28 April 2008

Cerita Panas Pertama kali Bercinta  

1 komentar

Mamaku berusia 51 tahun ketika peristiwa itu terjadi. Mama telah menjanda karena Papa telah meninggal dunia. Mama menurut kata orang cantik dalam usianya yang setengah baya. Dari semua sex appealnya yang paling menonjol adalah rambutnya yang terurai panjang sampai dipantatnya yang montok.

Sebagai anak tunggal,aku merupakan tumpuan harapan Mama walaupun prestasiku sebagai mahasiswa biasa saja. Malam itu aku pulang mabuk berat karena hobbyku memang minum. Ini yang bikin Mama sering sedih,tetapi aku tetap tidak berhenti karena terpengaruh teman. Aku masuk kamar dan terus bermaksud tidur.

Tiba tiba Mama masuk kamarku sambil menyisir rambutnya yang panjang itu.Rupanya Mama mendengar suara aku menutup pintu depan. Mama bertanya apakah aku baik baik saja,karena mengapa langsung masuk kamar tanpa berkata apa apa kepada Mama. Karena aku diam saja,Mama kemudian duduk dipinggir tempat tidurku,tangannya yang kanan diletakkan disamping pinggang kananku,duduknya disebelah kiriku,jadi Mama seolah olah berada diatas badanku.

Rambutnya tergerai diatas badanku,dan tangan kirinya mengusap kepalaku setelah meletakkan sisir dimeja kecil disamping tempat tidurku.Aku memandang Mama dikeremangan kamarku yang disinari lampu tidur dimeja kecil. Aku terkesima soalnya Mama dandanannya seronok dengan make up yang tebal,bibirnya yang merah bergincu. Ternyata Mama baru pulang dari undangan bersama tetangga sebelah kepesta perkawinan anak kenalannya. Aku bilang Mama cantik sekali, dan Mama hanya tersenyum sambil tetap mengusap rambutku.

Tanpa sadar aku pegang tangannya yang kanan dan mengusapnya. Rambut Mama yang lebat itu memancarkan bau harum hairspray yang membangkitkan birahiku. Mama malam itu dimataku seperti geisha yang siap melayani pelanggannya. Karena kami berdua diam,aku mulai berani mengelus rambut hitam lebat yang tergerai diatas dadaku. Kontolku mulai ngaceng meraba rambutnya yang menggerai tebal itu. Tangan kiriku pelan pelan aku angkat mengelus pipinya yang berbedak tebal karena make upnya. Uh aku tak tahan ingin mencumbu perempuan ini dihadapanku ,seperti cerita Sangkuriang yang jatuh birahi dengan ibu kandungnya. Mulutku terbuka dan sedikit menganga menahan birahiku.

Entah mengapa Mama tiba tiba menunduk dan mencium keningku. Aku tak tahan lagi dan membalas menciumnya tetapi dibibirnya sambil tangan kiriku meraih lehernya. Mama agak berontak tetapi kemudian hanyut dengan kelembutanku menciumnya. Mama aku rebahkan didadaku dan kami mulai berciuman seperti sepasang kekasih,lembut tanpa ada keterpaksaan. Mama akhirnya aku tindih dengan tetap mencium bibirnya.Rambutnya terbusai busai diatas tem pat tidurku.

Aku mulai melepas celanaku dan bajuku,yang karena susah membukanya akhirnya beberapa kancingnya copot. Aku akhirnya telanjang menindih Mamaku yang tangan kiri dan kanannya erat mencengkeram sprei tempat tidurku. Matanya agak terpejam dan mukanya menengok kekiri atas sewaktu aku menjilat dan menggigit leher kanannya. Susunya yang mulai agak kendor itu aku remas lembut, dan memang tetek Mama cukup besar.

Mama melenguh seperti orang kesakitan,pinggulnya menggisar gisar selangkangku. Sambil mengemot teteknya,aku turunkan celana dalam Mama. Mama ditengah nafsunya hanya bisa berbisik pelan melarangku,tetapi sepertinya merestuiku untuk mencopot celana dalamnya. Aku meraba memeknya dan mengelus itilnya,yang ternyata sudah mulai berair.

Aku akhirnya minta ijin Mama untuk memasukkan kontolku kememeknya. Mama hanya menggumam tidak jelas ketika ujung kontolku sudah berada dimulut memeknya yang agak basah. Tanpa tertahan lagi Mama menangis tersedak sedak ketika aku mulai mengentotnya,anak kandungnya yang kurang ajar ini. Baru kali inilah aku meraskan jepitan memek wanita,yang juga kebetulan ibu kandungku,setelah setiap kali aku hanya mampu beronani membayangkan ngentot wanita. Aku memang kadang kadang membayangkan ibuku,Mamaku yang sexy, bahkan sampai mimpi basah.Sekarang impian telah menjadi kenyataan.

Persetubuhan dengan Mama akhirnya hampir mencapai puncaknya dan aku menggemgam erat rambut dibelakang kepalanya sampai Mama terdongak kepalanya kebelakang. Sambil dengan gemas kugigit lehernya,spermaku memancar deras kememeknya. Oh,aku telah menyetubuhi pertama kali wanita cantik yang juga Mamaku tercinta. Malam itu Mamaku adalah kekasihku,lonteku dan sekaligus guruku. Aku berbisik "Mmaahh, nanti minta lagi ya....", Mama hanya senyum dikulum sambil memelukku.

Cerita Panas Pesta Assoy  

1 komentar

Aku dan kedua temanku, Joe dan Dani makan siang di Citraland Mall sambil ngobrol-ngobrol karena memang cukup lama kami tidak bertemu, tepatnya setelah Dani menikah lima bulan yang lalu. Saat kuliah dulu, kami berlima bersama istri Joe dan istriku adalah sahabat kental yang selalu bersama-sama.
Setelah ngobrol tidak menentu cukup lama, tiba-tiba saja Joe bertanya pada Dani, "Dan, gimana istri loe? Asyik ngga?"
Ditanya begitu, Dani malah menjawab, "Ya lumayan deh. Tapi ngga seseksi Ami, sih!"
Aku dan Joe tertawa saja.

Dulu Ami, istri Joe memang jadi idola kami bertiga. Maklum saja karena Ami memang cantik sekali, seksi, dan energik. Tapi akhirnya Joe lah yang berhasil mendapatkannya. Sahabat kami yang lainnya, Fay, akhirnya menjadi istriku.

"Hahaha... masih ada hati ama Ami loe, ya!" aku menimpali.
"Yeeh... loe juga ngebet ama dia kan?" balas Dani.
Aku hanya nyengir saja mendengarnya, lalu membalas, "Dulu sih iya.., tapi kalo sekarang gue pilih Fay deh..."
Tiba-tiba Joe memotong, "Eh, denger omongan loe tadi, gue punya ide nih.""Ide apaan? Pasti ide gila nih.. dari dulu ide loe ngga pernah bener!" komentarku bercanda."Bisa dibilang gitu sih.." jawab Joe.Aku dan Dani heran mendengar jawabannya. Kami berdua hanya terbengong tanpa merespon.

Joe langsung menjelaskan, "Gini.., Senin depan libur kan? Nah, loe berdua mau ngga nginep di rumah gue..?"
"Hah? Istri gue gimana..?" potong Dani heran.
"Bilang aja ama dia kalo loe mau nginep di rumah gue. Kan udah lama ngga ketemu!" timpal Joe, sedikit kesal.
"Nanti disana, kita pesta 'assoy'."
"Pesta seks? Gila loe! Jangan macem-macem deh!" sungut Dani.
Aku sendiri sebenarnya tertarik dengan ide Joe itu.

"Kenapa ngga? Pasti asik deh..." pancing Joe.
"Gue sih mau aja," jawabku. "Tapi si Dani mau ngga?"
Dani terlihat berpikir. Tidak lama dia bicara, "Loe udah rencanain mateng Joe? Terus, si Ami gimana?"
"Hahaha... pokoknya beres deh! Everything is under control. Ceweknya dijamin yahuud dan bebas penyakit!" balas Joe.
Akhirnya Dani setuju. Maka rencana gila Joe itu akhirnya diterima secara bulat.

