6 Mei 2008

Cerita Panas Karena Loyo.....  

1 komentar

CERITA PANAS. Ayahnya lelaki desa kebanyakan yang tumbuh menjadi pria keras karena sulitnya kehidupan. Itu membangun watak lugu sekaligus otoriternya dalam mendidik semua anak-anaknya. Khususnya Sumiati yang manis dan sebenarnya menyimpan daya tarik seksual tersembunyi.

Faktor inilah yang membuat Sumiati secara tidak sengaja, jatuh di tangan seorang lelaki tua namun kaya yang punya Perkebunan Kelapa Sawit cukup luas di desa Aru Malili , tempat keluarga Parto, ayah Sumiati bekerja.

Budiarta, atau biasa dipanggil Tuan Budi, secara tak sengaja suatu hari melihat Sumiati mengantar makanan kepada Ayahnya yang sedang bekerja pada pembangunan koridor pengangkutan tandan kelapa sawit miliknya. Cukup sekali itu, entah oleh magnit apa, Budiarta yang sudah berusia 61 tahun langsung kemudian tak bisa lagi melupakan gadis pendiam bertubuh indah dan padat itu.

Melalui kebayanya yang sederhana, pengusaha perkebunan yang sukses dan sudah menduda lebih 15 tahun sejak bercerai dengan istri ketiganya ini, bisa membayangkan bagaimana lekuk tubuh Sumiati. Bagaimana bentuk buah dadanya yang montok dan agak besar, pinggulnya yang penuh berisi, sampai bagaimana gelinjang dan geliat gadis itu, jika dirangsang dalam ketelanjangannya.

Budiarta mencoba menghapus dan membuang semua pikiran liar itu, karena sadar kondisi dirinya. Namun semakin dibuang, kian meradang keinginan untuk menguasai gadis desa itu. Puncaknya, suatu hari, diam-diam dia meminta Parto membawa anaknya ke villa tempat peristirahatannya di tengah perkebunan kelapa sawit yang luas itu.

Di sanalah dia bisa melihat dan meneliti sosok Sumiati dari dekat. Bukan main. Ini kesimpulannya. Gadis itu benar-benar memiliki daya tarik seksual luar biasa. Sumiati seperti mutiara yang belum terpoles, atau berlian yang tersaput lumpur. Sekali dia bersih, maka pesonanya akan memancar cemerlang.

Melanggar tekadnya sendiri untuk melewati hari-hari tuanya secara tenang sendirian di perkebunannya, Budiarta nekat melamar Sumiati sebagai istrinya. Tentu saja ini bagai durian runtuh bagi Keluarga Parto. Dan Sumiati sendiri, yang semula sempat terkejut karena sadar harus mendampingi seorang pria tua sebagai suaminya, kemudian menepis semua pertimbangan dari tuntutan naluri wajar yang ada di dalam dirinya, sebagai seorang gadis belia.

Perkawinan itupun berlangsung dengan meriah. Membuat Desa Aru bagai tenggelam dalam kenduri panjang yang terus berdegup kencang. Dan di balik itu, Ibu Sumiati terus mengajarkan kepada anaknya, bagaimana caranya melayani seorang suami dengan baik. Secara khusus di tempat tidur. Sumiati mendengar dan menyimaknya dengan jantung tak henti berguncang. Membayangkan kelamin lelaki dalam keadaan tegang, besar dan keras, seperti sempat secara tak sengaja dilihatnya. Saat itu dia terbangun tengah malam dan ingin kencing di dapur.

Dari balik sumur tiba-tiba dia mendengar suara Ibunya. Entah keluhan, atau sejenisnya. Begitu dia mengendap dan melihat lebih jelas, matanya terbelalak dengan jantung seolah berhenti berdegup. Dia saksikan dengan pakaian sudah terbuka, Ibunya sedang bersandar di pohon dekat sumur, dengan sebelah kaki terangkat, sementara di depan, Ayahnya, dengan kelamin yang besar dan tegang sedang bersiap menyetubuhinya. Dengan ketakutan dia segera menjauh dari sana.

Namun bayangan itu, penis ayahnya yang besar dan keras, kelamin Ibunya yang siap menerima penis itu, tak pernah dia lupakan. Sesuatu yang membuat bagian bawah tubuhnya menjadi berdenyut, gatal dan luar biasa peka terhadap sentuhan. Badannya kadang sampai menggigil dan pikiran- pikiran aneh yang berkaitan masalah itu, dengan keras segera dia lupakan.

Sekarang, dia akan menjadi seperti ibunya. Budiarta memang sudah tua, tetapi sebagai orang kaya yang hidupnya terpelihara serta rajin olahraga, pria itu tetap kelihatan agak kekar. Berarti penisnya juga pasti masih perkasa. Itu yang belakangan ini menggoncangkan perasaannya.

Sebenarnya tak beda jauh dengan Budiarta sendiri. Gambaran tentang kemolekan tubuh Sumiati, aroma keremajaannya, keranuman kewanitaannya, bangun tubuhnya yang padat karena selalu bekerja cukup keras untuk membantu mengatasi kemiskinan keluarganya, membuat otak Budiarta seperti gila. Meski ada keresahan yang tak habis menyelimuti batinnya.

Malam yang dinantikan oleh keduanya itu tiba. Secara perlahan, di kamar pengantinnya yang mewah, di lantai yang sudah dihampari kain sofa yang tebal, Budiarta melepaskan pakaian Sumiati satu persatu. Gadis itu sendiri terus menunduk sambil membiarkan dirinya pasrah untuk diperlakukan apapun.

Tak lama kemudian, Sumiati sudah tergolek di atas lantai dengan telanjang bulat. Gadis itu terlihat berusaha menutupi buah dadanya yang sintal, serta kelaminnya yang ditumbuhi bulu agak lebat. Namun Budiarta selalu mencegah usaha itu. Lelaki ini kemudian mengambil botol madu yang sudah disediakannya.

Lalu secara pelan menumpahkan madu tersebut ke sekujur tubuh telanjang Sumiati, yang membuat gadis yang lebih banyak memejamkan matanya ini menjadi kia gelisah. Apalagi ketika tanngan lelaki itu, mulai meratakan ke seluruh permukaan tubuhnya.

Dengan gemetar, nafas memburu oleh nafsu, pria tua yang hanya mengenakan celana pendek ini, mulai menciumi dan menjilati sekujur tubuh Sumiati. Kedua tangan Sumiati direntangkan ke atas kepalanya. Ketiak gadis yang berbulu halus itu, dia ciumi dan jilati. Jilatan itu meluncur turun-naik ke sana kemari.

Ciuman dan jilatan serta hisapan itu benar-benar bagai bara yang membakar. Membuat gadis desa yang tak pernah seumur hidupnya disentuh pria ini menjadi tersentak-sentak, gelisah, dan terengah-engah menahan gelora perasaan dan emosinya yang bangun menggelora.

Makin lama, ciuman, jilatan dan hisapan Budiarta semakin ganas. Kedua puting buah dada Sumiati bergantian disedot dan diremas-remasnya. Bahkan wajahnya dengan kuat digosokan ke sana, membuat benda padat yang tegak menantang itu menjadi penyek dan terdorong kesana-kemari. Sementara tangan Buidarta terus mengusap, menggosok dan meremas bagian vaginanya. Memutar dan menusuk-nusuk di sana.

Sumiati tak tahan lagi untuk mengeluarkan suara-suara liarnya oohhhhhhhh............ssshhhhhhhhhh,
meski masih terdengar perlahan, pada saat kedua pahanya dikangkangkan, kemudian Budiarta menciumi, menghisap serta memainkan lidahnya di vagina dan bibir kelamin yang basah oleh lendir bercampur madu itu.

Sumiati mengerang nyaring kemudian mengejang,....................aauuugghhhhhhhh............oohhhh berpegangan keras di kepala Budiarta, pada saat sesuatu yang luar biasa, fantastis dan melambungkan dirinya ke dalam kenikmatan yang tak bertara datang dari dalam dirinya. Ini orgasme pertama yang pernah dirasakannya. Sesuatu yang pernah diceritakan Ibunya, kalau penis lelaki secara intensif keluar masuk di dalam vagina wanita.

"Itu sorga dunia, Nduk".

Budiarta nampak terengah-engah, menyaksikan gadis yang memandangnya dengan mata sayu, hanyut jauh oleh nafsu dan kenikmatan itu. Tapi mengapa dia belum juga membuka celana pendeknya, mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi --meski malu-- ingin sekali disaksikan Sumiati. Sesuatu yang menurut Ibunya tak masalah jika kau jilat, kau hisap, dan kau telan air yang akan keluar menyemprot dari sana. Air cikal-bakal kehidupan fisik seorang manusia.

Mengapa benda yang tegar, perkasa dan penuh pesona itu tak juga ditunjukan serta diberikan kedirinya untuk bisa ganti dia rangsang?

Pertanyaan ini membayangi perasaan Sumiati, ketika Budiarta kembali memperlakukan dirinya seperti tadi. Menjilatinya, menghisapnya dengan ganas. Bahkan membalikanan tubuhnya, mengangkat pantatnya, kemudian menjilati anusnya yang membuat dia berpegangan di sofa tebal yang empuk tersebut dengan tubuh menggigil dan tersentak-sentak menahan getaran nikmat tak terlukiskan.

