18 April 2008

Cerita Panas Pertama Kali Bercinta  

2 komentar

Mamaku berusia 51 tahun ketika peristiwa itu terjadi. Mama telah menjanda karena Papa telah meninggal dunia. Mama menurut kata orang cantik dalam usianya yang setengah baya. Dari semua sex appealnya yang paling menonjol adalah rambutnya yang terurai panjang sampai dipantatnya yang montok.

Sebagai anak tunggal,aku merupakan tumpuan harapan Mama walaupun prestasiku sebagai mahasiswa biasa saja. Malam itu aku pulang mabuk berat karena hobbyku memang minum. Ini yang bikin Mama sering sedih,tetapi aku tetap tidak berhenti karena terpengaruh teman. Aku masuk kamar dan terus bermaksud tidur.

Tiba tiba Mama masuk kamarku sambil menyisir rambutnya yang panjang itu.Rupanya Mama mendengar suara aku menutup pintu depan. Mama bertanya apakah aku baik baik saja,karena mengapa langsung masuk kamar tanpa berkata apa apa kepada Mama. Karena aku diam saja,Mama kemudian duduk dipinggir tempat tidurku,tangannya yang kanan diletakkan disamping pinggang kananku,duduknya disebelah kiriku,jadi Mama seolah olah berada diatas badanku.

Rambutnya tergerai diatas badanku,dan tangan kirinya mengusap kepalaku setelah meletakkan sisir dimeja kecil disamping tempat tidurku.Aku memandang Mama dikeremangan kamarku yang disinari lampu tidur dimeja kecil. Aku terkesima soalnya Mama dandanannya seronok dengan make up yang tebal,bibirnya yang merah bergincu. Ternyata Mama baru pulang dari undangan bersama tetangga sebelah kepesta perkawinan anak kenalannya. Aku bilang Mama cantik sekali, dan Mama hanya tersenyum sambil tetap mengusap rambutku.

Tanpa sadar aku pegang tangannya yang kanan dan mengusapnya. Rambut Mama yang lebat itu memancarkan bau harum hairspray yang membangkitkan birahiku. Mama malam itu dimataku seperti geisha yang siap melayani pelanggannya. Karena kami berdua diam,aku mulai berani mengelus rambut hitam lebat yang tergerai diatas dadaku. Kontolku mulai ngaceng meraba rambutnya yang menggerai tebal itu. Tangan kiriku pelan pelan aku angkat mengelus pipinya yang berbedak tebal karena make upnya. Uh aku tak tahan ingin mencumbu perempuan ini dihadapanku ,seperti cerita Sangkuriang yang jatuh birahi dengan ibu kandungnya. Mulutku terbuka dan sedikit menganga menahan birahiku.

Entah mengapa Mama tiba tiba menunduk dan mencium keningku. Aku tak tahan lagi dan membalas menciumnya tetapi dibibirnya sambil tangan kiriku meraih lehernya. Mama agak berontak tetapi kemudian hanyut dengan kelembutanku menciumnya. Mama aku rebahkan didadaku dan kami mulai berciuman seperti sepasang kekasih,lembut tanpa ada keterpaksaan. Mama akhirnya aku tindih dengan tetap mencium bibirnya.Rambutnya terbusai busai diatas tem pat tidurku.

Aku mulai melepas celanaku dan bajuku,yang karena susah membukanya akhirnya beberapa kancingnya copot. Aku akhirnya telanjang menindih Mamaku yang tangan kiri dan kanannya erat mencengkeram sprei tempat tidurku. Matanya agak terpejam dan mukanya menengok kekiri atas sewaktu aku menjilat dan menggigit leher kanannya. Susunya yang mulai agak kendor itu aku remas lembut, dan memang tetek Mama cukup besar.

Mama melenguh seperti orang kesakitan,pinggulnya menggisar gisar selangkangku. Sambil mengemot teteknya,aku turunkan celana dalam Mama. Mama ditengah nafsunya hanya bisa berbisik pelan melarangku,tetapi sepertinya merestuiku untuk mencopot celana dalamnya. Aku meraba memeknya dan mengelus itilnya,yang ternyata sudah mulai berair.

Aku akhirnya minta ijin Mama untuk memasukkan kontolku kememeknya. Mama hanya menggumam tidak jelas ketika ujung kontolku sudah berada dimulut memeknya yang agak basah. Tanpa tertahan lagi Mama menangis tersedak sedak ketika aku mulai mengentotnya,anak kandungnya yang kurang ajar ini. Baru kali inilah aku meraskan jepitan memek wanita,yang juga kebetulan ibu kandungku,setelah setiap kali aku hanya mampu beronani membayangkan ngentot wanita. Aku memang kadang kadang membayangkan ibuku,Mamaku yang sexy, bahkan sampai mimpi basah.Sekarang impian telah menjadi kenyataan.

Persetubuhan dengan Mama akhirnya hampir mencapai puncaknya dan aku menggemgam erat rambut dibelakang kepalanya sampai Mama terdongak kepalanya kebelakang. Sambil dengan gemas kugigit lehernya,spermaku memancar deras kememeknya. Oh,aku telah menyetubuhi pertama kali wanita cantik yang juga Mamaku tercinta. Malam itu Mamaku adalah kekasihku,lonteku dan sekaligus guruku. Aku berbisik "Mmaahh, nanti minta lagi ya....", Mama hanya senyum dikulum sambil memelukku.

Cerita Panas Persetubuhan Multi Ras  

1 komentar

Hari ini merupakan hari ketiga gue berada di Singapura. Setelah sekian tahun meninggalkan kota ini untuk belajar di Amrik, banyak perubahan disana-sini. Stasiun MRT (kereta bawah tanah)-nya sudah nambah, terus banyak gedung yg tadinya aku belum pernah lihat.

Hal yg gue suka dengan kota ini, di beberapa tempat tertentu, kita bisa liat aneka ragam ras dan bangsa tumplek, duduk di satu meja ngomongin apa aja tanpa ada perasaan curiga atau apa-apa. Ya.. ada sih di tempat-tempat lain yg mungkin agak terkelompok-kelompok. Tapi mereka juga bisa hidup bareng sama-sama, saling ngormatin yg lainnya. Di sini, orangnya bisa dibagi dalam tiga kelompok ras utama, yaitu Chinese, Indian dan Malay. Aku bingung juga kadang-kadang, masuk yg mana. Orang bilang gue malay, cuman aku khan Indonesia-asli, tepatnya Sunda-Minang. Bukannya beda tuh kultur-nya sama melayu (maksudnya yg ada di Riau atau Malaysia). Berhubung aku kulitnya sawo matang, dan bisa ngomong melayu donk (maksudnya bahasa Indonesia sih), ya.. Ok ok aja kalo dibilang Malay.

Gue dapat tawaran kerja disini, jadi creative director sebuah perusahaan pembuat efek-efek special untuk film dan video. Lumayan, gede juga gajinya. Jadi ini hari aku bakal dikenalin dengan rekan-rekan kerja di sana. Sampai di dalam studionya, ada 4 cewek duduk di lantai (lesehan kali..) dan 2 cowok berdiri. Ternyata salah satu cowok itu bos-gue. "Hi Marta, how are you, man ?", gile nih si bos, main pakai "man-man" segala. Biar di bilang muda kali ya (udah 50-an padahal). "Halo bos, baek-baek aja" (gue terjemahin dari Inggris deh). Trus si bos langsung aja ngenalin yg lain. "Marta, ini rekan-rekan kamu. Yg ini David, sound engineer"

gue salami si cowok ini. Kayaknya asli Singaporean. Trus cewek-cewek yg lagi lesehan, kalau dilihat bener-bener kayak United Nations aja, soalnya yg satu malay, satu chinese, satu Indian, dan satu lagi bule. Namanya Dirah, Catherine, Zarah, dan Carol. Semuanya Singaporean, kecuali tu bule yg asli Australia. Kok pada cekikian ya.. apa gue yg GR.. Akhirnya ngobrol-ngobrol , trus bos dan David pulang, kebetulan emang udah jam pulang kantor. Tapi ternyata ini empat cewek pada pingin ngajakin aku makan malam. Gila, baru kenal udah main tarik aja. Aku bilang David dan bos ikut nggak, mereka cuman bilang yg lain ada urusan lain di rumah masing-masing. Ya udah jadi deh kita pergi ke Clark Quay, tempat makan yg ada sate ayam-nya. Ternyata ini empat cewek asyik-asyik juga. Si Dirah lumayan manis, kulitnya sawo matang kayak aku. Alisnya dilancipin. Tingginya sekitar 160, agak mungil tapi berisi. Sedang Catherine yg chinese kulitmya putih bersih, cakep juga dengan badan semampai, !dan rambut digerai sebahu. Kalo si Zarah, bener-bener kayak Miss India, seksi dan bohai. Persis kayak yg nyayi Made in India, cuman agak coklat sedikit kulitnya. Sedang si Carol, ternyata rada pendiem, tapi kelihatan orangnya pinter. Pake kacamata, rambut brunette dikepang kuda, kayak anak sekolahan, tapi paling tinggi diantara semuanya. "Eh, kamu orang Indonesia mana sih ? kok kayaknya ada bule-bulenya dikit ya, mata kamu kok rada coklat terang gitu ?" tanya si Dirah. Tau deh, mungkin dari darah Minangya, soalnya beberapa saudara gue juga ada yg rambutnya merah, dan mirip bule. "Kucing kali," gue sahut. Mereka ketawa.

Selesai makan ternyata mereka ngajakin ke rumah Catherine yg tinggal sendirian. Rencananya pada mau nginep, soalnya kita memang belum bakal masuk kerja sampai minggu depan (ada perbaikan fasilitas komputer grafis-nya). "Nginep donk, Marta," kata si Catherine manja. Busyet deh, kok perasaan jadi deg-deggan begini, dikerumuni empat cewek, malam-malam diajekin nginep bareng-bareng. Mimpi apa nih.. "Liat aja nanti" kata gue. Ternyata tempatnya Catherine asyik juga. Soalnya ini termasuk Condo, luasnya biasa aja sih, cuma tata-ruangannya kayak apartment di New york aja, modern tapi stylish. "Mau minum apa, Bir mau ?" si Catherine ternyata udah ambil lime kaleng Calsberg. "Loh, kamu minum juga ya, Dirah ..?" tanya gua ke si malay manis. "Ya kadang-kadang" katanya dengan senyum nakal. Carol malah nyari wine di dapur. Ya udah, jatahnya gua ambil aja. Kita masih ketawa-ketawa abis ngeliat acara TV malam, itu tuh, tayangan ulang "Three Stooges". Abis itu si Zarah, yg ternyata ud!ah ngabisin 3 kaleng, ngajakin bikin permainan. "Yuk, kita main puter botol (turn the bottle), yg kena harus cium yg muter botol, dan nanggalin selembar pakaiannya," kata ini-India seksi sambil cekikikan. Ternyata pada setuju banget, termasuk Carol yg gue kira pemalu, tapi ternyata teriak paling kencang. Ya udah , pasrah deh.. Kalo udah cewek-cewek berkuasa, susah diajak omong. Giliran Dirah, pertama. Dia puter ternyata kena si Carol. Hehehe.. ngakak juga gua. Rasain lu, harus cium bibir cewek. Ternyata si Dirah semangat banget nyium bibir Carol sambil nanggalin Jacket rompinya. Lalu Catherine, eh ternyata gua kena. Iya langsung deh gua di daulat buka baju, iya gua buka dulu, kemudia gue kecup sopan aja bibir si Catherine. "mmh.. what a gentlemen" gumam si Catherine sambil ngelus-ngelus kepala gue. Giliran kena giliran ternyata gue yg paling apes. Sekarang tinggal celana boxer yg nempel di tubuh. Carol masih ada jeans dan kutang. Catherine tetap pakai T-shirt, walau tinggal ce!lana dalam doank di baliknya. Dirah dan Zarah udah lepas baju dan celana, tapi masih ada CD dan kutang.