Di rumah, aku bicara pada Fay kalau aku mau menginap di rumah Joe Senin depan.
Mulanya dia diam saja, tapi kemudian dia tanya, "Ivan ngapain disana?"
"Ya... kan udah lama ngga ketemu. Boleh dong nginep sekali-sekali..." jawabku.
Fay diam sebentar... mikir dia, "Disana mau macem-macem ya?"
"Macem-macem gimana?"
"Main cewek misalnya.."
"Nggaaak..."
"Bo'ong nih!"
"Bo'ong juga ngga ketauan koq!" jawabku asal.
Fay hanya mencibir, lalu balik badan membelakangiku, dan langsung tidur.

Sebagai info, Fay ini badannya mungil. Tidak sampai sepundakku tingginya. Jelas dia cakep, walaupun kalah dari Ami. Bodinya cukup bagus, pinggangnya ramping, kulitnya bersih dan mulus karena dia rajin merawat badan. Kami menikah baru sekitar setahun yang lalu.

Pada hari yang ditentukan, aku menuju rumah Joe. Fay kutinggal di rumah bersama pembantuku, si bibik. Sampai di rumah Joe, ternyata Dani sudah ada disana. Kami dijamu makan siang, oleh Joe dan Ami. Hmm... si Ami ini masih tetap cantik dan seksi sekali bodinya. Sayang kulitnya kalah bagus dibanding Fay. Setelah makan, kami ngobrol dan istirahat. Lalu sorenya kami bermain badminton di halaman rumah Joe yang luas. Dan pada saat itulah tiba-tiba datang dua orang cewek yang lumayan menarik. Ternyata mereka teman Ami.

Setelah keduanya masuk ke dalam untuk bertemu Ami, Joe mendekati kami dan berbisik, "Gimana menurut loe berdua cewek-cewek itu?""Boleh juga," jawabku, "Tapi Fay lebih oke!"
"Yee... loe ini..," Joe sebal. "Makan tuh si Fay..!"
"Cakep koq.." komentar Dani.
"Naah... itu dia hidangan pesta nanti malem.." Joe menjelaskan sambil nyengir mesum.
"Hah? Gila loe! Mereka kan temennya Ami?"
"Justru Ami ngundang mereka ke sini buat 'begitu'!"
"Yang bener loe?" timpal Dani takjub. "Si Ami ikut juga pesta nanti malem?"
"Liat nanti aja deh," jawab Joe membuat aku dan Dani penasaran bercampur nafsu.
Jelas saja, kalau Ami ikut pasti benar-benar 'assoy'.

Malamnya, selesai makan dan sikat gigi serta tidak lupa meminum obat kuat, Joe mengajak kami berkumpul di ruang tengah. Disana aku melihat Ami bersama dua orang temannya memakai baju yang benar-benar seksi. Wah, lihat saja si Dani! Sampai melotot matanya.

Ami memperkenalkan kedua temannya pada kami. Yang satu namanya Lia. Wajahnya oke juga. Tubuhnya cukup seksi, apalagi jika memakai baju seperti itu, dengan hanya mengenakan celana dalam serta kaos yang bawahnya buntung tepat di dada, sehingga memperlihatkan sekitar 25% buah dadanya, bagian bawah. Bahkan aku dapat melihat sedikit bagian lingkar putingnya. Nilai 7,5 buat cewek yang ini. Sedangkan yang seorang lagi, lebih cantik dari Lia, Rinda namanya. Bodinya juga lumayan oke, walaupun tidak sebagus Lia. Bajunya itu lho... tepatnya bukan baju, tapi semacam kain yang melintang hanya menutupi tengah buah dada dan puting, ditambah celana super pendek. Seksinya.., nilai 7,5 juga buat dia.

Sedangkan Ami sendiri hanya mengenakan semacam bikini yang bagian atasnya terlalu ketat, sehingga 'buah-buahan' miliknya yang memang montok itu seperti akan keluar. Ooh... inginnya aku meremas buah itu. Jelas dia pantas dapat nilai 9. Joe lalu menyetel musik disco dan mengajak kami berjoget. Joget yang hot! Aku berpasangan dengan Lia, Dani berpasangan dengan Rinda. Gerakan joget ketiga cewek itu memang sangat merangsang. Apalagi dengan baju seperti itu, membuat buah dada mereka berguncang-guncang secara liar, sehingga batang milikku menjadi tegang. Tanganku beberapa kali menyentuh bagian bawah buah dada Lia yang terbuka. Bahkan terkadang Lia dengan santainya mendekap tanganku ke dadanya, membuat darahku berdesir merasakan kekenyalan payudara tersebut.

Ditengah keasyikan tersebut, tiba-tiba bel berdering, sehingga kami menghentikan kegiatan. Aku, Dani dan Joe keluar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata salah seorang teman kami semasa kuliah dulu, Feby. Seingatku dia cukup akrab dengan Fay dan Ami. Kami heran, ada urusan apa dia datang?
Dan kami sangat terkejut ketika dia bertanya, "Loe semua lagi pesta kan? Gue diundang Ami kesini."
"Oh.. ya udah, masuk aja deh.." Joe mempersilakan.
Dalam hati aku bersorak. Tambah lagi cewek yang ikut. Bisa puas berat nih.

Sampai di dalam, Ami sendiri kaget melihat Feby.
Feby hanya tersenyum, "Lagi pesta apa nih? Koq bajunya pada minim begitu?"
"Eh.. eng... ngga koq..." Jawab Ami grogi. "Loe... ada apa ke sini Feb?"
Kami kaget juga, karena ternyata Feby bukan diundang oleh Ami. Bisa gawat ini urusannya.
"Kebetulan aja... tapi gue rasa loe semua mau pesta seks ya? Gue boleh ikut ngga?"
Ha? Mana mungkin kami menolak? Perduli amat dia kebetulan datang atau tidak.

Hehehe.... Feby lumayan oke, wajahnya manis dan tinggi langsing. Tanpa basa-basi Feby langsung melepaskan bajunya, sehingga dia tinggal mengenakan pakaian dalamnya yang semi transparan. Joe kembali menyalakan musik. Bahkan kali ini Joe menyalakan televisi besar yang ada di ruangan tersebut, dan menyetel film biru yang menambah panas suasana.

"Hai, para cowok buka bajunya doong! Masa kalah sama gue sih?" tiba-tiba Feby menantang sambil melepas bra dan melemparkannya ke arahku, lalu kembali berjoget dengan hot.
Aksi Feby tersebut diikuti oleh Ami, Lia, dan Rinda. Tentu saja kami tidak mau ketinggalan. Kami bertiga melepas seluruh baju kami, menyisakan celana dalam saja. Jadilah kami bertujuh hanya tinggal mengenakan celana dalam sambil berjoget.

Rinda mendekati Dani, dan kemudian tangannya melepaskan celana dalam Dani sehingga batang kejantanannya yang sudah keras itu mengacung tanpa tertutup. Rinda turut melepas celana dalamnya, dan merapatkan tubuhnya pada tubuh Dani. Kemudian mereka berdua saling menggesekkan alat kelamin mereka secara berirama. Rinda sampai mendesah-desah keenakan. Aku sendiri langsung mendekap tubuh Lia dari belakang, dan meraih kedua buah dadanya yang terbuka. Payudara yang lembut dan kenyal itu kuremas-remas, putingnya kucubit perlahan dan kupuntir membuat pemiliknya merem-melek keenakan.

Kemudian tangan kananku menyusup ke balik celana dalamnya, dan menjelajahi daerah kewanitaanya. Aku merasakan bulu-bulu keriting halus disana. Lia merintih perlahan saat aku menggesek-gesekkan jariku pada gundukan daging yang ada disana. Sementara itu Feby melepas celana dalamku, dan tangannya yang halus terasa nikmat menyentuh batang milikku, menggosok-gosok dan membelai batangku.

Tidak lama kemudian aku merasa hangat dan basah pada batangku, dan ternyata Feby telah mengulumnya. Mataku sampai terpejam saat Feby mulai menyedot maju mundur sambil memainkan "telur"-ku dengan jari-jarinya. Ah... nikmat sekali. Remasanku pada buah dada Lia menjadi semakin kuat, dan jariku kumasukkan untuk mengorek liang vaginanya, sehingga Lia mengeluarkan suara, "Ouhh... ahh...."

