25 April 2008

Cerita Panas Kenikmatan Jepitan 'Susu' Lydia  

2 komentar

Lega rasanya aku melihat pagar rumah kosku setelah terjebak dalam kemacetan jalan dari kampusku. Kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 21.05 yang berarti aku telah menghabiskan waktu satu jam terjebak dalam arus lalu-lintas Jakarta yang begitu mengerikan. Setelah memarkir mobilku, bergegas aku menuju ke kamarku dan kemudian langsung menghempaskan tubuh penatku ke ranjang tanpa sempat lagi menutup pintu kamar.

Baru saja mataku tertutup, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh ketukan pada pintu kamarku yang disertai dengan teriakan nyaring dari suara yang sudah sangat aku kenal.
"Ko, loe baru pulang yah?" gelegar suara Voni memaksa mataku untuk menatap asal suara itu.
"iya, memangnya ada apa sih teriak-teriak?" jawabku sewot sambil mengucek mataku.
"Ini gue mau kenalin sepupu gue yang baru tiba dari Bandung" jawabnya sambil tangan kirinya menarik tangan seorang cewek masuk ke kamarku.

Kuperhatikan cewek yang disebut Voni sebagai sepupunya itu, sambil tersenyum aku menyodorkan tangan kananku kearahnya "Hai, namaku Riko"
"Lydia" jawabnya singkat sambil tersenyum kepadaku.

Sambil membalas senyumannya yang manis itu, mataku mendapati sesosok tubuh setinggi kira-kira 165 cm, walaupun dengan perawakan sedikit montok namun kulitnya yang putih bersih seakan menutupi bagian tersebut.

"Riko ini teman baik gue yang sering gue ceritain ke kamu" celetuk Voni kepada Lydia.
"Oh.."
"Nah, sekarang kan loe berdua udah tau nama masing-masing, lain kali kalo ketemu kan bisa saling memanggil, gue mau mandi dulu yah, daag.." kata Voni sambil berjalan keluar dari kamarku.

Aku menanggapi perkataan Voni barusan dengan kembali tersenyum ke Lydia.
"Cantik juga sepupu Voni ini" pikirku dalam hati.
"Lydia ke Jakarta buat liburan yah?" tanyaku kepadanya.
"Iya, soalnya bosen di Bandung melulu" jawabnya.
"Loh, memangnya kamu nggak kuliah?"
"Nggak, sehabis SMA aku cuma bantu-bantu Papa aja, males sih kuliah."
"Rencananya berapa lama di Jakarta?"
"Yah.. sekitar 2 minggu deh"
"Riko aku ke kamar Voni dulu yah, mau mandi juga "
"Oke deh"

Sambil tersenyum lagi dia berjalan keluar dari kamarku. Aku memandang punggung Lydia yang berjalan pelan ke arah kamar Voni. Kutatap BH hitamnya yang terlihat jelas dari balik kaos putih ketat yang membaluti tubuhnya yang agak bongsor itu sambil membayangkan dadanya yang juga montok itu. Setelah menutup pintu kamarku, kembali kurebahkan tubuhku ke ranjang dan hanya dalam sekejab saja aku sudah terlelap.

"Ko, bangun dong"
Aku membuka kembali mataku dan mendapatkan Voni yang sedang duduk di tepi ranjangku sambil menggoyangkan lututku.

"Ada apa sih?" tanyaku dengan nada sewot setelah untuk kedua kalinya dibangunkan.
"Kok marah-marah sih, udah bagus gue bangunin. Liat udah jam berapa masih belom mandi!"
Aku menoleh ke arah jam dindingku sejenak.
"Jam 11, emang kenapa kalo gue belum mandi?"
"Kan loe janji mau ngetikin tugas gue kemaren"
"Aduh Voni.. kan bisa besok.."
"Nggak bisa, kan kumpulnya besok pagi-pagi"

Aku bergegas bangun dan mengambil peralatan mandiku tanpa menghiraukan ocehan yang terus keluar dari mulut Voni.
"Ya udah, gue mandi dulu, loe nyalain tuh komputer!"

*****

Tulisan di layar komputerku sepertinya mulai kabur di mataku.
"Gila, udah jam 1, tugas sialan ini belum selesai juga" gerutuku dalam hati.

"Tok.. Tok.. Tok.." bunyi pintu kamarku diketok dari luar.
"Masuk!" teriakku tanpa menoleh ke arah sumber suara.