Sumiati kembali merasakan orgasmenya. Kali ini bahkan lebih hebat dari yang pertama, karena membuatnya tanpa sadar terpekik dan mengejang sangat lama.............
oooooghhhhhhhhh................sshhhhhhhhhhh.......ohhhhh
Nafasnya kemudian memburu kencang, seperti telah berlari naik gunung. Budiarta kemudian menjatuhkan tubuhnya ke sisi gadis itu. Tergolek di sana. Lama. Sumiati berusaha bangun dan diam-diam merasa tidak mengerti, mengapa celana pendek suaminya itu tak menunjukan sesuatu yang sedang berdiri keras di baliknya. Sesuatu yang tegang dan sejak tadi dibayangkannya mirip seperti kepunyaan Ayahnya. Apa sebenarnya yang terjadi?

Dengan agak ragu, namun dibekali peringatan Ibunya, agar dia bisa memberikan "pelayanan terbaik" untuk suaminya, Sumiati pelan-pelan menyentuh celana itu. Budiarta cuma diam membisu. .............Malah dia kemudian menurunkan celananya dengan serta merta............, menunjukkan kelaminnya yang -astaga- ternyata kecil, lembek dan mirip punya adik lelakinya yang diam-diam sering dia saksikan di rumah.

Inikah yang pernah dia dengar tentang impotensi? Ketidakmampuan seorang lelaki untuk melakukan hubungan seksual? Apakah itu karena pria ini sudah tua, dan wajar seorang pria seperti dirinya tak bisa gampang lagi memfungsikan alat kejantanannya? Atau dia harus berperan lebih berani dan aktif, seperti yang telah diajarkan Ibunya?

Pikiran ini, membuat Sumiati pelan-pelan meremas penis yang lunglai itu dengan tangan gemetar. Lalu akhirnya menunduk dan mulai menjilatinya. Budiarta cepat membuka kakinya lebih lebar. Sumiati memasukan penis itu ke dalam mulutnya. Mengecup, kemudian mulai menghisapnya, seperti biasa dilakukan bayi terhadap ibu jarinya.

Tubuh Budiarta kelihatan menggeliat-geliat menahan nikmat. Tapi berlalu tiga, lima, bahkan sepuluh menit, penis itu tak juga mau tegang. Ada memang perubahan, karena tak lagi selembek tadi. Tapi tetap saja lemah. Dan mendadak Budiarta menjauhkan wajah Sumiati lalu menggeleng dengan wajah sedih. Sumiati terpanaMengapa Budiarta tak pernah lagi terpikir untuk menikah selama puluhan tahun, dan mengapa akhirnya dia memutuskan untuk mengawini Sumiati, itu semua beranjak dari kondisi dirinya yang demikian.

Dia tahu Sumiati gadis yang menarik dan merangsang namun sekaligus penuh pengabdian dan sangat penurut sehingga tak terlalu dikhawatirkan bisa berbuat macam-macam di belakangnya. Yang lebih penting lagi, perwatakan itu akan membuatnya bisa melaksanakan keinginan tersembunyi yang dahulu pernah diminta bisa dilakukan tiga istri terdahulunya, namun justru akhirnya menimbulkan perceraian diantara mereka. Karena kedua istrinya itu kemudian jatuh ke tangan orang lain dengan membawa banyak hartanya.

Secara fisik, meski sudah berusia lebih enam puluh tahun, Budiarta sebenarnya masih normal. Namun secara psikis, seksualnya terganggu. Dia tak mampu berhubungan dengan wanita secara normal. Untuk itu, ada cara-cara yang harus dilakukan untuk bisa membangunkan penisnya.

Awalnya dia masih berspekulasi, keranuman Sumiati, daya tarik seksualnya serta kesuciannya sebagai gadis --yang diakui Parto ayah Sumiati sendiri-- akan bisa secara perlahan membantu mengatasi problema dirinya. Ternyata tidak. Berulang kali setelah malam pertama itu, Budiarta tetap gagal menyetubuhi Istrinya. Padahal dia ingin sekali menikmati keperawanan wanita yang bangun fisik serta aroma tubuhnya sangat merangsang itu.

Sumiati sendiri, seperti memang diperkirakannya, terlihat tak terlalu mempermasalahkan itu. Dia terkesan sangat tidak ingin suaminya menjadikan faktor tersebut sebagai hal yang mengecewakan. Dan, tampaknya, Sumiati merasa cukup puas dengan permainan tangan dan mulut suaminya di seluruh bagian tubuhnya. Dia selalu mampu berulang-ulang mencapai orgasme, meski tentunya tetap berbeda dengan orgasme yang dihasilkan oleh sebuah proses coitus sesungguhnya.

Sesuatu yang dahulu pernah diterapkan Budiarta dengan tiga istrinya, segera kembali ingin diulanginya. Oleh faktor pertimbangan ketulusan pengabdian Sumiati, dia yakin, wanita itu tak akan mengkhiantinya, seperti tiga istrinya terdahulu. Ini alasan mengapa dia memutuskan untuk menjadikan Sumiati istrinya yang terakhir.

Sumiati tersentak, ketika keinginan itu dia sampaikan. Bahkan membuat wanita itu sampai gemetar karena terkejut dan penolakannya. Namun dengan halus Budiarta terus membujuk dan memberikannya pengertian.

"Aku perlu penyembuhan. Aku tidak akan bisa sembuh, tanpa terapi seks yang benar. Dan ini adalah salah satu yang dianjurkan oleh seorang ahli kepada Mas", kata Budiarta malam itu, usai membuat istrinya dua kali orgasme dengan tangan dan mulutnya.

Sumiati menelan ludahnya berulang kali dengan bingung.
"Lelaki itu hanya untuk membangkitkan kemampuan Mas. Dia nanti akan mencumbumu, namun tidak sampai menyetubuhimu. Nanti setelah punya Mas ini bangun, dia akan pergi dan selanjutnya kita akan bisa berhubungan dengan - normal. Ini juga perlu untukmu, Sum. Kau tidak boleh hanya menikmati hubungan seperti selama ini".

"Tapi, kenapa.. kenapa.. harus begitu?"
"Jika melihat kau dirangsang oleh orang lain, maka nafsu Mas akan bisa dibangkitkan sampai ke puncaknya yang membuat punya Mas bisa bangun. Mas pernah melakukan ini dengan istri-istri Mas terdahulu, tapi sayangnya mereka akhirnya menghianati Mas. Tapi Mas yakin, Sumiati tak akan memiliki pikiran sekotor mereka itu".

Sumiati seperti termangu. Budiarta terus melontarkan bujukannya. Dia meyakinkan wanita muda itu, bahwa apa yang akan dilakukannya dengan lelaki yang akan didatangkan di rumahnya tersebut, merupakan bagian dari proses pengobatan dirinya.

"Kalau kau mengabdi dengan Mas, sayang dengan Mas, ingin mengobati menyembuhkan penyakit yang sangat menyedihkan ini, kau pasti bersedia. Jangan anggap ini pengkhianatan, tetapi pengobatan. Bukankah di dalam Agama, barang harampun bisa dihalalkan, jika diperlukan secara darurat untuk pengobatan?" Oh ini salah satu argumentasi hebatnya untuk melemahkan hati si istri.

Setelah beberapa hari membujuk, Sumiati akhirnya bersedia. Budiarta gembira sekali. Dia sudah memilih seorang gigolo, Sang Pejantan untuk merangsang habis Sumiati, sementara dia akan mengintip perbuatan mereka. Syaratnya, lelaki itu meski telanjang, dan mungkin akan sangat terangsang, tidak boleh sampai menyetubuhi istrinya.

Dia sendiri sudah mengingatkann Sumiati, untuk benar-benar bisa menghayati dan melayani rangsangan Si Lelaki. "Kalau kau tidak mamputerangsang, karena takut, atau hatimu diam-diam menolak, maka nafsu dan punya Mas juga tetap tidak akan bangkit secara sempurna. Bahkan malah tambah payah karena Mas merasa bersalah. Kau harus benar-benar menganggap lelaki itu suami sementara untuk pengobatan Mas. Kau Faham?," kata Budiarta menjelang pelaksanaan "terapi seks" tersebut.

Lelaki yang dipanggil Budiarta secara khusus itu, adalah seorang pria 27 tahun yang cukup ganteng, dengan tubuh kekar dan memiliki segalanya untuk bisa memuaskan seorang wanita. Badannya berbulu, beralis lentik, dengan kumis agak tebal di bawah hidung mancung yang menjadikan ciri keturunan Arabnya cukup kentara. Namanya Arman. Jantung Sumiati berdebar kencang menyaksikan kehadiran pria tersebut. Seseorang yang tak bisa dia sangkal, sangat, sangat, sangat menarik, lembut dan sopan.

Seseorang yang akan merangsangnya dalam kondisi sama-sama telanjang bulat berduaan di dalam kamar yang akan dikunci si lelaki dari dalam, sampai kemudian pintu kamar itu kembali dibuka waktu suaminya mengetuk dari luar. Kepada istrinya, Budiarta menyatakan akan pergi keluar rumah kira-kira setengah jam, baru kemudian datang lagi dan menunggu penisnya bisa bangkit dengan menyaksikan keduanya bergulat dari balik pintu. Sebenarnya tidak persis begitu. Budiarta tidak benar-benar pergi, namun sekedar mengesankan keluar rumah dengan cara menutup daun pintu dari luar, tetapi segera balik lagi dan mulai melakukan "pengintipan" dari lubang yang secara diam-diam telah dibuatnya tanpa setahu Sumiati.


