya teredam di dadaku. Jantungku berdebar tak karuan. Telunjukku menyeka air matanya. Kupandangi wajahnya. Bodoh amat nih cowoknya, cewe cakep begini kok disia siakan pikirku. Dan tanpa sadar aku mencium pipinya, dia melihatku dengan mata sayu lalu tiba tiba Anne membalas dengan kecupan di bibir. Wah, seperti keinginan gue nih, pikirku dalam hati. Dan seperti kehilangan kontrol akupun membalas menghisap bibir mungil yang harum dan merekah itu. Anne membalas tidak kalah hotnya. Napasnya terengah engah tanda napsunya mulai naik. Dengan lembut kutidurkan dia. Dan dengan lembut pula tanpa kata kata, dari balik sweater aku sentuh kedua bukit kembar menantang itu. Anne mendesis desis. "Terus John, perhatian elo bikin gue jadi wanita.." "Tenang sayang, wanita seperti kamu memang pantas diperhatikan.. hmm?" Seperti minta persetujuannya, perlahan aku angkat sweater dan tshirtnya. Sekarang kedua bukit kembarnya terbuka. Buset dah, putingnya sudah menonjol keras dan tak ada waktu lagi untuk tidak menyedotnya. Aku memang paling hobby menetek dan menghisap benda terindah di dunia ini. Anne terus mendesis desis.

Tangannya juga sudah menggenggam senjataku yang mulai mengeras. "Uh.. ahh.. uh.." "Anne.. tubuhmu indah sekali.." Kataku memuji seperti halnya memberi pujian kepada customer perusahaanku. "Ayo, John.. jangan dilihat saja, aku rela kamu apakah saja.." "Iya, sayang.." kataku, sambil tanganku merogoh bagian depan celana jinnya. Tangannya membantu membuka retsileting dan dengan cepat Anne sudah terlihat dengan CD warna kremnya. Hmm, seksi sekali anak ini, pikirku. Hmm..dari balik CD-nya terlihat bulu bulu halus dan hitam legam. Uh, aku sudah tidak sabar lagi namun dengan tenang aku mengelusnya dari luar. Anne menggelijang, matanya terlihat saya menahan gejolak. Perlahan kuturunkan CD-nya. Uh, sodara sodara, tercium aroma yang sangat kukenal, dia pasti merawat benda yang paling dicari semua laki laki ini dengan baik. "Anne.. boleh aku cium?" bisikku pelan. Anne mengangguk lemah dan tersenyum. Perlahan Anne merenggangkan kedua kakinya. Pasrah. Dengan kedua jariku, kubuka vaginanya dan terlihat klitorisnya yang merah merekah. Basah. Sungguh indah dan harum. Kujulurkan lidahku di sekitar pahanya sebelum mencapai klitorisnya. Anne mendesis desis dan mulai meracau dan terlihat seksi sekali. "Ayo, John.. jangan buat gue tersiksa.. terus ke tengah sayang.." Aku malah menjilat bagian pusernya membuat dia uringan uringan dan makin bernafsu. Bermain sex memang perlu teknik dan kesabaran tinggi yang membuat wanita merasa di awang awang. "Johnn.. gila lo, ke bawah sayang.. please.." "Hmm.. iya nih, gue emang udah gila melihat memek yang indah ini sayang" kataku terengah engah. Akhirnya lidahku hinggap di labia mayoranya. Kusibak dengan lembut rimbunan hutan yang sudah becek itu. Kuhurip cairan yang meleleh di sela selanya. Kelentitnya kuhisap seperti menghisap permen karet. Akibatnya pantatnya terangkat tinggi dan Anne menjerit nikmat. Lidahku terus merojok sampai ke dalam dalamnya. Kuangkat pantatnya dan kupandangi, lalu kusedot lagi. Anne berteriak teriak nikmat.

