20 April 2008

Cerita Panas Sali dan Kedua Temannya  

1 komentar

Masih inget kisah perempuan desa yg bernama Sali ( baca : Berlibur Di Desa..)….iIni adalah cerita kelanjutan percintaan saya,jeff,Sali dan kedua temannya Kejadiannya berawal saat aku dan jeff sedang jalan2 melihat kebun tehnya yg luas lalu kami berdua melihat Sali dan kedua temannya,lalu temanku memanggil Sali dan berkenalan dgn kedua temannya yang bernama niken dan yuni lalu temanku membisikan sesuatu pada sali Saya tak tahu apa yg di bicarakan,lalu Sali mengangguk dan tersenyum lalu Sali pergi meninggalkan saya dan jeff Esoknya temanku mengajakku main ke sebuah hutan yang memang banyak orang untuk sekedar menikmati pemandangan sekitar hutan.
aLlu ½ jam kemudian saat melintas pinggiran hutan yang sepi saya bersama jeff bertemu Sali dan kedua temannya.mereka tersenyum.lalu tiba2 saya dan jeff,yang memang sudah berencana
Menyergap niken dan yuni, Yani dan niken lalu kami telanjangi,saya mengerjai yuni dan jeff mengerjai niken Tubuh niken di baringkan diatas rumput kedua kakinya terpentang lebar dan tanpa ampun lagi temanku temanku langsung mempekosa niken,niken merintih liirih saat penis temanku itu menyentuh dingding rahimnya,temanku terus bersemangat menyetubuhi niken mulutnya menghisap payudara niken dengan rakus,tubuh niken mengeliat-geliat menahan sodokan nafsu temanku “ahss……………..kak……..ouhj…………nikmmmat” Erang niken dengan nafas tersengal-sengal makin lama sodokan temanku makin brutal sampai akhirnya niken mencapai orgasmenya,tubuhnya melenting hebat sambil mengerang panjang lalu terkapar lemas temanku pun tak lama kemudian mengalami hal serupa sambil meremas erat payudara niken,temanku menyemburkan spermanya ke rahim niken “ akhh……nikmat ken” erang temanku puas.sementara aku sedang menikmati hisapan mulut yuni sambil meremas payudara yuni yang kecil tapi mengkal lalu aku menyuruh yuni nungging,setelah aku meludahi anus yuni,aku berusaha memasukan senjataku kedalam anus yuni yang sempit.”aaaaakkkkkkkhhhhhk….sakiiittt..

Kakkkk….”yuni menjerit waktu senjataku mulai menyodok anusnya ,terlihat airmatanya menitik menahan sakit yg amat sangat,mungkin seumur hidup baru kali ini yuni di sodomi,makin yuni mengerang makin aku bernafsu sambil mencengkram pinggul yuni Aku makin keras menyodomi gadis ini,seseklai aku meremas payudaranya,lama-lama aku mulai memdengar desahan yuni kiranya yuni mulai menikmati sodokanku di anusnya.

Yuni mengerang erang sambil meremas payudranya sendiri,aku sendiri terus meneyodokan penisku sampai akhirnya spermaku muncrat keluar,aku lalu mencabut penisku dari lubang anus yuni dan mengarahkan kewajah yuni,spermaku membasahi wajah yani dan meleleh kepayudara gadis tersebut.setelah puas dengan yuni dan niken Aku dan jeff mendekati Sali,setelah melepas semua baju Sali lalu kami membawa Sali ke bawah pohon Sali pasrah dan tersenyum saat aku melepas kaos dan mencopot jeansnya,tubuh Sali yg montok membuat saya dan jeff makin bernafsu,saya merebahkan Sali diatas rumput,saya menyingkap bh Sali lalu mulutku mulai menjilati putting Sali sambil tanganku meremas induk payudara Sali yg montok semenatara jeff menjelajahi paha ,jari tanagan jeff mulai meraba bibir vagina Sali dan menusuk-nusuk dgn lembut,mendapat rangsangan seperti itu tubuh Sali langsung menggeliat sambil mengerang pelan.jeff merentangkan paha Sali lalu mulai menjilati bibir vagina Sali dgn rakus,”ahhhh..uuhhhhhh….aaaaassssssssssssssshhhh.”erang Sali makin menjadi,sedangkan aku makin bernafsu menghisap buah dada Sali.tak lama kemudian jeff merayap naik dan membuak lebar paha Sali,terasa ujung kontol jeff menyentuh vaginasali yang sudah basah”auhh…kakk….pelannnn…”rintih Sali lirih saat ujung kontol jeff melesak masuk ke dalam vaginanya.sesaat jeff mulai menusuk-nusukan kontolnya dg kuat,rasa nikmat menjalari tubuh Sali membuat pinggulnya menggeliat mengikuti tusukan jeff,Sali benar-benar terbuai oleh tusukan jeff matanya kulihat terpejam sambil mendesah-desah.”aakkhhh…ennnnnak…kaakkkk..”desah Sali tak tertahan,menit demi menit kejantana jeff makin dalam merobek vagina Sali hingga membuat Sali tak mampu lagi bertahan”kakkk….oh…tekannnnn..kaakkkkkkk…auuukkkk” jeritan panjang Sali terdengar nyaring tubuh Sali mengejang menahan orgasmenya yang hebat.tubuh Sali terkulai lemas,tapi itu tak berlangsung lama sodokan jeff yang terus menganyang vaginanya sekarang di tambah oleh pagutanku yg mulai melumat bibir Sali sambil meremas payudara Sali yg besar dan montok tsb.aku merasa tak puas menikmati Sali,aku lalu mintamerubah posisijeff duduk di atas batu lalu Sali merangkak keraha kontol jeff yg sudah basah tsb”isep sal”..perintah jeff lalu Sali segera mengulum kontol jeff dgn rakus.lalu aku mulai menggosok2an senjataku ke vagina Sali lalu aku menusukan kontolku ke vagina Sali,Sali mendesis erotis tubuhnya jadi banal krn merasakan 2 kontol yg mengerjainya,batang jeff di lumatnya dgn banal.”sal…aku…udah….gak tahan….arrghhhh..”erang jeff selang beberapa saat jeff memuntahkan spermanya di mulut Sali.” Isepp sal…telann..” Sali yg sudah bernafsu menelan sperma itu bulat bulat sementara aku terus menyutubuhi ken dgn posisi nungging hujamanku membuat Sali merintih rintih,apalgi ibu jariku ikut menusuk anus Sali.”oughh kak…yg…keras…mmmpphh…ssshhh..”Sali mengerang erang,saat Sali mulai keliahatn orgasme…aku cabut kontolku,belum sempat Sali mengucap kata aku mulai meludahi lubang anus Sali dan aku membaringkan diri dan Sali di atas dgn posisi lubang anus menghadap kontolku aku gosokan kontolku ke lubang anus Sali,Sali baru sadar yg akan terjadi kliatan wajah Sali memucat.aku lalu menusukan kontolku pada lubang anus Sali..”..kak..jgn disitu…akkhh…”aku tak menghiraukan erangan Sali .Sali memekik begitu anusnya merasakan ditusuk kontolku ,perlahan namun pasti kontolku membelah anus Sali dan tengelam seluruhnya didalam anus Sali yg masih sempit itu..” addddddddd….uuuuuu…..uuuuuuuuuu..hhhhhhh…sskkiiiiitttt….lalu jeff secara tiba2 Menusukan kontolnya ke vagina Sali. Aku dan jeff trus menggenjot tubuh Sali dari bawah dan atas…akhirnya Sali mencapai orgasmenya yg kesekian kali.

“..aduhhh..kkakkk…sayyya..keluarrrrrrrrrrrr..aaaaaaakkkkkjjjjjjssssssssssssss…”tubuh Sali mengejang dg hebat sebelum akhirnya terkulai lemas diantara himpitan aku dan jeff.melihat Sali sudah orgasme aku dan jeff makin brutal memperkosa kedua lubang Sali,dgn segenap tenaga aku dan jeff terus memacu Sali bagai kuda tunggangan kami.sampai akhirnya aku mencabut kontol dari lubang anus Sali lalu aku bergerak mendekati yuni dan niken yg sedari tadi melihat persetubuhan kami tak jauh dr tempat Sali di keroyok,dgn santainya aku aku menciumi yuni sambil meremas payudara yuni tsb. Sedang jeff menguasai Sali seorang diri membalik tubuh Sali dan kembali menghujani anus Sali dgn sodokan kontol yg besar,payudara Sali bergoyang akibat hentakan jeff yg brutal,sedang aku kembali mengerjai niken dan yuni,aku menyuruh mereka menungging lalu aku mulai menyodokan kontolku ke anus niken,niken menjerit keras saat kontolku mulai bergerak menyodomi anusnya sementara yuni menggeliat-geliat akibat jariku bermain di vaginanya,hingga suatu titik aku dan jeff berbarengan mencapai puncak surga aku mencabut kontolku dari anus niken dan jeff mencabut dri lubangnya Sali lalu kami berjalan menjejalkan penis ke mulut yuni,yuni menghisap kontolku sembari mengocok batang jeff “ahhh..terus..hisap…yun…ouk..niikmathhh..”akhirnya aku hampir mencapai orgasme dan mencabut kontolku dr mulut yuni lalu mendekati niken,aku lalu mengocok kontolku hingga akhirnya kontolku memuntahkan pejuhnya ke dalam mulut niken,niken nyaris tersedak saat spermaku memenuhi mulutnya sebagaian menyemprot wajah dan payudaranya,demikian juga jeff ketika hampir orgasme ,jeff menjejali mulut yuni dgn spermanya.niken dan yuni menahan sperma aku dan jeff di mulut masing2 lalu niken dan yuni bergerak mendekati Sali yg masih terbaring lemas dgn di Bantu oleh aku mereka membuka mulut Sali lalu mereka secara bergantian mereka meludahkan sperma ke mulut Sali,Sali gelagapan menerima muntahan sperma dari mulut kedua temannya sampai akhirnya seluruh sperma itu berpindah ke dlam mulut Sali dan dgn terpaksa Sali menelan seluruh cairan aku dan jeff.aku dan jeff terseyum puas memandangi ketiga gadis desa yg cantik itu yg masih terkulai lemas.

½ jam kemudia jeff memberi mereka beberapa lembar uang ratus ribuan.ketiga gadis itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang.dan mereka bilang “kapan2 kita main lagi ya.

Cerita Panas Selingkuh dengan Ami  

2 komentar

Aku sedang menonton televisi di kamarku ketika Fay keluar dari kamar mandi mengenakan baju tidur. Hm.. dia pasti habis cuci muka dan bersih-bersih sebelum tidur. Di kamar tidur kami memang terdapat kamar mandi dan televisi, sehingga aku menonton televisi sambil tiduran. Fay berbaring di sampingku, dan memejamkan matanya. Lho? Dia langsung mau tidur nih! Padahal aku sejak tadi menunggu dia. Lihat saja, si "ujang" sudah bangun menantikan jatahnya.

"Fay! Kok langsung tidur sih?"
"Mm..?"
Fay membuka matanya. Lalu ia duduk dan menatapku. Kemudian ia tersenyum manis. Woow... burungku semakin mengeras. Fay mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tangannya yang lembut halus membelai wajahku. Jantungku berdetak cepat. Kurangkul tubuhnya yang mungil dan hangat. Terasa nyaman sekali. Fay mencium pipiku. "Cupp..!"

"Tidur yang nyenyak yaa..." katanya perlahan.
Lalu ia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Tidur! Nah lho? Sial benar. Cuma begitu saja? Aku terbengong beberapa saat.
"Fay! Faayy..!" aku mengguncang-guncang tubuhnya.
"Umm... udah maleem... Fay ngantuk niih..."
Kalau sudah begitu, percuma saja. Dia tidak akan bangun. Padahal aku sedang birahi tinggi dan butuh pernyaluran. Si "ujang" masih tegang dan penasaran minta jatah.

Begitulah Fay. Sebagai istri, dia hampir sempurna. Wajah dan fisiknya enak dilihat, sifatnya baik dan menarik. Perhatiannya pada kebutuhanku sehari-hari sangat cukup. Hanya saja, kalau di tempat tidur dia sangat "hemat". Nafsuku terbilang tinggi. Sedangkan Fay, entah kenapa (menurutku) hampir tidak punya nafsu seks. Tidak heran meskipun sudah lebih setahun kami menikah, sampai saat ini kami belum punya anak. Untuk pelampiasan, aku terkadang selingkuh dengan wanita lain. Fay bukannya tidak tahu. Tapi tampaknya dia tidak terlalu mempermasalahkannya.

Nafsuku sulit ditahan. Rasanya ingin kupaksa saja Fay untuk melayaniku. Tapi melihat wajahnya yang sedang pulas, aku jadi tidak tega. Kucium rambutnya. Akhirnya kuputuskan untuk tidur sambil memeluk Fay. Siapa tahu dalam mimpi, Fay mau memuaskanku? Hehehe...

Esoknya saat jam istirahat kantor, aku makan siang di Citraland Mall. Tidak disangka, disana aku bertemu dengan Ami, sahabatku dan Fay semasa kuliah dahulu. Kulihat Ami bersama dengan seorang wanita yang mirip dengannya. Seingatku, Ami tidak punya adik. Ternyata setelah kami diperkenalkan, wanita itu adalah adik sepupu Ami. Fita namanya. Heran juga aku, kok saudara sepupu bisa semirip itu ya? Pendek kata, akhirnya kami makan satu meja.

Sambil makan, kami mengobrol. Ternyata Fita seperti juga Ami, tipe yang mudah akrab dengan orang baru. Terbukti dia tidak canggung mengobrol denganku. Ketika aku menanyakan tentang Joe (suami Ami, sahabatku semasa kuliah), Ami bilang bahwa Joe sedang pergi ke Surabaya sekitar dua minggu yang lalu untuk suatu keperluan.

"Paling juga disana dia main cewek!" begitu komentar Ami.
Aku hanya manggut-manggut saja. Aku kenal baik dengan Joe, dan bukan hal yang aneh kalau Joe ada main dengan wanita lain disana. Saat Fita permisi untuk ke toilet, Ami langsung bertanya padaku.
"Van, loe ama Fay gimana?"
"Baek. Kenapa?"
"Dari dulu loe itu kan juga terkenal suka main cewek. Kok bisa ya akur ama Fay?"
Aku diam saja.

Aku dan Fay memang lumayan akur. Tapi di ranjang jelas ada masalah. Kalau dituruti nafsuku, pasti setiap hari aku minta jatah dari Fay. Tapi kalau Fay dituruti, paling hebat sebulan dijatah empat atau lima kali! Itu juga harus main paksa. Seingatku pernah terjadi dalam sebulan aku hanya dua kali dijatah Fay. Jelas saja aku selingkuh! Mana tahan?

"Kok diem, Van?" pertanyaan Ami membuyarkan lamunanku.
"Nggak kok..."
"Loe lagi punya masalah ya?"
"Nggaak..."
"Jujur aja deh..." Ami mendesak.
Kulirik Ami. Wuih, nafsuku muncul. Aku jadi teringat saat pesta di rumah Joe. Karena nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun, maka akal sehatku pun hilang.

"Cerita doong..!" Ami kembali mendesak.
"Mi.., loe mau pesta "assoy" lagi nggak?" aku memulai. Ami kelihatan kaget.
"Eh? Loe jangan macem-macem ya Van!" kecam Ami.
Aduh.., kelihatannya dia marah.
"Sorry! Sorry! Gue nggak serius... sorry yaa..." aku sedikit panik.

Tiba-tiba Ami tertawa kecil.
"Keliatannya loe emang punya masalah deh... Oke, nanti sore kita ketemu lagi di sini ya? Gue juga di rumah nggak ada kerjaan."
Saat itu Fita kembali dari toilet. Kami melanjutkan mengobrol sebentar, setelah itu aku kembali ke kantor.

Jam 5 sore aku pulang kantor, dan langsung menuju tempat yang dijanjikan. Sekitar sepuluh menit aku menunggu sebelum akhirnya telepon genggamku berdering. Dari Ami, menanyakan dimana aku berada. Setelah bertemu, Ami langsung mengajakku naik ke mobilnya. Mobilku kutinggalkan disana. Di jalan Ami langsung menanyaiku tanpa basa-basi.
"Van, loe lagi butuh seks ya?"
Aku kaget juga ditanya seperti itu. "Maksud loe?"
"Loe nggak usah malu ama gue. Emangnya Fay kenapa?"
Aku menghela nafas. Akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan uneg-unegku.