Terdengar suara pintu yang dibuka dan kemudian ditutup lagi dengan keras sehingga membuatku akhirnya menoleh juga. Kaget juga waktu kudapati ternyata yang masuk adalah Lydia.

"Eh maaf, tutupnya terlalu keras" sambil tersenyum malu dia membuka percakapan.
"Loh, kok belum tidur?" dengan heran aku memandangnya lagi.
"Iya nih, nggak tau kenapa nggak bisa tidur"
"Voni mana?" tanyaku lagi.
"Dari tadi udah tidur kok"
"Gue dengar dari dia katanya elo lagi buatin tugasnya yah?"
"Iya nih, tapi belum selesai, sedikit lagi sih"
"Emang ngetikin apaan sih?" sambil bertanya dia mendekatiku dan berdiri tepat disamping kursiku.

Aku tak menjawabnya karena menyadari tubuhnya yang dekat sekali dengan mukaku dan posisiku yang duduk di kursi membuat kepalaku berada tepat di samping dadanya. Dengan menolehkan kepalaku sedikit ke kiri, aku dapat melihat lengannya yang mulus karena dia hanya memakai baju tidur model tanpa lengan. Sewaktu dia mengangkat tangannya untuk merapikan rambutnya, aku dapat melihat pula sedikit bagian dari BHnya yang sekarang berwarna krem muda.

"Busyet.. loe harum amat, pake parfum apa nih?"
"Bukan parfum, lotion gue kali"
"Lotion apaan, bikin terangsang nih" candaku.
"Body Shop White Musk, kok bikin terangsang sih?" tanyanya sambil tersenyum kecil.
"Iya nih beneran, terangsang gue nih jadinya"
"Masa sih? berarti sekarang udah terangsang dong"

Agak terkejut juga aku mendengar pertanyaan itu.
"Jangan-jangan dia lagi memancing gue nih.." pikirku dalam hati.
"Emangnya loe nggak takut kalo gue terangsang sama elo?" tanyaku iseng.
"Nggak, memangnya loe kalo terangsang sama gue juga berani ngapain?"
"Gue cium loe ntar" kataku memberanikan diri.

Tanpa kusangka dia melangkah dari sebelah kiri ke arah depanku sehingga berada di tengah-tengah kursi tempat aku duduk dengan meja komputerku.

"Beneran berani cium gue?" tanyanya dengan senyum nakal di bibirnya yang mungil.
"Wah kesempatan nih" pikirku lagi.

Aku bangkit berdiri dari dudukku sambil mendorong kursiku sedikit ke belakang sehingga kini aku berdiri persis di hadapannya.
Sambil mendekatkan mukaku ke wajahnya aku bertanya " Bener nih nggak marah kalo gue cium?"
Dia hanya tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaanku.

Tanpa pikir panjang lagi aku segera mencium lembut bibirnya. Lydia memejamkan matanya ketika menerima ciumanku. Kumainkan ujung lidahku pelan kedalam mulutnya untuk mencari lidahnya yang segera bertaut dan saling memutar ketika bertemu. Sentuhan erotis yang kudapat membuat aku semakin bergairah dan langsung menghujani bibir lembut itu dengan lidahku.

Sambil terus menjajah bibirnya aku menuntun pelan Lydia ke ranjang. Dengan mata masih terpejam dia menurut ketika kubaringkan di ranjangku. Erangan halus yang didesahkan olehnya membuatku semakin bernafsu dan segera saja lidahku berpindah tempat ke bagian leher dan turun ke area dadanya.

Setelah menanggalkan bajunya, kedua tanganku yang kususupkan ke punggungnya sibuk mencari kaitan BH-nya dan segera saja kulepas begitu aku temukan. Dengan satu tarikan saja terlepaslah penutup dadanya dan dua bukit putih mulus dengan pentil pink yang kecil segera terpampang indah didepanku. Kuremas pelan dua susunya yang besar namun sayang tidak begitu kenyal sehingga terkesan sedikit lembek.

Puting susunya yang mungil tak luput dari serangan lidahku. Setiap aku jilati puting mungil tersebut, Lydia mendesah pelan dan itu membuatku semakin terangsang saja. Entah bagaimana kabar penisku yang sedari tadi telah tegak berdiri namun terjepit diantara celanaku dan selangkangannya.

Putingnya yang kecil memang sedikit menyusahkan buatku sewaktu menyedot bergantian dari toket kiri ke toket kanannya, namun desahan serta gerakan-gerakan tubuhnya yang menandakan dia juga terangsang membuatku tak tahan untuk segera bergerilya ke perutnya yang sedikit berlemak.

