16 April 2008

Cerita Panas Sekretarisku Tercinta  

0 komentar

Telah seminggu Rita menikah dengan laki-laki pilihan orang-tuanya. Resepsi pernikahannya di Balai Kartini cukup meriah, dan aku datang dengan isteriku untuk menyampaikan selamat. Ketika aku menyalaminya, dia tertegun dan terasa agak kikuk dan serba salah, akupun merasakan hal yang sama. "Terima kasih ya Pak" katanya hampir tak terdengar. Di hatiku berkecamuk seribu macam pikiran, tapi kuusahakan untuk tetap wajar. Ritaku begitu cantik dan anggun dengan pakaian pengantinnya. Aku membayangkan bahwa sebentar lagi Rita kekasihku, isteriku, yang beberapa tahun telah memadu cinta denganku akan menjadi isteri orang.

Meskipun aku tahu bahwa dia tetap mencintaiku, tapi secara resmi dia akan menjadi isteri orang lain, tentu tidak akan sebebas dulu ketika dia masih single. Sebentar lagi Rita akan tidur berdua-duaan dengan lelaki lain, mungkin untuk selamanya, karena akupun tak ingin dia menjadi janda dan kalau Rita menjadi janda tentuk akan menjadi gunjingan orang. Tidak, aku tak rela Ritaku menjadi gunjingan orang. Sekilas aku berpikir untuk mengakhiri saja hubunganku dengan Rita, karena dia telah menjadi isteri orang, tapi apakah bisa semudah itu aku melupakannya??? Dunia rasanya sepi dan kejam.................., dan aku melangkah gontai meninggalkan pesta perkawinannya yang masih penuh tawa dan canda teman-teman dan keluarganya.....................

Beberapa hari setelah pernikahannya aku membenamkan diri dengan pekerjaanku, siang dan malam kusibukkan diriku dengan pekerjaan dan mengurus anak-anaku. Aku tak mau membayangkan, dan memang tak sanggup membayangkan sedang apa Rita beberapa hari setelah pernikahannya. Aku cemburu, marah, masgul, gundah jika membayangkan dirinya sedang bersenang-senang dengan suaminya yang tentunya sudah tak sabar ingin menikmati kemontokan dan kemulusan tubuh Rita, yang sudah resmi jadi isterinya. Aku membayangkan Rita telanjang bulat bersama suaminya, manja...., bersenggama bebas tanpa takut oleh siapapun....dan melenguh mesra seperti ketika bersenggama denganku.

Tiba-tiba aku sangat benci padanya, aku menganggap Rita nggak setia padaku, Rita telah mengkhianati cintaku, buktinya dia mau saja digilir oleh lelaki lain. Apakah itu yang namanya cinta dan kesetiaan???.
Aku bertekad untuk menjauhinya mulai sekarang, dan aku tak akan menerima tilponnya. Rita memang berjanji akan menilponku paling lambat satu minggu setelah dia menikah dan sebelum ikut suaminya pindah ke Bandung. Tidak!!! aku tak akan menerimanya jika dia menilponku, biar dia tahu rasa......, aku tak mau bekas orang lain. Benar saja, pada hari kelima setelah kawin dia menilponku. "Pak, ada tilpon" kata sekretarisku yang baru, pengganti Rita. Anehnya, meskipun dia berparas lumayan, aku tak tertarik sama sekali dengan sekretaris baruku itu. Aku memang bukan type "playboy" yang sekedar mau iseng bercumbu dengan perempuan. Aku hanya jatuh hati dua kali seumur hidupku, kepada isteriku dan kepada Rita. "Pak, kok melamun, ada tilpon dari Ibu Rita, katanya bekas sekretaris bapak" sekretaris baruku kembali mengagetkan lamunanku. "Ooh..ya...ya..sebentar Rani..., emh..dari siapa? Rita? bilang saja Bapak sedang ke luar kantor ya!!" aku mengajari dia bohong. "Lho, pak, kenapa? kan kasihan Pak, katanya penting sekali, dan besok Ibu Rita mau pindah ke Bandung". Rani, sekretaris baruku itu mulai mendesakku untuk menerima saja tilpon Rita itu. Aku sejenak merasa bingung, aku rasanya masih benci...tapi juga sangat rindu sama Rita, apalagi kata Rani besok akan jadi pindah mengikuti suaminya yang bekerja di Bandung.