Ami yang saat itu sudah telanjang bulat, mendekat dan menjilati vagina Feby yang saat itu tengah berjongkok mengulum kemaluanku. Tangan Ami menggerayangi kedua payudara Feby. Sementara Joe menggunakan kesempatan ini dengan menusuk kemaluan istrinya yang terbuka lebar, karena Ami mengangkang. Joe menyodok dengan dahsyat, sehingga tubuh Ami berguncang keras dan kedua gumpalan daging di dadanya bergerak seiring. Aku akhirnya tidak tahan untuk tidak mencicipi buah dada Lia. Kubalikkan tubuh Lia menghadapku. Kedua buah dadanya yang montok kusedot, kucubit dan kuremas bergantian, membuat Lia mengeluarkan teriakan tertahan.

Sementara kulihat Dani sudah memasukkan batangnya ke dalam vagina Rinda dari arah belakang. Posisi Rinda yang menungging membuat kedua payudaranya berjuntai liar. Lia meminta Feby untuk menghentikan kulumannya di kemaluanku.
"Feb, gue udah ngga tahan nih... loe udahan yach?"
Feby pun melepaskan mulutnya dari kemaluanku. Lia mendorongku hingga posisiku telentang, kemudian dia menggenggam batang kemaluanku dan diarahkan ke liang sanggamanya.

"Siap ya, Van. Kita mulai..." kata Lia sambil duduk di atas kemaluanku dan kemaluanku amblas ditelan oleh vaginanya.
Lia mendesah sesaat ketika seluruh batangku berada dalam kehangatan vaginanya, dan kemudian mulai bergerak naik turun. Amboi... alat kelaminku terasa disedot oleh vaginanya yang hangat, basah dan legit. Gesekan yang terjadi antara dinding vaginanya dengan kemaluanku membuatku seperti melayang-layang keenakan. Apalagi dengan posisi seperti ini aku dapat melihat jelas ekspresi kenikmatan di wajahnya serta buah dadanya yang membulat kencang.

Tiba-tiba Ami datang dan menyodorkan buah dadanya yang montok itu ke wajahku seraya berkata, "Van, nyusu dulu ya?"
Aku segera meraih buah dadanya yang indah itu dan mengulum putingnya.
"Ahhh... isep yang kuat, Van..!" pinta Ami.
Aku menggigit putingnya dan memainkan lidahku pada ujung putingnya. Kukulum puting itu dengan bernafsu, sementara kulihat Dani mengarahkan batangnya yang berkilat-kilat ke arah selangkangan Ami, dan... "Aaaahhhhhhh....." Ami mendesah panjang saat batang kejantanan Dani memasuki rahimnya, dan Dani langsung beraksi menyodok-nyodok.

Di lain pihak, Rinda sedang melumat kemaluan Joe dengan mulutnya, sedangkan Joe sendiri tengah asyik menyusu pada Feby. Rintihan dan erangan kenikmatan bercampur baur saat itu diiringi dengan musik, membuat gairah kami semakin memuncak. Lia semakin mempercepat gerakan naik turunnya, menambah dahsyat kenikmatan yang kurasakan dari gesekan dengan dinding kemaluannya. Kedua tangannya meraih tanganku dan membimbing ke arah payudaranya yang bebas. Lalu dia meremas kedua payudaranya sendiri dengan kuat menggunakan tanganku.

"Aaahh... Ssh.. e.. nak banget, Van.. ahss.." Lia mendesis.
Aku pun merasa sangat nikmat dengan daging payudara wanita di kedua tanganku serta di mulutku. Lia semakin cepat naik turun sampai akhirnya dia mengejang karena orgasmenya dengan melepas sebuah teriakan kenikmatan. Lia terkulai di atas tubuhku. Aku melepaskan hisapanku dari puting susu Ami dan memeluk Lia. Sayangnya aku belum puas, pasti karena aku minum obat kuat. Lia bangkit dan kemudian duduk di sofa, untuk beristirahat. Namun Joe menghampirinya, dan membuka kaki Lia ke kanan dan kekiri sehingga mengangkang, kemudian siap menusukkan batangnya pada liang kenikmatan Lia.

"Aduhh.. Joe, nanti dulu dong, gue masih lemes nih..." pinta Lia memelas.
Tapi Joe tidak memperdulikannya dan menghunjamkan batangnya. Kasihan juga si Lia. Aku melihat berkeliling. Sebenarnya aku ingin mencicipi lubang milik Ami. Saat itu kulihat Ami baru saja selesai orgasme, sementara Dani masih kelihatan bernafsu. Aku pun menghampiri Ami dan tanpa basa basi kukatakan ingin menyetubuhinya.
"Mi, gue mau ama loe nih. Gue masukin punya gue ya?" Ami mengangguk pelan.

Dengan posisi berdiri, aku memasukkan kemaluanku ke dalam liang miliknya secara perlahan. Aku menikmati setiap momen saat batang kemaluanku memasuki vaginanya hingga penuh berada dalam rahimnya. Ohh... akhirnya! Inilah rasanya liang kenikmatan Ami, yang dulu selalu kuimpikan. Seluruh urat di kemaluanku berdenyut-denyut dan darahku berdesir hebat saat itu. Kupeluk pinggangnya, dan Ami pun memelukku dengan erat sambil menggoyangkan pinggangnya. Dua gundukan daging di dadanya yang montok itu menekan dadaku, bergesek-gesek menimbulkan kenikmatan tersendiri dari kekenyalannya.

Dani pun tidak tinggal diam. Ia membuka pantat Ami, dan menyodomi Ami. Ami berteriak keras saat anusnya ditembus oleh Dani.
"Aduuuhhh... p.. elan-pelan... Dan, sakiit..."
Gila juga sebenarnya. Suaminya sedang asyik meyetubuhi Lia, sementara aku dan Dani menggarap Ami habis-habisan. Aku melirik seklias ke arah Feby yang tengah mengeluar-masukkan sesuatu benda ke dalam kemaluan Rinda. Yang jelas Rinda mendesah-desah dibuatnya sambil mencengkram payudara Feby.

Kembali aku berkonsentrasi dengan Ami. Aku menyodok dengan kuat dan cepat. Dani mengimbangi, sehingga Ami mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan akibat dua kemaluan laki-laki keluar masuk di dua lubang miliknya. Dani bahkan menjilati tengkuk dan leher Ami, membuat Ami semakin liar. Sampai akhirnya Ami mencapai klimaks kenikmatannya, mengeluarkan rintihan yang pelan tapi panjang. Kepala Ami terkulai di bahuku. Aww... yang benar saja!

Aku belum puas. Dari dulu aku sangat menginginkan untuk menyetubuhi Ami sampai puas. Maka tanpa memperdulikan kondisi Ami yang sudah letih, aku terus menggenjot. Ami hanya mengerang. Dani melepaskan kemaluannya dari anus Ami dan entah mencari Rinda, Lia, ataukah Feby, aku tidak memperdulikannya. Konsentrasiku saat itu berpusat pada Ami. Secara konstan batangku berulangkali menyodok. Gairah Ami muncul kembali, dan dia pun mulai bergoyang mengimbangiku. Namun karena adanya pengaruh obat kuat yang kukonsumsi, sampai Ami mencapai orgasme lagi pun aku masih tetap bertahan dan terus menggenjot. Hingga akhirnya aku merasakan sangat geli pada seluruh kemaluanku dan batang kemaluanku berdenyut-denyut.

"Amii... gue mau.. keluar niiih...." aku berbisik pada Ami.
"Keluar di dalem aja, Van... lagi safe koq..." balasnya berbisik pula.
Berkali-kali alat kelaminku menyemprotkan sperma ke dalam rahim Ami. Ahh... puasnya tubuh dan hatiku, karena keinginanku sejak kuliah dahulu tercapai sudah. Selama beberapa saat kami tetap berpelukan dan kemaluanku masih tertancap dalam kemaluannya. Setelah itu tubuhku berpisah dengannya. Aku beristirahat di sofa, sedangkan Ami merebahkan dirinya telentang di atas karpet. Dadanya bergerak naik turun seiring nafasnya. Kulihat Joe sedang berbicara dengan Feby.