"Mi... Fay itu susah banget... dia bener-bener pelit kalo soal begitu. Loe bayangin aja, gue selalu nafsu kalo ngeliat dia. Tapi dia hampir nggak pernah ngerespon. Kan nafsu gue numpuk? Gue butuh penyaluran dong! Untung badannya kecil, jadi kadang-kadang gue paksa dia."
Ami tertawa. "Maksudnya loe perkosa dia ya? Lucu deh, masa istri sendiri diperkosa sih?"
"Dia nggak marah kok. Lagi gue perkosanya nggak kasar."
"Mana ada perkosa nggak kasar?" Ami tertawa lagi. "Dan kalo dia nggak marah, perkosa aja dia tiap hari."
"Kasian juga kalo diperkosa tiap hari. Gue nggak tega kalo begitu..."
"Jadi kalo sekali-sekali tega ya?"
"Yah... namanya juga kepepet... Udah deh... nggak usah ngomongin Fay lagi ya?"
"Oke... kita juga hampir sampe nih..."

Aku heran. Ternyata Ami menuju ke sebuah apartemen di Jakarta Barat. Dari tadi aku tidak menyadarinya.
"Mi, apartemen siapa nih?"
"Apartemennya Fita. Pokoknya kita masuk dulu deh..."

Fita menyambut kami berdua. Setelah itu aku menunggu di sebuah kursi, sementara Fita dan Ami masuk ke kamar. Tidak lama kemudian Ami memanggilku dari balik pintu kamar tersebut. Dan ketika aku masuk, si "ujang" langsung terbangun, sebab kulihat Ami dan Fita tidak memakai pakaian sama sekali. Mataku tidak berkedip melihat pemandangan hebat itu. Dua wanita yang cantik yang wajahnya mirip sedang bertelanjang bulat di depanku. Mimpi apa aku?

"Kok bengong Van? Katanya loe lagi butuh? Ayo sini..!" panggil Ami lembut.
Aku menurut bagai dihipnotis. Fita duduk bersimpuh di ranjang.
"Ayo berbaring disini, Mas Ivan."
Aku berbaring di ranjang dengan berbantalkan paha Fita. Kulihat dari sudut pandangku, kedua bagian bawah payudara Fita yang menggantung mempesona. Ukurannya lumayan juga. Fita langsung melucuti pakaian atasku, sementara Ami melucuti pakaianku bagian bawah, sampai akhirnya aku benar-benar telanjang. Batang kemaluanku mengacung keras menandakan nafsuku yang bergolak.

"Gue pijat dulu yaa..." kata Ami.
Kemudian Ami menjepit kemaluanku dengan kedua payudaranya yang montok itu. Ohh.., kurasakan pijatan daging lembut itu pada kemaluanku. Rasanya benar-benar nyaman. Kulihat Ami tersenyum kepadaku. Aku hanya mengamati bagaimana kedua payudara Ami yang sedang digunakan untuk memijat batang penisku.
"Enak kan, Van?" Ami bertanya.
Aku mengangguk. "Enak banget. Lembut..."

Fita meraih dan membimbing kedua tanganku dengan tangannya untuk mengenggam payudaranya. Dia membungkuk, sehingga kedua payudaranya menggantung bebas di depan wajahku.
"Van, perah susu gue ya?" pintanya nakal.
Aku dengan senang hati melakukannya. Kuperah kedua susunya seperti memerah susu sapi, sehingga Fita merintih-rintih.
"Ahh... aww... akh... terus.. Van... ahh... ahhh..."
Payudara Fita terasa legit dan kenyal. Aku merasa seperti raja yang dilayani dua wanita cantik. Akhirnya Ami menghentikan pijatan spesialnya. Berganti tangan kanannya menggenggam pangkal si "ujang".

"Dulu diwaktu pesta di rumah gue, kontol loe belum ngerasain lidah gue ya?" kata Ami, dan kemudian dengan cepat lidahnya menjulur menjilat si "ujang" tepat di bagian bawah lubangnya.
Aku langsung merinding keenakan dibuatnya. Dan beberapa detik kemudian kurasakan hangat, lembut, dan basah pada batang kemaluanku. Si "ujang" telah berada di dalam mulut Ami, tengah disedot dan dimainkan dengan lidahnya. Tidak hanya itu, Ami juga sesekali mengemut telur kembarku sehingga menimbulkan rasa ngilu yang nikmat. Sedotan mulut Ami benar-benar membuatku terbuai, apalagi ketika ia menyedot-nyedot ujung kemaluanku dengan kuat. Enaknya tidak terlukiskan. Sampai kurasakan alat kelaminku berdenyut-denyut, siap untuk memuntahkan sperma.

"Mi... gue... udah mau.. ke.. luar..."
Ami semakin intens mengulum dan menyedot, sehingga akhirnya kemaluanku menyemprotkan sperma berkali-kali ke dalam mulut Ami. Lemas badanku dibuatnya. Tanganku yang beraksi pada payudara Fita pun akhirnya berhenti. Ami terus mengulum dan menyedot kemaluanku, sehingga menimbulkan rasa ngilu yang amat sangat. Aku tidak tahan dibuatnya.

"Aahh... Ami... udahan dulu dong..!"
"Kok cepet banget keluar?" ledeknya.
"Uaah.., gue kelewat nafsu sih.. maklum dong, selama ini ditahan terus." aku membela diri.
"Oke deh, kita istirahat sebentar."

Ami lalu menindih tubuhku. Payudaranya menekan dadaku, begitu kenyal rasanya. Nafasnya hangat menerpa wajahku. Fita mengambil posisi di selangkanganku, menjilati kemaluanku. Gairahku perlahan-lahan bangkit kembali. Kuraba-raba kemaluan Ami hingga akhirnya aku menemukan daging kenikmatannya. Kucubit pelan sehingga Ami mendesah perlahan. Kugunakan jari jempol dan telunjukku untuk memainkan daging tersebut, sementara jari manisku kugunakan untuk mengorek liang sanggamanya. Desahan Ami semakin terdengar jelas. Kemaluannya terasa begitu basah. Sementara itu Fita terus saja menjilati kemaluanku. Tidak hanya itu, Fita mengosok-gosok mulut dan leher si "ujang", sehingga sekali lagi bulu kudukku merinding menahan nikmat.

Kali ini aku merasa lebih siap untuk tempur, sehingga langsung saja aku membalik posisi tubuhku, menindih Ami yang sekarang jadi telentang. Dan langsung kusodok lubang sanggamanya dengan batang kemaluanku. Ami mendesis pendek, lalu menghela nafasnya. Seluruh batang kemaluanku terbenam ke dalam rahim Ami. Aku mulai mengocok maju mundur. Ami melingkarkan tangannya memeluk tubuhku. Fita yang menganggur melakukan matsurbasi sambil mengamati kami berdua yang sedang bersatu dalam kenikmatan bersetubuh. Ami mengeluarkan jeritan-jeritan kecil, sampai akhirnya berteriak saat mencapai puncak kenikmatannya, berbeda denganku yang lebih kuat setelah sebelumnya mencapai orgasme.

Kucabut batang kemaluanku dari vagina Ami, dan langsung kuraih tubuh Fita. Untuk mengistirahatkan si "ujang", aku menggunakan jari-jariku untuk mengobok-obok vagina Fita. Kugosok-gosok klitorisnya sehingga Fita mengerang keras. Kujilati dan kugigit lembut sekujur payudaranya, kanan dan kiri. Fita meremas rambutku, nafasnya terengah-engah dan memburu. Setelah kurasakan cukup merangsang Fita, aku bersedia untuk main course.

Fita nampaknya sudah siap untuk menerima seranganku, dan langsung mengambil doggy style. Vaginanya yang dihiasi bulu-bulu keriting nampak sudah basah kuyup. Kumasukkan kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya dengan pelan tapi pasti. Fita merintih-rintih keras saat proses penetrasi berlangsung. Setelah masuk seluruh penisku, kudiamkan beberapa saat untuk menikmati kehangatan yang diberikan oleh jepitan vagina Fita. Hangat sekali, lebih hangat dari milik Ami. Setelah itu kumulai menyodok Fita maju mundur.

Fita memang berisik sekali! Saat kami melakukan sanggama, teriakan-teriakannya terdengar kencang. Tapi aku suka juga mendengarnya. Kedua payudaranya bergelantungan bergerak liar seiring dengan gerakan kami. Kupikir sayang kalau tidak dimanfaatkan, maka kuraih saja kedua danging kenyal tersebut dan langsung kuremas-remas sepuasnya. Nafsuku semakin memuncak, sehingga sodokanku semakin kupercepat, membuat Fita semakin keras mengeluarkan suara.
"Aaahh... Aaahh... Gue keluaar... Aaah.." teriak Fita dengan lantang.

Fita terkulai lemas, sementara aku terus menyetubuhinya. Beberapa saat kemudian aku merasa mulai mendekati puncak kepuasan.
"Fit... gue mau keluar nih..."
Fita langsung melepaskan kemaluannya dari kemaluanku, dan langsung mengulum kemaluanku sehingga akhirnya aku memuntahkan spermaku di dalam mulut Fita, yang ditelan oleh Fita sampai habis.

Aku berbaring, capek. Nikmat dan puas sekali rasanya. Ami berbaring di sisiku. Payudaranya terasa lembut dan hangat menyentuh lengan kananku. Fita masih membersihkan batang kemaluanku dengan mulutnya.
"Gimana Van? Puas?" Ami bertanya.
"Puas banget deh... Otak gue ringan banget rasanya."
"Gue mandi dulu ya?" Fita memotong pembicaraan kami.
Lalu ia menuju kamar mandi.

"Gue begini juga karena gue lagi pengen kok. Joe udah dua minggu pergi. Nggak tau baliknya kapan." Ami menjelaskan.
"Nggak masalah kok. Gue juga emang lagi butuh sih. Lain kali juga gue nggak keberatan."
"Huss! Sembarangan loe. Gue selingkuh cuma sekali-sekali aja, cuma pengen balas dendam ama Joe. Dia suka selingkuh juga sih! Beda kasusnya ama loe!"
Aku diam saja. Ami bangkit dari ranjang dan mengingatkanku.
"Udah hampir setengah delapan malem tuh. Nanti Fay bingung lho!"

Aku jadi tersadar. Cepat-cepat kukenakan pakaianku, tanpa mandi terlebih dahulu. Setelah pamit dengan Fita, Ami mengantarku kembali ke Citraland. Disana kami berpisah, dan aku kembali ke rumah dengan mobilku. Di rumah, tentu saja Fay menanyakan darimana saja aku sampai malam belum pulang. Kujawab saja aku habis makan malam bersama teman.

"Yaa... padahal Fay udah siapin makan malem." Fay kelihatan kecewa.
Sebenarnya aku belum makan malam. Aku lapar.
"Ya udah, Ivan makan lagi aja deh... tapi Ivan mau mandi dulu." kataku sambil mencium dahinya.
Fay kelihatan bingung, tapi tidak berkata apa-apa.

Cerita Panas Sensation of My Campus  

0 komentar

Ini ceritaku tahun 1999 kemarin, bulan dan tanggalnya lupa. 'Introduce my self', panggil saja aku Iyan, waktu itu umurku 19 tahun, 179 cm / 68 kg, Sunda-Jepang, aku anak band (yang hobby pergi ke cafe / nite club pasti tahu bandku deh..) di kota 'S' (SUPERMAN) sampai sekarang. Makasih yang sudah kerim email buat ceritaku yang pertama (Sensation of Car-Park), I'll try to reply you all.

Nama dan tempat pakai inisial saja yah, jaga privacy. Tapi kalau nama panggilan tetap tidak dirubah kok. "Let's Taste Another Sensation!"

"Gubrak..! {{{STEREO}}}"
"Auuuwww..!"
"Ooopss..! Sorry.. sorry nggak sengaja, kamu nggak pa-pa kan..?" kuambil tas dan buku yang tercecer di pelataran kantor administrasi ST**** (tiiitt..! Top Secret laahh), kampusku.Setelah kulihat ke atas, "Buju buneekk..!" di depanku ada cewek cakep banget (kaya 'Allien' deh pokoknya, terlalu banget cakepnya).
Matanya bulat, kecil, sipit (lucu deh pokoknya tuh mata), kulit kuning halus dan body-nya... woosshh..!

"Kamu nggak pa-pa kan? Sorry nggak sengaja. Iyan," langsung kusebut nama sambil kasih tangan ke dia.
"Irene..." jawab dia singkat tapi cuekin tanganku.
"Ke kantin yuk, waktu makan nih udah siang, pleasee..!""Apa..! Kamu kenapa hah..? Udah nubruk, nyerocos sana-sini, terus ngajakin ke kantin? Emang aku mau makan sama kamu?" Astaga, marah nih doi.
"Aku kan cuma mau tebus salahku, tapi kalo kamunya nggak mau, nggak pa-pa, jangan marah gitu dong.. tahu nggak? Suara kamu tuh bikin jebol telinga!"
Aku langsung pergi dari hadapannya sambil komat-kamit nyumpahin tuh cewek. Sebenarnya sayang juga sih ninggalin cewek 'Allien' seperti dia.

Lagi enak-enaknya melumat sendok sama garpu, wee... sebelah ramai sekali, biasa deh cewek kalau ketemu gank-nya kan gosip terus. Aku lirik ke gank cewek sebelah.
"Shit..!" si 'Allien' ada di situ tuh.
Wuiihh.., waktu dia melihatku, langsung kujulurkan lidah ke arahnya. Dia 'manyun', terus balas melet ke aku. Sialan tuh mata sampai 'kiyer-kiyer' (baru kali ini melet penuh penghayatan sampai segitunya, mana temannya ikutan ketawa lagi). Aku rada cuekin dia sih.., habis tadi disemprot suara geledeknya.

Jam 13.30 aku pergi dari kampus, harus check sound di 'C', salah satu cafe yang terletak di pinggir rawa-rawa, atau apalah (tahu nggak yang ada di kota 'S' cafe apaan tuh..?). Sempat senyum-senyum juga sih kalau ingat kejadian barusan, tapi kalau suara geledeknya yang cempreng itu jadi sewot juga mengingatnya.

Jam 18.00 (kaya kronologi saja, dari tadi pakai jam terus) aku sudah 'tongkrongin' salah satu bangku kampusku."Gila bener malem gini sempet-sempetnya dosen kasih kuliah tambahan, mana sampe jam 20.00 lagi.. huuii males banget, kegiatanku hari ini padet banget." kataku dalam hati mengerutu.

Bel selesai kuliah agak terlambat 5 menit, buru-buru aku lari ke parkiran habis gerah, ingin segera mandi.
"Gubrak..! {{{STEREO}}}" another shit just happen on me today."Ya ampuuunn..! kamu tuh lari-lari mulu sih dari tadi pagi kaya maling, sekarang mo alesan apa lagi hah..? Bisa keropos aku kamu tubrukin seharian, tahu nggak kamu..? Emang nggak ada kerjaan laen lagi apa selaen nubrukin aku..?"
Gila.., suara geledek yang sempat kukenal tadi siang kedengaran lagi malam ini. Aku tidak merasa kangen sama suara itu, tapi kenapa kedengaran lagi malam ini. Kutubruk dia sekali lagi.. bukan nubruk sih, meluk kayanya (sudah niat kok).

"Sorry sekali lagi. Oh yah kalo kamu tereak-tereak terus, bakalan aku tubrukin terus kamu malem ini, denger nggak kamu?" abis bisikin telinganya, cuek aku langsung pergi.
Dia diam saja meskipun di situ banyak teman-temannya, tapi semua pada diam waktu kupeluk dia tadi.

Dan sialnya (kena karma kali..), setelah sampai di pelataran parkir, ternyata Estilo-ku ngadat habis nih mesinnya. Ugh..! Turun, lalu kutendang ban Estilo sablengku itu. Kulihat keadaan kampus sudah lumayan sepi. Di pelataran parkir hanya ada 7 mobil saja yang parkir.

"Sukuurrr..!" kudengar suara cekikikan di belakang yang ternyata si suara geledek.
Lalu dia masuk ke Charade-CX dua baris sebelah kanan Estilo sablengku. Aku lari ke pintu cockpit-nya, jendelanya terbuka (belakangan aku tahu nanti kalau dia jalan bakalan ngeledekin aku lagi). Aku ambil cepat kunci mobilnya sambil kubawa pergi ke mobilku. Sambil lari, si 'Allien' menyusul di belakang, aku tunggu dia sambil duduk di kap mesin mobilku.

