6 April 2008

17Tahun "Tessa"  

1 komentar

Bagian 1
Pertama-tama saya ingin memperkenalkan diri, saya seorang mahasiswa sebuah universitas swasta di daerah Jakarta Barat yang terkenal banyak menghasilkan lulusan di bidang IT. Sebut saja saya Nick (nama samaran, tentu saja !!). Saya sendiri menganggap penampilan fisik saya tidaklah istimewa, biasa biasa saja, hanya saja banyak yang mengatakan kalau saya memiliki mata tajam seperti elang (beberapa teman menyebutnya mata bandit yang sedang mengincar korbannya, tak apalah :P) dengan tinggi yang rata-rata (176/71 kg). Sekarang ini saya bekerja part time di sebuah toko komputer kecil yang didirikan patungan dengan bekas teman teman SMA saya. Cerita ini merupakan pengalaman saya bertemu dengan wanita yang memiliki tempat khusus di hati saya, sampai kapan pun juga. Bagi pembaca yang menyukai cerita 'tembak langsung' mungkin akan kecewa dengan cerita ini karena cukup panjang dan kurang 'berapi-api'. Jadi bila anda merasa bosan, silakan melewatkan cerita ini, sedangkan yang ingin tetap membaca, saya ucapkan selamat membaca.

Suatu hari di bulan November, lewat tengah hari.

Hujan turun dengan derasnya dari pagi sehingga memnyebabkan kemacetan di kota Jakarta yang memang biasanya macet menjadi semakin padat. Nick mengawasi keadaan sekeliling dari balik kaca jendela Feroza hijau toska berkilat yang setia menemaninya sejak SMA. Sia-sia, tirai hujan terlalu pekat ditambah lagi langit mendung sehingga tidak memungkinkan mata minus satu-nya melihat lebih jauh dari 2 meter. Karena terburu-buru tadi kacamata Nick tertinggal di kantor. Hari ini Ia kebagian jatah untuk menanggapi complaint seorang customer di daerah Kebon Sirih. Karena hujan tidak juga mereda, ditambah macetnya jalan dan perutnya yang mulai menjerit minta di-isi maka Ia mengarahkan mobilnya memasuki Wisma GKBI. Di dalam restoran Hoka-Hoka Bento yang sepi ia memandang berkeliling, lalu melangkahkan kaki menuju ke arah counter. Setelah memilih sepiring salad, sup miso, seporsi Ekkado dan segelas lemon tea, Nick menuju kasir untuk membayar pesanan-nya.

Ia mengantri di belakang seorang gadis berusia 20-an. Tanpa kacamata pun Nick bisa melihat betapa menariknya gadis itu. T-shirt Armani hitam ketat membungkus tubuhnya yang langsing, dipadu dengan celana jeans biru tua dan sepatu high heel bertali, menunjukkan mata kaki dan punggung kaki yang putih bersih. Kuku bersih tanpa kuteks menambah keindahan alami kakinya yang panjang dan ramping, tipe kesukaan Nick. Rambutnya yang hitam dijepit ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang dengan rambut halus tenguknya.

Dari balik bahu gadis tersebut, tampak petugas kasir kebingungan mencari kembalian untuk secangkir kopi pesanan gadis tersebut yang dibayar dengan uang bergambar Bung Karno dan Bung Hatta.

Melihat kebingungan petugas kasir, Nick maju ke depan cash register.
"Sekalian saja masukkan dalam pesanan saya, mbak".
Gadis itu memandang Nick dengan tatapan aneh, tapi akhirnya ia mengedikkan bahu dan berjalan ke arah luar pagar besi antrian. Nick membayar pesanan-nya dan berjalan ke arah meja dekat jendela dimana gadis itu duduk.

"May I ??" tanyanya, mengisyaratkan kursi kosong di seberangnya. Seabad rasanya Nick menunggu ketika gadis itu menatap matanya dalam-dalam, sebelum menggerakkan kepalanya ke arah kursi kosong sebagai tanda bahwa ia tidak keberatan.
"Thanks for the coffee" katanya. Suaranya jernih, ada kesan sedih yang sulit dijelaskan di dalamnya.
"No big deal" senyum Nick. "Enjoy your coffee" sambungnya.

Di luar, hujan masih saja turun dengan deras. Nick menikmati makanannya dengan suapan-suapan kecil yang tidak terburu buru, sedangkan si gadis sesekali menghirup kopinya lalu melanjutkan lamunannya. Di antara suapannya Nick memperhatikan hujan di luar gedung. Beberapa orang pengojek payung menunggu di Pintu Utama. Pikirannya kembali beralih ke hujan di luar. Tetes air hujan jatuh menimbulkan bunyi ritmik yang aneh, tapi menyenangkan. Seperti nyanyian.

"Nyanyian hujan" gumam si gadis.
Hampir saja Nick tersedak karena tepat pada saat itu ia sedang mendengarkan irama aneh menyerupai nyanyian yang ditimbulkan tetes air hujan ke jalanan aspal.
"Aneh" Nick menatap gadis tersebut dengan pandangan bertanya. "Aku baru saja memikirkan hal yang sama".
"Aku suka hujan. Mereka seperti bernyanyi untukku" kata si gadis, pandangan mereka bertemu.

Gadis itu mengangkat kedua tangannya ke balik kepalanya untuk membetulkan jepit rambutnya. Gerakan ini membuat dadanya membusung, memperlihatkan siluet dua buah bukit yang tidak terlalu besar, namun berbentuk indah di balik bajunya. Ia melakukannya dengan bebas, seakan-akan tidak menyadari keberadaan Nick yang sedang memperhatikannya.

Nick baru sadar betapa menariknya wajah di hadapannya. Seraut wajah bertulang pipi tinggi, menimbulkan kesan anggun, dengan hidung mancung dan bibir yang merah basah. Dan matanya, belum pernah Nick begitu terpesona melihat mata seorang wanita seperti sekarang ini. Mata gadis itu agak sipit dengan sedikit garis lengkung di ujungnya, menimbulkan kesan misterius. Ditambah lagi dengan sorot matanya yang menyiratkan kematangan yang tidak biasanya ada pada gadis seumurnya. Pun begitu, ada keceriaan dan gairah hidup yang memancar dari sinar matanya, seakan-akan mengajak orang di sekitarnya untuk tersenyum seandainya saja tidak ada secercah sorot kesedihan di sana. Begitu kontradiktif, pikir Nick. Dan sangat menarik, tambahnya dalam hati.

"Nick" katanya sambil mengulurkan tangan. Dalam hati ia menyumpah mengapa sampai lupa memperkenalkan diri sebelumnya.
"Tessa" sambutnya lembut. Seperti ada aliran listrik ketika tangan mereka bertemu, sesuatu yang baru dua kali di alami Nick selama hubungannya dengan wanita-wanita dalam hidupnya. Setelah perkenalan tersebut, percakapan pun berjalan lancar. Ternyata Tessa memiliki wawasan yang luas sehingga enak di ajak ngobrol, layaknya mereka teman lama saja. Nick mengagumi keluwesan Tessa dalam bergaul, jelas bukan golongan remaja tanggung yang masih mentah seperti kebanyakan gadis-gadis seumuran Tessa pada umumnya. Entah mengapa, Nick merasa tertarik sekali pada gadis ini. Padahal baru kali pertama mereka bertemu.

Hujan akhirnya berhenti. Tessa menatap ke luar restoran, kegiatan di jalan mulai hidup kembali setelah matahari bersinar mengusir sisa-sisa hujan tadi.
"I gotta go, thanks for the coffee" Tessa bangkit dari kursinya. Mengulurkan tangan kepada Nick. Setiap gerakan gadis itu begitu luwes, menimbulkan desir aneh di hati Nick
"Nice to meet you, Tessa. Have a nice day" sambut Nick. Nick masih termenung sesaat ketika menyadari Ia lupa menanyakan nomor telepon Tessa. Gadis itu sudah hampir mencapai pintu ketika dengan setengah berlari NIck mengejarnya.
"Boleh aku meneleponmu kapan kapan ?" tanyanya.
"Sure, you can call me anytime". Tessa menuliskan 11 digit nomor teleponnya pada selembar struk pembayaran yang disodorkan NIck. Kemudian Ia meneruskan langkahnya setelah melemparkan senyum manisnya.

Perkenalan itu menjadi awal hubungan mereka yang penuh liku, dimana tawa, tangis dan air mata akan mewarnai hubungan mereka.

*******

Suatu Hari Sabtu, 3 bulan kemudian. 3:29 pm. Nick termenung di tempat kos-nya. Hujan turun deras di luar. Membuat ritme aneh dengan suara tetes hujan yang menimpa atap genteng dan jalanan beraspal. Ia teringat pertemuannya dengan Tessa beberapa hari yang lalu. Sudah 2 minggu Ia tidak menghubungi Tessa karena ada pekerjaan yang membuatnya sangat sibuk di kantor. Hampir tanpa berpikir Ia menyambar HP Nokia 5510 silver yang tergeletak di atas meja. Setelah ragu sesaat, akhirnya dorongan hatinya yang menang.

"Halo ?" di ujung sambungan terdengar suara lemah menyahut. Suara yang tidak akan terlupakan oleh Nick.
"Tessa, remember me ??".
"Nick, is that you ?" setelah beberapa detik Tessa terdiam, mencoba memeras memorinya yang masih kabur, mencari siapa pemilik suara bariton yang mengganggu acara tidur siangnya.
"Yupe. How are you girl ??". Terdengar suara tawa gadis itu, yang terdengar begitu sexy di telinga Nick, sebelum menjawab.
"Ngantuk. Kamu kan tahu jam segini termasuk dalam jam tidur siang-ku".
"I know, sorry to wake you up dear. But I can't help it, i wanna hear your voice." Sesaat mereka berdua terdiam.
"I miss you girl" bisik Nick lembut.
"oooh Nick, I miss you too" balas Tessa pelan. Nick tercekat. Benarkah suara Tessa bergetar tadi ?
"Nick, mau main ke sini ?? kita ngobrol sambil minum kopi".
"Takkan ada yang bisa menghalangiku menemuimu Tess. Give me an hour ok ?". Terdengar lagi tawa Tessa, "nggak usah mandi dulu Nick, langsung aja ke sini".
"Hehehehehe....ketahuan yah. OK, wait for me then".