Setelah berfikir sejenak..."OK, Rani...sambungkan kesini!!!" dan aku agak gugup untuk kembali berbicara dengan Rita, untuk kembali mendengar suaranya, Rita yang sekarang sudah menjadi isteri orang lain. "Hallooo..., siapa nich???" kataku agak malas."Papah, ini Rita pah, papah kok githu sih?" jawab Rita diujung sana. "Oh, Nyonya Prayogo,saya kira Rita Prameswara kawanku." kataku menggoda. "Nggak lucu ah..., Mamah sekarang tanya serius, apa Papah mau nemui mamah nggak sebelum besok mamah pindah ke Bandung?" jawabnya lagi setengah mengancam. Aku bingung juga ditanya begitu, sebab jauh di dalam hatiku sebenarnya aku rindu berat sama Rita, tapi kebencian dan kekesalan masih menempel erat dibenaku. Beberapa jenak aku nggak bisa menjawab sampai Rita nyerocos lagi. "Mamah ngerti Papah masih kesal dan benci sama Mamah, tapi kamu kan sudah setuju kalau mamah terpaksa harus kawin, demi kebaikan hubungan kita dan demi menjaga nama baikmu juga. Papah....dengar! mamah sudah seminggu nggak menstruasi lagi sampai sekarang. Ingat hubungan kita di Hotel Sahid terakhir kali? Sudahlah, nanti mamah ceriterakan lebih lengkap, sekarang mau nggak jemput mamah di toko biasa di Blok M? Soalnya mumpung si Yudi pulang agak larut malam." Nama suaminya memang Yudi Prayogo dan hanya selisih dua tahun dengan Rita, katanya sih ketemu di kursus inggris LIA. Hatiku mulai melunak mendengar pengakuannya dan serta merta aku menyetujui untuk menjemputnya di Blok M. Aku memarkir mobilku di tempat parkir yang agak memojok dan sepi, maklum kami harus semakin berhati-hati, karena Rita sudah menjadi isteri orang. Rita segera hafal melihat mobilku dan setelah Rita duduk disampingku, segera kukebut lagi keluar Blok M menuju ke utara melewati sisingamangaraja, sudirman, naik jembatan semanggi terus memutar ke jalan jenderal subroto dan dengan cepat masuk ke halaman parkir Hotel Kartika Chandra. Rita terlihat lebih cantik, sedikit gemuk dan tambah bersih dan putih mukanya. Rambut dan bulu-bulu halus disekitar jidatnya terlihat hilang, mungkin karena dikerok oleh perias pengantinnya. Dia mengenakan celana panjang merah dan T-Shirt putih kembang-kembang ditutupi blazer warna hitam. Terlihat serasi dengan kulitnya yang putih bersih. Banyak yang nyangka dia keturunan Tionghoa, padahal Jatul. Tahu jatul? Jatul itu "JOWO TENAN" atau "JAWA TULEN". Ibunya dari Purwokerto dan bapaknya dari Surakarta, katanya sih masih kerabat Kesultanan Surakarta, masih trah langsung RAJA PAKU BUWONO. Setelah chek-in sebentar, aku sudah berdua-dua dengan Rita di kamar hotel, dan untuk pertama kalinya aku berduaan dengan isteri orang. Ada perasaan berdosa menyelinap di hatiku.Tapi semuanya menjadi hilang karena betapa besarnya cintaku pada Rita. Juga sebaliknya, jika Rita tak mencintaiku, mana mungkin dia berani bertemu dengan lelaki lain padahal dia baru kawin lima hari lalu?.