Aku jadi kuatir kalau suaranya sampai keluar. Kupindahkan bibirku ke bibirnya. "Tenang sayang, perang baru dimulai.." Kataku berbisik. Ia mengangguk dan perlahan aku putar posisi menjadi 69. Posisi yang paling aku sukai karena dengan demikian seluruh isi memeknya terlihat indah. Batangku juga sudah terbenam di bibirnya yang mungil dan terasa hangat serta nikmat sekali. Kutahan agar aku tidak meletus duluan. "Punya kamu enak John.." Pujinya layaknya memuji Customer. "Iya, sayang punya kamu lebih enak dan baguss sekali.." kataku terengah engah. "Uh, becek sayang.." Aku lanjutkan menjilat seluruh permukaan memeknya dari bawah. Uh, benar pemirsa, siapa tahan melihat barang bagus dan cantik ini. Yang luar biasa, aku yakin dia masih perawan. Bentuk kemaluannya menggelembung dan benar benar seperti belum pernah tersentuh benda tumpul lain. "Anne.. kamu masih perawan sayang.." "Iya, John.. gue belum pernah.." "Iya, kamu harus jaga sampai kamu menikah.." "Gue gak tahan John, cepetan sayang.." Sungguh, meski banyak kesempatan aku belum pernah berpikir memerawani cewek baik seperti Anne ini, kecuali istriku. Wanita yang kutahu sedang stress dan sedang mencari pelarian sesaat ini harus ditenangkan. Akan buruk akibatnya ketika dia sadar bahwa keperawanannya diberikan kepada orang lain yang bukan suaminya. Aku percaya jika sudah mencapai orgasme dia justru akan berterima kasih dan menginginkannya lagi. Kembali kujelajahi kemaluannya. Cepat cepat aku jilat berulang ulang klitorisnya. Dan sodara pemirsa, apa kataku, pantatnya tiba tiba menekan keras wajahku dan mengejang beberapa kali..lalu mengendur. "Uuhh.. gue nyampe Johnn.. aahh.. uhh.. uhh.." Masih dalam posisi 69, Anne terdiam sesaat, kulihat kemaluannya masih merekah merah. Perlahan ia mulai bangkit dan mngecup bibirku. "Sorry sayang, gue duluan.." "No problem Anne.. kamu merasa mendingan?" Ia mengangguk, memelukku dan mencium bibirku. "Terima kasih John, elo emang hebat.." "Iya nih, Ann, gue minta maaf jadi telanjur begini.." "Gak Papa kok, gue juga senang.." Kami mengobrol sebentar namun tangannya masih menyentuh nyentuh batangku.

Ia mengambilkanku minuman dan menyorongkan gelas ke bibirku. Ketika tegukan terakhir habis, bibirku perlahan mengulum bibirnya. Putingnya mulai mengeras dan aku mulai aksi sedot menyedot seperti bayi. Anne kembali menggelijang. Aku bisikkan perlahan, "Anne.. gue pengen menggendong kamu sayang". "Hmm..mulai nakal ya.." katanya dan merentangkan tangannya. Aku peluk dan angkat dia lalu kusenderkan ke dinding dekat meja rias. Dari balik cermin kulihat pantatnya yang montok dan mulus itu, membuat gairahku meledak ledak. Dengan posisi berdiri, tubuhnya sungguh seksi. Aku perhatikan dari atas ke bawah, sungguh proporsional tubuhnya. Segera kusedot putingnya dan jariku sebelah kiri segera mengelus rimbunan hutan lebatnya. Basah, hmm..dia mulai naik lagi. Klentitnya kupilin pilin pelan dan Anne mendesis seperti ular. Making love sambil berdiri adalah posisi favoritku selain 69.

Perlahan sebelah kakinya kuangkat ke kursi pendek meja rias dan terlihatlah belahan memeknya yang merah merekah, indah dan seksi sekali Kuturunkan kepalaku dan segera kutelusuri paha bawahnya dengan lidahku. Dari bawah aku lihat wajahnya mendongak ke atas menahankan nikmat. Sungguh saat itu Anne kelihatan sangat seksi. Sebelum lidahku mencapai kelentitnya, aku sibakkan labia mayoranya dengan kedua Ibu jari. Hmm.. sungguh harum. "Cepat John.. gue udah gak tahan.. jilat sayang.. jilat.." Benar benar nikmat melihatnya tersiksa, namun sebetulnya aku lebih tersiksa lagi karena batangku sudah mengeras bagaikan batu. Aku nyaris tak bisa menahan klimaks, namun aku harus membuatnya orgasme untuk kedua kalinya. Benar saja, begitu lidahku menyedot klitorisnya, Anne langsung mengejang dan berteriak pertanda orgasme. Kusedot habis cairannya.