Huuiiihh.., kelihatan tambah sangar wajahnya.
"Kamu tuh jahat banget sama cewek, aku punya salah apa sama kamu..? Kamu pikir dong, seharian aku yang kamu rugiin..!" kaya dalang nih cewek tidak berhenti nyerocosnya.
"Balikin kunciku..!" bentak si 'Allien' sambil berusaha merebut kuncinya dari genggamanku.
Reflek aku berkelit dan beruntun membuat kepala si 'Allien' jatuh ke dadaku. Waduuhh.., tambah bertumpuk dosaku ke dia.

"Irene..?" sambil kupegang bahu si 'Allien' yang cakep ini, "Maafin aku yah, hari ini aku bener-bener nggak sengaja tubruk kamu sampe dua kali, tapi kamu juga marah-marahnya keterlaluan banget.. Oke aku terima aku salah, tapi jangan terus-terusan marah dong, apalagi di depan anak kampus gitu, aku kan juga punya malu.. But it's true, aku ngaku kalo hari ini dosaku numpuk ke kamu.. aku bener-bener minta maaf ke kamu." kataku menjelaskan.
Kuangkat wajah Irene ke atas, walah.. dia tetap saja pasang wajah sewot.

Kugandeng tangannya ke arah pintu Estilo-ku, kududukkan dia di jok kulit mobilku, lalu aku jongkok di bawahnya.
"Irene, maafin aku yah.." sambil tetap tidak merperhatikan aku, dia buang mukanya.
"Irene, aku nggak bermaksud jahat, aku cuman... (tidak dapat meneruskan yang mau kuomongkan ke Irene nih). Kamu dari tadi marah mulu yah.. pengen deh liat kamu senyum. Now give me your best smile, pleasee..!"

Kugenggam tangan Irene sambil menyerahkan kunci mobilnya.
Setelah kunci berpindah tangan ke Irene, "Plaaakk..! {{{STEREO}}}" gila.., pipiku ditampar si 'Allien'.
"Iyan...! nama kamu Iyan kan..? Irene juga minta maap yah sama kamu.."
"Trus kok tampar aku?"
"Kan tadi minta aku supaya senyum? Nah itu tadi yang bisa bikin aku senyum ke kamu."

Irene tersenyum ke arahku, meskipun di pelataran parkir itu gelap, dapat kulihat kok cakepnya nambah pas lagi senyum, apalagi dengan nakalnya dia malah memencet hidungku.
"Gotcha..!" sambil pencet hidungku dia berdiri.
"Maafin Irene juga yah Yan.." sambil dia meninggalkanku yang hanya terbengong.
Udah aahh.., pokoknya malam itu tidak ada apa-apa (nothing special, lha aku sama dia hanya saling maaf-maafan saja).

Paginya waktu parkir mobil di kampus, Charade-CX-nya 'Allien' tidak ada.
"Waduuh.., nggak kuliah nih hari tuh anak," pikirku.
"Hey..! Nggak nubruk lagi, ngelamun aja..!"
Kaget kudengar suara yang sekarang bikin aku kangen keras kedengaran di belakangku.
Setelah kulihat ke belakang, "Ya ampuunn..!" tuh 'Allien' dengan lucunya sambil mengangkat kayu papan yang gedenya lumayan, "Hihihi..."

"Itu papan buat apaan..?"
"Ya kali aja penyakit nubruk kamu kambuh lagi, buat jaga-jaga nih..."
"Hahaha.. bisa aja kamu. Udah doong papannya ditaruh.., ntar dikira lagi ngomong ama tukang kayu.."
"Wee.., tukang kayu nggak ada yang cakep kaya gini nih..!" katanya sambil meletakkan papan, si 'Allien' mendekatiku.
"Hayooo..! Sapa kemaren malem yang miss call?" si 'Allien' pukul lenganku.
"Auuuhh..! Sakit Ren..!"
"Eh tahu yah? Belom tidur? Kamu nggak telephone balik sih? Aku miss call kamu gara-gara nggak enak kan kalo telephone malem, ntar kamunya udah tidur.."

"Iya juga sih.. tapi emang ada apa sih Yan mo telephone Irene..?"
"Mau tubruk kamu kali.."
"Huuu.., Maunya..!" Bibir si 'Allien' manyun tuh.
"Eh yah CX-nya kok nggak ada?"
"Iya, tadi pagi dipake ama Chie-chie keluar kota, aku cuman numpang berangkat, napa..? Emang mau nganterin apa?"
"Enak aja..! Emang taksi apa nganterin kamu, mo bayar berapa sih sekali anter?"
"Neh bayar.. bayar pake ini nih..!" katanya sambil si 'Allien' ngepalkan tinjunya ke arah aku.

"Aku mau masuk dulu yah, yuk Yan..!"
"Iya ati-ati yah Ren.."
"Hah..? Ati-ati..? Emang ada apaan..? Kelasku kan nggak di luar kota.."
"Yah.., biar deket tapi ntar kalo-kalo ada yang tubruk kamu selaen aku..?"
"Hahaha.. bisa aja kamu Yan, di kampus nih yang punya predikat tukang tubruk tuh cuman kamu tahu..!" katan si 'Allien' sambil meninggalkanku yang masih saja ketawa-ketawa.
Ngobrol sama dia enak juga, dari situ aku mengetahui kalau si 'Allien' tuh ternyata satu angkatan di atasku.

"Huaaa.." tidak terasa ngantuk juga aku pagi ini mendengar dosen lagi 'in the hoy' sama spidol dan white board-nya sambil menerangkan Bab V Statistika.
Karena merasa ngantuk, aku ijin ke belakang mau cuci muka sekalian cari teh hangat di kantin. Waktu sampai depan kelas si 'Allien' (kalau mau ke toilet pasti melewati kelas si 'Allien' yang ada di depan toilet) dan lagi enak-enaknya melamun, tidak sadar pintu kelas (di sebelah kanan) terbuka. Dengan setengah kaget aku meloncat ke kiri.

"Ya ampun Iyaaann..! Bener-bener deh kamu tuh tukang tubruk berijazah, belom abis bekas tubrukan kemaren, sekarang mo tubruk aku lagi..!"
"Huuaaa..!" si 'Allien' yang kulamuni sekarang ada di depanku sambil mulai lagi cerewetnya.
"Ngantuk yah Yan..?" si 'Allien' menjewer telingaku.
"Adududuuhhh... sakit tahu..! Iya nih ngantuk banget, kemaren pulang jam dua pagi Ren, ke kantin yuk..!"
"Iya yuk, aku juga lagi males di kelas.." sambil kami berjalan ke kantin.

"Kamu sih ngeluyur sampe jam segitu, rugi kan ama kesehatan kamu.."
"Enak aja dikatain ngeluyur, aku mah kalo jam segitu bukan ngeluyur, tapi kerja."
"Hah..! Jadi kamu... Ich Yan, kamu kok bisa sih jadi gituan..?" sambil dia minum soda dinginnya.
"Jadi apaan..? Enak aja ngatain gigo.."
"Nah trus kalo tiap malem kerja..? Apa coba namanya..?"
"Aku kalo malem kudu ngeband di cafe Ren.. Iyan pengen mandiri doong bayar kuliah sendiri trus kalo ntar rada siangan kudu kerja di salah satu Production House di sini (kota 'S'), makanya tiap hari bawaannya ngantuk mulu. Kemaren contohnya tuh tubrukin kamu.."

"Ooohh jadi kamu ngeband di cafe, Yan..?" tanyanya.
Ich.., kurang 'dugem' juga nih anak sampai tidak tahu lawan bicaranya calon selebritis (huehehe.. maunya sih).
"Kamu hebat yah Yan, kuliah bisa bayar sendiri, umur segini juga udah kerja, Irene ngiri deh sama kamu. Hihihi kayanya bangga juga ditubruk ama orang hebat kaya kamu.."
"Hebat nubruknya..! Huahaha... bisa aja kamu, ntar aku nggak tanggung jawab kalo tiap hari tubrukin kamu.."
"Coba kalo berani..? Hayoo sekarang juga!" tantang si 'Allien'.

"Waduh di sini mah lagi rame banyak yang ngeliat, kalo berani ke toilet aja sekarang hayoo..!" kujawab tantangan si 'Allien' yang bikin kuping panas.
"Hah..! Emang kamu mau tubruk apa gebleek..?" jawab si 'Allien' sambil ngucek-ucek rambutku.
"Tubruk ini.." sambil kuletakkan jari telunjukku di bibir Irene.
"Kamu ini kenapa sih Yan..? Berani-beraninya..!" si 'Allien' menghindar waktu jariku menyentuh bibirnya.
"Tangan kamu kan kotor Yaaaann..!"
"Emang kalo udah cuci tangan aku boleh cium kamu yah..?"

"Huuueeekk..! Sapa juga yang mau cium kamu gebleeekk..! Kalo ntar bibirku jadi memble gimana..?"
"Kita kawin aja sekalian, biar memble kamu nggak perlu kuatir lagi kalo ntar nggak laku.. kan udah punya Iyan, yah kan..?"
"Weee.., sapa juga yang mo kawin ama kamu.. udah aah Yan.. yuk..!"
Tidak ngomong apa-apa lagi, Irene langsung berjalan meninggalkanku yang hanya tersenyum saja melihat dia sewot gitu.

Sambil membuang keringatnya si 'kecil' (baca: pipis) di toilet karena merasa tenggorokanku agak gatal, aku sampai tersedak batuk kencang sekali.
Huuiii..! Lega deh habis pipis jadi enteng banget deh.
Sesampainya di luar toilet, "Yan..! Hihihi, aku tahu kalo kamu batuk kamu kenceng banget, sakit yah..?"
Yiihhaa..! si 'Allien' ada di depan toilet cewek sebelah. Senang sekali deh dapat melihat dia lagi.

"Kamu belom masuk kelas juga Ren..?" tanyaku sambil kudekati dia lagi.
"Kan tadi udah bilang kalo aku lagi males banget Yan..."
"Eh yah Ren, gimana jadi nggak?"
"Jadi apanya?"
"Tangan Iyan udah dicuci nih.."
"Trus..?"
"Aku mo cium kamu," kataku sambil kucoba mendekati bibir Irene.
"Iyan... hhmmppff..!"
"Hhuuaaa..! At last..! Aku bisa cium si 'Allien'." kataku dalam hati.
Sebenarnya Irene kelihatan agak menolak ciumanku, dia pukul-pukul lenganku tapi dia tidak berteriak-teriak atau melepaskan ciumanku.

Tidak berapa lama, dia mulai menjawab ciumanku. Lidah kami saling melumat. Lidahku mengusap rongga mulut atasnya yang bikin kepala si 'Allien' sampai mendongak ke atas (ciuman khas Iyan) sampai megap-megap. Kutarik dia masuk ke dalem toilet cewek yang ada di belakangnya. Irene sempat menarik tangannya. Agak memaksa, dapat juga kubawa 'Allien' masuk ke dalam toilet cewek (maklum lah, tenaga cowok kan lebih kuat).

"Iyaaann..?"
Aku tidak kasih komentar waktu dia panggil namaku, langsung kulumat lagi bibirnya (eh yah kelupaan di dalam toilet cewek nih baunya kan tidak terlalu pesing seperti toilet cowok, semua juga tahu kan kalau toilet cowok sekolahan pasti gitu deh, mulai SMP, betul nggak..?).

Setelah ambil napas sebentar, kutunjuk satu kamar kecil di dalam toilet, Irene geleng-geleng kepala. Hehehe.. bukan nafsu dong kalau aku tidak langsung menarik Irene ke salah satu kamar kecil itu.

Di dalam aku sempat lihat Irene yang hanya melihatku dengan mata kecil sayunya itu. Aku tersenyum ke dia sambil tanganku mengusap pipinya lembut, dan dia malah merem sambil gerakin wajahnya seperti kucing kalau dielus. Kupeluk dan kucium rambut dia kuat-kuat, hmm.. wangi deh. Dengan sedikit menunduk (tubuhnya 159 cm dan 36B, proporsial dan sexy habis, montok gitu kalau orang yang lagi horny bilang) kembali kucium bibirnya, sekarang dia malah memelukku sambil ngusap-usap rambutku, hhmm.. good tasted. Aku paling suka kalau pas ciuman rambutku dielus-elus, asal jangan dijambak saja.

Setelah puas kerjain bibir 'Allien', aku turun ke leher jenjangnya itu. Kukecup dan hisap lembut. Sambil tetap mengusap rambutku, Irene mulai respon nih sepertinya, nafasnya mulai agak kedodoran juga waktu kucium lembut merata leher samping terus ke depan. Tanganku yang dari tadi melingkar di pinggangnya mulai pelan naik melewati semua lekuk pinggang, perut dan berhenti di pangkal lingkar buah dadanya yang masih tertutup kaos kerah ketat warna birunya. Kumainkan ibu jariku memutari pangkal lingkar bawah payudaranya.

Kurapatkan pelukan tangan kiriku dengan menarik lebih dalam tubuhnya, dan dia merespon sedikit menjauh saat bagian tubuh bawahnya yang tertutup rok hitam sedikit di atas lutut dengan belahan di pinggir kanan kirinya bersentuhan dengan si 'kecil' yang mulai menggeliat lembut dari tidur panjangnya. Cepat kudorong tubuhnya dengan sedikit agak nafsu (emang nafsu kok) sampai menyentuh tembok kamar toilet yang ada di belakangnya.

"Ooohh..!" Yah, hanya satu desahan itu saja yang Irene keluarkan saat tangan kananku mulai menyentuh lingkar indah di dadanya itu.
"So big to lick..!" kataku pelan.
(Huehehe.., pembaca mau nggak licking payudaranya Irene..? Langkahin dulu mayat dosen Statistikaku, baru kubayar pakai 'toket'-nya Irene.)
"What The...!! Apa-apaan nih?" tangan si 'Allien' tidak tahu bagaimana mulanya sudah ada di depan celanaku menangkap si 'kecil' yang karena pegangannya berubah jadi si 'bandot'.

"Irene..?"
"Hmm..? Kenapa? Surpriseee..! Kamu kudu tanggung jawab Yan..!"
Hualaaahh.. tidak disangka kalimat itu keluar dari bibir Irene sambil dia mulai membuka zipper celanaku. Setelah si 'kecil' lolos dari dalamku, Irene melorot ke bawah sejajar dengan si 'bandot'-ku.

"Huaaa..! Kaya Power Rangers yah Yan..? Hihihi.. lucu, gagah..."
Astaga Irene, si 'bandot' bonggolku disamakan dengan Power Rangers, what a girl.. untung saja tidak dikatakan Tele Tubbies bersaudara, bisa-bisa ditaruh di lemari hiasnya dong.
"Hallo.. nama Chie-chie Irene, kamu namanya sapa..?" baru kali ini kemaluan diajak bercanda seperti Pokemon.
Belum menjawab candaan si Irene, si 'Power Rangers'-ku sudah hilang dimakan sama salah satu monsternya si 'Astronema' (musuh Power Rangers), yah si Irene ini.

"Huuggghh..! Irenee..!" kaget aku berteriak kecil merasakan sentuhan lidah Irene.
Lidahnya tidak mau diam, terus menjilati kemaluanku, dan sekali-kali dihisapnya lembut, maju-mundur sambil tangannya mengurut sisa bonggol si 'bandot'. Huaaa.. pokoknya ampuun deh, lembut sekali. Dengan lembut lidahnya membatasi geliat dari si 'bandot'. Dengan lembut pula dia mulai menurunkan celanaku lebih ke bawah (gila celana di bawah lantai toilet kan kotor, nyuci deh nanti) sambil mulai mengelus testisnya.

Kepala Irene miring sedikit ke kanan dengan mata melihat ke atas ke arahku yang lagi menunjukkan senyum yang paling horny (pernah tahu nggak senyuman model gini?). Terasa ngilu di seluruh kemaluanku. Aahh.., apalagi waktu lidah Irene mengusap ujung bawah si 'kecil'-ku, seperti jutaan sengatan listrik lemah mulai merayapi seluruh persendian urat-urat nadi di tubuhku, berpusat di daerah bertuliskan 'Awas Anjing Galak!' (baca : kejantananku). Meski tidak sepenuhnya masuk, tapi Irene terus saja memasukkan semua dan berusaha untuk menelannya lambat-lambat sambil lidahnya tidak pernah berhenti menjilati seluruh bagian kejantananku, ditambah lagi pijatan lembut tangannya di bawah testisku.