"Papah, Rita sedang mengandung janin anakmu...., biasanya tanggal lima minggu lalu mamah menstruasi ternyata nggak keluar sampai sekarang." Rita menambahkan keterangannya tadi ditilpon, dan aku semakin cinta dan sayang rasanya.Tapi tetap saja ingin menggodanya dan ngetes cintanya padaku. "Oh, ya, hampir lupa, gimana donk bulan madunya kemarin, ceritain dong Rit! pasti seru dan rame dengan lenguhan. Dan apa suamimu nggak ribut tanya perawanmu kaya Farid Hardja?". Rita mendelikan matanya dan mencubit pahaku keras sekali. "Percaya atau tidak terserah papah, yang pasti nggak ada lenguhan, nggak ada goyangan, persis kaya gedebong pisang. Si Yudi memang sempat marah-marah karena mungkin mamah ternyata begitu dingin dan nggak gairah. Tapi memang nggak bisa dipaksakan. Mamah hanya bergairah kalau bersenggama dengan papah.Dia nggak nanya tuh, kenapa nggak ada darah perawan mamah di sprei....ah..udah..udah!!! nggak usah tanya gitu-gituan lagi. Nanti malah berantem terus. Pokoknya mamah sayaaaaaang bener sama papah, nggak ada duanya deh". Seperti bisa dia mulai mencopoti pakaianku satu persatu, sampai CD-ku dia pelorotin juga. Begitu dibuka CD-ku, kontolku langsung bergerak liar dan setengah tegang begitu tersentuh tangan halus Rita. Tak buang waktu lama, Rita melemparkan semua pakaiannya ke lantai karpet sampai terlihat bodinya yang sexy, putih mulus dengan puting susu yang semakin ranum. Mungkin pengaruh dari kehamilannya meskipun baru beberapa hari mengandung anakku. Kontolku yang masih setengah tertidur langsung dikulumnya ke dalam mulutnya dan diisapnya dalam-dalam, padahal aku masih berdiri seperti patung dengan bersandar ketembok. Dengan ganas dia mengisap, menggigit dan menyedot kontolku dalam-dalam sampai kontolku mentok ke langit-langit mulutnya. Tak lama kontolku langsung tegang dan memerah dan mengkilap bercampur ludahnya.

"Oooooooooggghhh... maaaaaahhhh.... terus maaaahhh... jilaaaaat.... ooogghhhhh...".Aku mulai terangsang dan kenikmatan setiap kontolku diisapnya. Rita memang suka sekali menjilat dan ngisep kontolku, tapi ketika kutanya apakah dia juga ngisep kontol suaminya, dia bilang amit-amit, nggak nafsu katanya. Mulut Rita pindah mengisap dan menjilat pelerku, dia juga senang menggigit-gigit dua bakso pelerku, sampai aku kesakitan campur geli dan nikmat bukan kepalang. "Oooooghhh... maaaaahhh.... jangan digigiiit, papah sakiiiiiittt". Aku minta Rita berhenti dulu mengulum batang kontolku, aku juga udah rindu untuk menjilat nonok dan itilnya. Kuminta Rita tiduran di pinggir tempat tidur empuk itu dengan kaki terjuntai kebawah, dengan begitu aku bisa duduk di tengah-tengah selangkangannya. Nonok dan itilnya terlihat jelas kalau begitu.Oh, begitu indah dengan warna merah jambu itil dan lubang nonoknya terlihat jelas dihadapan mukaku. Kujilat dengkul dan pahanya, terus merayap kujilati selangkangannya yang mulus, sesekali kujilatkan lidahku ke lobang pantat, itil dan lobang nonoknya, Rita melenguh-lenguh tertahan. "Oooooghhh, papaaaaaahhh.... eeemghh, aduuuuuhh..., teruuuuuuuss... paaaaaahhh..... ooooooooghhh..... enaaaaaaakkk".
Kalau Rita sudah mulai melenguh begitu aku semakin bernafsu untuk terus menjilat, mengigit dan menyedot-nyedot itil dan lobang nonoknya sambil menyedot air maninya yang mulai meleleh keluar dan lobang nonoknya. Oh, nikmat....manis dan sedikit asin, kaya kuah asinan bogor. Kukeraskan lidahku supaya semakin tegang dan kutusukan kedalam lobang nonoknya, Rita semakin melenguh keenakan, karena mungkin lidahku terasa seperti kontol menyodok-nyodok semakin kedalam lobang nonoknya.Cairan nonoknya semakin banyak keluar dan kuisap dan kutelan dengan nikmat. Kadang-kadang jembut Rita ada yang putus dan ikut termakan. "Paaaaaaaaaahhhh..... ooooooooghhh.... paaaaaaahhh..., enaaaaakkk, teruuuuuuuuusss.... paaaaaahhh... oooooooooooggghhh... aduuuhh...." Rita semakin rame, barangkali suaranya terdengar tamu di sebelah atau room-boy yang sedang lewat. Kujilatkan lidahku ke lobang pantatnya berkali-kali Rita bergelinjang kegelian."Papaaaaahhh... geliiiiiii...". Kontolku menggesek pahanya yang mulus sehingga semakin tegang."Paaaahhh....kontolnya geli tuch di paha mamah, udahan dulu ngisepnya sayang...., kesini deh, cium mamah dan masukin kontolnya".