Setelah menutup telepon Nick meraih tas ransel yang sudah menjadi trade mark-nya sejak SMA dulu. Isinya macam-macam mulai dari baju ganti, underwear, satu stel kemeja, dasi, perlengkapan mandi, pisau cukur beserta aftershavenya, Charger, sebuah kotak plastik berisi satu set obeng mikro, pinset, senter elastis, dan tang serbaguna. Dan tak lupa sebotol Drakkar yang sudah hampir habis. Sejak SMA Nick sering harus bepergian tanpa pulang ke rumah sehingga ia selalu membawa keperluan-nya dalam ransel tersebut. Apalagi sejak Ia bekerja part timer, bertambah lagi isi ranselnya dengan satu set peralatan untuk perbaikan kecil bila dibutuhkan pelanggan sewaktu-waktu. Dengan agak tergesa Ia melompat masuk dalam mobilnya. Nick memacu mobilnya secepat Ia bisa dalam hujan yang masih juga turun dengan deras. Kacamata minus satunya telah berganti dengan softlens berwarna hijau tua yang biasanya hanya dipakai bila ada acara pesta.

Sampai di rumah kontrakan Tessa, setengah berlari Nick membuka gerbang. Tidak dikunci, seperti biasa. Lalu Ia menuju pintu utama dan memencet bel. Pintu terbuka dan Tessa tersenyum menyambutnya.
"Ayo masuk, sudah kutungguin dari tadi". Nick mengikuti Tessa menuju kamar tidurnya. Dingin. Rupanya Tessa menyalakan AC-nya walaupun hari hujan seperti ini. Tessa menutup pintu kamar dan berbalik menghadap Nick. Entah siapa yang mulai, tahu tahu mereka sudah berpelukan erat. Nick berbisik di telinga Tessa berulang-ulang.
"Oooooh Tess, I miss you. Miss you so much". Hanya gumaman terdengar dari Tessa. Nafas Nick yang hangat di telinganya membuat badannya terasa menggigil.

Nick merasakan kehangatan mengaliri dirinya. Ia dapat merasakan tubuh Tessa yang lembut di dalam pelukannya. Hidungnya menangkap aroma tubuh Tessa yang merangsang. Halusnya kulit pipi Tessa bertemu dengan bibirnya. Tahu-tahu Nick mendapati dirinya ereksi. Kemaluannya menekan perut Tessa. Pastilah Tessa merasakannya sebab Ia melepaskan diri dari pelukan Nick.
"Naughty boy, what's on your mind eh ?" Tessa tersenyum menggoda kepada Nick.
"Sorry, aku gak tau kenapa. Tahu-tahu aja berdiri" ujar Nick dengan muka sedikit merah. Bukan hanya kali ini Nick ereksi ketika sedang bersama Tessa. Pernah ketika sedang melantai pada suatu pesta yang mereka hadiri bersama Nick juga ereksi. Waktu itu Tessa tak henti-hentinya menggoda sampai Nick salah tingkah.

"It's okay. Tess tahu koq kamu nggak pernah kurang ajar sama Tess" katanya. Lalu ia kembali memeluk Nick lembut dan menyandarkan kepalanya di dada Nick.
"Tess......" tahu tahu jemari lentik Tessa sudah berada di bibirnya.
"Sssshhhh, it's okay Nick. I don't mind" Ia lalu menarik leher Nick. Perlahan bibir mereka mendekat. Nick bisa merasakan bibir Tessa yang lembut bergetar ketika mereka berciuman dengan lembut. Lidah Tessa menyapu bibir Nick, memberikan sensasi yang luar biasa. Hangat, basah, perlahan lidah mereka saling mencari, membelit, bermain dalam mulut Nick. Terdengar keluhan Nick. Ia tak dapat menahan gejolak dalam dirinya lebih lama lagi.

"I want you, please don't torture me any longer. I want you" desah Nick di antara ciuman mereka. Tessa mulai membuka kancing kemeja Nick satu per satu.
"I want you too, Nick. I'm yours" bisik Tessa di telinga Nick. Kemeja Nick sudah terlepas, sekarang ia bertelanjang dada. Tangan Nick menyelinap ke balik T-shirt longgar yang dikenakan Tessa. Halusnya kulit punggung Tessa di tangannya. Dengan lembut Ia melepas T-shirt longgar tersebut. Tampak olehnya dua bukit putih yang tidak terlalu besar, tapi proporsional terbungkus half-cup bra berwarna pink. Dibelainya bahu Tessa yang telanjang, Ia bisa merasakan betapa Tessa menggigil taktala belaian tangannya mencapai belahan dada yang sangat indah tersebut. Nick mulai menjelajahi lehernya dengan kecupan-kecupan lembut diringi desah tertahan dari Tessa. Tangannya meraih kebelakang punggung dan dalam sekejap dada indah itu terbebas dari belitan bra. Dinginnya AC membuat sepasang puting kecoklatan itu berdiri tegak, menantang. Dikulumnya kedua puting itu bergantian, dihisapnya dengan lembut. Terdengar Tessa mengerang tak terkendali.

Sementara itu Nick merasa tiba-tiba kaki dan pahanya dingin. Rupanya Tessa sudah berhasil membuka celana Nick dan sekarang sedang mengelus kemaluan Nick yang meronta-ronta di balik celana dalam Bodymaster Nick. Tangannya menyusup masuk dan membelai, mengelus kejantanan Nick, lalu menyusur turun ke arah anus, melewati dua buah bola yang diremasnya lembut. Nick mendesah penuh kenikmatan di tengah kegiatannya membelai seluruh tubuh bagian atas Tessa yang kini telanjang. Dengan satu gerakan tiba-tiba Tessa mendorong Nick hingga jatuh terlentang di atas ranjang. Lalu satu gerakan lagi, dan kejantanan Nick berdiri dengan gagahnya tanpa adanya penghalang.

Perlahan, Nick memeluk Tessa dan membalikkan tubuhnya sehingga kini Nick berada di atas. Nick menggeser tubuhnya turun, tangannya membelai perut Tessa yang rata, sesekali menggelitik pinggangya sehingga Tessa meronta lemah. Dikecupnya perut dan pinggang halus itu, dengan lembut di lepasnya celana pendek yang dikenakan Tessa sekaligus dengan celana dalamnya. Kini mereka berdua telanjang bulat. Nick bisa melihat rambut halus yang tumbuh di bawah pusar Tessa. Tangannya bergerak mengelus bukit berambut tersebut, lalu bergerak ke bawah, ke arah kedua bibir vagina yang bertemu membentuk tonjolan sebesar kacang tanah. Diusapnya tonjolan itu dengan gerakan memutar dan menekan. Tubuh Tessa mengejang, punggungnya terangkat dari kasur. Dari mulutnya keluar rintihan halus yang membuat Nick makin bersemangat. Dikecupnya kedua paha bagian dalam Tessa, lalu dilanjutkan ke arah liang kenkmatannya. Tangannya kembali ke arah ke dua bukit di dada Tessa, di remasnya perlahan, jemarinya bermain dengan puting yang sudah sangat tegang. Dari pusat tubuh Tessa tercium aroma khas feromone yang membuat Nick begitu terangsang. Dirasakannya vagina Tessa sudah basah. Dengan satu gerakan perlahan tanpa putus dijilatnya liang kenikmatan bagian bawah sampai ke clitoris yang sudah membesar.
"Nick, mmmmmmhhhhh........... ohhhhhhhhh" tubuh Tessa menegang, pinggulnya berkontraksi dengan hebat. Ia mencapai orgasme pertamanya.

Nick terus membelai lembut sekujur tubuh Tessa sampai gelombang kenikmatannya mereda. Tessa lalu meraih bahu Nick, menariknya ke atas tubuhnya dan berbisik di kuping Nick.
"I want you inside of me Nick..." bisiknya lemah. Nick berlutut di atas tubuh Tessa, siap untuk menyatukan tubuh mereka dalam gelombang kenikmatan. Tessa berbisik lagi.
"Pakai pelindung Nick, please..". Nick meraih dompetnya dan mengeluarkan sebungkus Durex Premium, lalu memakainya. Never leave home without it, pikir Nick lega karena masih ada sebungkus di dompetnya.

Dengan sangat perlahan Nick menindih Tessa, sebelah tangannya menopang sebagian berat badannya sendiri, dihayatinya sensasi yang nikmat ketika kejantanannya memasuki Tessa. Pandangan mereka bertemu. Dilihatnya ekspresi wajah Tessa dalam ekstase, serasa waktu berhenti bagi mereka berdua. Nick merasakan lampu di kamar Tessa memancarkan sinar berpendar warna-warni. Suara rintihan Tessa menjadi musik indah di telinga Nick. Mereka bergerak menyatukan irama tanpa tergesa-gesa. Nick merasakan dirinya terbang tinggi........, semakin tinggi seiring dengan nafas mereka yang memburu. Tessa pun merasakan kenikmatan yang sama. Semakin tinggi Ia melayang menuju puncak orgasmenya yang kedua. Mengerang dan merintih, Tessa bisa merasakan tubuh Nick mulai bergetar, demikian juga dengan tubuhnya. Mereka terbang semakin tinggi menembus gelombang kenikmatan, dan akhirnya menabrak awan yang mencurahkan hujan......... Tessa menjerit berbarengan dengan erangan Nick yang mencapai puncak pada saat yang hampir bersamaan.

Hening. Peluh membasahai tubuh mereka. Keduanya saling berpelukan, membelai tubuh masing-masing. Menikmati sisa-sisa orgasme yang melanda begitu hebat. Tidak perlu kata-kata. Setiap rabaan dan usapan sudah berbicara dengan sendirinya. Bersatunya tubuh dan emosi membuat mereka mengerti apa yang dirasakan masing-masing. Di luar, hujan masih turun, makin deras bahkan.

"Nick, kau ingat pertama kali kita bertemu dulu ?" Tessa memecah keheningan yang terasa indah tersebut.
"Ya, waktu itu hujan deras seperti sekarang. Aku bertemu dengan seorang wanita yang luar biasa" jawab Nick. Ia menarik selimut menutupi tubuh mereka, kemudian mengecup kening Tessa lembut.
"Kau masih bisa mendengar nyanyian hujan, Nick ?".
"How can I forget ?? setiap kali hujan aku selalu teringat padamu".
"Always ?" tanya Tessa manja.
"Always".
"Kamu menyesal kita jadi seperti ini Nick ??" tanya Tessa lagi.
"Tidak Tess. Sejujurnya pernah terlintas dalam pikiranku bahwa aku memang menginginkanmu. Hanya saja aku tidak berani bertindak, takut merusak persahabatan kita. I think I fall in love......." Nick tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena jari Tessa sudah menutup bibirnya dengan lembut. Don't say something you might regret it later, Nick". Suara Tessa tiba-tiba terdengar sedih.
"Tess sayang kamu, dan Tess juga tau kamu sayang Tess. Tapi untuk saat ini......let us be just friend. A good friend" ucap Tessa lagi.
"Tapi...." lagi-lagi kalimat Nick tergantung di udara, Tessa menciumnya dengan lembut, penuh perasaan. Seakan-akan Ia memberikan seluruh dirinya pada Nick melalui ciuman tersebut.
"Jangan bertanya-tanya lagi, Nick. Someday, I promise you, someday you will understand why". bisik Tessa di telinga Nick.

