17 April 2008

Cerita Panas Tante Cantik Idamanku  

2 komentar

Hi, nama saya Andreas, teman biasa memanggil saya "Andrew". Saya seorang expat (bule) yang telah lama tinggal di Jakarta, dan saya ingin bertanya kepada anda: Pernahkah anda memiliki fantasi seksual terhadap seorang wanita? Wanita itu dapat menjadi siapa saja! Bisa jadi guru anda di sekolah dulu, dosen di universitas, teman kerja, bos atau bawahan bahkan mungkin pembantu di rumah anda! Yang jelas wanita itu pasti memiliki sesuatu yang membuat nafas anda sesak setiap kali mengingatnya. Well, saya punya! dan percaya atau tidak, saya adalah salah satu lelaki beruntung diantara jutaan lelaki yang lain, mengapa? Karena anda akan menemukan bahwa segala impian dan fantasi seksual saya akan menjadi kenyataan. Dari dulu saya memang selalu menyukai wanita Asia, mungkin salah satu alasan mengapa saya mau ditugaskan oleh kantor saya di Jakarta, tempat yang tadinya saya tidak pernah tahu eksistensinya, tempat yang tadinya saya tidak tahu akan ada wanita seperti Yuli.

Hmmmh, Yuli oh Yuli.. Dia memang tidak memiliki buah dada sebesar Pamela Anderson, tapi buah dadanya yang sedikit lebih besar dari kepalan tanganku selalu terbayang di dalam blouse kerjanya ditutupi bra hitam tepat di bawah leher panjang dan bahu indah warna kuning langsat khas wanita Asia. Yuli memang tidak memiliki postur tubuh seindah Cindy Crawford, tetapi pinggangnya yang kecil selalu menemani pinggul indah bak apel dan hmmm.. pantatnya yang ranum selalu terbayang! Tak ketinggalan kaki kecilnya yang panjang bak peragawati menopang pahanya yang putih bersih ditutupi rok mininya yang sexy! Takkan habis hasratku menginginkan dirinya! Terbayang selalu diriku di atas tubuhnya yang ramping putih meremas buah dadanya! Menarik turun rok mininya! Dan memasukan alat kejantananku kedalam kemaluannya! Memompanya dengan cepat! Dan lebih cepat! Dan... "Andrew?"

"Oh.. Hi! Yul.." dengan gelagapan aku menjawab sapaan Yuli yang entah telah berapa lama berada di hadapanku yang sedang melamun sambil minum sendirian di Hard Rock Cafe ini. He he, malunya aku!

"Andrew, kamu lagi ngapain di sini?" Sekali lagi dia menyapaku.
"Yul! Ngga sangka ketemu kamu di sini", jawabku cepat menutupi kagetku.
Yuli menjawab dengan senyuman sambil berkata: "Aku sih emang sering ke sini! Seneng deh bisa ketemu kamu, hihi.. kamu sendirian kan? Aku join kamu yah? yah?"
Sebelum sempat aku menjawab, Yuli telah menarik bangku dan duduk di sampingku, dan kuberpikir "Ya Tuhan betapa anehnya ini..."
Lalu selanjutnya kita berdua telah asyik berbicara ngalor-ngidul. Tak kusangka Yuli ternyata kuat minum. Pembicaraan kami diwarnai oleh pesanan baru yang selalu datang mengganti gelas cocktailnya yang mulai kosong. Sementara konsentrasiku untuk minum telah luluh-lantak dihancurkan sepasang bahu indah ditemani leher panjang di atas belahan dada putih milik Yuli, sang fantasi seksualku yang tiba-tiba datang menghampiri! Yuli malam ini memang lebih sexy dari biasanya ditutupi gaun sackdressnya yang berwarna merah menyala.
Dan kuberpikir lagi, "Oh Tuhan mimpi apa aku semalam?"

Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 3 pagi. Dari cara Yuli berbicara dan raut mukanya, kutahu bergelas-gelas cocktail yang Dia minum telah memberikan hasil sesuai yang diinginkannya. Yuli mabok. Tidak ada hal lain yang dapat kulakukan selain meminta kunci mobilnya dan memaksa untuk mengantarnya sampai di rumah. Yuli tidak melawan dan dengan pasrah masuk ke dalam mobil di kursi penumpang depan.
Kumulai menyupirkan mobilnya sampai tiba-tiba Yuli berkata, "Drew! Aku nggak bisa pulang lagi mabok kaya beginih.. Ke rumah kamu aja yahhh... aku tidur rumah kamu dulu boleh kan Drew?"
Aku berpikir "Terima kasih Tuhanku!"

Setibanya di apartemenku, kubimbing dia ke kamar tidurku, Yuli langsung duduk di tempat tidur.
Tersenyum aku sambil mencopot sepatunya, kuberpikir "Ya Tuhan betapa indah dan sexynya sepasang kaki putih laksana kapas ini.. dan hmmmh..."
Tiba-tiba terdengar bisikan yang berkata, "Jangan Andrew! Dia mabok! Kamu nggak boleh mempergunakan kesempatan! Itu tidak gentleman!"
Lalu, "Man! lihat betapa sexynya pundak si Yuli, lehernya.. pahanya... Ohhhh"
Dan, "Andrew! Kamu bukan orang seperti itu!"
Lalu, "Ingat Andrew! Kapan lagi kamu punya kesempatan seperti ini, jangan bodoh!"
"Sial!!" dalam hatiku.
Ada seorang wanita cantik dan sexy, idamanku, fantasy seksualku, duduk di tempat tidurku dan aku malah bingung harus gimana.
"Sial! Sial! Sial!"

Ketika aku sedang sibuk sendiri dengan pikiranku, tiba-tiba, "Andrewhhh... sini Andrew.. Hhhh" rintih Yuli.
Tanpa berpikir dua kali aku mendekat seperti anak buah dipanggil majikan dan berkata, "I.. Iya Yul.. Ada yang kamu mau? Air putih mungkin?"
"Aku mau kamuhh, Andrew sayanghh.." Yuli menjawab.
"Deg!" tak kuasa kutahan degup jantungku yang semakin menderu-deru.
Belum sempat kuberpikir lebih lanjut, kulihat jari-jari mungil Yuli telah berada di ikat pinggangku bersamaan dengan tangan putih berbulu halusnya.
"Aku ingin kamu Andrew.. "
Sekali lagi Yuli membuka bibirnya yang basah dan ranum memerah, "Iya Andrewhh.. malam ini!" Yuli meneruskan desahannya.
"Tapi.. Yul.." belum sempat kuhabis berucap, tiba-tiba jari-jari mungil tadi dengan perlahan membuka ikat pinggangku dan dengan bantuan lengan yang indah berbulu halus tadi menarik turun celana blue jeansku dengan mudah tanpa perlawanan dariku.
"Ohhh Yuli... Aku tak tahu ini benar dilakukan atau..." jawabku.
"Ssst.. Aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya dengan orang putih sepertimu Andrew.. " Yuli memotong, dan mulai menarik turun celana dalamku.
"Hmmmh, memang Punyanya bule sepertimu lebih besar dari pada orang kita."

Yuli dengan genit memandangi alat kemaluanku yang memang sudah mulai mengeras. "Yul.." Aku yang merasa harus mengatakan sesuatu.
Kembali dipotong olehnya sambil berkata, "Kamu harus tau kehebatan cewek Indonesia Drewhh.. mmmhhh," sambil berkata demikian Yuli mendekatkan wajah cantiknya ke jantananku dan sambil mengedip-ngedipkan bulu matanya yang panjang dan lentik .
Yuli mulai mengecupnya, "Mmmuuah.. cup.. cup.." Bibirnya yang merah ranum mulai menjelajahi kepala kejantananku yang mulai mengeras dan terus mengeras.
"Aku belum pernah dengan barang segede gini.. hihi," godanya genit dan kali ini menjulurkan lidahnya ke batang kemaluanku dari bawah kembali ke atas menyentuh kepala kejantananku lagi.
"Mmmmhhh," godanya lagi.
"Shhh.. hhhh," aku cuma bisa mendesis, tak terbayang betapa terangsangnya aku oleh kejadian ini!
Dan, "Emmmhh," Yuli memasukkan setengah alat kejantananku kedalam mulutnya yang mungil, dan kepalanya mulai bergerak naik turun secara perlahan.
"Ughhooooghhh.. Yuli! yeah!" Aku merintih menahan rasa nikmat dari mulut Yuli yang basah dan hangat.
Yuli sejenak menarik keluar kejantananku dari mulutnya dan berkata, "Emmm.. Enak nggak sayang?"
Lalu kembali melumat dan menghisap kejantananku kali ini dengan ritme yang lebih cepat, "Mmm.. mmm..mmm.."

"Arrrggghh!! Yuli! Oh Yuli..." Aku mulai mengerang agak keras karena merasakan lidah halus Yuli bergerak-gerak di dalam mulutnya yang hangat sementara kepala Yuli terus bergerak naik turun bertambah cepat.
"Ouugggghh!!!" Kali ini aku tidak dapat menahan hasrat yang meluap-luap di dalam diriku.
Kutarik turun gaun sackdress yang dipakainya sehingga terlihat punggung putih mulus berbulu halus sedikit tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam lebat. Yuli tidak memakai bra. Kemudian kuteruskan lagi menarik turun sampai terlihat celana dalam putih tipis berenda yang membalut pantat putih kemerah-merahan yang ranum. Lalu kujulurkan tanganku yang panjang mencoba meraih liang kewanitaan yang tersembunyi di bawah pantat ranum putih miliknya. Dan tersentuh olehku daging halus sedikit berbulu yang telah basah oleh cairan lubrikasi tanda siap untuk bercinta!

"Ohhhh Yuli.. hhh kamu sudah basah," ku bertutur terbata-bata.
"Hmmm... hmmm..." Kata-kataku dijawab Yuli dengan hisapan yang lebih cepat dan liar terasa cepat melumat seluruh batang kejantananku.
"Ghhhhaahh.. Yuli!!!" Aku kembali mengerang dan mulai menggerak-gerakkan jari-jariku di bagian apa saja dari liang kemaluannya yang dapat kuraih! Trus dan trus kujulurkan jariku sampai menyentuh klitorisnya.
"Mmmhhh!" Kali ini terasa reaksi dari Yuli karena Ia mengerang keras sambil membalas dengan mempercepat hisapan dan lumatannya ke batang kejantananku.
"Urrrghhh!! hmmm," aku tidak mau kalah dan kembali membalas dengan menggetarkan secara cepat sekali jariku di atas klitorisnya!
"Uooohhhh... ohhhh," tak tahan Yuli mengeluarkan kejantananku dari dalam mulutnya, merintih dan mulai menggenggam batang kejantananku dan mengocok cepat naik turun.
"Uhh.. mmmhh.. ohh.. yeahhhh!!" Berdua kami mengerang, merintih, menikmati sentuhan masing-masing sampai akhirnya Yuli tiba-tiba mendekatkan mukanya kepadaku. Yuli mulai menciumi dan melumat bibirku dengan bibirnya yang merah basah.

Kubalas ciumannya sambil kupeluk dan kuelus punggung mulus dan rambutnya yang tergerai di belakang.
"Hmmmhh.." Sambil berciuman, Yuli merentangkan kedua kaki mulus jenjangnya dan naik keatas ku.
"Sekarang Andrewwhh.. hhh.. hh.. ambillah aku sekaranghhh..." Yuli berkata dengan nafas memburu sambil menatap lekat wajahku dengan paras cantiknya.
Dengan penuh nafsu kutarik turun celana dalamnya dan kupegang batang kejantananku dengan tangan kanan, juga selangkangan Yuli dengan tangan kiri. Lalu mulai memasukkan dengan perlahan kepala kejantananku kedalam liang kemaluannya yang merah menyala basah ditumbuhi rambut-rambut hitam halus indah di atasnya.
"Hoohhh... ssshhh," Yuli mendongak ke atas sambil memejamkan matanya dan mendesis merasakan kenikmatan penetrasi kepala kejantananku di lubang kemaluannya yang lalu kusambut dengan memasukkan batang kejantananku lebih dalam lagi. "Bles!"
"Uhhhhh.. yeah!! Andrewhhh!"
"Ohhh Yulihhh..." sambil kuangkat badan Yuli sedikit dan kulepas lagi sehingga naik turun di atas badanku.
"Ouurgghh.. ahhhhhh..."