"Gue belum nyobain loe nih, Feb. Ayo dong, please..!" kudengar Joe merayu.
Feby hanya tersenyum, "Jangan sekarang deh. Mendingan kita tidur aja. Liat tuh, udah pada selesai semua."
"Wah... gue juga belum coba, Feb" kata Dani.
Hm... berarti si Feby ini belum di'coblos' sama sekali dari tadi. Kalau dipikir-pikir memang dari semula dia hanya mengulum batang kemaluan kami para cowok dan memain-mainkan vagina cewek lain. Curang juga... tapi aku sendiri memang sudah setengah mengantuk, walaupun masih ada sisa-sisa nafsuku.

Akhirnya kami berlima selain Joe dan Ami bertelanjang bulat tidur di kamar tamu, satu ranjang, campur baur. Sebelum benar-benar terlelap, aku dapat merasakan bahwa aku tengah mengenggam payudara seseorang entah siapa, dan seseorang yang entah siapa juga tengah menggenggam kemaluanku (kuharap itu bukan Dani).

Pagi harinya Feby membangunkanku. Masih sangat pagi. Kulihat Dani, Rinda, dan Lia masih pulas. Aku pun masih lumayan mengantuk.
"Van, gue mau mandi nih. Mau ikut ngga?"
Tawaran begini tidak mungkin kusia-siakan. Aku mengangguk dan mengikutinya ke kamar mandi. Hmmm... ada bath tub-nya! Hebat juga si Joe ini. Feby menyalakan air panas untuk mengisi bath tub tersebut. Kami berdua duduk di sisi bath tub.

"Mau gue pijat ngga, Van?" tawar Feby.
"Mau dong!" jawabku antusias.
Feby tertawa renyah, dan mengambil posisi di belakangku. Lalu ia mulai memijat kepalaku.Enak rasanya, aku merapatkan diri ke tubuhnya sehingga dadanya yang lunak menyentuh punggungku.Batang kejantananku mulai keras.
"Eeh.. nakal ya?" katanya.
Aku hanya tertawa, tapi tanganku mengusap-usap pahanya. Halus... Pijatannya beralih ke bahuku.

"Biasanya Fay suka pijatin loe kaya gini ngga?" Feby bertanya.br)"Kadang-kadang. Tapi loe lebih bertenaga dari dia. Pijatan loe lebih terasa.."
"Mau yang lebih terasa?"
Tangan kanan Feby turun dari bahuku menuju selangkanganku, lalu mulai mengusap-usap milikku. Aahh... enaknya... Tubuhnya semakin dirapatkan ke tubuhku. Dadanya semakin tertekan ke punggungku, dan aku juga dapat merasakan bulu-bulu kemaluannya pada pantatku.

"Ah.. enak banget Feb. Bener-bener kerasa..."
"Enak ya? Bagus dong..." katanya.
"Gue suka ama ini deh.." Feby berkata lagi sambil mengelus kedua telur di selangkanganku, lalu meremas dengan sangat lembut.
Aduh... enaknya... caranya mirip sekali dengan Fay. Gairahku naik. Namun Feby menghentikan gerakannya.

"Nanti dulu. Campur ama sedikit air dingin biar jadi anget."
Lalu Feby menyalakan keran air dingin. Sebentar saja sudah bath tub-nya sudah penuh. Kamiberdua masuk sekaligus. Feby berada di depanku. Hangat sekali rasanya. Tanganku memeluk perut Feby, dan kuciumi lehernya. Feby kegelian.
"Gue sabunin ya?" Feby menawarkan padaku. "Tapi nanti loe juga sabunin gue."
"Beres!" jawabku.

Kami keluar dari bath tub. Feby mengambil sabun dan mulai menyabuni seluruh tubuhku termasuk selangkanganku. Rasanya geli dan enak. Di bagian tersebut Feby beroperasi lebih lama dari bagian lainnya. Aku kemudian ganti menyabuni tubuhnya. Feby bergumam pelan saat aku menyabuni buah dadanya. Lalu aku mengosok selangkangannya dengan perlahan, membuat Feby menggelinjang. Gairahku semakin meningkat. Aku berdiri di hadapannya, memeluk pinggangnya dan langsung mencium bibirnya. Feby membalas dengan bernafsu dan memelukku dengan erat. Cukup lama kami berciuman dan bermain lidah.

Aku meremas pantatnya dan mulai mengesek-gesekkan kemaluanku yang penuh sabun dan sudah tegang 100% dengan klitorisnya. Feby kembali menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Beberapa saat kemudian Feby sudah tidak tahan.
"Aahh... aahh... langsung aja, Van. Gue udah kepingin nih..." Feby berteriak.
Aku membawanya kembali ke bath tub untuk membersihkan sabun yang ada pada tubuh kami. Kami mengambil posisi duduk berhadapan dan aku mendudukkan Feby dengan vaginanya tepat pada batangku.

Bless... Amblas penisku ditelan vaginanya. Tubuh kami bersatu dalam kenikmatan. Gerakan Feby yang luar biasa membuatku kewalahan. Aku bertahan agar tidak cepat keluar. Memang pada akhirnya Feby lebih dahulu mencapai orgasmenya. Tidak lama aku menyusulnya mencapai orgasme dan memuntahkan spermaku ke dalam tubuhnya. Kami berciuman kembali setelah merasakan kepuasan. Air di dalam bath tub hanya tersisa setengahnya akibat permainan kami. Kami lalu bangkit dan duduk di sisi bath tub.

"Loe hebat deh, Van. Kuat banget mainnya.." puji Feby.
Vagina Feby sedikit kurang jepitannya. Kalau saja milik Feby sempit dan ketat seperti Fay, pasti aku kalah dengan tehnik yang dimilikinya.
"Loe juga hebat koq, Feb.."
"Enak mana gue ama Fay?"
Aku hanya terdiam. Bingung menjawabnya.

"Lebih enak sama Fay, ya?" kejarnya.
"Koq jadi dibandingin ama Fay sih?"
"Loe ngga heran kenapa gue bisa tau disini ada pesta seks?"
Nah lho! Di pikiranku muncul satu kemungkinan.
"Dari Fay?" tebakku.
Feby mengangguk. Aku bingung dibuatnya. Darimana Fay tahu kalau kami mau pesta "assoy"?"Fay kasih tau kalo ada pesta seks di rumah Joe. Ya.. gue dateng aja! Dia juga bilang kalo loe ikut." jelas Feby.

"Waktu itu gue tanya, dia koq ngga marah, padahal tau loe main cewek. Dia bilang, dia udah tau kalo loe suka main cewek. Jadi waktu nikah sama loe dia udah siap terima resikonya. Tapi dia titip sesuatu buat loe, lewat gue.."
"Apaan tuh?"
"Ini nih..," kata Feby sambil meraih batang kemaluanku yang sudah mulai lemas, mengangkatnya ke atas, lalu menepuk telurku dengan keras.
"PLOKK..!"
"WADAAAWW..," teriakku.

Mataku terasa berkunang-kunang, dan perutku mulas sekali. Selangkanganku berdenyut-denyut. Selama beberapa saat aku hanya mengerang sambil memegangi "si korban". Feby tertawa kecil.
Sial!
"Jangan salahin gue ya? Itu titipan dari Fay. Kalo mau bales, bales aja ama dia."
"Sialan loe..," aku hanya memaki.

Setelah itu kami kembali membasuh tubuh kami dengan shower. Siangnya, bersama dengan Joe, Ami, Lia, dan Rinda, kami berjalan-jalan keliling Jakarta dan makan-makan di restoran. Hingga sorenya kami kembali ke rumah Joe. Malamnya kami pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang, Feby memberikan sebuah bungkusan kepadaku.
"Kalo mau bales Fay, pake ini aja."
Aku membukanya, dan... hehehe.... ini cocok sekali buat membalas si Fay.