Namun ketika aku hendak melepas celananya, tiba-tiba saja dia menahan tanganku.
"Jangan Riko!"
"Kenapa?"
"Jangan terlalu jauh.."
"Wah, masa berhenti setengah-setengah, nanggung nih.."
"Pokoknya nggak boleh" setengah berteriak Lydia bangkit dan duduk di ranjang.

Kulihat dua susunya bergantung dengan anggunnya di hadapanku.
"Kasihan ama ini nih, udah berdiri dari tadi, masa disuruh bobo lagi?" tanyaku sambil menunjuk ke arah penisku yang membusung menonjol dari balik celana pendekku.

Tanpa kusangka lagi, tiba-tiba saja Lydia meloroti celanaku plus celana dalamku sekalian.
Aku hanya diam ketika dia melakukan hal itu, pikirku mungkin saja dia berubah pikiran.
Tetapi ternyata dia kemudian menggenggam penisku dan dengan pelan mengocok penisku naik turun dengan irama yang teratur.

Aku menyandarkan tubuhku pada dinding kamar dan masih dengan posisi jongkok dihadapanku Lydia tersenyum sambil terus mengocok batang penisku tetapi semakin lama semakin cepat.
Nafasku memburu kencang dan jantungku berdegub semakin tak beraturan dibuatnya, walaupun aku sangat sering masturbasi, tapi pengalaman dikocok oleh seorang cewek adalah yang pertama bagiku, apalagi ditambah pemandangan dua susu montok yang ikut bergoyang karena gerakan pemiliknya yang sedang menocok penisku bergantian dengan tangan kiri dan kanannya.

"Lyd.. mau keluar nih.." lirih kataku sambil memejamkan mata meresapi kenikmatan ini.
"Bentar, tahan dulu Ko.."jawabnya sambil melepaskan kocokannya.
"Loh kok dilepas?" tanyaku kaget.

Tanpa menjawab pertanyaanku, Lydia mendekatkan dadanya ke arah penisku dan tanpa sempat aku menebak maksudnya, dia menjepit penisku dengan dua susunya yang besar itu. Sensasi luar biasa aku dapatkan dari penisku yang dijepit oleh dua gunung kembar itu membuatku terkesiap menahan napas. Sebelum aku sempat bertindak apa-apa, dia kembali mengocok penisku yang terjepit diantara dua susunya yang kini ditahan dengan menggunakan kedua tangannya.

Kali ini seluruh urat-urat dan sendi-sendi di sekujur tubuhku pun turut merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada kocokan dengan tangannya tadi.

"Enak nggak Ko?" tanyanya lirih kepadaku sambil menatap mataku.
"Gila.. enak banget Sayang.. terus kocok yang kencang.."
Tanganku yang masih bebas kugerakkan kearah pahanya yang mulus. Sesekali memutar arah ke bagian belakang untuk merasakan pantatnya yang lembut.

"Ahh.. ohh.." desahnya pelan sambil kembali memejamkan matanya.
Kocokan serta jepitan susunya yang semakin keras semakin membuatku lupa daratan.
"Lyd.. aku keluar.."

Tanpa bisa kutahan lagi semprotan lahar panasku yang kental segera menyembur keluar dan membasahi lehernya dan sebagian area dadanya. Seluruh tubuhku lemas seketika dan hanya bisa bersandar di dinding kamar. Aku memandang nanar ke Lydia yang saat itu bangkit berdiri dan mencari tissue untuk membersihkan bekas spermaku. Ketika menemukan apa yang dicari, sambil tersenyum lagi dia bertanya
"Kamu seneng nggak"
Aku mengangguk sambil membalas senyumannya.

"Jangan bilang siapa-siapa yah, apalagi sama Voni" katanya memperingatkanku sambil memakai kembali BH dan bajunya yang tadi kulempar entah kemana.
"Iyalah.. masa gue bilang-bilang, nanti kamu nggak mau lagi ngocokin gue"

Lydia kembali hanya tersenyum padaku dan setelah menyisir rambut panjangnya dia pun beranjak menuju pintu.
"Gue bersih-bersih dulu yah, abis itu mau bobo" ujarnya sebelum membuka pintu.
"Thanks yah Lyd.. besok kesini lagi yah" balasku sambil menatap pintu yang kemudian ditutup kembali oleh Lydia.

