5 April 2008

17Tahun "Antara Nafsu dan Cinta"  

2 komentar

Kejadiannya dimulai 4 atau 5 tahun yang lalu. Waktu itu produksi di perusahaanku sedang booming sehingga diadakan penerimaan karyawati baru. Diantara sekian banyak pelamar ada satu yang jelas kulihat sangat berbeda. Kulitnya putih bersih, raut wajahnya cantik, dan bulu-bulu halus tampak jelas hitam kontras dengan warna kulitnya. Aku segera ke bagian personalia meminta data-datanya, setelah kulihat CV-nya yang cukup baik, aku meminta kepada personalia untuk dijadikan asistenku, akhirnya setelah melewati proses yang cukup rumit dia menjadi asistenku.

Mula pertama dia bekerja, aku sudah dapat melihat kecerdasannya dalam menangani pekerjaan, semua pekerjaan yang kuberikan dapat diselesaikannya dengan baik. Seperti pepatah Jawa bilang "Witing tresno jalaran soko kulino" Kebersamaan akan menumbuhkan rasa sayang, begitu pula yang terjadi denganku. Aku yang pada mulanya sudah tertarik pada pandangan pertama kian jatuh dalam perangkap asmaranya. Kucoba mengakrabkan diri dengannya, keluar makan bareng sering kami lakukan, tapi sampai saat itu aku belum berani macam-macam kepadanya, karena dia pernah mengungkapkan bahwa dia sudah mempunyai pacar. Memang sejak saat dia mengungkapkan bahwa dia sudah punya pacar, keinginanku untuk menjadikannya sebagai kekasih sudah hilang.

Setelah melewati masa pendekatan yang cukup panjang, akhirnya aku bisa mengajaknya Weekend. Karena saat itu katanya pacarnya sedang ditugaskan ke luar kota. Aku membawanya menuju pantai Ancol yang romantis. Sambil menyantap nasi goreng kami mengobrol panjang lebar, dari situ kuketahui bahwa ternyata dia berasal dari keluarga Broken, ayahnya kawin lagi saat usianya baru 3 tahun, hingga dia merasakan kurang kasih sayang dari ayahnya.

Kurengkuh dia dalam pelukanku, kubelai rambutnya yang hitam. Ombak di laut semakin beriak menyaksikan kemesraan kami. Perlahan kukecup keningnya, dia memejamkan matanya, bibirnya yang sensual sedikit terbuka seakan mengundangku untuk melumatnya, namun aku tidak berani gegabah, aku hanya mencium pipinya.

"San, boleh Bapak mengekspresikan rasa sayang Bapak", bisikku lembut di telinganya. Dia hanya diam mungkin masih mencerna arti kalimatku.
"Kalau Bapak memang sayang sama Santi, jangan sekali-kali Bapak mengecewakan Santi", jawabnya manja.
"Bapak tidak pernah mengecewakan wanita, Sayang" jawabku lembut. Kurapikan rambutnya yang diterpa angin laut dengan jari-jariku, tiba-tiba Dia mengambil tanganku dari keningnya dan mencium dengan bibirnya.
"Santi sayang sama Bapak! Santi nggak mau kehilangan Bapak", air matanya terasa hangat di jari-jariku. Kuseka air matanya dengan sapu tanganku.
"Bapak tidak akan meninggalkan Santi", janjiku. Bibirnya tersenyum tipis mendengar janjiku.

Perlahan kudaratkan bibirku di bibirnya, terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku, aku melumat bibirnya dengan perlahan.
"Kenapa Santi tidak membalas ciuman Bapak.."
"Santi tidak mengerti, Pak!"
Aku hanya diam dan berfikir, benarkah anak jaman sekarang belum mengenal arti ciuman.
"Memangnya Santi tidak pernah melakukannya dengan pacar Santi?"
"Belum, Ppak.."

Akhirnya setelah saya ajarkan secara singkat, dia mulai dapat membalas lumatan dan permainan lidahku. Tanganku mulai menjalajahi dadanya, kuremas perlahan dengan gerakan memutar, sementara bibirku mulai menjelajahi lehernya yang indah. Kubuka kancing bajunya yang paling atas, jari-jariku segera menerobos ke dalam bajunya yang sudah terbuka, aku merasakan tonjolan lembut, tidak besar namun halus sekali. Jari- jariku berputar mencari puting buah dadanya, sementara bibirku sudah sampai di belakang telinganya. Susah sekali mencari puting buah dadanya, karena masih belum tumbuh, putingnya masih mungil dan rata dengan gundukan buah dadanya, pertanda belum terjamah oleh siapa pun. Perlahan tapi pasti putingnya mulai mencuat ke atas, jari-jariku semakin aktif memilinnya dengan gerakan memutar. Sementara tangannya menekan tanganku sehingga tekanan pada buah dadanya semakin keras.

"Pak... nikmat, teruskan..." erangan yang keluar dari mulutnya semakin membuatku semangat, tapi aku masih sadar bahwa aku di tempat terbuka. Aku segera menghentikan aktivitasku dan merapikan kancing bajunya yang terbuka.
"Kenapa, Pak?" tanya Santi keheranan.
"Ini kan tempat umum Sayang, bagaimana kalau kita sewa cottage saja."
"Tidak mau! Santi takut."
"Nggak apa, Bapak tidak akan berbuat macam-macam terhadap Santi", aku merayunya.
"Santi tidak akan mau, Pak!" tegasnya.
Aku tidak memaksa lebih lanjut, aku hanya diam.
"Bapak marah ya sama Santi."
"Tidak Sayang, Bapak hanya sedikit pusing."
Aku rengkuh dia dalam pelukanku.
"Kenapa?" tanyanya polos.
Aku sungguh bingung menjelaskannya, aku pusing karena sedang 'on', Batang kejantananku terasa berdenyut-denyut terus.
"Bagaimana kalau kita teruskan di mobil, Sayang" ajakku. Dia mengangguk.

Setelah setelan jok kurebahkan, aku kembali mencumbuinya, meneruskan kemesraan yang tadi tertunda meskipun di dalam mobil sempit tapi tidak ada seorang pun yang dapat melihat kami. Bajunya sudah kutanggalkan sehingga aku dengan bebas dapat mencumbui dadanya, saat lidahku yang hangat dan basah menjilati puting buah dadanya yang masih mungil, erangan lirih semakin sering keluar dari bibirnya. "Jangan berisik, Sayang" aku mengingatkannya, karena aku takut terdengar keluar. Tapi hanya sebentar saja, kembali mulutnya mengeluarkan erangan, terlebih saat puting buah dadanya kuhisap dan kugigit pelan. Gundukan buah dadanya yang halus kuhisap kuat-kuat sehingga meninggalkan bercak merah sesudahnya.

Tanganku segera bergerak mengangkat roknya. Aku merasakan kulit pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, kupilin-pilin pahanya yang gempal, dan saat tanganku bergerak menarik celana dalamnya, tangannya menahan tanganku. "Jangan Pak, yang satu itu jangan.." Aku yang sudah dikuasai nafsu tak mempedulikannya. Aku terus berusaha menanggalkan celana dalamnya tapi cekalan tangannya semakin kuat menahan gerakan tanganku. Aku tidak memaksa lagi.
"Kenapa?" bisikku, "Santi tidak sayang sama Bapak?"
"Bapak boleh mencumbu apa saja, tapi yang satu itu jangan, saya masih perawan, Pak!"
"Tapi dari erangan yang keluar, sepertinya Santi sudah pengalaman."
"Santi sendiri tidak sadar, Pak. Bahkan pernah saat Santi masturbasi di kamar, Ibu menegur Santi, karena erangan Santi terdengar ke luar kamar, Santi sampai malu waktu itu, Pak."
Aku hanya mengangguk, berarti erangan-erangannya yang heboh tadi hanya bawaan sifat saja.
"Ya, sudah! Santi bisa buat Bapak orgasme dengan tangan, bisa kan?" aku menyerah, pikiranku cuma satu, bagaimana melepaskan air maniku yang rasanya sudah mengumpul penuh di buah zakarku.
"Santi belum pernah, Pak!"
"Coba dulu dong, katanya Santi sayang sama Bapak."
"Iya Pak"

Aku ajarkan kepadanya cara onani yang membuat nikmat lelaki, setelah kurasa dia bisa. aku segera mengeluarkan senjataku yang sudah tegang.
"Aw... besar banget Pak."
"Nggak apa, sini" aku bimbing tangannya ke senjataku.
Aku mulai merasakan genggamannya yang hangat, perlahan jari-jarinya yang lentik bergerak ke atas ke bawah mengocok batang kejantananku, aku mulai merasakan nikmat, sembari rebahan di jok aku memejamkan mata membayangkan bahwa saat itu senjataku sedang terbenam di dalam kemaluan Tamara Blezinky artis idolaku. Berfikir seperti itu senjataku semakin mengeras dan berdenyut-denyut.

"Pak, tangan Santi capek, Pak!" tiba-tiba saja Santi membuyarkan khayalanku. Aku yang sudah spanning langsung merengkuh lehernya dan membenamkan wajahnya ke dadaku.
"Lakukan seperti yang tadi Bapak lakukan terhadap Santi", sambil mengarahkan mulutnya yang mungil ke dadaku.
"Loh, Bapak kan lelaki"
"Sama saja, San, laki-laki juga perlu rangsangan biar cepat orgasme" Tanpa dikomando dua kali mulutnya yang mungil mulai menciumi dadaku sementara jari-jarinya terus mengocok batang kejantananku, perlahan aku merasakan nafasku semakin memburu, butir-butir keringat membasahi seluruh tubuhku.

"Terus, San... Bapak mau keluar" Gerakan tangannya semakin cepat, kepala kemaluanku semakin mengkilat oleh pelumas yang dikeluarkan batanganku, sementara lidahnya yang runcing dan hangat terasa menggelitik puting dadaku bahkan dihisapnya, membuat sensasi tersendiri di seluruh aliran darahku.

Setengah jam berlalu, aku merasakan batang kejantananku semakin menggembung, akhirnya berbarengan dengan hisapan kuat di puting dadaku, kukeluarkan spermaku hingga muncrat dan mendarat di perutku.
"Sudah San, Bapak sudah keluar", aku melepaskan genggaman tangannya di batang kemaluanku.
"Capek sekali tangan Santi, Pak!, rasanya sudah tak sanggup lagi digerakkan."
"Bapak lama sih keluarnya."
Aku hanya diam dan mencium keningnya sebagai ungkapan rasa sayang dan puas atas segalanya.

Sepanjang perjalanan pulang, kami semakin akrab dan mesra, kami membuat perjanjian bahwa kami boleh berpacaran dengan siapa pun asalkan kebersamaan kita tidak akan hilang sampai kapan pun. Aku hanya mengangguk setuju.
Buat cewek-cewek yang mau advise atau berkenalan kirim aja e-mail.

TAMAT
Pengirim: 17thn (17thn@yahoo.com)




17Tahun "Aku...Isteri dari Sopir dan Pembantuku"  

2 komentar

Tak pernah kusangka, pengalaman buruk masa lalu bisa kembali muncul dan menghantui hidupku. Dan kini, aku seperti ketagihan, dan menikmati hal itu. Apakah "tekanan" psikologis yang kuterima yang membuat sisi bawah sadarku melakukan ini sebagai perlawanan dan pembalasan dendam? Atau aku hanya "bernostalgia" pada masa lalu? Ah, entahlah...

namaku... Listiana ..... istri dari pengusaha rental mobil di Semarang. Secara sekilas kehidupanku bahagia. Materi berkecukupan. Mobil banyak, meski sebagaian sebagai "harta" perusahaan. Anakku juga sehat, suami pun begitu. Nyaris tak ada pertengkaran antara kami.