Sampai di rumah, Fay menyambutku. Ekspresi wajahnya tenang saja, seakan tidak terjadi apa-apa.
"Gimana? Senang ya pestanya..."
"Koq Fay tau ada pesta disana?"
"Dari Ami..," jawabnya.
"Fay bohongin dia di telepon, bilang kalo Ivan udah kasih tau Fay soal pestanya. Ami ngira Fay udah tau, jadi dia langsung cerita semuanya deh."
Aku manggut-manggut. Bego juga si Ami. Tapi kalau tidak begitu, Feby kan tidak datang.

"Udah terima titipan Fay?" tanyanya sambil tersenyum.
Aku hanya melotot. "Titipan Fay bahaya, tahu!"
"Biarin! Biar Ivan ngga sembarangan." katanya penuh kemenangan.
Aku sebal dibuatnya. Aku ambil pemberian Feby tadi, yaitu sebutir pil kuat dan dua butir pil perangsang nafsu. Cukup buat tetap perkasa semalam suntuk. Aku menuju kulkas dan langsung meminumnya. Efeknya langsung terasa. Aku merasa sangat-sangat bergairah.

"Minum apaan tuh?" Fay bertanya penuh selidik.
"Fay, si bibik udah tidur belum?" aku balas bertanya tanpa memperdulikan pertanyaannya.
"Udah koq..,"
"Kalo gitu, Ivan mau bales titipan Fay tadi. Ivan mau perkosa Fay disini, sekarang juga!"
Fay mendelik, "Apa-apaan sih?"
Aku langsung menerkamnya. Fay menjerit. Biar kugarap Fay semalam suntuk! Hehehe...

Cerita Panas Pijat Gairah  

4 komentar

Berawal dari sahabatku Arman yang bercerita tentang seorang tukang pijat yang hebat dan bisa dipanggil ke rumah, aku jadi tertarik. Apalagi ketika ia berbicara tentang kemampuan tukang pijat itu meningkatkan gairah dan kemampuan seks wanita dengan pijatan supernya. Arman bercerita dengan cukup detail bagaimana tukang pijat itu yang katanya bernama Pak Daru, kakek usia kepala tujuh melakukan pijatan super pada istrinya. Hasilnya sungguh luar biasa. Aku jadi ingin mencobanya..

"Tapi loe harus inget, waktu dipijat sama Pak Daru istri loe harus bugil total. Mau nggak dia?" Arman bertanya padaku.
"Hah? Dipijat bugil? Nanti istri gue diapa-apain ama dia?
"Ya enggak laah.. Loe juga ada disitu koq. Lagian Pak Daru itu udah tua banget. Udah gitu dia juga pemijat profesional. Gue jamin ngga masalah. Tapi istri loe harus setuju dulu."
"Nanti gue coba tanya dia deh.."
"Pokoknya sip banget deh!"

Malamnya aku bicarakan hal itu dengan Vie istriku. Aku ceritakan apa yang kudengar dari Arman sambil memeluk tubuh mungilnya. Mulanya dia tertarik tetapi ketika mendengar bahwa ia harus telanjang bulat mukanya langsung merah padam.

"Malu ah.. telanjang di depan orang lain" protesnya.
"Tukang pijatnya udah tua. Lagipula menurut Arman istrinya bilang dipijatnya enak dan tangannya sama sekali tidak menyentuh atau meraba memek koq"
"Ih.." muka Vie semakin merah.
"Kenapa khusus cewek?"
"Nggak tau juga. Tapi coba dulu deh. Siapa tahu nanti ketagihan."

Vie mencubit perutku, tapi akhirnya mau juga dia mencoba. Besoknya kuhubungi Arman untuk menanyakan cara menghubungi Pak Daru. Setelah itu kucoba menghubungi Pak Daru dari nomor HP yang kudapat dari Arman. Singkatnya Pak Daru akan datang ke rumahku esok malamnya dengan perlengkapannya. Setelah itu kuberitahu Vie. Esok malamnya sesuai janji Pak Daru tiba di rumahku. Perawakannya kurus hitam dan kelihatannya memang sudah tua sekali. Apa bisa dia melakukan pijat? Aku terheran-heran sendiri sementara Vie hanya melirikku dengan pandangan ragu. Kami menuju ke ruang tamu dalam dan aku menyingkirkan meja tamu untuk mendapatkan tempat yang luas. Aku sudah memastikan kalau pembantu kami Darsih sudah masuk ke kamarnya. Sejenak basa-basi, Pak Daru langsung "To the point" menghamparkan selimut tebal di lantai.

"Silakan Ibu berbaring tengkurap di atas sini" katanya sambil menunjuk selimut sebagai alas.
"Maaf, tapi saya minta Ibu melepas pakaian" sambungnya lagi.

Wajah Vie merona merah. Dia kelihatan nervous karena itu aku membantunya melepas dasternya sehingga hanya tinggal mengenakan bra dan celana dalam.

"Untuk sementara begitu saja. Silahkan, Bu" Pak Daru memotong.

Vie berbaring tengkurap diatas selimut. Pak Daru mengeluarkan dua botol kecil obat yang menurutnya adalah obat ramuan rahasia turun temurun. Kemudian ia membuka yang bertutup hijau dan menggosokkan minyak tersebut pada kedua telapak tangannya. Ia mulai memijat bagian belakang hingga samping kepala Vie dengan perlahan. Aku duduk menyaksikan. Entah kenapa saat itu aku mulai terangsang membayangkan nantinya tubuh istriku akan dijamah oleh kakek tua ini. Tentu saja di bawah sana penisku menegang.

Pijatan di kepala beralih ke tengkuk Vie yang mulus dan dipenuhi rambut halus. Nampaknya Vie merasa enak dengan pijatan Pak Daru di kepala dan tengkuknya. Ternyata kakek tua ini hebat pijatannya. Dari tengkuk diteruskan ke bahu Vie yang terbuka dan dilanjutkan ke lengan sampai telapak tangan. Setelah itu Pak Daru meminta agar istriku melepas tali bra di punggungnya. Vie melepas kaitan branya sehingga bra tersebut sudah tidak menutupi tubuh Vie dan hanya tergeletak diantara selimut dan kedua susunya yang tergencet sehingga menyembul ke samping. Pak Daru mengolesi punggung Vie dengan minyak dari botol pertama dan mulai mengurut serta memijat punggung. Vie tampak menikmati pijatan ini.

"Maaf Bu, tapi selanjutnya celana dalam harus dilepas. Bagaimana kalau suami Ibu yang melepasnya?" Pak Daru tiba-tiba berkata.

Wajah Vie memerah lagi. Aku mengikuti permintaan Pak Daru melepas celana dalam Vie tanpa mengubah posisinya yang tengkurap. Pantat Vie yang indah dan celah vaginanya terlihat jelas membuat penisku semakin tegang. Pak Daru melumuri dua bongkahan pantat Vie dengan minyak dan segera memijat dengan perlahan. Kali ini Vie mengeluarkan suara tertahan. Jelas Vie mulai terangsang birahinya dengan pijatan Pak Daru. Apalagi ketika Pak Daru memijat pangkal paha bagian dalam, tarikan nafas Vie berubah menjadi lebih berat dan matanya terpejam. Pak Daru tetap memijat seperti tidak terjadi apa-apa. Kakek tua itu memijat pantat, paha dan kemudian betis hingga akhirnya melakukan pijat di telapak kaki.

"Ini adalah salah satu tahap penting dalam pijatan ini" Pak Daru menjelaskan.
"Terdapat titik-titik penting di telapak kaki untuk meningkatkan gairah" lanjutnya.

Kemudian ia mengambil botol minyak kedua bertutup merah yang dari tadi belum pernah dipakainya. Digunakannya untuk memijat telapak kaki Vie. Kali ini pijatannya sangat intensif dan memakan waktu cukup lama. Terkadang Vie merintih, mungkin pijatan si kakek cukup kuat.

"Maaf Bu, untuk tahap berikutnya saya akan memijat di daerah bagian depan tubuh. Sebaiknya Ibu duduk bersila membelakangi saya dan menghadap ke arah Pak Saldy agar saya tidak melihat tubuh bagian depan Ibu." kata Pak Daru setelah selesai memijat kaki istriku.

Kali ini kelihatannya Vie sudah mulai terbiasa dan kemudian ia mengambil posisi duduk bersila membelakangi Pak Daru. Tubuh indah Vie yang telanjang bulat berhadapan denganku. Pak Daru kembali menggosokkan minyak kedua pada telapak tangannya. Pak Daru terlebih dahulu meminta persetujuan aku dan Vie.