Aku memejamkan mata sejenak untuk mengingat kejadian yang barusan berlalu, mimpi apa aku semalam bisa mendapat keberuntungan seperti ini. Tak sabar aku menunggu besok tiba, siapa tahu ternyata bisa mendapatkan lebih dari ini. Mungkin saja suatu saat aku bisa merasakan kenikmatan dari lubang surga Lydia, yang pasti aku harus ingat untuk menyediakan kondom di kamarku dulu.

Cerita Panas Kisah Nafsu Menjadi Raja  

1 komentar

Malam ini adalah malam minggu terakhir saya di Jakarta (Senin tanggal 6 September 1999 saya akan berangkat ke UK). Jam dinding sudah menunjukkan 21.20. Dengan tidak sabaran saya berjalan mondar-mandir di ruang tamu kost saya. Saya sudah janjian dengan ketujuh teman saya untuk pergi ke karaoke malam sebagai acara perpisahan. Dengan kaos ketat Calvin Klein berwarna hitam dan jeans biru saya terlihat sangat rapi dan menarik, apalagi bau parfum saya begitu semerbak.

"Tuuuttt... Tuuttt..." terdengar klakson mobil dan disusul teriakan,
"Gusss... Ayo..." Dari suaranya saya tahu itu adalah Gunawan, sang Perjaka. Dengan buru-buru saya berlari ke kamar untuk mengambil HP dan kunci kamar saya. Sesudah itu saya mengunci pintu kamar dan bergegas keluar. Di halaman kost saya terlihat dua mobil, satu Toyota Corola warna putih yang merupakan milik si Peter dan satu Suzuki Esteem milik si Herry (bukan tokoh utama). Saya melihat si mobilnya si Herry sudah berisi empat orang, jadi saya menuju mobilnya si Peter. "Wow... cakep nih.... kayaknya ini malam yang tidak terlupakan..." komentar si Andi yang duduk di samping Peter yang mengemudikan mobil ketika saya masuk. Perkataan tanpa ia sadari akan menjadi kenyataan.

Kemudian meluncurlah kedua mobil tersebut ke daerah Mangga Besar. Berdasarkan petunjuk Peter dan ramalan saya (hihi...) kami sepakat untuk pergi ke karaoke di hotel transit Mangga Besar (saya lupa Mangga Besar berapa, tetapi kalau dari Mangga Besar mengarah ke Gunung Sahari, belok ke sebelah kanan sekitar 50 meter). Dalam perjalanan kami bercanda apa saja, dari pacar baru Gunawan yang sangat montok, petualangan baru si Andi, sampai ke tamu Jepangnya si Peter yang bernafsu dengan wanita Indonesia.

Tanpa terasa sampailah kami di depan hotel tersebut. Terlihat keempat teman saya yang lainnya sudah menunggu. Setelah memarkir mobil, Peter memimpin kami ke dalam (soalnya dia sudah sering ke sini). kami berjalan melewati lobby hotel, terlihat beberapa cewek cantik yang berpakaian seronok.
"Wah... adik gua udah berontak nih..." kata saya yang dilanjuti dengan tertawa teman-teman saya. Memang saya terkenal dengan nafsu saya yang besar, prinsip saya ya mirip semboyannya lampu Philips Tegang Terus.

Di ujung lorong tersebut, Peter meminta kami menunggu, dia berbelok ke kanan untuk mencari manager karaoke untuk mem-booking kamar. Iseng-iseng saya berjalan ke lorong sebelah kiri. Di ruangan pertama terdapat cafetaria atau semacam restoran. Di dalamnya, amboi... banyak cewek cantik yang berpakaian seksi. Benar-benar cantik. Saya mulai menghitung satu, dua, tiga... setidaknya ada 13 cewek yang cakepnya selangit.
"Cakep ya?" tanya si Andi.
"Kalau loe mau disini juga ada cewek yang langsung bisa dipakai, harganya 250 ribu berikut kamarnya," seperti germo saja itu anak.
"Nggak mau ah..." jawab saya.
Saya memang tidak suka membayar untuk urusan bercinta, bukannya pelit tetapi saya tidak mau bercinta dengan sembarang perempuan. Harus perempuan yang saya cinta dan dianya juga harus cinta dengan saya. Dengan begitu pasti lebih nikmat kan? Asyiknya saya gampang sekali jatuh cinta (hahaha...).