Kali ini Yuli mengerang semakin keras dengan raut wajah sedikit meringis sambil berkata lagi, "Terus Andrewhhh.. gerakin lagi lebih cepat shhhh... mmmhhh... yeahh.."
Terus terang tidak mudah bagiku untuk bergerak cepat memompa Yuli naik turun di dalam jepitan kewanitaannya yang sempit dan hangat seolah ingin menyedot seluruh kejantananku masuk ke dalam.
"Ohh.. mmmm... mmmhhh.. shhh.. yeahh.." Yuli tanpa henti-hentinya merintih, mengerang dan menggeram mesra seiring kunaikkannya kecepatan tubuhnya yang mulai basah berkeringat naik turun di atasku sambil kubenamkan terus lebih dalam kejantananku ke dalam liang kemaluannya yang semakin hangat terasa meremas-remas dan memijat-mijat kejantananku.
"Ohh Yuli .. ohhh kamu suka sayanghh?" Aku bertanya di sela-sela rintihan, buruan nafas dan erangan kita berdua.
"Hhhhh.. Cepat lagi sayanghh... mmmhhh. cepat lagihh!" Rintih Yuli semakin bersemangat dan mulai menggerak-gerakan pinggul mulus sexynya dengan gerakan erotis kekiri dan kekanan yang membuat liang kemaluannya semakin sempit hangat membara, menyedot dan memuntahkan kuat kejantananku keluar masuk semakin cepat dan keras.

"Arrrgghhh!! Yeahhh!" Geramku sambil membalas dengan menggenjotkan pantatku ke atas untuk membantu kejantananku menghunjam dan menusuk lebih dalam lagi.
"Uhh.. ahhh. ahh.. ahh.. ohhh... uuhhh.. uhh.. uhh..urrgghhhaaa!" Jerit Yuli menyambut genjotan hebat yang kuberikan kepadanya tanpa henti sehingga terlihat wajah cantik Yuli memejamkan kedua matanya lalu meringis hebat sambil menggigit bibir bawah yang merah basah.
"Mmmhhh!!" dan membuka mulutnya lagi "Uuuhhh!!" Terasa seluruh tubuhnya menggelinjang, bergetar hebat menuju puncak kenikmatan dan orgasme berulangkali yang kuberikan kepadanya tanpa ampun. Terasa sakit genggaman jari-jemarinya yang mungil sedikit mencakar dan menggengam keras di kedua pundakku diikuti dengan seluruh tubuhnya menegang dengan seketika. Akhirnya, "Serr!" Terasa cairan hangat mengguyur batang kejantananku yang sedang memompa keras di dalam liang kemaluannya. Yah! Puncak orgasme. Yuli telah mencapainya.
"Uuuooohhh.. hoh.. hhh.. hhh.. hoh... hohh.. hhh," terengah-engah nafas Yuli memburu.
Seluruh tubuhnya yang putih indah telah habis basah kuyup oleh keringatnya, tidak ketinggalan rambutnya yang juga tidak kalah basah. Terasa tegang tubuhnya berkurang. Genggamannya melemas, dan tubuhnya jatuh lemah lunglai di atas tubuhku yang juga telah basah kuyup diguyur keringat.
"Hhh..hhh..hh.. mmmhhh kamu emang hebat Andrew.. aku belum pernah merasa sepuas ini oleh lelaki sebelumnya..." Tutur Yuli.

Saya kira tidak perlu saya ceritakan lagi apa yang terjadi seterusnya, karena cerita ini bukan mengenai diriku, melainkan mengenai fantasi seksualku, di mana saya berharap andapun akan mengalami hal yang serupa dengan fantasi seksual anda.

Cerita Panas Salon Plus  

4 komentar

“Silakan duduk, Mas..” sambut seorang wanita setengah baya sambil tersenyum dan menunjukkan ruangan di mana kami berdua duduk. Di ruangan depan yang cukup luas itu berjajar kursi-kursi untuk potong rambut beserta perlengkapannya. Di sampingnya, terdapat ruang tamu tak begitu luas dan menjorok ke dalam agak tersembunyi. Di ruang tamu ada bar kecil dan berjajar sofa yang telah diduduki oleh sekitar 7 wanita muda.

Kutebarkan pandanganku ke wanita-wanita muda itu. Ada yang lagi makan baso, ada yang merokok, memotong kukunya sendiri, yang bengong saja, dan ada yang sedang membaca majalah. Segera saja aku “mengevaluasi”, 3 orang di antaranya menarik perhatianku karena tergolong cantik dan putih. Yang pertama, tinggi, putih dan cantik. Alis tebalnya dibiarkan lebat tak dikerik, kakinya panjang mulus dan rok mininya memperlihatkan sepasang paha yang berbulu lembut “berbaris” rapi, buah dada yang hanya sedikit menonjol tipe peragawati. Yang kedua, lebih putih, sama-sama mulus, pendek mungil dada sedang. Ketiga, sama putihnya dengan yang pertama, tingginya di antara keduanya, tak begitu cantik, dada menonjol mempesona dibalut baju ketat. Keempat orang sisanya tak perlu kuperhatikan, karena “diluar perhitungan”.

Aku sedang menimbang-nimbang mana yang akan kupilih. Kalau ingin menikmati buah dada, jelas yang ketiga memenuhi syarat. Jika ingin paha dan kaki indah, tentu yang pertama. Kalau suka kulit yang betul-betul putih, pilih yang kedua. Kalau sudah memilih, terus gimana ? Ruangan potong rambut itu terbuka, mana bisa pegang-pegang, apalagi diloco ?
“Mau potong rambut, atau dirawat, Mas ?” tanya wanita paruh-baya tadi.
“Dirawat ?” celetuk temanku.
“Iya… rawat muka, biar bersih, halus. Ini perawatnya” jawabnya sambil menunjuk ke wanita-wanita muda itu. “Mau sama Susy, Ina, Euis, Tini, pilih aja” lanjutnya.
“Dirawatnya di situ ?” aku membuka suara sambil menunjuk ke kursi cukur.
“Engga, di dalam ada ruang rawat” jawabnya.
Kembali kami terdiam menimbang. Mata kawanku sedang “meneliti” wanita ketiga. Rupanya dia suka buah dada.
“Mau sama Euis, Mas” kata wanita tadi kepada temanku. Si dada molek itu Euis namanya. Kawanku mengangguk.
“Yuk ke dalam. Antar dong Euis !” Mereka berdua beranjak, menyeberangi ruang depan menuju pintu di belakang.
“Mas sama siapa ?” Aku menunjuk si “peragawati” yang ternyata Ina namanya. Aku penasaran ingin menikmati paha mulus berbulu halusnya.

Masuk pintu belakang itu kami belok kiri, terdapat ruang-ruang bersekat dengan pintu dari kain korden, mirip ruang panti pijat.
“Masuk Mas” sapa Ina.
Di ruangan yang tak luas itu terdapat satu kursi tinggi sepanjang dipan beralaskan jok busa warna hijau tua. Separoh panjang kursi itu berlipat menyudut ke atas, sehingga kalau aku rebahan di situ mirip rebahan di kursi-malas. Kemudian ada rak yang berisi peralatan salon, juga ada baskom. Ini adalah kunjungan pertamaku, jadi aku tak tahu mau ngapain atau diapain. Atau langsung serang saja ? Jangan. Lihat situasi dulu.
“Sering ke sini, Mas ?” tanya Ina sambil mempersiapkan peralatan membelakangiku. Sepasang kaki itu memang mulus.
“Baru kali ini” jawabku.
“Oh.. ya” katanya, masih membelakangiku. Walaupun tubuhnya tinggi langsing, Ina punya kelebihan lain, pantatnya. Tak begitu lebar, menonjol kebelakang, dan membulat. Ina mengambil “baju” dengan model seperti kimono warna hijau muda polos.
“Mas ganti pakai ini” perintahnya.
Aku melepas baju dan singletku sekaligus lalu memakai kimono. Ina membantuku. Alisnya yang tebal menambah cantiknya.
“Singletnya engga usah dilepas” katanya.
“Biarin aja, udah terlanjur”
“Celananya dilepas juga, dalemnya engga, lho” perintah Ina lagi. Aku nurut saja. Tiba-tiba muncul isengku. CDku kupelorotkan juga, Ina engga tahu kelakuanku ini. Dalam kondisi yang hanya mengenakan kimono dan berduaan di kamar dengan cewe, aku jadi terangsang. Penisku mulai bangun.
“Naik, Mas”
Bulatan pantat itu menggairahkan. Ina kupeluk dari belakang. Kutekan kontolku di bulatan indah itu. Kini aku benar-benar ngaceng.
“Eeee…… disuruh naik malah…. kita rawat dulu” katanya sambil melepas pelukanku.

Aku terlentang di kursi panjang. Ina berdiri di sisi bagian kepalaku mulai membersihkan mukaku dengan kapas. Posisi yang sulit untuk “kurangajar”. Aku mulai mengutuki temanku pemberi info. Katanya bisa pegang-pegang dan diloco. Tadi coba kupeluk, ditolak. Tapi sempat juga sebelah tanganku menggapai pahanya…… halus….! Hanya sebentar, Ina langsung menepis tanganku. Tak mau diganggu selagi kerja. Mungkin nanti kalau rawat-merawatnya selesai, kataku dalam hati menghibur diri. Sekarang mukaku dilumuri dengan cream, lalu dibersihkan dengan air. Aku iseng lagi. Seolah tak sengaja, aku menyingkap kimonoku sehingga kontol tegangku mencuat. Sekilas Ina memandang milikku itu.
“Iihhhh…. nakal… ya” katanya sambil mencubit pipiku.
Aku bangkit setelah Ina selesai melap mukaku dengan handuk kecil. Kupikir sudah selesai.
“Entar dulu…. belum selesai..”
Kemudian mukaku dilumuri lagi dengan semacam krem tapi agak keras.
“Apa nih…” tanyaku
“Masker. Udah tunggu sampai kering dulu. Jangan gerak dulu Mas, juga jangan ngomong”
“Kenapa ?”
“Supaya maskernya engga rusak. Tunggu sampai kering”. Lalu tiba-tiba…….
“Geser sono dikit, Mas” Aku menggeser dan Ina ikut naik, rebahan juga di sebelahku. Ini dia……….. mulai…….!
Dengan terlentang dan kedua lututnya terlipat, kontan rok mininya tergeser menampakkan sepasang paha mulusnya dengan utuh. Kubelai pahanya. Kali ini Ina tak bereaksi menolak. Ah… halusnya bukan main. Paha mulus berbulu halus memang sedap untuk dielus. Sementara Ina terus mengoceh, aku tak mendengarkan. Konsentrasiku ke pahanya. Tangannya kuraih kutuntun ke penisku. Acuh aja ia memremas-remas penisku sambil terus bicara, seolah “tak terjadi apa-apa”. Sementara aku sudah kelimpungan. Dari paha tanganku pindah ke dadanya. Dada yang kecil, apalagi dengan posisi terlentang begini. Ina memakai gaun terusan yang pendek, dengan kancing di tengahnya sampai ke bawah. Kubuka 3 biji kancing teratasnya. Ina “mengizinkan”. Tanganku menyusup kutangnya mencari-cari puting susunya. Bicaranya berhenti setelah aku meremasi dada dan memelintir putingnya. Tapi gaya tak acuhnya tetap saja, meskipun ujung jari-jariku merasakan puting itu mulai mengeras. Demikian juga ketika aku menggeser kutangnya ke atas sehingga sepasang buah dada putih mulus itu terbuka. Seolah tak terjadi apa-apa, padahal tangannya mulai mengocok penisku. Baru setelah aku bangkit hendak menindihnya, Ina berreaksi.
“Eehh, entar dulu. Ini belum kering” katanya menunjuk mukaku. Aku kembali terlentang. Ina masih meneruskan “pekerjaan” di penisku. Tanganku yang di dadanya beralih ke bawah, menyingkap roknya lebih ke atas sehingga CD dan perutnya yang rata dan putih itu tampak. Kuusap perutnya, lalu geser kebawah tanganku menyusupi CDnya. Amboi…. bulu-bulu itu lebat banget ! Dia tetap saja acuh, meskipun telunjukku telah menekan-nekan kelentitnya ! Dia malah memegang-megang masker di mukaku sementara aku menggosoki “pintu” yang sedikit membasah.
“Udah kering… bersihin dulu…” katanya sambil tak acuh menarik tanganku dari CDnya.
Masker di mukaku dilepasnya perlahan. Bentuknya seperti plastik transparan. Dibilasnya lagi mukaku. Tiga kancing gaunnya masih terbuka. Kutangnya hanya menutupi sebelah dadanya sehingga mataku lebih jelas menikmati puting merah jambunya. Lalu mukaku dilap, dan selesai. Ina naik lagi.
Kubuang kimonoku, dengan telanjang bulat aku menindih tubuhnya. Kontolku tepat di selangkangannya, mulutku merayapi buah dadanya dan berhenti di puting untuk menyedot-nyedot.