"C'mon.. c'mon.. tunjuk ke Marta," kata Catherine yg dapat giliran. Kayaknya ini cewek paling semangat banget dari gelagatnya. Eh, ternyata bener. Abis deh gua, udah nggak pake CD lagi. "Mau cium dulu apa gua buka celana dulu" tanya gue. "Buka duluuu" kata mereka bareng sambil ngakak cekikikan. Ya udah gue pelorotin dan kelihatan kemaluan gua yg sudah disunat, masih tidur tapi rada berisi (mungkin gara-gara minum kali). "whoa.. not bad" kata Zarah mesem-mesem. Si Carol langsung usap-usap kacamatanya. Sedang Dirah cuman bisa cekikikan. "Ok, Marta.. come here." kata Catherine. Gue nurut aja. Kali ini ternyata Catherine langsung menjambak rambut gua sambil bibirnya ngulum dengan kasar bibir gue. Gile nih cewek, kesurupan apaan tuh. Lalu badan gue di dorong kelantai, sambil tangannya kanannya masih megang rambut gua dan tangan kirinya mencengkram pergelangan tangan gua Gue ditindih ama dia. Tercium bau parfum chanel kecampur bau keringat. Dada ketemu dada, selangkannya tep!at diatas kemaluan gua, bergesekan. Yg lain ternyata ngeliatin aja dengan mesem-mesem. "Marta,.. " desah Catherine sambil terus menggesekan badannya ke badan gue. Tau-tau si Zarah ikut nimbrung. Dia langsung nanggalin CD & kutang hingga telanjang bulat. dan mendekati kearah gua. "Cath, saya juga mau cium dia" katanya. Lalu Catherine mengalihkan mulutnya ke leher gue, sambil menggigit-gigit kecil. Badan Catherine yg putih berpadu dengan kulit Zarah yg coklat muda, itu saja yg bisa terlihat oleh gue. Lalu Zarah langsung mengulum, sambil memasukkan lidahnya ke dalam mulut gua. Tangannya memegang tangan gue yg satu lagi, jadi cuman kaki gua aja yg bebas bergerak. Tiba-tiba terasa biji kemaluan gua ada yg narik-narik. Gue lirik, ternyata Dirah. Dielus juga batang gue yg sudah kehimpit badannya Catherine. Gue udah nggak bisa mikir apa-apa lagi. Catherine yg mukanya kelihatan memerah, membuka CD-nya. "Marta, touch me.." kata dia sambil membimbing tangan gue kemaluannya. Basah sekali,!.. warnanya merah muda dikelilingi rambut yg nggak begitu banyak. Dari pahanya bisa kelihatan urat-urat nadi biru dibalik kulitnya yg putih mulus. Kemaluan gue sekarang sudah tegang sekali. Dirah melihat ini langsung menyambar dan memasukkan kedalam mulutnya. Kelihatan kepala Dirah yg naik turun sambil sesekali menjilati biji kemaluan gue. Kemana si Carol ? ternyata dia asyik melihati pemandangan ini sambil mengelus-elus dada dan kemaluannya. Catherine ternyata tidak tahan lagi, tanganku yg basah dengan telunjuk dan jari tengah masuk kedalam vaginanya, dan ibu jari menggosok-gosok klitorisnya, cairan beningnya sudah membasahi seluruh telapak tangan gue. Gue percepat gerakan tangan gue sambil meremas liang vagina dan klitorisnya. Dia teriak keras sambil terasa otot-otot selangkannya mengejang. Rambutnya tergerai jatuh akibat kepalanya yg menunduk. Kelihatan matanya menatap gue dengan pipinya yg sudah kemerahan, memperlemah gerakan pinggulnya. Lalu dia merebahkan diri disamping!, sambil tangannya mengelus-elus rambut gue. Ditatapnya gue sambil tersenyum, ah.. mengingatkan gue pada cewekku yg dulu. Sekarang Zarah yg gantian menindih badan gua. Tapi kali ini batang kemaluanku langsung dipegang, dan diarahkan ke bibir vaginanya. "ehh.." terasa ujung kemaluan gue di jepit oleh otot-otot kemaluan Zarah yg kuat. Slebb.. masuk sedikit-demi sedikit, terasa kalau dia sering exercise. Naik-turun tubuhnya yg coklat muda, aroma wangian india yg erotis terasa dari balik ketiaknya. Lalu dengan cepat dia mengayun terus, hingga buah dadanya yang berisi seperti akan mau jatuh. "aaah.. aaahh.." erangannya keras sekali, sambi terus bergerak cepat. Kemaluan gua terasa panas akibat gesekan vaginanya, yg walaupun sudah berlendir tapi terasa keras sekali akibat otot-ototnya yg kencang. Seperti kuda liar yg lepas, Zarah terus menghujamkan badannya naik turun, dengan berat badannya yg membuat badan gue seperti tertindih karung beras berapa kwintal. Tampak otot-otot perutnya! bergeliat-geliat, seperti ulat yg sedang jalan. Tiba-tiba dia mencengkram dada gua dengan tangannya. Diremasnya, terasa cakaran kukunya yg agak panjang, perih di kulit dada gue. "aaaarggghhh!!.." geramannya dibarengi semakin kerasnya jepitan otot vagina Zarah di batang kemaluan gue. Masih dengan gerakan naik turun, ayunannya mulai pelan, lalu dipeluknya gue, sambil menciumi telinga, leher dan bibir gue. Zarah sudah selesai juga. Dirah yg ada paling samping, lalu memegang pergelangan gue. "Ayo.. sini," katanya. Dibantunya gue bangkit, lalu dituntun ke kursi sofa, tempat Carol yg masih sibuk onani. Dirah lalu duduk sambil membuka pahanya lebar-lebar. Badan gue ditarik. Lalu terasa tangannya memegang pinggul gue dan diarahkannya keselangkannya. Gue arahkan penis yg masih tegang ke mulut vagina yg coklat kehitam-hitaman itu. Ternyata kecil sekali, sesuai tubuhnya yg mungil. Masuk sedikit kepala kemaluaan ke mulut vagina, terasa Dirah menggeliat. Tapi kemudian dia sendiri lalu m!enarik badanku lebih dalam, sehingga terasa penis gue amblas masuk, walau terasa mentok ke pangkal rahimnya. Gue naik turunkan badan gua sambil memegang buah dadanya yg bulat padat. "pret.. pret.. pret.." terdengar bunyi bibir kemaluan yg menutup lubang udara antara penis gue dan vaginanya. Bunyi itu makin mebuat gue bernafsu, apalagi terlihat mukanya yg seperti tak berdaya, menahan sakit gesekan. Gue percepat gerakan sambil menghujam sedalam-dalamnya penis gue. Tangan Dirah memegang erat lengan tangan gue. "Martaaaa.. aaaaah.. aaaahh.." Dia makin kesakitan, tapi terus kupercepat gerakan. Batang penis gua terlihat seperti menyumpal lubang kecil merah kecoklatan yg menganga. Gua usap dengan ibu jari klitoris yg bengkak di dekat liang vaginanya. Tampak dia menggeliat. Batang penis gua tampak terus maju mundur, makin menguak bibir vagina Dirah. Tampak di sekitar liang kemaluannya berubah kemerah-merahan akibat gesekan yg terus berlangsung. Dirah kelihatan menggigit bibirnya, me!nahan sakit, sambil memejamkan mata. Kali ini, gerakan pinggulnya tampak mulai cepat, bertabrakan dengan pinggul gue yg juga bergerak. Dia memperkuat cengkraman tangannya di lengan tangan gue. Sekilas dia menggeliat dan pergelangan kakinya menghimpit erat pinggang gue. "eeehhh marta.." katanya lirih, diapun memperlemah pegangan tangannya. Sepertinya Dirah sudah klimaks, sehingga akan tambah sakit baginya jika kuteruskan, dan cairan vaginanya pun sudah berkurang. Lalu kutarik penisku, terlihat merah sekali, akibat gesekan vagina cewek-cewek tadi. Kutatap Carol, yg sepertinya agak ragu, walau dia masih mengusap-usap klitorisnya. "Carol.. turn your back," kata gue sambil mendekatinya. Gue bimbing Carol, hingga sekarang kakinya dalam posisi berlutut dan kedua tangan menahan berat badannya. Gue tarik pantatnya sambil menunggingkan posisi Carol. Buah dadanya sekarang menempel ke lantai. Carol tampak agak gugup juga. "Don't worry Carol," kata gue sambil mengusap-usap bibir vagina!nya yg sudah basah sekali. Lalu gue pegang batang penis gue masuk kedalamnya. "Srr" terasa agak lega, dibanding dengan liang vagina Dirah. Gue gerakan batang kemaluan gue di dalam liang kemaluannya yg berlendir basah sekali akibat onani sebelumnya. Carol pun mulai maju mundur, sambil mendesah. Terus kudorong hingga badan gue beradu dengan pantatnya."Pok.. pok.. pok.. " bunyi badan gua bertubrukan dengan badan Carol. Tak lama, gue usapkan ujung telunjuk gua di bibir kemaluan yg sudah sangat basah itu, lalu gue oleskan cairan yg ada nempel di jari gue ke sekitar lubang dubur Carol yg merah bersih. Tampak agak kecil dibanding lubang vaginanya. Sedikit demi sedikit gua masukan ujung jari gue ke lubang dubur Carol. Tampak dia terkesiap, namun Carol menikmati sensasi yg dirasanya. Lalu gue gerak maju mundur-kan jari gua yg sekarang mulai menguak lubang yg semakin membuka itu. Sekarang secara perlahan gua masukkan kedua jari gue kedalamnya. Semakin terasa lentur, Carol tampaknya j!uga mencoba relaks, sehinggga otot-otot anusnya tidak menegang lagi. Lalu kucabut batang penis yg sudah basah berlumuran cairan vagina Carol. Gue tempelkan kepala penis tepat dilubang anus Carol. Lalu gue dorong perlahan hingga sedikit-demi sedikit masuk ke dalam liang dubur yg hangat ini. Agak seret, tapi untungnya lumasan cairan kemaluan Carol cukup membantu gerakan penis gue. Maju mundur, terus hingga terasa gesekan-gesekan yg sedikit beda dibanding dengan gesekan di dalam liang vagina. Carol semakin menikmati. Hampir 5 menit, gerakan perlahan maju mundur penis gue di dubur Carol. Nggak lama gue putar posisi Carol, hingga sekarang pungungnya ada dilantai, dan selangkangannnya terbuka lebar. Gue pegang pergelangan kakinya, lalu gue himpitkan paha Carol hingga hampir menyentuh buah dadanya yg merah muda. Penis gue kembali menghujam vagina Carol yg sudah tidak begitu basah lagi. Terus masuk keluar, hingga sebagian bibir vaginanya ikut menyembul jika tertarik ujung kemaluan g!ua. Setiap kali tubuhnya bergerak, buah dada Carol tampak berlompat-lompat, akibat hujaman penisku. Carol tampaknya sudah sampai klimaks, hingga tampak mukanya meringis, dan merintih. "Ngggggh..." . Dia pun menggeliat, dan berusaha melepaskan tanganku dari pergelangan kakinya. Gue perlambat gerakan. Keringat basah bercucuran dari badan gue. Gila.. capai sekali, tapi gue belum keluar juga. Gue tarik batang kemaluanku dari liang vagina Carol. Dia pun tampak terkulai lemas sampai memegangi buah dadanya. Dari kejauhan tampak badan Catherine yg putih bersih terbaring tidur di lantai, tergeletak begitu saja, dengan kedua kakinya yg terbuka lebar. Gue hampiri, terlihat buah dadanya yg putih dengan pentil merah muda seperti gunung. Kali ini langsung gua berlutut, dan memposisikan penis yg masih tegang ke arah kemaluannya. Gue pegang dan regangkan kedua pahanya, sambil menghunus masuk batang kemaluan gue ke vaginanya. Ternyata sudah tidak begitu basah lagi. Tapi gue nggak perdul!i, langsung "sret!" kuhujam langsung ke dalam liang merah merekah itu. Catherine terbangun dan kaget. Sempat teriak, tapi kedua tanganku langsung mencengkram pergelangan tangannya. "It hurts, Marta ..!" kata dia. Tapi terus gue maju mundurkan pinggul gue, terlihat batang penis menyembul keluar masuk bibir vagina Catherine yg semakin memerah. Gue tutup bibirnya dengan bibir gue. "mmmph.. mmmmphh.." suaranya tak keluar lagi. Makin keras hujaman penis gue ke vaginanya, yg makin terasa basah. Kali ini Catherine mulai mengikuti arah gerakan badan gue, sambil menaik turunkan pingggulnya. Belum gue lepas cengkraman tangan gue. Makin lama, terasa penis gue mau meledak, terus gue percepat gerakan. Makin kasar gue menghujamkan penis ke vagina Catherine. "aaaaahh.. aaaaaaaah!" gue mengerang sambil menuntahkan semua mani yg keluar deras di dalam kemaluan Catherine. Hangat dan bercampur lendir bening dan putih. Banyak sekali hingga ada yg keluar lagi dari liang kemaluan Catherine. Terlihat! mata Catherine yg merah dan sedikit basah, akibat menahan sakit di awal senggama barusan. Tapi dia tersenyum, sekali lagi, sambil tangannya mengusap dahi gue yg berpeluh. Dia lalu merangkul dan mengulum bibir gue dengan hangat. Terasa, perasaan dia ke gue ternyata bukan hanya nafsu. Kami pun akhirnya tertidur lelap berdua sambil berdekapan semalaman. Besok paginya kita berlima mandi bareng-bareng, sambil ketawa-ketawa. Sejak itu gue sering pergi berdua dengan Catherine, walau kadang-kadang Zarah dan Dirah juga sembunyi-sembunyi berhubungan badan dengan gue. Tunggu kelanjutan ceritanya di lain waktu.