Jeritan Coffee Maker membuat mereka berdua tersentak. Tessa tertawa, suaranya sudah biasa lagi. "Itu kopi yang kujanjikan tadi. Right on time, I think" senyum Tessa nakal. Nick tersenyum melihatnya. Tessa masih bertelanjang ketika melompat dari tempat tidur menuju ke coffee maker yang terletak di meja. Sungguh, dunia terlihat lebih cerah bagi Nick bila bersama dengannya.

Bersambung...

17Tahun "Di Kamar Tante Ninik"  

1 komentar

"Kriing.." jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata. "Wah gawat, telat nih" dengan tergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi.

Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis sinetron, namanya Ninik. Tinggi badan 168, payudara 34, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali dari Malang, aku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Ninik, karena suaminya sering ditugaskan ke luar pulau. Oh ya, tante Ninik mempunyai dua anak perempuan Dini dan Fifi. Dini sudah kelas 2 SMA dengan tubuh yang langsing, payudara 36B, dan tinggi 165. Sedangkan Fifi mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 168 dan payudara 36. Setiap aku berada di rumah tante Fifi aku merasa seperti berada di sebuah harem. Tiga wanita cantik dan seksi yang suka memakai baju-baju transparan kalau di rumah. Kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Ninik di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar pulau untuk 5 hari.

Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Ninik. Setelah perjalanan 15 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah. Sepertinya Dini dan Fifi masih belum berangkat sekolah, begitu juga tante Ninik belum berangkat kerja.

"Met pagi semua" aku ucapkan sapaan seperti biasanya.
"Pagi, Mas Firman. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya?" Fifi membalas sapaanku.
"Iya nih kesiangan" aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga.
"Fir, kamu antar Dini dan Fifi ke sekolah ya. Tante belum mandi nih. Kunci mobil ada di tempat biasanya tuh." Dari dapur tante menyuruh aku.
"OK Tante" jawabku singkat.
"Ayo duo cewek paling manja sedunia." celetukku sambil masuk ke mobil. Iya lho, Dini dan Fifi memang cewek yang manja, kalau pergi selalu minta diantar.
"Daag Mas Firman, nanti pulangnya dijemput ya." Lalu Dini menghilang dibalik pagar sekolahan.
Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu mobil ke rumah tante Ninik.

Setelah parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya. Tante Ninik masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Ninik tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya. Ternyata tante Ninik sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan.

Terdengar suara desahan lirih, "Hmm, ohh, arhh".

Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Ninik ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Ninik, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Ninik berhubungan badan denganku.

"Lho Fir, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho." Tiba-tiba suara tante Ninik mengagetkan aku.
"Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya." Celetuk tante Ninik sambil masuk kamar.

Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Ninik berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur.

"Hmm.. geli ah" Aku terbangun dan terkejut, karena tante Ninik sudah berbaring di sebelahku sambil tangannya memegang Mr. P dari luar sarung.
"Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun." Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat Mr. P menegang 90%.
"Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang." Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja.
"Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya Mr. P mu" Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya.
"Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Firman tahu kok kalau tante tadi pagi masturbasi di kamar mandi" celetukku sekenanya.
"Lho, jadi kamu.." Tante kaget dengan mimik setengah marah.
"Iya, tadi Firman ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?" agak takut juga aku kalau dia marah.

Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan Mr. P di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah.

"Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini.." dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya.
"Emm.., nggak kok tante. Maafin Firman ya." Aku semakin salah tingkah.
"Lho kok jadi munafik gitu, sejak kapan?" tanya tanteku dengan mimik keheranan.
"Maksud Firman, nggak salahkan kalau Firman pingin pegang ini..!" Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku.

Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan.

"Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli Fir." tante Ninik merengek perlahan.
"Hmm..shh" tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya.

Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Ninik. Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras.

"Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh." tante mengagumi Mr. P yang belum pernah dilihatnya.
"Ya sudah dibuka saja tante." pintaku.

Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum.

"Wah, rupanya tante punya Mr. P lain yang lebih gedhe." Gila tante Ninik ini, padahal Mr. P-ku belum besar maksimal karena terhalang CD.

Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat Mr. P yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya.

"Tante.. ngapain berhenti?" aku beranikan diri bertanya ke tante,dan rupanya ini mengagetkannya.
"Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?" agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku.
"Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding" sambil tersenyum dia ngoceh lagi.

Tante masih terkesima dengan Mr. P-ku yang mempunyai panjang 14 cm dengan diameter 4 cm.

"Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama Mr. P ku." Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya.
"Hmm, iya deh." Lalu tante mulai menjilat ujung Mr. P.

Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal Mr. P

"Ahh.. enak tante, terusin hh." aku mulai meracau.

Lalu aku tarik kepala tante Ninik sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Ninik. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu. Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga.

"Ayo Fir, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini." Sambil tangan tante mengusap vaginanya.
"OK tante" aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih.
"Shh.. ohh" tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku.
"Hh.. mm.. enak Fir, terus Fir.. yaa.. shh" tante mulai berbicara tidak teratur.

Semakin dalam lidahku menelusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Ninik. "Ahh..Fir..shh..Firr aku mau keluar." tante mengerang dengan keras.

"Ahh.." erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang.

Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya.

"Hmm..kamu pintar Fir. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan?" dengan manja tante memeluk tubuhku.
"Ehh, gimana ya tante.." aku ngomgong sambil melirik ke Mr. P ku sendiri.
"Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya" tante sadar kalau Mr. P ku masih berdiri tegak dan belum puas.

Dipegangnya Mr. P ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok Mr. P. Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok.

"Fir, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya." tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuatu dari Mr.Pku.

Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Ninik, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesek-gesekkan ujung Mr. P ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. PErlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan.

"Tante siap ya, aku mau masukin Mr. P" aku memberi peringatan ke tante.
"Cepetan Fir, ayo.. tante sudah gak tahan nih." tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan Mr. P.

Dengan pelan aku dorong Mr. P ke arah dalam vagina tante Ninik, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh Mr. P sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru.

"Fir, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh" tante berbicara sambil merasa keenakan.
"Ahh.. shh mm, tante ini cara Firman agar tante juga merasa enak" Aku membalas omongan tante.

Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa Mr. P ke dalam vagina tante.

"Ahh.." kami berdua melenguh.

Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Ninik ini masih kencang, pada saat aku menarik Mr. P bibir vaginanya ikut tertarik.

"Plok.. plok.. plokk" suara benturan pahaku dengan paha tante Ninik semakin menambah rangsangan.
Sepuluh menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras "Ahh.. Fir tante nyampai lagi"

Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan Mr. P masih menancap dan dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Ninik, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di Mr. P.

"Tante, aku mau keluar nih, di mana?" aku bertanya ke tante.
"Di dalam aja Fir, tante juga mau lagi nih" sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun.

Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol.

"Arghh.. tante aku nyampai".
"Aku juga Fir.. ahh" tante juga meracau.

Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra.

"Fir, kamu hebat." puji tante Ninik.
"Tante juga, vagina tante rapet sekali" aku balas memujinya.
"Fir, kamu mau kan nemani tante selama om pergi" pinta tante.
"Mau tante, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?" aku balik bertanya.
"Gak apa-apa Fir, tante masih ikut KB. Jangan kuatir ya sayang" Tante membalas sambil tangannya mengelus dadaku.

Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi.

*****

Itulah pengalamanku dengan tante Ninik. Ternyata enak juga bermain dengan wanita yang berumur 40-an. Semenjak itu aku sering dapat telepon ajakan untuk berkencan dengan tante-tante. Rupanya tante Ninik menceritakan hal kehebatanku kepada teman-temannya.

17Tahun "cinta di hutan karet"  

1 komentar

Hujan begitu deras sore ini. Istriku, wanita sederhana yang kunikahi 3 tahun yang lalu nampak asyik menekuni kegemarannya mengisi TTS. Ah, mengapa setiap memandang wajah sederhananya selalu terbersit perasaan bersalah? Mengapa tidak bisa kuberikan seluruh cintaku padanya? Hujan memang bangsat. Setiap titik airnya selalu menggoreskan rinduku padanya. Istriku? Bukan, Neva. Wanita yang selama sepuluh tahun ini dengan setia mengisi satu pojok hatiku. Wanita yang selalu membuatku merasa bersalah pada istriku.

Perkenalan pertamaku dengannya terjadi sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu aku harus mengikuti KKN dari universitas paling ternama di Yogyakarta. Pertama kali kenal, aku tidak peduli karena waktu itu aku baru putus dari pacarku. Bayangkan saja 4 tahun aku pacaran dan dia memutuskanku begitu saja. Neva bertubuh sedang, rambut dipotong pendek ala Demi Moore, wajahnya lumayan manis. Tapi yang paling menarik adalah sinar matanya yang hangat, tulus , bersahabat dan selalu tertawa. Seminggu orientasi aku masih tidak begitu peduli bahkan sering terganggu dengan gaya ketawanya yang begitu spontan. Kebetulan kami satu regu. "Mas.. mau kopi?" sapaan istriku membuyarkan lamunanku ttg Neva. Dengan cepat aku mengangguk. Entah mengapa aku kesal karena lamunanku terhenti.

"Aduh... Yok... bagus ya desanya... Uih... kayak negeri para dewa," Neva spontan berkomentar saat kami tiba di desa yang terletak di lereng Merbabu. Hm.. bener juga gumanku. Tempat regu kami tinggal adalah rumah kosong di pinggiran hutan karet. Tiap pagi embun turun dan menari di sela-sela hutan karet itu dimana sinar matahari dengan lembut menyeruak di antaranya. Dan setiap bangun pagi, aku selalu dikejutkan senyum Neva sambil menyeruput kopinya (entah jam berapa dia bangun pagi). "Pagi.. Yok! uh... tadi bagus deh..." dan berceritalah dia tentang kegiatan jalan-jalan paginya.

Entah, akhirnya setiap pagi kami selalu bercerita tentang bayak hal sambil menikmati kopi. Baru kusadari wanita ini di samping begitu mandiri dia juga cerdas luar biasa. Dia bisa bercerita mulai dari Nitsche, harga saham, Picasso, Pink Flyoid sampai kemiskinan. Yang luar biasa dia ternyata pernah mendapat beasiswa pertukaran pelajar, pinter main piano dan bekerja part time (meski dia berasal dari keluarga yang cukup berada). Aku semakin suka berada di sampingnya.