"Ayo... teman-teman, ikut gua... gua udah booking kamar yang cukup untuk 20 orang," seru si Peter. Terpaksa deh saya mengalihkan perhatian saya dari belasan wanita di cafetaria tersebut. Seperti anak ayam, kami mengikuti Peter ke kamar karaoke. Ruangan karaoke tersebut cukup luas, terdapat sofa yang besar dan di dekat pintu masuk ruangan tersebut saya melihat ada toilet yang cukup bonafide. Asyik juga.
"silakan duduk," kata seorang tante dengan dandanannya yang menor.
Saya menebak ini pasti germonya yang biasa dipanggil Mami.
"Mau pesan berapa cewek?" tanya si Mami.
"Pesan..." pikir saya, seperti barang saja.
"Tolong panggilin 8 orang cewek dong!" jawab si Peter dengan bahasa yang lebih halus. Memang teman saya ini tutur bahasanya sangat sopan dan halus. Tetapi kami-kami ini semuanya terlihat sopan dan polos lho. Jarang ada cewek yang bisa menebak kalau kami-kami ini adalah cowok yang suka memuaskan wanita.
"Seperti biasa, cariin gua yang rada tomboi dan berambut pendek," lanjut si Peter, memang dia ini sukanya dengan perempuan yang rada tomboi.

Kemudian si Mami keluar dan dalam waktu singkat dia sudah kembali dengan membawa 6 orang perempuan. Dengan cepat mata saya menyapu mereka yang datang, cakep-cakep. Mereka masuk dan berkenalan dengan kami. Saya sih tidak memperhatikan nama mereka, yang penting saat itu adalah rok pendek tanpa stocking (hihi...). Teman-teman tahu dong maksud saya? Di ruangan gelap seperti karaoke ini mau apa sih cari yang cakep banget kalau dianya pakai baju yang tebal dan celana jeans. Dengan cepat otak dan mata saya bekerja. Kemudian saya melambaikan tangan saya ke seorang perempuan yang bernama Dian. Dia memakai rok super mini, kaos ketat tanpa lengan, dan tanpa stocking. Saya meminta dia duduk di sebelah saya. Akhirnya kelima teman saya sudah mendapatkan pasangan mereka, tinggal si Boy dan Gunawan yang masih terlihat ragu-ragu. Tetapi karena hanya 6 perempuan, terpaksa deh merekanya menunggu. Tetapi tidak lama kemudian si Mami sudah kembali lagi dengan dua orang perempuan. Satu seorang perempuan yang baru datang tersebut sangat menarik perhatian saya (saya sedikit menyesal sudah memilih Dian), namanya Bella. Postur tubuhnya kecil (sekitar 155 cm) dan agak montok. Namun ada yang misterius di tatapan matanya. Oh ya, saya paling suka memperhatikan mata seseorang, buat saya mata bisa menceritakan kondisi orang tersebut.

Kami bisa tahu orang tersebut lagi sedih, senang, terangsang, orgasme (hehe...), dan sebagainya. Tatapan si Bella ini begitu liar dan menantang. Akhirnya Gunawan memilih si Bella. Sementara itu saya terus menerus memperhatikan si Bella. Saya begitu penasaran. Setelah itu kami bernyanyi riuh rendah. Suara si Peter yang sangat bagus bercampur baur dengan suaranya Andi yang sumbang. Pokoknya ribut sekali. Sambil bernyanyi kami bercanda dan mengobrol ke sana ke mari. Dari situ saya tahu Dian berasal dari Bandung sementara wanita lain ada yang berasal dari Medan, Padang, Surabaya, Batam, dan sebagainya. Ternyata prinsip Bhineka Tunggal Ika berlaku juga di sini. Si Bella sendiri berasal dari Jakarta. Tetapi beda dengan yang lain, si Bella ini lebih pendiam. Karena Gunawan sendiri tidak begitu pintar bergaul, jadinya mereka hanya diam-diaman. Saya sendiri sudah bercanda kemana-mana dengan si Dian, kadang tersenggol buah dadanya yang montok, kadang saya meletakkan tangan saya di pahanya yang mulus.

Setelah hampir dua jam bernyanyi, saya melihat Bella berjalan keluar. Dengan alasan lapar, saya menyusul dia keluar. Terlihat Bella berjalan menuju lobby dan merokok di sofa yang terletak dekat pintu masuk.
"Hai... ngapain disini?" tanya saya.
Bella menatap tajam ke saya.
"Panas di dalam... mau cari udara seger," jawab dia. Setelah itu saya memancing dia dengan pertanyaan-pertanyaan seputar dia, tetapi jawaban dia hanya singkat-singkat saja, saya memutar otak.
"Boleh melihat telapak tangan loe?" tanya saya, akhirnya saya memutuskan untuk mengeluarkan ilmu ramalan saya.
"Mau ngapain?" tanya dia cuek.
"Mau melihat nasib loe..." jawab saya.
Bella memandang saya dengan ragu-ragu, kemudian dia menyodorkan tangan kanannya.
"Yang sebelah kiri..." kata saya.
Kemudian dia menjulurkan telapak tangan kirinya ke saya. Saya pegang tangannya. Hmmm... sangat halus. Kemudian saya memperhatikan garis-garis tangannya. Jujur saja, saat itu saya begitu kaget, garis tangan begitu amburadul yang menandakan kehidupan dia yang juga amburadul.