Cerita Panas Permainan Sex Harian Kami  

3 komentar

Di pagi buta ini terdengar suara ayam berkotek, entah jam berapa saat ini. Tapi yg jelas saya dan istri sudah bagun dan sedang menikmati sex yg begitu asik dan menggairahkan. Wajahnya yg cantik tanpa makeup itu begitu merangsang saya. Kepalanya yg dengan refleks menggeleng-geleng disertai rintihannya terlihat jelas oleh saya. Dia begitu menikmatinya dalam posisi di atas saya.

Sudah cukup lama umur perkawinan kami, tapi entah bagaimana kenikmatan ini tidak pernah surut bahkan semakin tinggi. Gerakan-gerakan tubuhnya, payudaranya, membuat saya begitu terangsang, ditambah dengan rangsangan vaginanya yg begitu pintar membuat saya harus sekuat tenaga menahannya agar tidak segera mencapai ejakulasi.

Saya mengenal beberapa wanita yg begitu sexy bahkan wajahnya yg begitu cantik bagaikan model, dan telah merasakan permainan sexnya, tapi semuanya tidak dapat sepuas ketika dengan istri.

Demikian juga istri, walaupun dia pernah beberapa kali melakukan hubungan sex dengan pria yg menurut dia hebat dalam "teknik" nya, tapi selalu dia mengatakan kepada saya bahwa tetap masih nikmat dengan saya, dan ini bukan basa-basinya dia. Bahkan dia "mencuri" teknik itu dan memaparkan ke saya. Dia menyukai sex saya karena saya selalu mengerti apa yg dia inginkan saat itu.

Sejak kami mulai bermain sex di pagi buta ini, saya katakan ke dia supaya berhenti saat saat dia akan mencapai klimaks, dan saya juga akan berhenti sebelum mencapai klimaks.

Kami senang dan menikmati "game" seperti ini. Berhenti ketika nafsu memuncak dan mendadak kita hentikan. Hati terasa begitu kesal bercampur penasaran dan terasa seakan tensi nafsu kami tidak turun-turun karena tidak finish. Perasaan seperti ini terus kami bawa ke kantor masing-masing dan ditahan sampai malam. Malam harinya kami dapat bermain sex lebih significan dari pagi harinya, bagaikan api dalam sekam, ketika meledak akan hebat sekali.

Pagi ini badannya terasa lebih panas dari biasanya, terasa selangkangannya yang sudah basah dengan cairan bening yang keluar dari dalam vaginanya begitu hangat dan penis terasa panas sekali setiap membenam di dalam vaginanya. Gerakan pinggulnya yang begitu agresif sehingga harus saya tahan sedikit dengan mencengram pinggulnya dengan kedua tangan. Saya juga sudah tidak dapat menahan lebih lama lagi sepertinya. Dia merintih semakin keras dan kedua tangannya meremas-remas payudaranya. Sampai akhirnya dengan suara terputus putus dia mengatakan sudah tidak tahan lagi.....

Segera penis saya keluarkan dari vaginanya, setelah itu dia merintih agak keras seakan begitu kesal dan menyayangkan apa yg saya lakukan, begitu penasaran sehingga dia merebahkan badannya di atas saya dan penis dia jepit diantara kedua payudaranya dan terus di gesek-gesekkan ke dadanya.

Tidak lama setelah itu segera saya merubah posisi sehingga berada di atas dia dan terus memeluk dia. Detak jantungnya terasa masih begitu cepat dan nafasnya masih terputus-putus. Tanpa dia sadari, dia minta penis saya dimasukkan kembali ke dalam dia, terasa penis sudah di genggam dan sedikit demi sedikit dia tarik menuju mulut vagina. Tapi segera saya tahan.

Hawa nafsu yg masih begitu tinggi mempengaruhi cara dia berpakaian pagi ini. Dia mengenakan atasan dari bahan kaos dengan resleting di dada yg begitu pas di badan dia, dan resleting sengaja dia turunkan sampai habis sehingga belahan payudaranya begitu terlihat sampai dalam bila mengintip dari posisi atas. BH nya berwarna putih dan tipis sekali, terlihat kedua putingnya mengecap di bajunya. Roknya tidak terlalu mini tapi cukup terlihat sexy disekitar belahannya di bagian depan.

Saya pun pagi ini hati begitu panas rasanya dan penis begitu sensitif sehingga cepat bereaksi hanya karena sedikit tersentuh dari atas celana. Dalam perjalanan menuju kantor dia sengaja duduk dengan posisi pahanya begitu kelihatan dari saya dan memberi kesempatan tangan saya dapat dengan mudah menyelinap ke balik roknya....

Saya sampai di kantor agak terlalu pagi sehingga saya tawarkan istri untuk minum teh dan sedikit breakfast ringan di coffe shop di basement. Di coffe shop suasana masih agak sepi dan sebagian besar adalah karyawan pria. Ketika kami masuk, banyak pria yg memperhatikan kami, khususnya istri saya ini. Tapi seperti biasanya, dia tidak terlalu menghiraukan itu semua. Sambil minum teh, kami berbincang-bincang berbagai hal, tapi pada umumnya cerita ringan dan terkadang cerita tentang kencan kami berdua, tentu dengan berbagai bahasa sandi dan isyarat agar tidak terdengar orang lain.

Siang hari sempat saya berbicara dengan istri melalui telphone. Dia sempat bicara soal chating di kantornya dengan beberapa orang yg telah melihat home page kami. Dia juga cerita bahwa akhir-akhir ini banyak menerima email dari para pengunjung home page kami. Kalau di dengar, banyak yg menarik ceritanya.

Sore hari seperti biasanya, dari kantor mobil menjemput istri. Ketika sampai ke gedung kantor istri, dia sudah menunggu di loby. Setelah masuk ke mobil, dia mencium saya dan tercium wangi parfumnya yg begitu merangsang. Belahan dadanya yg terlihat dari samping dan dekat itu membuat hati tidak sabar lagi untuk meneruskan permainan di pagi hari tadi. Kondisi jalanan yg begitu padat sehingga sampai di rumah agak terlambat. Kami turun dari mobil dan membiarkan tas kerja saya di dalam mobil dan terus kami menuju kamar.

Baru saja saya menutup pintu dan mengunci kamar, istri sudah berada di belakang saya dan memegang salah satu bahu saya untuk segera saya berbalik ke dia. Bibirnya yg masih berlipstik dan lipsgloss segera saya cium, dan dia segera menyambut dengan lidahnya yg segera masuk ke mulut saya. Tangan saya pun sudah tidak sabar lagi segera menyelinap ke dalam BH nya yg sudah sejak tadi pagi terlihat belahannya yg merangsang saya itu. Terasa putingnya yang sudah mengeras itu semakin kenyel, tapi posisinya agak susah untuk segera saya cium dan di kulum. Sementara itu dia melepas sendiri celana dalamnya dengan membuka simpul ikatan celana dalam dis salah satu pinggulnya. Celana dalam pun segera terjatuh ke bawah.
Perlahan lahan dia saya tuntun mendekat ke meja riasnya yg tidak jauh dari pintu masuk. Kemudian dia saya angkat sedikit dan di dudukkan di tepi meja rias. Saya segera melepas ciumannya dan segera menuju bagian bawahnya. Dia sudah duduk dengan posisi membuka kaki cukup lebar. Sementara itu saya mulai menciumi pahanya dari arah bawah dan terus menuju selangkangannya. Ketika sudah mulai mendekat ke selangkangannya, terlihat cairan beningnya yg keluar dari dalam vagina berkilauan karena sinar lampu kamar. Jumlahnya sudah begitu banyak hingga membasahi meja riasnya. Seperti sudah tidak sabar lagi, dia segera memegang kepala saya dan segera menarik dan membenamkan ke selangkangannya. Dan sayapun mulai menjilat mulut vaginanya dan memainkan klitoris nya.

Cairan bening yg sedikit kental dan asin itu terus keluar semakin banyak dan sayapun terus menelannya. Setiap lidah saya masukkan kedalam vaginanya, dia pun merintih dengan menyebut-nyebut nama saya. Bagian klitoris nya juga membuat saya tertarik untuk memainkannya karena dia memasang "ring" disana. Dia buat lubang ring ini ketika kami baru menikah beberapa tahun. Kami sehabis menonton BF diama di situ pemerannya memakai ring. Saya katakan bahwa sexy juga kalau ada ring di situ.

Dia tersenyum saja, tapi beberapa hari kemudian dia membuat surprise, ketika kami memulai melakukan sex dan saat saya akan menjilat mulut vaginanya, lidah tersentuh benda asing, karena gelap tidak begitu terlihat, tapi setelah lidah menjilat dan "meraba" sekitar klitoris, baru saya sadar itu adalah ring.

Sementara saya asik dengan menjilat mulut vaginanya, dia membuka bajunya dan di lemparkan ke lantai, begitu juga BH nya. Tidak lama kemudian dia mulai menarik kepala saya, dan segera kepala menjauh dari selangkangannya dan bergerak menuju payudaranya yg sudah tidak tertutup sehelai benangpun.

Putingnya terasa kenyal dan mengeras. Dengan sedikit gigitan yg ringan saya tarik dan kemudian kembali saya masukkan kembali ke dalam mulut. Dengan memakai ujung lidah puting dang sekitarnya terus saya permainkan. Sementara itu dia sibuk membuka resleting celana saya dan terus di turunkannya bersama celana dalam saya. Kemudian dia melepas dasi dan kancing kemeja saya dan dibiarkan kemeja tetap melekat di badan dengan dada terbuka.

Kemudian saya kembali menegakkan badan dan muka istri mulai mendekat ke dada saya. Dia mulai mengecup berbaga itempat di sekitar dada saya, kemudian dia membalas dengan memulai menjilati puting saya kiri dan kanan dan kemudian mengulumnya dengan begitu nafsunya. Sayapun mulai merapatkan diri ke dia yg sedang duduk di ujung meja dengan posisi kedua kaki dibuka lebar siap menerima saya. Walaupun sudah begitu merapat, penis saya biarkan dahulu di luar, di sekitar selangkangan dan mulut vagina dia.

Istri masih begitu asik menciumi puting dan dada saya, akhirnya tidak sabar juga dia, dengan suara yg begitu merangsang dia meminta supaya saya segera memasukkan penis ke vaginanya yg sudah banjir dari tadi itu. Saya minta dia saja yg memasukkannya sendiri, dan dia kemudian berusaha memasukkan penis saya ke dia dengan menggenggam penis dan diarahkan ke lubang vagina dengan sedikit menarik ke dia. Saya pun segera menyesuaikan diri dan membantunya untuk memasukkan penis.

Saya membantunya dengan perlahan lahan mendorong penis terus masuk ke dalam vaginanya. Seperti sedang menerima sesuatu yg sejak tadi ditunggu tunggu, dia merintih begitu menafsukan. Selanjutnya saya mulai menggerakkan pinggul perlahan lahan sehingga penis kelur masuk vaginanya dengan berirama. Dia pun kemudian memeluk saya dan bibirnya yg tidak henti hentinya merintih melekat di kuping saya. Untuk beberapa saat kami terus bermain cinta dengan posisi demikian.

Tiba tiba wireless phone yg ada di meja rias berdering. Saya sempat terhentak sesaat dan berhenti bergerak, tapi kemudian saya meneruskan gerakan saya dan tidak peduli dengan suara dering telephone itu. Tapi istri mengangkatnya, dengan nafas yg terputus putus dan suara yg terbata bata dia menjawab telephone itu. Ternyata itu telephone dari temannya, tapi kelanjutannya dia tidak segera menutup telephone itu, tapi sempat berbicara dengan suara tidak normal.

Saya lupa dia berbicara seperti apa, tapi saya ingat dia seperti memberi kode atau beberapa kata yg menandakan dia sedang melakukan hubungan sex dengan saya. Bahkan dia sempat mengeluarkan suara agak keras ketika saya mempercepat gerakan pinggul saya dan menekan penis sampai terasa terbentur ke ujung yg paling dalam vaginanya. Setelah itu dia meletakkan kembali wireless phone di atas meja rias. Belakangan saya tahu setelah selesai bahwa telephone itu tidak dia putus, sehingga temannya itu mendengar suara permainan kami sampai selesai.

Setelah cukup lama kami bercinta di meja rias, selanjutnya dia saya angkat menuju tempat tidur. Kemudian kami meneruskan permainan sexnya. Sempat kami kami melakukan dengan posisi saya memasukinya dari arah belakang dia. Tapi saya tidak dapat bertahan begitu lama dalam posisi demikian dengan dia. Penis begitu terangsang menyentuh salah satu dinding vaginanya dan jika di teruskan saya akan segera mencapai klimaks. Memang mengherankan, dengan wanita lain saya dapat menikmati posisi ini cukup lama, tapi dengan istri tidak bisa. Terasa penis di dalam vaginanya begitu tak berdaya. Padahal saya tahu posisi dari arah belakang ini salah satu posisi yg dia senangi. Dia beberapa kali cerita kepada saya ketika dia bermain sex dengan pria lain, ada yg dapat bertahan cukup lama dengan posisi dari belakang ini, sehingga dia begitu menikmati hal itu.