Setelah puas mengeksplorasi dadanya, aku bangkit mermaksud melanjutkan membuka kancing gaunnya.
“Jangan…. engga boleh bugil”
“Saya ‘kan udah bugil”
“Mas boleh. Kalau nanti ada inspeksi, saya bisa dipecat”
“Gimana dong…. saya pengin”
“Udah… gini aja…. yuk saya keluarin” Ina bangkit meraih hand-body lotion. Aku disuruh terlentang. Aku tahu maksudnya, tapi aku menolak. Aku ingin hubungan seks.
“Boleh aja… asal saya engga bugil dan Mas pakai kondom”
“Iiyyaaalah” apapun mau asal bisa masuk. Udah tegang begini.
“Mana kondomnya biar saya pakein…”
Inilah masalahnya. Niatnya tadi hanya mau pegang-pegang dan dikocok, Aku engga bawa “perlengkapan”.
“Saya engga bawa, mintain sana deh….”
“Ngaco…. engga bisa dong, ketahuan gawat…”
“Minta temennya ‘kan bisa”
“Engga bisa… Mas. Di sini engga boleh gituan….”
“Engga usah pakai kondomlah…”
“Engga mau”
Akhirnya aku mengalah. Aku berbaring terlentang. Ina menuangkan lotion ke tangannya, lalu mulai meng-onani penisku, sementara tanganku meremasi dadanya. Ina memang sudah ahli melakukan masturbasi. Tangannya trampil. Terkadang meremas, mengurut, mengocok pelan, mempercepat, pelan lagi. Aku merem-melek dibuatnya…..
Sampai tiba saatnya….aku menumpahkan maniku ke perutku sendiri………!
Dengan cermat Ina membersihkan kelamin dan perutku dengan handuk basah.
“Makasih” katanya ketika aku menyelipkan uang yang lebih dari jumlah yang tertulis di bon.”Datang lagi ya.. Mas…. jangan lupa kondomnya”. Sambil keluar ruangan, tak lupa aku juga memberi uang kepada wanita paruh-baya penerima tamu itu.
“Jangan kapok… ya Mas” sahutnya. Engga, mukaku menjadi betul-betul bersih.

Belum sampai seminggu aku kembali memasuki ruang tamu yang agak tersembunyi itu. Begitu melihatku, Ina langsung menghampiriku dan duduk di sebelahku rapat-rapat. Tangannya di atas pahaku, Aku merangkul bahunya.
“Dirawat lagi, Mas” ajak Ina, kemudian mulutnya mendekati kupingku ” Saya bawa kondom” bisiknya.
“Saya bawa juga”
“Hayooo…. bisik-bisik apa nih” sahut kawan-kawannya.
“Ada deh….” Sahut Ina.
“Kawannya mana Mas…” Kali ini aku memang datang sendirian.
“Ada. Entar lagi datang”
Singkat cerita, kembali mukaku dirawat Ina. Bedanya, kali ini Ina nurut saja ketika aku “mengganggunya”, walaupun sambil kerja. Dan selama dirawat muka, Kontolku tegak terus. Plastik transparan sudah diangkat dari mukaku, Ina sudah berbaring di sampingku, pakaiannya masih lengkap. Aku melepas kimonoku, bugil. Lau kuambil kondon dari saku celanaku di gantungan. Yang membuatku ‘exciting’ adalah, begitu aku sudah pegang kondom, masih terlentang Ina langsung memelorotkan celana dalamnya. Hanya CD yang dilepas, lainnya masih komplit. Lalu diangkatnya roknya sedikit sampai ke perutnya saja. Bulu kelaminnya memang lebat. Segera saja jari-jariku menelusuri bulu-bulu lebat itu, terus ke bawah sampai ke pintu vaginanya, dan kugosok. Tanganku satu lagi sibuk menyingkap kutangnya. Sementara tangan Ina juga sibuk memasang kondom di penisku.
Saatnya tiba. Kubuka paha Ina lebar-lebar. Kelentit merahnya jelas menonjol kedepan. Kutempatkan kontolku yang sudah “berbaju” tepat di bawah tonjolan merah itu. Aku masuk. Agak susah juga, karena Ina belum basah rupanya. Maju-mundur sebentar di sekitar pintu, lalu menusuk lagi. Bleessss. Tekan lagi hingga seluruh batang penisku ditelannya. Berhubungan kelamin dengan memakai kondom ada plus-minusnya. Kekurangannya, sentuhan penis tak langsung ke dinding vagina berakibat “rasa” yang beda. Kelebihannya, bisa lebih lama, dan bebas penyakit.
Vagina Ina sebetulnya “masih ada remnya”. Yang membuatku kurang nyaman adalah bangku panjang itu. Ketika aku memperkuat pompaanku, bangku itu mulai “ribut”, sehingga Ina menahanku khawatir kedengaran ke ruang sebelah. Goyangan pantat Inapun terbatas, khawatir bunyi.
Untuk mengurangi bunyi, logikanya kita harus meminimalkan sentuhan badan kita pada bangku. Makanya, dengan kedua tanganku, kuangkat pantat Ina dan kumainkan kocokanku dengan setengah berlutut. Dengan cara begini ternyata tusukanku bisa lebih efektif. Yang kemudian membuatku “naik-naik ke puncak gunung”, lalu terbang melayang…… dan …… sseerrr…… sseeerrr……. seerrrr…………………

Ina dengan cekatan memberesiku. Dilepasnya kondom yang berisi dari penisku, kemudian dibungkusnya dengan tissu dan digenggamnya. Kemudian ia membenahi kutangnya, menutup kancing, dan segera Ina telah rapi kembali.
“Sebentar.. ya.. Mas, buang ini dulu” katanya sambil keluar ruangan dengan menggenggam tissu yang membungkus kondom berisi air maniku. Ina merapikan diri dengan cepat dan lalu keluar ruangan untuk menghilangkan kecurigaan teman-temannya tentang apa yang baru saja kami lakukan, walaupun ia belum mengenakan CD-nya…….!
Aku telah menikmati pelayanan "plus"-nya. Harapanku hanya untuk pegang-pegang lalu di-onani, ternyata aku dapat lebih : hubungan seks.
Sewaktu aku sudah berberes dan hendak pulang, aku kemukakan komplainku kepada Ina tentang ketidak nyamanan jika berhubungan kelamin di atas bangku rawat muka ini.
“Lain kali Mas ambil saja ruang ‘studio’, di situ ada dipannya” katanya.
“Studio ? apaan tuh ?”
“Persis kamar aja, ada pintunya yang bisa dikunci, engga seperti ruang ini”
“Dimana ?”
“Dari pintu tadi Mas belok kanan, kalau belok kiri kan ke sini” jelasnya.
Benar juga. Disayap kanan bangunan itu ada 2 kamar yang tertutup. Tapi ada yang lebih menarik perhatianku dibanding kamar-kamar itu. Seorang wanita cantik, sangat putih, agak pendek sedang duduk sendirian di sebelah kamar itu. Rok mininya demikian pendek serta cara duduknya dengan kaki menyilang mempertontonkan pahanya yang benar-benar putih dan mulus. Siapa dia ? Dalam dua kali kunjunganku ini aku tak pernah melihat wanita cantik ini.
Aku samperin si penerima tamu. Sambil memberi tip, aku tanyakan perihal si Cantik itu.
“Lia, namanya. Pengin kenalan ? yuk”
“Kok tadi saya engga lihat”
“Dia datengnya emang suka agak sore”
Akupun kenalan sama Lia. Benar-benar cantik, pembaca. Matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya indah. Kulitnya putih mulus. Sambil ngobrol berbasa-basi, mataku sering menatap pahanya. Diapun tahu kenakalan mataku ini, tapi acuh aja. Ingin aku langsung membawanya ke “studio”, sayangnya aku tak punya waktu lagi.
“Oke Lia, entar saya kesini lagi sama Lia, ya” kataku pamitan sambil menepuk pahanya.
Haaluuuuus !
“Boleh. Ditunggu ya…?” sahutnya.
Melihat wajah dan mulusnya Lia ini, kupikir seharusnya Lia tidak kerja di sini. Dia lebih pantas sebagai foto model. Kekurangannya hanyalah tubuh Lia pendek, dan tak remaja lagi. Kutaksir umurnya sekitar 25 –28 tahun. Barangkali karena kedua faktor itulah makanya Lia “kerja” di sini………!
Gimana ya “rasa”nya Lia ?

Cerita Panas Rekan Kerja  

0 komentar

Saya adalah seorang pria keturunan Cina, 28 tahun. Saya bekerja pada sebuah biro asuransi di Landmark Building, Jakarta. Pengalaman ini dimulai saat penerimaan seorang karyawati baru di kantor kami. Namanya, sebut saja Leni. Leni berperawakan mungil, tinggi sekitar 160cm, berkulit putih-bahkan cenderung pucat (maklum... ia keturunan Jepang-Belanda-Cina), rambut sebahu. Pertama kali bertemu saya langsung menyukai parasnya yang lugu dan terkesan alim.

Yang lebih menggairahkan saya, saat berjabat tangan, sekilas saya melihat lengannya yang putih ditumbuhi rambut-rambut halus. Bahkan, tatkala menyodorkan tangannya pada saya yang sedang duduk di kursi kerja, saya sempat melihat bulu-bulu yang cukup lebat mengintip di pangkal lengannya (baca: ketek). Terus terang, saya sangat terangsang bila melihat wanita yang berbulu subur.

Meskipun rekan-rekan sepergaulan saya menerapkan praktek sex bebas, saya belum pernah coitus alias ngewe. Setiap minggu, di malam 'gaul' saya selalu kumpul dengan anak-anak di kawasan Mangga Besar. Boleh dikata semua kafe, disko, panti pijat, dan sejenisnya di kawasan itu sudah saya kunjungi. Namun, seperti yang saya katakan sebelumnya: saya belum pernah berhubungan sex total dengan wanita (apalagi pria, he he he...) Jika semua teman-teman saya check-in, saya mau tidak mau juga ikutan. Namun, di dalam kamar saya hanya dipijit atau paling banter di-karaoke alias di-oral sex.

Semua itu saya lakukan bukan karena saya tidak suka wanita ataupun karena munafik. Saya belum menemukan wanita yang sesuai dengan selera saya. Pacar saya sendiri juga menolak melakukannya. Saya ingin merasakan pengalaman sex di mana kedua belah pihak benar-benar menginginkannya. Maklumlah, saya biasa bergaul dengan anak-anak yang maen tembak langsung. Tidak perlu pakai pendekatan, begitu liat langsung disantap-ibarat membeli ayam goreng. Saya sudah berusaha mencari cewek yang suka sama suka, tapi karena kurang koneksi semua usaha tersebut gagal. Apalagi, semua cewek di kantor saya rata-rata anak baik-baik dan sebagian besar sudah berkeluarga.

Karena itu, saya tidak berani melakukan move apa-apa terhadap si anak baru. Tambahan lagi, sikapnya yang alim membuat saya mundur teratur. Oh ya, saya perlu cerita tentang situasi kantor saya. Divisi saya adalah divisi marketing yang hampir selalu tugas di luar kantor. Karena itu meja kantor kami sebagian besar selalu kosong setelah jam 10 pagi (setelah rapat pagi). Yang tinggal di kantor hanyalah manajer dan supervisor. Saya baru saja diangkat menjadi supervisor. Karena itu, setelah jam 10 pagi, hanya saya dan seorang manajer yang masih berada di kantor.

Meja kerja kantor kami masing-masing dibatasi partisi yang tingginya sekitar 160 cm. Kebetulan meja saya mojok di sudut paling dalam, privasi yang sangat terjaga. Untuk melepas kejenuhan, saya hampir setiap hari konek ke internet pada jam-jam 11-12 siang.

Hari itu (hari Senin) kebetulan manajer kami tidak datang ke kantor. Hari itu adalah hari ketiga Leni menjadi pegawai di kantor saya. Senin.... hari yang paling membosankan. sekitar jam 11 siang saya mulai jenuh. Tidak ada orang lain di kantor. Leni mengikuti training di lantai 12. Iseng-iseng, seperti biasa saya konek ke internet dan langsung menuju ke HP Cerita-Cerita Seru™. Baru saja 15 menit saya konek, sayup-sayup saya mendengar langkah kaki. Berhubung cerita yang saya baca lagi hot-hotnya, perhatian saya tetap tertuju ke layar notebook.

Mendadak seseorang menjulurkan kepalanya dari atas partisi. Betapa terperanjatnya saya melihat wajah imut Leni. Hari ini dia memakai setelan kemeja silk putih mengkilap dipadukan dengan rok mini berwarna putih. BH-nya terlihat tercetak di kemejanya yang tipis mengkilap tersebut. Ukurannya dadanya tidak terlalu besar, tapi sepertinya ia memakai BH yang membuat gunung kembarnya seolah-olah mendesak ke atas.

Masih saya ingat betapa gugupnya saya waktu itu. 'Lagi ngapain Bud?' tanyanya, 'Gue barusan habis training, jadi hari ini gue nganggur nich. Ada yang bisa gue bantu?' Gile... dia mendekati meja saya. Sudah kepalang basah.... apalagi saya yakin dia tidak akan dapat melihat layar monitor saya yang pasif matriks.... komputer tidak saya matikan. 'Nggak... gue lagi konek ke internet, saya juga lagi ngganggur...,' sahut saya sambil berusaha menutupi layar monitor dengan badan saya.