Saya memperhatikan garis cintanya, kemudian saya berkata,
"Kamu sangat susah mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, tetapi baru-baru kamu menemukan orang tersebut, sayang kalian harus berpisah..."
Saya menatap wajahnya, matanya yang besar terbelalak.
"Teruskan..." kata dia.
"Kalian berpisah karena persoalan yang sangat prinsipil, bisa masalah agama atau suku," lanjut saya.
"Gua nggak tahu pasti tetapi orang tua dia atau orang tua kamu tidak setuju dengan percintaan kalian..."
Sekarang tatapan matanya yang liar menjadi lembut, terlihat sendu dan sedih. Dia menghela nafas panjang.
"Orang tua dia nggak setuju..." jawab dia lemas.
"Terus?" tanya dia lagi.
Saya memperhatikan garis keluarga dia, hancur.
"Kamu sendiri tidak mempunyai keluarga yang harmonis, kamu sering berantem dan jarang berhubungan dengan keluarga kamu lagi. Bahkan kamu membenci mereka..."

Kali ini terlihat matanya berkaca-kaca. Wah, saya paling tidak bisa melihat perempuan menangis di hadapan saya. Saya sedikit menyesal. Akhirnya saya memutuskan untuk berbicara sesuatu yang menyenangkan.
"Tetapi kalau kamu nggak berputus asa, kamu akan menemukan lelaki kedua yang sangat mencintai kamu," kata saya.
Sebenarnya perkataan ini hanya untuk menghibur dia. Ternyata efeknya luar biasa, terlihat keriangan dan secercah harapan di sorot matanya.
"Terus...?" selanjutnya saya cuma asal bicara saja, saya bilang kalau dia berusaha dia akan sukses (tentu saja bukan?).

Setelah itu kami menjadi akrab, dia bicara banyak mengenai kondisi dia. Ternyata ramalan saya hampir seluruhnya benar. Kemudian timbul keisengan saya, saya meminta agar dia menunjukkan telapak tangannya lagi. Kemudian saya bilang, "Jangan marah ya, gua melihat kamunya udah nggak perawan... dan mempunyai banyak cowok..." Hehe... tentu saja, masa sih ada wanita malam yang masih perawan, hihi. Sebagai informasi, berdasarkan hasil survey saya dengan pertanyaan ini, hampir 80% perempuan (perempuan baik-baik yang belum kawin!) di Jakarta mengaku mereka tidak perawan lagi.
"Kok tahu sich?" jawab Bella dengan polos sambil melihat telapak tangannya sendiri.
Hehe... mana bisa sich tahu perawan nggak perawan dari telapak tangan, pikir saya. Buat rekan yang belum pengalaman, jangan coba-coba menanyakan persoalan tersebut ke perempuan yang baru anda kenal, ok? Biasanya saya memberikan ramalan yang jitu dulu baru bertanya hal tersebut, jadinya mereka sudah percaya dengan saya. Kalau datang-datang terus kalian tanya perawan atau tidak ya siap-siap digampar.

Setelah itu kami sepakat untuk masuk kembali ke ruangan karaoke. Singkat cerita, kami menyanyi atau teriak-teriak selama 5 jam, sesudah membayar (hampir 2.4 juta!) kami saling pamitan dengan perempuan masing-masing. Saya lihat teman-teman saya pada minta nomor telepon, saya sendiri tidak begitu tertarik dengan Dian. Setelah saya sudah mau berangkat ke UK, tetapi mata saya terus terpaku ke satu sosok... Bella! Sambil berjalan keluar saya mendekati Bella dan menawarkan jasa untuk mengantar dia. Pertama dia menolak. Oh ya, perempuan di karaoke ini biasanya high class dan tidak bisa langsung diajak tidur. Kecuali dia suka sekali atau bayarannya mahal sekali.
"Ayo dong, kasian loe-nya sendirian... Entar diculik lagi... ama kami-kami kan aman. Dijamin nggak diapa-apain dech..." bujuk saya.
"Itu yang gua takutin, nggak di apa-apain..." jawab Bella.
Eh, nantang nich.