Permainan sex kami berakhir dengan posisi normal dan kami berdua mencampai klimaks dengan perbedaan beberapa detik saja. Setelah saya mencapai klimaks, kemudian dia menyusul. Terasa beberapa kali penis menyentak nyentak mengeluarkan cairan putih susu yg kental dan panas itu di dalam vagina istri.
Begitu bergairahnya sex kami, sehingga setelah selesai pun kami terdiam begitu saja karena letihnya dan sempat tertidur sejenak, ketika bangun sadar penis sudah keluar dari vagina dengan sendirinya karena menyusut. Terlihat cukup banyak cairan putih kental saya yg keluar kembali dari dalam vagina dan mengalir di selangkangannya.

Cerita Panas Perjalanan Hidup Sepasang Teman  

0 komentar

Waktu diusiaku yang beranjak dewasa, aku merasa bangga terhadap diriku yang ceria, supel, riang, penuh canda dan memiliki keindahan yang ada di dalam diriku. Tidak jarang aku berkumpul dan berjalan-jalan dengan kenalan baru, untuk saling mengetahui hal-hal yang baru. Aku di sekolah memiliki teman yang cantik dan seksi, sebut saja namanya Rina, tetapi diriku memiliki lebih dari apa yang dimilikinya. Temanku memiliki tubuh yang ideal, tinggi diatas 165 cm, berat 40 kg lebih, kulit putih mulus, bokong yang padat, dan yang paling kami banggakan adalah keindahan kedua buah dada yang kami miliki (34B lebih ukurannya), terkadang kami suka memakai pakaian yang pedek dan ketat untuk dapat memamerkan apa yang kami miliki, dan tentu saja indahnya tubuh kami sering dipuji. Bangga rasanya dapat menarik perhatian orang, yang terkadang tidak berkedip melihatku.

Sebut saja namaku Yulia, aku sangat akrab dan saling berbagi dengan temanku ini, walaupun itu hal yang kecil dan sepele. Di sekolah dan sepulang sekolah, rasanya seperti perangko saja, jarang berjauhan dan selalu terlihat bersama, dan tidak jarang kami menginap bergantian. Kalau sedang berdua, kami sering membandingkan sosok tubuh kami, apa yang kurang dan apa yang lebih. Kami membandingkan tubuh dengan berbagai macam jenis pakaian, dari yang dapat memperlihatkan indahnya tubuh dan pakaian yang benar-benar tertutup.

Dia sering bercerita apa yang sering dilakukannya dengan pacarnya, sampai ke hal-hal yang disukainya. Saat kami duduk berdua, dia menceritakan bagaimana dia merawat dadanya, dia mengajarkan bagaimana menghindari penyakit kanker payudara. Rina mengajarkan cara memijat dan lain-lain. Dia mengatakan kalau wanita menyusui sangat minim untuk terkena kanker. Dengan berbisik, Rina mengatakan kepadaku cara menjaganya dengan cara lain, tetapi lebih suka bila dibantu.
Dia berbisik lagi, "Dibantu dengan pacarku."
Lalu kubertanya, "Bagaimana..?"
"Sepeti ini (tanganya lalu meremas-remas dadanya) dan kadang dihisap, awalnya aku risih, tapi karena aku suka, jadi aku menyenanginya (pacarnya dan caranya)."
"Aku bingung.., seperti apa sih..?" jawabku.
"Bodoh kamu..!" kata Rina, lalu dia melepaskan pakaiannya dan memang bentuknya indah, aku saja terkagum-kagum, apa lagi pacarnya, buah dadanya mulus dan terlihat padat.

Lalu dia melepaskan BH yang menutupi keindahan dadanya. Kedua dada yang padat dan kedua puting yang merah terlihat lembut. Lalu tanganya meraba-raba, meremas-remas kedua puting yang terlihat bulat, akhirnya kedua puting payudara itu mengeras dan kedua dadanya tegang.
"Seperti ini..." katanya.
Dan dia memainkan puting yang merah itu sambil berkata, "Dia menghisap ini dengan nafsu, dan lembut juga lidahnya memainkan ini, nikmat loh..!"
"Apa nikmatnya..?" kataku.
Lalu dia menghampiriku dan tanganya meraba dadaku (yang ukurannya lebih besar dari miliknya), "Seperti ini loh Non.., dadamu boleh juga ya..?" kata Rina sambil tersenyum dengan peragaan kedua tangannya.
Rasanya aku tidak menyuka hal seperti ini, tetapi perlahan-lahan aku rasakan nikmat.
"Awalnya risih, tapi lama-lama rasanya lumayan, enak juga..!" kataku.

Kemudian kulihat tatapan matanya ke wajahku, rasa ingin berbagi pengalamannya terlihat.
"Bolehkan kubagi pengalamanku..?" sahut Rina dengan rasa penasaran, "Biar kamu tau yang kunikmati dari pacarku.." sambungnya dengan rasa ingin memberitahunya yang tinggi.
Aku berpikir dan rasanya penasaran juga, "Seperti apa sih..?" tanyaku dengan sikapku yang ingin mengetahui lebih lagi.
Lalu Rina meremas, dan kemudian mengangkat kaosku, sehingga BH-ku yang berenda dan berwarna krem dapat ditonton.
Rina melihat dan memujiku, "Kalau kamu punya pacar pasti suka dengan yang satu ini.. (dada berukuran 36 yang putih dan mulus)"
Dia pun melepaskan kedua kaitan bra-ku, bra yang tadinya menutup dengan sesak kedua buah dadaku, akhirnya diangkat bersama kaosku, sehingga tiada sehelai kain pun menutupi dadaku yang tertutup sesak, dan seakan dadaku sekarang lepas dan terlihat mengembang. Memang ukuran yang aslinya lebih besar dari bra yang kupakai.

Lalu tangan Rina merangkulku, tangannya meraba-raba dadaku sambil berkata, "Kayak ini loh non.."
Kemudian dia memainkan putingku, wajahnya menghampiri dadaku yang satunya, lalu bibirnya mulai mencium putingku. Setelah beberapa lama, kurasakan sesuatu yang nikmat.
"Nikmat Rin..." sahutku kepada Rina.
"Lanjut ya..?" sahut Rina sambil mulutnya melanjutkan tugasnya.
Putingku yang merah dan mengeras akhirnya masuk ke dalam mulut Rina. Kurasakan kelembutan dan kenikmatan, sehingga rasanya tubuh ini pasrah untuk dinikmatinya. Dadaku pun mengeras, kurasakan titik kenikmatan dari putingku yang menyebar dan mengalir ke seluruh tubuhku. Sesaat kurasakan kenikmatan itu mengalir ke bagian tengah tubuhku, tepatnya diantara kedua paha tepat di bawah perut yang tertutup bulu-bulu hitamku yang lembut. Rasanya terbang tinggi tanpa sadar. Aku merasakan puncak pertamaku, walau itu hanya dari cumbuan. Rasanya ingin terulang kembali.

"Terima kasih ya..!" kuucapkan kepada Rina.
"Senang rasanya dapat berbagi dan memberi tau kamu.." ucap Rina.
Lalu kami mengenakan pakaian lagi.

Hari pun terus berganti, Rina terus membagi pengalamannya kepadaku. Dia terus mengajariku banyak hal. Pernah dia bercerita tentang hal yang tidak pernah lepas disaat dia bersama pacarnya, yaitu berciuman. Dia bercerita kalau pacarnya sekarang bukan yang pertama, dia sudah mengenal beberapa bibir yang membuat kenangan padanya.
"Apa nikmatnya kissing.., kenapa kamu suka..?" sahutku ke Rina dengan rasa penasaranku.
"Makanya pacaran biar tahu, kamu mau tau..?" jawab Rina.
"Sebenarnya udah banyak cowok yang ngajak pacaran, tapi aku belum mau aja..!" balasku.

Aku terus mengungkapkan rasa penasaranku ke Rina, Rina pun memberi respon, dan dia berkata, "Kamu mau kalo aku kasih tau, aku praktekin..?" katanya sambil bercanda.
"Mau Rin, kamu bisa..?" jawabku serius.
"Bisa.., ehm... cuma kissing kamu aja kan..?" jawab Rina yang terlihat bingung.
Aku bingung campur penasaran, lalu kujawab, "Aku ingin tau Rin."
Lalu Rina mendekatiku, dia menghampiri wajahku, bibirnya perlahan menghampri bibirku. Aku merasa janggal, gemetar, tegang campur macam-macam perasaan. Perlahan-lahan memangnya aksinya, dan akhirnya bibirku tersentuh bibir Rina, kurasakan lembut dan nikmatnya sentuhan bibir Rina, dan itulah yang pasti disukai pacarnya. Lalu Rina melepas kecupan bibirnya, aku hanya terdiam dan tidak mengerti harus berbuat apa.

"Bibir kamu lembut, kalo kamu pacaran pasti cowok kamu ketagihan..." sahut Rina.
"Masa..?" jawabku.
"Kamu mau tau banyak tentang kisssing..? Aku ajarin deh..!" kata Rina mulai agak bersemangat.
Dengan rasa masih penasaran, aku mulai menanggapi tawaran Rina, dan kujawab, "Aku ingin tau banyak.., ajarin aku dong..!"
Lalu Rina bercerita panjang lebar tentang pengalaman kissing-nya dengan tahap demi tahap, dan lalu kami mempraktekannya. Entah mungkin karena kami berteman dan sama-sama sejenis, mungkin kami tahu dan mengerti apa yang harus dilakukan untuk berbagi kenikmatan. Akhirya kami sama-sama merangsang seluruh tubuh kami, ah.. nikmatnya tiada tara.

Kami terus berbagi dan mengulanginya dari hari ke hari, tetapi itu hanya terbatas karena kami sama-sama sejenis, dan tidak ada rasa suka, yang ada hanya kenikmatan. Waktu pulang sekolah, aku tidak dapat pulang bersama Rina, karena dia sudah diajak pacarnya. Aku pun pulang bersama teman yang lain. Sesaat ditengah perjalanan pulang rasanya aku ingin main dan menginap di rumah Rina saja. Akhirnya aku menuju ke rumah Rina.

Saat aku sampai dan pintu rumahnya ternyata terkunci, aku pun masuk dengan kunci cadangan pemberian Rina. Rumahnya tenyata sepi, kukira dia ada di rumah. Sekilas aku mendengar suara Rina (entah seperti apa suaranya, hanya terdengar samar) di dalam kamar. Akhirnya kamar Rina kuhampiri. Kubuka perlahan pintunya supaya dia tidak kaget. Astaga, alangkah kagetnya aku, kulihat Rina sedang berdua dengan pacarnya tanpa sehelai pakaian di badannya (kecuali pacarnya). Untung pintu terbuka sedikit sekali, aku hanya dapat mengintip. Aku hanya terdiam menatap Rina dengan pacarnya, maklum baru kali ini aku melihat insan berduaan dengan gairah seperti itu.

Awalnya mereka berciuman, lalu meraba-raba, dan yang dilakukan Rina dengan dadaku sama seperti yang dilalukan pacarnya, meraba, meremas, menghisap dan begitulah. Kulihat Rina menikmati dan terlihat pasrah untuk dinikmati. Tubuhnya pasrah, wajahnya terlihat melayang seperti aku waktu itu, tetapi tidak sehebat aku terbangnya. Aku heran melihat pacarnya yang tidak hanya mencumbu dada Rina, tetapi juga mencumbu belahan yang juga kumiliki yang ada di antara kedua paha. Rina pun kulihat melayang, dan sesaat kemudian dia mengeluarkan suara desahan yang kuat, aku pun samar-samar merasakannya juga.
"Ah, nikmatkah rasanya, seperti apakah nikmatnya..?" pikirku dalam hati.

Sesaat kulihat beberapa jari tangan pacar Rina keluar-masuk di antara paha Rina yang tertutup bulunya. Kulihat kaki Rina melebar, seakan-akan serakah mengambil tempat. Tidak beberapa lama Rina terbangun dan memberi isyarat supaya pacarnya mendekatkan pinggangnya ke arah wajah Rina. Lalu kulihat Rina melepaskan celana pacarnya, aku heran melihat tonjolan di celana pacarnya. Seperti apakah tonjolan di balik celana dalam itu. Rina mengelus dan mencium tonjolan itu, aku berpikir sambil heran seperti inikah caranya pacaran. Tanpa basa-basi lagi Rina menarik dan melepaskan celana serta CD pacarnya.
"Ah, seperti itukah tonjolan yang selama ini yang samar-samar kuketahui..?" kataku dalam hati.
Aku hanya dapat melihat dengan terpana dan heran, tetapi sesaat kurasakan aku menyukainya juga. "Kapankah aku dapat mengetahuinya lebih jelas..?" kataku lagi dalam hati sambil berusaha membayangkannya.