"Saya minta izin kepada Pak Saldy dan Ibu Vie untuk melakukan pijatan di tubuh bagian depan Ibu Vie.."
"Silakan, Pak Daru" jawabku
"Silakan.." jawab Vie.

Langkah pertama Pak Daru adalah melumuri bagian sekitar vagina Vie dengan minyak dari botol bertutup merah dan mulai melakukan pijatan di daerah itu dari belakang. Walaupun tidak menyentuh vagina, tetapi tangannya memijat mencakup pangkal paha, pinggul depan, termasuk daerah yang ditumbuhi bulu kemaluan. Mulut Vie sedikit terbuka. Aku tahu Vie merasakan nikmat disamping rasa malu. Pijatan Pak Daru pasti membuat birahinya naik ke ubun-ubun. Beberapa kali tangannya terlihat seakan hendak menyusup ke dalam celah vagina Vie yang membuat Vie menahan nafas tetapi kemudian beralih. Bulu kemaluan Vie dibasahi oleh minyak pijat Pak Daru sementara Vaginanya basah oleh cairan nafsunya.

Pak Daru melanjutkan pijatannya ke bagian perut Vie, dan memijat perut terutama bagian pusar sehingga membuat Vie kegelian. Hanya sebentar saja, setelah itu Pak Daru meminta Vie mengangkat tangannya.

"Maaf Bu, tapi ini adalah tahap terakhir dan saya harus memijat di bagian ketiak dan payudara. Coba angkat kedua tangan Ibu."

Vie mengangkat tangan dan meletakkan kedua tangannya di atas kepala. Pak Daru memulai pijatannya di daerah ketiak dari belakang.

"Ihh.. geli pak.." Vie menggelinjang.
"Ditahan Bu. "

Pak Daru mengabaikan Vie yang sedikit menggeliat menahan geli dan melanjutkan pijatannya di ketiak Vie. Setelah itu Pak Daru mengambil minyaknya lagi dan dituangkan ke telapak tangannya. Selanjutnya dari belakang tangannya meraup kedua gunung susu milik Vie yang langsung membuat Vie mendesah. Pak Daru melakukan massage lembut pada susu Vie yang sudah tegang. Terkadang kakek itu melakukan gerakan mengusap. Jari-jari terampil yang memijat pada kedua susunya membuat Vie sangat terangsang dan lupa diri, mengeluarkan suara erangan nikmat.

Aku melotot melihat pemandangan luar biasa itu. Payudara istriku yang berusia 27 tahun, mulus, kenyal, dan berlumur minyak sedang dicengkeram dan diusap oleh tangan kasar hitam seorang kakek berusai 70-an, membuatku sangat bernafsu. Berbeda dengan Pak Daru yang sama sekali tidak bereaksi apa-apa, Vie merintih dan mendesah. Posisinya sudah berubah tidak lagi duduk bersila, tetapi duduk mengangkang memperlihatkan vaginanya yang sudah becek kepadaku sambil tangannya mencengkeram rambut.

"Ukhh.." kali ini Vie mendesah keras. Aku sangat terangsang mendengarnya. Ingin sekali aku menggantikan Pak Daru memijat susu Vie.

Pak Daru menarik puting susu Vie dengan telunjuk dan jempolnya dengan perlahan sehingga membuat Vie mengeluarkan suara seperti tercekik. Sampai akhirnya Vie merintih pelan, panjang. Vaginanya banjir. Hebat sekali pijatan si kakek ini.

"Saya rasa sudah cukup. Silakan Ibu mengenakan pakaian. Sementara itu ada yang ingin saya bicarakan dengan Pak Saldy" Pak Daru menyudahi aksinya.
"Ya Pak?"

Pak Daru menyerahkan sebuah botol kecil berisi carian kepadaku.

"Apa ini, Pak Daru?"
"Pijatan saya itu membuat gairah seorang wanita meledak-ledak tetapi orgasmenya akan menjadi lebih cepat. Selain itu ini adalah ramuan untuk membuat susu wanita tetap kencang dan padat. Usapkan dengan gerakan memeras. Saya yakin Pak Saldy bisa." bisiknya sambil tersenyum.

Setelah itu aku membayar Pak Daru dan ia pamit pulang. Vie sudah mengenakan pakaiannya lagi.

"Eh.. buka lagi bajunya. Aku mau coba hasil pijatan Pak Daru." kataku.

Vie tidak menjawab, tetapi dari sinar matanya aku tahu saat ini dia sedang dalam gairah yang tinggi. Mukanya merah dan nafasnya memburu. Aku segera meraihnya dan mencium bibirnya. Ciuman yang ganas karena aku sendiri sejak tadi menahan nafsuku melihat tubuh Vie yang sedang dipijat. Vie membalas tak kalah bernafsu sambil melucuti pakaiannya sendiri dan langsung melucuti pakaianku sehingga kami berdua telanjang bulat di ruang tamu.

"Senggamai aku.. aku ingin segera kontol kamu masuk ke sini" Vie meracau sambil menunjuk vaginanya yang sudah basah kuyup sejak tadi.
"Beres sayang.. "

Aku segera memutar tubuhnya menghadap dinding dan mencoba menyetubuhinya dari belakang. Vie segera mengambil posisi tangan bertumpu pada dinding. Dengan perlahan-lahan penisku menerobos vaginanya yang sempit dan licin. Adalah proses yang sangat nikmat luar biasa saat penis memasuki vagina. Aku pejamkan mataku merasakan sensasinya sementara Vie merintih nikmat. Sampai akhirnya seluruh penisku masuk de dalam vaginanya yang panas berlendir dan nikmat.

"Aahh.." Vie menghela nafas, tubuhnya bergetar.

Nikmat sekali. Vaginanya yang panas itu mencengkeram penisku dengan kuat. Jepitannya lebih hebat dari biasanya. Sementara dengan sudut mataku aku melihat kalau ternyata pembantu kami, Darsih, sedang mengintip dari balik dinding ruang tamu. Aku bisikkan ke telinga Vie tentang hal itu.

"Masa bodoh. Biar dia nonton kamu entotin aku." Vie balas berbisik.
"Okee.."

Aku gunakan kakiku untuk mengambil bajuku dan mengeluarkan botol pemberian Pak Daru dengan tanganku tanpa melepas penisku yang sudah menancap. Lalu aku tuangkan pada tanganku.

"Apa itu..?" tanya Vie heran.
"Ini minyak dari Pak Daru, bagus buat payudara kamu"
"Ya udah.. cepetan! Terserah kamu mau ngapain. Yang penting garap aku sampai kamu puas."

Aku segera mengusapkan tanganku yang berlumur minyak itu pada kedua susunya yang bergelantungan bebas. Lalu aku mulai mengocok vaginanya dengan lembut. Vie menghelas nafas dengan keras. Akh.. nikmat sekali rasanya sambil meremas daging kenyalnya. Tangan kanan di susu kanan, tangan kiri di susu kiri. Seiring kupercepat sodokanku, kumainkan puting susunya dan sesekali kuremas miliknya itu dengan lebih kuat. Rasanya menjadi lebih dahsyat terutama karena kami mengetahui bahwa kami bersanggama sambil ditonton Darsih secara sembunyi-sembunyi. Mungkin dia mengintip sambil onani, aku tidak perduli.

"Mhh.. terus.. aah.. " Vie merintih terengah-engah. Seiring gerakan keluar masuk penisku di vaginanya semakin intens, Vie menggeliat.

Aku lepaskan tanganku dari payudaranya, membiarkan kedua daging menggairahkan itu bergelantung bergoyang-goyang mengikuti sodokan penisku. Tanganku berganti menggosok-gosok vaginanya yang berlepotan cairan nafsunya. sesekali kugesek klitorisnya sehingga Vie menjerit keenakan. Tiba-tiba tubuh Vie menyentak dan vaginanya terasa menyempit membuat penisku seperti diperas oleh dinding kenikmatannya. Lalu Vie melepaskan orgasmenya disertai erangan panjang dan kemudian ia terkulai. Benar kata Pak Daru, Vie orgasme cepat sekali. Aku terus menyodok vaginanya mengabaikan tubuhnya yang lemas. Tak lama Vie bangkit kembali nafsunya dan mulai merintih-rintih.