Di mataku kecerdasannya membuat dia begitu menarik, cantik dan seksi. Hingga suatu malam saat kami ngobrol berdua saja di teras dia mengejutkanku dengan pernyataannya, " Yok... aku ini sudah nggak perawan." Aku begitu terkejut, bagi orang sepertiku yang dididik sejak kecil bahwa seorang wanita harus menyembunyikan emosinya, pernyataan seperti ini begitu mengguncang emosiku "Ya... Tuhan... wanita seperti ini yang aku cari..." seruku dalam hati. Betapa jujurnya dia.

Dia bercerita tentang rasa cintanya yang begitu besar pada pacarnya, kesedihannya karena pacarnya tak pernah memintanya menjadi istrinya meski mereka telah pacaran hampir 6 tahun. Tanpa kutahu pasti, aku telah jatuh cinta padanya dan yang menyedihkan aku tidak berani menyatakannya. Aku nikmati saja hari-hari KKN ku. Kami main air di sungai, jalan-jalan. Setiap pacarnya datang, kutekan rasa cemburuku dan sakitku bahkan aku dengan gaya yang sok berbesar hati sering mengantarnya ke terminal untuk pulang menengok pacarnya. Setiap kali sehabis pulang, dengan gaya lucunya dia bercerita tentang persetubuhannya dengan pacarnya. Neva... tahukah kau aku mencintaimu? Sampai suatu hari, aku dan dia pergi ke kota asalku Solo untuk mencari sponsor bagi pasar murah yang akan kami selenggarakan. Tanpa terasa kami kemalaman.
"Nev... kita nginap di rumah ibuku yuk?" Sungguh! Waktu itu aku tidak punya pikiran apapun. Dan seperti yang sudah kuduga, keluargakupun sangat menyukainya. Bahkan ibuku bilang, "Dia lain ya sama Rini? Anaknya ramah dan baik". Ah.. betapa inginnya aku bilang, "Dia wanita yang kuinginkan jadi istriku, bu".
"Yok... aku tidur dimana?" tanya Neva.
"Dikamarnya Iyok aja, nak. Itu di kamar depan." ibuku begitu bersemangat menata kamarku.
"Wah... ntar Iyok tidur dimana?"
"Biar tidur di sofa ruang tamu".

Rumah ku memang agak aneh, hampir seluruh kamarnya ada di belakang, hanya kamarku yang terletak di depan. Malam itu aku gelisah tak dapat tidur. Entah mengapa aku begitu rindu pada Neva. Gila! Padahal seharian tadi aku bersamanya. Seperti ada yang menggerakkan aku pergi ke kamarku di mana Neva tidur dengan memakai daster ibuku!. Nampak tidurnya begitu damai. Ya... ampun baru kusadari betapa besar cintaku padanya. Tanpa terasa aku belai pipinya dengan lembut. Dia menggeliat. Oh.. sungguh seksi sekali. Tiba-tiba saja tanpa dapat kubendung kucium bibirnya dengan kelembutan yang tak pernah kuberikan dengan pacarku dahulu. Neva membuka matanya, dan baru kusadari betapa indah mata itu. "Yok?" Tapi dia tidak berbuat apa-apa. Kembali kukulum bibirnya, diapun menyambut dengan hangat ciumanku. Lidahnya bermain begitu luar biasa di lidahku. Tanpa terasa sesuatu yang keras menyembul dari balik celanaku. Kuciumi dengan hangat lehernya, dia menggelinjang geli. Dibalasnya ciumanku dengan ciuman lembut di leherku, turun ke dadaku. Lalu dengan gerakan yang begitu lembut, dilepasnya kaosku. Kubalas ciumannya dengan ciuman di dadanya. Ya... ampun... dia tidak memakai bra. Terasa putingnya mengeras dan dadanya begitu kencang. Tanganku masuk dari bawah dasternya. Ugh... dadanya begitu penuh. Gelinjangannya begitu mempesona. Dia begitu meenikmati sentuhanku. Tiba-tiba dia menggerang, " Don... ah...". Bagai tersengat listrik, kulepaskan cumbuanku. Ada rasa nyeri menyeruak di dalam dadaku. Dia menyebut nama pacarnya! Neva pun tersadar.

"Yok... maaf..." segera diambilnya kaosku.
"Pergilah... maaf... aku... aku... kangen sama Don". Diapun menundukan kepalanya. Mungkin orang menanggapku gila karena keterusterangannya justru membangkitkan gairahku. Entah aku begitu yakin akan perasanku padanya, rasa cintaku dan aku ingin dia memilikiku. Akan kuberikan keperjakaanku padanya. Ya... aku masih perjaka! Meski aku pacaran serius selama 4 tahun dengan Rini, aku adalah laki-laki yang begitu menghargai keperjakaan. Bahkan aku pernah bersumpah hanya kepada istriku akan kuberikan keperjakaanku. Seperti ada kekuatan gaib tiba-tiba aku bertanya.
"Nev... maukah kamu mengambil keperjakaanku?"
"Tapi... Yok?"
"Aku tidak peduli Nev... aku mencintaimu... aku ingin kamu yang mengambilnya... aku ingin kamu menjadi istriku" sambil kugenggam tangannya. Ada buliran air mengalir dari mata bulatnya. Neva hanya terdiam, dan dengan lembut diambilnya tanganku dan dibawanya ke dadanya.
"Kamu begitu tulus...Yok...". Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutnya. Selanjutnya dia mencium bibirku, pertama lembut sekali tapi makin lama makin liar, dibaringkannya tubuhku di tempat tidur. Lidahnya menjilati belakang telingaku, turun.. keputingku... ke tanganku... lalu turun ke ibu jari kakiku.. ke.. atas... ke paha... ya ampun! Aku belum pernah melakukan ini. Dulu dengan Rini aku hanya melakukan sebatas 'pas foto', itupun dengan baju yang terpakai. Tiba-tiba gigitan kecil dikelelakianku membuatku tersentak, dengan giginya, dibukanya celana pendekku, lalu celana dalamku. Ya.. aku telanjang bulat di hadapannya. Lalu dengan gerakan lembut dia membuka dasternya, lalu celana dalamnya. Aku masih dalam posisi terlentang. Antara bingung dan gejolak yang luar biasa. Dengan senyum manisnya, Neva menjulurkan lidahnya ke arah lelakianku. Dimainkannya ujung lidahnya di pangkal kelelakianku. Aaggh... ya Tuhan... inikah Surga-Mu? Aku tak mampu berkata apa2 saat mulutnya mengulum kelelakianku sambil sesekali diselang-seling dengan mencepitkan buah dadanya.. Aku hampir saja tak kuat menahan lava di dalam kelelakianku. Tapi di saat aku hampir menyemburkannya, tangannya dengan lembut memijat pangkal kelelakianku itu. Ajaib, lava itu tak jadi keluar meski tetap bergejolak.

Demikianlah... hal tersebut dilakukannya berulang kali. Hingga dia berkata... "Yok... aku ingin memberimu hadiah yang tak kan kamu lupakan". Dia lalu duduk di atasku, tepat di atas kelelakianku. Diambilnya kelelakianku terus dengan gerakan begitu lembut dimasukkannya ke dalam kewanitaanya. Ugh... ah.. erangannya begitu mempesona. Dan akupun memegang pantat bulatnya. Tapi segera dia berkata" Ssst... I will make you happy Yok!". Terus dengan gerakan memompa dan memutar, kurasakan seluruh darah mengalir ke bawah.

Keringat membasahai seluruh tubuhnya. Sambil berciuman kurasakan dia memompa kewanitaaanya. Lalu dicengeramnaya tubuhku kuat-kuat. Aggh.. agh... seluruh ototnya meregang. Putingnya tegak berdiri dan disorokannya ke mulutku. Lalu dengan keliaran yang tak kubayangkan sebelumnya kulumat habis puting itu sambil membalas pompaannya. "Ah... terus.. Yok.. terus... jangan berhenti" rangannya semakin mebuatku liar. "Lagi... Yok.. lagi... ini ketiga kalinya... ayo Yok..." Dan tanpa dapat kutahan lavaku menyembur. Neva segera menariknya keluar. Lalu dijilatinya cairan lava itu. Kenapa dia tidak jijik? Dengan senyum manisnya seakan dapat membaca pikiranku. "Nggak Yok... aku ingin membuatmu senang". Ya Tuhan, aku sangat terharu mendengarnya. Bagiku dia telah menjadi istriku. Malam itu, kami tiga kali bercinta dan ketiganya Neva yang 'memberiku'. Hm... aku berjanji, suatu saat aku akan memberikan 'sesuatu' yang sangat hebat... "Mas... kopinya kan sudah dingin. Kok nggak diminum?" Ah...lagi-lagi sapaan istriku membuyarkan lamunanku. Neva... dimana kamu sekarang (istriku)?

Bersambung...

17Tahun "Cewek Sip  

1 komentar

Ini kisah nyata gua kejadian beneran I swear to God, so help me God. Gua mau ceritain gimana pengalaman gua ngentot sama cewe karier.

Ini adalah pengalaman waktu gua baru kerja di daerah kuningan. Gua masih ingat waktu itu awal April 1997 setahun yang lalu, Jam udah nunjuk ke jam 1/2 12 siang. Gua pergi ke tempat makan siang yang rada sepi di bilangan ... buat menghindari macet Pas abis liat-liat menu ala carte makan siang gua lihat ada cewe oke punya. Tingginya sekitar 170 cm, pake sepaetu yang haknya 7 centi. Rambutnya yang lebat dicat merah, panjangnya sepinggang. Bodynya yang molek juga motul (montok betul) dan kulitnya yang putih bersih, terbalut dengan setelan warna cyan, serta bajunya yang modis pake belahan dada V nya yang menyiratkan buah dadanya yang penuh en pake rok mini. Yang tambah bikin nafsu kita aja kalo ngeliat pahanya yang mulus dan betisnya yang panjang *gulp*

Yang kebayang ama gua waktu itu Bodinya yang menggiurkan dan toketnya yang gede (toge) Bayangin coba nih cewe ukurannya 36D 24 32 Gua tegur tuh ceweq, Gua nanya ke do'i, makan sendiri aja ? Dia tersenyum maniezz banget, iya. Gua liat matanya yang keliatan ngesex banget..mengerling genit sambil senyum-senyum simpul penuh arti. Gua bales senyumnya.. Sambil mengenalkan diri ke do'i. O'iya nama do'i Katryn (nama samaran biar safe..:) hhehhehee)

Lantas kita duduk makan siang sama-sama..Do'i duduk di seberang gua, kita duduk berhadap-hadapan, dari hadapannya gua bisa ngintip ke isi belahan buah dadanya.. do'i tambah salting aja sambil tersenyum risih menyadari pandangan gua yang ngga' lepas-lepasnya dari do'i punya barang. Pembicaraan kita masih biasa-biasa aja.