Rina mendekap tonjolan itu dengan jemarinya. Kelima jari Rina kemudian mengusap-usap milik pacarnya dengan nikmatnya. Kulihat pacar Rina menegang. Tidak lama kemudian wajah Rina menghampiri tonjolan yang didekap dan dielus-elus jemarinya itu. Lalu bibirnya pun terbuka seperti goa, lidahnya keluar dan menjilat tonjolan yang pucuknya seperti jamur itu. Kulihat lidah Rina menyentuh dengan nikmatnya, dan bibirnya mulai terbuka lebar lagi. Milik pacarnya pun masuk ke dalam goa itu (mulut Rina) sampai dalam. Kulihat Rina memejamkan mata dengan perlahan sambil menikmati yang masuk ke dalam mulutnya. Mulut Rina dan bibirnya terlihat seperti menghisap permen dengan nikmatnya.

"Ah, kurasakan nikmat lembutnya bibir dan lidah Rina waktu di dadaku, pasti pacarnya menikmatinya seperti yang kurasakan di dadaku." kataku dalam hati.
Milik pacarnya terlihat hampir keluar, dan akhirnya tertelan lagi di mulut Rina yang lembut. Mulut dan kepala Rina bergerak terus dengan nikmatnya. Kulihat adegan berikutnya, setelah masuk dan dinikmati mulutnya, kulihat Rina menarik milik pacarnya dengan perlahan (sambil merebahkan badan, kakinya seperti membuka stand) ke arah tepat di bawah perut, di antara kedua paha Rina. Dibalik bulu Rina yang halus dan hitam, kulihat dari jauh itulah yang dituju milik pacarnya yang perlahan seakan hilang dan bersembunyi di tubuh Rina. Kulihat mereka berdua tegang, lalu milik pacarnya hadir dan terlihat lagi, kemudian masuk dan terus menerus seperti itu. Dan perlahan-lahan bergerak cepat. Suara Rina yang mendesah halus seakan perlahan-lahan dibesarkan volumenya sampai besar.

Cukup lama aku mengintip mereka berdua dengan perasaan heran dan ingin tahu. Beberapa waktu kemudian, milik pacarnya ditarik keluar dari tubuhnya, dan kulihat dia menegang. Rina terbangun dari terbangnya, dan kulihat wajahnya menghampiri milik pacarnya. Sesaat entah apa yang keluar dari milik pacarnya dan terbang ke arah mulut Rina yang terbuka. Kulihat pacarnya merasakan kenikmatan, tampaknya Rina terlihat tidak puas dengan sesuatu yang terbang masuk ke mulutnya, lalu dia terlihat kembali menghisap milik pacarnya sampai air yang keluar itu habis tertelan mulutnya.

Setelah itu mereka beristirahat, dan setelah beberapa lama pacarnya bergegas pergi dari rumah Rina. Saat itu pun aku bergegas bersembunyi di lantai atas rumah Rina. Terlihat dia naik ke lantai atas untuk mengambil sesuatu. Dia kaget, ternyata aku ada di atas dan bersembunyi, aku pun kaget sambil tersenyum.
"Sudah dari kapan kamu datang..?" tanya Rina.
"Udah lama..." jawabku.
Lalu dia mengajakku turun setelah mengambil yang dicarinya. Dia mengajakku ke kamarnya, dan lalu kami bercerita panjang lebar.

"Apa kamu liat pacarku tadi disini..?" tanya Rina.
"Aku tidak sekedar ngelihat pacar kamu, tapi juga melihat kalian berdua.." jawabku.
"Jadi kamu melihat kami..?" kata Rina sambil penasaran.
"Emang, aku penasaran dan ingin tau, jadi maaf ya Rin..?" jawabku.
"Tapi ini rahasia kita ya..?" sahut Rina.
"Kita kan teman, ya saling menjaga dan berbagi. Seperti apa sih Rin rasanya, kamu ngerti ngelakuinnya ya..!" kataku kemudian sambil bercanda.
"Kamu mo tau ya..? Enak.., aku suka, aku butuh, ini bukan yang pertama Yul, sebenarnya sudah sering aku ngelakuinnya, tapi ini yang pertama di rumahku. Aku sering ngelakuin di rumah pacarku, rumahnya sepi, tapi sebenarnya bukan sama dia aja loh hubungan ini kulakuin. Kadang aku sama mantan masih berhubungan, soalnya kita masih ada rasa suka. Tapi kita udah punya masing-masing, mantanku ada dua. Dan aku pernah berhubungan bertiga, kita sama-sama butuh dan puas, dan kita sama-sama jaga rahasia, kecuali aku ke kamu. Kalo kamu pengen tau tentang gituan, nanti kujelasin banyak deh, kita kan temen..." ucap Rina dengan panjang lebar.
"Aku jadi pengen, boleh liat lagi nggak..?" sahutku sambil bercanda.
"Besok-besok kalo pengen tau kamu bisa ngintip kami kok..!" dijawab Rina dengan serius.

Ternyata Rina menepati janjinya. Aku dapat melihat dia berhubungan saat di rumahnya. Lama-lama kupikir aku juga suka. Kayaknya aku juga menginginkannya.

Suatu hari aku dan Rina berkenalan dengan beberapa anak pria dari sekolah lain. Wawan, Edwin, Aris, Sandi, Ari dan Heri, dan beberapa diantaranya sudah kuliah (Aris dan Heri). Kami akhirnya akrab dan kami sering berkumpul. Suatu saat mereka mengajakku dan Rina berjalan-jalan ke pantai. Tempatnya di luar kota, jaraknya pun cukup jauh, mungkin ada tiga sampai lima jam perjalanan lamanya. Kami berencana menginap di sana dalam acara liburan akhir minggu. Aku dan Rina dapat ijin dari keluarga, karena kami memberi alasan kumpul bersama teman-teman sekolah kami.

Aku dan Rina bersepakat untuk bersaing dulu-duluan menarik perhatian mereka, siapa yang paling mereka sukai. Awalnya kami kira kami hanya berempat dengan Aris dan Heri yang pergi. Tetapi ternyata berdelapan. Aku dan Rina menganggap suasana menjadi lumayan lebih ramai. Akhirnya kami janjian bertemu di tempat kost salah satu dari mereka. Sebelumnya Rina dan aku berganti pakaian terlebih dahulu di sana, dan akhirnya aku dan Rina memulai permainan. Kemudian Rina melepas semua pakaiannya sampai yang tersisa hanya celana dalam, begitu juga aku. Tubuh kami yang indah terlihat semua dan itulah rencana dari permainan kami. Kami akhirnya mengenakan rok sedengkul dengan belahan yang lumayan, sehingga dapat memamerkan kemulusan paha kami sepenuhnya. Kemeja tanpa lengan dengan kancing di depan kami pakai, dan terkadang memperlihatkan pusar kami. Ah rasanya pakaian kami cukup seksi, karena sudah membentuk tubuh kami yang sudah indah menjadi lebih indah lagi. Ketatnya baju ini seakan-akan kami merasakan seperti dipeluk dengan dekapan erat. Kedua buah dada kami terlihat indah bentuknya, memang aku dan Rina sengaja untuk tidak memakai bra yang menyelimuti mahkota seperti biasanya.

Kemudian kami keluar dari kamar kost. Mereka yang melihat, langsung terpana karena tubuh indah kami, sehingga membuatku dan Rina merasa bangga. Akhirnya kami berangkat setelah menjelang selesainya siang. Kami berangkat dengan sebuah mobil minibus, supaya dapat beramai-ramai. Aku dan Rina duduk di tengah-tengah, diapit Aris dan Heri. Aku pun belum pernah duduk berdua dengan pria seperti ini. Di perjalanan, untuk menghilangi rasa jenuh kami bernyanyi dan bercanda. Di tengah perjalanan kurasakan mata mereka menelanjangi tubuhku dan tubuh Rina. Senang rasanya, karena mata mereka lebih banyak menuju ke tubuhku ini. Dari celah-celah kancing pun, bentuk bulat dada kami kadang-kadang terlihat dengan jelas.

Kulihat Rina melepas beberapa kancing supaya agak terbuka sedikit. Aku tentu tidak mau kalah, akhirnya kulakukan juga. Kadang aku agak menunduk, sehingga belahan dadaku dapat terlihat jelas. Rupanya kenalan Rina (Aris) dengan Rina sudah benar-benar akrab. Mungkin karena pakaian kami, mereka tidak melepas pandangan mereka dari kami. Aris tampaknya mulai melakukan penjajakan ke Rina, sehingga Rina pun tertarik padanya. Aris mulai memegang tangan Rina dan perlahan dia mencoba merangkul Rina. Awalnya Rina menolak, tetapi tampaknya dia tetap mencoba terus dan tidak menyerah. Dia terus memuji tubuh Rina. Yang kutahu, Rina sangat suka dipuji akan tubuhnya, dan itu merupakan suatu kelemahan Rina. Aris memuji wajah Rina yang cantik, kulit yang putih mulus, rambut yang indah, dada dan bokong yang indah. Rina pun senang dan bangga. Maklumlah, kami masih anak-anak yang beranjak dewasa, sehingga kami cepat salah tingkah.

Aris meremas dan mengelus-elus jemari Rina. Kulihat Rina menyukainya. Dia memuji paha Rina yang putih dan mulus.
"Paha kamu mulus dan indah ya..?" sahut Aris.
"Kamu suka ya..?" jawab Rina.
"Andai itu milikku, andai kubisa menikmati halusnya..." sahut Aris.
"Seperti apa..?" sambil tangan Rina menaruh tangan Aris di pahanya.
Tanpa basa basi dan menunggu waktu, aris langsung mengelus-elus dengan nikmat paha Rina yang terlihat utuh karena belahan roknya. Tampaknya Rina mulai menyukai Aris.

Tanpa terasa waktu cepat berganti, Rina dan Aris mulai terlihat dekat. Aris berhasil merangkul Rina. Dan tidak itu saja, dia juga membelai rambut Rina, mencium pipi Rina, entah mengapa mereka cepat dekat seperti itu. Kulihat Aris berhasil mengelus paha Rina sampai ke pertemuan dua paha. Rok Rina terangkat tinggi sampai celana dalam Rina terlihat. Tampaknya Rina sudah terbawa melayang dengan sentuhan Aris, maklum gairah kami terlalu tinggi dan cepat datangnya. Aris menyiumi Rina mulai dari pipi, kuping, leher lalu ke bibir. Rina menikmatinya dan bibir mereka berperang. Tangan Aris mengelus paha Rina dengan nikmatnya, lalu perlahan pindah ke belahan di celana dalam Rina, pinggang, perut, lalu dada Rina. Awalnya Rina menolak, tetapi gairah Rina yang sudah muncul membuatnya melayang dan susah untuk berkutik dan menolak.

Tangan Aris meraba-raba dada Rina dan meremas-remas, lalu menuju kancing Rina dan melepaskannya satu persatu secara perlahan. Kancing Rina terlepas dan terlihat indahnya sebagian tubuh Rina. Lalu Aris meremas dada Rina secara langsung, sehingga keindahan tubuh Rina dapat dinikmati setiap mata di dalam mobil.

Setelah beberapa lama hal ini terjadi, Aris dan Rina menghentikan asmara mereka. Rina menutup kembali tubuhnya yang indah itu, walaupun tampaknya mereka belum puas. Kami terus berjalan, dan akhirnya sampai di pantai yang kami tuju. Kami bersenang-senang di pantai. Akhirnya kami berkumpul di dalam mobil. Kami bercanda di dalam, entah mungkin suasana yang sepi dan lembut merubah rasa-rasa yang ada di dalam jiwa. Rina dan Aris tampaknya melanjutkan permainan mereka yang belum selesai. Aku agak risih di samping Rina, karena aku belum pernah berhubungan, apalagi yang seperti ini.

Wawan yang duduk di depan tampaknya terangsang dengan tubuh Rina. Dia pun tampak ikut meraba dan menikmati tubuh Rina. Akhirnya Rina dan Aris bercinta tanpa peduli dilihat seisi mobil. Wawan pun tidak mau kalah, dia ikut bercinta dengan Rina bergantian dengan Aris. Tampaknya Rina tidak canggung dan menikmatinya. Entah mengapa kurasakan tangan Heri meremas dadaku. Aku menolaknya, "Jangan..!" kataku tersentak, entah mengapa aku malah terangsang.
Dia dengan nafsunya menyerang tubuhku, aku agak meronta dan menolak, tetapi aku tidak sanggup bergerak banyak, rambutku dijambak oleh Sandi dari belakang. Edwin tidak mau kalah, dia segera menarik kedua tanganku ke belakang.
Heri akhirnya dengan leluasa dapat menikmati dadaku, aku hanya dapat berkata, "Tolong jangan..!"
Mereka tampaknya tidak peduli dengan ucapanku, yang ada hanya nafsu untuk menikmati tubuhku.