Sumiati benar-benar melayang hanyut. Dengan gemetar, dia membalas pagutan dan rangsangan Arman yang terasa sangat ahli itu. Berulangkali dia hampir orgasme dengan kepiawaian fore play yang dilakukan pria pembangkit atau pengobat suaminya......., namun digagalkan si lelaki lewat cara yang juga piawai. Sepanjang proses perangsangan itu sendiri, tak hentinya Arman melontarkan bisikan- bisikan mesra, penuh sensasi dan sanjungan yang membuat Sumiati semakin melayang.

"Kau cantik, tubuhmu harum merangsang. Oh.. payudaramu kenapa begini padat dan menantang? Dan inimu.. ini klentitmu.. keras sekali.. bagaimana perasaanmu? kau terangsang sayang?," bisik Arman.
"I.. iiya.." Dengan mata melotot dan nafas memburu, Budiarta menyaksikan bagaimana istrinya mengerang dan menjerit oleh remasan, pijatan, usapan tangan, maupun permainan lidah serta hisapan dan jilatan Sang Pejantan. Arman kadang juga menggunakan kaki dan dengkulnya, gosokan dadanya yang penuh bulu, untuk menambah sensasi dan rangsangan terhadap Sumiati.

Terlihat sekali, Arman terangsang dengan aroma seks yang ditebarkan wanita di depannya. Bau khas tubuh Sumiati membuatnya bagai mabuk. Sementara kejutan- kejutan alamiah di beberapa bagian otot tubuh Sumiati meyakinkannya tentang virginitas wanita ini, seperti memang sudah diceritakan Budiarta

Saat pria itu melepas celananya, telanjang bulat sama sekali, mata Budiarta tambah melotot. Luar biasa. Penis itu demikian besar dan kerasnya sehingga masih mampu tegak ke atas, ketika Arman berdiri. Oh itu tidak boleh merenggut keperawanan Sumiati yang sudah menjadi miliknya. Tapi dia percaya, si lelaki tak akan melanggar "kontrak" dengan bayaran mahal ini.

Budiarta menyaksikan Arman mendudukan Sumiati yang kelihatan sangat terangsang dan terkesan menjadi "liar dan buas" itu, di tempat tidur. Dia sendiri berdiri di lantai. Penis besarnya kemudian diarahkan ke mulut Sumiati. Tanpa diminta dua kali, Sumiati yang mengira suaminya masih pergi, kemudian menjilat, mengulum, lalu mengisap benda yang sudah lama diidamkannya itu.

Sangat rakus!
"Oh.. besar.. besar sekali.. punyamu besar," bisiknya bagai orang mengigau.
Budiarta melihat air liur istrinya bertitikan di buah dadanya sendiri yang kedua putingnya terlihat demikian tegang.

Tidak hanya itu, Sumiati terlihat juga mulai menjilati seluruh bagian kelamin Arman. Seperti kedua kantung testikelnya yang berganti-ganti dijilat dan disedotnya. Kemudian kedua lipatan pahanya. Yang membuat Budiarta terpesona, dalam melakukan perbuatan itu, Sumiati terus berusaha memandang wajah Si Lelaki, seperti ingin mengetahui, bagaimana reaksi yang muncul dari perbuatannya. Dan setiap Arman menjerit keenakan, entah disengaja atau tidak.

Sumiati juga ikut mengerang dengan mulut penuh itu, karena terangsang. Sumiati, Si Istri yang selama ini demikian pemalu, lugu, tertutup, penuh pengabdian, seperti telah berubah total. Budiarta menyaksikan bagaimana istrinya itu menarik tubuh Arman untuk ditelentangkan di tilam, lalu menjilati seluruh tubuh pria yang baru dikenalnya itu, kemudian menghisap dan mengocok penis besar Si pria keturunan Arab yang kelihatan perkasa. Dia tak mendengar bagaimana bisikan-bisikan yang dilakukan keduanya.

"Mbak Sum kau ahli.. hisapanmu hebat.. ohh yahh.. kau pintar.. kau ingin itu? Kau mau punyaku?," bisik Arman.
"Mau.. kau punya besar.. aku mau..," bisik Sumiati diantara kesibukan mengisapnya.
Jelas itu ungkapan bawah sadarnya.

Kocokan tangan Sumiati demikian cepat, membuat Arman menoleh ke arah pintu seperti ingin mengetahui bagaimana kondisi Budiarta. Pantatnya diangkat, menahan kenikmatan dari permainan si wanita yang kelihatan sudah bagai orang kalap akibat nafsu. Lelaki yang sangat berpengalaman dengan ratusan bahkan ribuan wanita ini menggeliat- geliat ingin melepas bendungan di dirinya.

Dan Budiarta tiba-tiba merasa celana dalamnya mengetat. Penisnya bangkit! Oh cukup keras dan menggetarkan. Inilah saatnya. Pintu segera dia ketuk, bersamaan dengan pekikan Arman yang menggeliat-geliat dengan bagian kepala penis besarnya memenuhi seluruh mulut Sumiati. Wanita ini seperti mengerang dan dengan rakus menyedot serta menghisap habis tanpa sisa, sperma yang dengan keras kemudian disemprotkan dari mulut penis Arman. Budiarta mengetuk lebih keras pintu itu. Arman segera melompat bangkit. Membukakannya, di mana Budiarta kemudian langsung menerobos masuk, menindih istrinya yang penuh keringat, kemudian mulai mengambil apa yang menjadi haknya. Menikmati keperawanan Sumiati, menembus selaput daranya.

Sumiati sendiri, bagai orang kesetanan, menyambut sergapan suaminya dengan jalan mengangkangkan pahanya lebar-lebar, menunjukan belahan bibir kelaminnya yang basah dan merah. Dia sudah kehilangan rasa malu dengan kehadiran orang ketiga di dalam kamarnya. Arman sendiri, sesuai perjanjian yang telah disepakati, segera keluar. Ketika dia menutup pintu. terdengar jeritan kesakitan bercampur kenikmatan yang sangat merangsang dari mulut Sumiati.............
pecahlah perawan itu........
selaput tipis yang selalu dijaga ketat oleh si empunya......
aaachhhh .....achhhhhh.....accchhhhhh....
hanya erangan erangan itu yang terdengar dari luar kamar...
rupanya dengan bantuan kontol lelaki lain........dapat menyembuhkan impotensi ........................
rasa syukur dari pak Budiarta.....tak terkira.............

Cerita Humor Gigi Masih Banyak...???  

0 komentar

Cerita Humor
Ada seorang laki-laki yang tersesat dihutan belantara,
yang masih banyak hewan buasnya.
Dia masih terus berjalan dan berjalan mengikuti kata hatinya.
Tiba-tiba ia bertemu dengan seorang nenek-nenek yang mukanya
sudah peot dan berambut putih semua, lalu dia berkata

Laki-laki : nek....(dengan nada bergetar takut)..
boleh saya bertanya dimana jalan keluar dari hutan ini..???

Nenek : oh....cucuku,
bisa..bisa saja...tapi ada syarat yang harus
kau tempuh...!

Laki-laki : apa..nek..semua syarat akan kulaksanakan
asal saya bisa keluar dari hutan ini.

Nenek : kamu...harus berhubungan intim dengan aku
dan harus sebanyak gigi yang ada dimulutku ini.
baru kamu bisa keluar dari sini.

Laki-laki : !!?? tapi, baiklah nek...

Setelah sekali mereka melakukannya,
Si nenek itu memperlihatkan yang kedua.
Laki-laki itu berfikir ah...cuma dua aja kok..
Dari pada ngga bisa keluar...

TAPI!!!!!!!
Si nenek itu memperlihatkan gigi yang ada dibelakangnya...
dan TERNYATA .....!!!!! AAAHHHAHHHHHHAH.

Cerita Panas Gemes Deh  

1 komentar

CERITA PANAS. Sejujurnya, cerita ini saya dedikasikan untuk seseorang di Jakarta, seseorang yang lama saya rindukan, Tira. Saya Anom, tinggal di kota B sejak 25 tahun yang lalu.. eh potong setahun waktu saya ikut program pertukaran pelajar. Tapi, berikut ini bukan cerita tentang pengalaman sex saya ketika ikut pertukaran pelajar itu lho ! Itu ada ceritanya juga (my first sexual experience though.. !), tapi nanti aja dulu… Sekarang simak aja yang satu ini dulu,
Keterangan : tulisan yang ditulis dengan tulisan miring merupakan cerita flashback.