'Apaan nich??? Wah lagi baca berita yach???' Leni melongok dan membaca monitor dari samping bahu saya. Sekilas bukit kembarnya menempel ke kepala saya. Kontan, batang kemaluan saya yang barusan lembek karena kaget dengan kedatangan Leni kembali mengeras. Nekat saya menggeser kursi dan menarik kursi di depan meja saya. 'Baca aja sendiri, tapi saya nggak tanggung jawab yach!' Perlahan Leni duduk di kursi yang saya sodorkan. Tidak sengaja, pangkal pahanya tersingkap. Putih sekali, bahkan sepertinya saya bisa melihat urat-uratnya yang berwarna merah muda. Hari ini barulah saya bisa melihat dari dekat betisnya yang halus dan mungil ditumbuhi rambut-rambut halus. Dasar rejeki, sekejap saya juga sempat melihat celana dalamnya. Warnanya biru... senada dengan roknya... Karena terlalu singkat, saya tidak sempat melihat jembutnya... yang menurut perkiraan saya pastilah lebat dan berwarna kemerahan seperti warna rambutnya.

'Idihhhh bacaannya bacaan ABG....' goda Leni dengan genit setelah membaca sesaat. Gila ternyata ini anak tak sealim tampangnya. 'Emangnya cuma ABG yang boleh baca cerita biru?' timpal saya sewot. Jantung saya berdetak kencang... mendadak saya menjadi sangat terangsang. Batang kejantanan saya terasa semakin keras dan buah zakar saya mengencang. Tapi saya tidak berani bertingkah macam-macam.

Leni terus menyimak cerita-cerita yang ada hingga sampai ke cerita 'Bercinta Di Kantor.' Mendadak keberanian saya timbul. 'Kamu suka ceritanya, Len?' suara saya terdengar bergetar. 'Suka sihhh.... tapi rada horor juga yach?' katanya parau. Gile... kami berdua sama-sama grogi rupanya. Melihat ia lebih grogi, keberanian saya bertambah, 'Kok horor? Enak mah iya...' 'Tau yach,' timpalnya,'Gue nggak pengalaman sich.' 'Masa....,' saya semakin berani dan mendekat serta menyentuh ringan pahanya, ' Masa segede ini belum punya pacar?'

'Janji nggak bilang-bilang yach Bud,' Leni berbisik meskipun tidak ada orang yang akan menguping. Ia tidak protes dengan tangan saya yang mulai mengelus-ngelus paha halusnya ,'gue punya pacar, tapi kami nggak pernah gituan, paling-paling ciuman.' 'Jadi kamu belum pernah ngerasain keluar donk?' gue semakin berani mengelus-ngelus pahanya dan keliatannya dia pasrah saja. 'Apaan tuch keluar?' tanyanya bingung.

'Mau gue kasih tau?' tangan gue semakin jauh masuk ke roknya dan menyentuh celana dalamnya. Celana dalamnya terbuat dari nilon tipis. Terasa betapa lebat hutan belantara di balik kain tipis tersebut. Mendadak Leni tersadar dan mencoba menepis tangan saya. 'Jangan gitu ah...' katanya 'lu jangan kurang ajar donk.' Segera gue menarik tangan gue karena gue sadar ini cewek benar-benar kuper. 'Elo sendiri gimana Bud? Maksud gue pengalaman seksual elo?'

Entah kenapa di depan cewek yang satu ini saya bertutur jujur. Saya ngaku kalau sudah pacaran lebih dari 5 tahun. Kami nggak pernah hubungan seksual total. Paling banter oral sex. Namun, hampir dalam setiap hubungan, cewek saya selalu orgasme. 'Saya ini perjaka yang pakar memuaskan cewek loch..' gurauku. Kamu mau coba? Saya jamin kamu akan tetap perawan seperti pacarku'

'Nggak ah...' tolaknya halus sambil berusaha menjauh. Tindakannya ini malah membuat rok mininya tersibak. Celana dalamnya mengintip keluar. Karena belainnya saya tadi, celana dalamnya tersingkap dan dari sela-sela pangkal pahanya menyembul bulu-bulu lebat keriting. Oh my God, saya tak tahan lagi. Secepat kilat tangan kiri saya merangkul lehernya dan saya mulai menciumi cuping telinganya.

'Ah Bud... kamu nakal.... geli nich.....' Leni meronta-ronta halus, tapi saya tidak menangkap gelagatnya ingin melepaskan diri. Saya semakin bernapsu..... perlahan-lahan tangan saya membuka 2 kancing baju teratasnya. 'Jangan dibuka Bud.... ' desah Leni' 'Malu... inikan di kantor.' Ia segera mengancingkan bajunya.

'Begini deh...,' saya mulai membujuk dengan nafas yang semakin memburu, 'Saya akan mengenalkan kamu dengan dunia baru. Kalau kamu tidak suka, kamu boleh minta berhenti kapan saja. Saya janji nggak akan macam-macam kalau kamu nggak setuju. Juga, saya nggak akan merusak keperawanan kamu. Demi Tuhan Len, saya janji.' kata saya dengan suara yang semakin parau. Batang kemaluan saya terasa berdenyut-denyut kencang. Terasa ujung kemaluan saya sudah basah dan cairan hangannya terasa menempel ke celana dalam saya.

'Hmmmmm' kata Leni kegelian karena saya mengelus-ngelus paha bagian dalamnya. Rupanya ini salah satu 'hot spot'-nya. Perlahan saya buka kakinya, dan menyibak celana dalam mininya. Celana dalam tersebut mimiliki ikatan di samping kanan dan kiri. Gila juga ni cewek, nggak pernah berhubungan sex tapi suka pakai lingerie. Segera saya tarik ikatan celana dalamnya. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan celana tersebut saya masukkan ke dalam laci meja kerja.

Bau khas vagina wanita merebak ke luar. Benar dugaan saya, jembut cewek yang satu ini begitu lebat. Bahkan bulu kemaluannya menyebar tumbuh teratur keluar dari celana dalammnya sampai ke pusar. Lebih gilanya lagi, sepertinya Leni tidak pernah memotong atau merapikan jembutnya. Terbukti, jembutnya panjang sekali, lebih dari 7 cm. Jembut tersebut saya belai lembut sementara bibir saya mulai mencari-cari leher jenjangnya. Satu tangan saya yang lain mulai bergerak mengelus-ngelus paha dalamnya.

Bibir saya bergerak terus ke atas mencari cuping telingannya. Bau parfum pleasure sayup-sayup menerpa hidung, membuat saya semakin terangsang. Lidah saya mulai bermain di sekeliling cuping telinganya... bergerak perlahan menelusuri lubang telinganya. Tak sadar Leni mulai melenguh halus, tapi tidak lama karena ia tersadar dan berusaha mengecilkan suaranya... takut terdengar divisi sebelah.

Sembari lidah saya bermain di kupingnya, jari tangan saya mulai bergerak ke arah bibir vaginanya. Saya sempat kaget, bibir itu sudah basah... sangat basah. Perlahan saya membuka bibir surga tersebut. Terasa hangat..... dan ya Tuhan, clitorisnya ekstra besar. Saya mulai membuat usapan melingkar mengelilingi bibir luar kemaluannya, makin lama semakin kencang. Sekitar 2 menit, tangan saya yang satunya membantu membuka bibir kemaluan tersebut, lalu tangan kanan saya mulai bergerak mengitari pintu saluran kencingnya. Pengalaman saya, banyak wanita yang merasakan sensasi yang luar biasa jika muara uterusnya ini dirangsang, termasuk Leni. Saya tidak menemui banyak kesulitan karena vagina Leni sudah begitu basah.

Sementara tangan kanan saya mengelus-ngelus tipis muara saluran kencingnya, tangan kiri saya saya gunakan untuk menggosok klitorisnya yang sudah membesar hampir sebesar kacang kedele. Selang 5 menit kemudian, Leni mulai agresif. Ia mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya mengikuti gerakan jari saya. Meskipun demikian suaranya masih dapat dikontrolnya. Tak berapa lama, saya merasakan klitorisnya mengeras dan tertarik ke belakang, sementara bibir vaginanya berdenyut-denyut. Segera seluruh badannya bergetar kencang. Leni tetap tidak bersuara, tapi saya tahu ia sedang mendekati orgasme, puncak segala kenikmatan. Gerakan jari saya perkencang dan Leni mulai mencengkeram erat paha saya. Ia menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan kencang seraya mengguncang-guncang kepalanya. Tidak berapa lama, ia terdiam lemas dan perlahan-lahan cengkeramannya mengendur.

Saya membiarkan ia menikmati saat tenangnya. Gerakan jari saya di vaginanya saya hentikan, tangan saya beralih mengelus pahanya dan tangan yang lain meremas-remas pelan payudaranya. Leni membuka matanya, wajahnya kelihatan bersinar. Ia tersenyum dan berkata kalau ia baru menyadari bahwa ia telah melewatkan kesempatan untuk menikmati pengalaman-pengalaman nikmat seperti yang barusan ia alami. Tangannya bergerak meraih tissu di meja saya, ia membersihkan vaginanya sekedarnya. Saya menyerahkan celana dalamnya. Ia mengantonginya, dan beranjak ke toilet.

Sepeninggal Leni, saya baru menyadari kalau tongkat kemaluan saya dan biji zakar saya sudah sangat keras. 'Dasar cewek kuper tidak bertanggung jawab', saya mendumel sendiri. Bergegas saya juga ke toilet dan melakukan onani. Sekitar 15 menit saya di toilet. Sewaktu kembali ke meja kantor, Leni sudah duduk rapi di meja saya sambil membaca kembali cerita-cerita seru™ yang masih tersisa. 'Kemana aja sich?' katanya manyun. 'Kamu sich.. ninggalin aku.... tabrak lari.' tangkisku, 'saya terpaksa swalayan di kamar mandi.' 'Sorry Bud, saya nggak tau. Lain kali ajarin saya buat bikin kamu enak yach' Leni tersenyum simpul. 'Kamu masih mau begitu lagi?' tanyaku bersemangat. 'Of course, asal kamu janji akan tetap menjaga keperawanan saya, OK? jawab Leni.

Demikianlah, akhirnya 'kursus' saya dan Leni berlanjut terus sampai saat ini. Setiap kali Leni dan saya ingin melakukannya, Leni sengaja tidak berangkat setelah rapat pagi. Ia bersembunyi di toilet. Setelah semua orang pergi, ia beranjak ke meja saya. Kali ini tanpa celana dalam dan BH. Kreatifitas kami dipacu. Kami berusaha mencari variasi-variasi baru, seperti memakai alat pijat bergetar yang memakai baterai, oral sex, dan bahkan memakai sosis bekal makan siang kami. Beberapa kali kami makan siang bersama dan check-in di motel. Sampai saat ini, Leni tetap perawan dan kami tetap menjalin hubungan dengan pacar masing-masing. Hubungan kami ibarat praktikum sex dan berbagi kenikmatan yang tidak kami peroleh dari pasangan masing-masing. Terima kasih Wiro, terima kasih partisi kantor.

Cerita Panas Rasanya Rame  

0 komentar

Sebelumnya mohon maaf karena aku tidak pandai bercerita, sehingga aku menulis apa adanya. Semoga editor dapat mengeditnya menjadi tulisan yang enak dibaca.

Mungkin memang harus kuakhiri petualanganku ini, mengingat sudah 16 wanita yang pernah tidur denganku walaupun tidak semuanya kulalui dengan ML. Tetapi paling tidak aku melakukan oral atau petting dengan mereka. Boleh percaya boleh tidak, aku bercinta dengan mereka tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun karena atas dasar suka sama, having seks just for fun. Tetapi siapa tau akan ada yang ke-17 atau bahkan mungkin justru akan makin menambah daftar petualanganku? Entahlah, tapi melalui tulisan ini aku ingin menceritakan pengalamanku tersebut sekaligus tanpa harus bersambung dan tidak perlu aku ceritakan detail bagaimana kejadiannya.

Sebelumnya, namaku Pujangga, saat kutulis pengalamanku ini berumur 29 tahun dan telah memiliki seorang istri yang cantik. Tetapi pengalamanku ini berawal sebelum aku menikah dan terus berlanjut walaupun aku sudah menikah.

Santi, umur 25 tahun, karyawan sebuah hotel di kota Mdn, tubuhnya biasa saja, tinggi kira-kira 155 cm, kulit coklat sawo matang, rambut lurus sebahu. Payudara 32 cup B. Dengan Santi adalah pengalaman seksku pertama kalinya selain dengan pacarku juga (yang kelak menjadi istriku). Berawal ketika dengan sopannya Santi menawarkan "teman" untukku, dengan bercanda aku balik menantangnya bahwa aku mau saja jika yang menemaniku adalah Santi sendiri. Dan tanpa diduga dia menyanggupi. Hebatnya lagi kami berhubungan seks atas dasar suka sama suka tanpa paksaan dan tanpa komitmen apapun. Malam itu kami lalui dengan nafsu yang berkobar, meskipun itu adalah pengalamanku pertama tetapi tidak demikian halnya dengan Santi. Aku tahu bahwa Santi sudah tidak perawan dan sepertinya sudah berpengalaman. Tetapi hal itu cukup buatku dan aku sangat puas dengan pelayanannya, walaupun gaya bercinta kami sangat konvensional. Maklumlah hal ini sangat baru buatku.