Akhirnya dia setuju juga diantarkan oleh kami. Kami mempersilakan dia duduk di depan, di samping Peter yang menyetir mobil. Saya sendiri duduk di belakang, di tengah, jadi bisa agak maju ke depan untuk mengobrol dengan Bella. Di sebelah saya duduk Andi dan Gunawan. Sewaktu di mobil si Peter menanyakan alamat si Bella, tetapi anehnya dia tidak mau memberitahu kami.
"Muter-muter saja dech... gua malas pulang," jawab Bella.
Akhirnya si Peter cuma putar-putar di daerah Kota, tanpa tujuan. Waktu itu kami banyak mengobrol dan menurut Bella dia anak orang kaya yang tinggal di daerah Pondok Indah, dan dia ke karaoke cuma untuk bersenang-senang, bukan untuk duit. Dia itu freelance, dan kami percaya dengan dia, soalnya si Peter tidak pernah melihat dia sebelumnya (si Peter hampir setiap hari nongkrong di karaoke tersebut).

Saya sendiri sibuk berpikir, maunya apa sich ini anak? Akhirnya saya bertanya ke Bella,
"Gua ngantuk nich, cari hotel saja ya?" Jawabannya sangat mengagetkan,
"Siapa takut... tetapi saya nggak mau berdua... maunya loe semua ikut."
Saat itu yang timbul di benak saya adalah dia tidak mau bersenggama, jadi cuma tidur ramai-ramai. Akhirnya saya meminta Peter untuk mencarikan hotel, habis capai putar-putar terus. Setelah berdiskusi cukup lama, kami memutuskan untuk check in di motel yang berlokasi di Jalan Daan Mogot (saya lupa namanya). Tetapi saya tahu ada tiga motel di Daan Mogot, kami menuju ke motel yang berada di sebelah kiri (kalau mengarah ke perempatan Grogol). Motel ini sangat lux dan biayanya tidak mahal-mahal sekali. Saat itu harganya 98 ribu untuk enam jam. Tetapi masalahnya, motel hanya memperbolehkan dua orang di dalam kamar. Sekarang kami berlima, bagaimana ya? Akhirnya kami sepakat untuk check in secara sembunyi-sembunyi.

Tiba di motel tersebut, Peter membelokkan mobilnya ke dalam. Kami yang dibelakang harus membungkuk dan bersembunyi. Saya mengintip sedikit, terlihat pintu-pintu garasi yang tertutup, gila... penuh sekali. Akhirnya kami menemukan garasi yang kosong di ujung jalan masuk. Peter segera memasukkan mobilnya ke garasi, setelah itu menutup pintu garasinya dengan menekan satu tombol.

Saat itu saya sedikit was-was, bisa tidak ya kami-kami dijebak atau sebagainya. Tetapi pikir-pikir tidak mungkin juga, akhirnya sesudah pintu garasi ditutup kami berhamburan naik ke kamar yang berlokasi di atas garasi. Kamar motel ini termasuk lux dan bersih. Di dalam kamar terdapat satu kasur air berwarna hijau yang cukup besar. Di sebelah pintu masuk terdapat toilet dan shower. Uniknya shower ini tidak mempunyai pintu, hanya dindingnya berupa kaca jadi tentunya orang yang di dalam kamar bisa melihat orang yang lagi mandi. Saya berpikir, kalau roomboy-nya datang ketahuan tidak ya? Biasanya sekitar 15 menit kemudian room boy-nya akan datang untuk memungut bayaran.

Saya memperhatikan jam tangan saya, hampir jam 3 malam. Melihat kasur, langsung saja kami menjatuhkan diri ke sofa dan ke ranjang. Saya sendiri berbaring di samping Bella. Sekarang di ruangan yang terang benderang baru saya sadari kalau si Bella ini cakep sekali. Kulitnya putih mulus. Dadanya tidak terlihat besar namun terlihat sangat kenyal. Iseng-iseng saya mencoba memeluk dia. Dia tidak menolak. Saya mengarahkan ciuman saya ke pipinya, lagi-lagi dia cuma diam. Tetapi saya tidak berani melangkah lebih jauh, soalnya ada tiga teman saya di ruangan tersebut.