Waktu itu wajah Irene sangat bernafsu, matanya dipejamkan, sedikit peluh keluar dari dahi menuju ke pipinya. Bibirnya yang tipis berusaha selalu meresapi pelan-pelan tiap kali penisku masuk lebih dalam, dan dia akan menghisap kuat saat dia mengeluarkannya lagi, seperti tidak mau melepaskan si 'kecil,' benar-benar bikin cowok gila nih cewek.

"Aaagghh Ireneee..! Udah Irene! Udah! Iyan mo sampe Reenn!" ampun deh, aku paling tidak kuat menahan kalau kemaluanku diserang terus-terusan sama blow job seorang cewek.
"Irene! Udah Reeen! Lepasin! Jijik Ren! Udah! Aaahhh..!"
Denyut dengan kejutan-kejutan statis terasa mulai menerpa semua jalan darahku, mulai dari urat saraf kemaluanku menuju seluruh cabang otak di dalam setiap tubuhku (aku cocok tidak jadi guru Biologi? Hihihi). Bersamaan dengan itu tubuhku pun menegang.

"Aagghhh..! Ireneee..! Aku dapat Reeen... Aaahhhgg..!"
Sekitar 6-7 kali kedutan diikuti cairan segar kejantananku membanjiri mulut kecil si Irene ini tanpa dapat kulepas dari jepitan mulut dan tangan nakal si Irene. Dia tidak mau melepaskan si 'kecil' dan testisku dari serbuan bibir sexy-nya, seperti dibetot oleh vacum cleaner deh hisapannya tidak habis-habis, dan lucunya sempat juga terdengar gelegak tenggorokan Irene. "Waduuhh.. bener-bener nih cewek.. ditelen abis..!" kataku dalam hati.

"Haahh... Hhh..." nafasku waktu itu benar-benar tidak karuan deh.
Si Irene malah senyum-senyum nih ke arahku sambil berdiri, "Gimana Iyan sayang..? Good tasted..?"
"God bless my little brother," sambil kuangkat kepala Irene yang senyum setelah ucapanku tadi.
"Your turn my little fella..." setelah cium bibirnya, (huueekk sisa sperma) aku melorot ke bawah masuk ke dalam rok hitam Irene (hih kaya Barongsai yah?).

Aku mulai mencium dari betis indah Irene dan menjilatinya bergantian kanan dan kiri. Tanganku? Tanganku tentu tidak hanya diam saja, melainkan meraba paha Irene. Ciuman dan jilatan itu mulai naik ke paha dalam, terus sampai ke pangkal paha. Kusentuh lembut celana dalamnya yang berwarna maroon (walaah tidak matching banget sama kaos birunya), kuusap dan gosok pelan bagian bawah lembah indah itu. Terangkat-angkat pinggang Irene diikuti rintih dan desis manjanya. Terasa basah dan lengket vaginanya meski hanya dari luar. Pangkal pahanya kuraba dan kuusap sambil lidahku mulai menjilat dan mencium kain penutup pusatnya itu. Nafas yang tersedak dan gelinjang badan Irene tidak dapat membendungku untuk berhenti memperlakukan kewanitaanya seperti itu.

"Hggh..! Haahhh.. Ssshh..!"
Kupegang celana dalamnya dan pelan kuloloskan ke bawah, kutarik tubuhnya dan lepas sudah penutup terakhir yang ada pada kewanitaan Irene.

"What The..? Ireene..?" Benar-benar tidak dapat disangka deh kelakuan Irene, bagaimana tidak heran campur tertawa kalau kalian semua punya kesempatan melihat sosok kewanitaan Irene. Bayangkan saja, di sebelah kanan agak ke atas tepat sederetan dangan bulu-bulu pubic-nya yang tipis teratur terjaga rapih itu ada tatto yang benar-benar dapat membuat kita tertawa deh. Tatto-nya itu sebuah rambu larangan seperti 'No Smoking', tapi gambar cigarette-nya tuh diganti dengan tulisan 'BOYS.' Hueheheh.. terserah percaya apa tidak? Ini benar-benar surprise sekali buatku.

"Surprise is surprise like I said, right my fella..?"
Aku hanya tersenyum saja melihat gaya si Irene yang goyang dangdut sambil tolak pinggang mengarahkan kemaluannya lebih dalam ke mulutku.

Kubelai bulu-bulu tipis dan halus yang menutupi daerah paling terjaga kepribadiannya itu. Kewanitaan itu keliatan sudah sangat basah dan terasa berdenyut-denyut. Saat kucoba sentuh, tubuh Irene langsung terangkat tertahan. Kusentuh lagi dan kugesekkan jariku pelan melewati belahan kemaluan indah itu. Erangan kecil mengiringi gerak tubuh Irene.

Kubuka lebar-lebar paha Irene, kuberikan bahuku sebagai tumpuan kakinya agar dapat lebih leluasa aku menatap liang kewanitaannya. Kudekatkan kepalaku ke liang senggamanya. Tidak ada bau yang tidak enak sama sekali. Kujulurkan lidahku mengusap pelan dan lembut dari atas pubic hairnya menuju ke bawah. Kumasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang kenikmatannya. Bau kewanitaannya semakin kuat tercium. Vaginanya benar-benar cepat sekali basah.

Tiba-tiba Irene menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan kepalaku naik turun di permukaan liang senggamanya dengan cepat dan agak sedikit kasar (nafsu kali dia yah?). Lalu dia menegang. Dengan jariku, secara terus menerus klitorisnya kusentuh, pelintir, lalu kugosok. Mulutku pun langsung menghisap liang kewanitaannya, sehingga suara yang dikeluarkan kali ini agak kuat diiringi dengan badannya yang terangkat kejang. Basah deh jariku waktu itu, aku belum sadar juga kalau si Irene ini mau 'nge-blow' (istilah orgasme Iyan).

"Iyaaannn..! Ouuggfffhh..! Irene dapet Yan.. Irene dapeeettt... Hgggffhh..!"
Tidak tahu kenapa, aku sangat bernafsu ingin merasakan lendir kewanitaan Irene.
"Hmm sedap juga.." kuhisap vaginanya.
Irene hanya merintih manja sambil meliukkan tubuhnya. Aku tidak dapat berpikir, cepat sekali cewek ini jadi basah seperti ini. Irene malah makin merapatkan kepalaku ke arah vagina basahnya yang lagi berdenyut dan berkontraksi hebat sekali.

Sambil terus memberikan kecupan demi kecupan, hisapan demi hisapan yang lembut, aku tidak mau moment yang dia dapat hilang cepat begitu saja. Bibir kemaluannya kujilat, kujulurkan lidah dan menusuk ke dalam lubangnya, mengusap habis labia minoranya. Mulutku basah oleh lendir kenikmatan dari dalam liang kewanitaannya. Aku berhenti, dan dengan kain roknya, kuusap mulutku yang basah karena cairan kewanitaannya (hihi... rasain kamu biar impas, nyuci.. nyuci juga deh kamu Ren).

Beberapa saat dia kembali menekan kepalaku di antara pangkal pahanya yang tegang disertai sedikit pinggulnya yang terangkat. Kemudian terasa mengendur pegangan tangannya di kepalaku. Diangkatnya wajahku, walalah... senyuman.., dia melas sekali. Kewanitaan nikmat itu kubelai, kucium labianya sambil menyibakkan lebih lebar lagi dan klitorisnya, kukulum dengan lidahku, kugigit-gigit kecil dengan lembut. Lidahku masuk lagi ke dalam liang nikmatnya yang basah itu. Irene tersentak lemah saat lidahku masuk ke dalam liang nikmatnya itu.
"Yaaann.. udah Yaan, Irene nggak kuat lagii Yaaan..!" desahnya.
Aku terus mencium kemaluannya dengan lembut. Terangkat punggungnya meski dengan lemah menahan kenikmatan. Dia mendesis pelan sambil menggeliat manja. Hal ini malah membuat Irene semakin mengerang. Aku mulai mempercepat jilatanku, klitorisnya kuhisap, kujilat semauku. Kurasa ada cairan yang keluar dari kemaluannya lagi. Karena ingin memuaskan Irene yang mulai panas lagi, lidahku kembali menuju kewanitaannya. Kuhisap seluruh cairan tersebut dan menelannya.

Kusibakkan vaginanya yang telah basah itu. Kujulurkan lidahku sambil memilin clitorisnya. Irene hanya mendesah. Liang kewanitaan Irene semakin memerah. Aku jadi semakin terangsang ketika kembali merasakan cairan berwarna putih keluar lagi dari lubang vaginanya.
"Irene is back..!" pikirku.
Dengan mata sayu terpejam, mulut setengah menganga, tangan mengangkat rok hitamnya dan satunya memegangi kepalaku, sambil paha terkangkang lebar di bahuku memberikan kemaluannya yang terkuak bebas untukku.

"Yaaan..?" Irene merunduk langsung menyambar bibirku.
Walalah.. tidak romantis banget, kalian dapat bayangkan tidak, melakukan French Kiss sambil jongkok (huahahaha). Tanganku dipegang lembut oleh Irene dan, "Huuaaa..!" mulai kapan Irene jadi telanjang dada.

Kuangkat tubuh Irene berdiri sejajar denganku. Kulumat lidah dan bibirnya. Ciuman kali ini terasa lain, lebih panas dari yang kami lakukan sebelumnya, karena tanganku mulai mengusap lembut payudara indah, mulus, besar dan mantap cengkramannya secara intens dan lembut dari bawah ke atas menuju putingnya yang tegak menantang kemerahan itu yang berakhir dalam pilinan ibu jari dan jari telunjukku. Desah nafas yang sama-sama lagi kedodoran mulai saling bersahutan. Mulai kucium turun mengusap dagu ke leher. Kukecup mesra dada atasnya sambil meninggalkan noda merah di sekitar dada bagian atasnya.

"Sluuurrppp..!" kutelusuri puting indah sebelah kiri menantang milik Irene.
"Hhhmmm..," rintih Irene yang manja mulai ada saat ku-explore putingnya sambil menjambak rambutku agak kasar.
Aku berusaha menelan puting Irene, tapi anehnya puting itu sepertinya lemah, tapi kok tidak bisa lepas yak? (Huehehe), nah habis gemes banget sama lancip putingnya nih. Kuhisap mulai dari hisapan lemah dan condong agak kencang juga. Mulut yang sexy sekali itu hanya megap-megap saja tuh. Cium lagi deh bibir Irene yang lagi nganggur, dan ini membuat dia kaget juga atas serangan dadakanku ini. Dan belum sempat dia meresapi ciumanku langsung kuganti lehernya sebagai sasaran jilatanku, tidak lama juga langsung kuhisap kembali payudaranya terutama puting sebelah kanannya yang tadi sempat kucuekin.

"Gila kamu... gila kamu Yaaann..!" Irene mengejekku gara-gara serangan beruntunku yang tidak dapat dia duga kemana arahnya.

Setelah puas dengan puting kanannya yang semakin merah dan basah akibat Tumis (jilaT, kulUM, ISep), aku turun menjilati perut mulus Irene dan berhenti untuk menggelitik pusar Irene yang membuat dia semakin tidak dapat mengontrol liukan perutnya. Huaaa... nih anak sempat-sempatnya melakukan striptease. Tanganku menggapai-gapai buah dadanya dengan lincah, kuremas dan kupilin putingnya. Irene membelai rambutku dan dipegangnya erat pundakku. Menjilat, mengigigit-gigit kecil, menghisap serta memutar-mutarkan lidah dan berusaha memasukkan ke liang pusar Irene (hihi aneh juga nih cewek, sensitive area kok di pusar).

Sambil agak miring berdiri bersandarkan bak mandi toilet, mulai kembali kutelusuri silhoutte tubuhnya menuju ke daerah kewanitaannya lagi.
"Hai kangen nggak sama Abang..?" kubalas candaan Irene di kemaluannya, Irene pun hanya tersenyum kecut.

Dengan berpegangan di bak mandi, tubuhnya bergemetar dan tersentak-sentak setiap lidahku kembali merangsang bagian paling peka di vaginanya. Dengan kasar vaginanya disorongkan ke depan untuk memaksa lidahku masuk lebih dalam ke dalam liangnya. Mendadak dia melintir, bergeliat-geliat oleh jilatanku di klitorisnya yang begitu menggelitik seluruh sendi urat kenikmatan yang begitu membuatnya penasaran. Sekitar 3 menit, tiba-tiba cewek ini mulai bergerak gelisah. Pahanya mengangkang semakin lebar dan dinaikkan ke bahuku lagi sebagai tumpuannya. Tanganku cepat menangkap buah dadanya, lalu memeras lebih keras serta menghisap klitorisnya dengan gerakan cepat.

Tiba-tiba saja, ada suara langkah kaki menyelonong masuk ke dalam ruang toilet. Refleks Irene langsung membetot kepalaku jauh dari kemaluannya. Cepat kukulum lagi liang vaginanya sambil tanganku kembali meremas agak kasar payudaranya. Kulihat ke atas kepala Irene geleng ke kanan ke kiri sambil kedua tangannya berusaha menolak kepalaku.

Kedengaran tuh manusia masuk ke kamar toilet sebelah, dan sepertinya kedengaran juga suara kain yang dibuka, dan tidak seberapa lama, "Sialaaann..!" umpatku dalam hati.
"Sssrrr... sshh..! {{{STEREO}}}"
"Nih orang pipis nggak tanggung-tanggung, kaya bendungan ambrol.. kenceng banget walalahh mulai kemaren ga pipis apa? Tuh suara ampe segitunya." umpatku lagi.
Sialnya, bersamaan dengan itu tubuh Irene mengejang.
"Aaaggghhh..!"
"Waduh nih anak pas 'nge-blow'.." batinku.

Segera aku cepat berpikir bagaimana caranya manusia di sebelah tidak bikin geger kalau tahu ada orang yang lagi 'ngejen' juga di sebelahnya. Cepat kuhisap keras kewanitaan Irene, kuhirup semua cairan kewanitaannya yang lagi berdenyut ambrol juga. Setelah kuhirup dan hisap sejenak kutahan hisapanku, dan kusembur dan tiup kencang-kencang.

"Brrrttt..! Ddrrrgghhh..! {{{STEREO}}}" begitu sepertinya suara akibat semburan hisapanku pada kemaluan Irene.
Berulangkali kuulang style itu pada vaginanya. Hehehe... kedengaran kompak sekali dengan rintihan dan erangan Irene yang dilanda badai kenikmatan untuk kesekian kalinya.
"Hggghhh... Pppff.. Puuuff.. Aagghh..!" desahnya.
"Brrrttt..! Ddrrrgghhh.. Jjjrrggg..!" bunyi dari hasil rekayasaku di kemaluan Irene.
Nada kontras itu terdengar bersahutan selama puluhan hitungan dalam detik.

Pembaca bisa tahu tidak maksudku membuat moment seperti itu tadi? Yah benar, kubuat sedemikian mungkin agar manusia di sebelah mengira kalau kamar di sebelahnya lagi ada orang buang hajat. Lima menit kemudian, setelah saling berpelukan dengan Irene, akhirnya pergi juga orang itu dari toilet sebelah.

Kupeluk Irene yang sedikit gontai, kukecup lembut keningnya.
"Welcome to my sensation world." kataku.
Irene hanya tersenyum kecil sambil menyandarkan kepalanya ke dadaku dan tangannya memegan si 'bandot' yang masih saja menuntut apa yang belum dia dapat.
"Sabar yah kecil, ntar jatahnya bakalan dapet deh.." katanya lucu.

Dengan tangan kirinya Irene mendekap leherku erat sekali sambil mengecup dadaku manja, kadang juga dia meraih rambutku.
"Nakaaall..! Tapi Irene suka ama kamu.. bikin ati tegang aja kamu Yan sampe dapet double (multiple orgasm) barusan."
"Irene jadi suka kamu Yaan..." dikecup lembut bibirku.
"Kamu ntar yah jatahnya, chie-chie capek banget nih.." sempat-sempatnya si 'kecil' dibecandain lagi.
Kubuat respon otot kemaluan si 'kecil' mengangguk-angguk untuk jawab candaan dan pegangan Irene, "Ok.. Ok..!" teriak si 'kecil' sama Boss-nya.

Habis memakai baju, sempat kami kissing sebentar sambil bilang sayang. Irene keluar dari kamar dan toilet.. wee.. kaya security dia kasih kode ke aku kalau keadaan aman buat keluar dari 'losmen neraka' (baca : toilet cewek) ini.