Saat itu, aku belum berani melakukan oral, petting dan berbagai gaya mengingat dengan Santi adalah pengalamanku pertama. Namun demikian kemampuan Santi lumayan, dengan rambut kemaluan yang lebat, vaginanya yang mudah basah meskipun sudah tidak terlalu rapat lagi.

Dian, 27 tahun adalah teman Santi. Aku diberitahu oleh Santi bahwa Dian juga sama dengan Santi yaitu sudah tidak perawan. Aku sempat terkejut ketika Santi menawarkan Dian untuk melayaniku. Tetapi karena semuanya atas dasar suka sama suka, akhirnya kami bercinta bertiga, aku, Santi dan Dian. Permainan Dian lebih hot dibandingkan Santi, walaupun dari segi wajah sebenarnya masih cantik Santi. Dengan Dian aku mengenal permainan oral, Dian sangat lihai memainkan lidahnya di ujung penisku. Dengan Dian pula, aku merasakan nikmatnya spermaku dikeluarkan di mulut Dian.

Pengalamanku dengan Santi dan Dian tidak pernah terulang lagi sejak tahun 2000. Saat itu aku belum menikah. Dan ketika aku kembali ke Mdn, aku tidak berhasil menemukan dimana mereka berada.

Rinda, 19 tahun mahasiswi semester dua. Aku kenal Rinda melalui sebuah forum seks di internet. Awalnya aku hanya iseng ketika ingin mengusir rasa sepi saat bertugas di kota Sby. Ketika kuberi kabar bahwa saat itu aku berada di sebuah hotel di Sby, aku janjian dengannya.

Tubuhnya mungil sekitar 150 cm, manis dan imut-imut, kuning bersih. Selama di kota tersebut aku selalu ditemani Rinda dan setiap malam kami berhubungan seks. Yang kusuka dari Rinda adalah rambut kemaluannya yang masih tipis dan sangat halus. Lubang vaginanya pun masih sempit. Bahkan pertama kali penisku masuk, aku belum berhasil menembusnya hingga penuh, walaupun Rinda juga sudah tidak perawan sejak SMA dulu. Dan dia paling jago ketika bermain di atas, aku hanya pasrah saja, sementara Rinda aktif menggoyang pinggulnya. Naik turun sambil menjepit kedua belah pahanya yang putih mulus. Kelebihan yang lain adalah, Rinda mahir untuk multiple orgasm.

Yeni, meskipun sudah berumur 31 tahun, tapi masih single. Ini adalah pertama kalinya aku berhubungan seks dengan wanita yang lebih tua dibanding aku. Dan dengan Yeni pula pertama kali aku berhubungan seks dengan wanita yang bertubuh gemuk. Dengan tinggi 165 cm dan berat 80 kg, Yeni mengenalku melalui situs 17thn.

Kelebihan Yeni adalah kekuatannya di ranjang. Dia type wanita yang *********. Setiap kali melakukan ML, selalu dilakukannya semalam suntuk, hingga lebih dari 7 ronde. Meskipun aku lebih sering kalah dengan Yeni, tetapi dia tahu caranya agar penisku segera berdiri kembali setelah ejakulasi. Meskipun tubuhnya gemuk, kuakui dia sangat hot dan lebih senang posisi di atas. Kadang kala aku sampai sesak napas dibuatnya. Pengalamanku dengan Yeni menimbulkan perasaan ingin berhubungan dengan wanita yang jauh lebih tua dibanding aku. Maka, bertemulah aku dengan Intan. Seorang wanita berumur 43 tahun dan telah bersuami.

Pengalamanku dengan Intan merupakan pengalaman yang paling berkesan hingga saat ini. Intan keturunan chinese. Meskipun sudah berumur, tetapi dia pandai merawat tubuh dengan fitness. Bahkan bodynya tidak kalah dengan wanita usia 20-an. Wajahnya cantik, tubuhnya langsing, padat berisi dan tidak ada keriput karena usia. Kulitnya kuning langsat, mulus dan bersih. Dengan Intan, aku untuk pertama kalinya bercinta bertiga dengan suaminya dalam satu ranjang. Aku mengenal Intan juga melalui internet. Intan merupakan wanita hiper seks yang ingin bercinta denganku sambil ditemani suaminya.

Tanpa kuduga, kemampuan seksnya luar biasa, semalam suntuk dia mampu melayaniku dan suaminya silih berganti tanpa mengenal lelah. Dan dari Intan kuketahui bahwa cewek chinese memang mudah basah kemaluannya ketika terangsang. Dan cairannya sangat banyak hingga vaginanya terasa sangat licin. Namun demikian, Intan sangat rajin merawat vaginanya. Meskipun sudah tua, lubang vaginanya masih juga terasa sempit dan mampu menyedot penisku dengan gerakan otot vaginanya. Rambut kemaluannya sangat lebat dan vaginanya harum. Dengan Intan aku dikenalkannya dengan berbagai posisi bercinta, dan aku mulai mahir bermain oral di vagina wanita hingga berjam-jam serta memainkan jari-jariku di clitoris dan bibir vaginanya.

Ratna, gadis 32 tahun asal Sby. Saat mengenalnya, aku sudah menikah. Dan perkenalanku juga melalui sebuah forum pertemanan di internet. Ratna berperawakan kecil, kurus, kulit coklat matang. Meskipun kurus, tetapi payudaranya padat berisi walaupun tidak besar. Dan rambut vaginanya sangat lebat. Dengan Ratna, aku hanya sebatas petting, tetapi berbekal pengalaman dengan Intan, Ratna aku ajarkan bagaimana mengulum penisku. Mulanya dia ragu dan canggung, tetapi lama-lama terbiasa. Aku tidak berniat meneruskannya hingga ML, karena aku tahu dari awal bahwa Ratna masih perawan dan belum pernah having sex. Karenanya, aku hanya saling oral dan petting saja. Itupun adalah pengalaman yang pertama baginya. Dan Ratna sangat menikmatinya dan dapat mengalami orgasme walaupun hanya kukulum dan menggesek-gesek penisku di vaginanya. Saat kutulis cerita ini, kabar terakhir mengatakan bahwa dia sudah menikah, dan berjanji untuk ML denganku jika aku mampir ke Sby.

Lena, seorang cewek chinese berumur 21 tahun. Saat aku mengenalnya, dia masih perawan, hanya saja sudah pernah oral seks dengan pacarnya. Awalnya Lena yang lebih dulu mengenalku melalui situs porno. Dia tertarik dengan ceritaku dan ingin mencoba oral dan mengulum penisku. Lena adalah gadis paling gemuk yang pernah berhubungan denganku walaupun hanya sebatas petting karena dia masih perawan. Seperti halnya Intan, vaginanya mudah basah dan becek. Sedikit saja kusentuh langsung bereaksi dan terangsang hingga cairan vaginanya keluar sangat banyak, meskipun rambut kemaluannya masih tipis karena rajin dicukur.

Hilda, 26 tahun dari Krg, dia mengenalku karena aku pernah mengirimkan cerita ke 17thn dan sekali lagi juga tertarik untuk berhubungan seks denganku. Bedanya dengan cewek lain yang pernah kukenal, Hilda bukan type *********, tetapi selama berhubungan seks dengan pacarnya dia belum pernah orgasme. Karena itu Hilda penasaran agar aku dapat membuatnya orgasme. Tubuhnya padat dan sintal jika tidak dikatakan gemuk. Permainan seksnya biasa saja sebenarnya, tetapi dia sangat kuat dan tahan lama. Karenanya dia penasaran ingin merasakan orgasme. Awalnya aku cukup kerepotan memberikan rangsangan untuknya. Dengan Hilda adalah permainanku yang paling lama dalam satu ronde. Pernah setelah satu jam lebih baru dia mendapatkan orgasme. Itupun setelah aku membantunya dengan mengulum vaginanya berkali-kali.

Marni, 27 tahun adalah teman Hilda, aku dikenalkannya pada saat ke Jkt. Karena kemalaman, kami akhirnya menginap di sebuah hotel. Dan dengan Marni meskipun sudah tidak perawan, aku tidak sampai ML dengannya. Kami hanya sebatas bercumbu tanpa busana di kamar mandi. Sepertinya dia masih malu karena ada Hilda.

Esti, 29 tahun dari Jkt, tubuhnya sangat langsing dan payudaranya kecil, kulitnya coklat gelap. Tetapi ada satu hal yang tidak dapat kulupakan dari Esti. Dia termasuk cewek yang paling lama menjalin hubungan denganku dan yang paling spesial adalah, lubang vaginanya paling seksi dan paling rapat. Meskipun dia sudah tidak perawan, tetapi vaginanya indah dan rapat sekali, butuh waktu sesaat untuk menembus vaginanya saat berhubungan. Dan permainan seksnya luar biasa. Dia paling senang dengan posisi di atas. Goyangan pinggulnya menambah erotis permainannya.
Aku mengenal Esti masih dari internet juga, saat itu dia hanya iseng saja berkenalan denganku, tetapi setelah saling kenal, akhirnya tanpa berlangsung lama hubungan kami berlanjut ke ranjang.

Indah, 36 tahun, wanita matang dan telah bersuami. Aku mengenal Indah melalui tawaran threesome di sebuah milist internet. Bayanganku di awal perkenalan, kami akan having seks dengan suaminya, seperti halnya Intan, tapi ternyata tidak. Indah memiliki selingkuhan pria idaman lain, dan dengan PIL-nya mereka bermaksud threesome denganku. Meskipun sudah berumur, tetapi nafsu seksualnya sangat tinggi dan permainannya sangat liar. Sekali lagi, aku berhubungan seks dengan wanita yang gemuk walaupun tubuhnya cukup padat/sintal.

Erina, 22 tahun mahasiswi chinese di Jkt. Dia mengenalku juga melalui situs 17thn yang tertarik hubunganku dengan wanita gemuk. Dia penasaran ingin merasakan mengulum penisku. Hubunganku dengan Erina hanya sebatas dia mengulum penisku, sementara aku belum pernah mengulum vaginanya. Sampai tulisan ini kubuat, aku masih berhubungan dengannya tetapi tetap sebatas dia mengulum penisku hingga spermaku keluar dan ditelan olehnya. Tetapi sekalipun aku tidak pernah menyentuh bagian tubuhnya yang vital.

Nani, wanita tertua yang pernah berhubungan seks denganku. Berumur 46 tahun, telah bercerai dengan suaminya sejak lama, adalah type ideal wanita kesepian. Aku mengenalnya melalui seorang sahabat pena yang kukenal melalui internet. Mulanya temanku secara iseng mengenalkanku kepada Nani, dan aku juga belum tahu seberapa tua umurnya karena dari suaranya terdengar masih seperti wanita berumur 30-an. Akhirnya ketika ada kesempatan bertemu baru aku tahu kalau Nani ternyata sudah berumur 46 tahun. Memanfaatkan situasi seorang wanita yang sudah lama tidak merasakan sentuhan birahi, rayuanku disambutnya.

Winda, mahasiswi Ygy berumur 25 tahun. Aku mengenalnya juga melalui seorang teman di internet. Mulanya kukabari jika aku ada urusan ke Ygy, apakah dia punya teman. Dan dia memperkenalkanku dengan Winda. Setelah sehari aku akrab dengannya, secara iseng kutawari Winda supaya mau menemaniku di hotel, dan ternyata tanpa kuduga dia mau. Aku baru tahu kalau dia sudah biasa cek-in dengan pacarnya di hotel. Maka hubungan seksku dengannya berlalu dengan tanpa hambatan. Sampai saat ini aku masih berhubungan dengannya.

Tasya, 34 tahun, seorang janda yang juga lesbian. Aku mengenal Tasya melalui forum di internet, dia mengaku seorang yang lesbi karena kecewa dengan kegagalan rumah tangganya. Mulanya kami hanya sebatas sharing pendapat tetapi lama kelamaan dia yang memulai lebih dulu untuk ingin kembali merasakan bagaimana nikmatnya berhubungan seks secara normal (dengan cowok). Dan sejak saat dia ML denganku, dia secara perlahan mulai dapat menghentikan kebiasaan lesbinya dan mencoba untuk menjalin hubungan dengan pacarnya yang baru (cowok), dan kadang kala masih berhubungan denganku di saat dia membutuhkannya.