Aku menangis pelan. Tampaknya Rina tidak mendengarnya, Heri, Sandi, Edwin terus menyergapku. Sandi menciumi wajahku, Heri meremas-remas dadaku dengan nafsu. Awalnya aku merasa takut. Heri meraih kancingku dan melepaskannya, sehingga dadaku terlihat jelas. Tanpa henti dia juga meraih resleting rokku, dan perlahan melepaskannya bersama celana dalamku. Dia tidak menikmati dadaku lagi, tetapi yang ada di balik bulu halusku. Entah mengapa aku menikmati sentuhan jemarinya, ah mengapa jadi aku terangsang. Akhirnya jarinya keluar masuk di lubangku (hilang keperawananku) dan sesaat aku mendesah. Dadaku memang tidak disentuh Heri lagi. Sandi yang menjambak rambutku mengecup bibirku dengan nafsu, lalu tangannya menikmati dada kananku. Edwin yang memegang tanganku ikut menikmati dada kiriku.

Waktu terus berjalan, entah mengapa aku menjadi terbawa. Walaupun aku meronta, aku sebenarnya menikmatinya. Tubuhku yang indah ini akhirnya mereka nikmati secara bersamaan. Perasaanku bercampur aduk, aku disentuh oleh mereka. Karena waktu sudah agak malam, akhirnya kami ke rumah Aris yang kosong bersama-sama. Di sana kami bermalam bersama, tampaknya Rina bingung menghadapi teman baru kami. Tubuhku dan Rina tampaknya menjadi hidangan mereka malam ini. Mereka terus menyerang tubuh kami, Rina dan aku tidak bisa mengelak hasrat mereka.

Di dalam rumah aku menjadi bulan-bulan mereka, aku terus menolak, tetapi apa daya tenaga mereka lebih besar. Aku diboyong ke tempat tidur. Kedua tanganku dipegang dengan erat, sehingga aku hanya bisa pasrah dan mengalah. Bajuku dilucuti. Cahaya lampu terang pun mempertontonkan seluk beluk tubuhku, dan membuat mereka semakin terangsang. Kali ini aku ditiduri langsung, tanpa ada rabaan dan cumbuan. Ah, entah mengapa aku malah merasakan kenikmatan, mereka bergantian memegangi tanganku, dan secara bergantian pula mereka memasukkan milik mereka ke liang vaginaku. Tampaknya aku hanya bisa pasrah, beberapa kali aku merasakan ada sesuatu yang menyembur di dalam liangku. Mereka melakukannya berkali-kali padaku sampai aku lemas tidak sadarkan diri. Dan entah apa yang terjadi pada Rina.

Pagi pun menjelang, aku mulai terbangun dengan tubuh lemas ini.
Aris menyapaku, "Pagi Yul..", yang begitu juga jawabku dengan kesadaran yang bertahap.
Kucari pakaianku, tetapi aku tidak mendapatkannya.
Heri menemuiku di kamar, "Pagi Yulia..." sapanya sambil menghampiriku dan meraba-raba tubuhku kembali.
Kali ini aku tidak dapat menolak keinginannya. Ternyata tubuh ini terhanyut bersama nafsu mereka. Heri menganjurkanku mandi, aku rasa memang aku harus mandi. Akhirnya kumasuk ke kamar mandi untuk menyuci tubuhku, pasti segar rasanya.

Mulai basah tubuh ini tersiram air segar, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, terlihat Aris dan Heri di depan pintu dan bergegas masuk. Mereka segera melepas pakaiannya, lalu menyiram tubuh mereka dengan air seperti yang kulakukan.
"Kita mandi sama-sama ya..?" sahut mereka.
Setelah beberapa lama, kurasakan Heri mendekatiku dari belakang, lalu mendekapku dan meraba dadaku serta meremas-remas. Aris juga menghampiriku, dia mendekap salah satu buah dadaku yang tersisa dengan jemarinya. Aku canggung, sesaat Aris menghisap dadaku yang dipegangnya, lalu dia mengecup dan menikmati bibir lembutku. Tanpa menunggu waktu, jari-jarinya pun masuk ke lubang vaginaku. Aku tidak berkutik, entah cepat sekali diri ini bergetar lemas. Jari-jarinya keluar-masuk dengan leluasa.

Tidak puas dengan jemarinya, dia segera memasukkan miliknya ke tubuhku. Ah, aku tidak sanggup menolak, aku diapit dua lelaki dengan penuh nafsu dan birahi. Mereka pun bergiliran kembali, tubuhku dinikmati sambil berdiri. Kemudian Heri bergantian dengan Aris. Kemudian mereka bergantian lagi. Entah mengapa, karena tidak sanggup menahan birahi, Heri yang bergantian dengan Aris berusaha memasuki lubang anusku. Awalnya kurasakan sesuatu yang aneh, kukira sakit. Awalnya miliknya tidak dapat masuk, tetapi karena usaha yang gigih dan dengan berbagai cara, akhirnya anusku dapat dimasukinya. Keluar-masuklah milik mereka bersamaan di semua lubangku. Sesaat beberapa lama suaraku agak merintih pelan, dan akhirya mendesah kuat. Aku tidak dapat berkutik, aku tidak mengerti harus berbuat apa, mereka terus mendekap dan menikmati tubuhku. Entah mengapa aku merasakan kenikmatan dan puncaknya.

Akhirnya kami selesai mandi. Tubuh ini segar tersiram air dan lemas terpakai secara bergiliran. Sehabis mandi pun aku dan Rina tidak dapat mengenakan pakaian, mereka terus menggerayangi tubuh kami tanpa ada rasa puas.
Terkadang aku dan Rina meminta baju kami, tetapi jawab mereka, "Tubuh kami yang menjadi baju kalian.."
Ternyata kata-kata mereka pun benar-benar mereka lakukan. Merekalah yang menjadi baju kami. Terkadang mereka memuji aku dan Rina. Aku dan Rina agak canggung, karena baru kali ini kami tidak mengenakan pakaian sehelai pun dihadapan banyak lelaki. Mereka tampaknya berusaha supaya kami seperti ini, agar mereka dapat terus-menerus menikmati indahnya tubuh kami.

Akhirnya siang pun tiba, awalnya aku dan Rina dicumbu secara berpasangan. Aku tidak dapat menolaknya, aku mulai menyukai nikmatnya berhubungan. Setelah beberapa lama, aku mulai dicumbu dua orang, saat itu aku melihat milik Heri. Aku penasaran, karena aku mulai menyukai yang berbentuk itu. Aku ingin mengetahui seperti apa nikmatnya, apakah yang dirasakan Rina dan yang akan kurasakan dengan mulut ini. Akhirnya tubuh ini mulai dinikmati milik mereka, aku tambah penasaran, akhirnya kudekap milik Heri yang belum menikmati tubuhku. Miliknya kudekap dengan jemariku dan kumasukkan ke dalam mulutku, kurasakan bentuknya di dalam mulutku. Kulakukan seperti yang pernah Rina lakukan. Kurasakan nikmatnya, dan entah mengapa aku mulai menyukainya. Lama-lama kurasakan agak asin, tetapi malah kusuka dan menambah gairahku, beberapa lama kurasakan tumpahan di dalam mulutku.

Aku berpikir, "Tampaknya aku tambah menyukainya.." lalu kutelan, rasanya seperti menelan telor penyu, tetapi ini benar-benar kunikmati. Birahiku memuncak. Akhirnya mereka menggilirku dan Rina secara bergantian, sehingga kami semua sudah saling bersentuhan, tiada satu pun yang tersisa.

Akhirnya kami selesai dengan liburan akhir minggu, dan lalu kami bergegas ke tempat asal. Di jalan pun kami masih tetap bersentuhan. Tampaknya birahi kami terus menguat. Setelah kejadian itu, mereka tampaknya tidak mau lepas dari aku dan Rina. Mereka mengisyaratkan rasa tanggung jawab terhadap kami atas apa yang telah terjadi, dan mereka berusaha mendapatkan kami seutuhnya. Aku dan Rina pun berhubungan terus dengan mereka tanpa ada rasa menyesal.

Sempat aku pernah terlambat bulan, dan mereka mau menikahiku, tetapi rasanya aku tidak mau di usia sekarang ini. Akhirnya salah satu diantara mereka, yaitu Aris dapat membuatku datang bulan. Dia mengundangku ke rumahnya, dan dia memberikan alat test untuk kucoba, dan ternyata aku positif. Tetapi dia membuat semua ini seakan-akan tenang-tenang saja. Lalu dia memberikan obat untukku, yang katanya dapat membuatku dalam waktu beberapa jam menstruasi. Tetapi sebelum kupakai obat itu, dia meminta ijin kepadaku untuk mengecup bibirku. Awalnya kutolak, tetapi akhirnya karena tidak enak dengan kebaikannya, akhirnya kubersedia, dan kuberikan sebagai ucapan terima kasihku. Akhirnya dia senang dan mulai melahap bibirku, entah mengapa bibir dan lidah kami jadi berperang, birahi kami pun bersaing memuncak.

Adegan demi adegan berlanjut, sehelai demi sehelai kain pun tertanggal dari tubuh ini. Akhirnya tubuh kami menyatu penuh dengan birahi. Tampaknya dia tidak ada puas-puasnya untuk merasakan tubuhku, serasa hanya ini kesempatannya. Karena usia kami masih muda dan kondisi kami sangat fit, akhirnya ronde demi ronde pun terjadi. Semburan demi semburan kurasakan di dalam tubuhku. Tetesan demi tetesan yang keluar dari miliknya juga tertelan mulut ini, sampai tidak dapat dikeluarkannya lagi, dan kami berdua jatuh TKO. Setelah itu kupakai obat pemberiannya dan beberapa waktu kemudian rasa yang kualami setiap bulan kurasakan kembali.

Hari-hariku terus berjalan, persahabatanku dengan Rina berlanjut dan jiwa kami masih muda, kami ingin banyak mengenal sesuatu yang baru. Kami sering mendapat kenalan baru dan kami saling berbagi, dan juga bertukar pasangan. Pengalaman dan pengetahuan kami terus bertambah. Setiap lelaki yang tidur denganku dan Rina tidak mau lepas. Mereka berusaha memiliki kami. Tubuh dan wajah yang indah dan kemampuan kami di atas ranjang benar-benar membuat mereka ketagihan. Hubungan sex kami sangat aktif, hampir setiap hari kami bergiliran dengan setiap pacar kami. Rasanya makin diasah, gairah kami makin tajam, sampai-sampai tidak dapat dibendung lagi.

Beberapa kali kami berkerkenalan dengan pria yang hampir setua orangtua kami, aku dan Rina bertahap mulai dekat dengan mereka. Mereka baik, lembut dan pengertian, selalu mau mengerti perasaan kami. Disuatu hari, Om Edo mengajak kami jalan-jalan, kami senang dan dapat bergembira dengan puas. Keesokan harinya, aku diajak Om Edo jalan-jalan ke Lembang. Di sana kami jalan-jalan ke beberapa objek wisata terdekat. Udara pun kurasakan dingin, gerimis membasahi bumi, aku tidak kuat menahan rasa dingin. Rasanya aku perlu penghangat untuk menghangati tubuh ini. Beberapa kali kupegangi telapak tangan Om Edo untuk merasakan hangat. Beberapa lama Om Edo akhirnya mengerti keadaanku, dia merangkulku untuk membagi kehangatan tubuhnya.

Sampai di suatu tempat yang tenang, di sana hanya ada kami serta tumbuh-tumbuhan saja. Awalnya kami duduk di antara pepohonan. Om Edo berada di samping sambil merangkulku. Aku menyukai hangat tubuhnya. Tampaknya cara duduk kami mengganggu, akhirnya kupindahkan tubuh ini ke depan Om Edo. Aku duduk di depan tubuhnya, dan kurasakan kehangatan di belakang tubuhku. Dia memelukku dari belakang. Salah satu tangannya kuajak ke atas pahaku dan lalu kuelus-elus. Tangan Om Edo memeluk pinggangku. Perutku dielus dengan pelan, tampaknya dia menikmati sentuhan tanganku, begitu juga denganku. Tampaknya kami berdua mulai merasakan sesuatu yang menghangat. Tangan Om Edo tidak mau kalah dengan tanganku, dia mengelus-elus pahaku, ah lembutnya yang kurasakan.

Tahap demi tahap tangannya mengarah ke lubangku, aku menikmatinya. Nafsu kami pun meningkat, Om Edo mencium dan menikmati telingaku, ah beku tubuh ini rasanya. Perlahan dia mencium pipi dan leherku dengan lembut, lalu perlahan ke arah bibirku. Akhirnya kami berciuman, alangkah lembutnya Om Edo yang kurasakan.
Perlahan kulepas kecupannya, lalu kudekati telinganya, dan kubisikkan, "Yang lembut ya Om..!"
Om pun menunjukkan kemampuaanya, dia membuai jiwa, batin dan tubuhku, serasa melayang diri ini. Kupasrahkan tubuh ini untuk Om Edo, dan kami pun sama-sama menikmatinya.