Namun, ketiadaan pertengkaran itu bukan karena kesalingpengertian. Kami memang jarang berkomunikasi karena, menurut suamiku, dunia dia tidak akan dapat aku pahami. Aku memang tidak sekolahan. Kuliah pernah, tapi tak sampai tamat, karena menikah. Suamiku sendiri sudah kelar strata duanya, dan sangat menyukai buku. Jadi, boleh dikata, dia pengusaha yang pintar. Dan memilih bisnis rental mobil karena dengan cara itulah dia dapat memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca dan sekolah lagi. Namun, "kepintarannya" itulah yang membuat kami jadi jauh. Ia berada di dunianya, aku berada di duniaku. Tak ada percakapan antara kedua dunia itu. Kami hanya dipersatukan oleh anak, dan asmara.

Nah, menyangkut asmara inilah masalahku.

Aku tak pernah cerita, dulu sewaktu SMA, aku pernah diperkosa. bayangkan saja perkosaan yang kasar dan menakutkan. aku diperkosa oleh tiga pria, temen sekolahku. Dan perkosaan itu terjadi selama aku berada di kontrakan saja, dua tiga kali. Selebihnya, aku menerima hal itu dengan biasa. Artinya, salah satu diantara mereka ahirnya kusenangi.....peristiwa ini berlangsung....tanpa sepengetahuan orang lain hanya kami berempat yang mengetahui kisah ini............... aku berhubungan dengan salah satu temenku itu, sebagai kekasih di kamar. Namun, berbeda dengan dia yang melakukannya dengan rasa cinta, dan tuntutan dari keinginan syahwatku yang mengebu gebu....., aku sendiri hanya menikmati kemesraan itu sebagai coba-coba. Apalagi, dengan bercumbu dengan orang yang kita senangi..., aku merasa aman, tak ada yang perlu kutakutkan karena aku rutin minum pil KB........ Aku tetap mendapatkan kenikmatan, dan tak cemar. aku menikmati keseharianku dengan melakukan setidaknya dua hari sekali dengan pacarku itu....pacar yang pernah memperkosaku ramai ramai.......
aku sempat heran koq dia tidak mempermasalahkan kondisiku yang juga pernah di setubuhi oleh temannya ???....

Begitu kuliah, hubungan sex gila yang kulakukan dengan pacarku otomatis berhenti, dan tak pernah aku ulangi. Tiga tahun kemudian aku menikah dengan Mas Sri, dan semua berjalan apa adanya. Aku menikmati hubungan itu, demikian juga Mas Sri. Tak ada perasaan aneh dalam melakukannya dengan suamiku. Aku memang normal. Namun, kenormalan itu tidak seirama dengan kehamilanku. Dua kali keguguran, baru pada kehamilan ketiga aku mendapatkan anak. Mas Sri senang luar biasa. Waktu dia jadi lebih banyak dengan Anak kami dari pada pekerjaannya.

Nah, di usia perkawinan kami yang ketujuh, aku merasakan sedikit keanehan pada Mas Sri. Maaf, kusadari daya ereksi Mas Sri tak lagi sebagus dulu. Berkali-kali ia meminta maaf karena tak dapat memberikan kepuasan padaku. Katanya lelah dan stress. Namun, karena komunikasi kami yang kurang jalan, hal itu berlansung lama dan aku bingung bagaimana itu dapat terjadi. Keributan kecil terjadi, dan dia mengaku tak ada wanita lain sebagai sebab hal itu. Baru kemudian aku sadari, gula darah di dalam dirinya --keluarganya penderita diabetes-- yang membuat ereksinya berkurang. Dia pun diet, dan aku mengawasinya. Namun, kesembuhan itu tak semudah yang aku bayangkan. Atau barangkali, karena setengah tahun lebih dia menderita begitu, kini dia tak lagi merasa "mampu" memenuhi kewajibannya. Dan seks pun jadi hal yang jarang kami lakukan. Aku kesepian, dan beberapa kali swalayan.

Nah, dalam kondisi itulah, suatu hati aku melihat pembantuku, erwin (19) keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan handuk menutupi tubuhnya. Entah kenapa, aku tiba-tiba berdesir dan terangsang. Ada gairah melihat tubuh lelaki muda....ini ...terbayang kembali masa masa SMA ku..... bahkan mengikuti dia ke kamar, sambil menanyakan ini-itu, agar dapat lebih lama menikmati tubuhnya. Dan ketika dia berganti pakaian di depanku, gairah itu nyaris meluap. Masih kuingat bagaimana aku gemetaran menahan serangan syahwat itu. Kemudian aku tak mampu, dan melampiaskannya sendirian di kamar. Rutinitas selanjutnya adalah aku menjadi begitu memperhatikan Erwin... Dia memang tidak ganteng dan jauh dari sebutan handsome....., tapi tubuhnya bagus dan atletis. Dan setelah kejadian itu, aku jadi senang sekali meminta dia menemaniku......kepasar...mall bahkan mengantarku kesalon....
erwin sangat penurut....dan suatu waktu aku memanggilnya kekamar untuk memijiti kakiku...dengan alasan kecapaian setelah aerobic....iapun manut saja.....ia memijitku...tanpa ekspressi....tapi malah membuat aku bergairah, kini setiap kali tangannya menyentuh tubuhku, seperti ada api yang menyusup, membakar dan menyesaki dadaku. Suatu malam, dengan sedikit memaksa, aku berhasil membakar nafsu Erwin.......pada saat ia memijatku aku dengan sengaja meraba kemaluannya.......,tidak makan waktu yanglama burung Erwin telah berdiri tegak didalam celana pendeknya......kutarik ia keatas ranjang ....kutelentangkan...dia diam saja ...dia malah kelihatan bingung....celananya kutarik kebawa beserta celana dalamnya......kupegang kemaluannya....kukocok.....achhhhhhh...ia melotot keheranan menatapku.......kuhisap burungnya...kujilati....dan aku merangkak naik.....kumasukkan ke vaginaku.......lalu aku bergerak naik turun...ia cuma diam saja....hanya sesekali ia berdesis sssshhhhhhh....kuperkosa Erwin....hingga aku klimaks......aku orgasme........ Aku melakukan semua yang dulu dilakukan temenku pada tubuhku. Aku buat Erwin... menggelepar, seperti aku juga yang kerasukan setan. Dan setelah itu, seperti aku dulu, kami jadi terbiasa melepaskan hasrat. Nyaris tanpa halangan, nyaris tanpa ketakutan. Tak ada yang curiga, tak ada yang menaruh syak-wasangka.

Benar aku menikmati hal ini. Benar, tiap kali Mas Sri gagal melaksanakan tugasnya, aku mengendap dan meminta bantuan Erwin. Benar karena ada Erwin aku tak lagi menuntut dari Mas Sri. Tapi jauh di dalam hatiku, aku merasa bersalah melakukan ini. ....tapi nafsuku menuntut lain....ia harus disalurkan..........dan penyaluran berikutnya adalah sopir suamiku.......orangnya tinggi umurnya 27 tahun telah berkeluarga.........dan yang paling membuat aku menggelepar gelepar adalah penisnya yang betul betul panjang.....penis Agus SOpirku........dapat menyentuh daging pembatas rahimku.......notok sehabis habisnya........
agus dapat membuatku melayang sampai langit ketujuh......
tekniknya yang kaya dengan gaya .....hampir melumat habis....tubuhku...... Mas sri suamiku....tahu hubungan kami ini .....tapi ia hanya diam...ia tak pernah melarangku....mungkin ia sadar akan kekurangannya.......

Pengirim: yudi prast (skorpioo05@yahoo.com)




17Tahun "Aku Korban Nafsu Saudara Iparku"  

2 komentar

Sejak Bapak meninggal tujuh tahun lalu dan Ibu meninggal enam tahun yang lalu, aku tinggal bersama kakak sulungku, Mbak Mira. Rumah orang tuaku di Madiun terpaksa dijual. Uangnya kami bagi bertiga, Mbak Mira, Mbak Mona, dan aku, Mila.

Rumah waris itu hanya laku Rp. 6,5 juta. Waktu itu aku masih duduk dibangku kelas tiga SMA. Masing-masing kebagian Rp. 2 juta, sisa Rp.500 ribu dimasukkan ke bank untuk memperbaiki makam kedua orang tua dan biaya keselamatan.

Ketika menerima uang waris Rp. 2 juta, aku sengaja menyimpan Rp. 1 juta sebagai deposito ke sebuah bank, sedangkan sisanya kubelikan sebuah TV. Sebab aku ingin punya TV sendiri dikamar tidurku.

Begitu lulus, aku pergi berduaan ke Sarangan bersama Anton, pacarku yang sekelas denganku. Ditempat rekreasi yang sejuk itulah aku memadu kasih dengan Anton. Entah bagaimana mulanya, setelah aku dicium dan diremas-remas payudaraku, aku seperti terhipnotis dan terbuai dengan segala rayuannya, sehingga aku menuruti saja ketika Anton mengajakku memasuki kamar hotel di Sarangan, aku tidak menolaknya.

Bahkan ketika di dalam kamar tidur, Anton mulai kembali dengan cumbuannya dan remasan-remasan hangatnya yang benar-benar membuatku tak berdaya dan diam saja saat Anton mulai melepas satu demi satu seluruh pakaian yang menempel ditubuhku, aku hanya bisa merasakan desah nafasku yang semakin tidak beraturan dan seluruh tubuhku benar-benar di luar kendaliku. Saat tangan Anton semakin bergerak leluasa ke bagian-bagian sensitif tubuhku, aku semakin pasrah dan menikmati seluruh kecupan hangat,remasan-remasan yang luar biasa nikmatnya, hingga akhirnya seluruh pertahananku jebol setelah penis Anton dengan cepatnya masuk dan merenggut keperawananku dengan sekali hentakan saja. Namun semuanya tak kupikirkan terlalu lama karena aku benar-benar sangat menikmatinya saat penis Anton mulai bergerak maju-mundur, turun-naik, sehingga membuat liang vaginaku mengeluarkan cairan kenikmatan yang terasa hangat saat tubuhku terhempas ke ranjang karena puncak orgasme yang kurasakan saat itu. Lemas, mataku berat, dan akhirnya aku tertidur di dalam pelukan dada Anton kekasihku itu.

Noktah merah yang seharusnya kupersembahkan buat suamiku, akhirnya keberikan lebih awal kepada Anton, pacarku sekaligus calon suamiku kelak. Aku ingat persis Anton kembali melakukan persetubuhan denganku hingga lebih dari tiga kali pada hari itu, aku benar-benar dibuat takluk dengan keperkasaan seksualnya.
"Tak udah memikirkan keperawanan. Jaman sudah maju, manusia tidak membutuhkan keperawanan, melainkan kesetiaan", kata Anton setelah berhasil mengambil keperawananku. Aku juga masih ingat persis ketika Anton memberiku uang Rp.10 ribu.
"Ini untuk beli jamu", katanya singkat. Hampir saja aku melempar uang itu ke wajahnya. Tetapi Anton keburu mencium pipiku, keningku dan tengkukku sehingga aku tidak bisa marah atas sikapnya tadi.

Benar dugaanku. Setelah peristiwa itu Anton tidak muncul-muncul. Hampir dua minggu aku menunggu, tak kelihatan juga batang hidungnya. Akhirnya aku memaksakan untuk datang ke rumahnya di jalan Borobudur. Betapa terkejutnya aku, ketika ibunya bilang Anton sudah berangkat ke Jakarta, untuk mengadu nasib di sana. Niat hati ingin menyampaikan masalah ini kepada ibunya bahwa aku dan Anton telah berbuat hal layaknya suami istri. Tetapi mulutku tidak bisa bersuara. Aku hanya menahan nafas dan mengehembuskannya dalam-dalam.

Saat paling membuatku berdebar-debar adalah saat aku tidak mengalami menstruasi. Aku kalut, Beberapa macam pil yang disebut orang-orang bisa untuk menggugurkan kandungan, kuminum. Tetapi, aku tetap terlambat datang bulan. Aku makin kalut. Apalagi aku harus hengkang dari rumah, karena rumah kami sudah laku dijual. Aku harus ke Surabaya, tidak ada jalan lain.