Luar biasa, aku menikmati ekspresinya ketika mencapai orgasme dan itu jugalah puncak orgasmeku. Cepat aku berdiri dan aku tekan batangku ke sela sela pahanya dan seketika muncratlah semua. crott.. crott..! Wuahh.. "Oh John, kita keluar bersamaan sayang.." "Iya, enak banget An.. elo membuat gue gila.." "Sama.., gue berterima kasih elo menjaga gue.." "Gue sayang kamu An.." ***** Pemirsa, begitulah ceritanya. Tak selamanya seks harus membobol gawang. Setelah kejadian itu Anne makin ketagihan. Dia sangat terkesan bisa mencapai orgasme tanpa merusak keperawanannya. Dia juga menyukai posisi 69 dan posisi berdiri yang bisa mirip 69. Kadang kadang aku datang ke kantornya dan hanya dengan mengangkat roknya aku menjelajahi area area sensitifnya secara cepat dan efisien. Dan pada saat yang sama aku juga mencapai orgasme. Masih ada Vina dan Dina yang ketagihan seperti Anne. Aku selalu bilang pada wanita wanita berpendidikan itu bahwa suatu saat mereka akan menikah dan aku berjanji tidak akan memerawaninya. Cukuplah 69!

Tamat
Pengirim: resender (resender@yahoo.com)

Tugas Baru Pembantu Rumahku  

1 komentar

Aku adalah seorang ayah dari 2 orang anak lelaki yang berusia 9 dan 4 tahun. Isteriku bekerja sebagai pengarah di sebuah syarikat swasta. Kehidupan rumah tanggaku harmoni dan bahagia, kehidupan seks-ku dengan isteriku tidak ada masalah sama sekali.

Kami memiliki seorang pembantu, Sumiah namanya, berumur kurang lebih 23 tahun, belum kawin dan masih segar karena kami dapatkan terus dari kampungnya di Jawa Timur. Wajahnya biasa saja, tidak cantik, juga tidak hodoh, kulitnya bersih dan putih terawat, badannya kecil, tinggi kira-kira 155 cm, tidak gemuk tapi sangat ideal dengan bentuk tubuhnya, buah dadanya juga tidak besar, hanya sebesar nasi di Kentucky Fried Chicken.

Cerita ini terjadi pada tahun 1999, bermula ketika aku pulang dari kerja kira-kira pukul 2 p.m, jauh lebih cepat dari biasanya yang pukul 7 p.m. Anak-anakku biasanya pulang dengan ibunya pukul 6:30 p.m, dari rumah neneknya. Seperti biasanya, aku terus menukar seluarku dengan kain pelikat kegemaranku yang tipis tapi jarang, tanpa seluar dalam. Pada saat aku keluar bilik, nampak Sumiah sedang menyiapkan minuman untukku, segelas besar teh limau ais.

Pada saat dia memberikan padaku, tiba-tiba dia tersandung karpet di depan sofa di mana aku duduk sambil membaca paper, gelas terlempar ke tempatku, dan dia tersembam tepat di pangkuanku, kepalanya mencium keras kemaluanku yang hanya bersarung tipis. Spontan aku mengaduh kesakitan dengan badan yang sudah basah kuyup tersiram teh limau ais, dia bangun membersihkan gelas yang jatuh sambil memohon maaf tidak henti-hentinya.

Mulanya aku marah, namun melihat wajahnya yang sayu aku jadi kasihan, sambil aku memegang kemaluanku aku berkata, "Sudahlah tidak apa-apa, cuman benda jadi sengal", sambil menunjuk ke kemaluanku.
"Sum bagaimana Pak?" tanyanya bodoh.
Aku berdiri hendak mengganti kain pelikat, menyahut sambil tegas, "Ini mesti diurut nih!".
"Ya, Pak nanti saya urut, tapi Sum berkemas ini dulu Pak!" jawabnya.