Bibir Om Edo mengecup bibirku kembali, tangan kirinya mengelus-elus celana tengahku dengan lembut. Perlahan telapak tangan kanannya yang memeluk perutku kuarahkan ke dadaku, kurasakan lembutnya sentuhan tangannya. Tangannya segera melakukan tugasnya dan kunikmati sentuhan lembutnya. Perlahan kancing dan resteling jeans-ku dibuka Om edo. Tangan kirinya menyusup ke dalam celanaku. Rupanya lubangku sudah terangsang dan basah. Tanpa basa-basi, Om Edo menggosok daerah sensitifku, tanganya tidak terburu-buru masuk ke vaginaku. Perlahan tangan kanannya meraih kaitan bra-ku dan melepasnya perlahan. Tangan kanannya menyusup dan mengelus pundakku, lalu perlahan ke depan, ke dadaku.

Sesaat beberapa lama kemudian, dia mengangkat kaos dan bra-ku, sehingga mahkotaku terlihat jelas. Bibirnya perlahan berjalan, dari bibir, dagu, leher, pundak dan akhirya putingku masuk ke dalam mulutnya yang lembut. Dada, perut dan daguku reflek terangkat. Perlahan tanpa kusadari tanganku melepas kaos dan bra-ku, celana jeans-ku pun agak kuturunkan sedengkul, dan akhirnya kulepas semuanya dan kami buat menjadi alas. Secara perlahan jari Om Edo masuk ke lubang vaginaku, ah daguku terangkat tinggi. Kedua tempat itu, yaitu dada dan vaginaku disentuh Om Edo. Perlahan jari Om Edo keluar-masuk di lubang vaginaku, awalnya aku tidak kuat menahan nikmatnya sampai aku tegang dan menahan nafas. Aku melayang jauh dan tidak sanggup bergerak, yang bisa hanya pasrah menikmatinya.

Sesaat kurasakan rangsangan yang kuat, dan kukeluarkan desahan yang tidak sanggup kutahan. Tampaknya Om Edo mengerti. Tanpa kusadari bajuku menjadi alas dan Om Edo perlahan memeluk tubuhku dari depan. Dengan rasa pasrah dan penuh dengan kenikmatan, kudekap tubuh Om Edo. Perlahan kurasakan ada sesuatu yang keras dan menonjol di dekat bawah perutku, lalu perlahan masuk ke vaginaku, daguku terangkat dan suaraku tidak sanggup kutahan. Desahan demi desahan suaraku yang tegang pun mengeras, sampai akhirnya kami merasakan puncak dari semua itu. Akhirnya dari sana kami berangkat menuju ke tempat Om Edo di daerah sana. Karena kami belum puas, kami pun melakukannya kembali di tempat Om Edo.

Setelah semuanya terjadi, suatu saat Om Edo mengajakku menikah. Maklumlah, dia ditinggal istri-istrinya (istri yang lalu) yang sudah tiada, dan dia tidak memiliki anak. Dia mengatakan butuh aku, tetapi kutolak, dan aku janji tetap membantu sesuatu yang kurang padanya, maaf jawabku, begitu juga dengan Om Edo, dia berkata sama. Mulai dari situ aku menyukai Om-Om, karena mereka memiliki cara berpikir dan emosi yang sudah matang. Pernah suatu saat kukatakan pada Om Edo kalau aku pernah hamil, dan untunglah tidak terjadi, lalu kuungkapkan aku tidak mau hamil di usia ini. Lalu Om Edo mengenalkanku dengan alat-alt KB, lalu kucoba dan ternyata aku memilih spiral, karena lebih aman. Lalu kutawarkan Rina untuk memakainya, dan dia menyetujuinya. Akhirnya saat kami datang bulan, Om Edo mengajakku dan Rina ke dokter kenalannya, lalu kami dipasangkan spiral.

Akhirnya kami merasa tenang dalam setiap berhubungan. Tidak ada rasa was-was, yang ada hanya kepuasan. Setiap semburan dari penis dapat kami rasakan dan nikmati di dalam permainan. Aku melakukannya bukan hanya dengan Om Edo, tetapi juga dengan Om yang lainnya, tapi hanya Om Edo yang terbaik. Suatu hari Om Edo ulang tahun, aku bingung harus memberi hadiah apa, dia sangat baik.

Sesampainya di rumahnya kami, (aku dan Rina) hanya merayakannya bertiga, dia, aku dan teman baikku Rina. Akhirnya kami jalan-jalan. Dan akhirnya sampai kami kembali ke rumahnya, aku bingung karena tidak ada hadiah. Terlintas aku ada ide, pastilah kami suka.
Lalu aku bertanya pada Rina, "Kamu mau nggak ama Om Edo..?"
Rina menjawab, "Terserah kamu, boleh aja..!"
Lalu aku mengajak Rina dan Om Edo ke kamar, di sana aku memancing Om Edo. Akhirnya dia terpancing, dan kami bermain bertiga. Karena hebatnya Om Edo, nafsu kami (aku dan Rina) menjadi tinggi. Dia mencumbu kami secara bergiliran. Karena aku dan Rina tidak kuat menahan nafsu, jika ada kesempatan, milik Om Edo kami nikmati, dan seterusnya kami bermain sampai puncak.

Tampaknya Om Edo sangat berterima kasih kepada kami, terutama kepadaku. Segala sesuatu yang kami khayalkan selalu dijadikan kenyataan oleh Om Edo. Waktu aku di kelas akhir sekolahku, aku dan Rina sudah sering berganti-ganti pacar (cowok), tetapi tidak semuanya dapat merasakan tubuh kami, karena kami tidak memberinya sembarangan. Kebetulan aku dan Rina adalah teman sekelas, ya jadi kami sering bertemu. Saat itu kebetulan aku dan Rina memiliki pacar yang sekelas, ya kami jadi sering berjalan bersama. Hubungan kami sudah tidak ada batas lagi, kami sering berkumpul di rumah kami secara bergantian. Tentu saja jalinan hubungan kami sangat dalam, sampai ke dalam tubuh kami.

Hubungan kami tidak hanya di luar sekolah, di dalam sekolah pun hubungan kami dengan pasangan kami sangat aktif. Setiap keadaan yang memungkinkan, dan bila hasrat kami muncul, kami pun melakukannya. Maklum, pakaianku sangat memungkinkan, sesaat kuangkat rokku tinggi, kulepas sedikit CD-ku, maka milik pasangan kami dapat masuk dengan leluasa, tentu saja dengan gaya tertentu. Terkadang di kelas, di wc sekolah, atau tempat lainnya yang aman, kami terus melakukannya. Tentu kami harus bergiliran berjaga-jaga, supaya tetap aman. Tetapi aku dan Rina masih berhubungan dengan teman pria kami yang dulu, serasa diri kami rakus.

Akhirnya kami lulus dengan nilai yang cukup baik, dan kami mengadakan perpisahan sekolah. Aku, Rina dan kekasih kami pergi perpisahan bersama, kami berpasangan, dan tentu saja di sana kami mencari kesempatan untuk mencurahkan birahi kami. Tetapi rasanya perpisahan bukan hanya untuk kawan-kawan sekolah, tetapi juga kami (aku dan Rina) putuskan untuk kekasih sekelas kami. Awalnya mereka tidak menerima dan menolak, tetapi akhirnya mereka tidak dapat menolak, karena keputusan kami bulat, dan kami jelaskan bahwa kami masih bisa akrab seterusnya.

Liburan panjang pun kami rasakan, tampaknya Aris dan Heri akrab lagi terhadap kami, dan kami berjalan bersama. Aku dan Rina diajak berlibur bersama mereka, dan kami pun bersenang-senang bersama. Seusai berlibur dengan mereka, Om Edo pun memberi hadiah kepadaku dan Rina berlibur ke Bali, dan kami merasakan kegembiraan bersama. Akhirnya kami kuliah, dan tempat kuliah kami di pinggiran kota Jakarta. Di sana kami dibelikan rumah oleh Om Edo sebagai tempat tinggal kami untuk kuliah. Kami memberikan alasan ke keluarga bahwa tempat itu adalah tempat yang murah dan baik buat kami. Akhirnya aku dan Rina tinggal di sana, dan kami berhubungan akrab dengan Aris dan Heri, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa kami berhubungan dengan Om Edo yang kami katakan sebagai pemilik kost.

Awal kuliah kami masih berganti-ganti pacar dan kawan. Mereka sering menginap, begitu juga aku dan Rina. Akhirnya, di akhir semester, aku dan Rina mulai serius dengan Aris dan Heri. Sering Om Edo, Aris dan Heri bergantian bermalam, tetapi Aris dan Heri tidak mengetaui hubungan ini, kecuali Om Edo. Akhirnya kami lulus kuliah, dan kami mulai mengurangi aktivitas hubungan intim kami terhadap Om Edo, dan dia mengerti keputusan ini. Sampai akhirnya kami (Om Edo, aku dan Rina) dapat jodoh, sampai pada saatnya Aris dan Heri memiliki kami, akhirnya janur kuning menyelimuti salah satu jari kami.

Aku, Rina, Aris dan Heri terus berhubungan sampai dengan hubungan yang tidak akan pernah lepas. Kami sering ke luar kota bersama, di sana kami berpasangan. Terkadang kami jenuh berhubungan dengan suami, tetapi kami tetap berpasangan, pasanganku adalah suami Rina dan suamiku berpasangan dengan Rina. Kami melakukannya untuk mendapat gairah dan mempererat hubungan kami. Kami terus menikmati ini sampai di atas rajang, dan tanpa ada rasa cemburu serta iri, kami terus berbagi. Mereka bangga memiliki kami, tidak jarang setiap bersama, tubuhku dan Rina ditelanjangi dan terus dinikmati suami kami secara bergantian. Terkadang aku dan Rina serta Om Edo masih berhubungan jauh, terkadang sebulan sekali atau lebih kami melakukannya tanpa diketahui pasangan kami.

Cerita Panas Perjakaku Buat Rita  

1 komentar

Malam minggu itu jam 21:15.. aku ketinggalan kereta di stasiun bogor, tapi aku hrs ke jakarta, ada urusan kerjaan yang harus diselesaikan malam itu juga buat senin pagi. Aku tidak bisa nginep Imagedi rumah orang tuaku malam itu. Akhirnya aku ke terminal bis dan akan naik bis ke uki baru nanti nyambung lagi taxi ke rawamangun, kostku di sana.. Dengan naik angkot sekali aku dah sampai di terminal, aku lihat bis ke uki masih ngetem.. aku naik, masih kosong.. cuma ada 2 org bapak2 di bangku depan. Aku memilih bangku deretan ketiga dari depan yang sebelah kiri bis.

lama juga menunggu tapi penumpang yang naik baru 6-7 org.. itupun duduk di bagian tengah.. penjual makanan sudah beberapa kali naik-turun, tak lama.. seorang ibu2 muda naik dan dia duduk dideretan kedua bangku sebelah kanan, pas naik sepertinya dia sempat merilirik aku lalu duduk, tukang gorengan naik lagi, dipanggilnya.. dan sambil memilih dan mengambil gorengan dia sempat melirik lagi ke aku.. hmh.. lumayan.. ga tua2 amat.. cantik dan bersih lagi.. aku senyum ! dia nawarin gorengan ke aku.. aku ngangguk pelan, malu juga tar kl ketauan penumpang lain kalau kami saling memberi kode.

Bis masih ngetem.. sesekali dia melihat ke aku, dari matanya.. sepertinya dia minta aku duduk di sampingnya.. aku cuma bisa senyumin dia, aku ga enak, malu.. aku belum pernah kenalan sama cewek di bis.. memang aku sudah 27 tahun (3 tahun yang lalu), sudah bekerja tapi untuk urusan sex aku masih hijau, aku memang sering petting dan oralsex sama mantan pacarku dulu, tapi sejak putus dengan Dian 4 bulan yang lalu aku ga pernah kencan dengan siapapun, tapi kami ga pernah lebih jauh dari itu, dan sekarang aku jomblo. satu-satu penumpang mulai mengisi bangku kosong, dan disebelah mba itu juga dah diisi 2 org laki-laki. sesekali.. sambil pura2 melihat keluar jendela bis, mba itu meneruskan pandangannya ke aku dan matakupun tidak lepas melihat dia.. hmh.. pengen ada disebelahnya.. mana hujan mulai turun saat bis mulai berjalan dingin.. ! Dalam perjalanan dia masih sering curi2 pandang.. pikiranku mulai menerawang membayangkan sebuah cerita romantis dengannya, membuat si "dd" mulai bangun, ahh.. tak terasa bis sudah sampai pintu tol TMII, pasti sebentar lagi akan sampai di UKI.

"uki abiss... uki abiss.." teriak kenek bis. Penumpang siap2 berdiri untuk turun, mba itu juga.. sambil melirik ke arahku dan aku senyumin dia, di bawah jempatan penyeberangan uki dia berdiri, aku coba deketi. "maaf mba.. mau kemana ? naik apa ?"

"pasar minggu, metromini 64 masih ada gak yaa ?" jawabnya.. melihat seperti berharap akupun akan searah.