Bulan kedua aku lewati dengan mengurung diri di kamar di ruman Mbak Mira, kakak sulungku. D rumah ini tinggal juga suaminya, Mas Sancaka, dan anak tunggalnya Sarma, yang masih balita. Selain itu pula ada pula Mas Sudrajat, adik Mas Sancaka, yang hingga kini masih hidup membujang.

Sebulan dirumah Mbak Mira, aku sudah tidak bisa menyembunyikan diri lagi. Ketika Mbak Mira tidur aku mengutarakan permasalahanku ini kepada Mas Sancaka, dan berharap dia bisa memeberikan jalan keluar terbaik bagi diriku.
"Besok kamu ikut aku. Kita harus menggugurkan anak haram itu", kata Mas Sancaka, "Dan Mbak Mira tidak perlu tahu musibah ini", tambahnya. "Kamu masih punya uang simpanan?", katanya.
"Satu juta", jawabku singkat.
"Besok pagi kita ambil, kekurangan uangnya biar aku yang tanggung", kata Mas Sancaka.

Keesokan pagi harinya aku dibawa ke dokter yang ada dikawasan lokalisasi di Surabaya. Di tempat yang tidak terlalu luas itu, kandunganku digugurkan. "Biayanya Rp. 1,6 juta, itu belum termasuk biaya kamar, biaya perawatan, dan obat-obatan. Siapkan saja uang sekitar Rp. 2 juta", kata dokter yang merawatku kepada Mas Sancaka.

Aku memandangi Mas Sancaka untuk meminta reaksi atas ucapannya tadi malam. "Ya, Dok. Ini kami membawa uang Rp. 1 juta, nanti saya akan ambil uang di ATM untuk melengkapi seluruh biayanya", kata Mas Sancaka kepada dokter yang akan menggugurkan kandunganku, sembari melirikku. Lega rasanya aku dibantu kakak iparku. Dibenakku aku punya harapan untuk kuliah kembali, agar jadi 'orang'. Uang Rp. 1 juta kuserahkan, dan dalam waktu sepuluh menit aku sudah tidak sadarkan diri. Ketika aku bangun, aku telah berada di ruangan yang sama sekali tidak aku kenal. Ada seorang perawat disini. "Jangan banyak bergerak dahulu ya jeng", kata perawat itu yang kira-kira berusia 40 tahun. dia kemudian menyeka keringatku dan meneyelimuti tubuhku dengan baju putih.

Tak lama kemudian Mas Sancaka datang dan membawa buah-buahan untukku. Aku tersenyum kepadanya. Diapun membalas senyumku. Diusapnya rambutku, dan diciumnya keningku.
"Sus, meski kami menggugurkan kandungannya, tetapi kami ingin tetap menikah. Kami hanya merasa belum siap saja. Saya ingin Mila menjadi istri kedua", kata Mas Sancaka kepada perawat itu, tanpa meminta persetujuanku kalau aku pura-pura jadi WIL-nya.
Sehari kemudian aku pulang. Tetapi aku tidak diijinkan untuk pulang ke rumah Mbak Mira oleh Mas Sancaka, Aku justru dibawanya kesebuah hotel. "Kenapa disini, Mas?" tanyaku.
"Kamu masih kelihatan pucat. Jangan pulang dulu, kamu tidur disini sekitar 3 sampai 4 hari dulu, nanti baru pulang. Lagian Mas Sancaka sudah bilang ke Mbak Mira, bahwa kamu balik sementara ke Bandung untuk keperluan menjenguk saudara", katanya. Aku mengikuti saja sarannya tersebut.

Hari-hari pertama Mas Sancaka bersikap sopan kepadaku, Dia tampak mengasihiku. Tetapi, pada hari kedua, Mas Sancaka mulai berubah, setelah berbaringan di sebelah tubuhku, Mas Sancaka secara mengejutkan memintaku untuk memegang 'senjatanya'.
"Aku nggak kuat, Mila. Tolong kamu pegang-pegang penisku sampai 'keluar', agar kepalaku tidak pusing. Mbakyumu sedang mestruasi. Jadi aku tidak melakukan hubungan badan selama dua hari ini, biasanya kami melakukannya setiap hari", begitu kata Mas Sancaka beralasan kepadaku.

Ingin rasanya aku menolak, tetapi bagaimana lagi? Mas Sancaka telah begitu berbaik hati kepadaku. Kupikir tidak ada salahnya aku melakukannya sekali ini untuk membalas kebaikan-kebaikan Mas Sancaku kepadaku selama ini, khususnya saat-saat seperti ini. Dengan malu-malu aku melakukan apa yang dimintanya, Kulihat penis Mas Sancaka masih tertidur, panjangnya lumayanlah, aku mulai mengusap-usap batang penis Mas Sancaka secara lembut. Sedikit demi sedikit aku mulai melihat reaksinya, Penis Mas Sancaka sedikit demi sedikit mulai mengembang dan membesar, tanganku merasakan penisnya yang bergerak-gerak hingga akhirnya tidak bisa bergerak lagi, karena seluruh batang penisnya telah tegang dengan sangat kerasnya.

Mas Sancaka kulihat memejamkan matanya menikmati permainan ini, aku semakin berani untuk memain-mainkan penisnya, kuusap, kugosok-gosok dengan jariku dan terakhir aku mulai mengocok-ngocok penis Mas Sancaka secara turun naik, kulihat tubuh Mas Sancaka kadang-kadang menggeliat merasakan kenikamatan ini, sampai akhirnya tiba-tiba tubuh Mas Sancaka tiba-tiba mengejang, penisnya terasa panas sekali, kulihat kepala penisnya kini berubah warnanya menjadi sangat merah sekali dan berdenyut-denyut.

Tiba-tiba Mas Sancaka memejamkan matanya sangat erat, bibirnya seperti menggigit menahan sesuatu yang amat luar biasa, tidak lebih dalam hitungan dua detik, tiba-tiba aku melihat cairan kental menyemprot deras keluar dari batang penisnya Mas Sancaka, cairan spermanya muncrat banyak sekali seiring dengan itu tubuhnya berkelejat-kelejat sampai pada akhirnya spermanya habis, tubuhnya jatuh lunglai dan kulihat wajah Mas Sancaka tersenyum puas. Perlahan-lahan aku membersihkan tubuh Mas Sancaka yang belepotan spermanya, kubersihkan dengan perlahan-lahan sambil memijat-mijat tubuh Mas Sancaka, hingga akhirnya Mas Sancaka tertidur di ranjangku.

Di hari kedua aku benar-benar tidak mampu menolak permintaannya, saat aku sedang mandi tiba-tiba pintu kamar mandiku diketok oleh Mas Sancaka, ketika kubukakan, tiba-tiba Mas Sancaka menerkamku dengan buasnya. "Kalau kamu tidak melayaniku, maka kasus pengguguran ini akan kuberitahukan kepada Mbak Mira", ancamnya.
Maka, aku tidak mampu menolak keinginannya ini, Semalaman itu aku harus melayani Mas Sancaka ronde demi ronde. Sejak saat itu aku semakin tidak punya keberanian untuk menolak keinginan Mas Sancaka untuk mencicipi kehangatan tubuhku yang masih sintal, dan rapatnya liang vaginaku, karena aku memang belum pernah melahirkan. Perbuatannya ini tidak hanya dilakukan di hotel saja, tetapi sudah mulai berani dilakukan di rumah Mbak Mira, Hampir Setiap tengah malam menjelang pukul 3 pagi, Mas Sancaka selalu mengendap-endap menuju kamarku dan mengetuk kamar tidurku untuk meminta jatahnya, karena aku takut suatu waktu akan ketahuan akibat Mas Sancaka mengetuk pintuku maka aku setiap tidur tidak pernah mengunci kamar tidurku.

Yang membuatku semakin tertekan adalah tiba-tiba pada suatu hari tubuhku serasa terindih sesuatu, ketika aku membuka mataku alangkah kagetnya aku, karena yang menindih tubuhku adalah Mas Sudrajat, adik Mas Sancaka, aku ingin berteriak, tetapi Mas Sudrajat menutup mulutku sambil mengancamku. "Awas, kamu tidak perlu berteriak, Jika tidak saya akan melaporkan perselingkuhan kamu dengan Mas Sancaka kepada Mbak Mira. Aku telah mengetahui kejadian ini sejak minggu lalu, lalu apa salahnya jika kamu melakukannya kepadaku juga", ancamnya.
Sejak saat itu aku menilai Mas Sudrajat sama bejatnya dengan Mas Sancaka. Hingga mulai saat itu hampir setiap hari aku melayani dua pria. Antara pukul 12 malam sampai denga pukul 1.30 pagi aku melayani Mas Sudrajat, dan Antara pukul 3 pagi sampai dengan pukup 4 pagi aku harus kembali bergumul dengan Mas Sancaka. Tubuhku benar-benar sebagai pelampiasan nafsu kedua saudara-saudara iparku.

Bahkan menurutku Mas Sudrajat adalah orang paling bejat didunia ini, ia bahkan menceritakan perselingkuhan kami kepada Mas Suwono yang tinggal di jakarta. Ketika suatu saat Mas Suwono menginap di rumah Mbak Mira berkaitan dengan tugas kantornya. Dia tidak tidak sungkan-sungkan masuk kekamar tidurku malam hari bersama dengan Mas Sudrajat untuk kembali merasakan kehangatan tubuhku, malah pernah suatu kali ketiganya tiba-tiba berkumpul di kamarku dan benar-benar menguras seluruh tenagaku, hingga aku pernah pingsan menahan kenikmatan yang datang bertubi-tubi tanpa hentinya dari ketiga saudara iparku yang menggilir aku secara bergantian. Hingga akhirnya puncak dari seluruh kenikmatan tersebut adalah kelelahan yang luar biasa, aku knock out alias KO!

Lebih celaka lagi ketika suatu saat Mbak Mira pada siang hari datang ke kamarku dan menemukan celana dalam suaminya ada di kamarku. Aku sangat yakin Mbak Mira mengetahui kalu suaminya sering masuk ke kamarku. Mbak Mira hanya diam saja. Dia hanya melemparkan celana dalam suaminya itu kewajahku. Dan, sejak itulah Mbak Mira jarang mengajakku bicara. Ketika kuceritakan kejadian ini kepada Mas Sancaka, Diluar dugaan di berkata, "Mila, Mbak Mira sudah tidak kuat lagi melayani nafsuku, pernah kusampaikan aku punya pacar seorang janda muda, dia diam-diam saja", kata Mas Sancaka.

Aku tercenung. Napasku terasa berhenti di tenggorokan. Kasihan Mbak Mira. Tetapi siapa yang menaruh rasa belas kasihan kepadaku? Aku telah melayani nafsu biadab ketiga saudara iparku. Ingin rasanya aku lari minggat dari rumah Mbak Mira, Tetapi kemana aku harus menetap? aku tidak ingin menjadi seorang Wanita Tuna Susila, dan aku sudah tidak memiliki uang pula untuk menyambung hidup jika aku minggat.
Sampai akhirnya sedikit demi sedikit keberanianku benar-benar hilang sama-sekali, dan hingga sampai ini aku masih harus tetap melayani nafsu binatang ketiga lelaki iparku.

TAMAT
Pengirim: 17thn (17thn@yahoo.com)




17Tahun " Adik Suami, Pemuas Nafsuku"  

2 komentar

Pengalaman nyata ini terjadi kurang lebih 19 tahun yang lalu. Panggil saja aku Wita nama samaran). Saat itu usiaku 24 tahun dan sudah mempunyai 2 anak yang masih balita. Untuk mengisi waktu aku bekerja sebagai salah satu manager pada perusahaan yang berkantor di kawasan Kebayoran Baru. Banyak orang mengatakan diriku cantik. Dengan tinggi badan 161 cm, berat badan 48 kg aku masih kelihatan seperti gadis remaja.