Putri, gadis seksi 27 tahun, meskipun agak gemuk tapi tubuhnya berbentuk dan sintal. Awal perkenalanku dengannya sangat unik dan hampir tidak masuk akal. Bermula dari aku salah kirim SMS. Niatnya adalah aku mengirim SMS untuk seseorang dalam urusan bisnis yang memang nomornya juga baru aku dapatkan dari seorang relasi. Ternyata SMS tersebut salah tujuan ke nomor Putri yang belakangan baru kutahu namanya. Dia mengklarifikasi maksud dari SMS-ku. Tentu saja dia bingung karena isinya tentang bisnis. Dan aku baru sadar kalau ternyata salah sambung. Sejak itu kami jadi akrab dan saling berkirim SMS. Perlahan baru aku tahu kalau dia termasuk type cewek yang liberal dan free of life. Dan ketika kusinggung masalah keperawanan dan hubungan seksual, dia tidak terlalu mempermasalahkannya karena dia mengaku juga sudah tidak perawan. Akhirnya kami jadi sering berdiskusi masalah seks dan makin lama makin menyerempet ke SMS yang hot dan porno. Akhirnya aku to the point aja apakah dia keberatan kalau aku ajak cek in di hotel. Dan dia ternyata tidak keberatan.

Putri adalah cewek kedua setelah Intan yang paling hebat permainannya seksnya, disamping itu, Putri juga mampu melakukan apa saja yang Intan lakukan. Vaginanya juga mampu menjepit dan menghisap penisku seperti permainan cewek madura katanya. Hingga saat ini aku masih menjalin hubungan dengan Putri, dan hebatnya lagi masih ada beberapa rencana yang akan kami lakukan seperti threesome dan orgy. Mengapa? Karena hubunganku dengan Putri agak gila, kami pernah ML di kamar hotel, tiba-tiba saja dia janjian dengan teman wanitanya untuk urusan kuliah. Dan ketika temannya datang kami tetap meneruskan melakukan ML di hadapan temannya tanpa ada perasaan risih sama sekali. Sesekali bahkan diselingi dengan mengobrol dengan temannya sambil penisku tetap dikocok di vaginanya. Pernah juga suatu saat tantenya yang masih muda memergoki kami sedang cek in di suatu hotel dan tantenya ikut nimbrung walaupun belum sampai threesome. Aku dan Putri bahkan merencanakan having seks rame-rame dengan tante dan temannya.

Demikianlah pembaca, petualangan seks-ku dimulai sejak aku belum menikah dan terus berlanjut meskipun sudah menikah. Entahlah kenapa aku bisa mendapatkan wanita tanpa harus "jajan" dan setiap menjalin hubungan aku selalu memberi pengakuan bahwa aku sudah menikah kepada cewek tersebut. Dan tentang kemampuanku sebenarnya biasa saja, penisku juga tidak terlalu besar.

Cerita Panas Ray Sang Petualang  

0 komentar

Kenalkan, namaku Ray. Umurku 22 tahun, dan kuliah di sebuah universitas yang lumayan terkenal di Surabaya. And so on, aku akan berusaha mengenalkan siapa diriku dengan cara yang semoga bisa membuat kalian lumayan “berdiri”, hohohoho.

Aku mengenal yang namanya wanita sejak kecil, kakakku seorang wanita, kedua adikku wanita, ibuku wanita, hehehe… dan pembantuku juga seorang wanita. Kuakui segala kenakalanku waktu aku kecil. Aku suka mengintip pembantuku waktu mandi, melihat mereka menyabuni “susu”-nya, dan terkadang melenguh saat jari-jarinya menggosok kemaluannya. Dan saat aku duduk di bangku kelas satu SMP, aku pertama kali mengerti yang namanya ejakulasi, ketika secara tak sengaja aku menggesek-gesekkan batang kemaluanku ke lantai sambil mengintip lipatan kemaluan pembantuku yang sedang tidur dari celah di bawah pintu, konyol… tapi kuakui itu. Aku mencoba merangsang diriku setiap hari dengan memakai BH kakakku, melipat batang kemaluanku ke dalam pahaku, dan menggesek-gesekkannya ke guling sambil tiduran. Oh, aku belum tahu yang namanya persetubuhan, hanya saja perbuatan itu membuatku merasa enak, apalagi ketika ejakulasi.

Aku mengenal yang namanya masturbasi dari teman-teman, dipegang, terus di tarik begini… begitu… dan memang enak sekali, jadi aku mulai menggunakan tanganku saat mengintip dan menikmati bulu-bulu kemaluan pembantuku saat mandi. Mungkin yang paling berkesan ialah ketika aku mengintip kakakku sendiri (hohoho) lewat celah jendela, setelah dia mandi dan masuk kamar. Ahh, kuintip dia melepas handuknya, mengagumi dirinya di depan cermin. Ohh… baru kali ini kulihat tubuh dewasa kakakku (yang kebetulan memang cantik, banyak penggemarnya), selain kenangan masa kecil saat kami masih oke-oke saja mandi bersama. Tanpa terasa kupegangi kemaluanku yag menegang saat ia berbaring di tempat tidur, memegangi puting-puting susunya, dan mengangkat kepalanya saat ujung batere itu bergerak-gerak di lubang kemaluannya. “Hkk… nngg…” kunikmati setiap gerakannya, sambil menggoyangkan batang kemaluanku dan menarik-nariknya. Ahhh… kutarik napas lega dan kuseka keringat dingin penuh dosa di pelipisku ketika aku ejakulasi, seiring dengan turunnya pantat kakakku yang sebelumnya mengejang-ngejang tak karuan.

Semenjak saat itu, aku menjadi ketagihan untuk bermasturbasi, mungkin tiga-empat kali sehari. Dan pergaulanku dengan teman-temanku memberikan kesempatan bagiku untuk menikmati adegan porno dari video (beta), yang entah dari mana kasetnya. Sehingga imajinasiku menggila setiap melakukan masturbasi. Tanpa kusadari mungkin aku perlahan menjadi seorang maniak seks. Lagi pula itu julukan teman-teman yang mengenalku sekarang, hohoho… penjahat kelamin?

Akhirnya aku berhasil mengujinya ketika aku berkenalan dengan seorang cewek cantik bernama Enni, saat itu aku kelas tiga SMP. Perkenalanku dengan gadis cantik itu mendapat berbagai halangan, baik dari teman-teman (yang sirik), keluarga kami (karena perbedaan religi), dan tentu saja para sainganku (kebetulan Enni sendiri adalah seorang cewek idola). Hohoho.. masih kuingat saat sepatunya mendadak terlempar ke kepalaku saat sedang enak-enak duduk, sakit memang, tapi toh ada manfaatnya, hehehe. Jadi, aku berkenalan dengannya. Kami mengakrabkan diri dan aku sempat merasa sangat bangga ketika akhirnya ia menerimaku menjadi kekasihnya, saat itu bertepatan dengan pembagian STTB, hehehe. Dan yang paling menggembirakan, ternyata aku satu SMU dengannya, dan satu kelas pula, alamak! Betapa beruntungnya aku.

Kami berdua masih sama-sama polos dalam hal bercinta, mungkin itu yang membuat segalanya menjadi mudah. Dalam tempo tiga bulan aku berhasil mencium bibirnya, eh… enak dan lembut. Itu ciumanku yang pertama, hahaha… bergetar.. bergetar. Bayangan akan kelembutan bibirnya membuatku terangsang setiap malam, semakin liar menggosokkan kemaluanku ke guling, membayangkan tubuhnya yang tanpa pakaian menggeliat seperti di film porno saat kumasukkan batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya, ahh… ahhh… ahh….. kurasakan aku hampir gila karena nafsuku. Lalu, dengan sembunyi-sembunyi kunaiki mobil papaku, dan kuajak dia berputar-putar keliling kota, hanya sebentar-sebentar, dan tentu saja aku berkompromi dulu dengan sopirku. Akhirnya aku mendapat “SIM-beli” setelah merengek-rengek setengah mampus di kaki papaku. Dan aku mulai mengatur rencana bagaimana aku bisa menikmati tubuh kekasihku, daripada hanya bibirnya, lagipula batang kemaluanku menuntut terus tiap waktu.

Jadi pertama kuajak ia berputar-putar sekeliling kota, alasannya untuk merayakan SIM-ku. Dan kucoba mencium bibirnya di dalam mobil ketika kami berhenti di sebuah jalan raya, eh… dia tidak menolak. Yah, sebuah petanda yang bagus… oke. Beberapa hari kemudian, aku mulai agresif mengajaknya jalan-jalan, sampai akhirnya aku berani mengajaknya ke jalan tol di sebuah malam Minggu. Kami berhenti di peristirahatan tol Surabaya-Gempol. Kumatikan mesin, dan kucium bibirnya yang lembut. Ia sama sekali tidak meronta ketika aku meremas-remas buah dadanya yang lumayan besar di telapak tanganku, dan ketika kubuka bajunya, menelanjangi bagian atasnya, alangkah nikmat kurasakan menciumi puting susunya yang kecil yang kencang, nafasnya yang melenguh dan mengerang menambah kenikmatan yang kurasakan, “adikku” berdiri tegak siap tempur, tapi kutahan saja, karena aku takut ia akan menamparku jika aku melangkah terlalu jauh. Jadi kugesek-gesekkan saja kemaluanku ke pinggiran kursi sampai ejakulasi. Dan selama itu dia tidak menolak sama sekali, bahkan terkesan pasrah dan menikmati. Dia bahkan sempat memberi wanti-wanti, “Ray… jangan cerita-cerita okay?” Oh… tentu tidak dengan menggunakan namanya dan namaku yang asli, hohoho.

Nah, hari-hari berikutnya, karena ia tidak pernah menolak, jadi aku pun mulai berani melepaskan baju atasku, menikmati kehangatan dadanya di dadaku sambil menciumi bibir dan telinganya. Mmm… enak sekali kurasakan saat itu. Kami mulai biasa melakukan embracement di rumahnya, rumahku, dalam mobil dan dimanapun tempat yang kami bisa. Sampai akhirnya kami kelas 2. Saat itu aku mulai mengenal yang namanya pil “koplo”, dan karena aku anak band, jadinya pil setan itu menjadi konsumsi wajibku sebelum manggung, ah kurindukan saat-saat “sakauw”. Efeknya, aku menjadi lebih liar, lagipula Enni sama sekali tidak tahu aku mengkonsumsi obat-obatan. Dia hanya bingung melihat prestasiku yang melorot 23 peringkat saat cawu 1, dan kubilang saja karena papa dan mama ribut melulu. Toh dia percaya.

Suatu saat, ketika kami pulang sekolah (siang), kuajak dia mampir di Wendy’s. Kami makan, dan kemudian seperti biasa berputar-putar mencari tempat. Akhirnya aku memberhentikan mobilku di sebuah jalanan yang lumayan sepi di dekat Kenjeran. Ah, aku sih bersyukur saja karena kaca mobilku gelap, hehehe…. jadi, kubuka baju dan behanya, menikmati puting-puting “susu”-nya seperti biasa, sambil sesekali meremas dan menggigit. Nafasnya mendengus-dengus. Kuajak ia pindah ke bangku belakang. Enni menurut saja. Kuteruskan hisapanku di “susu”-nya, dan ketika kumasukkan tanganku ke dalam roknya, ia hanya diam dan mengeluh. Kutarik celana dalamnya ke bawah, sambil kuciumi bibirnya yang terbuka. Enni mengerang lirih saat kusentuh kemaluannya yang basah. Aku berusaha mendudukkan diriku di sebelahnya, mengangkat roknya dan membuka pahanya, untuk yang pertama kalinya aku melihat kemaluan seorang wanita di depan mataku, bentuknya indah sekali, berbeda dengan yang di film-film porno. Kulihat wajahnya memerah dan matanya memandangku bertanya-tanya. “Aku tahu bagaimana membuatmu enak…” bisikku lirih sok tahu. Kulihat Enni hanya diam saja, jadi kutahan pahanya ke sandaran jok belakang, dan kuletakkan telapak tanganku menutupi liang kemaluannya. Enni mengerang-erang saat kugosok-gosok bibir kemaluannya dengan telapak tanganku, “Ahhh.. hahh… ahhh…” aku juga semakin bernafsu, persis seperti di film, pikirku saat itu. Hanya saja, untuk menjilat aku belum berani, jijik.