"Yan.. aku entar sore ada kuliah tambahan, tungguin yah..!"
"Iyaaa tuan putriiii..," sambil kupeluk dan kecup kening Irene.
"Hhhuuu..! {{{STEREO}}}" walalah.. ada teman yang meledek waktu aku peluk dan cium mesra ke Irene.
Soalnya dekat dari toilet itu ada markas anak-anak HIMAPALA. Weee sialan, untung saja mereka tidak sempat merekam kejadian di toilet tadi pakai handycam kebangaan mereka (gimana teman-teman HIMAPALA ST*** yang punya Handycam? Tahu siapa aku..? Hehehe..).

Menunggu Irene lumayan lama juga, apalagi sudah jam setengah lima. Akhirnya pintu kelasnya terbuka juga. Walalah.. dasar dosen. Pergi duluan meninggalkan mahasiswanya. Anehnya, waktu semua pada keluar, aku tidak melihat hidung Irene keluar dari kelas, apalagi 'toket' indahnya.

"Yaan..! Nama kamu Iyan kan? Irene sakit tuh, dia masih di dalem kelas, pusing katanya. Emang abis kamu apain sih tadi? Kamu tubrukin lagi kaya kemaren?" ada teman Irene yang ngomong sambil gebukin aku pakai buku tebelnya dia.
"Weee.. enak aja.. lagian tuh buku kalo udah nggak kepake, jual kiloan aja daripada buat gebukin orang.."
"Emang bener Irene sakit yah?" sambungku.
"Iya tuh.. eh yah kamu udah kenalan sama dia yah.. waah cepet banget kamu.. Irene tadi pesen ama aku kalo dia minta kamu nemuin dia sekarang. Gila kamu Yan cepet banget. Eh yah namaku Lisbeth.."

"Cepet apaan? Apa yang cepet banget?" heran juga aku dengan omongannya, tapi nih cewek boleh juga, lebih tinggi dari Irene, langsing, putih, mulus juga, wajahnya manis sekali, rambut sedikit ikal, hmmm.. payudara 34 (tidak tahu cup-nya).
"Lis, kamu mau juga nggak?"
"Mau apaan sih?" Lisbeth mencoba mengejar maksud pertanyaanku.
"Ditubruk ama Iyan.."
"Sapiii.. dasar tukang tubruk..!" sambil pukulin buku tebelnya lebih kencang ke pantatku.
"Heee.. pukulnya kok belakang sih?"
"Emang kamu mau aku pukul yang depan.. hihi..?" gila nih cewek agak bikin aku terangsang juga.
"Udah ah.. aku ke Irene dulu deh.. kamu pulang sana udah malem tuh, diperkosa orang tahu rasa entar..!" jawabku sambil pergi masuk kelas.
"Ooo arek nggak genah (anak tidak waras: dalam basa Jawa), Nggapleki (salah satu dirty words di kotaku)..!" maki Lisbeth.

Di dalam kelas, Irene kelihatan pucat sekali wajahnya.
"Kenapa..?" tanyaku sambil mengelus rambut Irene.
"Ngak pa-pa, cape aja. Kamu sih bikin aku kaya gini.. nggak bisa jalan jadinya.."
"Pulang yuk..? Kalo capek kugendong yah sampe parkiran.."
"Hihi.. kamu gilanya bener-bener deh. Malu dong Yan..?"
"Nggak pa-pa, biar semua tahu kalo kamu tuh punyaku.."
"Emang kalo kamu gendong aku mereka semua bisa tahu kalo aku sayang sama kamu..?" tanya Irene.
"Iya kali. Kita ke HIMAPALA yah..? Kamu istirahat bentaran di sana, trus entar pulang.."
"Maluuu Yaan.. Irene malu.. Aaahh Iyaaann..!" langsung kuangkat badannya.
"Ssstt.., nggak usah teriak dong.. deket kuping lagi.." sambil ku bawa badan Irene.
"Yaan..?"
"Hmm...? Hmmppfgfgf..." astaga, nih anak walau digendong bisa sambil ciuman juga.

Aku dudukin Irene ke meja dosen (sorry pak dosen..) sambil tetep ngelakuin French Kiss. Lidah dia udah langsung nyelonong masuk ke mulutku. Hmmm.. feel so good, Irene cium aku lembut banget ga ada napsu cuman sayang aja dari dia.Braaaaaakk!!!{{{{{STEREO}}}}"Ya ampuuuuuuuunn!!!.. kalian.. kkhh.. kkkaalliiaan???"Huaaaaa pintu kelas kebukaaa.. aku ama Irene jelalatan deh kaget banget tapi weee.. pelukan Irene tetep nangkring di leher. Abiiis.. dia tahu sapa yang di pintu, dia malah nyandarin kepalanya ke dadaku."Lisbeeth!!.. ngapain masuukk euuyy??" sewot juga liatin si Lisbeth cengar-cengir di pintu."Udah diem kamu! stooop doong ketawanya!" sambil aku gendong Irene ke markas anak HIMAPALA (lumayan deket kok markasnya cuman di belakang kelas aja).Habis melihat Irene yang langsung ketiduran dalam pelukanku di lantai markas anak HIMA, aku merebahkan tubuhnya, kupakai tasku buat bantalan kepalanya. Setelah pesan titip jagain Irene ke anak yang piket, aku pamit mau beli soft drink. Untung saja yang piket kebetulan cewek.

"Ida aku titip cewekku yah.. aku ada di kantin, laper nih.."
"Enak aja emang di sini tempat parkir motor apa heh..?"
"Iya aku tahu kok, sorrie deh.. dia sakit tuh tidurin sejam aja, ntar aku bangunin kalo pulang.. kasian kan..? Eh yah kalo ada cowok mo masuk larang aja yah.. pleaseee?""Iya.. iya udah sana!" usir Ida sambil terusin baca comicnya.Aku lari balik ke kelas untuk ngambil tas dan buku Irene yang ketinggalan.
"Wee.. kamu masih di sini..? Belom pulang juga..?"
"Males Yan.." jawab Lisbeth, agak kaget juga kumasuk lagi ke kelas.
"Nih.. mo ambil tas Irene. Apaan sih liat-liat..?"
"Nggak kok.. cuman.. eh.. nggak jadi deh Yan.." what's wrong with her? si Lisbeth neh napa juga jadi gagu kaya gini?"Yah udah deh Lis.. aku nungguin Irene di HIMA yah.. yuk""Yan..." duuhh neh anak ngerepotin aja bikin brenti pas mo keluar pintu.Lisbeth bangun dari meja dosen yang dia duduki.
"Ada apa sih..?"
"Aku.. aakkku.. udah tahu semua Yan.."
"Tahu apaan..?"
"Itu.. Yan.."
"Itu-itu apaan sih..?" duh bikin bingung juga nih cewek.
"Yan, aku ama Irene udah temenan mulai SMA. Kita berdua selalu cerita yang kami rasain. Irene tadi di kelas nggak konsentrasi Yan.. dia cerita ke aku kalo.. kalo.. hhmmm.. kalo.. kalo dia kebayang terus ama.. ama... duuhh jadi nggak enak nih ngomongnya ke kamu.."

"Apaan sih?" sedikit kubentak Lisbeth yang tidak jelas maunya.
"Power Rangers.. iya Power Rangers kamu tuh Yan yang dibayangin ama Irene terus.. dia bilang kalo nggak bisa ngelupain Power Rangers kamu.."
"JGEEERRR..! {{{STEREO}}}" seperti disambar truck container muatan sapi mendengar si Lisbeth bicara barusan.
"Hah..? Jadiii.. jadi Irene cerita ke kamu..?"
"Kan udah dibilangin tadi, kalo kita tuh temenan dekat banget Yan.. Kita bedua nggak ada rahasia-rahasiaan lagi Yan. Iya, yang di toilet tadi dia juga cerita ke aku waktu ada kelas tadi," jelasnya.
"Waduuh.. si sapi (Lisbeth) nih ngejelasin sampe sedetail-detailnya." batinku.

"Yaann.. terus terang tadi waktu Irene cerita sempet bikin aku keringetan juga Yan.."
"Yaann.. Lis.. Lisbeth juga pengen dapet dari kamu Yaann..!" Lisbeth lari mendekatiku, dan langsung memelukku.
"Lisbeth.. Lisbeth juga suka sama Iyan.. Aku juga pengen dapetin dari kamu.. Lisbeth juga pengen... Power Rangers kamu..!"
"Hgghh..! Damn..!" habis ngomong Lisbeth langsung menangkap si 'kecil'.
"Lis.... hhpppghgghg..!" tidak tahu kenapa, aku jadi merespon bibirnya yang mulai melumat mulutku.

Kuladeni mulai bibir kami bersentuhan sampai akhirnya si Lisbeth melumat lidahku dengan lidahnya di dalam mulutku. Tidak hanya berhenti di situ saja, tangannya dengan aktif malah mengusap lembut si 'kecil' yang langsung menggeliat berubah jadi monster 'bandot'. Dorongan Lisbeth yang semakin agresif membuatku sampai menyentuh ke white board, didorongnya aku sambil mulai menurunkan zipper-ku ke bawah, dan mengeluarkan si 'bandot' dari celana dalamku.

Tidak tahu kenapa, kelakuannya yang agresif ini membuatku menjadi cepat terangsang, dan gilanya ciumannya kini turun ke leherku, lidahnya menyapu semua bagian leher samping dan depanku. Tangan kirinya lembut mengusap dadaku, dan tidak berapa lama bajuku sudah tidak terkait kancing lagi. Dengan cepat jilatan lidahnya beralih membasahi putingku.

"Gggffgh..! Kamu sangar Lis.. terusin Lis.. Iyan punya kamu.. ambil semua Lis..!" desahku lucu juga yah..?
"Weee.. apaan nih..?" Lisbeth memegang tanganku langsung ditujukan ke dalam roknya.
"Vaginanya... walalahh.."
"CD kamu mana..?"
Gila, aku langsung dapat merasakan vaginanya di tanganku. Kuusap pelan klitorisnya, desahannya membuatku sangat nafsu.
"Iya.. iya di situ Yan.. kencengin lagi Yan.. aaah..! CD-ku buat kamu Yan.. aaagghh.. vaginaku buat kamu.. aahhh.. perkosa aku Yan.. hhhggg..!" desahnya tidak karuan.
"Duh, nih anak ribut banget..!" batinku.

Kusambar bibir Lisbeth, kukulum sambil kuputar badan kami berdua. Kurebahkan dia di meja dosen (benar-benar dosa nih sama dosen), kusingkap roknya, dan ternyata...
"Kalian nih bener-bener kompakan yah..? Tatto kalian berdua bikin aku nafsu.."
Kelakuannya kompak sekali, sampai ke tatto-tatto-nya. Mereka berdua nih memang benar-benar deh.

Lidahku langsung menyapu ke dalam kewanitaan Lisbeth sambil kusibakkan melebar labianya (dosa deh buat semua cowok yang hobbynya bikin kendor labia cewek, merusak vagina saja.. bikin tambah 'melar'. Hehehe). Kujilati vaginanya habis-habisan, ku-explore dengan menghisap klitotisnya.

"Yaaann.. aku dapet.. Lis dapet Yaaann, terus iseepp kenceng lagi Yan..!"
"Aaahh.. hhmmppp.. hhhgg.." vaginanya bergetar, berdenyut, dan keluar juga cairan kenikmatanya.
Jebol pertahanan tubuh Lisbeth oleh orgasme pertamanya. Kuhisap habis semua lendir yang keluar dari vaginanya yang terus berdenyut, dan juga kelakuannya lebih over daripada Irene cewekku.

Tangan dia sampai memukul-mukul meja.
"Waduh nih kalo ada orang di luar curiga gimana juga.."? batinku.
Waktu kulihat ke atas, duhh.. ternyata itu baju sudah kesingkap kelihatan payudara yang sudah menjulang tinggi putingnya. Kutangkap tangannya, kuletakkan ke rambutku, dan langsung kuciumi payudara dan puting merah jambunya. Tangan kiriku merambat naik ke arah payudaranya, kutambah kenikmatan Lisbeth dengan remasan dan jilatanku secara merata di payudaranya.

Aku juga tidak hanya membiarkan vaginanya menganggur. Kugesekkan kejantananku mengikuti belahan vaginanya yang masih berdenyut-denyut seperti menghisap penisku biar cepat memasukkan vaginanya. Nafas Lisbeth tidak karuan lagi waktu kumulai memasukkan pelan kepala penisku ke dalam kewanitaannya.

"Iyan masukin yah..?" sambil mulai kuturunkan pinggulnya mengikuti meja dosen yang innocent banget.
"Deeper please Yaan.. aku udah pengen Yan.. ghhh..!"
Waktu mulai kumasukkan kepala 'bandot'-ku lebih dalam lagi, tiba-tiba saja sebuah tangan kecil halus menahan si 'bandot' masuk lebih dalam lagi, dan saat kubangun dari kuluman puting dan payudara Lisbeth, "Ireneee..!" terkejut sekali aku melihat mata Irene yang persis preman terminal yang mau 'palakin' duit anak-anak bau kencur (hehe.. abis itu mata sangar banget).
"Ini sekarang udah jadi punya Irene.. nggak ada yang boleh ngerasain sebelom Irene.. itu juga termasuk kamu Chie (Irene panggil Lisbeth.. Chie-chie)..!"
Aku bingung juga, nih anak mau 'ngelabrak' apa mau ikutan sih, habis omongannya meragukan sekali.

"Iyan ini yang buat kamu tinggalin aku sendiri di HIMA yah..? Udah dapet yang lain..?"
"PLAAkkk..! {{{STEREO}}}" Waduh nih pipi jadi sasaran tamparan Xena 'The Princess Warrior'.
"Chie tega kamu Chie..!"
Pikiranku waktu itu harus berputar cepat untuk mengatasi masalah ini. Langsung kudorong Irene duduk di kursi dosen, kusingkapkan rok hitamnya.

"Hah..? Apa-apaan nih..?" batinku heran juga.
Vagina Irene juga sudah tidak ada celana dalamnya, dan juga sudah basah sekali.
"Irene..?" sempat heran juga ketika kutanya soal vaginanya.
"Itu punya kamu sayang.. udah aku siapin, dari tadi aku udah di dalem kelas ngeliat kalian bedua. Hihihi, aku ama Chie udah janjian kerjain kamu, kita bedua dari dulu udah punya commit sayaaang.. satu kudu buat bedua.."
Heboh juga aku kalau tahu mereka berdua seperti ini. Aneh sekali perjanjian seperti itu.

"Dari tadi aku udah masturbasi di belakang kamu Yan, Chie aja udah tahu aku, kamu aja yang keastikkan dapet barang baru sampe cuekkin keadaan..." kata Irene sambil tersenyum mengejek.
Mereka berdua hanya tersenyum saja melihatku yang lagi tertegun tidak tahu mau marah, senang, excited atau apalah namanya melihat dua cewek yang sama sifatnya, sama tatto-nya (hehehe), dan mereka juga sama-sama jadi fans-nya 'Power Rangers'-ku.

"Iyan sayang, kamu ambil aja yang jadi punya kamu sayang.." kata Irene sambil meraih tanganku dan mengusap-usap vaginanya yang sudah becek sekali.
Tangannya meraih penisku dan disiapkannya untuk penetrasi di kewanitaannya.

Kuraih tubuh Irene dalam gendonganku, kusandarkan dia di white board. Tangan Irene memeluk leherku sambil aktif mengulum mulut dan lidahku di dalam. Setelah kusingkapkan semua kaos ketat biru lepas dari tubuhnya, sambil menyangga pantat Irene dengan tangan kiriku mulai kuurut pelan bentuk 'cute' penisku. Kuselipkan di antara pangkal paha Irene, setelah tepat, mulai kudorong pelan masuk ke dalam vaginanya yang tidak tahu kenapa terus-terusan berdenyut-denyut gitu yah?

"Honneeeyyy..! Aaahhh..!" desahnya.
"Is this the real of my girl..?" batinku.
Walalahh.. ternyata dia juga tidak kalah agresif dengan temannya Lisbeth. Kukulum bibir dia, kuhisap agak brutal juga sih, nah habis teriakannya juga bahaya sekali kalau tidak diredam. Dia mengerang meregang saat secara pelan meresapi proses penetrasi yang sengaja kubuat lambat. Setelah kepala 'bandot'-ku masuk, kugesekkan pelan keluar masuk. Kumasukkan sedikit lagi, kugesekkan lagi. Sengaja memang kubuat dia makin penasaran dengan memperlambat seluruh proses penetrasiku.

"Feel the art, feel the beauty, feel it slowly my dear..."
"Iyaann, pleasee.. jangan siksa akuu.. aagh.. jahaaatt kamu.. masukkin semua sayang.. hhgg..!" katanya jengkel sambil tangannya menggapai pantatku memaksa untuk lebih dalam lagi penisku menjelajah vaginanya.