Sejak masih remaja nafsu seksku memang tinggi. Keperawananku telah direnggut oleh seorang pria mantan pacar pertamaku, saat aku berusia 17 tahun. Semasa pacaran dengan suamiku yang sekarang, sebut saja namanya Zali, kami berdua telah sering melakukan hubungan seks. Untungnya hubungan seks yang cukup kami berdua lakukan sebelum menikah itu tidak sampai membuahkan hasil. Aku bersyukur walau Zali mendapatkan diriku yang sudah tidak perawan lagi, ia tetap bertanggung jawab menikahiku.

Kecintaan suami terhadap kedua orang tuanya, menyebabkan kami sekeluarga tinggal di rumah mertua. Di rumah mertua juga masih tinggal empat orang adik ipar, dimana dua diantaranya adalah adik ipar laki-laki yang sudah dewasa. Pekerjaan yang digeluti suami, menyebabkan suamiku sering melakukan tugas dinas ke luar kota.

Suatu hari, sekitar bulan Mei, suamiku mendapat tugas ke daerah untuk jangka waktu dua bulan. Beberapa hari sebelum keberangkatannya, tanpa diduga ia bertanya kepadaku, "Mam, seandainya Papa pergi untuk waktu yang cukup lama, apakah Mama tahan nggak ngeseks?"
Aku terkejut mendengar pertanyaan suamiku itu, "Nggak lah Pap.."
Namun suamiku tetap mendesakku, dan selanjutnya berkata, "Papa nggak keberatan kok jika Mama mau selingkuh dengan pria lain, asalkan Mama mau dan pria itu sehat, Papa mengenalnya dan Mama jujur."
Aku menjawab, "Mana mungkin lah Pap, siapa sih yang mau sama aku."

Kemudian suamiku menawarkan beberapa nama antara lain bosku, teman-teman prianya dan terakhir salah satu adik kandungnya (sebut saja namanya Ary, usianya lebih muda satu tahun dariku). Walaupun aku mencoba mengelak untuk menjawabnya, ternyata suamiku tetap merayuku untuk berselingkuh dengan pria lain. Pada akhirnya ia menawarkan aku untuk berselingkuh dengan Ary. Terus terang, Ary memang adik iparku yang paling ganteng bahkan lebih ganteng dari suamiku. Selain itu, Ary sering membantuku dan dekat dengan kedua anakku. Perasaanku agak berdebar mendengar tawaran ini dan saat itu pikiranku tergoda dan mengkhayal jika hal ini benar-benar terjadi.

Kemudian aku mencoba mencari tahu alasan suami menawarkan adiknya, Ary, sebagai pasangan selingkuhku. Tanpa kuduga dan bak halilintar di tengah hari bolong, suamiku bercerita bahwa sebelumnya tanpa sepengetahuanku ia pernah berselingkuh dengan adik kandungku yang berusia 19 tahun saat adikku tinggal bersama kami di kota M. Pengakuan suamiku itu menimbulkan kemarahanku. Kuberondong suamiku dengan beberapa pertanyaan, kenapa tega berbuat itu dan apa alasannya. Dengan memohon maaf dan memohon pengertianku, suamiku memberikan alasan bahwa hal itu dilakukan selain karena lupa diri, juga sebenarnya untuk menebus kekecewaannya karena tidak mendapatkan perawanku pada malam pengantin. Aku mencoba menanggapi alasannya, "Kenapa Papa dulu mau menikahiku.." Suamiku hanya menjawab bahwa ia benar-benar mencintaiku. Mendengar alasan tersebut, aku terdiam dan dapat menerima kenyataan itu, walau yang agak kusesalkan kenapa ia lakukan dengan adik kandungku. Selanjutnya suamiku berkata, "Itulah Mam mengapa Papa menawarkan Ary sebagai teman selingkuh Mama, tak lain sebagai penebus kesalahan Papa dan juga agar skor menjadi 1-1," sambil ia memeluk dan menciumiku dengan penuh kasih sayang.

Aku mencoba merenung, dan dalam benakku muncul niat untuk melakukannya. Pertama, jelas aku menuruti harapan suami. Kedua, kenapa kesempatan itu harus kusia-siakan, karena selain ada ijin dari suami, juga akan ada pria lain yang mengisi kesepianku, lebih-lebih dapat memenuhi kebutuhan seksku yang selalu menggebu-gebu dan sangat tinggi. Sempat kubayangkan wajah Ary yang selama ini kuketahui masih perjaka. Ketampanannya yang ditunjang oleh fisiknya yang tegap dan gagah. Kubayangkan tentunya akan sangat membahagiakan diriku. Bermodalkan khayalan ini kuberanikan berkata kepada suamiku, "Boleh aja Pap, asal Ary mau.." Mendengar perkataanku tersebut, suamiku langsung memelukku dan akhirnya kami berdua melanjutkan permainan seks yang sangat memuaskan.

Sehari setelah suamiku berangkat ke luar kota, aku mulai berpikir mencari strategi bagaimana mendekati Ary. Selain memancing perhatian Ary di rumah, kutemukan jalan keluar yaitu minta tolong dijemput pulang dari kantor. Waktu kerja di kantorku dibagi dalam dua shift, yaitu shift pagi (08:00 - 14:30) dan shift siang (14:30 - 21:00). Rute pengantaran selalu berganti-ganti, karenanya jika aku mendapat giliran terakhir, pasti sampai rumah agak terlambat. Hal ini aku keluhkan kepada kedua mertuaku. Mendengar keluhanku ini, kedua mertuaku menyarankan agar setiap kali pulang dari dinas siang, tidak perlu ikut mobil antaran, nanti Ary yang akan disuruh menjemputku. Hatiku begitu gembira mendengar saran ini, karena inilah yang kutunggu-tunggu untuk lebih dekat pada Ary. Sampai kedua kali Ary datang menjemputku dengan motornya, sikapnya padaku masih biasa-biasa saja, walau dalam perjalanan pulang di atas motor, kupeluk erat-erat pinggangnya dan sekali-kali sengaja kusentuh penisnya.

Suatu hari, pembantu rumah tanggaku terserang penyakit. Karena aku dinas siang, mertuaku menyuruhku membawanya ke rumah sakit bersama Ary. Sambil menunggu giliran pembantuku dipanggil dokter, aku dan Ary mengobrol. Dalam obrolan itu, Ary menanyakan beberapa hal antara lain berapa lama suamiku dinas di luar kota, dan apa aku tidak kesepian ditinggal cukup lama. Pertanyaan terakhir ini cukup mengejutkan diriku, dan bertanya sendiri dalam hati apa maksudnya. Tanpa sungkan aku memberanikan diri menjawab untuk memancing reaksinya. "Yakh sudah tentu kesepian donk Ri, apalagi kalau lama tidak disiram-siram." sambil aku tersenyum genit. Entah benar-benar lugu atau berpura-pura, Ary menanggapinya, "Apanya yang disiram-siram.." Kujawab saja, "Masa sih nggak ngerti, ibarat pohon kalau lama nggak disiram bisa layu kan.." Ary hanya terdiam dan tidak banyak komentar, namun aku yakin bahwa Ary tentunya mengerti apa yang kuisyaratkan kepadanya.

Selesai urusan pembantuku, kami semua kembali ke rumah. Seperti biasa jam 14:00 aku sudah dijemput kendaraan kantor. Sekitar jam 16:00 aku menerima telepon dari Ary. Selain mengatakan akan menjemputku pulang, ia juga menyinggung kembali kata-kataku tentang 'siram menyiram'. Kukatakan padanya, "Coba aja terjemahkan sendiri.." Sambil tertawa di telepon, Ary berkata, "Iya deh nanti Ary yang siram.."

Tepat jam 21:00, Ary sudah datang menjemputku dengan motornya. Dalam perjalanan, kutempelkan tubuhku erat-erat dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku mencoba memancing reaksi Ary dengan menyentuhkan jari-jari tanganku ke penisnya. Kurasakan penisnya menjadi keras. Saat berada di depan Taman Ria Remaja Senayan, Ary membelokan motornya masuk. Aku sedikit kaget, dan mencoba bertanya, "Ri, kok berhenti di sini sih..?" Ary menjawab, "Nggak apa-apa kan, sekali-kali mampir cuci pemandangan, sekalian ngobrol lagi soal siram-siraman." Aku mengangguk dan menjawab, "Iya boleh juga Ri.."

Setelah parkir motor, tanpa sungkan, Ary menggandeng pinggangku sambil berjalan, dan aku tak merasa risih mendapat perlakuan ini. Setelah berhenti sebentar membeli dua cup coca cola dan popcorn, sambil bergandengan aku dibawa Ary ke tempat yang agak gelap dan sepi. Dalam perjalanan, kulihat beberapa pasangan yang sedang asyik masyuk bercinta, yang mebuat nafsu seksku naik.

Setelah mendapat tempat yang strategis, tidak ada orang di kiri kanan, kami berdua duduk bersebelahan dengan rapat. Kemudian Ary membuka pembicaraan dengan kembali mengulangi pertanyaannya. "Berapa lama Mas Zali tugas di luar kota.?"
Kujawab, "Yah.. katanya sih dua bulanan, memang kenapa Ri?
"Apa Wita nggak akan kesepian begitu cukup lama ditinggal Mas Zali?" kata Ary.
"Yah tentunya normal dong kesepian, apalagi nggak disiram-siram." kuulangi jawaban yang sama sambil kupandang wajah Ary dengan ekspresi menggoda. Tiba-tiba Ary meletakkan tangannya di pundakku dan dengan beraninya menarik wajahku. Kemudian ia mencium pipi dan melumat bibirku dengan penuh nafsu. Diriku seperti terbang, kulayani lumatan bibirnya dengan penuh nafsu pula. Sambil berciuman, dengan lirih Ary bertanya, "Oh Wita sangat cantik, boleh nggak Ary mengisi kesepian Wita?"
Sebagai jawaban kubisikkan di telinganya, "Oh.. Ri, boleh saja, Wita memang kesepian dan butuh orang yang dapat memuaskan.."

Sambil berciuman, tangan Ary membuka kancing bajuku dan memasukkan tangannya di balik kutangku sambil meremas-remas buah dadaku dan memilin-milin puting susuku. Tubuhku menggelinjang menahan rangsangan tangannya. Kemudian tangannya terus turun ke bawah, dari balik rokku dan celana dalamku yang sudah basah, ia memasukkan jari-jari tangannya mempermainkan klitorisku. Nafsuku semakin naik, dengan lirih aku mengerang, "Oh.. oh Ri, aduh Ary pinter sekali.. oh.. puaskan Wita Ri.. Oh.." Dengan semangat Ary mempermainkan vaginaku sambil kadang-kadang ia melumat bibirku. Tubuhku terasa terbang menikmati permainan jari-jari tangannya di vaginaku. Kurasakan satu dan akhirnya dua jari Ary masuk ke dalam lubang vaginaku. "Oh.. Ri.. aduh.. enaknya Ri.. oh terus Ri.." aku mengerang menahan kenikmatan. Mendengar eranganku, kedua jari tangan Ary makin mengocok lubang vaginaku dengan gerakan yang sangat merangsang. Dan akhirnya, beberapa menit kemudian karena tak tahan, aku mencapai orgasme. "Oh Ri, aagh.. Wita keluar Ri.." Kujilati seluruh permukaan wajah Ary dan kulumat bibirnya dengan nafsuku yang masih tinggi. Ary masih tetap memainkan kedua jarinya di dalam vaginaku. Begitu hebatnya permainan kedua jari tangan Ary yang menyentuh daerah-daerah sensitif di dalam lubang vaginaku, membuatku orgasme sampai tiga kali.

Kelihatannya Ary begitu bernafsu dan saat itu ia mengajakku bersetubuh.
"Wita.. boleh nggak Ary masukkan lontong Ary ke dalam apem Wita?"
Walau aku sebenarnya juga menginginkannya, namun aku khawatir dan sadar akan bahaya kalau ketahuan satpam Taman Ria. Kujawab saja, "Jangan di sini Ri, bahaya kalau ketahuan satpam, nanti di rumah saja ya Yang.."
"Benar nih jangan bohong ya.. dan bagaimana caranya?" tanya Ary.
Kujawab saja, "Nanti kamar nggak dikunci, masuk aja Ri, yang penting jangan ketahuan orang rumah."