"Saldy sayaang.. aku.. ingin kamu.. entotin aku dengan kasaar.." Vie meracau membuat aku tercengang.
"Nanti kamu kesakitan.." jawabku cepat disela kenikmatan.
"Biaar.. masa bodoh.. aku sukaa.. aa.. ahh"
"As you wish.. Istriku yang cantiik.."

Aku keluarkan sebagian besar penisku dari vaginanya, kemudian dengan satu hentakan cepat dan kasar aku sodok ke dalam. Penisku terasa ngilu dan nikmat.

"Eaahh.." Vie menjerit keras.
"Aah..iya..ah.. begiituu.."

Aku lakukan gerakan tadi berulang diiringi jeritan-jeritan Vie. Berisik sekali.. mungkin tetangga mengira aku sedang menyiksa Vie. Entah apa yang ada di pikiran Darsih yang sedang mengintip.

"Teruuss.. sayaang.. remas susuku ini.. dengan kuat.. akh! Aku.. ingin merasakan.. tenagamu.. uuhh.."

Aku meraih susunya yang sejak tadi hanya berayun-ayun, kemudian sesuai keinginannya aku remas dengan kuat sambil terus menyodok vaginanya dengan kasar. Lagi-lagi Vie menjerit keras. Aku yakin ia kesakitan tapi bercampur nikmat.

"Lebih kuaatt.. lebih kuat dari itu.." Vie setengah berteriak.
"Jangan ngaco.. sayang.."
"Ngga apa ap.. aa.. aah..!"

Vie kembali orgasme. Sudah kepalang tanggung, aku ingin mencapai puncak secepatnya. Kukocok dengan cepat vagina Vie sampai pinggangku pegal. Vie mendesah lemah.

"Keluarin.. yang banyak di dalam.." katanya pelan.
"Aku.. sedang subur.. biar jadi anak.."

Tak lama aku merasakan denyutan di penisku yang menandakan aku sudah mendekati puncak. Dan akhirnya penisku menyemprotkan sperma yang sangat banyak dan berkali-kali ke dalam rahim Vie. Kami berdua jatuh berlutut di lantai sementara penisku masih bersarang di vaginanya.

"Anget.." Vie menggumam.
"Apanya?" tanyaku terengah-engah.
"Sperma kamu, di rahimku.."
"Emang biasanya dingin ya?"
"Yang sekarang lebih.."

Aku mengusap rambutnya, dan memeluknya dengan sayang. Sementara itu Darsih sudah menghilang. Puas sudah dia melihat "Live show" kami. Setelah itu kami berdua membersihkan tubuh kami, terutama Vie yang tubuhnya penuh minyak. Tetapi setelah selesai mandi Vie kembali ganas dan "Memperkosa" aku. Gila! Aku benar-benar KO malam itu.. kalah telak!

Tag: Tembang, Artis Populer, Majalah Online, Cerita Dewasa, Download Film, Film, Zone Artis Indonesia

Cerita Panas Pijatan Mbak Tun  

1 komentar

Kurasa hampir semua orang pasti pernah merasakan dipijat, apa lagi para laki-laki hidung belang seperti sebagian besar pembaca surgadunia.com. Kurasa sebagian besar dari mereka pasti punya langganan pemijat di panti-panti pijat yang menjamur di mana-mana.

Itulah enaknya jadi kaum laki-laki, ibaratnya seperti iklan minuman ringan, bisa di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Ini berbeda sekali dengan kaumku, kalau badan pegal harus susah payah cari mbok pemijat yang belum tentu ada di setiap tempat, apa lagi di kota besar seperti Surabaya ini.

Biasanya kalau badanku terasa pegal-pegal, kuminta bantuan adikku untuk memijatnya. Kadang kami bergantian saling pijat. Tetapi hari ini rumahku sedang kosong. Adikku masih kuliah sedangkan orang tuaku belum pulang dari tugas rutinnya mencari nafkah.

Hari ini aku agak sedikit kurang enak badan. Terasa sekali badanku pegal-pegal, namun di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Kucoba bertanya kepada tetangga kanan kiri barangkali ada yang tahu kalau-kalau ada tetangga sekitar yang bisa memijat. Sebenarnya aku tahu bahwa di ujung gang sana ada seorang tukang pijat yang terkenal di sekitar rumahku, tapi laki-laki, namanya Pak Mat. Tidak bisa kubayangkan bahwa tubuh molekku ini bakal dipijat oleh seorang tukang pijat laki-laki, bisa-bisa yang dipijat nanti hanya di daerah-daerah tertentu saja.

Akhirnya aku dapatkan juga seorang tukang pijat wanita. Namanya Mbak Tun yang rumahnya juga tidak begitu jauh dari rumahku. Kucoba untuk mendatangi rumah Mbak Tun yang jaraknya hanya sekitar dua ratus meter dari rumahku. Kebetulan Mbak Tun ada di rumah dan bersedia datang ke rumah untuk memijatku. setelah berganti pakaian dan membawa sedikit perlengkapannya, Mbak Tun mengikutiku pulang.

Mbak Tun usianya masih relatif muda, hanya sedikit lebih tua dariku. Perkiraanku Mbak Tun saat ini berusia sekitar 35 tahun. Namun di usianya yang relatif masih muda itu Mbak Tun sudah menjanda. Ia hidup bersama ibunya, satu-satunya orang tuanya yang masih tersisa.

Mbak Tun sudah 6 tahun bercerai dengan suaminya yang telah kawin lagi dengan wanita lain karena perkawinannya dengan Mbak Tun tidak dikaruniai anak. Cerita tentang Mbak Tun ini kuperoleh dari Mbak Tun sendiri saat memijat tubuhku. Sambil memijat Mbak Tun bertutur tentang kehidupannya padaku.

Walau tinggal di Surabaya, Mbak Tun tetap seperti layaknya orang udik, pengalamannya masih sedikit sekali soal dunia modern, namun untuk urusan sex sepertinya Mbak Tun punya cerita tersendiri. Semuanya akan kukisahkan pada ceritaku kali ini.

Sesampai di rumahku, Mbak Tun kuajak langsung masuk ke kamarku yang sejuk ber-AC. Suhu udara di luar sana bukan main panasnya, beberapa bulan terakhir ini kota Surabaya memang sedang dilanda cuaca panas yang luar biasa, konon panasnya mencapai 37 derajat celcius.

Kubuka kancing hemku dan kutanggalkan hingga bagian atas tubuhku yang mulus terpampang dengan jelas sekali. Payudaraku tampak segar dan ranum dengan ujung puting susuku yang bersih berwarna merah muda sedikit kecoklatan. Rok miniku juga kutanggalkan.

Kini tubuhku sudah hampir telanjang bulat, hanya tersisa CD yang kukenakan. Mata Mbak Tun tampak terkagum-kagum pada bentuk tubuhku yang ramping dan sexy, terlebih saat melihat bentuk CD-ku yang mini itu. Aku saat itu memakai G String berenda yang ukuran rendanya tak lebih dari seukuran satu jari melingkari pinggangku, selebihnya sepotong rendah yang tersambung di belakang pinggangku, turun ke bawah melewati belahan pantatku, melingkari selangkanganku hingga ke depan. Tepat di bagian vaginaku, terdapat secarik kain berbentuk hati kecil yang keberadaannya hanya mampu menutupi bagian depan liang vaginaku.

Lalu aku tengkurap di tempat tidur dengan hanya memakan CD. Mbak Tun mulai memijat telapak kaki, mata kaki, betis, naik lagi ke pahaku. Awalnya aku biasa-biasa saja, pijatan tangannya juga terasa pas menurutku, tidak terlalu lemah dan juga tidak terlalu keras yang dapat menyebabkan terasa lebih sakit setelah dipijat. Menurutku, cara memijat Mbak Tun cukup baik. Setelah memijat kaki kanan, kini Mbak Tun berpindah memijat kaki kiriku, urutannya seperti tadi. Kini giliran pahaku bagian atas yang dipijat juga kedua belahan pantatku.