Kuhentikan jilatan lidahku, memang sudah mulai pegal juga menegangkan lidahku hampir seperempat jam. Kugeserkan badanku keatas, sejajar dengan tubuh Rita dan sambil kulumat mulutnya dalam-dalam kugesekan kontolku ke nonoknya yang basah, oh... betapa nikmatnya. Kukulum dan kugigit lidahnya. Rita menjerit tertahan, kemudian kujulurkan juga lidahku dan dia balas menggigit lidahku dengan bernafsu. Aku gantian teriak, sampai keluar sedikit air mata. Untung kenang-kenangan kalau Rita di Bandung katanya. Kujilati kupingnya, jidatnya, hidungnya, matanya sampai Rita menggelinjang-gelinjang ketika kujilati dan kugigit kupingnya. "Tuuuuhh..paah lihat, sampai merinding..."katanya manja. "Paaaaahhh, masukin kontolnya paaaahhh, mamah udah rinduuu".

Rita melenguh manja. Rita merenggangkan selangkangannya untuk membuka lobang nonoknya lebih lebar lagi. Kontolku yang tambah keras nyasar-nyasar lobang nonoknya setelah menembus bulu-bulu memeknya yang mulai basah dan "Bleeeeeeeeeeeeesssss....." Rita berteriak keenakan sambil menggigit bibirku. "Pppaaaaaaaaaahhhh..., ooooooooogghh...., pelaaan pelaaaannn... dooooongg..". Matanya terpejam, nafasnya yang harum dan bau mulutnya yang wangi masuk semua terhirup oleh hidungku. Kutarik dan kutekan kontolku semakin kuat dan sering....., keringatku semakin bercucuran, mungkin berkat bir hitam cap kucing yang kuminum sebelum ngewe dengan Rita tadi. Rita juga semakin mengencangkan goyangan pinggul dan pantatnya turun naik sampai aku merasakan kepala kontolku mentok di ujung lobang nonoknya. "Paaappaaaaaaahhh...... ooooooogghhhh.... teruuuuusss, entot mamaah paaaaaahhh..., mamaaahh cintaaa, mamaahh..sayyy....oooghhh..aduuuhhh....aaaanggg.." Rita semakin rame mengerang dan melenguh tak perduli suaranya akan didengar orang.