Akhirnya Ary setuju dengan tawaranku itu. Mengingat waktu sudah menunjukkan jam 22:10 kami berdua sepakat pulang. Sebelum meninggalkan tempat, sambil berdiri kami berdua berpelukan erat, saling melumat bibir dan lidah. Sambil bergandengan mesra, tanpa khawatir kalau ada orang yang kenal melihatnya, kami berdua berjalan menuju parkir motor. Dalam perjalanan pulang, kupeluk erat tubuh Ary, sambil jari-jari tangan kananku membelai dan meremas-remas lontongnya dari balik celananya.





Adik Suami, Pemuas Nafsuku 02





Sambungan dari bagian 01


Sesampainya di rumah, selesai mandi kukenakan daster tidurku tanpa celana dalam, dan kusemprotkan parfum di tubuhku, siap menanti pria yang akan mengisi kebutuhan seksku. Kulihat kedua anakku sudah tidur pulas. Kemudian kira-kira jam 23:30 kumatikan lampu kamar dan kurebahkan tubuhku di tempat tidur terpisah dari tempat tidur anak-anakku. Sambil tidur-tidur ayam, kunantikan Ary masuk ke kamarku. Sekitar jam 01:00, kulihat pintu kamar yang sengaja tidak kukunci secara perlahan dibuka orang. Kulihat Ary dengan sarung masuk. Setelah ia menutup kembali pintu kamar dan menguncinya, ia menuju tempat tidurku dan langsung menindih tubuhku dan menciumi wajah serta bibirku. Sambil menciumiku, tangannya menggerayangi vaginaku. Ary berkata, "Wah sudah siap nih ya.. nggak pakai celana dalam.." Tak berapa lama Ary mengangkat dasterku dan mempermainkan klitorisku dan sesekali memasukkan jarinya ke lubang vaginaku, membuatku melayang dan vaginaku cepat banjir. Ternyata Ary juga sudah siap dengan tidak memakai celana dalam. Digesek-gesekannya lontongnya yang sudah mengeras di pahaku sambil jari-jari tangannya mempermainkan vaginaku. Kubalas gerakan Ary dengan meremas-remas dan mengocok lontongnya. Nafsuku semakin naik, begitu juga Ary karena nafasnya terdengar semakin memburu. Sambil tersengal-sengal, ia melenguh, "Oh.. oh.. Wita.. Ary sudah nafsu.. Wita haus kan.. Ary masukkan ya.." Aku pun sudah tidak tahan, "Oh Ri.. masukkan cepat lontongnya.. Wita sudah nggak tahan.. Ohh Ri.."

Kemudian, "Slep.." kurasakan lontong Ary yang lebih besar dan panjang dibandingkan lontong suamiku itu masuk dengan mudah masuk ke dalam lubang vaginaku yang sudah benar-benar basah itu. Kurasakan lontongnya sampai menyentuh dinding vaginaku yang terdalam. "Oh.. Ri.. aduh enaknya Ri.. oh gede Ri.." aku merintih, sambil kupeluk erat tubuh Ary. Kudengar pula rintihan Ary sambil menurun-naikkan lontongnya di dalam vaginaku. "Oh.. oh.. agh.. Wita, enak sekali apem Wita.. oh.. aagh.." Dari cara permainannya, aku merasakan Ary belum berpengalaman dalam hal seks dan kelihatannya baru pertama kali ia berbuat begini. Mungkin karena begitu nafsunya kami berdua kurang lebih 10 menit menikmati hujaman lontong Ary, aku sudah mau mencapai orgasme. "Oh.. agh.. aduh Ri.. cepatkan tusukannya Ri.. Wita mau keluar.. oh...aagh.." Kurasakan Ary pun sudah mau orgasme. "Oh.. agh.. Mbak, Ary juga mau keluar.. oh.. aaaghh.." Tak lama kemudian, berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan semburan sperma yang keluar dari penis Ary yang masih perjaka, keras dan berkali-kali memenuhi lubang vaginaku. Kami berdua berpelukan erat merasakan kenikmatan yang tiada taranya ini. Kubisikkan di telinga Ary, "Terima kasih Ri, Mbak puas sekali.." Ary pun berbisik, "Aduh Wita, baru pertama kali ini Ary rasakan enaknya apem.. Wita puas kan.." tambahnya.

Kemudian, Ary mencabut lontongnya dari dalam lubang vaginaku. Aku berusaha menahannya karena aku ingin nambah lagi. Ary berbisik, "Besok-besok aja lagi, sekarang Ary harus keluar.. takut ada orang yang bangun.." Setelah mengecup kening dan pipiku, Ary permisi keluar. Kubisikkan di telinganya, "Hati-hati ya Ri.. jangan sampai ketahuan orang lain.." Walaupun belum begitu puas, tapi hatiku bahagia bahwa Ary akan mengisi kesepian dan memenuhi kebutuhan seksku selama suami di luar kota. Dalam hati aku pun mengucapkan terima kasih kepada suamiku atas ijinnya dan pilihannya yang tepat.

Setelah kejadian pertama ini, hubungan seksku dengan adik suamiku ini terus berlanjut. Sayangnya hal ini kami berdua lakukan di rumah, karena saat itu memang tidak pernah terpikir untuk main di luar misalnya di Motel. Saking puasnya menikmati permainan seks dari Ary, aku lupa akan jadwal kalender KB yang selama ini kugunakan. Sedangkan setiap kali Ary menyetubuhiku, spermanya selalu ditumpahkan di dalam vaginaku. Aku sendiri memang tidak menginginkan sperma Ary ditumpahkan di luar, karena justru merasakan semburan dan kehangatan sperma Ary di dalam vaginaku, merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa. Akibatnya setelah beberapa kali melakukan hubungan, aku sempat terlambat 6 hari datang bulan (mens). Hal ini kuceritakan kepada Ary, saat kami mengobrol berdua di paviliun. Khawatir benar-benar hamil, kuminta Ary mengantarku ke dokter untuk memeriksakannya. Pada mulanya Ary tidak setuju, dan ingin mempertahankan kehamilanku. Aku tidak setuju dan tetap ingin menggugurkannya.

Keesokan paginya dengan diantar Ary, aku memeriksakan diri ke suatu rumah sakit bagian kandungan. Ternyata hasil pemeriksaan tidak bisa keluar hari itu juga, dan harus menunggu tiga hari. Sampai dua hari setelah pemeriksaan dokter, ternyata mens-ku masih belum datang. Aku tidak sabar dan khawatir jika ternyata aku benar-benar hamil. Hal ini kuutarakan kepada Ary dan kuminta ia membantu membelikan satu botol bir hitam untukku. Keesokan harinya, Ary menyerahkan bir hitam itu kepadaku, dan malamnya kuminum. Tiga hari setelah minum bir hitam tersebut, mens-ku datang.

Setelah mens-ku selesai sekitar 7 hari, aku dan Ary melanjutkan lagi hubungan seks seperti biasanya. Praktis selama dua bulan ada 18 kali aku dan Ary berhasil melakukan hubungan seks yang memuaskan dengan aman tanpa ketahuan keluarga di rumah. Keinginan untuk melakukannya setiap hari sulit terlaksana, mengingat situasi rumah yang tidak memungkinkan. Dari sekian kali hubungan seksku dengan Ary, seingatku ada tiga kali yang benar-benar sangat memuaskan diriku. Selain kejadian yang pertama kali, hubungan seksku dengan Ary yang sangat memuaskan adalah sewaktu kami berdua melakukan di suatu siang hari dan saat malam takbiran. Kejadian di siang hari itu, yaitu saat aku selesai mandi dan bersiap-siap berhias diri mau pergi ke kantor. Saat itu kedua mertuaku dan adik-adik iparku yang lain sedang tidak ada di rumah. Yang ada hanya Ary, yang kebetulan sudah pulang dari kantornya, karena hari Jumat. Kedua anakku asyik bermain dengan pengasuhnya.

Tanpa sepengetahuanku, saat aku memakai make-up, tiba-tiba Ary masuk kamarku yang tidak terkunci. Setelah menutup pintu kembali dan menguncinya, dari belakang ia memelukku, melepaskan handuk yang membungkus tubuhku, sehingga aku dalam posisi telanjang bulat. Diciumnya pundak belakangku, sambil tangannya memainkan kedua payudaraku, dan turun mempermainkan vaginaku. Akibatnya, aku tak tahan dan vaginaku cepat basah. Segera kubalikkan tubuhku dan kupeluk serta kulumat bibir Ary dengan penuh nafsu. Kemudian kubuka reitsleting celananya dan kutanggalkan celana panjang dan celana dalamnya. Kemudian aku jongkok di hadapannya, sambil meremas, menjilati, dan mengulum lontongnya dalam mulutku.

Setelah kurasakan lontongnya semakin keras, kudorong tubuh Ary duduk di tepi tempat tidur. Kemudian aku berdiri membelakanginya, dan setengah jongkok kupegang dan kuarahkan lontongnya masuk ke dalam lubang kewanitaanku yang sudah basah itu. Kuturun-naikkan dan kuputar pinggulku untuk merasakan nikmatnya lontong Ary yang telah masuk seluruhnya dalam lubang vaginaku. Sambil bergoyang itu, aku merintih dan berdesah, "Oooh.. aaaghh.." Ary tak mau ketinggalan, ia membantu menurun-naikkan pinggulku dan kadang-kadang meremas-remas kedua buah dadaku. Kurang lebih tiga menit dengan posisi ini, terasa aku sudah mau orgasme. Kupercepat gerakan turun naik dan goyangan pinggulku, dan saat itu Ary merintih, "Oh.. oh.. Wita, Ary mau keluar.. oh.."

Akhirnya berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan lontong Ary menyemprotkan spermanya dengan keras memenuhi lubang vaginaku. Tubuhku terasa terbang merasakan semprotan yang hangat dan nikmat itu. Kemudian kukeluarkan lontong Ary dari lubang vaginaku. Kulihat masih cukup keras. Dengan penuh nafsu kujilati, kuhisap lontong Ary yang masih basah diselimuti campuran sperma kami berdua.

Tak berapa lama kemudian lontong Ary kembali keras. Kemudian kuminta Ary menyetubuhiku dari belakang. Dengan menopangkan kedua tanganku di atas meja hias dan posisi menungging, kusuruh Ary memasukkan lontongnya ke dalam lubang vaginaku dari belakang. Betapa nikmatnya kurasakan lontong Ary menghunjam masuk ke dalam lubang vaginaku, kemudian sambil meremas-remas kedua buah dadaku, Ary mempercepat tusukan lontongnya. Dari cermin yang berada di hadapanku, kulihat gerakan dan ekspresi wajah Ary yang sedang mempermainkan lontongnya di dalam lubang vaginaku. Situasi ini menambah naiknya birahiku. Kurang lebih tiga menit merasakan tusukan-tusukan lontongnya, aku tak tahan ingin orgasme lagi. Aku merintih, "Aduh.. oh.. agh.. Ri, tembus Ri.. aagh.. Wita mau keluar lagi, cepatkan Ri.. oh.. aaghhh.." Ternyata Ary pun mau keluar. Ia pun merintih, "Oh.. augh.. Wita, Ary juga mau keluar.. aduh.. Wita.. bareng ya.. oh.." Beberapa saat kemudian, secara bersamaan aku dan Ary mencapai orgasme. Kurasakan kembali semprotan sperma Ary yang hangat dan nikmat lubang vaginaku.