November 1998
Bandung lagi sering-seringnya hujan, becek dimana-mana. I hate it ! Cuaca ini membuat hampir setiap aku selesai kuliah harus bengong dulu di kampus, nunggu hujan reda, abis naik motor sih ! Hingga sore hari sekitar jam 16.00 hujan mulai reda. Pada saat aku sedang kesulitan menyalakan motor, (platina basah, maklum.. motor keluaran 1961), ada seorang cewek yang kukenal -tapi bukan di kampus ini- sedang berjalan di selasar depan lapangan parkir dengan wajah kusut masam. Betul itu si Tira ! Kupanggil dia, dan ia menoleh. Ia menyapaku sekedarnya dan berhenti berjalan. Sambil berlari kecil kuhampiri tuh cewek, "Halo ! Apa kabar loe ? Ngapain di sini ? Nyari data ?", tanyaku seperti berondongan senapan M-16. Dengan senyum sedikit ia menjawab, " Ya gitu deh ! Gue musti nyari data di Fakultas Arsitektur buat skripsi gue nih !" sambil tetap mengenakan wajah kusutnya. "Lho ? Kan loe anak psikologi ? kok nyari data di arsitek?", tanyaku cepat karena memang sudah sekian lama nggak ketemu nih anak dan secara tak sadar ingatanku melayang..

Agustus 1998,
Di sebuah Sanggar Tari Bali di kotaku, ketika itu aku sedang menjemput sahabatku Jeannie (cewek blasteran Cina-Amerika) pulang latihan tari Bali. Telah berkali-kali aku menjemput Jeannie namun aku nggak pernah melayangkan perhatian pada cewek-cewek yang latihan di situ, abis cowok sendiri, males..
Nah, pada saat itulah aku dikenalkan oleh Jeannie kepada temannya, Tira. Cukup cantik, rambut sebahu, dengan tinggi sekitar 160cm, tubuhnya sangat proporsional, aku menebak vital measurementnya sekitar hmm… 34-27-34. Kulitnya putih berkeringat dengan pipi kemerahan segar, memakai kaos putih ketat dengan sarung Bali terikat santai di pinggangnya. Orangnya cuek abiss ! Cenderung sombong sih… but I liked her ! Pertemuan kita hanya segitu karena saya harus mengantar Jannie pulang dan aku pun harus bikin tugas buat besok. Sejak perkenalan kami, seringkali aku jemput sahabatku lebih awal dan seringkali aku masuk ke dalam sanggar untuk menonton mereka latihan. Ketika itu aku hampir selalu memperhatikan Tira yang menari dengan lekuk tubuhnya yang sangat lentur. Terpesona dengan keahliannya ia menari, sampai tak sadar Jeannie mengagetkanku,
"Dor ! Hahaha ! Loe jelék banget déh kalo lagi ngécéng, Nom !" ,éjéknya. Aku hanya kaget sebentar lalu kembali kepada posisi semula.. ngeceng dengan jeleknya !
"Ooo.. si Tira ya ?" tanyanya mengetahui bahwa aku sedang ngeceng si Tira.
Aku menoleh pada Jeannie lalu aku bilang aja langsung, " Iya nih ! Imut bener sih tuh anak? Gimana Jean kalo gue pacaran ama dia ?"
"Emang bisa loe ngedapetin die ?" tanya Jeannie sambil mencibir.
"Belon tau Anom loe Jean !", sahutku dengan pe-denya.
"Tuh anak susah banget Nom ! Udah punya cowok lagi !", katanya.
"Yaaaah…"sahutku dengan nada kecewa, namun langsung kulanjutkan, "Berarti semakin tertantang dong !huahaha !"
"Apaan yang bikin loe semakin tertantang ?" tanyanya lagi. Aku masih belum sadar bahwa itu bukan suara Jeannie.
" Ya semakin tertantang buat ngedapetin si Tira doong !" sahutku yakin namun keyakinanku itu hanya sedetik karena kulihat Jeannie sedang memelototiku dengan wajah menahan tertawa. Dan ketika itulah aku sadar bahwa Tira sudah berada di belakangku dan Jeannie. Aku menoleh dan kulihat wajah manis itu tersenyum ke arahku.. huwalaaaaaaahhhh !
Dan sejak itulah aku mulai dekat dengan Tira, meski hanya sebatas teman. Untung cowoknya di Jakarta jadi tidak pernah ketahuan (gosipnya cowoknya cemburuan !). Selang dua minggu kemudian Jeannie punya cowok, tapi aku masih sering ke sanggar tari itu, namun kali ini bukan untuk ngejemput Jeannie tapi ngejemput Tira ! Namun sejak awal September, aku kehilangan kontak dengannya karena ia pergi berlibur dengan cowoknya ke Australia. Sejak itu aku nggak pernah bertemu dia lagi hingga saat redanya gerimis ini.

"…Gue nyari data tentang efek ruangan terhadap perilaku manusia.." katanya.
"Hah ? Apaan ?", jawabku tersadar dari lamunanku.
"Huahahaha !", mendadak aku dikejutkan oleh tawanya yang renyah dan khas dari bibir seorang Tira.
"Masih sama aja blo’on-nya loe tuh ya ! Hahaha !", sambungnya.
Sambil menggaruk-garuk ranbut gondrongku yang tidak gatal aku tersenyum salah tingkah. Hari itu akhirnya aku berhasil menyalakan motorku dan mengantarkan dia ke tempat les bahasa Perancis. Karena sudah terlambat, aku belum sempat menanyakan kost dimana dia sekarang, jadi hilanglah lagi kontakku dengannya.
Sampai pada suatu hari aku menyempatkan diri untuk mengunjungi bekas guru Aikido ku ketika ia sedang mengajar di salah satu gelanggang olah raga di kotaku.Ketika aku memasuki ruang besar itu, kulihat sekitar 30 orang sedang berlatih berpasang-pasangan dan saling membanting. Takeshi Kawamura sedang memberikan aba-aba, dan melatih. Aku berdiri di pinggir ruangan sambil melepas jaket kulitku dan menggantungkannya di salah satu tiang volley. Kuperhatikan mantan guruku itu tidak berubah juga penampilannya, seorang Jepang gendut umur 30-an yang berimigrasi ke Indonesia hanya untuk mengajarkan Aikido, wah idealis sekali kedengarannya, tapi ya begitu tampaknya. Ia tidak memperhatikan kedatanganku sampai ketika ia berbalik badan menghadapku, ia melihatku dan serta merta membungkuk memberikan hormatnya kepadaku. Akupun memberi hormatku kepadanya, tindakan mendadaknya itu membuatku malu karena pasti aku disangka murid-muridnya lebih tinggi tingkatannya dari gurunya itu. Lalu ia memberikan aba-aba untuk beristirahat, dan dengan tersenyum ia mendekatiku, "Apa kabar Anom?"
"Baik-baik saja sensei.." jawabku dengan hormat.
"Bagaimana dengan krub beradiri di kampusmu itu ? Masih jaran ?", tanyanya tetap dengan suara dan aksen jepangnya yang lantang, membuatku malu dihadapan sekian banyak orang yang langsung melihatiku mendengar pertanyaan eks-guruku itu.
"Baik sekali sensei ! Bahkan kami sudah bertambah banyak anggotanya.", jawabku ramah.
"Bagus.. bagus ! Tapi semestinya kamu tidak berhenti ratihan Aikido, Anom !" tanggapnya.
"Ya, tapi sensei tahu sendiri bahwa aku merasa tidak cocok dengan Aikido.." jawabku.
Ketika aku selesai menjawab itulah, guruku itu tersenyum aneh kepadaku, aku bertanya-tanya dalam hati, "Ada apa nih ? Kok senyam senyum gak jelas gitu sih dia ?", sekitar 10 detik ia masih tetap tersenyum, dan ….ngekk ! Sebuah cekikan keras di leher dari belakang dan tanganku terkunci kebelakang badan membuatku sulit bernafas dan tak dapat bergerak. Secara refleks aku melakukan satu sikap beladiri yang sangat cepat dengan melakukan irimi (langkah dasar dalam ilmu beladiri Aikido), lalu mengatasi kuncian dan cekikan itu, kukunci balik orang yang mencekikku dari belakang, ketika aku meraih tubuhnya dibelakangku aku merasakan bahwa yang menyerangku ini adalah seorang perempuan, namun ia sudah terlanjur melayang setinggi satu setengah meter di udara ! Secepat kilat kuraih kembali tubuhnya dan kuarahkan arah jatuhnya kesamping dan kutahan punggungnya dengan tangan kiriku sementara tangan kananku sedang mengunci lengannya. Dengan posisi kedua tanganku yang tidak menguntungkan ini kubiarkan kami jatuh berguling-guling ke samping di atas tatami (tikar Jepang), hingga pada akhirnya posisiku berada diatas memegang kedua pergelangan tangannya. Serta merta aku kaget setengah mati bahwa yang menyerangku adalah…Tira !
"Gila kamu, Ra !" sahutku kaget ..
Posisi tubuhku yang rebah menelungkup tubuhnya ini membuat jarak antara wajahku dengan wajah Tira hanyalah tinggal 3 cm lagi ! Yang lebih membuat aku berdebar-debar adalah bahwa tubuh kita saling bertindihan. Lalu ia tersenyum manis sekali dengan mata sayu, wajahnya sangat khas dengan pipinya yang kemerahan. Melihat senyumnya itu aku terkesima dan tak dapat bergerak, cantik sekali ! Tak sadar, ‘adikku’ mulai berdiri dan mendesak di dalam celana jinsku. Tampaknya Tira menyadari hal itu, dan bukannya segera melepaskan dirinya dari dekapanku, ia malah semakin mendesakkan pinggulnya ke tubuhku, sehingga selangkanganku pun semakin tertekan dengan selangkangannya, untung gerakan ini tidak terlihat orang lain. Tira menggunakan celana silat dengan bahan kanvas tipis (bahan twill) yang secara langsung membuatku dapat merasakan tonjolan bukit venusnya dan belahan lunak dibalik celananya itu. Merasa sudah terlalu lama dalam posisi itu aku langsung berguling ke samping, berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Setelah berdiri, aku masih bengong menyadari apa yang telah kami lakukan tadi, ketika kulihat lagi, ia sudah berlalu sambil tersenyum dan memberikan tanda padaku untuk menunggunya sampai selesai latihan.
Masih dalam keadaan bengong tak kusadari ada yang bergerak-gerak disampingku, kulihat mantan guru Aikidoku sedang terkekeh-kekeh sendiri melihat kejadian tadi, dan ternyata semua orang sedang tersenyum sambil memperhatikanku. Waduh malunya !!!