Tiba-tiba gua ngerasa di betis kaki gua udah ada yang mengusap-usap lembut banget, dan terus ke atas sampe ke ruitsluiting celokan gua, pas gua liat gila.. nih kaki telanjang do'i sebelah kanan yang putih mulus udah nyebrang sampe di atas cock gua.. Kemudian pembicaraan kita beralih ke hal-hal yang menjurus-jurus dan berbau sex dan menyimpang

Ngobrol punya ngobrol, udah jam 1/2 3, gua pikir wah kalo balik ke kantor ngga' lucu dah yau!, mending sekalian aja baliknya besok.
Abis ini mau kemana ?, tanya gua..
Ngga' tau nih.. Abis lunch gua bebas sih sampe selesai cuti..
Loh napa cuti ? tanya gua..
Iya bosen seh kerja rutin terus ngga' ada variasi, katanya..
Cuti berapa hari ?
Yah 2 hari aja, besok sama lusa..
Kebetulan nih, pikir gua.
Kita check in aja yuk!,katanya
Apa seh ? kata gua belagak begok.
Udah ikut aja..sahut do'i cepet-cepet.

Dalam perjalanan dan di sela-sela lampu merah kita berdua beraksi, do'i menuntun tangan gua untuk membelai-belai CD dan bra-nya sedang do'i selalu melumat-lumat bibir dan mengulum-ngulum lidah gua.

Akhirnya kita check-in di hotel S di bilangan segitiga emas, Jakarta Pake KTP Nasional gua, setelah beres urusan checkin kita masuk deh ke kamar. Katryn bilang do'i mau mandi dulu, trus gua tahan do'i, gua bilang Ngga' usah ah!, lama nanti..! ,kata gua, sambil memeluk Katryn serapet-rapetnya gua peluk do'i erat-erat dan gua kecup serta mendaratkan ciuman-ciuman ke bibirnya yang merah basah.. Katryn juga ngga' kuasa buat menahan ciuman gua lama-lama, Katryn bales ciuman gua. Katryn pagut lidah gua dalem-dalem sementara tangannya melingkar di leher gua. lantas gua pegang toketnya yang hangat, do'i tersenyum hangat..dan menekan tubuhnya ke tubuh gua hingga buah dadanya yang tergencet nyembul keluar, Suka khan ?, katanya sambil memainkan dan melepaskan kancing-kancing bajunya, dengan tangan gemetaran gua bantu do'i untuk melepas kancingnya satu per satu, kaus dalem putihnya gua lepasin ampe tinggal bra nya yang tipe cup, gua rengkuh sekali gasak lepas ampe tuh payudaranya yang besar, mancung dan kencang menantang lepas bebas, lantas gua remes-remes tuh toge kenyal..sampe Katryn blingsatan keenakan

gua jilatin tuh puting toketnya yang warnanya pink kecoklatan dan makin lama makin mengeras, gua tinggalin cupang banyak-banyak di kiri kanan toge kenyal dan di perut dan pusar, lantas sambil cium-ciumin mengarah ke bawah gua plorotin roknya hingga tinggal cd nya yang warna merah darah, gua ciumin cd nya

gua liatin mukanya yang udah merah, sekali-sekali gua liat Katryn udah nelan air liurnya .. tanda nafsunya udah naek...

Katryn udah ngga' sabar buat ngelepas semua kemeja gua, Katryn renggut kerah gua sampe kancing-kancing kemeja gua hampir lepas semuanya.. Sambil ciuman do'i lepas underwear dan buka belt celokan gua.. gua juga buka ruitsluiting celokan gua... sampe kita berdua udah bugil...

Gua bopong do'i ke atas tempat tidur.. sambil nerusin ciuman gua dan mengulum bibir dan lidahnya yang terasa enak di mulut

Do'i dorong badan gua ke atas spring bed, kemudian do'i jilat-jilatin seluru h atas badan gua..Gua merasa kegelian dijilat-jilat dan dicium-ciumin kayak gitu.. Geli ah...!

Gua ambil inisiative, gua cumbu do'i mulai dari bibirnya yang basah, tangan gua mulai mengelus-elus ke pinggulnya, jari-jari gua mulai membelai-belai vagina do'i, pas sampe di clitnya do'i menggeliat, kejutan ini membuat gua tambah terangsang melihat nafsu berahi do'i sudah menggebu-gebu karena bibir dan liang vaginanya sudah mulai basah dan hangat waktu gua tekan-tekan jari -jari gua ke dalam liang memeknya..do'i merem melek menikmati cumbuan-cumbuan gua di bibirnya.. makin lama jari-jari gua makin cepat bergerak-gerak membelai-belai bibir dan liang vaginanya....terus do'i mengangkat-angkat pantatnya menyambut ketrampilan jari gua... do'i merintih-rintih..ahhhnnngggghh. huuuuaahhhngghh... udah-udah.. gua udah ngga' tahan.. pake kontol lu aja... cepet ngentotin gua dong, pleeeeeasssshheee... c'mo... fuck me... katanya. Kasian juga gua ngeliatnya... akhirnya gua masukin penis gua perlahan-lahan ke dalam liang vaginanya yang udah licin ...owhhh gooodd... gosshh, feeling good, hun... katanya... gua terusin penetrasi gua ke liang vaginanya...uhmmmm sempit amat nih memek, pikir gua... c'mon hun...,deeeepppeeer... deeepppeeer...., do'i mendesah sambil menahan napas..tangannya terus menjaga dan membimbing cock gua berlabuh di vaginanya... gue entotin nih ceweq en gue ngerasa ni memek becek banget seh enak gila..kalo penetrasi licin begini..gua tambah speed goyangan gua makin kenceng...do'i ngebales iramanya dengan mengiringi ngikut goyangan gua... fuck yess...owhh.. fuck me good...hun...katanya gua denger desahannya Owhhh....hhhahhhh ...nghhhahhh fuck me yess! hhhhahhhh ennnakkkkkhhh!!...mmmmhh enakkkh...

Trus Katryn bilang, mau spank ngga' ?, katanya.. Apa tuh kata gua.. Katryn bimbing gua cabut cock dari memeknya terus do'i jepit cock gua pake toketnya yang gede, trus do'i bekap toketnya diantara cock gua di sela-sela toketnya...Udah,.Goyang dong ... katanya Gua langsung ngerti maunya do'i apa langsung gua tarik dan sodok cock gua di sela-sela toketnya yang kenyal dan hangat.. pas cock mau dekat mulutnya do'i jilat-jilatin palkon gua..ih merinding gua ngerasain kenikmatan yang luar biasa..Ooooooooh!! YEA!! Do'i menggelinjang gelinjang enak

gua minta do'i sekarang yang di atas, yeah this is it, this is all i want i want to get on top of you, katanya akhirnya do'i berjongkok dan nangkring tepat di atas cock gua, perlahan-lahan do'i pegang cock gua dan do'i tembak tepat di lubang memeknya... perlahan-lahan pinggul do'i mulai bergoyang-goyang hebat...do'i putar putar pinggulnya seperti sekrup..rasane ?? ciamik nek!.. uhh ni ceweq expert banget deh..Katryn emang ahli kalo ngewe dari atas...doh! do'i terus goyang naik turun bikin enak cock gua.. lantas do'i mulai mencumbu dan mengulum bibir gua... wah rasanya enak banget... sampe gua rasanya udah mau keluar.. trus gua tahan aja sedikit .terus gua jambak rambutnya yang panjang dan gua tarik sampe bisa gua remes tuh toketnya yang gede.. geli juga waktu rambutnya yang panjang kena tangan gua.. lantas gua singkap rambutnya ke samping dan belakang sambil membelai-belai rambutnya ke belakang.. lantas do'i mainin sendiri nipplenya, do'i tarik-tarik kayak catapult, sedang gua mengelus-elus punggung dan pantat do'i yang halus... di sela-sela rambutnya yang terurai berantakan..dan peluhnya yang segede-gede jagung ..do'i goyang terus..

trus do'i bilang capek ah di atas, Katryn cabut memeknya dari cock gua yang nancep tegak lurus, kemudian pelan-pelan Katryn elus elus cock gua yang udah mulai menegang terus Katryn kocok pelan-pelan kontol gua pake tangannya yang putih montok terus Katryn kocok-kocokin sampe kontol gua udah berdiri tegak, sebentar-sebentar Katryn genggam, sebentar lagi Katryn cium-ciumin cock gua ngga' lama kemudian Katryn mulai mengulum-ngulum batang cock gua, ehmm... enak emang kalo ngentotin mukanya yang cantik.. tapi rambutnya yang panjang menjuntai-juntai terurai bebas kena cock gua bikin gua tambah terangsang dan kegelian.. do'i ludahin cock gua i love your cock... mmm, let me lick your balls... lantas do'i mulai ngulum-ngulum biji-biji balon dibawah batang cock gua, trus do'i gigit-gigit kecil.. ni gigitan kecil-kecil yang bikin gua meringis kenikmatan campur kesakitan yang bikin gua takluk sama do'i.

Trus Katryn ganti posisi doggy style, nungguin cock gua masuk ke memeknya, akhirnya pelan-pelan do'i bimbing cock gua masuk ke vaginanya... gua dorong cock gua maju mundur slide in her cunt..stroke....stroke...stroke ... please don't stop katanya.. gua goyang terus goyang keenakan sambil terus gua elus-elus pantatnya, wah ni pantat bulet banget, gua suka ngeliat nih pantat menari-nari indah, merasa keenakan pake cock gua, di depan mata gua..gua liat ada lubang lagi di atas memek yang gua sodok..gua selipin aja jari-jari gua di tuh lubang ..gua liat do'i diemin aja..do'i merintih kenikmatan ...do'i terus mendorong-dorong pantatnya ke belakang dan naik turun bikin gua merasa mau keluar lagi... buru buru gua cabut kontol gua dari lubang memeknya

do'i kaget..sebelum do'i ngomong apa-apa gua cumbu dan kulum bibirnya..hingga do'i yang merasa clit Katryn yang udah mulai horny lagi do'i masih minta di terusin doggy style-nya karena belum tuntas..tas..tas Katryn mendesah-desah kenceng banget... gua bilang ganti posisi yah.. ? akhirnya kita sepakat lewat anal, gua mengambil inisiatif pindahin cock gua to her ass hole. pelan-pelan gua masukin, cock gua to her ass sambil gua remes-remes pantatnya yang bulet en sekal..gua liat do'i memejamkan mata ngerasa'in kontol gua di lubang ass nya... do'i udah ngga' sabar mulai menggerak-gerakin pinggulnya ke arah cock gua... gua sodok lubang ass makin lama makin kencang goyangan dan sodokan gua, gua goyangin pinggul gua ke kiri en kanan do'i juga berbuat yang sama mengikuti irama persis seperti gua..gua remes-remes lagi buah dadanya yang kenyal.. do'i menjerit fuck you!...wah do'i napa nih ??..gua cubitin putingnya keras-keras...oooowhhh...fuckkk yessss!! fuck me harder hun... don't stop..., katanya. gua pikir gua ngga' mau lama-lama ngewe di ass kerna bisa-bisa gua ketagihan.. gua cabut cock gua lagi en pindah ke memek do'i dan ngelanjutin doggy style gua goyang makin lama makin kenceng, do'i juga bales nambah kenceng... do'i minta goyang yang keras dan kasar sampe do'i ngerasa kesakitan..gua turutin apa maunya do'i. makin lama goyangan kita makin kencang

i'm gonna cumm... gua berbisik bilangin ke Katryn.. tiba-tiba do'i berenti trus cabut memeknya dari cock gua, sampe gua kaget...