"Chiiiee.. bantuiiinn agghh..!"
Weheheh.. kalian pernah tahu tidak, penetrasi minta bantuan sama temannya (si Irene nih ada-ada saja deh).
Dan, "Jjjlleebb..!"
"Hhhgghh.. aaahhh.. Yaaan..!"
"Setaaan..!" si Lisbeth benar-benar bantuin temannya, dia langsung dorong pantatku menghantam keras pangkal paha Irene.

"Aku dapet.. aku.. aaghhh.. Iyaaann..!"
Meskipun aku lagi terdiam meresapi 'the beauty of penetration' yang dirusak oleh Lisbeth, tapi kok bisa-bisanya si Irene dapat orgasm pertamanya yah. Bergerak memutar kumainkan vagina Irene dengan penisku di dalam sambil kutambah sensasi orgasmnya dengan menjilat, menghisap puting dan seluruh dadanya diikuti keringat yang membuat tubuhnya licin merangsang.
"I think this is the coolest sillhoute of Girl's breast." batinku.

"Kamu bikin aku kelabakan terus mulai pertama kenal..?" sambil Irene cium hidungku dan sedikit mengatur nafasnya.
"Chie kita kerjain nyoo..!" kedip mata Irene dibalas mata sapi si Lisbeth, sepertinya aku akan dikerjai mereka nih.
"Ready to go honey..?"
"Mo kemana..?" tanya Irene.
"Mo ini neh..," langsung cepat kutekan dalam-dalam kejantananku ke vagina Irene.
"Yaaann.. aahhh.. ngiluuu Yaann.. stop Yan.. stoop..!"
"Katanya mo kerjain Iyan? Mana? Kok gantian dikerjain..?" Jelek juga yah.., aku balas dendam seperti ini.
"Iya hhgg.. abis kamu cepet banget nggak permisi dulu ama yang punya... Aaaagghhh..! Iyaaann..!" selesai ngomong seperti iyu kuhujamkan cepat lagi penisku menerobos vagina Irene.
"Iyaann.. aah.. sshh.. hhmm.. Iya.. iyaa di situ Yan.. yang kenceng lagi.. nakal.. nakal kamu Yan..!"

Astaga, aku tidak menyangka si Lisbeth, dia turunkan celanaku sampai habis. Dia jongkok di bawah pantat Irene sambil menghisap gantian buah testisku dan vagina Irene bergantian. Sempet senyum juga sih waktu Lis bilang, "Aaduuhh!!.. aduuhh!!"
Salah sendiri, siapa suruh di bawah kaya gitu. Kepala dia sering terbentur pangkal paha Irene yang bergerak liar merespon gerak intens-ku merojoh dari mulai pelan setengah masuk sampai kuamblaskan semua penisku dengan sekuat tenaga. Huaaa..! mulutku tidak dapat diam mengerjakan dada berkeringat Irene sambil sesekali kubuat tanda merah di sekitar puting lancipnya.

"Honeeyy.. honeeyy.. honeeyy..!" bayangkan saja seirama keluar masuknya si 'bandot', Irene teriak dengan suara cemprengnya seperti itu, dan di bawah cuek saja Lis dengan kerjaan barunya.
Kontras sekali nih suara. Suara cempreng Irene, bunyi kecipak kemaluanku di vagina Irene, dan lucunya ditambah dengan suara aduh-aduh dan kecapan lidah si Lis di testisku.

Sekitar 5 menit aku terus menggempur semua isi vagina Irene dengan kemaluanku, dan sekitar itu pula Lisbeth tidak bosan-bosannya mengulum, menjilat sambil sesekali memijat buah testisku. Hmm.. capek juga ternyata dengan model berdiri seperti ini. Kurengkuh tubuh Irene tanpa melepas kemaluan kami berdua, lalu kurebahkan kembali tubuh mulus berkeringat itu di meja dosen yang langsung protes dengan jeritnya. "KRRRIIEETTT..! {{{STEREO}}}"

Kulumat kembali bibir Irene, kukecup juga leher jenjang tak berdosanya, dan langsung turun merambat ke arah payudara seiring keluar masuknya penisku.
"Cuu.. rrrang..!" teriak Lisbeth.
Huahaha dengan pindah posisi seperti ini ternyata dia tidak dapat memuaskan nafsunya ke testisku. Nah memang ngilu sekali kalau testis dipijat terus seperti itu kan?

Habis ngomong seperti itu, segera si Lis merapatkan tubuhnya ke punggungku yang agak sedikit condong ke bawah menjilati puting basah si Irene. Tidak kurang akal Lis menjilati leher, sampai punggungku. Lumayan susah juga dia melakukan itu gara-gara tubuh yang terus tidak berhenti menggoyang tubuh mulus di bawah.

Gila aku merasa seluruh kemaluanku dipijat sangat kuat oleh otot vagina Irene. Aku mempercepat tempo goyangan pinggulku, karena aku merasa tidak lama lagi Irene akan mendapatkan orgasmenya sekali lagi, dan aku akan mendapatkan menu yang lainnya lagi di atas punggungku hehe...

Tidak berapa lama kemudian, nafas Irene sepertinya sudah mulai ngos-ngosan. Dia peluk aku erat sekali. Aku semakin bersemangat menaik-turunkan si 'bandot' dengan cepat. Tanganku meremas payudara kanannya dan puting kirinya kuhisap dengan kuat. Dia mulai ribut merintih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sesekali dia juga mencium bibirku. Kakinya sudah melingkari pinggangku, si Lis sampai hampir ketendang.

"Ohhh.. Yan terus.. iya.. ohhh.. lebih dalam.. cepetan lage Yaann.. aarrgghh...!" desah Irene.
Makin lama makin kupercepat gerakanku, membuat gerakan Irene semakin liar menghajar meja dosen kucel itu. Akhirnya kurasakan dia mulai mengejang, kedua kakinya tambah kencang menjepit pinggangku, tangannya memelukku erat-erat, bahkan aku merasa kuku Irene mulai menggores punggungku, waduuhh dapat tatto gratis nih aku.

"Yan.. sedikit lagi.. akhhh.. aku dapet Yaann.. kencengan lagi.. tahan dikit lagi.. Oooohh Iyaaann..." akhirnya cairan hangat kurasakan membasahi batang kemaluanku disertai teriakkan panjang Irene.
Tubuh Irene kejang-kejang seperti orang kesetanan, matanya tertutup rapat dan mulutnya terlihat setengah terbuka hanya mengeluarkan desisan panjang. Terasa olehku lelehan bahkan pancaran lendir yang keluar dari liang kemaluan Irene menerobos melewati celah-celah sempit di antara dekapan dinding dan bibir kemaluannya yang menjepit batanganku, terus menetes dan mengalir sampai jauh. Aku terus menggenjot vagina becek itu dengan mulut selalu menghisap puting Irene.

"Ampuunn Yaann.. ampuunn.. ngilu.. ngilu, udaahh oohh..!" desahnya.
"Chie tolong chie.. chieee..!" belum habis rintihan Irene, sebuah tangan kecil menjambak rambutku sehingga aku terdongak bangun dari kuluman puting Irene dan juga sebuah bibir lembut dan basah segera mengulum ganas bibirku.
"You're mine now.. It's my turn..!" kata Lisbeth tiba-tiba.
Tubuhku langsung didorong Lisbeth menduduki kursi dosen yang sudah disiapkan di belakangku.

Setelah duduk, "Lis.. bentar Liss... aahhh..!" kataku.
Dipegangnya batangan 'bandot'-ku dan dihempaskan langsung tubuhnya tanpa kenal ampun melahap semua gagahnya kemaluanku.
"Aaahhh.. Yaann gilaa.. nggak bisa masuk semua.. aahh.. penuh banget Yaann... ngeganjeell.. aadduhh sakit banget Yaann, I like your dick, so big. It's mine.. it's mine..!"

Tiba-tiba saja si Lis langsung mengeluarkan 'bandot'-ku dari terkaman vaginanya. Sambil jongkok dia kulum penisku.
"Kamu di atas yah Yan.. sakit kalo aku di atas.."
Lisbeth segera mengambil celanaku, dan merebahkan tubuhnya (enak saja nih anak, celanaku dikotorin terus sama mereka, tadi di toilet, sekarang di lantai buat alas tidur si Lis). Tapi karena nafsu, aku sudah tidak perduli dengan celanaku lagi. Kulumat bibir Lisbeth, sementara senjataku kugesek-gesekkan mengikuti alur labia mayoranya.

Akhirnya, dengan kesabaran yang sudah mulai hilang, tangan Lisbeth meraih penisku, dimainkan kepala bajanya di area klitorisnya sebentar, dan setelah sampai di pintu kemaluannya, langsung kutekan kuat.
Dengan belum siapnya Lisbeth menerima cepatnya penisku masuk ke vagianya, langsung dia menggeram sambil teriak-teriak, "Sialan.. bangsat kamu... aahhh... terus-terus.. iyaa.. aduuhhh.. nakal bangeett sih.. oohhh Yaaannn..!"

Celah Lisbeth berbeda dengan Irene, lebih hangat dan menggigit (tentunya aku tidak akan ngomong ke Irene dong, huehee.. jahat nih vagina bisa kaya gini menghajar penisku). Kutahan pantatku, aku menikmati remasan kemaluannya di batanganku. Perlahan kutekan pantatku, senjataku amblas sedalam-dalamnya. Gigi Lisbeth tertancap di lenganku saat aku mulai menaik-turunkan pantatku dengan gerakan teratur. Remasan dan gigitan liang kewanitaannya di seluruh batanganku terasa sangat nikmat. Kubalikkan tubuhnya ke samping. Senjataku menghujam semakin dalam, kuangkat sebelah kakinya dan kutahan dengan lututku. Batang senjataku amblas sampai menyentuh di mulut rahimnya.

Puas dari samping, tanpa mencabut senjataku, kuangkat pantat Lisbeth. Dengan gerakan elastis, kini aku menghajarnya dari belakang. Tanganku meremas bongkahan pantatnya dengan kuat, sementara senjataku keluar masuk semakin cepat. Erangan dan rintihan yang tidak jelas terdengar lirih. Ketika kurasakan ada yang mau keluar dari kemaluanku, segera kucabut senjataku.
"Pllop..!" terdengar suara saat kucabut si 'bandot', mungkin karena ketatnya lubang kemaluan Lisbeth yang mencengkram penisku.

"Achh, kenapa? Kenapa..? Aku sedikit lagi.." protes Lisbeth.
Dia langsung mendorong tubuhku, kini aku telentang di bawah. Dengan liar Lis meraih penisku dan memasukkannya ke dalam lubang sorganya sambil berjongkok.
"Yeeaaahh..!" kini dengan buasnya Lis menggoyang dan menaik-turunkan pinggulnya.
Sementara aku di bawah sudah tak sanggup menahan nikmat yang aku dapat dari empotan vagina si Lisbeth, apalagi saat pinggulnya sambil naik-turun digoyangkan juga diputar-putar, dan sesekali memijat penisku seperti menahan pipis (nih cewek lebih pengalaman dari Ireneku nih).

Aku bertahan sekuat mungkin.
"Aaahh... Lis..!" penisku di dalam kewanitaan Lisbeth berdenyut-denyut tertahan mengeluarkan muatannya.
"Yaann.. aaahhh.. penis kamu.. penis kamu... aahhh Yaann aku dapeettt..!"
Selesai rintihan Lisbeth, mengalirlah cairan kenikmatannya dan disusul spermaku yang memancarkan air kehidupan, membasahi semua liang yang sempit itu. Ambruk tubuh Lis menimpa dadaku.

Dengan tenaga yang ada, aku masih aktif memutar pantat Lisbeth sambil meremas lemah.
"Iyan sayaaang.. You are the doctor.. aahh.. udah Yaann ampun deh kamu.. geli Yaann aahhh..!"
"Chie-chie..! Chie nggak boleh panggil sayang.. yang boleh panggil sayang cuman aku Chie..!" lemah Irene langsung bangkit dari meja dosen sambil tangan diletakkan di pinggangnya seperti orang mau melabrak, tapi aneh, walaupun seperti mau melabrak tapi sambil tersenyum. Lucu kan tuh gayanya.

Kami saling gantian berciuman, menjilati keringat tubuh, bergiliran dan bersamaan. Dan mereka berdua dengan kompaknya saling giliran menjilati penisku yang meskipun enak banget dihisap dan dijilat sama mereka berdua, tapi tetap saja sudah loyo. Lemas sekali, capek kali tuh 'anak kecil' huehe...

Setelah kami mengenakan pakaian, Lisbeth mengeluarkan setumpuk tissue dari tasnya.
"Lis.. please.. jangan Lis, jangan dibersihin.. biar.. jadi kenangan ruangan ini.. kalo masih ada bekasnya bakalan seru kan yang ada di ruangan ini besok, tul nggak..?" cegahku ke Lisbeth yang mau melap bekas air cinta kami bertiga yang berceceran di meja dosen dan di lantai depan kelas mereka.

"Hihihi... kamu.. nakalnya nggak ketulungan sih," sambil Lisbeth mencium bibirku, tapi segera kutepis wajahnya.
"I belong to her now," sambil kukecup lembut bibir Irene.
"Huuhh..! Nggak ngilerrr weee..!" kata Lis sewot.

Pukul 18.00. Akhirnya kami bertiga menuju pelataran parkir. Astaga, mengantarkan mereka berdua pulang nih, tapi it's O.K, sudah dibayar di muka kok angkosnya huehehe...

Pembaca tahu tidak..? Besoknya kami hanya ketawa-tawa lirih waktu seisi kelas Irene (termasuk dosennya) pada geger gara-gara melihat di depan kelas dan meja dosennya ada cairan wasiat untuk mereka. Hahaha.. buat Pak dosen kalau membaca tulisan saya ini, (kalo masih ingat juga sih),"Dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya.., sorrie banget yah Paakk..!"
Untung kami sudah lulus dari kampus Bapak, kalo tidak, waaa..? Kayanya bapak juga bakalan mau cobain dua cewekku itu. Huahaha...

Cerita Panas Sepenggal Mentari Jingga di Losari  

1 komentar

Seperti sore-sore sebelumnya, duduk terpaku menatap mentari saat-saat akhir menjelang malam. Warna jingga yang menerawang jatuh ke pangkuan senja yang kian menawan. Kesendirianku beberapa hari ini menciptakan lamunan-lamunan indah dan menempati hampir seluruh ruang dalam benakku. Seiring jatuhnya mentari ke kaki langit ufuk barat sana, semakin terasa nuansa lain yang mendesir di pelataran khayalku. Semilir angin mamiri Kota Daeng, Makassar, seakan membangkitkan lagi debaran-debaran yang makin terasa bergejolak di dadaku. Raut wajah datar menatap mentari yang makin tenggelam. Seiring dengan terbayang kembalinya sebuah kejadian yang tentu saja masih segar dalam ingatan. Dua minggu lalu. Andai saja waktu bisa berulang. Tapi tidak! Waktu terus berlalu membawa kejadian demi kejadian.

Lita, seorang yang baru kukenal kira-kira akhir April kemarin di salah satu mall yang ada di kota ini. Perawakan wajah datar, sederhana, dengan body yang lumayan aduhai. Tinggi 169 cm dengan berat 57 kg. Kulit sawo matang, layaknya orang kebanyakan. Potongan rambut pendek, sangat serasi dengan wajah dan postur tubuhnya yang langsing, seksi. Lita, umurnya kira-kira 32 tahun, seorang pegawai PNS, di salah satu instansi yang ada di daerah ini. Dari perkenalan yang tak sengaja itu, akhirnya kemudian berbuntut dengan janji untuk bertemu lagi setelah dia memberikan nomor telepon kantornya untuk kemudian kami pun berpisah.

Bermula dari telepon-teleponan ke kantornya, tentu saja saat jam kantor. Akhirnya suatu hari, kira-kira 5 hari setelah pertemuan itu. Tepatnya hari Sabtu, setahuku, hari Sabtu jam kantor pegawai hanya sampai jam 12:00 siang. Janji bertemu di sebuah restorant fast food di sebuah mall yang terletak tidak jauh dari rumah dinas gubernur. Dan sesuai janji, jam 12:45 WITA, Lita muncul dengan seorang teman wanita. Kalau kutaksir umur teman Lita itu, kira-kira sebaya dengan Lita, 32 tahun, karena garis wajah yang tidak beda jauh dengan Lita. Seorang wanita berperawakan manis, kulit putih, menurut dugaanku dia dari utara, Manado (maaf) mungkin.