19.15 BBWI
Malam itu aku menunggunya sampai selesai latihan, lalu kami bertemu kembali di luar gedung, berjalan menuju lapangan parkir, diam seribu bahasa, namun ia tetap tersenyum manis.
"Ra, kok gue gak pernah tau loe belajar Aikido sih ?", celetukku memecahkan suasana, ia hanya tersenyum sambil menunduk. Sesampainya di samping motorku, aku bingung bahwa aku hanya membawa satu helm.
"Waduh, Ra ! Gue cuma bawa satu helm nih ! gimana dong ?" tanyaku menyadari bahwa helmku hanya satu.
"Biarin aja ! Udah malem ini, gak akan ada polisi ! Lagian gue boleh dong nyobain ‘helm’ loe? Yang satu-satunya itu kan ?", tanyanya dengan menekankan kata ’helm’ lebih jelas.
"Hah ?", baru saja aku masih kaget dengan peristiwa barusan, kini dikagetkan lagi dengan pertanyaannya yang ‘geblek’ itu. Dengan tololnya kujawab, "boleh..nih gue pasangin..", sambil mengenakan helmku itu dikepalanya. Ia tertawa kecil dan membiarkan aku memasangkan tali pengikat helmku di lehernya yang putih mulus itu.Sembari kuikatkan tali helmku itu, aku sadar betul bahwa ia tetap memandangiku dengan tersenyum nakal.
"Hihihi… lucu banget sih loe !", katanya. Aku nggak ambil pusing dengan pertanyaannya dan langsung menyalakan motorku, lalu kita boncengan pulang. Di jalan ia bertanya lagi dengan sablengnya,"Cuma segini kecepatan motor loe ?".
Masih dengan perasaan yang tak karuan dan mulai kesal dengan dipermainkannya diriku, aku langsung tancap gas. Motor tuaku itu memang mengerti perasaanku, ia melesat cepat bagaikan angin di sepanjang jalan protokol di kotaku itu.
"Wuih ! Kenceng banget !", sahutnya agak ketakutan kini, rasain ! kataku dalam hati… baru tahu rasa kamu !
"Makanya ! Pegangan dong ! Kalo nggak nanti ketinggalan lho ! Hahahaha !", ledekku puas karena akhirnya bisa membalas jahilnya itu. Tanpa disangka, ia memeluk pinggangku dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memeluk lengan bawah ke arah bahuku dan meletakkan dagunya di pundakku, posisi sedekat itu membuat dadanya mendesak punggungku.. empuk sekali !
"Gila ! Masih sempat di jahil di saat seperti ini ?", pikirku dalam hati.
"Hey ! Tangan kanan loe jangan meluk tangan gue dong ! gue kagok nih nyetirnya ! Rada kebawah dong !" teriakku di tengah deru mesin dan angin.
"Oke, sayaaaaang !", sahutnya menggodaku (lagi..!), dan… ia meletakkan tangannya tepat di selangkanganku !!!
Huwalaah ! Gila kupukir nih cewek ! Aku hanya terbengong-bengong dan tetap memperhatikan jalan di hadapanku.
"Lho ? Kok tegang ?", katanya.
Ternyata ia memperhatikan mimik wajahku dari kaca spionku. Sialaaaan !! Lalu aku cepat menguasai diri, dan hanya tersenyum sedikit ke arah wajahnya di spion tempat ia memperhatikanku.
"Gimana nggak tegang ! Jarang ada cewek yang gue bonceng, pegangan ke situ !" jawabku enteng sudah bisa menguasai keadaan hatiku yang nggak karuan ini.
"Tapi sekarang sih udah gak tegang lagi kok…biasa aja tuh !", lanjutku.
"Kenapa dong masih keras ?hi.. hi..hi..!", katanya sambil agak meremas genggamannya di selangkanganku. Ya ampun ! Jadi maksud kata ‘tegang’ itu maksudnya adalah batangku ? Ampun nih cewek maksudnya apa sih ? Aku merasa dilecehkan sekali, wajahku mulai cemberut dan mangkel rasanya. Tampaknya ia menyadari hal itu, namun ia tidak mengendurkan genggaman tangannya di selangkanganku !
Kami tidak berbicara apa-apa lagi kecuali mendengar petunjuk-petunjuk arah jalan menuju tempat kostnya. Sesampainya di tempat kostnya, is melepaskan helmku, dan turun dari motor. Ia menyerahkan helmku itu kepadaku sambil berkata, " I had a great.. even short.. time with you ! Nice bike you’ve got there !"
"You just realized huh ? What this cute thing can do ?", sahutku cuek-cuekan sambil menepuk-nepuk tangki motorku. Ia tersenyum sedikit lalu ia membuang pandangannya ke samping, sambil terus berdiri disampingku tanpa melakukan atau berkata apa-apa.
"What the hell does this chick want from me ? A kiss ?", tanyaku dalam hati. Masih saling berdiam beribu bahasa, ia mengajakku untuk masuk dulu ke dalam untuk secangkir kopi atau the. Kuterima saja tawarannya, sambil menghangatkan tubuh di malam dingin ini. Anyway, it’s a long way home dari tempat kost dia ke rumahku.
Aku duduk di sudut tempat tidurnya, kamarnya tertata rapi sekali, dihiasi dengan berbagai macam jenis poster artistik, tampaknya ia sangat menyukai kesenian. Ia pergi ke dapur untuk membuatkanku kopi. Kuperhatikan terus kamarnya, meja belajar, dengan sederet jadwal kegiatannya selama seminggu, kayak aktivis aja deh! Penuuuh banget dengan kegiatan kursus, les, kuliah, jadwal fitness dan lain-lain. TV, Playstation™, VCR, CD Player dan sound system. Hingga mataku tertumbuk pada salah satu benda di atas speaker… sekotak kondom DUREX® ! Buat apa ada kondom di sini ? Jangan-jangan…?
Aku tak berani menggeratak barang-barang lainnya, cukup kaget aku untuk mengoprek-oprek lagi. Kulanjutkan penelitianku tadi dan di kepala tempat tidurnya kulihat deretan foto-fotonya, dengan keluarga, dengan pacarnya (hmm.. ganteng juga cowoknya, gede lagi badannya !), dan di deretan paling kanan kulihat benda yang sangat familiar bila kubuka site-site pono di internet… sebuah vibrator ! Pertama kali aku melihat benda itu secara nyata semenjak terakhir aku pulang dari Amerika tahun 1994 ! Warnanya putih gading dengan gerigi sedikit pada bagian tengah batangnya. Baru saja aku memberanikan diri untuk beranjak untuk mengambil benda itu, Tira kembali sambil membawakan dua cangkir kopi panas. Kuurungkan niatku untuk melihat benda itu..
"Sorry, lama. Abis kompornya susah nyala tuh !", sahutnya gembira, sambil meletakkan cangkir-cangkir kopi itu di meja belajarnya, lalu menutup pintu kamar serta menguncinya. Pura-pura tidak melihat apa-apa, aku pun menyahut, "Waah ! Sorry nih udah ngerepotin..".
"Nggak kok ! Nggak repot.. eh gimana kuliah loe ?", tanyanya.
"Baik-baik aja. Mungkin semester depan aku mulai nyusun skripsi nih !", jawabku basa-basi.
"Ooh.. baguslah ! Gue sih lagi nyusun sekarang ini !" ,katanya lagi.
"Wah ! Canggih juga ya loe ? Nyusun sambil kursus ini itu ! Emang sempet ?", tanyaku tercengang.
"Sempet dong ! Atur waktu aja !", sahutnya yakin, "Eh, Nom ! Gue mandi dulu ya ? Lengket nih keringetan !", katanya lagi sambil mnggosok-gosok tangannya.
"Lho ? Kan yang lengket-lengket itu enak lho !", sahutku ngawur.
"Dasar !", umpatnya sambil memukul lenganku agak keras, lalu berlalu ke kamar mandi. Namun sampai akhirnya terdengar suara siraman air, pintu kamar mandi di kamarnya belum juga ditutup. "Woy ! Kapan mandinya ? kok cuci kaki melulu ?", tanyaku tidak sabar menunggunya terlalu lama, kusangka ia tengah mencuci kakinya dulu sebelum mandi.
"Ini juga lagi mandi, blo’on !", jawabnya membuatku tertawa tidak percaya. Sambil beranjak berdiri, aku nyahut, "Kalo gitu aku ikutan nyu….", tak kulanjutkan kata-kataku, dan bengong memandangnya.
"Nyu.. apaan ? Nyuci ? Nyuri ?", jawabnya santai.
"Aa..aa..eeh..", tanpa dapat berkata-kata aku bengong melihatnya dari atas sampai bawah, ternyata benar… ia sedang mandi ! Tubuhnya terbungkus oleh busa sabun, rambutnya diikat ke atas, dan dari lekuk dan postur tubuhnya, ia memang ‘a masterpiece’ !!!
"Aa.. uu..aa..", masih belon bisa berkata-kata aku bengong terus dan tercengang menyaksikan pemandangan indah di hadapanku. Sambil terus menyabuni tubuhnya, ia menggosok bagian bawah lengannya, tampaknya ia menyadari ketercenganganku itu, ia berhenti bergerak, tangannya diturunkan ke samping tubuhnya, lalu naik sambil merayapi kulit putih mulusnya, naik terus hingga ia memegang buah dadanya yang membulat (meskipun sudah agak turun sih..), dan mulai memainkan jari-jarinya pada putting susunya. Aku masih saja terpaku hingga akhirnya pandanganku bertabrakan dengan matanya. Ia tengah tersenyum dengan mata sayu sama persis dengan kejadian di tempat latihan Aikido tadi. Aku terpesona oleh kejelitaannya, terpesona oleh aura indah yang dipancarkannya, terpesona oleh pendar birahi yang dinyalakannya…
Tiba-tiba ia bergerak cepat sekali ke arahku dan segera saja aku tersadar dari buaian melenakan itu, namun tanpa sempat berbuat apa-apa, mulutnya sudah menyumpal mulutku, dan memainkan lidahnya didalam mulutku. Secara naluri, akupun membalasnya dengan bernafsu. Kugigit-gigit bibir bawahnya, kubelai-belai rambutnya yang setengah basah tersiram air sedikit rupanya, dan ia pun merspon hal yang sama. Kulanjutkan ciumanku pada bibirnya, kumainkan bibirku secara cepat lalu melambat lalu cepat lagi, begitu terus, dan ciumanku mulai merembet ge dagunya, lalu ke lehernya (untung belum disabuni !), lalu ke telinganya, kujullurkan lidahku kedalam telinganya, dan kugelitik mesra sambil tetap kubelai rambut dan wajahnya. Sambil kugigiti cuping telinganya, ia menggigit pundakku agak keras, matanya terpejam menikmati perlakuanku padanya. Hingga pada suatu saat, kupandangi wajahnya, mata kami pun beradu. Tanganku mulai turun membelai leher, pundak, lengan, dan pinggangnya. Lalu kubuka kanjing dan retsleting jinsku, ia membantunya dengan tetap mata kami saling berpandangan. Nafas kami sudah sangat memburu dan sulit diatur. Diturunkannya jinsku, lalu kurasakan jemarinya menyusup ke dalam celana dalamku, ia menemukannya ! Digenggamnya batang kejantananku, lalu ia mulai meremasnya perlahan, lalu makin keras ! Lalu ia mulai menggosoknya naik turun, karena tangannya masih bersabun, maka gerakannya makin lancar dan licin. Aku menikmati permainan tersebut tanpa melepas pandangan dari matanya.
Tangan kananku pun mulai naik membelai tubuhnya, melewati dadanya dan berhenti pada buah dadanya, kumainkan sedikit dengan jemariku sementara tangan kiriku kuturunkan ke pantatnya dan meremasnya perlahan. Dengan tetap berpandangan, kudengar nafasnya sudah mulai memburu dan terengah-engah. Tangannya yang begitu nakal memainkan penisku itu membuatku bergetar nikmat. Pada saat itulah jari-jari tangan kananku mulai memutar-mutar putting susunya secara perlahan. Ia mendesah tanpa berkedip, aku pun begitu. Kuturunkan tangan kiriku tadi dari pantatnya dan mulai menjalari tubuh bagian depannya, kusentuh kulit bagian bawah pusarnya dan ia bergerak sedikit kegelian. Tangan kirinya yang masih menganggur itu ia turunkan untuk memegang tangan kiriku dan menuntunnya ke bawah ke arah selangkangannya. Kutangkap pesannya, kuturunkan perlahan menyusuri bulu-bulu halus yang diselubungi busa sabun itu dan akhirnya kurasakan sesuatu yang sangat lembut, hangat dan basah, aku tak perduli apakah basah karena busa sabun atau cairan kewanitaannya ! Mulailah kumainkan jari tengahnku langsung menggosok-gosok dan menekan klitorisnya yang sudah mengeras. Ia bergetar keras dan mulai mengocok penisku cepat. Aku pun melakukan hal yang sama, kupercepat gerakan jariku sambil terus berpandang-pandangan. Tangan kananku meremas buah dadanya yang indah sembari sesekali memijit-mijit putingnya bergantian kanan dan kiri.
Nafas kami sudah sangat cepat sekarang, ia mulai merem melek, akupun begitu. Pinggul kami bergoyang cepat mengikuti irama gerakan tangan masing-masing. Hingga suatu saat kurasakan desakan yang sudah tak asing lagi di daerah selangkanganku. Darahku berdesir cepat, dan ia pun begitu. Matanya mulai melotot dan pinggulnya bergerak semakin liar (teman-teman menyebutnya UWH : Unpredictable Wiggling Hips !), lalu ia berbisik di telingaku, "Nom, kayaknya aku mau sampai ..Nom.. tolong Nom.. dikit lagi Nom..hiiihh !".
"Aku juga Ra, ohh.. aku juga !", erangku menahan nikmat. Hingga pada suatu saat ia mendadak mencium bibirku dalam sekali, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya dan,
"NENG TIRAAA !! ADA TELEPON !! DARI MAS ARIII ! ",panggilan itu terdengar seperti suara bom tepat disamping telingaku !