relax hun..., i wanna swallow your cumm gua terkejut ngedengernya... gila nih ceweq.. maniak sex kali ya ?? Lu ngga' takut kena penyakit apa gitu..?, tanya gua. Katryn bilang biar awet muda dan supaya kulitnya jadi halus katanya... Gua sih percaya-ngga-percaya aja.. mungkin cuman alesan do'i buat nelen peju aja.. pikir gua Dasar ! kebanyakan makan sperma, nyaho nanti lu ?, gua ingetin ke do'i. Biar aja.., lu suka ngeliatnya khan ? Do'i balik nanya Iya juga seh, sahut gua Udah diem lu!, katanya sambil ngelanjutin nafsunya buat nyepong kontol gua yang masih tegak dan pengen keluar.. Gua bantu do'i dengan menekan-nekan kepalanya.. Gua liat do'i dengan tekun menambah nafsu gua sampe ke ubun-ubun.. gua liat palanya yang naik turun dengan indah mengisap isap cock gua yang udah ampir meledak-ledak... dengan bibirnya yang makin cantik kalo lagi ngembang kempis...do'i isap-isap sambil sekali-sekali menjilat-jilat pinggir batang kontol gua pake lidahnya yang liar dan ganas.. Ini emang pemandangan indah yang engga' bisa dilupain koq.. Gua belai-belai aja rambut do'i, sementara do'i lagi sibuk menekuni cock gua

Tiba-tiba cock gua tambah menegang dan ....crottt...crott... peju gua muncrat di dalem mulutnya...terasa peju gua mengalir di dalam mulutnya.. pasti bener deh ada yang Katryn telen trus Katryn buka mulutnya sambil nungguin sperma-sperma gua mendarat di ujung lidahnya... *ughh* setelah selesai ngecret trus Katryn jilat-jilatin palkon gua sampe bersih banget hingga tinggal sisa-sisa cairan ludahnya do'i aja yang nempel.. mukanya yang udah memerah dan ngesex banget bikin gua tambah nafsu lagi ama Katryn, gua sodok sodok aja kontol gua ke mukanya lagi, gua dorong-dorong aja palanya terasa dengusan napasnya yang terengah-engah yang hinggap di batang kontol gua

Abis itu Katryn minta gantian supaya diisap clitnya ama gua, maxudnya jadi posisi 69, mulai dah gua jilat-jilatin clitnya pake ujung lidah gua .... nggak kebayang deh rasanya.., trus gua cium-ciumin memeknya, emang ada baunya yang khas... mmmhmmh *make me feels good* gua mulai makan deh tuh memek gua gigit-gigit kecil Katryn keliyatn mulai sempoyongan dan mulai ngejerit-jerit keenakan ....huuuuaaaahhhh!!!!!..... jeritannya yang keras bikin gua tambah nafsu en then gua percepat gerakan lidah gua yang menjilat-jilat clitnya, semua clitnya yang udah basah membanjiri memeknya habis gua jilat .....enngggghhh..hhnggg...haaaaannggggghhh!!...

trus Katryn stop minta cock gua dimasukin lagi ke memeknya, gua sih nurut aja, padahal cock gua udah mo relax. dengan susah payah kita berdua berusaha masukin cock gua ke memek do'i..Setelah berhasil, do'i coba goyang-goyangin pinggulnya dikit.. tapi akhirnya gua diemin aja..do'i kerja keras sendirian..ampe do'i lemes sendiri.. tapi do'i ngga' cabut memeknya dari kontol gua.. gua juga gitu.. abis rasanya *enak* seh.. Jelas kita sepakat mempertahankan status quo kayak gini kontol gua di memek do'i, memek do'i di kontol gua.. Win-Win deh! Ngga' lama kemudian badan ama kontol gua udah lemes, tapi do'i masih nafsu aja ama gua, akhirnya gua minta istirahat sambil cium-ciuman ama do'i. Do'i kulum bibir gua lama-lama, trus gua juga ngebales sambil mainin lidah kita berdua, nih bener-bener asik deh..

6 menit kemudian cock gua mulai menegang lagi, do'i teriak kegirangan.. hhhaaahh, do'i minta spank lagi, doggy-style trus gua tindih badannya gua di atas do'i di bawah..Gerakan dan goyangan kita makin lama makin kencang kencang Ngga' lama kemudian gua mulai terasa mau keluar lagi, I wanna cum again darling.. Again ?? tanyanya sambil mengerling genit ke gua, trus Katryn bilang ke gua Hun, please do me a favor... Wat ??, gua nanya ke do'i Bathing my tits with your cum.. Wateva.. gua sautin. Gua pikir, "Your wish is my command..." Katryn stop lagi, trus Katryn isep dan melahap habis dah kontol gua Sambil Katryn kocok-kocokin cock gua.. Gua bilang ke do'i, "Stop, I'm cumming...', gua cabut kontol gua dari mulutnya yang rakus.. Gua kocokin kontol gua..sampe mo keluar.. Gua keluarin dah peju gua di atas breastnya yang bulat dan montok banget-banget... Tuh peju muncrat dan mendarat di mukanya, ngebasahin semua mukanya, leher, rambut, dada, dan nipplenya.. Wow, banyak banget..., katanya trus Katryn gosok-gosokin peju-pejunya pake tangan ke seluruh badan.. trus do'i jilat-jilatin tuh tangan.. sambil senyum senyum kesenengan..dengan muka kemerah-merahan.


TAMAT

17Tahun "Bercinta dengan Wanita Hamil"  

2 komentar

Aku adalah seorang eksekutif muda yang baru diangkat menjadi manajer di sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Sebut saja namaku Aldi, tinggi 175 cm kata orang aku mirip pemain bulu tangkis Ricky S. Kisah ini terjadi hampir setahun yang lalu. Umurku saat itu 30 tahun. Aku sudah beristri dan beranak 2, berumur 3 tahun dan yang bungsu baru 1 bulan. Isteri dan anakku masih tinggal di Malang karena saat melahirkan anak kedua tinggal di rumah orang tuanya dan belum pulang ke Surabaya.

Kisah ini terjadi saat pulang dari kerja lembur sekitar pukul 11:00 malam. Dengan mobil Baleno kesayanganku, aku menyusuri Jalan di kawasan perumahan elit yang mulai sepi karena kebetulan hujan gerimis. Ditengah perjalanan aku melihat perempuan setengah baya berdiri di bawah pohon di pinggir jalan. Aku merasa kasihan lalu aku menghentikan mobil dan menghampirinya.
Aku bertanya, "Ibu sedang menunggu apa?"
Dia memandangku agak curiga tapi kemudian tersenyum. Dalam hati aku memuji, Manis juga ibu ini walaupun umurnya kelihatannya di atasku sekitar 34 -36 tahun kalau digambarkan seperti artis Misye Arsita dan saat itu perutnya agak membuncit kecil kelihatan sedang hamil muda.
"Kalau ke manukan naik angkot apa ya Dik?"
"Wah jam segini sudah habis Bu angkotnya, Gimana kalo saya antar?"
Dia kelihatan gembira. "Apa tidak merepotkan?"
"Kebetulan rumah saya juga satu arah dari sini, mari naik!"

Setelah dia ikut mobilku, Ibu itu bercerita bahwa dia berasal dari Jawa Tengah, dia sedang mencari suaminya yang kebetulan baru 2 minggu kerja sebagai sopir bis jurusan Semarang-Surabaya, keperluannya ke sini hendak mengabarkan kalau anaknya yang pertama yang berumur 15 tahun kecelakaan dan dirawat di rumah sakit sehingga butuh uang untuk perawatan anaknya. Kebetulan alamat yang di tulis oleh suaminya tidak ada nomer teleponnya.

Sesampainya di alamat yang dituju kami berhenti. Setelah di depan rumah ketika akan mengetuk pintu ternyata pintunya masih digembok, lalu kami bertanya pada tetangga sebelah yang kebetulan satu profesi.
"Suami Ibu paling cepat 2 hari lagi pulangnya. Baru saja sore tadi bisnya berangkat ke Semarang. Kebetulan kami satu PO."
Kemudian kami permisi pergi. Kelihatan di dalam mobil dia sedih sekali.
"Terus sekarang Ibu mau ke mana?" tanyaku.
"Sebenarnya saya pengin pulang tapi.. pasti saya nanti di marahi mertua saya kalau pulang dengan tangan kosong, lagian uang saya juga sudah nggak cukup untuk pulang."
"Begini saja, Ibu kan rumahnya jauh, capek kan baru nyampek trus pulang lagi.. apalagi kelihatanya ibu sedang hamil, berapa bulan?"
"Empat bulan ini Dik, trus saya harus gimana?"
"Dalam dua hari ini Ibu tinggal saja di rumah saya, kan nggak jauh dari manukan nanti setelah dua hari ibu saya antar ke sini lagi, gimana?"
"Yah terserah adik saja yang penting saya bisa istirahat malam ini."
"Oh ya, boleh kenalan.. nama Ibu siapa dan usianya sekarang berapa?"
"Panggil saja aku Mbak Menik, dan sekarang aku 35 tahun."

Malam itu, dia kusuruh tidur di kamar samping yang biasanya dipakai untuk kamar tamu yang mau menginap. Rumahku terdiri dari 3 kamar, kamar depan kupakai sendiri dan isteriku, sedang yang belakang untuk anakku yang pertama. Malam itu aku tidur nyenyak sekali, kebetulan malam sabtu dan di kantorku hanya berlaku 5 hari kerja jadi sabtu dan minggu aku libur. Sebenarnya aku ingin pergi ke Malang tapi karena ada tamu, kutangguhkan kepergianku minggu depan.