Jadi kuteruskan saja menggosok-gosok kemaluannya, terkadang cepat, terkadang lambat, “Ahhh… ahh… khh… hhh…” Enni mengerang-erang, tangannya menjambret kain bajuku yang terbuka, menarik-nariknya. “Aaahh…” kurasakan tanganku sangat basah, pahanya bergerak-gerak membuka dan menutup. Aku pun menghentikan tanganku sejenak, melihat dan menikmati wajahnya yang memerah dan nafasnya yang terengah-engah. Eh… dia malah berkata, “Gantian. Aku ingin lihat punya kamu!” Oh God, hahahaha… sure, dan kubuka celanaku berikut celana dalam yang menempel di pantatku. Enni memperhatikan dengan seksama “burung”-ku yang tegang dan bergerak-gerak di depannya. “Duduk…” kataku sedikit memerintah. Kugamit jemarinya dan kuletakkan di batang kemaluanku, Enni memegangnya tapi dia diam saja, “Salah… Begini loh!” kutunjukkan cara melakukan masturbasi padanya, dan… damm it! it feels soo good. Kurasakan telapak tangannya menggenggam batang kemaluanku dan menarik-nariknya, enak. Kumasukkan lagi tanganku ke dalam roknya, membuka pahanya dan menggosok bibir kemaluannya, “Ahh… hhh… uhhh… ahhh…” kami mengerang dan mengeluh bersamaan, kucium bibirnya dan merasakan lidahnya bergerak liar. “Ahh… mmm… hhh… ahhh… enak sekali…” kugerak-gerakkan pantatku ke depan memberi respon pada gerakan tangannya dan akhirnya spermaku keluar mengenai sandaran kursi. Kami terdiam sejenak, melihat cairan kental putih yang menempel di kain sandaran kursi di depan kami. “Iyakh…” kudengar ia berkata dan kami sama-sama tertawa. Kukecup bibirnya, mengambil tissue untuk membersihkan tangannya dan kain pembungkus sandaran kursi itu tentunya. Lalu kami pulang.

Hari-hari berikutnya kami semakin sering melakukan hal serupa di tempat-tempat yang sudah kusebutkan di atas, oh jalan tol merupakan tempat idola kami, hehehe. Aku semakin tenggelam dalam kenikmatanku terhadap obat-obatan, aku mulai mengenal heroin, yang sangat nikmat apabila ditorehkan dalam luka-luka sayat di tanganku, dan juga valium, yang menimbulkan bekas bintik-bintik hitam di pangkal lenganku. Ah, akhirnya Enni curiga melihat keaktifanku yang semakin liar di group bandku, dan kondisi tubuhku yang mengurus, pelajaranku yang selalu kuakhiri dengan tidur. Dan itulah yang memacunya untuk meninggalkanku dan beralih ke lelaki lain yang sudah kuliah. Hal itu dilakukannya saat aku berangkat ke New York selama tiga bulan untuk studi banding (kebetulan aku lumayan jago dalam sastra Inggris).

Waktu aku mengetahuinya aku sempat mengamuk habis, hampir saja aku ke kampus si cowok untuk menawurnya bersama teman-temanku, namun kubatalkan mengingat betapa konyolnya aku untuk marah hanya gara-gara seorang wanita. Jadi kuputuskan untuk pulang perang dengan membawa oleh-oleh berharga. Kutelepon ke rumahnya, memintanya sudi menemuiku untuk yang terakhir kalinya. Enni menemuiku malam itu, dan langsung kucium bibirnya sambil membisikkan kata-kata kerinduan dan betapa aku tak sanggup kehilangan dia, dan mungkin karena kenangan berseksual-ria denganku (atau mungkin karena aku cinta pertamanya) membuatnya pasrah saat kupegangi payudaranya dan meremas-remas kemaluannya dari lapisan celana ketatnya. Ah, kebetulan saat itu kedua orangtuanya sedang berangkat menghadiri pernikahan, sedangkan kakaknya saat itu sudah kembali ke Bandung untuk menyelesaikan kuliahnya, jadi aku merasa bebas-bebas saja. Jadi kurangsang dia dengan segenap kemampuanku, kubelai buah dadanya dengan lembut, menciumi wajahnya, lehernya tengkuknya, memasukkan jariku ke dalam celananya, memainkan liang kemaluannya di jariku, membuat nafasnya memburu dan terengah-engah, “Ahhh… ahh… uh… nggg…” aku merasakan nafsuku mulai naik ke ubun-ubun ketika tangannya menyelip di lipatan celanaku dan bergerak-gerak di batang kemaluanku yang menegang hebat.

Aku cukup kaget ketika tiba-tiba ia melepaskanku, menangis, aku bingung. Lalu ia bangkit berdiri, menuju ke ruang tengah rumahnya dan telunjuknya memanggilku mengikutinya. Oh God, hohohoho. Kami bergulingan di tempat tidurnya yang lebar, kuciumi seluruh wajahnya, lehernya, kupingnya, dagunya, dan kuhisap puting “susu”-nya penuh nafsu, kuangkat pakaiannya melewati kepalanya, “Ahh.. uhh… argg…” kurasakan kenikmatan batang kemaluanku menekan-nekan liang kemaluannya dari balik baju kami. Kubuang BH-nya entah kemana. Kubuka bajuku, menempelkannya di payudaranya, merasakan kenikmatan dan kehangatannya. Kuciumi bibirnya dengan lebih bernafsu. Kuraih celana ketatnya yang pendek dan kutarik, kulepas berikut celana dalamnya, kupegangi dan kuraba kemaluannya yang basah. Pahanya bergerak-gerak menggesek-gesek batang kemaluanku yang masih terbungkus, dan kubuka celanaku cepat-cepat. Kurasakan paha telanjangnya menekan batang kemaluanku. Tangannya meraih batang kemaluanku dan memainkannya dengan gerakan yang membuatku terengah-engah menahan nikmat, “ahhh… ahh… ahh…hh…” akhirnya kuangkat tubuh telanjangku ke atasnya, dan menempelkan batang kemaluanku di liang kemaluannya. “Ahhh… gila… kenikmatan ini… ahhh…” kudengar ia menyebut-nyebut namaku dengan lirih ketika pinggulku bergerak-gerak dan menggesek bibir-bibir kemaluannya ke atas dan ke bawah, ahh.

Kucium bibirnya dengan lebih bernafsu, kujatuhkan seluruh tubuhku menindihnya, merasakan tekanan buah dadanya yang berkeringat di kulitku, kugoyang-goyang pinggulku ke atas dan ke bawah, “Ahhh.. ahh..” ke samping ke depan, “Aahh… ah.. ah…” merasakan setiap kenikmatan gesekanku dan pelukan pahanya di pantatku setiap aku bergerak ke samping, “Ahk.. ahk…” Akhirnya kubenamkan bibirku di bibirnya dan menekan pantatku sekuat tenaga ketika nafsuku tak terkontrol lagi dan menyemburkan spermaku melewati dan membasahi permukaan perutnya, Ahhh.. hah…” nafasku terengah-engah penuh kenikmatan, pelukannya mengencang di punggung dan pinggangku. Pantatnya menekan batang kemaluanku kuat-kuat. “Aahh… nikmatnya…” baru kali ini kurasakan nikmatnya melakukan petting.

Aku bangkit berdiri, memakai pakaianku yang berserakan di lantai, dan membantunya berpakaian, lalu melangkah kembali ke ruang tamu. “Ray.. jangan teruskan memakai obat-obatan…” Aku mengangguk. Dan itulah kata terakhir yang kudengar dari bibirnya sesaat sebelum kurelakan dia pergi dari sisiku. Dengan perjuangan yang keras selama beberapa minggu, aku berhasil menghentikan kecanduanku pada obat-obatan di sebuah pusat rehabilitasi di Lawang. Memang, setelah ia sudah menjadi pacar orang lain, yang notabene direstui orangtuanya. Namun tak jarang kami melakukan pertemuan rahasia dan melakukan petting. Namanya juga cinta pertama.

Sampai akhirnya ia mambantuku menembus UMPTN, dan jarak kami terpisah sangat jauh sekarang. Ahh Enni, selalu mulutku mendesah mengingat kenangan cinta pertamaku. Terakhir aku berjumpa dengannya Januari 2000, kami melakukan petting lagi di sebuah wisma di kota dimana ia kuliah. Sampai sekarang, aku belum menemuinya lagi. Mungkin kalau ketemu… hohohoho… ah, kekasihku, cintaku. Tapi pengalaman-pengalaman seru dengannya membuatku ketagihan setengah mati, dan bayangkan saja jika aku harus menunggu setahun sekali untuk petting, woah… what a waste of time.. huh? Jadi aku mulai meningkatkan kelasku menjadi perayu wanita.

Hampir dua kali seminggu aku melakukan petting, bukan bersetubuh tentunya, karena aku masih cari selamat dan aku paling benci yang namanya perek atau pelacur, hanya bawa penyakit. Oh… aku kehilangan keperjakaanku saat aku melakukan hubungan dengan seorang gadis pecandu sabu-sabu yang kujumpai sedang menangis di pinggir jalan karena ditinggal teman-temannya ke diskotik. Wah… lagi-lagi aku beruntung, ketika ia mengajakku bercinta, aku mengiyakannya karena sekedar kepingin tahu dan ternyata si gadis itu masih PERAWAN! Oh God, mercy on me, saat kulihat noda darah berceceran di kasurku, hohohoho… dalam keadaan “fly” mungkin ia tak sadar mengajakku, orang yang baru ia kenal untuk bercinta hahaha… dan kuantar dia pulang ke sekitar wilayah makam Banteng, masih dalam keadaan bingung. Jahat memang, tapi masih sempat kuhadiahkan sebuah kecupan di keningnya. Sejak itu aku memutuskan untuk tidak berhubungan seksual dulu, karena rasanya toh begitu-begitu saja, benar seperti kata orang, yang enak itu pemanasannya, hahaha, lagipula aku sudah pernah mencicipi perawan, hehehe… dan enak gila, jadi aku berambisi mendapat perawan sebanyak mungkin tanpa harus bertanggungjawab. Bajingan? okeh, terserah

Cerita Panas Rekaman Video isteriku....  

0 komentar

Istriku memilih tinggal sendirian di kost kostan yang dekat dengan tempat dia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan kontraktor PMA ,yang nota bene karyawan bule nya memang banyak......, Minggu pagi aku berniat mengunjungi dia, kangen juga sih, sudah 3 bulan aku tidak pernah ketemu dia. kami terpaksa berpisah tempat tinggal dikarenakan aktifitas kami dalam pekerjaan masing masing......, kami baru saja menikah yaitu sekitar 2 tahun dan belum dikaruniai anak.....kami sepakat pada tahun ke 5 barulah kami siap menerima kehadiran momongan diantara kami.

jarak surabaya malang tidaklah jauh ditempuh bila rasa kepengen penyaluran hasrat, dan saat ini aku sedang berada dimalang dalam rangka urusan HASRAT tersebut.....

saat tiba ditempat kost kostan isteriku......................
Di depan pintu aku kaget melihat seorang bule keluar dari kamarnya, aku menunggu sebentar sampai si bule pergi dan nyelonong masuk kamar istriku, aku pura-pura tidak tahu tentang si bule yang barusan keluar. Kulihat istriku keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Tubuhnya masih tetap seperti dulu padat dan sintal, mungil tapi proporsional, Dia keget melihatku sudah duduk di atas tempat tidurnya.
perasaan cemburu dan marah bercampur aduk dalam benakku
apakah isteriku menghianati perkawinan kami................??
Kutanya kabarnya namun tidak dijawab, dengan santai dia melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya, buah dadanya dipamerkan begitu saja, membuat aku jadi bernafsu. Ukuran buah dada istriku memang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, yah.., sesuai dengan ukuran tubuhnya yang mungil, bentuknya sangat menggiurkan mata laki-laki yang memandangnya, bulat, padat dan tidak melar. Melihat itu penisku langsung berdiri, apa lagi melihat bekas gigitan si bule di pundak dan buah dadanya.

Kupeluk dia dari belakang, kucium lehernya dan kubisikkan ajakan untuk bersetubuh, namun dia menolak dengan alasan ada janji dengan teman pagi ini. Selesai berpakaian dia langsung ngeloyor pergi meninggalkan aku sendirian. Lama aku berpikir, dan terlintas dibenakku untuk mengintai hubungan intim mereka. Aku tanyakan ke ibu kost untuk menyewa kamar sebelah, kutahu kamar sebelah tidak ditempati. Setelah atur damai dengan ibu kos aku langsung balik ke surabaya mengambil peralatan spy-ku yang dulu kubeli dari internet. Aku mempunyai dua buah pinhole video camera yang bisa ngintip lewat lubang kecil. Dulu alat ini aku gunakan untuk mengintip anak-anak kost di rumahku. Balik lagi ke tempat kost istriku dan langsung memasang peralatan spy-ku.
aku harus punya bukti.......untuk menjebaknya.............
Aku buat lubang kecil tepat di atas temat tidur dan satu lagi di kamar mandi. Selesai pasang kamera lewat plafon, aku coba connect ke TV-monitor yang kupersiapkan di kamar sebelah, hampir 70% dari ruangan tidur bisa kumonitor dan selanjutnya beralih ke channel di kamar mandi, di sini aku harus naik lagi ke plafon karena lokasi cameranya kurang tepat, kugeser sedikit agar tepat di atas bath tub.