"waduh.. jam 10:22 lho mba.. ga tau juga yah..'"

"kalo adek mau kemana ?"

"aku mau naik taxi ke rawamangun mba.."

"tapi kalo S64 gak ada.. boleh aku anter mba ke pasar minggu ?

jakarta lagi ga aman soalnya mba.. " tambahku.. "hmh... boleh.. tapi apa ga ngerepotin adek ?" katanya sambil melihat jam tangannya

"ah gapapa mba.. lagian dah malam bgt ni.. kasian kalo mba nunggu lama disini.

"ayuk mba.." kataku sambil nyetop taxi

Kami naik..

"pasar minggu ya pak.." kataku pada sopir

beberapa ratus meter kami masih saling diam.. lalu aku menoleh ke arahnya.. dia senyum..

Ini memang pengalaman pertamaku kenal cewe di bis.. tapi nggak tau kenapa, naluri telah menuntunku untuk bisa lebih dekat dengan mba ini.

"maaf mba.. namaku nino.. aku manggil mba.. ? kataku berbisik.. sambil mendekat ke arahnya, takut ketauan sama sopir kalau kami belum saling kenal

"Rita.." bisiknya lebih dekat ke kupingku

kamipun bersalaman.. tapi sepertinya aku males melepaskan jabatan tanganku, dan dia juga kelihatannya enggan.. jadilah kami pegangan tangan.. Aku duduk lebih mendekat aku genggam tangannya dan kami saling pandang dan senyum, tangan kami saling meremas..

"mba kok sendiri ? dari mana ?"bisikku ke kupingnya, tercium bau parfumnya yg enak banget..

"dari rumah adekku di ciomas, gak taunya kemalaman pulangnya.. kalo kamu dari mana ?" jawabnya, juga berbisik.. hmh.. nafasnya enak.. "dari rumah tadi mba.. tapi ada kerjaan yang harus saya selesaikan malam ini di kost saya.. makanya balik ke jakarta " balasku berbisik lebih dekat di kupingnya..

dia menggenggam erat tanganku.. memainkan jarinya du telapak tanganku. pikiran yang engga-engga mulai merasuki.. si "dd" tambah bangun, aku lebih mendekat, aku cium kupingnya.. bahunya diangkat, geli deh pasti.. lalu dia menatap mataku..

"kamu kok jadi nakal..?'" katanya dengan pandangan genit..

"abis.. mba yang bikin aku jadi nakal.. mba cantik.. lagian tadi sapa yg suruh liat2 ke aku di bis.." jawabku, sekarang tanganku sudah pindah ke bahu kirinya.

"kamu sih.. sapa suruh ganteng.. pasti pacar kamu cantik yah..?"

balesnya berbisik di kupingku.. kali ini dia cium pipiku.. waw.. !!

"aku lagi nggak punya pacar mba" jawabku

Aku tau.. aku lumayan untuk ukuran cowo.. putih, 170/62, dan wajahku lumayan menurutku, tapi Dian mantan pacarku juga pernah bilang kalo aku ganteng.. ah.. ga tau deh..

Wah.. kami sudah hampir sampai di ps minggu.

"mba mau langsung pulang ?" tanyaku.. berharap dia akan bilang tidak

"hmh.. emang kalo engga kita kemana lagi rhin..?" dia menatap mataku

"kalo mba mau.. gimana kalo kita nonton aja ?" kami masih berbisik "boleh tapi dimana ?"

"kalibata aja yuk !"

dia senyum mengangguk.

"maaf pak.. kita kembali ke kalibata mall saja.. maaf ya pak.."

kataku pada sopir taxi. Aku sudah lupa kalau aku harus menyelesaikan pekerjaan malam itu. Taksi berbalik arah ke kalibata mall.

sampai di kalibata21 kami lihat sudah mulai antrian tiket midnite, aku ikut antri.. mba rita aku minta duduk aja nunggu aku. Sampai di depan penjual tiket, aku pilih film.. aku lihat di bangku paling belakang masih ada tempat di pojok yang belum terisi. "A 1-2 aja mba" pilihku ke mba penjual tiket.. dia melirik, seakan tau niatku, huh.. !

sambil menunggu pintu theater 3 dibuka aku ngobrol sama mba rita. "maaf mba.. hmh.. mba sudah berkeluarga ?"

"sudah rhin.. tapi suamiku kebetulan lagi keluar kota sejak 3hr yl, mungkin sampai minggu depan, ada urusan kantor katanya"

"oww.. " aku cuma bengong melihat ke arah mba rita..

Diraihnya tanganku.. aku genggam.. kami saling pandang.. "jangan panggil aku mba lagi yah rhin.. panggil namaku aja.. makasih kamu dah ngajak aku nonton malam ini, soalnya kalopun aku pulang, sepi, males, aku blm punya anak soalnya, lagian ga ada siapa2 di rmh, kami tinggal berdua saja, kadang sesekali ada adikku cowok yg nemenin, tapi kl malam minggu ini, dia pasti ngapel, dan ntar pulang ke rmuah ortu.. gak tau kenapa.. padahal kami dah nikah 8 th" katanya lirih..

Aku remas jemarinya.. Aku membetulkan letak si "dd", soalnya mulai bangun dan menggeliat, menggelinjang dan keluar jalurnya emang si "dd" nggak panjang2 amat, cuma 15cm/4, tapi setelah selama ini ternyta banyak memberi kepuasan pada wanita. Rita melihat itu. "hayoo.. kok ada yang bangun.." katanya sambil mencubit lenganku

"iya sayang.. ga tau nih.. tau aja dia kalo aku sama cewe sexy

(ups..aku manggil dia sayang ?) eehmm.. aku juga makasih dah bisa kenal sama mba.. eh rita.. kamu cantik rita.." hmh.. mulai gombalku..

Akhirnya pintu theater 3 dibuka.. setelah beli popcorn dan minuman kamipun masuk. SAmapi film main.. deretan kami cuma diisi 6 orang.. yang 2 pasang itupun di lajur kiri, jadi di kanan cuma kami berdua.. sambil ngobrol kami makan popcorn, dan minuman kaleng aku buka. Aku mulai berpikir.. malam ini akhirnya aku kencan juga dengan rita yang cantik.. putih.. dan berkulit bersih.. kami pegangan tangan.. aku peluk dia.. aku cium rambutnya, dan film pun mulai main..

Tapi kami malah asyik saling cium pipi, saling peluk, saling remas jemari, akhirnya.. aku cium bibir merahnya.. kamipun jadi makin liar.. dia isep lidahku dalam.. hmh.. tanganku mulai ke arah dadanya.. aku lepas kancing bluesnya, aku remas teteknya, mm.. gede.. kalo ga salah pasti 36c, masih kenceng bho.. ! Rita mengerang lirih, tangannya mulai mencari pegangan, kontolku.. ! diusap2nya dari luar jeansku.. akhirnya dia lepas zippernya.. dia lepas sabukku.. tangannya masuk mencari kontolku yang dah dari tadi tegak dan keras.. emang si kontolku nggak panjang2 amat, cuma 15cm/4cm, tapi setelah selama ini ternyata kuat dan banyak memberi kepuasan pada wanita, ahhh... lembutnya belaian rita.. membuat makin keras.. tak mau kalah.. aku pelorotin bra-nya rita aku jilat tetek besar itu.. aku gigit2 putingnya, aku isep dan aku sedot, tangan kananku meremas tetek kanannya dari belakang, dan tangan kiriku masuk ke dalam celana rita.. dia mengempiskan perutnya, seakan memberi jalan buat tanganku lebih masuk lagi, memang.. tanganku mulai masuk ke cd rita, dan lebih dalam, hmh.. terasa tak ada jembut, dicukur habis, jariku mulai mencari memeknya yang sudah lembab, ohh.. anget.. aku elus.. aku mainin klitorisnya.. dia melenguh sambil meremas dan mengocok kontolku lebih cepat..

"sayang.. Ahhh... aku mau dimasukin... tapi aku belum pernah" bisikku..

"Aku juga mau yang.. tapi gmn caranya.." jawabnya dengan pandangan sendu..

Aku melihat sekeliling.. pada asyik nonton semua.. lagian yg di deretan kiriku juga kelihatan pada asyik.. aku menatap mata rita.. dia kelihatannya mengerti.

"Rhino sayang.. pliss.. rita minta perjakamu sayang, rita akan lakukan apapun untukmu honey.." rita memohon di kupingku, sambil dijilatinya kuping dan leherku.

Ahh aku tak kuasa untuk menolak tapi juga ragu untuk memulai, aku sangat menginginkannya, tidak ada salahnya, toh rita cantik dan sexy..

Akhirnya aku pelorotin jeansku lalu cdku.. dia senyum.. aku tarik rita ke pangkuanku.. celana dan cdnya aku pelorotin juga..

Diraihnya kontolku yang dah berdiri keras.. ditempel ke memeknya.. dia gesek2.. ahhhhh.. rita sayang.. aku cumbu lehernya.. aku peluk dari belakang.. 2 teteknya aku remas dan aku mainin putingnya.. aku meremas dan mengelus.. dia mualai memasukkan kontolku ke memeknya yang sudah basah..

"aaarrgghhhh...rita sayang.. ennnak..." bisikku..

aku naik turunkan pantatku.. rita juga mulai memberi gerakan yang berlawanan.. ooghhh.. memek rita.. suami orang.. tapi masih saja sempit.. jepitannya membuat aku melayang.. dalam bioskop ini.. kamu saling menggenjot, tidak terlalu bersemangat, karena kami takut ada yang lihat.. gerakan kami saling mengimbangi, desahan kami saling bersahutan,, tapi lirih..dan pelan.. kupingnya aku jilat dan gigit kecil.. membuat rita semakin merintih halus.. mendesah nikmat.. saat dia menggerakkan pantatnya memutar.. kontolku berasa diremas dan dipijet.. aku sodok ke atas.. aku ikutin puteran pantat rita aku cubit2 kecil putingnya.. tangan kiriku mengelus perlahan ke perut rita.. dan terus mencari klitorisnya.. aku tekan-tekan.. aku beri cubitan kecil.. posisi kami memang memungkinkan untuk itu.. rita dipangkuanku.. menghadap kedepan.

"aahh.. rhino honey.. memek rita diapain.. kok enak banget sayang.." desahnya

Semakin liar tapi hening.. semakin bersemangat memberi jepitan dan sodokan.. hanya desahan2 kecil yang ada.. Gila.. sensasi ngentot di bioskop enak banget, takut ketahuan dan kelihatan orang menambah kenikmatan kami.. Apalagi ini penglaman pertamaku. Rita makin cepat menaik turunkan pantatnya, sesekali memutar.. aku juga semakin cepat menusuk memek rita, ahh.. keringat rita di leher aku jilat.. memang dingin di sini, tapi kami berdua basah oleh keringat birahi. "rhino.. rita mau keluar sayang.. cepat.. kita bareng.." "iya rita.. aku juga.. ahhhh lebih cepat.. jepit yang kuat sayang" goyangan pantatku ke memek rita makin cepat, rita juga.. sesekali terdengar bunyi derik tempat duduk kami.. sudah kepalang basah.. kami tak menghiraukan lagi akan takut ketahuan... aku genjot.. rita menjepit.. tangan kananku meremas buah dada besar itu.. tangan rita meremas rambutku.. semakin liar.. semakin cepat.. "aahhh..... ooghhhh.... rrhhhiiiii.... nnoooooo... rriii..taaa.. kellll...rgghh.." desah suara rita tertahan..

"aarrggggggghhhhhhh........ ouuugghhhhhhh.... ritaaaaaaaaaaaa.. "bales rintihku.. Aku keluar... spermaku muncrat tanpa sempat bertanya keluarin di dalam apa diluar.. croooott..... crroootttt.. ahhh menyemprot ruang2 vagina rita.. dan terasa memeknya membuat kedutan dan jepitan di kontolku... Kami lemas... dan kamipun kembali berciuman.. setelah membersihkan sisa cairan di masing-masing kelamin kami, lalu kami membereskan pakaian. Tak lama filmpun selesai, dan kami tidak tau sama sekali jalan ceritanya.. anda yang tau cerita kami..!

bubarnya film, kamipun keluar.. dan kami sepakat untuk menghabiskan malam itu berdua.. kami naik taxi ke sebuah hotel di daerah pramuka. Maaf pembaca.. cerita antara saya dan rita di hotel akan saya kirimkan dalam lanjutan kisah kami, dan saya mohon maaf kalau cerita ini kurang membuat anda "bergidik" mohon koreksi dan tanggapannya lewat email saya. Sekarang saya sesekali masih mencari sex partner walaupun saya sudah menikah dan punya seorang anak yg lucu dan cantik tapi pengalaman sex yang tanpa rencana terasa lebih nikmat, untuk anda ibu2 muda atau tante2 yang tertarik menikmatinya dengan saya silakan hubungi saya. Untuk Rita.. terima kasih atas pengalaman indah yang kamu ajarkan padaku.