Entahlah, karena sepanjang pertemuan dengan Lita dan temannya itu, aku tak pernah menanyakan asal usulnya. Hanya sempat menanyakan namanya, Linda. Lita yang dari pengamatanku selama pertemuan itu, perkiraanku, Lita menggunakan bra berukuran 36 dan Linda menggunakan bra berukuran 34. Tinggi Linda pun sedikit di bawah Lita. Hanya saja rambut Linda yang sepunggung membuat dia kelihatan lebih asyik. Saat itu, kedua teman baruku itu masih menggunakan pakaian kantor, seragam coklat.

Hingga selesai makan di restoran fast food tersebut, aku diajak ke rumah Linda. Sesuai dengan permintaan Linda yang minta tolong untuk membetulkan VCD-nya yang tidak bisa di on. Dengan taxi kami pun berangkat bertiga ke rumah Linda yang ternyata agak jauh dari tempat kami bertemu tadi. Di sebuah perumahan di kawasan utara kota Makassar. Setelah kira-kira setengah jam di taxi, akhirnya sampai ke rumah Linda. Turun dari taxi kuperhatikan rumah tersebut kosong. Dan setelah kutanyakan pada Linda, katanya memang dia tinggal sendiri. Padahal menurut perkiraanku, Linda ini sudah bersuami. Lain halnya dengan Lita yang memang sejak pertemuan pertama kami sudah aku tahu kalau dia sudah berkeluarga dan mempunyai seorang anak perempuan sudah kelas 6 SD.

Mereka mempersilakan aku duduk, sementara Lita dan Linda, katanya, akan mengganti pakaian dulu. Sambil memperlihatkan VCD-nya, Linda masuk kamar disusul Lita. Dari dalam kamar terdengar Linda memintaku untuk melihat-lihat peralatan VCD tersebut yang berada satu tempat dengan televisi. Setelah kuperiksa, ternyata kabel powernya putus. Tidak lama kemudian Lita sudah berdiri di sampingku. Sesaat kulirik dia, Lita menggunakan sebuah daster, umumnya wanita, menggunakan daster saat sudah berada di rumah. Hanya saja yang ada lain dari penglihatanku saat itu, Lita sepertinya tidak menggunakan bra. Meski tak tampak begitu jelas putingnya karena dasternya berwarna gelap, biru tua. Yang lebih membuat aku tak bisa berkonsentrasi lagi adalah ternyata daster tersebut pendek. Hanya setelah paha. Dapat dibayangkan, postur tinggi 169 cm dengan daster pendek setengah paha dan porsi tubuh yang padat, tentu saja hal ini membuat debaran yang lain. Berdesir, rasanya.

Aku terkesima saat itu. Lita ternyata memperhatikan tingkahku yang mulai agak gelisah. Dia mendehem dan kemudian tersenyum saja untuk akhirnya dia duduk di tempatku duduk tadi. Alamak, itu paha makin terlihat jelas. Aku semakin salah tingkah. Setelah selesai menyambung kabel tersebut, aku bertanya ke Lita kenapa tidak pulang ke rumahnya. Dia malah tertawa kecil sambil menjawab bahwa suaminya sedang ada tugas ke daerah dan anaknya di rumah ditemani adiknya.

Kucoba terus menenangkan perasaan yang kian tak karuan. Aku berhasil, sesaat kemudian kunyalakan TV dan VCD, kuraih disk yang ada di dekat TV. Ternyata memang cuma masalah kabel. VCD tersebut sudah berfungi dengan baik. Tapi tanpa sengaja, ternyata VCD tersebut sebuah VCD XXX. Saat aku akan mematikan TV dan VCD tersebut, tanganku ditepis Linda yang dari ruang tengah membawa tiga gelas minuman sirup. Katanya biar saja, sambil meleparkan senyuman ke arah Lita. Paling tidak senyuman itu aku tahu maksudnya. Upss...! Ada apa ini, tanyaku dalam hati sejenak hingga sesaat kemudian aku sudah sadar maksud semua ini. Baiklah sambutku lagi dalam hati, aku akan ladeni permainan ini.

Kuperhatikan Linda dengan menggunakan baju kaos yang sangat pendek hingga pusarnya kelihatan. Dan tampak jelas puting Linda menyembul dari balik kaos putih tersebut. Sengaja, begitu bisikku dalam hati. Linda mengenakan celana pendek yang juga berwarna putih tapi tipis. Hingga tampak samar CD hitam yang dia kenakan. Itu terlihat jelas ketika Linda hendak menyimpan nampan di meja dekat TV. Sementara Lita saat itu duduk dalam posisi yang sangat menantang, kaki di kangkang dengan tangan kirinya sudah mengusap-usap selangkangannya. Gila, jeritku dalam hati, berani sekali perempuan ini. Dan kenapa pula dia tidak malu padaku.

Tanpa kusadari, ternyata sesuatu yang tegang tengah menyembul dari balik celana kain yang kukenakan. Linda memperhatikan hal itu, hingga saat kembali kutatap Linda, dia tersenyum dan kemudian melirik ke arah selangkanganku. Hal itu membuatku salah tingkah, tapi kemudian kuacuhkan. Biar saja, toh mereka juga saat ini lagi terangsang, pikirku. Tapi ternyata, keberanianku hanya sebatas khayalanku saja. Toh sesaat kemudian posisi duduk kuperbaiki, rasanya aku masih malu dengan tonjolan di celanaku. Dengan wajah yang masih merah malu, aku menunduk. Tapi tentu saja aku tetap mencuri pandang bergantian ke kedua wanita itu secara bergantian.

Entahlah, kedengarannya adegan di layar TV itu sedang hot-hotnya, karena terdengar erangan-erangan yang makin membuatku terangsang. Tapi aku kurang begitu memperhatikan adegan di TV itu. Yang ada dalam ruang pikiranku saat itu hanyalah, kedua wanita yang makin hot ini. Yang lebih mengagetkan lagi, sejurus kemudian, Linda telah membuka semua pakaiannya, telanjang bulat. Dan... wow... rambut yang lebat di selangkangannya, sangat menantang hasratku sebagai laki-laki. Tapi sekali lagi, hasrat itu aku harus terbendung dengan ketidakberanianku.

Saat kumenoleh ke arah Lita, hah... dia pun sudah mulai membuka satu persatu pakaian yang dia kenakan. Kedua wanita ini tanpa busana. Hah... rasanya nafasku kian memburu. Entah bagaimana lagi harus kuatur, tapi tetap saja aku terengah-engah. Hingga kucoba menenangkan diri, 1 detik, 2 detik... 9 detik dan kira-kira 10 detik... dan aku pun berhasil... aku berhasil mengatasinya. Tapi ternyata pada saat itu, Lita dan Linda sudah duduk di sebelah kiri dan kananku. Dan yang lebih membuatku tambah gugup adalah ternyata kancing celana dan bajuku sudah terlepas. Sempat terbetik dalam hatiku, ke mana saja aku dan apa pula ini? Pertanyaan yang terlintas dalam benakku, menjadi basi dalam waktu yang kurang dari beberapa detik.

Sementara aku masih dalam ketidakberdayaan gerak, terpaku, Lita telah mengulum batanganku yang ternyata sudah tegang. Dan pada saat yang lain, Linda dengan ganas dan bertubi-tubi menciumi dadaku. Syaraf normalku rasanya tidak berkerja, entahlah, tanganku yang berada dalam bimbingan tangan Linda mengarahkan dan menuntunnya mengusap-usap selangkangannya. Licin. Masih saja aku dalam ketidakberdayaan gerak yang memakuku dalam nuansa birahi.

Kesadaranku bangkit pada saat di mana aku bukan menjadi diriku lagi, seperti sebuah perintah yang menggelegar, saat syarafku menggerakkan birahiku. Aku pun mulai bereaksi, tapi keadaanku dalam posisi yang kalah. Aku telah ditelanjangi mereka. Tapi belum terlambat untuk memberikan perlawanan. Tangan yang tadinya dituntun Linda ke selangkangannya, kini dengan lincah dan lihai mempermainkan daerah terlarangnya yang di kelilingi rambut yang hitam.

Batanganku yang dalam kuluman menghentak-hentak menikmati lincahnya lidah Lita yang mengisap dan menelusuri seluruh permukaan kepala batanganku. Tapi hal ini tidak bertahan lama, sepertinya mereka telah sepakat sebelumnya, posisi mereka berganti. Kini Lita yang mengulum kemaluanku, dan Linda yang memintaku mengelus-elus selangkangannya. Bukan itu saja, bahkan Lita menuntun jari tengah tangan kiriku untuk memasukkannya ke dalam lubang kemaluannya. Wow... basah dan licin yang membuat tidak ada halangan apa-apa hingga jari tengah kiriku kugerakkan keluar dan masuk di lubang kemaluan Lita. Linda yang bagai kesetanan terus menggerakkan kepalanya, maju dan mundur, hingga kenikmatan hisapan sungguh kian terasa. Aku bukan pemain seks yang hebat, juga bukan menjajal kemaluan wanita yang hebat, aku hanya laki-laki kebanyakan. Selama ini kehidupan seksualku biasa saja, boleh dibilang, tanpa pengalaman. Ini yang pertama dan mungkin yang paling liar.

Senja tentu saja telah berubah malam, matahari telah betul-betul hilang dalam dekapan malam. Dan yang terlihat kini hanyalah burung-burung malam yang terbang mencari cintanya di kegelapan malam. Suasana Losari makin marak. Sepanjang cakrawalaku, terlihat lampu-lampu yang terpasang di gerobak para penjual mulai menerangi sekelilingnya. Suasana hatiku seperti tersentak saat sebuah piring dari gerobak sebelah jatuh dan pecah. Suara gemerincing beling ini mengingatkanku kembali pada suasana di mana birahiku kian berani melangkahkan keinginannya sendiri. Linda dan Lita, yah... suasana saat itu makin melarutkan kami dalam adegan seksual yang sangat luar biasa.

Linda yang terbaring di ranjang dengan sprei warna pink dengan posisi kaki di tekuk dan di kangkang melebar. Hingga liang kemaluannya menganga dan siap menerima masuknya batanganku. Sekali lagi tanpa susah payah kumasukkan. Amblas... kubiarkan sejenak merasakan hangatnya kemaluan Linda untuk kemudian mulai kugerakkan perlahan, batanganku tenggelam dan tenggelam dalam liang kemaluan Linda. Untuk sejurus kemudian Lita dengan posisi menungging, liang kemaluannya menganga persis di depan wajahku. Ahh... aroma yang lain. Ahh... inikah aroma kemaluan wanita itu yang selama ini hanya kuketahui dari cerita teman-temanku? Pertanyaan yang terjawab dengan sendirinya.

Aku kurang begitu tahu maksud Lita, tapi karena dia memintaku menjilat, maka tanpa pikir panjang, lidahku pun kujulurkan dan mulai mempermainkan bibir kemaluan (yang menurut cerita temanku, bibir kemaluan itu klitoris namanya). Lita menggeliat-geliat menyeiramakan jilatan-jilatanku dengan goyangan pantatnya. Sementara Linda yang kian terengah-engah merasakan goyangan-goyangan pinggulku, yang merasakan tenggelamnya batanganku dalam kemaluannya kian mengerang. Andai saja Lita sebelum adegan bersetubuh ini tidak mengoleskan sesuatu (minyak) ke batanganku, mungkin sudah sejak dari tadi maniku sudah keluar, dan tentunya aku sudah terkulai. Bagaimana tidak, menurutku kedua wanita ini mempunyai kelainan seks, maniak kah? Entahlah, tidak begitu menjadi pikiran dalam benakku. Hanya kenikmatan-kenikmatan yang silih berganti dari kedua wanita ini yang menjadi konsentrasiku.

Pada saat aku hendak mencapai puncak kenikmatan, orgasme, tiba-tiba suara-suara pecah piring membuyarkan aktifitas seksual kami. Lita yang kujilat selangkangannya menarik tubuhnya ke depan dan beranjak duduk. Linda yang tengah mengerang-erang tiba-tiba diam dan membelalakkan matanya. Aku sendiri setengah melompat ke tepi ranjang dan kemudian berdiri dengan terlebih dahulu melilitkan kain di pinggangku.

Sial, setelah aku cermati sumber suara itu, ternyata dari belakang. Dari dapur, seekor kucing yang sedang asyik menyantap sisa makanan (mungkin makanan bekas pagi tadi). Dan setelah aku sampaikan pada kedua wanita itu kalau itu hanya seekor kucing yang lagi membongkar dapur, spontan kami tertawa. Saling berpandangan lucu.

Lamunanku tersentak derai tawa 4 orang cewek yang sedang cekikikan dengan guyonan mereka. Nafas kutarik dalam-dalam dan perlahan kuhembuskan keluar. Matahari ternyata sudah tenggelam. Hanya bias rona jingganya yang menyisakan rasa sejuk dan tentram. Belum terkikis ingatan pada kejadian adegan demi adegan hangat yang terjadi. Hmm... sebentar lagi sore akan berakhir berganti malam.

Sebias senyuman di sudut bibirku. Lucu memang. Tapi juga kaget. Dasar kucing. Hah.. Lita, Linda. Angin apa yang membawa kita bertemu. Dan entah kenapa aku ikut dalam birahi berani kalian. Bunyi jilatan pada kemaluan Lita membuat Linda yang terbaring bangkit bangun dan memperhatikanku yang sedang melakukan itu. Seringai Linda yang penuh nafsu seperti berbisik, dia pun ingin merasakan hal yang sama. Dengan sedikit isyarat, Linda membaringkan tubuhnya di sisi Lita yang sedang menggeliat menikmati jilatanku pada bibir kemaluannya. Kaki Linda terbuka lebar, dan merekahlah liang kenikmatan itu. Sesaat setelah itu, Linda pun tengah merasakan asyiknya jilatan-jilatanku pada kemaluannya.

Tangan Linda tanpa kendali meremas buah dadanya sendiri. Lita, hanya terbaring membentangkan tangannya ke atas kepalanya. Nafasnya sekali-sekali terengah-engah. Tapi tanganku yang kiri tak membiarkan kemaluan Lita kesepian tanpa kenikmatan. Becek, kurasakan bibir kemaluan Lita yang menggeliat-geliat. Sejurus setelah itu, batanganku kembali bangkit dari istirahatnya. Tegang. Kedua kaki Linda kutarik ke tepian ranjang, dan langsung batanganku kumasukkan ke dalam lubang itu. Linda melirik ke kami. Tersenyum. Aku tahu arti senyum itu, ingin. Tanpa banyak aktivitas lain, Linda hanya menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Dan dalam posisi kuda-kuda dengan kaki kukangkang, batanganku tepat pada posisi yang sangat bagus untuk terus menggoyang dan menggoyang maju dan mundur.

Tidak lama kemudian, terasa tubuh Linda menegang, aku tahu itu, Linda hendak orgasme, hal ini membuatku terus mempercepat goyangan. Erangan Linda kian menjadi. Ughh... Pada saat yang tepat, batanganku kutekan dalam-dalam. Hal ini disambut dengan dekapan erat Linda sambil mendaratkan ciumannya di bibirku. Agak lama dia melakukan itu, mungkin 10 detik, entahlah. Dan akhirnya terkulai lemas terbaring melentang di ranjang.

Lita yang memperhatikan kami dengan baik, mengambil posisi menungging. Kaki yang di kangkang, membuat lebar rekahnya lubang di selangkangannya. Basah. Tak ada aba-aba. Batanganku yang masih tegang, belum orgasme, segera kumasukkan ke liang kemaluan Lita. Batangan itu masih sangat basah oleh cairan kemaluan Linda barusan. Tak perduli, siapa yang perduli, lalu batangan itu pun dengan leluasa memasuki lubang kenikmatan. Lita memang sangat menyukai posisi doggy ini, itu pengakuannya. Entahlah, ternyata memang dosa tak memperdulikan lagi sebuah pemikiran. Dan peluh terus saja mengalir membasahi altar persembahan nista. Tak terpikirkan sebuah atau setumpuk penyesalan. Hanya terjadi dan terjadi. Hingga pada suatu titik dimana kuasa tak lagi mampu dan hasrat telah terpenuhi, ingin yang tercapai dan tenaga yang sudah terkulai lemas. Kami bertiga terhempas terbaring di atas ranjang itu. Kusut. Lemas. Tapi, terpuaskan.