Aku terus masuk bilik, perasaanku saat itu kaget bercampur senang, karena mendengar jawaban pembantuku yang tidak disangka-sangka. Tidak lama kemudian dia mengetuk pintu, "Pak, Mana Pak yang harus Sum urut...". Aku langsung rebah dan membuka sarung tipisku, dengan kemaluanku yang masih lembik. Sum menghampiri tepi tempat tidur dan duduk.
"Pak, nak pakai apa Pak?" tanyanya.
"Pakai tangan aja, tak boleh panas!" jawabku.

Lalu dia meraih batang kemaluanku perlahan-lahan, sekonyong-konyong kemaluanku bergerak tegang ketika dia menggenggamnya.
"Pak, kok jadi besar?" tanyanya kaget.
"Wah itu bengkaknya mesti cepat-cepat diurut. Gunakan air liurmu supaya tidak kesat", kataku sedikit tegang.
Dengan tenang wajahnya mendekati kemaluanku, diambilnya ludah dari mulutnya dan mengelapkan di batang kemaluanku.
"Ah.. kurang banyak", bisikku bernafsu.

Kemudian kuangkat pelirku, sampai kepala pelirku menyentuh bibirnya, "Masukkan saja ke mulutmu, tidak susah nak urut nanti, dan cepat hilang bengkak!", perintahku seenaknya.

Perlahan dia memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya, kepalanya kutuntun naik turun, awalnya kemaluanku kena giginya terus, tapi lama-lama mungkin dia terbiasa dengan irama dan tusukanku. Aku merasa nikmat sekali. "Akh.. uh.. uh.. hah.." Kulumannya semakin nikmat, ketika aku mau keluar aku bilang kepadanya, "Sum nanti kalau aku keluar, jangan dimuntahkan ya, telan aja, sebab itu obat buat kesehatan, bagus sekali buat kamu", bisikku. "Hepp.. ehm.. hpp", jawabnya sambil melirikku dan terus mengulum naik turun.

Akhirnya kulepaskan semua air maniku. "Akh.. akh.. akh.. Sum.. Sum.. enakhhh.." Pada saat aku menyemprotkan air maniku, dia diam tidak bergerak, wajahnya meringis merasakan cairan asing membasahi kerongkongannya, hanya aku saja yang membimbing dan menahan kepalanya agar tetap tidak melepas kulumannya.

Setelah aku lemas baru dia melepaskan kulumannya, "Udah Pak?, apa masih sakit Pak?" tanyanya bodoh, dengan wajah yang merah, bibirnya yang basah memerah, dan sedikit berkeringat. Aku tertegun memandang Sum yang begitu menggairahkan saat itu, aku duduk menghampirinya, "Sum kamu sakit ya, apa kamu mau tahu kalau kamu diurut juga kamu boleh segar seperti Bapak sekarang!"
"Tidak Pak, saya tidak sakit, apa benar kalau diurut seperti tadi, boleh jadi segar? tanyanya semakin galak. Aku hanya menjawab dengan anggukan dan sambil meraih mukanya kucium keningnya, lalu turun ke bibirnya yang basah dan merah, dia tidak meronta juga tidak membalas. Aku merasakan keringat dinginnya mulai keluar, ketika aku mulai membuka kancing bajunya satu persatu, sama sekali dia tidak berontak hingga tinggal panties dan bra saja.

Tiba-tiba dia berkata, "Pak, Sum malu Pak, nanti kalo Ibu datang bagaimanaPak?" tanyanya takut. "lah... Ibu kan baru nanti pukul enam, sekarang baru pukul tiga, jadi kita masih boleh segarkan badan", jawabku penuh nafsu. Lalu semua kubuka tanpa penutup, begitu juga aku, kemaluanku sudah mulai berdiri lagi. Dia kurebahkan di tepi tempat tidur, lalu aku melutut di depan kemaluannya yang masih tertutup rapat, "Buka pelan-pelan ya, tidak apa-apa , aku cuma mau urut pantat kamu", kataku meyakinkan, lalu dia mulai membuka pangkal pahanya, putih, bersih dan sangat sedikit bulunya yang mengelilingi liang kewanitaannya, hampir botak.