"Mbak! CD-nya kok modelnya lucu ya?" tanya Mbak Tun lugu mengomentari bentuk CD-ku.
"Emangnya kenapa Mbak Tun?" tanyaku padanya.
"Oh enggak Mbak! Kalau dipakai kok seperti tidak pakai CD aja ya? Bokong (pantat) Mbak tetap kelihatan, dan bagian depannya, jembut (bulu kemaluan) Mbak juga kelihatan, Hii.. Hii.. Hii..! Kalau aku sih tidak berani pakai CD yang model begitu", oceh Mbak Tun masih mengomentari bentuk CD yang kupakai saat itu.

Sambil mengngoceh dan bercerita, tangan Mbak Tun tetap memijat pahaku. Yang kini dapat giliran adalah pahaku bagian atas, tepatnya di daerah pangkal paha dan belahan pantatku. Aku sengaja tidak menjawab ocehannya karena aku ingin menikmati pijatannya. Sambil sedikit tiduran, mataku kupejamkan saat dipijat Mbak Tun.

Letak kedua kakiku dibentangkan terpisah agak lebar sehingga posisi pahaku terbuka. Mbak Tun memijat bagian dalam pahaku yang bagian atas dekat selangkanganku hingga aku merasakan sedikit geli, tapi enak sekali. Selain pegalku di bagian kaki dan paha mulai sedikit berkurang, aku juga mulai merasakan horny, apa lagi saat jari-jari Mbak Tun memijat bagian pangkal pahaku. Jarinya sempat menyentuh gundukan vaginaku hingga rasanya ujung CD-ku mulai lembab. Untungnya Mbak Tun sudah mulai pindah posisi memijat punggungku, naik ke leher dan berakhir di kepalaku.

Selesai memijat bagian belakang tubuhku, Mbak Tun mengambil body lotion dan dioleskannya ke kaki dan pahaku. Rasanya sedikit dingin saat mengenai kulitku. Kalau tadi memijat, kini Mbak Tun ganti mengurut tubuhku mulai dari telapak kaki, betis hingga pahaku. Kembali saat mulai mengurut pahaku bagian atas aku merasa geli, terlebih saat paha bagian dalamku yang diurut olehnya.

"Mbak! CD-nya dilepas aja ya, toh percuma pakai CD cuma sepotong begitu, lagian kita kan sama-sama wanita dan tidak ada orang lain di kamar ini, soalnya nanti kena hand body nyucinya susah", pinta Mbak Tun padaku.

Tanpa menjawab, kumiringkan sedikit tubuhku sambil sedikit membungkuk. Kubuka CD-ku dan kulepas dengan bantuan ujung kakiku. Kini aku telah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhku. Posisiku kembali tengkurap menunggu tangan Mbak Tun kembali mengurut tubuhku.

Mbak Tun kembali ke tugasnya mengurut bagian bawah tubuhku yang sudah dilumuri body lotion tadi. Jarinya kembali bersarang di pangkal pahaku bagian dalam, sambil sekali-sekali mengurut kedua gundukan pantatku. Aku tidak hanya merasakan pegalku mulai berkurang, namun aku juga merasakan seperti ada suatu rangsangan tersendiri menyerang tubuhku bagian bawah.

Mulutku menggigit bantal yang kupakai untuk menopang daguku saat tengkurap karena menahan rasa geli di selangkanganku, manakala jari tangan Mbak Tun menyentuh bibir vaginaku. Terkada sentuhannya masuk lebih dalam lagi hingga menyentuh celah belahan bibir vaginaku.

Terus terang liang vaginaku mulai bawah hingga cairan bening tak terbendung mulai membasahi liang dan dinding dalam vaginaku. Saat mengurut gundukan pantatku, seakan dengan sengaja jari Mbak Tun disentuhkannya ke vaginaku kembali hingga ujung jarinya sempat menyenggol ujung klitorisku.

Aku jadi tersiksa sekali karena menahan hasrat birahi yang timbul akibat sentuhan tangan dan jari Mbak Tun saat memijat dan mengurut bagian bawah tubuhku. Untungnya urutan Mbak Tun segera pindah ke punggungku, terus naik ke leher dan kembali berakhir di kepalaku.

Kalau di bagian atas tubuhku, aku masih tidak merasakan suatu rangsangan seperti tadi. Namun rupanya setelah selesai memijat kepalaku, Mbak Tun kembali memijat dan mengurut kedua bongkahan pantatku, yang tentunya pangkal pahaku kembali menjadi sasarannya pula.

Aku tak kuasa menolak, karena selain kupikir Mbak Tun toh juga seorang wanita, dan juga normal karena pernah bersuami walau sudah lama bercerai. Aku toh akhirnya juga menikmati semua sentuhan tidak disengaja maupun mungkin disengaja saat jari-jari tangannya mengusap bagian luar vaginaku. Sampai akhirnya aku benar-benar tidak tahan lagi.

"Sudah! Cukup! Terima kasih ya Mbak", ujarku akhirnya.
"Kok sudah toh Mbak?", Tanya Mbak Tun padaku.
"Bagian depannya belum diurut lho! Ayo telentang Mbak, kuurut sebentar perutnya supaya ususnya tidak turun", tambah Mbak Tun dengan sedikit memerintah.

Herannya aku menurut juga. Dan lalu aku pun telentang di hadapan Mbak Tun. Mbak Tun mulai kembali mengolesi body lotion ke bagian dada dan perutku. Mbak Tun langsung mengelus bagian atas dadaku dekat leher sedang jarinya mengurut ke bawah ke arah payudaraku. Kemudian area sekitar payudaraku juga diurut lembut mirip elusan. Aku yang sudah horny sejak tadi jadi lebih blingsatan lagi hingga akhirnya aku tidak tahan untuk tidah mengaduh.

"Aduuh! Geli Mbak!" protesku, tapi Mbak Tun diam saja sambil terus mengurut pinggiran payudaraku.

Kemudian perutku diurut dari setiap penjuru mengarah ke pusar. Kini giliran pahaku diurut oleh Mbak Tun. Cara mengurutnya naik ke atas menuju pangkal paha, letak kakiku dipisahkan agak lebar sehingga posisiku lebih terkangkang lagi. Mbak Tun terus mengurut pahaku. Saat mengurut bagian dalam pahaku, aku menggeliat tak karuan.

Kemudian Mbak Tun mengurut mulai tepat di atas vagina menuju pusarku. Katanya ini adalah untuk menaikkan usus dalam perutku agar supaya tidak turun ke bawah. Aku diam saja tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, terus terang pijatannya memang enak hingga pegal yang ada di tubuhku sedah tidak terasa lagi. Namun selain itu aku juga mendapatkan rangsangan seksual dari cara Mbak Tun mengurutku.

"Sudah, sekarang yang terakhir" kata Mbak Tun sambil membuka lebar pahaku.

Mbak Tun berpindah posisi duduknya. Kini dia berjongkok tepat di hadapan selangkanganku yang terkangkang lebar. Kedua tangannya secara bersamaan mengurut kedua pahaku, dari arah lutut menuju selangkangan hingga aku jadi menggeliat tidak karuan menahan geli.

Kemudian kedua ibu jarinya mengurut-urut celah lipatan selangkangan dekat vaginaku dengan cara mengurutnya dari bawah ke atas terus berulang-ulang. Bibir vaginaku menjadi saling gesek karenanya hingga rangsangan dahsyat melanda bagian bawah tubuhku dan akhirnya aku tak kuasa lagi mengendalikan nafsu birahiku sendiri hingga tanpa perlu merasa malu lagi pada Mbak Tun, jariku kuarahkan ke klitorisku dan terus kugosok-gosokkan sambil mengangkat dan menggoyang-goyang pantatku.

Aku akhirnya orgasme di hadapan Mbak Tun. Persetan kalau mau dia tertawa, bathinku. Namun ternyata Mbak Tun tetap cuek saja sampai aku selesai melepaskan orgasme. Lalu kubayar ongkos Mbak Tun memijatku dan kuminta dia untuk pulang sendiri.

Tag: Tembang, Artis Populer, Majalah Online, Cerita Dewasa, Download Film, Film, Zone Artis Indonesia