Jam 12.00 aku selesai setup video spy-ku, lalu mandi sebentar membersihkan debu yang melekat di tubuhku setelah naik ke langit langit kamar kost. Sambil tiduran menunggu istriku kembali ke kostnya. Kira-kira jam 20.00 kudengar langkah kaki di kamar sebelah, kuintip lewat jendela, ternyata istriku dan si bule yang datang. Kunyalakan TV-monitor, kulihat si bule menunggu istriku yang sedang menutup pintu kamar, istriku tampak tidak sabaran, langsung menubruk si bule dan mereka berpagutan sambil saling melepaskan pakaian. Hanya dalam beberapa detik mereka sudah telanjang bulat, istriku jongkok di hadapan si bule yang penisnya setengah ereksi dan melahap penis besar di hadapannya. Mulut istriku tidak bisa menampung seluruh penisnya.

Perlahan tapi mantap penis si bule ereksi penuh karena permainan lidah istriku. Kutahu ini adalah keahlian istriku, dulu aku sampai merem melek dibuatnya. Si bule yang tinggi besar mengangkat tubuh mungil istriku ke tempat tidur dan langsung menindihnya. Dengan sangat bernafsu si bule melahap buah dada kenyal milik istriku. Dari TV-monitor aku dengan jelas sekali melihat wajah istriku yang lagi merem melek menikmati permainan lidah si bule.

Puas menikmati kedua gunung kembar istriku, si bule beralih turun ke perut lalu ke bukit yang ditumbuhi bulu jarang-jarang. Desahan istriku sangat jelas kudengar lewat earphone karena sebelumnya sudah kupasangi wireless microphone di belakang head board-nya. Tangan istriku menarik kuat-kuat sprei sewaktu lidah si bule mulai menyusuri lubang vaginanya.

Selang berapa menit si bule merubah posisinya untuk ber'69'. Desahan istriku langsung hilang bersamaan dengan disumbatnya mulut istriku dengan penis besar si bule. Dengan sangat bernafsu istriku memainkan penis di mulutnya, sedangkan si bule sendiri sibuk memainkan lidahnya di clitoris istriku, kulihat kaki istriku mulai menegang dan paha istriku menjepit kepala si bule.

Setelah puas ber-'69', si bule duduk bersandar di head board dan istriku duduk di pangkuannya dengan saling berhadapan. Dengan bertumpu pada lututnya, perlahan istriku memasukan penis besar si bule ke lubang vaginanya. Istriku menjerit kecil ketika penis si bule mulai menerobos masuk. Dia mendongak ke atas sambil meringis menahan sakit saat menurunkan pantat bahenolnya agar penis si bule masuk lebih dalam.

Setelah diam beberapa saat untuk melumasi penis si bule, istriku mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sedangkan si bule melahap dan mejilati buah dada istriku. Ini adalah gaya yang paling disukai istriku. Gerakan istriku maju mundur makin lama makin cepat dan tidak beraturan, selang 5 menit tubuh istriku bergetar hebat menikmati orgasme sambil melumat mulut si bule.

Mereka istirahat sebentar sambil mencumbui istriku agar bangkit lagi. Dengan memainkan buah dada istriku yang kenyal, dia bangkit lagi gairahnya, Istriku lalu mengangkangkan pahanya lebar-lebar, dari TV-monitor aku bisa lihat vagina istriku yang kemerah-merahan akibat gesekan penis besar si bule. Dia menusukkan senjatanya ke vagina istriku dan mulai menggerakkan pantatnya maju mundur dengan keras, saking kerasnya sampai terdengar suara, "Plak! plok.., plak! plok!", dari benturan paha mereka.

Istriku mendesah hebat setiap kali si bule menghunjamkan penisnya dalam-dalam. Rasa cemburuku timbul saat melihat perlakuan kasar si bule terhadap istriku,.......... . Posisi ini tidak bertahan terlalu lama, si bule minta istriku nungging dan dia menusukkan senjatanya dari belakang, aku bisa dengan jelas melihat penis si bule keluar masuk menusuk vagina istriku.
achhhhhh...oooohhh.....yessss..........suara isteriku bersahut sahutan dengan bunyi kemaluan sibule ................
Lima menit berlalu si bule menunggangi istriku, perlahan-lahan dia mulai kesetanan, gerakanya mulai tak beraturan apalagi istriku juga ikut menggoyangkan pantatnya dengan kesetanan. Akhirnya si bule memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina istriku. Dia berteriak histeris menikmati puncak orgasmenya. Kulihat istriku mencium mulut si bule mesra sekali.................
Berdua mereka ke kamar mandi, aku cepat-cepat mencolokkan cable RCA dari camera yang di kamar mandi ke TV-monitor. Di kamar mandi kulihat istriku jongkok memutar kran shower sementara si bule memegang shower head-nya. Lalu mereka saling menggosok dengan sabun. Si bule lama sekali membersihkan vagina istriku sampai dia merem melek. Bath tub mereka isi setengahnya lalu tiduran berdua di dalamnya dengan si bule di bawah dan istriku di atas pelukan si bule. Mereka saling berpagutan mesra. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 23.00 malam, aku buru-buru pulang karena besok senin pagi aku harus kerja. Terpaksa aku kehilangan adegan hot selanjutnya. Dulu aku berniat membeli alat perekam VCR 24 jam, namun tidak jadi karena harganya mahal. Sesampainya dirumah mataku tidak bisa terpejam, dalam pikiranku masih terbayang adengan hot istriku dengan si bule. Coba aku punya perekam, aku bisa melihat adegan mereka selanjutnya. Membayangkan mereka, aku jadi tidak bisa tidur sampai pagi.

Senin malam jam 20.00, sepulang dari tempat kerja aku langsung meluncur ke malang lagi ketempat kost istriku, suara desahan terdengar dari kamar istriku, "wah telat aku". Cepat-cepat kubuka pintu kamarku yang ada di sebelah kamar istriku, TV-monitor kunyalakan, namun mereka tidak kelihatan di kamar tidur, terlihat tempat tidur yang acak-acakan dan pakaian berserakan di mana-mana. Kucoba colokkan monitor yang di kamar mandi, dan "astaga!" Mereka bertiga, istriku, si bule dan temanya bule satunya lagi, yang ini bentuk penisnya lucu, bagian bawah kecil namun kepalanya sebesar bule satunya lagi. Sekarang kutahu nama bule yang menyetubuhi istriku kemarin namanya Jullio, itu aku dapat dari teman istriku di tempatnya bekerja.

Jullio adalah tamu diperusahaan tempat isteriku bekerja dan dia mempunyai business di Kota malang ini..... Di kamar mandi, istriku kulihat sedang nungging sedangkan Jullio memompa vagina istriku dari belakang, tangan istriku berpegangan ke pinggir bath tub sambil melumat penis anehnya milik si bule satunya yang duduk di ujung bath tub. Aku baru tahu kalau istriku bisa sebuas ini sama cowok bule. Wah ini adegan yang sungguh sangat menyesakkan dadaku, rasa iri, cemburu, marah, menyesal, birahi, sedih bercampur aduk, pokoknya tidak bisa dijelaskan. Keadaan tempat tidur yang acak-acakan menandakan merekan sebelumnya bergumul di sana dan pergumulan mereka di kamar mandi saat ini mungkin babak kedua atau mungkin ketiga. Aku telah kehilangan adegan tersebut. Kalau kubayangkan mungkin lebih seru dari yang di kamar mandi.

Jullio mencabut penisnya dari vagina istriku dan menancapkanya lagi ke lubang pantat istriku, seumur-hidup aku belum pernah menikmati lubang istriku yang satu ini, setiap aku minta dia selalu menolak dengan alasan sakit lah, tidak enak lah, Namun dengan si bule ini kenapa dia berikan. Ini tidak adil!, Jullio nampak mulai kesetanan, semetara istriku berteriak kecil setiap penis besar ini masuk lebih dalam.
ssshhhhhhh.....acchhhhhhh...ooohhhhhhhhh......

Dalam 5 menit Jullio mencabut penisnya dan menumpahkan seluruh air maninya di punggung istriku. Sementara bule satunya lagi asyik menikmati permainan mulut istriku, karena sudah bernafsu si bule satunya lagi langsung menggendong istriku ke tempat tidur. Istriku di tempatkan di pinggiran bed dengan posisi nungging sementara si bule berdiri di lantai, di pingiran bed dan bersiap-siap menusukkan senjatanya ke lubang pantat istriku. Goyangan pantat si bule menimbulkan suara, "Ceplak.., ceplok..!",.

penis si bule yang bentuknya aneh itu makin keras menghunjam pantat istriku sambil tangannya meremas keras pantat bahenol istriku. Datang dari kamar mandi si Jullio langsung ikutan nimbrung, dia menyusup ke bawah tubuh istriku dengan kaki menjuntai ke bawah dia memasukkan penisnya ke vagina istriku lalu menurunkan badan istriku, si bule satunya lagi tetap berdiri dengan penis menancap ke pantat istriku, dia agak membungkuk karena badan istriku merendah dan nempel ke tubuh Jullio. Mereka mulai bergoyang, mulut istriku dengan lahap menjilat dada bidang si Jullio yang di penuhi dengan bulu.

Si bule satunya sudah mulai kesetanan, pantatnya kian keras bergoyang dan akhirnya, "Cret.., cret.., cret", spermanya tumpah di punggung istriku, sementara si Jullio masih asyik menikmati goyangan istriku dari atas, karena si bule satunya lagi tidak lagi menusukan senjatanya, istriku lalu duduk bersimpuh di penis si Jullio dan bergoyang maju mundur. ........sshhhh....ohhhh terdengar desisan isteriku dari mulutnya..........Tangan si Jullio meremas buah dada kenyal milik istriku, desahan istriku makin hebat sampai akhirnya lemas terkulai di atas tubuh Jullio.
oohhhhh............ssshhhhhhhhh................

Jullio bangkit dan mulai menyodok lubang pantat istriku yang lagi tengkurep lemas. Plok.., plok.., plok..!, bunyi pantat dan paha mereka beradu, selang beberapa menit si Jullio menumpahkan spermanya di atas punggung istriku dan terkulai lemas di sebelah istriku. Si bule satunya datang dari kamar mandi, langsung berpakaian lalu pamitan pada mereka. Sempat-sempatnya dia melumat mulut istriku sebelum pergi. Jullio menggendong istriku ke kamar mandi. Setelah saling membersihkan di kamar mandi, mereka tidur bugil dengan saling berpelukan.

Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 24.00, aku putuskan untuk tidur di sini dan besok aku akan bolos kerja. Sampai jam 02.00 di kamar istriku tidak ada aktivitas, mereka masih tertidur pulas dengan tetap saling berpelukan. Akhirnya aku tertidur karena bosan menunggu.

Jam 04.00 aku terbangun dan melihat ke monitorku. Kulihat tangan istriku mengocok penis si Jullio yang sedang berdiri setengah tiang. Kepala istriku dituntun paksa oleh si bule untuk melakukan blow job. Mulut istriku yang mungil tampak mengembung akibat sumbatan penis si Jullio. Setelah berapa lama akhirya tumpah juga isinya di mulut istriku, si Jullio akhirnya tertidur pulas lagi, sementara istriku ke kamar mandi membersihkan mulutnya.

Jam 07.00 si bule bangun, berpakaian dan pamitan ke istriku yang bermalas-malasan di tempat tidur dalam keadaan bugil. Setelah si Jullio pergi, aku menyerbu masuk ke kamar istriku, dia kaget sekali melihat aku datang, aku langsung membuka pakaianku dan menindihnya. Berberapa kali dia berontak, namun akhirnya penisku bisa kutancapkan ke vaginanya. Puas mengocok vaginanya, aku minta dia nungging untuk menyodok lubang satunya. Dia menolak, tapi kupaksa juga sedikit memperkosanya.....
"mas,....kenapa kamu?.."
aku hanya diam........kulancarkan sodokan kontolku.....
achhhh ah ah ah ah....achhhhh....isteriku mendesah desah....
mungkin ia cuma pura pura.......
agar aku makin bernafsu.......
barulah kali ini aku merasakan lubang anus isteriku.........
yang sudah dibuat longgar oleh sibule bule itu......
kusemburkan spermaku dilubang anus nya....
ooooo,,,ssshhh ia kembali pura pura kenikmatan...tapi aku tau itu semua palsu......
esoknya ...kuperlihatkan rekaman Videoku....
ia pucat pasi........
"aku telah membuat 2 copiannya..."kataku
"untuk apa mas?"
"untuk bukti diperceraian kita..."
isteriku tertunduk lesu............ia hanya diam..seakan tak mampu berkata lagi.
"tak kusangka........,sama sekali tak kuduga...,kamu yang
...lembut dan pemalu bisa jadi binal gini..."
"maafkan aku mas"
"simpanlah kata maafmu ...."kataku dengan ketusss
"kamu akan rasakan pembalasanku nanti...,kamu telah menyakitiku......kamu telah benar benar menghianatiku..."

aku sudah punya rencana dengan isteriku ini aku telah memiliki rekaman video pornonya yang bisa kujadikan senjata untuk menuruti semua kehendakku.............
nantikanlah jalan ceritanya.......