Kami pun saling melotot, dan menghentikan aktivitas kami itu. Kami saling berpandang-pandangan, dan sekali-lagi,
"NEEENG ! ADA TELEPOOON !", sahut pembantu kostnya itu.
"I..hh..IYA SEBENTAAARRHH..hh..!", sahut Tira menjawab dengan masih terengah-engah.
"EMMH.. BI..BILANG SURUHH.. TU.. TUNGGUU..hh !", sahutnya lagi. Kami secara perlahan melepaskan tangan kami dari tubuh masing-masing. Ia berpaling dan menyuruhku untuk keluar kamar mandinya, aku menurut. Entah perasaan apa yang kurasakan saat itu. Yang aku tahu ia bergegas memakai kimononya keluar kamar mandi, melewatiku tanpa menengok atau bahkan melirik ke arahku. Aku duduk terhenyak di samping tempat tidurnya dan menunggunya kembali. Mataku bengong menatap karpet di hadapanku. Sampai beberapa saat kemudian ia kembali menutup pintu dan menguncinya lalu menyandarkan punggungnya di daun pintu. Matanya menatap langit-langit kamar. Nafasnya sudah teratur kini.
Kami diam seribu bahasa.
Lalu aku berdiri, mengambil jaketku, mamakainya dan bergegas menujunya yang tengah bersandar di pintu.

"I’d better go.. I guess..", kataku pelan sekali. Ia tak menjawab, tapi hanya mengangguk kecil lalu sambil menundukkan kepalanya , lalu ia bukakan pintu untukku.
"Thanks ! You’re a great coffee maker !", candaku kecil. Ia hanya tersenyum sambil menunduk.
Lalu kudekati wajahnya, dan kukecup bibir tipisnya perlahan sekali.
Ia diam saja, pasif..
"I think I’ve got stuck on you now, Ra !", kataku lagi sambil berlalu. Tak ada kata-kata dari bibirnya, ia tetap menunduk dan menutup pintu kamarnya.
Kunyalakan motorku, dan tiba-tiba saja jalan raya sudah di hadapanku..
Kupacu motorku sekencang-kencangnya kembali ke rumahku..
Malam ini dingin sekali rasanya ..

Cerita Panas Gara-gara Kunci Rumah Tertinggal  

0 komentar

CERITA PANAS. Namaku Hendriansyah, biasa dipanggil Hendri. Saat ini aku kuliah di salah satu Akademi Pariwisata sambil bekerja di sebuah hotel bintang lima di Denpasar, Bali. Kisah yang aku ceritakan ini adalah kisah nyata yang terjadi terjadi saat aku masih duduk di kelas II SMA, di kota Jember, Jawa Timur.

Saat itu aku tinggal di sebuah gang di pusat kota Jember. Di depan rumahku tinggalah seorang wanita, Nia Ramawati namanya, tapi ia biasa dipanggil Ninik. Usianya saat itu sekitar 24 tahun, karena itu aku selalu memanggilnya Mbak Ninik. Ia bekerja sebagai kasir pada sebuah departemen store di kotaku. Ia cukup cantik, jika dilihat mirip bintang sinetron Sarah Vi, kulitnya putih, rambutnya hitam panjang sebahu. Namun yang paling membuatku betah melihatnya adalah buah dadanya yang indah. Kira-kira ukurannya 36B, buah dada itu nampak serasi dengan bentuk tubuhnya yang langsing.