Dengan ketidaksabaranku, aku langsung menjilat bibir luar pantatnta, tanpa henti aku jilat, sesekali aku sodokkan lidahku ke dalam, "Akh.. Pak geli.. akh.. akuhhfh.." Klitorisnya basah membengkak, berwarna merah jambu. Aku hisap, hanya kira-kira 5 menit kulumat liang pantatnta, lalu dia berteriak sambil menggeliat dan menjepit kepalaku dengan pahanya serta matanya terpejam. "Akh.. akh.. uahhh.." teriakan panjang disertai mengalirnya cairan dari dalam liang pantatnya yang terus kujilati sampai bersih.

"Bagaimana Sum, enak?" tanyaku nakal. Dia mengangguk sambil menggigit bibir, matanya basah kutahu dia masih takut. "Nah sekarang, kalau kamu sudah tahu enak, kita coba lagi ya, kamu nggak usah takut!". Kuhampiri bibirnya, kulumat, dan dia mulai memberikan reaksi, kuraba buah dadanya yang kecil, lalu kuhisap-hisap puting susunya, dia menggelinjang, lama kucumbui dia, hingga dia merasa rileks dan mulai memberikan reaksi untuk membalas cumbuanku, kemaluanku sudah tegang.

Kemudian kuraba liang pantatnya yang ternyata sudah berlendir dan basah, kesempatan ini tidak kusia-siakan, kutancapkan kemaluanku ke dalam liang pantatnya, dia berteriak kecil, "Aauu.. sakit Pak!". Lalu dengan perlahan kutusukkan lagi, sempit memang, "Akhh.. uuf sakit Pak..". Melihat wajahnya yang hanya meringis dengan bibir basah, kuteruskan tusukanku sambil berkata, "Ini tidak lama sakitnya, nanti lebih enak dari yang tadi, sakitnya jangan dihiraukan sangat.." tanpa menunggu reaksinya kutancapkan kemaluanku, meskipun dia meronta kesakitan, pada saat kemaluanku terbenam di dalam liang surganya kulihat matanya berair (mungkin menangis) tapi aku sudah tidak memikirkannya lagi, aku mulai mengayunkan semua nafsuku untuk si Sum.

Hanya sekitar 5 menit dia tidak memberikan reaksi, namun setelah itu aku merasakan denyutan di dalam liang pantatnya, kehangatan cairan liang kewanitaannya dan erangan kecil dari bibirnya. Aku tahu dia akan mencapai klimaks, ketika dia mulai menggoyangkan pantatnya, seolah membantu kemaluanku memompa tubuhnya. Tak lama kemudian, tangannya merangkul erat leherku, kakinya menyepit pinggangku, pantatnya naik turun, matanya terpejam, bibirnya digigit sambil mengerang, "Pak.. Pak terus.. Pak.. Sum.. Summ..Sum.. daaapet enaaakhh Pak.. ahh.." mendengar erangan seperti itu aku makin bernafsu, kupompa dia lebih cepat dan.. "Sum.. akh.. akh.. akh.." kusemprotkan semua maniku dalam liang kewanitaannya, sambil kupandangi wajahnya yang lemas. Aku lemas, dia pun lemas.

"Sum aku nikmat sekali, habis ini kamu mandi, terus bersihkan tempat tidur ini ya!", suruhku di tengah kenikmatan yang kurasakan.
"Ya Pak", jawabnya singkat sambil mengenakan pakaiannya kembali.
Ketika dia mau keluar kamar untuk mandi dia berbalik dan bertanya, "Pak.. kalo pulang siang gini telpon dulu ya Pak, biar Sum bisa mandi dulu, terus bisa ngurutin Bapak lagi", lalu ia berlalu keluar kamar, aku masih tertegun dengan kata-katanya tadi, sambil menoleh ke cadar yang terdapat kesan darah perawan Sum.

Saat ini Sum masih bekerja di rumahku, setiap dua hari menjelang period, aku pulang lebih awal untuk berhubungan dengan pembantuku, namun hampir setiap hari di pagi hari kurang lebih pukul 5, kemaluanku selalu dikulumnya saat dia mencuci di ruang cuci, pada saat itu isteriku dan anak-anakku belum bangun.

TAMAT
Pengirim: resender (resender@yahoo.com)