Sekitar jam 8 pagi aku bangun, kulihat sudah ada kopi yang sudah agak dingin di meja makan serta beberapa kue di piring. Mungkinkah ibu itu yang menyajikan semua ini. Lalu setelah kuteguk kopi itu aku bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan kencing. Karena agak ngantuk aku kurang mengawasi apa yang terjadi, saat aku selesai kencing aku tidak sadar kalau di bathup Mbak Menik sedang telanjang dan berendam di dalamnya. Matanya melotot melihat kemaluanku yang menjulur bebas, ketika aku membalik ke samping aku kaget dan sempat tertegun melihat tubuh telanjang Mbak Menik, tubuh yang kuning langsat dan mulus itu terlihat mengkilat karena basah oleh air dan buah dadanya.. wow besar juga ternyata, 36B. Pasti empunya gila seks. Lalu mataku berpindah ke sekitar pusarnya, di atas liang senggamanya tumbuh bulu kemaluannya yang lebat. Tak sadar kemaluanku tegak berdiri dan aku lupa kalau belum mengancingkan celana, Dan Mbak Menik sempat tertegun melihat kejantananku yang lumayan besar, panjangnya 17 cm tapi kemudian.. "Aouuww, Dik itunyaa!" kata Mbak Menik sambil menutup buah dadanya dengan tangan serta mengapitkan kakinya. Aku baru sadar lalu buru-buru keluar.

Di kamar aku masih membayangkan keindahan tubuh Mbak Menik. Andai saja aku bisa menikmati tubuh itu... aku malah berpikiran ngeres karena memang sudah lama aku tidak mendapat jatah dari isteriku, ditambah lagi situasi di rumah itu hanya kami berdua. Lalu timbul niat isengku untuk mengintip lagi ke kamar mandi, ternyata dia sudah keluar lalu kucari ke kamarnya. Saat di depan pintu samar-samar aku mendengar ada suara rintihan dari dalam kamar samping, kebetulan nako jendela kamar itu terbuka lalu kusibakkan tirainya perlahan-lahan. Sungguh pemandangan yang amat syur. Kulihat Mbak Menik sedang masturbasi, kelihatan sambil berbaring di ranjang dia masih telanjang bulat, kakinya dikangkangkan lebar, tangan kirinya meremas liang kewanitaannya sambil jarinya dimasukkan ke dalam lubang senggamanya, sedang tangan kanannya meremas buah dadanya bergantian. Sesekali pantatnya diangkat tinggi sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan, wajahnya kelihatan memerah dengan mata terpejam.

"Ouuuhh... Hhhmm... Ssstt..." Aku semakin penasaran ingin melihat dari dekat, lalu kubuka pintu kamarnya pelan- pelan tanpa suara aku berjingkat masuk. Aku semakin tertegun melihat pemandangan yang merangsang birahi itu. Samar-samar kudengar dia menyebut namaku, "Ouhhh Aldiii.. Sss Ahhh.." Ternyata dia sedang membayangkan bersetubuh denganku, kebetulan sekali rasanya aku sudah tidak tahan lagi ingin segera menikmati tubuhnya yang mulus walau perutnya agak membuncit, justru menambah nafsuku. Lalu pelan-pelan kulepaskan pakaianku satu-persatu hingga aku telanjang bulat. Batang kemaluanku sudah sangat tegang, kemudian tanpa suara aku menghampiri Mbak Menik, kuikuti gerakan tangannya meremasi buah dadanya. Dia tersentak kaget lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya.

\ "Sedang apa Anda di sini!, tolong keluar!" katanya agak gugup.
"Mbak nggak usah panik.. kita sama-sama butuh.. sama-sama kesepian, kenapa tidak kita salurkan bersama," kataku merajuk sambil terus berusaha mendekatinya tapi dia terus menghindar.
"Ingat Dik, saya sudah bersuami dan beranak tiga," Dia terus menghiba.
"Mbak, saya juga sudah beristri dan punya anak, tapi kalau sekarang terus terang saya sangat terpesona oleh Mbak.. Nggak ada orang lain di sini.. cuma kita berdua.. pasti nggak ada yang tahu.. Ayolah saya akan memuaskan Mbak, saya janji nggak akan menyakiti Mbak, kita lakukan atas dasar suka sama suka dan sama-sama butuh, mari Mbak!"
"Tapi saya sekarang sedang hamil, Dik.. kumohon jangan," pintanya terus.
Aku hanya tersenyum, "Saya dengar tadi samar-samar Mbak menyebut namaku, berarti Mbak juga inginkan aku.. jujur saja." Dan aku berhasil menyambar selimutnya, lalu dengan cepat kutarik dia dan kujatuhkan di atas ranjang dan secepat kilat kutubruk tubuhnya, dan wajahnya kuhujani ciuman tapi dia terus meronta sambil berusaha mengelak dari ciumanku. Segera tanganku beroperasi di dadanya. Buah dadanya yang lumayan besar itu jadi garapan tanganku yang mulai nakal.

"Ouughh jangaan Diik.. Kumohon lepaskaan.." rintihnya.
Tanganku yang lain menjalari daerah kewanitaannya, bulu-bulu lebatnya telah kulewati dan tanganku akhirnya sampai di liang senggamanya, terasa sudah basah. Lalu kugesek-gesek klirotisnya dan kurojok-rojok dinding kemaluannya, terasa hangat dan lembab penuh dengan cairan mani. "Uhhh... ssss.." Akhirnya dia mulai pasrah tanpa perlawanan. Nafasnya mulai tersengal-sengal. "Yaahhh... Ohhh... Jangaaann Diik, Jangan lepaskan, terusss..." Gerakan Mbak Menik semakin liar, dia mulai membalas ciumanku bibirku dan bibirnya saling berpagutan. Aku senang, kini dia mulai menikmati permainan ini. Tangannya meluncur ke bawah dan berusaha menggapai laras panjangku, kubiarkan tangannya menggenggamnya dan mengocoknya. Aku semakin beringas lalu kusedot puting susunya dan sesekali menjilati buah dadanya yang masih kencang walaupun sudah menyusui tiga anaknya. "Yahh... teruuuss, enaakkk..." katanya sambil menggelinjang.

Kemudian aku bangun, kulebarkan kakinya dan kutekuk ke atas. Aku semakin bernafsu melihat liang kewanitaannya yang merah mengkilat. Dengan rakus kujilati bibir kewanitaan Mbak Menik. "Aaahh.. Ohhh.. enaakkk Diik.. Yaakh.. teruusss.." Kemudian lidahku kujulurkan ke dalam dan kutelan habis cairan maninya. Sekitar bulu kemaluannya juga tak luput dari daerah jamahan lidahku maka kini kelihatan rapi seperti habis disisir. Klirotisnya tampak merah merekah, menambah gairahku untuk menggagahinya. "Sudaahhh Dikk.. sekarang.. ayolah sekarang.. masukkan.. aku sudah nggak tahan.." pinta Mbak Menik. Tanpa buang waktu lagi kukangkangkan kedua kakinya sehingga liang kewanitaannya kelihatan terbuka. Kemudian kuarahkan batang kejantananku ke lubang senggamanya dan agak sempit rupanya atau mungkin karena diameter kemaluanku yang terlalu lebar.

"Pelan-pelan Dik, punya kamu besar sekali.. ahhh..." Dia menjerit saat kumasukkan seluruh batang kemaluanku hingga aku merasakan mentok sampai dasar rahimnya. Lalu kutarik dan kumasukkan lagi, lama-lama kupompa semakin cepat. "Oughhh.. Ahhh.. Ahhh.. Ahhh.." Mbak Menik mengerang tak beraturan, tangannya menarik kain sprei, tampaknya dia menikmati betul permainanku. Bibirnya tampak meracau dan merintih, aku semakin bernafsu, dimataku dia saat itu adalah wanita yang haus dan minta dipuaskan, tanpa berpikir aku sedang meniduri istri orang apalagi dia sedang hamil.

"Ouuhh Diik.. Mbak mau kelu.. aaahhh..." Dia menjerit sambil tangannya mendekap erat punggungku. Kurasakan, "Seerrr... serrr.." ada cairan hangat yang membasahi kejantananku yang sedang tertanam di dalam kemaluannya. Dia mengalami orgasme yang pertama. Aku kemudian menarik lepas batang kejantananku dari kemaluannya. Aku belum mendapat orgasme. Kemudian aku memintanya untuk doggy style. Dia kemudian menungging, kakinya dilebarkan. Perlahan-lahan kumasukkan lagi batang kebanggaanku dan, "Sleeep.." batang itu mulai masuk hingga seluruhnya amblas lalu kugenjot maju mundur. Mbak Menik menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan batang kejantananku. "Gimaa.. Mbaak, enak kan?" kataku sambil mempercepat gerakanku. "Yahhh.. ennakk.. Dik punyaa kamu enak banget.. Aahhh.. Aaah.. Uuuhh.. Aaahh.. ehhh.." Dia semakin bergoyang liar seperti orang kesurupan. Tanganku menggapai buah dadanya yang menggantung indah dan bergoyang bersamaan dengan perutnya yang membuncit. Buah dada itu kuremas-remas serta kupilin putingnya. Akhirnya Aku merasa sampai ke klimaks, dan ternyata dia juga mendapatkan orgasme lagi. "Creeett.. croottt.. serrr.." spermaku menyemprot di dalam rahimnya bersamaan dengan maninya yang keluar lagi.

Kemudian kami ambruk bersamaan di ranjang. Aku berbaring, di sebelah kulihat Mbak Menik dengan wajah penuh keringat tersenyum puas kepadaku.
"Terima kasih Dik, saya sangat puas dengan permainanmu," katanya.
"Mbak, setelah istirahat bolehkah saya minta lagi?" tanyaku.
"Sebenarnya saya juga masih pengin, tapi kita sarapan dulu kemudian kita lanjutkan lagi."

Akhirnya selama 2 hari sabtu dan minggu aku tidak keluar rumah, menikmati tubuh montok Mbak Menik yang sedang hamil 4 bulan. Berbagai gaya kupraktekkan dengannya dan kulakukan di kamar mandi, di dapur dan di meja makan bahkan sempat di halaman belakang karena rumahku dikelilingi tembok. Di tanah kubentangkan tikar dan kugumuli dia sepuasnya. Pada istriku kutelepon kalau aku ada tugas luar kota selama 2 hari, pulangnya hari Senin. Mbak Menik bilang selama 2 hari itu dia betul-betul merasakan seks yang sesungguhnya tidak seperti saat dia bersetubuh dengan suaminya yang asal tubruk lalu KO. Dan Dia berjanji kalau sedang mengunjungi suaminya, dia akan menyempatkan meneleponku untuk minta jatah dariku.

Minggu malam kuantarkan dia ke kost suaminya tapi hanya sampai ujung gang dan tidak lupa kuberi dia uang sebesar Rp 500.000,- sebagai bantuanku pada anaknya yang sedang di rumah sakit. Setelah istriku balik ke rumah, dia menghubungiku lewat telepon di kantor dan ketemu di terminal. Kami melakukan persetubuhan disalah satu hotel murah di Surabaya atau kadang di Pantai Kenjeran kalau malam hari. Hingga kehamilannya menginjak usia 7 bulan kami berhenti, hingga sekarang dia belum memberi kabar, kalau dihitung anaknya sudah lahir dan berusia 6 bulan.