Keindahan tubuh Mbak Ninik tampak semakin aduhai saat aku melihat pantatnya. Kali ini aku tidak bisa berbohong, ingin sekali kuremas-remas pantatnya yang aduhai itu. Bahkan jika Mbak Ninik memintaku mencium pantatnya akan kulakukan. Satu hal lagi yang membuatku betah melihatnya adalah bibirnya yang merah. Ingin sekali aku mencium bibir yang merekah itu. Tentu akan sangat nikmat saat membayangkan keindahan tubuhnya.

Setiap pagi saat menyapu teras rumahnya, Mbak Ninik selalu menggunakan kaos tanpa lengan dan hanya mengenakan celana pendek. Jika ia sedang menunduk, sering kali aku melihat bayangan celana dalamnya berbentuk segi tiga. Saat itu penisku langsung berdiri dibuatnya. Apalagi jika saat menunduk tidak terlihat bayangan celana dalamnya, aku selalu berpikir, wah pasti ia tidak memakai celana dalam. Kemudian aku membayangkan bagaimana ya tubuh Mbak Ninik jika sedang bugil, rambut vaginanya lebat apa tidak ya. Itulah yang selalu muncul dalam pikiranku setiap pagi, dan selalu penisku berdiri dibuatnya. Bahkan aku berjanji dalam hati jika keinginanku terkabul, aku akan menciumi seluruh bagian tubuh Mbak Ninik. Terutama bagian pantat, buah dada dan vaginanya, akan kujilati sampai puas.

Malam itu, aku pergi ke rumah Ferri, latihan musik untuk pementasan di sekolah. Kebetulan orang tua dan saudaraku pergi ke luar kota. Jadi aku sendirian di rumah. Kunci kubawa dan kumasukkan saku jaket. Karena latihan sampai malam aku keletihan dan tertidur, sehingga terlupa saat jaketku dipakai Baron, temanku yang main drum. Aku baru menyadari saat sudah sampai di teras rumah.

"Waduh kunci terbawa Baron," ucapku dalam hati. Padahal rumah Baron cukup jauh juga. Apalagi sudah larut malam, sehingga untuk kembali dan numpang tidur di rumah Ferri tentu tidak sopan. Terpaksa aku tidur di teras rumah, ya itung-itung sambil jaga malam."Lho masih di luar Hen.."Aku tertegun mendengar sapaan itu, ternyata Mbak Ninik baru pulang.
"Eh iya.. Mbak Ninik juga baru pulang," ucapku membalas sapaannya."Iya, tadi setelah pulang kerja, aku mampir ke rumah teman yang ulang tahun," jawabnya."Kok kamu tidur di luar Hen.""Anu.. kuncinya terbawa teman, jadi ya nggak bisa masuk," jawabku.Sebetulnya aku berharap agar Mbak Ninik memberiku tumpangan tidur di rumahnya. Selanjutnya Mbak Ninik membuka pintu rumah, tapi kelihatannya ia mengalami kesulitaan. Sebab setelah dipaksa-paksa pintunya tetap tidak mau terbuka. Melihat hal itu aku segera menghampiri dan menawarkan bantuan.

"Kenapa Mbak, pintunya macet..""Iya, memang sejak kemarin pintunya agak rusak, aku lupa memanggil tukang untuk memperbaikinya." jawab Mbak Ninik."Kamu bisa membukanya, Hen." lanjutnya."Coba Mbak, saya bantu." jawabku, sambil mengambil obeng dan tang dari motorku.Aku mulai bergaya, ya sedikit-sedikit aku juga punya bakat Mc Gayver. Namun yang membuatku sangat bersemangat adalah harapan agar Mbak Ninik memberiku tumpangan tidur di rumahnya.

"Kletek.. kletek..." akhirnya pintu terbuka. Aku pun lega.
"Wah pinter juga kamu Hen, belajar dari mana.""Ah, nggak kok Mbak.. maklum saya saudaranya Mc Gayver," ucapku bercanda."Terima kasih ya Hen," ucap Mbak Ninik sambil masuk rumah.Aku agak kecewa, ternyata ia tidak menawariku tidur di rumahnya. Aku kembali tiduran di kursi terasku. Namun beberapa saat kemudian. Mbak Ninik keluar dan menghampiriku."Tidur di luar tidak dingin. Kalau mau, tidur di rumahku saja Hen," kata Mbak Ninik."Ah, nggak usah Mbak, biar aku tidur di sini saja, sudah biasa kok, "jawabku basa-basi."Nanti sakit lho. Ayo masuk saja, nggak apa-apa kok.. ayo."Akhirnya aku masuk juga, sebab itulah yang kuinginkan.

"Mbak, saya tidur di kursi saja."Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa yang terdapat di ruang tamu.
"Ini bantal dan selimutnya Hen."Aku tersentak kaget melihat Mbak Ninik datang menghampiriku yang hampir terlelap. Apalagi saat tidur aku membuka pakaianku dan hanya memakai celena pendek."Oh, maaf Mbak, aku terbiasa tidur nggak pakai baju," ujarku."Oh nggak pa-pa Hen, telanjang juga nggak pa-pa."
"Benar Mbak, aku telanjang nggak pa-pa," ujarku menggoda.
"Nggak pa-pa, ini selimutnya, kalau kurang hangat ada di kamarku," kata Mbak Ninik sambil masuk kamar.

Aku tertegun juga saat menerima bantal dan selimutnya, sebab Mbak Ninik hanya memakai pakaian tidur yang tipis sehingga secara samar aku bisa melihat seluruh tubuh Mbak Ninik. Apalagi ia tidak mengenakan apa-apa lagi di dalam pakaian tidur tipis itu. Aku juga teringat ucapannya kalau selimut yang lebih hangat ada di kamarnya. Langsung aku menghampiri kamar Mbak Ninik. Ternyata pintunya tidak ditutup dan sedikit terbuka. Lampunya juga masih menyala, sehingga aku bisa melihat Mbak Ninik tidur dan pakaiannya sedikit terbuka. Aku memberanikan diri masuk kamarnya.

"Kurang hangat selimutnya Hen," kata Mbak Ninik."Iya Mbak, mana selimut yang hangat," jawabku memberanikan diri.
"Ini di sini," kata Mbak Ninik sambil menunjuk tempat tidurnya.
Aku berlagak bingung dan heran. Namun aku mengerti Mbak Ninik ingin aku tidur bersamanya. Mungkin juga ia ingin aku.., Pikiranku melayang kemana-mana. Hal itu membuat penisku mulai berdiri. Terlebih saat melihat tubuh Mbak Ninik yang tertutup kain tipis itu.

"Sudah jangan bengong, ayo sini naik," kata Mbak Ninik.
"Eit, katanya tadi mau telanjang, kok masih pakai celana pendek, buka dong kan asyik," kata Mbak Ninik saat aku hendak naik ranjangnya.Kali ini aku benar-benar kaget, tidak mengira ia langsung memintaku telanjang. Tapi kuturuti kemauannya dan membuka celana pendek berikut cekana dalamku. Saat itu penisku sudah berdiri."Ouww, punyamu sudah berdiri Hen, kedinginan ya, ingin yang hangat," katanya.
"Mbak nggak adil dong kalau hanya aku yang bugil, Mbak juga dong," kataku."OK Hen, kamu mau membukakan pakaianku."
Kembali aku kaget dibuatnya, aku benar-benar tidak mengira Mbak Ninik mengatakan hal itu. Ia berdiri di hadapanku yang sudah bugil dengan penis berdiri. Aku memang baru kali ini tidur bersama wanita, sehingga saat membayangkan tubuh Mbak Ninik penisku sudah berdiri.

"Ayo bukalah bajuku," kata Mbak Ninik.Aku segera membuka pakaian tidurnya yang tipis. Saat itulah aku benar-benar menyaksikan pemandangan indah yang belum pernah kualami. Jika melihat wanita bugil di film sih sudah sering, tapi melihat langsung baru kali ini.

Setelah Mbak Ninik benar-benar bugil, tanganku segera melakukan pekerjaannya. Aku langsung meremas-remas buah dada Mbak Ninik yang putih dan mulus. Tidak cuma itu, aku juga mengulumnya. Puting susunya kuhisap dalam-dalam. Mbak Ninik rupanya keasyikan dengan hisapanku. Semua itu masih dilakukan dengan posisi berdiri.

"Oh, Hen nikmat sekali rasanya.."Aku terus menghisap puting susunya dengan ganas. Tanganku juga mulai meraba seluruh tubuh Mbak Ninik. Saat turun ke bawah, tanganku langsung meremas-remas pantat Mbak Ninik. Pantat yang padat dan sintal itu begitu asyik diremas-remas. Setelah puas menghisap buah dada, mulutku ingin juga mencium bibir Mbak Ninik yang merah.

"Hen, kamu ahli juga melakukannya, sudah sering ya," katanya.
"Ah ini baru pertama kali Mbak, aku melakukan seperti yang kulihat di film blue," jawabku.Aku terus menciumi tiap bagian tubun Mbak Ninik. Aku menunduk hingga kepalaku menemukan segumpal rambut hitam. Rambut hitam itu menutupi lubang vagina Mbak Ninik. Bulu vaginanya tidak terlalu tebal, mungkin sering dicukur. Aku mencium dan menjilatinya. Tanganku juga masih meremas-remas pantat Mbak Ninik. Sehingga dengan posisi itu aku memeluk seluruh bagian bawah tubuh Mbak Ninik.