Dan malam, kini mengantar sepenggal jingga yang tersisa di pelupuk barat sana. Seperti juga telah tersisakannya penyesalan setelah kejadian itu. Hanya sepi yang membahana dalam rongga memori tentang adegan gila itu. Asmara memang kadang berarti lain. Atau kadang membisukan norma. Jingga yang tertinggal memaksaku beranjak hendak pulang. Dan pantai ini menjadi tempat kuhanyutkannya keinginan-keinginan liar. Hingga... Saat HP-ku berdering, dan sebuah nama yang tertera di displaynya, Linda.

Hening sesaat dalam deringan itu. Aku berpikir sejenak. Haruskah? Entahlah, aku hanya diam menyaksikan dan mendengarkan deringan demi deringan. Hingga terputus. Hening kembali. Artinya, biarkan saja Linda dan Lita lewat, walau telah menyisihkan setumpuk kejadian, adegan, dan banyak lagi hal menjadi bagian dari penyesalan.

Cerita Panas Terapi Nikmat  

1 komentar

Panggil saja nama saya Ivan, seorang wanita. Umur kepala 2. Tinggal di Jakarta dan masih kuliah di salah satu PTS. Dari penampakan luar saya termasuk orang yang biasa saja seperti orang lain. Wajah tidak cantik, juga tidak jelek. Body proporsional. Satu kekurangan saya yang saya akui, yaitu sangat takut untuk mengenal cowok, dan sampai membayangkan untuk menikah. Apalagi untuk mengenal urusan seks. Ini disebabkan pengalaman kecilku dulu yang akibatnya sampai sekarang masih membekas.

Sebagai latar belakang, ada baiknya saya menceritakan sedikit pengalaman itu. Pada waktu masih balita, saya masih tidur satu kamar dengan ke dua orangtua saya, meskipun tidak satu ranjang. Pada suatu malam, selagi tidur saya terbangun mendengar rintihan Mama diselingi oleh bentakan Papa. Mama tampaknya seperti sedang disiksa oleh Papa. Mama ditindih dan dipukul oleh Papa, sehingga Mama nampak sangat kesakitan dan menderita. Semua kejadian itu kuperhatikan tanpa kedua orangtuaku mengetahuinya. Memang tidak terlalu jelas apa yang Papa perbuat terhadap Mama, karena ruangannya remang-remang. Kejadian itu sering terulang lagi, dan aku tidak pernah berani menanyakan kepada Mama atau Papa. Maklum kedua orangtuaku termasuk agak galak, jadi saya juga agak kurang berkomunikasi dengan mereka.

Setelah menginjak remaja, baru saya mengerti itu adalah hubungan seks. Tapi meskipun itu sudah saya sadari, tapi bawah sadar saya tidak dapat melupakan rintihan dan erangan Mama serta tindakan Papa yang kasar menindih dan menekan-nekan (memompa) Mama. Mama pasti kesakitan ditindih Papa yang tinggi besar itu. Seks tampak sangat menyakitkan dan membuat perempuan menderita. Saya pun tidak bisa mengerti kalau teman-temanku bercerita tentang kencan dengan cowok mereka. Di mana nikmatnya berciuman, diobok-obok, petting, masturbasi dan lain sebagainya. Bagiku seks adalah penderitaan titik. Kalau ada cowok yang mau melakukan pendekatan, selalu saya menghindar secara halus dengan memberi alasan, bahwa saya ingin berkarier dulu baru pacaran dan menikah. Sikap ini membuat banyak temanku mencapku sebagai kolot dan kampungan. Kadang memang itu membuatku menjadi sedih. Pernah saya mencoba juga untuk masturbasi dengan mempermainkan liang kemaluan saya sendiri. Dengan berbaring di ranjang hanya mengenakan daster, tanpa bra dan CD, saya mengangkangkan kedua paha. Sambil membayangkan seorang cowok, saya mulai mencoba menggosok liang kemaluan dan klitorisku. Saya membayangkan bahwa yang melakukan itu seorang cowok yang akan menjadi suamiku. Kuremas-remas payudaraku dengan perlahan. Tapi tidak ada reaksi apa-apa. Tetap saja aku tidak bisa terangsang. Kalau bagi orang lain, dengan memainkan klitoris bisa menyebabkan banjir, bagiku tetap saja kering. Akhirnya kusadari inilah yang dinamakan frigid.

Keadaan agak mulai berubah setelah saya mulai kuliah. Di kampus saya mempunyai seorang teman akrab. Sebut saja namanya Ria. Ria seorang yang supel dan pandai bergaul. Wajah dan bodinya tidak mengecewakan. Kulit putih. Keluwesannya dalam bergaul, terkadang bisa membuatku geleng-geleng kepala. Teman cowok dan ceweknya sama banyaknya. Awalnya aku berpikir, dengan kesupelannya bergaul dan melihat cara pandangnya yang bebas, pasti Ria ini sudah melepas keperawanannya. Tapi ternyata aku salah. Menurut pengakuannya dia masih perawan. Entahlah, yang tahu pasti hanyalah dia sendiri.

Seiring dengan berjalannya waktu, hubunganku dengan Ria semakin akrab dan kami dapat saling curhat. Setelah Ria mengetahui aku frigid, dia berusaha juga untuk mencari jalan keluarnya. Dia menanyakan selain melihat hubungan seks yang dilakukan kedua orangtuaku, apa saya juga pernah menonton BF atau lihat gambat porno? Pernah jawabku, tapi tetap tidak bisa membuatku birahi. Bagaimana kalau ke psikolog atau psikiater, usulnya. Ah.. pasti hanya buang-buang waktu saja jawabku. Di sana pasti kita disuruh curhat, dan akhirnya kita dikuliahin ini itu, hasilnya belum tentu. Malas ah... .

Pernah sekali waktu, Ria mengujiku. Kalau saya tidak tertarik dengan cowok jangan-jangan Ivan ini lesbi. Maka tanpa ba-bi-bu lagi, suatu malam di kamarku, Ria tiba-tiba menciumku dan meraba-raba payudaraku. Dengan kaget kudorong tubuhnya.
"Apa-apaan ini Ria?" teriakku.
Sambil tertawa dia menjawab,
"Enggak apa-apa cuma ingin tahu aja siapa tahu kamu ini lesbian tanpa kamu sadari sendiri", katanya ringan.
Hasilnya ternyata aku pun bukan lesbi. Betul-betul total frigid 100%. Bayang-bayang ketakutan erangan dan rintihan Mama memang menghantuiku, biarpun sudah mendapat penjelasan itu bukan kesakitan tapi erangan kenikmatan.

Suatu hari Ria menelponku,
"Kamu mau diterapi enggak?"
"Terapi apaan?" tanyaku.
"Ituu... terapi frigid kamu.."
"Konsultasi ke psikolog, maksud kamu.... Kan dari dulu aku sudah bilang, hanya buang waktu dan biaya aja, hasilnya belum tentu."
"Aku baru dapat informasi dari temanku, ada orang yang mungkin bisa ngebantu kamu. Katanya sih manjur juga. Sudah banyak orang yang ditolongnya. Yang jelas orangnya dapat dipercaya, terapinya alami saja tergantung keluhan, tapi masalahnya dia seorang cowok. Yaa.. umur kepala 4 deh kira-kira. kamu coba dehhh, orang kan harus usaha kalau mau sembuh."
"Paranormal yaa?" tanyaku ragu.
"Bukan sih, tapi semacam sexolog gitu, tapi bukan dokter. Udah nih kamu sekarang ambil pena dan kertas. Catat nih emailnya. kamu enggak usah ketemu muka dulu, konsul aja dulu jarak jauh."
Konsul jarak jauh, apa susahnya? kalau tidak berhasil, juga tidak perlu terlalu disesali, pikirku.

Kontak pertama, aku mengenalkan diriku dan mengetahui emailnya dari orang yang pernah dibantunya sambil basa basi sedikit. Kuceritakan kalau aku frigid dan mungkin bisa membantu saya. Sama seperti psikolog, maka Erwin (sexolog) memintaku untuk bercerita mengenai diriku sedetail mungkin. Dari beberapa kali konsul lewat email, akhirnya Erwin menyimpulkan bahwa saya harus diterapi untuk menemukan titik-titik rangsang serta memperpeka saraf seks yang ada. Tentu saja terapi ini tidak bisa lewat email. Aku pun lantas menceritakan ini pada Ria.
"Eh.. Ria... aku mau diterapi, dicari titik rangsangku oleh erwin. Aku takut nanti, malah entar diperkosa."
"Udah deh... kamu janjian aja sama dia kapan, entar aku temanin. kamu itu mau sembuh enggak sih, lagian temanku udah bilang kalau orangnya sangat bisa dipercaya. Kalau ada apa-apa sama kamu, entar kita minta tanggung jawab aja sama temanku. Lagian masak sih dia mau menjerumuskan kamu..."
Setelah berpikir pergi pulang, aku pun memutuskan untuk menjalankan terapi itu, apapun resikonya.

Kami pun lantas bertemu di suatu hotel di Jakarta Barat tanpa ditemani oleh Ria, karena terkadang aku malu, karena dia sudah membantuku terlalu banyak. Masa sekarang aku minta ditemani lagi. Pada pertemuan pertama itu, kesanku adalah, Erwin orangnya cukup ganteng, gentle dan tidak terlalu banyak omong. Hanya seperlunya saja tapi mengena. Rambutnya sedikit agak memutih dan dugaanku dia baru berumur dengan kepala 3. Entahlah aku tak berani menanyakan secara langsung.

Sesampai di kamar, Erwin menanyakan apa aku tidak lupa membawa baby oil atau hand body serta handuk. "Komplit", jawabku agak sedikit gemetar. Ini adalah saat pertamaku berdua sekamar dengan cowok. Terbayang kembali traumaku sewaktu masih kecil. Erwin yang tahu kalau aku sedikit nerves, mencoba mencairkan suasana dengan menyuruhku mandi dulu dengan air hangat. Memang setelah mandi, aku merasa segar dan lebih percaya diri.
"Sudah segar nih kelihatannya", katanya sambil tersenyum.
"Iya... lumayan deh", jawabku.
"Sudah bisa dimulai nih terapinya?" tanya si Erwin.
"Oke..."
"Ivan boleh tetap memakai baju lengkap, boleh juga melepas sebagian atau boleh juga melepas semua dan nanti ditutup handuk. Ivan pilih saja yang menurut Ivan yang paling bisa membuat rileks. Sekali lagi rilek, santai dan tidak tegang. Itu key-word yang utama", Erwin menjelaskan itu dengan tenang sekali, layaknya seorang terapist tulen yang sudah profesional.
"Begini aja deh", jawabku sambil memandang tubuhku sendiri yang dibalut dengan T-shirt dan celana panjang berbahan tipis.
Terus terang aku tak sanggup melepaskan sebagian dari pakaianku di hadapan orang yang baru saja ketemu muka. Kalau ada apa-apa aku bisa langsung kabur, pikirku.

"Ya... sekarang Ivan berbaring telungkup di ranjang. Kita mulai saja."
Dengan tubuh yang tertelungkup di ranjang, Erwin mulai memijat kepala saya dengan lembut. Mungkin sekitar 5 menit dan itu cukup membuatku rileks. Erwin yang tahu kalau aku sudah tidak tegang lagi, mulai menurunkan tangannya ke leherku. Tangannya mulai membelai dengan halus dan lembut diselingi sesekali dengan pijatan. Inilah pertama kulitku disentuh dan dibelai oleh seorang cowok. Aku merasa enak dengan sentuhannya.
"Boleh aku di atas kamu?" tiba tiba Erwin bertanya.
"Maksudnya...?" tanyaku curiga.
"Ini... aku mau mulai dari daerah punggung, jadi lebih nyaman kalau aku ada di atas kamu", jawabnya.
"silakan..."
Dengan menempatkan dengkulnya di kiri kanan pingggulku, Erwin mulai membelai pundakku, diusapnya dengan perlahan.
"Ivan, kalau pas dibelai dan disentuh kamu merasa enak, kamu harus katakan itu. Tidak usah malu. Terapi kali ini memang untuk mencari titik rangsang kamu. Kamu tidak usah malu mengekspresikan kenikmatan itu. Kamu boleh mengerang, boleh merintih, boleh teriak, boleh menggelinjang. Tidak ada yang melarang. Malah itu harus!"

Erwin terus membelai dan mengelus dan terkadang memijat dengan lembut seluruh pungggungku yang masih dibalut T-shirt. Tangannya bekerja dan mulutnya memberikan sugesti padaku, seolah-olah apa yang terjadi pada mamaku itu bukanlah suatu penderitaan, tapi kenikmatan. Ketika tangannya memijat lembut sambil sedikit memutar kedua payudaraku dari samping, aku menggelinjang keenakan biarpun masih dihalangi oleh T-shirt dan bra-ku. Sepertinya ada sedikit kejutan listrik. Yang membuatku tidak mengerti adalah, selangkangannya tidak pernah menyentuh pinggulku. Meskipun kesempatan itu sangat besar. Nampaknya Erwin memang tidak mau mengambil kesempatan itu untuk kesenangan pribadinya. Betul-betul seorang sexolog dan seorang terapist tulen pikirku dalam hati.

Dengan memundurkan pinggulnya ke betisku, Erwin mulai dengan pijatan dan belaiannya pada pinggulku. Dengan gerakan memutar, pijatan pada pinggulku ini lebih menimbulkan rasa enak lagi. Di titik inilah aku mulai merasakan badanku sedikit hangat, dan ada sedikit rasa gatal di kemaluanku. Apa ini yang disebut orang birahi? Sekarang kedua kakiku agak mengangkang karena kedua dengkul Erwin ada di antara kakiku. Gerakan jarinya sekarang agak lebih bertenaga. Mungkin karena pinggul terdiri dari banyak daging, maka harus lebih bertenaga, baru terasa. Apalagi pada saat kedua tangannya memijat secara memutar itu disusul dengan kedua ibu jarinya yang sedikit menekan anus. "Enak Win", desisku tanpa sadar.

Belaian dan pijatan pada pahaku pun menimbulkan rasa enak. Sekali-sekali tangannya menyentuh kemaluanku. Ini membuatku gila dan setiap kali tangannya merogoh ke bawah ke arah kemaluanku, spontan aku mengangkat pinggulku dan kesempatan itu semakin dimanfaatkan Erwin untuk meremas dan mengobok-obok. Yaa... aku mulai merasakan nikmatnya alat vitalku disentuh. Pada sesi ini aku banyak merintih dan mengerang serta berulang kali mengatakan "Enak Win, enaaakkk..." Kalau dilihat, rona mukaku mungkin berubah merah. Ada rasa malu menyergap tatkala tubuhku disentuh laki-laki yang relatif baru kukenal. Apalagi kemaluanku tak luput dari sentuhan, biarpun masih ada pelapisnya. Entah berapa lama dia melakukannya, aku betul-betul serasa sudah melayang tanpa sadar berada di mana. Dari situ pijatannya kembali turun ke arah betis dan telapak kaki. Tetapi dari betis ke bawah tidak menimbulkan sensasi apapun padaku.

Setelah selesai sampai pada telapak kaki, Erwin menyuruhku membalik badan dan mengatakan, untuk sesi pertama ini sudah selesai. Dengan nada yang serius, Erwin menyuruhku ke kamar mandi untuk melihat, apakah di sekitar kemaluanku keluar cairan atau agak lembab. Pada sesi pertama terapi ini, kami diskusikan bersama. Dimana letak titik nikmat dari tubuhku. Dan ketika kukatakan, bahwa memang kemaluanku biarpun tidak banjir, memang agak sedikit lembab. Erwin memberi kesimpulan, ada harapan besar bagi aku untuk sembuh dari frigid-ku.

Aku diberi kebebasan apa akan melanjutkan terapi sesi kedua atau tidak.
"Sekarang sudah dulu yaa.. Van. Kamu renungkan dalam 1 minggu ini, apa ada kemajuan atau tidak. Mau dilanjutkan dengan sesi kedua atau tidak. Kalau Ivan mau melanjutkan pada sesi kedua, nanti bisa email Erwin dulu. Sesi kedua nanti, kita akan tingkatkan intensitas rangsangan itu. Kita coba buang trauma yang masih melekat di otakmu."

Sejak menjalani terapi itu, aku masih suka membayangkan pijatan dan belaian Erwin. Aku sudah bisa menikmati belaian tangan lelaki. Erwin memang dapat dipercaya, karena selama berdua di kamar, hanya tangan dan dengkulnya saja yang pernah menyentuh tubuhku. Itupun masih dengan dilapisi pakaian.

Demikian dulu cerita pengalaman saya ini. Terima kasih.