Setelah itu, kami berdua berpelukan dengan mesra. Aku berkata, "Nakal ya.." Ary mencium pipi dan keningku kemudian pamit keluar. Kemudian aku pun keluar ke kamar mandi untuk membasuh vaginaku. Jam 14:00, jemputan mobil dari kantorku datang. Malamnya sesuai janji via telepon, kembali Ary masuk ke kamarku dan menyetubuhiku secara terburu-buru, karena khawatir ada yang memergoki. Walau dalam keadaan terburu-buru, persetubuhanku dengan Ary yang dilakukan setiap dini hari itu, cukup memuaskan, karena paling tidak setiap bersetubuh itu aku bisa orgasme minimal satu kali dan merasakan semprotan sperma Ary di dalam vaginaku.

Selanjutnya, persetubuhanku dengan Ary yang benar-benar memuaskan dan menyebabkan aku lemas tak berdaya adalah saat malam takbiran. Pada malam itu, aku menginap di rumah orang tuaku. Sesuai janji via telepon Ary datang menjengukku. Kami berdua duduk mengobrol merayakan takbiran di rumah. Kedua orang tuaku menyuruhku menawarkan bir kepada Ary. Selesai acara TV, ayahku pergi keluar rumah dan ibuku masuk tidur. Kini di ruang tamu, tinggal aku dan Ary duduk berdua ngobrol sambil menikmati bir sepuas-puasnya. Karena pengaruh bir, kurasakan nafsu seksku mulai naik. Kemudian aku pamit sebentar, melihat kedua anakku sekalian mengecek Ibuku. Aku mengganti bajuku dengan daster dan kutanggalkan celana dalamku. Setelah kuketahui ibuku sudah pulas tidur dan keadaan aman, aku kembali ke ruang tamu, duduk di sebelah Ary. Tak lama kemudian Ary sudah memelukku, menciumiku sambil bertanya apa ibuku sudah tidur. Mengetahui ibuku sudah tidur, Ary mulai menggerayangi vaginaku dengan jari-jari tangannya sambil melumat bibirku. Aku menggelinjang dan merintih, "Oh.. Ri.. enak sekali.. Ri.. oh terus Ri.." Aku tak mau kalah dan kuremas-remas lontongnya dari luar celana yang membuat lontongnya semakin keras. Kemudian kusuruh Ary berdiri, kubuka reitsleting celana panjangnya dan sekaligus celana dalamnya. Kulihat dan rasakan lontong Ary lebih keras dan besar dari biasanya.

"Aduh.. wow.. kok lebih keras dan besar Ri lontongnya?" Ary berterus terang bahwa sorenya ia minum jamu kuat laki-laki sebagai persiapan untuk memuaskan diriku. Kuhisap, kujilati dan kukulum lontongnya dengan penuh nafsu. Karena tak tahan lagi, kudorong tubuh Ary duduk di sofa. Aku duduk di atas pangkuannya. Kemudian kupegang dan arahkan lontongnya ke dalam vaginaku. "Wow.. aduh Ri.. gede banget dan enak Ri, lontongnya.. aduh.. oohh.." aku mengerang. Sambil kulumat bibirnya, kunaik-turunkan pinggulku agar dapat merasakan gerakan, tusukan dan denyutan lontong Ary. Sekitar dua menit kugoyang, akhirnya aku mencapai orgasme karena tak tahan merasakan lontong Ary yang lebih keras dan besar dari biasanya. Kemudian kami berdua merubah posisi dengan doggy style. Kurang lebih tiga menit, lagi-lagi aku tidak tahan dan orgasme untuk yang kedua kalinya. Setelah beristirahat sebentar, kami berdua merubah posisi dengan berdiri. Lontong Ary masih keras dan ia belum keluar sama sekali. Lagi-lagi, mungkin karena pengaruh bir dan nafsu yang menggebu, aku mencapai orgasme yang ketiga kalinya.

Dengan masih mempertahankan lontongnya yang keras dan panjang di dalam vaginaku, Ary menggendongku masuk ke kamar tidurku. Direbahkan tubuhku di kasur di atas lantai yang sudah kusiapkan. Masih kurasakan nikmatnyan dan orgasmeku yang keempat kalinya saat Ary menyetubuhiku dengan posisi di atas. Setelah itu aku tak ingat lagi dan menyerah pasrah menerima tusukan-tusukan lontong Ary.

Mungkin lebih dari 10 kali aku mencapai orgasme, dan aku tak tahu berapa kali Ary keluar. Saat terbangun kira-kira jam 5 pagi, terasa kepuasan yang amat sangat pada diriku walau kakiku rasanya gontai dan lemas. Kurasakan juga kehangatan sperma Ary yang masih ada di dalam vaginaku. Tak disangka selingkuhku di malam takbiran dengan Ary adik suamiku adalah yang terakhir, karena beberapa hari kemudian, suamiku sudah kembali ke rumah.

Sekembalinya suami di rumah, malam harinya suami mengajakku bersetubuh. Sambil bersetubuh, suami bertanya apakah jadi selingkuh dengan Ary. Karena memang sudah diijinkannya, aku berterus terang mengaku. Pada mulanya suamiku agak marah, mungkin tersinggung, tapi akhirnya ia memaafkanku. Sejak saat itu hubunganku dengan Ary praktis terputus. Namun, Ary masih mencoba mendekatiku dan berusaha mengajakku untuk berhubungan lagi. Hal itu ia lakukan beberapa kali via telepon saat suamiku ke kantor. Walau sebenarnya aku sendiri masih menginginkannya, namun ajakan Ary tersebut terpaksa kutolak. Selain suasana rumah memang tidak memungkinkan, aku juga khawatir jika suamiku akan marah karena ia belum mengijinkan lagi.

Peristiwa perselingkuhanku dengan adik ipar atas saran dan ijin suami menjadi pengalaman yang manis sampai saat ini. Lebih dari itu, jika suami mengungkit-ungkit lagi masalah ini dan minta aku menceritakannya kembali, bukannya marah yang kudapat darinya, malah sebaliknya kasih sayang yang makin besar.

Setiap kali akan meniduriku, untuk merangsang dirinya, suamiku selalu meminta aku untuk menceritakan kembali pengalaman selingkuhku dengan adiknya itu. Ia kerap bertanya posisi apa saja yang aku dan Ary lakukan saat berhubungan seks, berapa kali aku klimaks, bagaimana rasanya vaginaku menerima semburan sperma Ary dlsb. Untuk membahagiakannya, kuceritakan semuanya secara jujur. Setiap kali mendengar ceritaku itu, nafsu seks suamiku semakin meningkat dan ia meminta aku mempraktekannya kembali dengan menganggap dirinya sebagai Ary. Terus terang, gairah seksku pun semakin meningkat saat harus membayangkan dan mempraktekan kembali cara-cara hubungan seksku dengan Ary.

Ternyata perselingkuhan tidak selalu merusak keharmonisan rumah tangga. Mungkin ada benarnya jika orang menerjemahkan arti kata 'selingkuh' sebagai 'selingan indah keluarga utuh'.

TAMAT
Pengirim: 17thn (17thn@yahoo.com)

17Tahun " Tiga Seseorang"  

2 komentar

Semua ini berawal ketika pada suatu pagi seperti biasa aku bersih-bersih di ruang kerja suamiku, sementara suamiku sudah berangkat kerja, komputer masih dalam keadaan menyala dan ketika mousenya tersenggol secara tidak sengaja, tampak tampilan layar yang menunjukan banyak gambar telanjang. Aku menjadi tertarik dan penasaran. Setelah kuteliti, ternyata itu adalah file yang didownload dari sebuah situs yang dikhususkan bagi para suami dimana istrinya melakukan hubungan sex dengan laki-laki lain dalam segala variasinya dan semuanya atas sepengetahuan dan persetujuan suaminya. Aku mulai membaca dan tanpa sadar, gairahku mulai naik.

Malam itu sehabis makan malam dan suamiku tengah bersantai dengan acara TV kesukaannya, kubawakan kopi manis lalu aku duduk di sampingnya dan dengan hati hati aku bertanya..

"Mas, tadi pagi kok pergi komputernya masih menyala?"
"Wah.. Aku lupa matiin ya? Soalnya tadi ada rapat jadi agak terburu-buru lupa periksa..", jawabnya.
"Terus kok isinya begituan sih?", tanyaku.
Suamiku tampak memerah wajahnya dan dengan lirih menjawab sambil bertanya, "Mama marah..?"
"Nggak.. Cuma heran saja.., Maaf ya Mas, bukannya aku dengan sengaja memeriksa, tapi karena terpampang begitu kan harus di off-kan, kalau sampai anak-anak melihat bagaimana?", jawabku.
"Maafkan Mas ya", suamiku bekata lagi.
"Mas.. Boleh tanya?", tanyaku lagi.
"Hmm.. Masa nggak boleh?", jawab suamiku.
"Kok isinya tentang wife swinging dan sejenisnya sih..?", aku mulai berani bertanya.
"Memang kenapa..?", tanyanya.
"Kok bukan pornografi yang umum.., gitu maksudku..", tanyaku mendesak.
"Ok.. Boleh Mas terus terang..?", suamiku bertanya dengan nada khawatir.

Dengan jantung berdegub kencang aku mengangguk dan suamiku menjelaskan bahwa selama bertahun tahun ia terobsesi pada aktifitas sex dimana seorang istri melakukan hubungan dengan laki-laki lain atas sepengetahuan dan seijin bahkan di depan suaminya atau melakukannya bersama-sama dengan mengundang pihak ketiga, dan bahwa situs-situs tersebut digunakan untuk memancing gairahnya sehingga selalu bersemangat melayaniku. Ia juga mengatakan bahwa ia selalu berimajinasi membayangkan bagaimana kalau aku melakukan hubungan sex dengan laki-laki lain.

Sebagai seorang istri berusia 35 tahun (dengan 2 orang anak, yang besar sudah berusia 8 tahun sementara yang kecil 4 tahun), kesibukanku hanya terbatas pada mengurus rumah tangga, mengantar anak sekolah, fitness, dan arisan walau dulu aku sempat aktif waktu kuliah dan sempat bekerja sebagai customer service di sebuah perusahaan besar, namun sejak menikah 10 tahun yang lalu, kegiatanku hanya seputar rumah tangga, dengan pernikahan yang berjalan dengan baik, suamiku seorang wiraswastawan yang berhasil dengan penghasilan lumayan besar. Kami memiliki aktifitas seksual normal, dalam arti kata aku maupun suamiku sama-sama mampu memuaskan pasangan masing-masing hingga aku agak terkejut bahkan agak marah dan merasa aneh, kok bisa begitu?

"Jangan-jangan Mas ingin menjebakku supaya Mas juga bebas berselingkuh sama wanita lain. Atau Mas sudah punya simpanan lain?", aku bertanya dengan nada agak tinggi.
"Wah kok mikir sejauh itu sih?", jawabnya.
"Coba deh Mama baca semua penjelasan yang ada, hal itu ternyata normal kok secara psikologis, dan ada dasar ilmiahnya, bahkan pada pasangan yang terbuka seperti itu angka perceraian hampir 0% lho", jawabnya diplomatis

Pagi harinya kucoba menelusuri seluruh isi file yang kemarin dan memang ternyata suamiku tidak bohong, banyak sekali contoh kasus, cerita dan lainnya yang ada disana didownload dari berbagai sumber dan tidak semuanya pornografi. Ada juga yang sangat ilmiah, dan aku mempercayai suamiku bahwa ia memang benar terobsesi dengan hal tersebut.

"Mas.., aku sudah memenuhi permintaan Mas untuk membaca dan mencari informasinya, tapi masa sih.. obsesinya seperti itu.. Apa nggak ada cara supaya jangan seperti itu..?", aku membuka percakapan tentang hal tersebut ketika kami sedang berduaan.
"Sudahlah.. Jangan dipikirin..", jawabnya.

Tapi aku yang sekarang penasaran. Karena cerita dan lainnya yang kubaca pagi tadi sesungguhnya mengangkat gairahku tinggi sekali. Dan kubayangkan kalau saja..