TAMAT
Pengirim: 17thn (17thn@yahoo.com)





17Tahun "Bapak Itu Menyimpan Kami"  

1 komentar

Bagian Satu
Sore itu Nungki masih sibuk di depan surat kabar kesayangannya. Matanya menelusuri kata demi kata yang tertulis di halaman tengah. Alis gadis itu mengerenyit. "Ma, lihat, ada seorang lagi gadis yang dinyatakan hilang." Seorang wanita setengah baya, yang terlihat sibuk memintal benang sulam, menoleh dan tersenyum, "Ah, mungkin hanya kawin lari atau semacamnya. Lagipula kejadian seperti tu sudah banyak terjadi bela- kangan ini, bukan?" Nungkin menatap wajah mamanya dan mengangguk, "Iya juga, sih. Tapi ini kan sudah yang kelima kalinya sejak bulan lalu." Sang ibu kembali sibuk dengan pekerjaannya, hanya menggumam. "Bagaimanapun pasti ada alasan yang rasionil atas hilangnya gadis-gadis itu.
Sudahlah, itu kan urusan polisi." Nungki menutup koran di tangannya dan mendekati ibunya, "Bagaimana kalau aku yang hilang?" Sang ibu tertawa dan mengelus kening anak semata wayangnya, "Jangan bilang begitu. Kata orang itu pamali." Nungki tersenyum dan beranjak menuju dapur. Ruang dapur itu terlihat sederhana, hanya beberapa rak di atas tempat cuci piring, sebuah rice cooker, dan kulkas tua di sudut ruangan. Nungki dan ibunya memang hidup sederhana, apalagi sepeninggal kepala rumah tangga mereka yang meninggal akibat serangan kanker paru-paru. Hal itu pulalah yang selalu membuat Nungki merasa antipati pada perokok. Nungki mengambil termos air panas dan mengisi dua mug kosong di hadapannya. Benaknya masih menyimpan rasa penasaran akan kehilangan perempuan-perempuan itu. Mungkin aku terlalu banyak membaca cerita detektif, pikir Nungki lalu tertawa sendiri.

Suasana kampus ramai seperti hari-hari aktif lainnya. Nungki seperti biasa pula menghabiskan waktunya di ruang baca, suatu kegemarannya yang membuatnya jauh terkucil dari pergaulan anak kampus. Sedang asiknya membaca, mendadak terdengar sebuah sapaan dari belakangnya, "Hai Nungki, sedang apa?" Nungki menoleh dan melihat Deni sudah membungkuk di belakangnya, menjuluran kepala melewati bahunya. Nungki menjauh dengan gusar, sementara Deni hanya terkekeh, "Dih, begitu saja takut. Aku kan bukan drakula." Tapi Nungki tidak mengacuhkannya. "Nungki," ucap Deni setelah mengambil tempat di sebelah gadis itu,"bagaimana kalau nanti aku yang mengantar kamu pulang?" Nungki memandang dengan sebal, ini sudah yang kedua kalinya minggu ini, "Sori, aku naik angkutan saja." Deni menghela nafasnya, mendadak wajahnya tampak lesu, "Mengapa sih kamu selalu menghindar dariku. Memangnya aku salah apa?" Sekejap Nungki merasa kasihan juga, "Bukan salah apa-apa, kok. Aku memang anaknya begini." "Baiklah," ucap Deni kemudian, seraya bangkit berdiri, "mungkin suatu saat nanti kamu akan lebih ramah padaku." Nungki tersenyum dan memandang pemuda itu berlalu dan keluar dari ruang baca. Sebenarnya Nungki juga menyukai Deni, dari cara bicaranya yang ceplas ceplos dan gayanya yang kata anak jaman sekarang `funky'. Tapi Nungki,
tetap lebih suka berkonsentrasi pada studi dan dunianya sendiri.

Sore itu Nungki sudah di sudut jalan sambil menunggu mobil angkutan datang. Mendadak perhatian gadis itu tersita pada seorang lelaki cina yang sibuk mempertahankan tas coklat di tangannya dari dua orang pemuda bertampang beringas. Nungki melihat ke sekellilingnya dan menyaksikan orang-orang di pinggir jalan yang hanya menonton tanpa bertindak apa-apa. Nungki merasa jantungnya berdebar menyaksikan adegan itu, dan tanpa disadarinya mulutnya berteriak lantang, "Polisi! Polisi!!" Kedua pemuda bertampang beringas itu langsung terlihat panik dan meninggalkan si bapak yang masih terengah-engah. Seseorang di belakang Nungki berbisik, "Waduh, Non. Kok sampeyan berani sekali, kedua orang itu anak sekitar sini yang sudah biasa mengompasi orang.." Nungki melirik ke arah sumber suara dan memandang sinis, "Tapi bukan begitu caranya kalau ada copet." Sementara bapak yang nyaris kehiangan barangnya tadi sudah menghampiri Nungki dengan senyum di bibirnya. "Terima kasih, Dik. Untung tadi Adik berteriak." Nungki tersenyum dan mengangguk, "Ah, tidak apa-apa, Pak." Lelaki itu menatapnya sejenak seolah memperhatikan, lalu menolehkan wajahnya ke seberang jalan, "Saya lihat tadi Adik menunggu sendirian di sini. Bagaimana kalau saya mengantarkan Adik pulang? Kendaraan saya ada di sana." Nungki melirik ke arah pandangan si bapak dan melihat sebuah sedan berwarna hitam metalik. Nungki menggelengkan kepalanya, "Wah, terima
kasih, Pak." Si bapak dapat menangkap pancaran keragu-raguan itu dari gadis di depannya. Dengan tersenyum bapak itu mengangguk, "Baiklah, tapi terima kasih sekali lagi." Nungki ikut tersenyum.

Sesampainya di rumah Nungki menceritakan kejadian itu pada ibunya, sang ibu tersenyum dan dalam hati merasa bangga, "Bagus, kamu sudah bertindak benar." Nungki juga merasa senang dalam hatinya. Hari itu ia jadi pahlawan.

Bagian Dua
Hari Minggu itu Nungki bangun kesiangan, sehingga ia mendapati dirinya sudah sendirian di rumah. Ibunya sudah berangkat ke toko benang yang dikelolanya. Nungki merasa bingung harus makan apa, tapi akhirnya Nungki memutuskan untuk berjalan kaki ke pasar, membeli bahan-bahan masak dan memasak makan siangnya sendiri. Pasar tradisional di daerahnya terletak tak jauh dari rumahnya, hanya lima menit berjalan kaki. Suasana siang itu cukup panas, walau mata- hari belum tinggi. Jalanan terlihat sepi, hanya beberapa pembantu kesiangan yang searah dengannya menuju ke pasar. Nungki menikmati suasana itu. Matanya memandangi pepohonan yang menghijau rindang sepanjang jalan, mendadak sesuatu menabraknya dari belakang, tubuhnya terjatuh dan tulang punggungnya terasa sakit sekali. Nungki menoleh dan melihat seorang bapak turun dari mobil. "Aduh, maaf. Saya tdak sengaja, tadi saya sedang menelpon. Aduh, aduh," si bapak terlihat panik. Nungki mengamati dengan seksama bapak itu, dan ia langsung teringat bapak yang kemarin nyaris kecopetan. Bapak itu juga mengenalinya, "Ya ampun. Ini kan Non yang kemarin. Aduh, apa yang telah saya lakukan?" Nungki berusaha bangkit berdiri, namun punggungnya terasa begitu nyeri. Si bapak langsung membungkuk dan membantunya berdiri, "Kali ini Adik harus mau saya tolong." Nungki merintih kesakitan saat bapak itu memapahnya masuk ke dalam mobil.

"Saya bawa ke rumah sakit saja ya, Dik," ucap si bapak di dalam mobil. Tapi Nungki menggeleng, "Sudahlah, Pak. Antar saya ke rumah saja." Bapak itu mengangguk, wajahnya masih terlihat panik, "Oh, baiklah. Rumahnya di mana?" Nungki mengacungkan tangannya, dan mobil yang mereka naiki langsung melaju. Si bapak membantu Nungki turun dari mobil dan memapahnya ke teras rumah. "Nah, apa lagi yang bisa saya lakukan?" tanya si bapak seraya menyeka peluhnya. Nungki tersenyum geli, "Sudahlah, Pak. Mungkin Bapak lebih baik pulang saja." "Ah, jangan begitu, dong," ucap si bapak dengan nada khawatir, "bagaimanapun kan saya yang salah."
"Sudahlah, Pak. Saya tidak apa-apa kok." "Benar saya disuruh pulang?" tanya si bapak.

Nungki memandang kakinya yang lecet di beberapa tempat ketika terjatuh tadi dan merintih lagi, "Iya." Benar, nih?" mendadak Nungki menangkap nada yang aneh dari si bapak. Nungki mengangkat kepalanya dan memandang si bapak. Mendadak bapak itu menutupi wajahnya dan mulai menangis. "Mengapa semua orang menyuruh saya pergi? Mengapa?" Dan sebuah pukulan melayang ke wajah Nungki.

17Tahun: Anu Tono dan Anu Tini  

1 komentar

Ada sepasang kekasih yang bernama Tono dan Tini keduanya agak bodo(sebenarnya idiot tentang sex sih)Alkisah pada waktu mereka akan menjadi pengantin alias akan menikah dan tentu saja mereka cemas dan gelisah akan menghadapi malam bedah kelambu mereka. Dan kesempatan ini dipergunakan oleh temen mereka untuk mempermainkan mereka..........Temennya yang cowok menceritakan kepada Tini bahwa sebenarnya Tono itu sangat perkasa dan ini bisa dibuktikan dengan "anu"nya yang bener-bener segede lutut.

Sedangkan temennya yang cewek pun menceritakan kepada Tono bahwa Tini sangat menggelikan dengan mempunyai "anu" yang bergigi... Tentu saja cerita bohong dari temen mereka itu membuat Tono dan Tini menjadi takut sekaligus cemas sekaliiiiii

Pada malam pengantinnya ketika keduanya sudah siap untuk beraksi dan mereka pun segera mematikan lampunya, tentu saja Tono yang mengambil inisiatif lebih dulu........ karena takut digigit oleh anunya Tini dia mencoba dulu dengan menggunakan lututnya, sedangkan Tini yang ingin meraba dulu anunya Tono pun terkejut dengan ukuran tersebut dan dia pun mencakar lututnya Tono.Keduanya pun gagal melalui malam pertama karena Tono sudah membuktikan anunya Tini bergigi dan anunya Tono memang segede lutut ...... Mereka sama-sama ketakutan setengah mampus.....