Aku minta Rita nungging setelah kucabut kontolku. Rita nurut dan wow, aku selalu semakin bernafsu kalau melihat pantat dan pinggul Rita yang mulus dan sexy. Sambil setelah jongkok, aku menyodokan kontolku dari belakang setelah membuka lobang nonoknya sedikit dengan tanganku dan......"Bleeeeeeeeeezzzzzz" Rita berteriak keenakan."Aaaaaaaggghhhh....., oooghhhh... paaaaahhh..... terus genjot paaaahhhh... woooowww.... enaaaaakkkk paaaaaaahhhh...." aku semakin mengencangkan sodokan kontolku. Rita melenguh, merintih dan teriak-teriak kecil sementara itu keringat kami semakin bercucuran membasahi seprei. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa setiap mempraktekan ngentot dengan gaya "doggy style" sehingga spermaku mulai meleleh keluar, semakin meramaikan bunyi gesekan kontolku dengan nonok Rita. Rita semakin menunggingkan pantatnya sehingga kontolku semakin amblas di dalam nonoknya. Rasanya air maniku sudah mengumpul di kepala kontolku menunggu dimuntahkan habis. "Maaaaaaahhhh... oooghhhh.... aduuuuuhhhh... maaaahhh, nonoknya enaaaaakk...., punya papah yaa sayaaang....." Rita menjawab sambil merintih "Iyaaaaa... sayaaangg, semuanya punya papaaaahhh". Kusodokkan kontolku semakin dalam. "Maaaaahhh.... adddduuuuuhhh.... papaaahhh... mooookeluaaarr!!!....cabut dulu ya maaaahh...". Rita setuju dan segera terlentang kembali.Aku segera menggumulinya dari atas badannya, kulumat pentil buah dadanya. Rita kenikmatan dan minta kontolku segera dimasukan kembali ke nonoknya. Dia minta aku merasakan kenikmatan bersenggama dengannya, sampai nanti bertemu lagi di Bandung dengan segala cara. Kumasukan kembali kontolku ke nonoknya yang semakin basah dengan cairan sperma kami yang sudah bercampur satu.

"Bleeeeeeeesssszzz, crrrooockkk.... chhhooozzzkkk.... breeeeesszz... crrrockkkkk.... bunyinya semakin gaduh. Rita semakin membabi buta mengoyang dan menaik-turunkan pinggulnya dan aku juga demikian. Kutekan dan kucabut kontolku yang panas dan keras ke lobang nonoknya. Ingin rasanya kutumpahkan semua sperma dan pejuhku ke lobang nonok dan rahim Rita supaya anakku semakin sehat dengan tambahan vitamin dan mineral dari sperma bapaknya. Supaya kegantengan dan kepinterannya juga turun ke anakku yang ada di dalam rahim Rita. Tiba-tiba kami rasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, kami meregang dan melenguh bersama-sama merasakan syorga dunia yang tiada taranya, meregang, meremas dan memeluk erat-erat dua badan anak manusia yang saling menyinta dan seakan tak mampu terpisahkan. Rita mengejang badannya dan menggigit bibir dan lidahku, pinggulnya terangkat sambil berteriak. "Papaaaaaaaahhh..... oooooooghhh... mamaaaaaaaah. oooghhhh. keluaaar.....sayaaaangg" sambil mencubit dan mencakar punggungku. Mendengar lenguhan dan teriakan ejakulasi Rita akupun mulai tak tahan menahan desakan air maniku di kepala kontolku dan sambil menekan dalam-dalam kontolku di nonoknya aku berteriak sambil mengejang, kugigit lidahnya "Maaaaaaaahhhhh...... oooooggghhhh... papaaaaahh... jugaaaa..... keeelluuuuaaaaaaarrr.... oooghhhh...... sayaaaaaanggg.... nikmaaaaattt". Kami tertidur sejenak sambil berpelukan dengan mesra dan tersenyum puas, waktu sudah menunjukan jam delapan lewat lima menit, berarti kami ngentot selama hampir dua jam lamanya. Oh, betapa nikmat dan puasnya. Aku memeluk dan menciumi Rita erat-erat seolah tak ingin berpisah dengan kekasihku dan isteriku tercinta, karena besok dia sudah akan pindah ke Bandung. Rita berjanji untuk memberitahukan nomor tilpon rumahnya di Bandung dan aku diminta untuk datang paling tidak seminggu sekali.

What next?

You can also bookmark this post using your favorite bookmarking service:

Related Posts by Categories