"Bukan 'gitu tapi kan aku juga mesti membantu Mas supaya hubungan kita jangan sampai terpengaruh.., apa yang bisa kulakukan..?", ujarku setengan bertanya setengah menjawab.
"Mama mau.. kalau..", suamiku berkata ragu-ragu.
"Mau apa..?", tanyaku.
"Kalau kita mengajak orang lain dan bermain bersama..?", tanyanya dengan lirih dan hati-hati.
"Wah.. Gila.. Nggak ah..", jawabku dengan wajah merah, walau hatiku sebenarnya sangat tergelitik..
"Lagian siapa yang mau dengan ibu-ibu yang sudah tua sepertiku", aku menjawab lagi dengan sedikit memancing.
"Heh.. Siapa bilang tua.., Mama masih sangat cantik dan sexy kok", suamiku menjawab sambil mencubit mesra.

Memang sih aku juga tahu kalau aku masih menarik, dengan tinggi 162 cm, berat 50 kg, berkulit kuning langsat, BH berukuran 36 dan tubuh yang kujaga kesintalannya, aku masih menjadi perhatian saat berjalan di mal ataupun tempat ramai, banyak laki-laki yang memperhatikanku.

"Atau..", suamiku tampak ingin berbicara sesuatu tapi tampak ragu.
"Atau apa.. Mas?", tanyaku sambil menyenderkan tubuhku padanya.
"Ng.. Gimana kalau kita buat percobaan.. Sekalian melihat reaksiku.. Juga reaksi mama.., Tapi yang ringan dulu", suamiku berkata lagi.
"Maksudnya gimana sih..?", tanyaku pura-pura tak mengerti.
"Gini.. Kita panggil pemijat laki-laki.. Kan cuma sebatas memijat.., tapi minimal kita bisa mengukur reaksi masing masing", jelas suamiku lagi.
"Ah.. Nanti orangnya nggak bersih..", kataku pura-pura mencoba menolak.., walau sebenarnya aku anggap ide suamiku tersebut sangat baik.
"Aku tahu kok, ada temen di kantor yang pernah coba, dia cerita pengalamannya dan diam-diam kucatat nomor telepon pemijat itu", suamiku kini mulai bersemangat menjelaskan.
"Mau kan Ma..?", tanyanya.

Wah rupanya ide ini sudah diatur lama, pantas saja semua sudah disiapkan. Tapi aku tidak mau tampak antusias.

"Terserah Mas saja.. Terus mau dimana pijatnya?", tanyaku asal asalan.
"Di rumah saja.. Kan anak anak sudah tidur, kutelepon dia ya?", suamiku benar benar bersemangat kini.
"Sekarang..?", aku benar benar surprise, namun juga tak sampai hati merusak pancaran semangat suamiku.
"Iya.. Mama mau.. kan?", tanyanya lagi seperti anak kecil.
"Ya.. Terserah Papa aja deh", jawabku seakan pasrah.
"Tapi kalau orangnya nggak cocok jangan maksa ya", aku melanjutkan.
"Jelas dong.. Masa kalau istriku tercinta nggak mau harus diperkosa?", jawabnya dan lalu dengan sigap diambilnya HP lalu sibuklah dia bicara entah dengan siapa..
"Ma.. Jam 11.. Nanti orangnya datang..", katanya menyusulku di dapur.
"Hm..", jawabku sambil mengaduk gelas berisi kopi.
"Ya sudah sana.. biar kuselesaikan dulu pekerjaanku ini", lanjutkuDengan bersiul gembira suamiku beranjak ke ruang kerjanya, sementara aku lalu mandi dan mempersiapkan diri, entah kenapa aku jadi berdandan dan mengenakan daster sutera yang membuatku tampak sexy, dengan belahan dada yang rendah, aku ingin tampil cantik, padahal siapa yang akan datang aku juga tidak tahu.

Ning.. Nong.., pada pukul 11 kurang sedikit bel rumah berbunyi dan suamiku bergegas keluar menyambut tamunya, sementara pembantuku sudah pada tidur, lagi pula sudah kupesankan kalau malam ini kami akan ada tamu tapi tidak perlu repot karena tamu tersebut adalah teman suamiku.

"Silakan Mbak", suara Harry membuyarkan lamunanku.
"B.. Bagaimana caranya..?", tanyaku agak nervous.
"Mbak berbaring saja.. Telungkup, mohon dasternya dibuka ya..?", Harry berkata dengan lembut, namun profesional, tegas dan tidak tampak kurang ajar.

Aku lalu melangkah ke kamar mandi di dalam kamar kami, dengan hati yang tidak karuan karena takut, tegang namun exciting kubuka dasterku, dan mengambil handuk yang kulilitkan di tubuhku. Aku kembali ke kamar dan langsung menelungkupkan diri di ranjangku.

Harry duduk di sampingku dan membuka handuk yang masih terlilit, lalu handuk itu digunakan untuk menutupi bongkahan pantatku. Aku masih mengenakan celana dalam, dan terasa dingin ketika tangannya mulai melumuri punggungku dengan lotion yang harum. Tangan kekar itu mulai mengurut perlahan namun mantap dan perlahan aku mulai merasa rilex, sementara kulirik suamiku yang duduk memperhatikan dengan wajah penuh senyum dan rasa senang.

"Hmm.. Senang olah raga ya Mbak..", tanya Harry.
"Badan Mbak kencang sekali..", katanya lagi sementara tangannya tak berhenti memijat mulai dari bahu turun ke punggung.
"He.. Eh..", jawabku sekenanya karena aku sungguh menikmati pijatan lembut namun bertenaga dari pria yang baru ketemu sekarang ini.

Kedua tanganku bergiliran juga diurutnya dan entah sudah berapa lama ketika kurasakan tangan itu mengangkat handuk yang menutupi pantatku.

"Mbak celana dalamnya boleh dibuka..? Supaya mudah diurutnya", Harry berkata dengan perlahan dan tanpa menunggu persetujuanku, celana dalamku sudah diturunkan dan anehnya aku mengikuti dengan mengangkat perutku untuk memudahkan turunnya celana dalamku.

Lengkaplah pikirku, kini aku telanjang bulat telungkup di ranjang dan seorang laki-laki asing yang baru ketemu belum sampai dua jam memijati seluruh tubuhku.

"H.. Hh.. Ss..", aku mendesis ketika tangan yang sedang memijat pantatku menyentuh anus dan terkadang menyenggol vaginaku, aku mulai 'naik'.
"Direnggangkan sedikit Mbak..?", kudengar suara Harry berkata sementara tangannya memijat pahaku, meminta aku merenggangkan kedua kakiku.

Kini semakin sering vaginaku tersentuh ketika Harry memijat paha bagian dalam, dan aku semakin menahan birahi yang mulai naik, dan ketika kulirik.. kulihat suamiku memperhatikan dengan seksama, dan aku kenal sekali wajahnya kalau ia juga agak terangsang dengan suasana yang ada ini.

"Balik Mbak..!?!", suara lembut Harry memecah kesunyian, memang bukan aku nggak mau ngobrol tapi posisi telungkup itu membuatku susah berbicara.

Aku membalik dan kini benar benar aku telentang tanpa selembar benangpun dan kulihat bahwa walau professional, Harry tampak menelan ludah melihat tubuh mulusku terpampang di hadapannya.

Tangannya mulai memijat payudaraku dan tanpa dapat dicegah, putingku mengeras ketika tersentuh. Setelah kurang lebih 3 menit masing–masing payudara mendapat 'giliran', tangannya mengusap perutku dengan lembut dan terus ke bawah.. Aku mulai menggigit bibir. Dengan penuh konsentrasi, kulihat Harry mulai memijat paha, kaki lalu balik lagi ke paha dan mulai memijat vaginaku..

"Uh.. Oh..", erangku lirih ketika tangannya memijat atau lebih tepat mengusap bibir vaginaku dan sesekali jarinya 'membuka' vaginaku dan menyentuh klitorisku.

Lalu.. Jarinya mulai memasuki vaginaku yang memang sejak tadi sudah membasah.

"Hh.. Uh..", aku mencoba menahan rasa terangsang yang mulai membakar dan tanganku mencengkeram seprai tempat tidur dan ketika suamiku maju mendekat, kupegang tangannya yang dibalasnya dengan genggaman.

Kini jari-jari tangan Harry benar benar memainkan vaginaku dengan penuh irama dengan jari telunjuk vaginaku di 'tusuk' dan digerakkan maju mundur sementara jempol tangannya memainkan klitorisku dan iramanya benar benar konstan membawaku sangat tinggi dan ketika aku hampir mencapai orgasme, tiba tiba ia menghentikan gerakannya.

Tanpa sadar aku memperbaiki posisiku, sementara Harry juga mengatur posisi menempatkan diri di tengah kedua kakiku yang kini sudah mengangkang lebar, meletakan bantal di pantatku sehingga posisinya nyaman dan mudah untuk menjilatiku.

Lidah hangat itu mulai menjilat, menelusuri dan sesekali menerobos liang vaginaku, dan aku semakin tak tahan..

"Oh.. Uh.. Hh..", tanganku pun sudah tak sungkan untuk menjambak dan memegang kepala laki-laki itu.

Aku semakin tak tahan ketika lidah itu menelusur ke belakang dan mulai menjilati, bahkan memasuki anusku..

"Oh.."

Terlalu dahsyat sensasi yang kurasakan dan ketika lidahnya secara teratur kembali memasuki liang vaginaku dengan irama teratur juga menjilati bahkan menyedot klitorisku, akupun berteriak..

"Aakkhh.. Aku keluaarr.."

Dan orgasme itu benar benar membuatku terkulai, namun aku masih merasa belum lengkap, vaginaku masih ingin.. kemaluan.. pria.. Namun orgasme tadi menyadarkan aku bahwa ada suamiku di sini dan ketika kulihat ia tampak sangat terangsang.

"Mbak.. Sungguh cantik.. Senang sekali bisa membantu..", suara Harry yang memujiku kembali membuatku tersipu, dan aku segera bangkit, menyambar handuk lalu setengah berlari menuju kamar mandi.

Aku mandi dan vaginaku masih terus berdenyut-denyut. Ketika aku selesai, kulihat suamiku memberi tanda dan berkata..

"Ma.. Harry mau pamit.."
"Terima kasih Mas..", kataku dan mengulurkan tangan mnerima jabatannya, sempat kulihat bagaimana selangkangan laki laki itu tampak menggembung, kasihan.., pikirku.
"Hmm.. Bagaimana Ma..?", tanya suamiku sekembalinya ke kamar setelah mengantar Harry ke pintu.

Aku tidak menjawab, namun langsung menerkamnya, melucutinya dan kemaluannya langsung berada di mulutku..

"Uh..", cuma itu desahan yang kudengar dan tidak sampai dua menit mulutku sudah penuh air mani suamiku.
"Gila.. Aku sungguh tidak tahan dari tadi, apalagi ketika Harry menjiilatimu", kata suamiku ketika kami berbaring, menunggu dia 'recover' sementara tanganku asyik mengelus kemaluannya yang masih setengah tidur.
"Mas nggak cemburu atau sakit hati?", tanyaku.
"Nggak.. Malah sangat terangsang.. Toh aku tahu kamu istriku dan mencintaiku", jawabnya dan aku tak sempat menjawab karena bibirnya sudah menutup bibirku.

Malam itu kami bercinta berkali kali, dan kuakui efek dari kehadiran laki laki lain itu sungguh sangat meningkatkan gairah kami.

"Lain kali.. Boleh kuminta yang memijatmu juga telanjang?", tanya suamiku beberapa hari kemudian.
"Terserah Mas.. Bagimana baiknya..", aku menjawab ketika beberapa hari kemudian kami sedang berbaring sehabis bercinta.
"Tapi.. Kalau bisa jangan Harry lagi..", kataku.
"Kenapa..?" tanya suamiku.
"Nggak ah.. Jangan sampai ada pihak lain yang nanti merasa terlalu dekat dengan kita", jawabku lagi.