"Naik ranjang yuk," ucap Mbak Ninik.Aku langsung menggendongnya dan merebahkan di ranjang. Mbak Ninik tidur dengan terlentang dan paha terbuka. Tubuhnya memang indah dengan buah dada yang menantang dan bulu vaginanya yang hitam indah sekali. Aku kembali mencium dam menjilati vagina Mbak Ninik. Vagina itu berwarna kemerahan dan mengeluarkan bau harum. Mungkin Mbak Ninik rajin merawat vaginanya. Saat kubuka vaginanya, aku menemukan klitorisnya yang mirip biji kacang. Kuhisap klitorisnya dan Mbak Ninik menggeliat keasyikan hingga pahanya sedikit menutup. Aku terjepit diantara paha mulus itu terasa hangat dan nikmat.

"Masih belum puas menjilatinya Hen.""Iya Mbak, punyamu sungguh asyik dinikmati.""Ganti yang lebih nikmat dong."
Tanpa basa-basi kubuka paha mulus Mbak Ninik yang agak menutup. Kuraba sebentar bulu yang menutupi vaginanya. Kemudian sambil memegang penisku yang berdiri hebat, kumasukkan batang kemaluanku itu ke dalam vagina Mbak Ninik.

"Oh, Mbak ini nikmatnya.. ah.. ah..""Terus Hen, masukkan sampai habis.. ah.. ah.."Aku terus memasukkan penisku hingga habis. Ternyata penisku yang 17 cm itu masuk semua ke dalam vagina Mbak Ninik. Kemudian aku mulai dengan gerakan naik turun dan maju mundur."Mbak Ninik.. Nikmaat.. oh.. nikmaattt seekaliii.. ah.."Semakin lama gerakan maju mundurku semakin hebat. Itu membuat Mbak Ninik semakin menggeliat keasyikan.
"Oh.. ah.. nikmaatt.. Hen.. terus.. ah.. ah.. ah.."

Setelah beberapa saat melakukan maju mundur, Mbak Ninik memintaku menarik penis. Rupanya ia ingin berganti posisi. Kali ini aku tidur terlentang. Dengan begitu penisku terlihat berdiri seperti patung. Sekarang Mbak Ninik memegang kendali permainan. Diremasnya penisku sambil dikulumnya. Aku kelonjotan merasakan nikmatnya kuluman Mbak Ninik. Hangat sekali rasanya, mulutnya seperti vagina yang ada lidahnya. Setelah puas mengulum penisku, ia mulai mengarahkan penisku hingga tepat di bawah vaginanya. Selanjutnya ia bergerak turun naik, sehingga penisku habis masuk ke dalam vaginanya.

"Oh.. Mbak Ninik.. nikmaaatt sekali.. hangat dan oh.."
Sambil merasakan kenikmatan itu, sesekali aku meremas-remas buah dada Mbak Ninik. Jika ia menunduk aku juga mencium buah dada itu, sesekali aku juga mencium bibir Mbak Ninik.
"Oh Hen punyamu Oke juga.. ah.. oh.. ah..""Punyamu juga nikmaaat Mbaak.. ah.. oh.. ah..."Mbak Ninik rupanya semakin keasyikan, gerakan turun naiknya semakin kencang. Aku merasakan vagina Mbak Ninik mulai basah. Cairan itu terasa hangat apalagi gerakan Mbak Ninik disertai dengan pinggulnya yang bergoyang. Aku merasa penisku seperti dijepit dengan jepitan dari daging yang hangat dan nikmat.

"Mbak Ninik.. Mbaaakk.. Niiikmaaattt..""Eh.. ahh.. ooohh.. Hen.. asyiiikkk.. ahh.. ennakk.. nikmaaatt.."Setelah dengan gerakan turun naik, Mbak Ninik melepas penisku. Ia ingin berganti posisi lagi. Kali ini ia nungging dengan pantat menghadapku. Nampak olehku pantatnya bagai dua bantal yang empuk dengan lubang nikmat di tengahnya. Sebelum kemasukan penisku, aku menciumi dahulu pantat itu. Kujilati, bahkan hingga ke lubang duburnya. Aku tak peduli dengan semua hal, yang penting bagiku pantat Mbak Ninik kini menjadi barang yang sangat nikmat dan harus kunikmati.

"Hen, ayo masukkan punyamu aku nggak tahaan nih," kata Mbak Ninik.Kelihatannya ia sudah tidak sabar menerima hunjaman penisku."Eh iya Mbak, habis pantat Mbak nikmat sekali, aku jadi nggak tahan," jawabku.Kemudian aku segera mengambil posisi, kupegang pantatnya dan kuarahkan penisku tepat di lubang vaginanya. Selanjutnya penisku menghunjam dengan ganas vagina Mbak Ninik. Nikmat sekali rasanya saat penisku masuk dari belakang. Aku terus menusuk maju mundur dan makin lama makin keras.

"Oh.. Aah.. Hen.. Ooohh.. Aah.. Aaahh.. nikmaaatt Hen.. terus.. lebih keras Hen...""Mbak Ninik.. enak sekaliii.. niiikmaaatt sekaaliii.."Kembali aku meraskan cairan hangat dari vagina Mbak Ninik membasahi penisku. Cairan itu membuat vagina Mbak Ninik bertambah licin. Sehingga aku semakin keras menggerakkan penisku maju mundur.Mbak Ninik berkelonjotan, ia memejamkan mata menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Rupanya ia sudah orgasme. Aku juga merasakan hal yang sama.

"Mbak.. aku mau keluar nih, aku nggak tahan lagi.."
Kutarik penisku keluar dari lubang duburnya dan dari penisku keluar sperma berwarna putih. Sperma itu muncrat diatas pantat Mbak Ninik yang masih menungging. Aku meratakan spermaku dengan ujung penisku yang sesekali masih mengeluarkan sperma. Sangat nikmat rasanya saat ujung penisku menyentuh pantat Mbak Ninik."Oh, Mbak Ninik.. Mbaak.. nikmat sekali deh.. Hebat.. permainan Mbak bener-bener hebat..""Kamu juga Hen, penismu hebat.. hangat dan nikmat.."

Kami berpelukan di ranjang itu, tak terasa sudah satu jam lebih kami menikmati permainan itu. Selanjutnya karena lelah kami tertidur pulas. Esok harinya kami terbangun dan masih berpelukan. Saat itu jam sudah pukul 09:30 pagi.

"Kamu nggak sekolah Hen," tanya Mbak Ninik."Sudah terlambat, Mbak Ninik tidak bekerja.""Aku masuk sore, jadi bisa bangun agak siang.."Kemudian Mbak Ninik pergi ke kamar mandi. Aku mengikutinya, kami mandi berdua dan saat mandi kembali kami melakukan permainan nikmat itu. Walaupun dengan posisi berdiri, tubuh Mbak Ninik tetap nikmat. Akhirnya pukul 14:30 aku pergi ke rumah Baron dan mengambil kunci rumahku. Tapi sepanjang perjalanan aku tidak bisa melupakan malam itu. Itulah saat pertama aku melakukan permainan nikmat dengan seorang wanita.

Kini saat aku kuliah dan bekerja di Denpasar, aku masih sering mengingat saat itu. Jika kebetulan pulang ke Jember, aku selalu mampir ke rumah Mbak Ninik dan kembali menikmati permainan nikmat. Untung sekarang ia sudah pindah, jadi kalau aku tidur di rumah Mbak Ninik, orang tuaku tidak tahu. Kubilang aku tidur di rumah teman SMA. Sekali lagi ini adalah kisah nyata dan benar-benar terjadi.

Gara-gara Duit Gocap  

1 komentar

Seorang suami yang sedang asik dengan istrinya,
tiba-tiba dikagetkan dengan gedoran pintu anaknya.
"Paakkk..bapak, minta duit gocap dong, buat beli layangan..."
Terpaksa, ia menahan diri sedikit.
Gagal deh hari ini, pikirnya.

Besoknya, ia mulai lagi.
Pada saat udah setengah tiang,
tiba-tiba anaknya menggedor pintu lagi.
"Pakkkkkk, minta duit dong, buat beli layangan,
mosok gocap aja nggak di kasih..."
Jengkel dia, terpaksa hari ini juga gagal lagi.

Besoknya, diulangi lagi,
kali ini pas lagi hampir-hampir - hhheeeh..- tiba-tiba anaknya
nggedor pintu lagi, kali ini lebih keras.
"Paaaakkkk, minta duit gocap dooooong, buat beli layangan..!!"
Tapi, rupanya si bapak ini udah nggak bisa nahan lagi.
Pikirnya, ah biarin aja, bodo amat, nanggung nih...
Pada saat hampir puncaknya, tiba-tiba pintu didobrak.
Terpaksa deh, ia cabut dan "melezit" pada saat di luar.
Si bapak ini langsung dengan jengkelnya ngomel,
"Lihat tuh, gara-gara duit gocap, adikmu bececeran di dinding..!!!!"