Memang aku tidak ingin rumah tanggaku terguncang karena sebenarnya aku yang takut kalau-kalau aku jadi senang dengan laki laki lain, apalagi setampan dan se-gentle Harry, masih terbayang betapa besar gelembung celananya ketika ia selesai menjilatiku,
Malam itu sesuai rencana kami, kembali suamiku mengundang pemijat laki-laki dan.., heran dari mana ia memperolehnya, karena laki-laki ini sungguh tak kalah ganteng dan bahkan lebih tampan dengan kumis tipis yang tercukur rapi.

Kali ini aku lebih siap, jadi agak santai sehingga ketika mulai dipijat aku juga jauh lebih rileks, tapi CD tetap kupakai sampai akhirnya diminta untuk dilepaskan, persis sama dengan tempo hari.

Ketika aku diminta berbalik, kulihat suamiku memberi kode dan aku ingat permintaannya, sementara kulihat gelembung di selangkangan Rudy, nama pria pemijat itu, mulai membesar melihatku telentang telanjang bulat di hadapannya.

"Rud..". kataku agak tersendat, karena aku agak malu mengatakannya.
"Masa saya sendiri sih yang telanjang begini.., yang mijat juga harus.. dong", kataku lagi sambil menatap wajahnya.
"Kalau Mbak inginnya begitu.. Ya saya ikuti.. Kan memenuhi keinginan klien merupakan kewajiban", katanya dengan nada bergurau, dan ia melihat ke arah suamiku meminta persetujuan yang segera disambut dengan anggukan kepala suamiku.
"Ya.. Ikuti saja kemauan istri saya Rud", kata suamiku menegaskan.

Agak terbelalak aku ketika melihat Rudy melangkah keluar dari kamar mandi dimana ia menanggalkan pakaiannya. Kemaluannya belum ereksi penuh, tergantung di antara pahanya dengan rambut kemaluan yang lebat, ukurannya jauh lebih besar daripada milik suamiku, tubuhnya atletis, sungguh sosok yang mempesona.

Ketika ia mulai duduk di sisiku dan melanjutkan pijatannya, kulirik kemaluannya mulai ereksi dan seiring dengan proses pemijatan yang berlangsung terkadang kemaluannya menyentuh tubuhku hingga menimbulkan beragam sensasi yang belum pernah kurasakan.

"Hh.. Hh.. Ss..", aku mendesis ketika tangannya mulai memijat atau lebih tepatnya menyentuh vaginaku.

Aku sungguh menjadi lupa diri, bahkan lupa kalau suamiku sedang menyaksikan dengan penuh perhatian, bahkan aku yang mengambil inisiatif membalik posisi sehingga aku berada di atas dan dengan leluasa menghisap dan menjilat kemaluan laki-laki lain itu, bahkan kujilati seluruh batang yang penuh urat perkasa itu, kujilat bijinya dan terkadang jilatanku agak 'kejauhan' hingga terkena anusnya, namun aku tak peduli, nafsu sungguh sudah menguasaiku, sementara Rudy juga tidak tinggal diam, wajahnya yang kukangkangi bergerak terus dan lidahnya aktif sekali 'menyerang' dari semua sudut sementara tangannya terkadang ikut membantu dengan menusukan jarinya ke dalam vaginaku, aku benar-benar 'banjir'.

"Hh.. Aku nggak tahan", rintihku, lalu kubalik posisiku dengan masih pada posisi di atas, aku mulai mengarahkan kemaluan Rudy menuju vaginaku.
"Zz.. Ss.. Hh..", seperti orang kepedasan aku bersuara dan sungguh seret vaginaku menerima benda bulat panjang yang keras itu namun akhirnya..

Sllep.., masuklah kepalanya dan hampir-hampir aku orgasme padahal baru kepalanya yang masuk.. Dengan menahan napas dan memejamkan mata, kutekan pantatku ke bawah dan.. Blless.. Masuklah kemaluan Rudy, laki-laki pertama selain suamiku yang memasuki vaginaku yang sudah sangat basah itu, campuran cairan kewanitaanku dan ludah Rudy ketika menjilatiku tadi.

Aku mulai menggerakkan pantatku naik turun dan kemaluan itu semakin lancar saja masuk keluar vaginaku, dan aku tahu kalau aku takkan bertahan lama. Tiba-tiba kulihat suamiku mendekat, juga dalam keadaan sudah telanjang bulat dan kemaluannya yang sudah sangat tegang itu disodorkan ke mulutku yang langsung kusambut dengan lahap.

"Ak.. Kk.. U..", sangat susah aku bersuara karena kemaluan suamiku masuk keluar mulutku dengan cepatnya, sementara aku juga masih terus bergerak teratur dengan kemaluan Rudy keluar masuk vaginaku.
"Aahhh..", croot.., croott.., suamiku memuntahkan air maninya dalam mulutku yang tanpa berpikir lagi langsung kutelan, sementara aku juga tak mampu lagi menahan orgasme yang datang dan..
"Ah.. Ss.. Ahh..", sungguh dahsyat orgasme ini datang beruntun dan aku ambruk di atas dada Rudy sementara bibirku langsung dicium dan lidahnya memasuki rongga mulutku tanpa peduli lagi bahwa mungkin masih banyak air mani suamiku di bibir dan mulutku.

Rudy tidak berhenti begitu saja namun membalik badanku hingga kini berada di bawah dan tanpa memberi kesempatan langsung bergerak memompa dengan keras namun teratur.., dan entah bagaimana, walau baru saja orgasme namun birahiku terasa naik lagi dan aku hanya bisa merintih penuh kenikmatan.

"Ss.. Aa.. Hh.. Sszz", aku tak bisa menahan lagi orgasme yang tak kalah dahsyatnya dengan yang pertama, melandaku kembali dan kurasakan Rudy juga mempercepat gerakannya, kujepit pinggangnya dengan kakiku, sementara tanganku memeluknya seerat mungkin dan..

Crrot.. crott.. crrot.., air mani yang terasa sangat hangat menyiram dinding dalam vaginaku, tubuh kami masih bergetar beberapa saat sebelum ia berguling dari atas tubuhku, dan kami terbaring kelelahan, suamiku juga tampak sangat puas dan tersenyum melihatku kelelahan dan penuh kepuasan, lalu menghampiriku dan mencium bibirku dengan mesra.

Aku duduk dengan suami di sampingku, Rudy masih berbaring. Kemaluannya tampak melemas, dengan lendir yang membasahi hingga ke bulu kemaluannya.

Entah pikiran apa yang tersirat, tiba tiba saja aku menundukkan kepala dan kemaluan itu masuk ke dalam mulutku, kuhisap dan kujilat, lidahku bermain di lubang kemaluan itu, dan perlahan tapi pasti kemaluan itu mulai membesar kembali dalam mulutku. Hebat, pikirku. Suamiku takkan secepat ini dapat bangkit kembali.

"Mhh..", laki-laki itu mulai mengerang dan aku semakin aktif menjilat dan menghisap, tak kupedulikan lendir yang terpaksa kutelan dan tanganku ikut membantu mengocok pangkal kemaluannya dan ternyata.. Aku menang..

Crot.. Crott.., memang tidak terlalu banyak, namun masih terhitung cukup air mani pemijat itu memasuki mulutku dan aku juga tak memberi kesempatan padanya hingga kutelan air mani yang dikeluarkannya itu sambil terus menghisap sampai akhirnya kemaluan itu benar benar mengecil dan 'tertidur' baru kulepaskan dari mulutku, lalu kupeluk suamiku yang masih berada di sampingku dan kucium bibirnya tanpa peduli bahwa masih ada sisa air mani laki-laki lain yang menempel dibibirku, namun ia tidak berkeberatan bahkan menyambut ciumanku dengan antusias.

Malam itu setelah Rudy pulang dengan mengantongi uang pembayaran atas jasanya, kami berbincang-bincang dan kembali aku melayani suamiku yang masih belum terpuaskan sepenuhnya. Setelahnya, malam itu aku tidur sangat lelap, dan paginya bangun dengan tubuh yang pegal namun perasaanku penuh kepuasan. Kejadian semalam ternyata sungguh mengubah diriku.......
Selama beberapa minggu, kehidupan kami kembali normal, namun tiba tiba pada suatu malam aku merasa begitu bernafsu, walaupun baru saja selesai berhubungan intim dengan suamiku, dan entah dorongan apa yang membuatku hingga berani 'meminta'.

"Mas.. Aku.. Ingin..", kalimatku hampir tak selesai.
"Hm.. Ingin.. Apa sayang..?", tanya suamiku setengah terpejam masih menyisakan kelelahan setelah terpuaskan.
"Ngg.. Masih ingin lagi.. Nih.., Mas.. Sih.. Gara.. Gara waktu itu.. Jadi.. Kadang kadang tingginya.. Bukan main nih.. Nafsuku..", kataku setengah merajuk sambil mulai meremas kemaluan suamiku yang belum menegang lagi.
"Mama.. Mau.. Di panggilin lagi?", kini suamiku juga mulai bersemangat lagi, sambil memperbaiki sikap duduknya.
"Ng.. Kalau Mas.. Nggak keberatan..", jawabku. Suamiku tersenyum..
"OK.. Kupanggil ya.. Tapi Mas nggak ikut main ya? Masih cape nih.. Mana besok ada rapat pagi, ntar nggak bisa fokus lagi", katanya.
"Ya.. Udah lain kali aja..", jawabku.
"Nggak apa-apa kok.. Mas senang kalau Mama puas, apalagi mau terus terang begini..", suamiku menjawab, berpakaian dan sambil menciumku segera beranjak menuju pesawat telepon.
"Jangan surprise ya?" katanya.

Tidak sampai dua jam, walau sudah larut (hampir jam 12.00 malam) bel rumah berbunyi dan ketika aku keluar, di ruang tamu sudah duduk 2 orang laki-laki muda yang sedang berbicara dengan suamiku. Kembali aku agak canggung, namun dengan luwesnya suamiku bisa mencairkan suasana dan setelah berbasa basi sebentar aku masuk kamar diikuti suamiku.

"Apa apaan sih.. Kok 2 orang..?", tanyaku dengan agak kesal namun juga ingin tahu.
"Nggak.. Apa apa.. Mas ingin Mama benar benar menikmati.. Mereka semua terjamin kok, lagian makin banyak makin seru kan..?", suamiku menjawab dengan senyum, namun matanya memandangku dengan sangat nakalnya.
"Udah.. Mau ganti baju atau langsung kusuruh masuk saja..?", tanya suamiku lagi.

Aku beranjak ke kamar mandi di dalam kamar, dan ketika keluar mengenakan daster, mereka sudah berada di dalam kamar dan salah seorang yang bernama Derry, bertubuh tinggi, berkulit kuning bersih dan berwajah seperti bintang sinetron, segera menghampiri dan menyambutku, sementara temannya yang bernama Ronald dengan postur sedikit lebih pendek kekar dan berpenampilan seperti ABRI memandangku dengan kagum karena memang aku sempat berdandan tadi ketika menunggu mereka.

Derry segera memegang tanganku, merangkul, dan sekejap kemudian aku sudah berada dalam pelukannya, lalu dibimbingnya aku ke ranjang dan Ronald menyusul, lalu mereka berdua mulai mencumbuku, seakan tak peduli dengan kehadiran suamiku yang memperhatikan dengan seksama.

Dengan lembut mereka melepaskan seluruh penutup tubuhku dan detik berikutnya bibir mereka sudah mulai menelusuri seluruh lekuk tubuhku. Bergantian mereka menjilatiku, kadang Derry mencium bibirku sementara Ronald menjilati payudara dan terus menelusur ke bawah, dan ketika lidahnya naik lagi Derry yang bergerak menjilatiku terus ke bawah sementara Ronald terus ke atas sampai kami saling berciuman.

Sensasi demi sensasi kudapatkan dari kedua pemuda ini, yang dengan sangat kompak bekerja sama menjilatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki..

Pengirim: yudi_prast (skorpioo05@yahoo.com)