Peter terlihat sangat tertarik ke Bella, dia berbaring di sisi lain dari Bella. Sekarang Bella berbaring di antara saya dan Peter. Rok pendeknya tidak sanggup menyembunyikan celana dalamnya yang berwarna putih, kontras dengan roknya yang hitam. Saya melihat tangan Peter mengelus pahanya. Otak saya bekerja keras, bagaimana caranya bisa main ya? Sepertinya paling tidak meminta teman-teman saya menunggu di mobil, jadi kami bisa bergantian.
"Pet, Gun, dan Andi gimana kalau kalian menunggu di bawah?" tanya saya.
"Tentu kalau room boynya udah pergi," kata saya lagi.
"Nggak mau ah..." ternyata si Bella yang menjawab.
"Gua mau kalian semuanya berada di kamar ini!" kata Bella.
"Loe kuat emangnya...?" pancing si Andi.
"Emangnya loe sendiri kuat?" jawab si Bella menantang.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dengan buru-buru, saya, Gunawan dan Andi masuk ke toilet. Bella tetap berbaring di kasur dan Peter membukakan pintu. Dia sendiri sudah menyiapkan uangnya sebesar 140 ribu (kamar 98 ribu, kondom 30 ribu, dan sisanya buat tip). Roomboy-nya sendiri cukup tahu diri, dia hanya berdiri di luar kamar.
"Mas, tolong beliin kondom dong, satu bungkus!" terdengar suara si Peter.
"Isi tiga biji Mas?" roomboy-nya menjawab.
"Nggak, yang isi 12 biji dan mereknya harus Durex (hihi... gua di sponsor Durex nih)," jawab Peter.
Kami yang di kamar mandi hampir tertawa, kok sepertinya nafsu sekali ya! Ketika Peter sedang membayar, Bella berjalan ke kamar mandi.

Di kamar mandi yang berukuran 1.5 x 1.5 m ini sekarang penuh terisi 4 orang. Di hadapan kami yang terbegong-bengong, Bella menurunkan celana dalam putihnya secara perlahan hingga ke atas lututnya dan memamerkan bulu kemaluannya yang tipis. Kami cuma melongo melihat dia pipis di hadapan kami. Mau bersuara pada tidak berani soalnya roomboy-nya masih di depan pintu. Saya melihat muka si Gunawan mulai memerah. Bella sendiri terus tersenyum sambil memperhatikan muka kami yang pasti keliatan bloon. Ketika selesai, dia melepaskan celana dalamnya dan meletakkannya di kaitan di kamar mandi. Setelah itu dengan senyum memancing dia berjalan dan berbaring telungkup di kasur.

Ketika mendengar pintu kamar ditutup Peter, kami segera berhamburan mendekati Bella. Si Peter sendiri masih belum menyadari apa yang terjadi. Saya berdiri di belakang Bella dan pahanya sedikit terbuka, dari situ saya bisa melihat belahan kemaluannya yang berwarna merah. Terlihat bagus dan tanpa kerutan. Saat itu Andi sudah berbaring di sebelah Bella, terlihat dia meraba punggung dan pundak Bella yang masih tertutup kaos. Gunawan berdiri di samping, terlihat ragu-ragu untuk berbuat sesuatu. Peter dengan sigap membaca situasi, dengan cepat dia sudah berada di sisi lain dari Bella dan mulai membelai paha Bella yang mulus. Saya sendiri masih ragu-ragu, main ramai-ramai? Malu dong... Masa dilihat teman-teman saya? Saya pernah bermimpi untuk main ramai-ramai tetapi dengan beberapa perempuan dan laki-lakinya cuma saya. Tetapi sekarang kondisi yang saya hadapi begitu berbeda. Maju atau mundur ya?

Ketika itu Andi mulai membuka kaos Bella, terlihat Bella hanya pasrah saja. Dalam sekejap lepaslah kaos Bella dan terpampanglah tubuh mulus dia yang tidak bercacat sedikitpun. Peter yang berada di bagian bawah tidak mau kalah, terlihat dia menaikkan rok mini si Bella hingga ke atas pinggulnya. Tetapi Bella menutup pahanya dan saya hanya bisa melihat dua bongkah pantat yang mulus dan menantang.

Ketika pandangan saya beralih ke atas, terlihat Andi sudah berhasil melepas beha Bella. Karena si Bella membelakangi dan berbaring terlungkup, saya tidak bisa melihat buah dadanya. Kemudian saya berjalan menghampiri mereka. Terlihat Andi mencoba membalikkan tubuh si Bella. Ketika Bella membalikkan badannya, jantung saya hampir berhenti berdetak. Buah dadanya begitu indah. Tidak terlalu besar, sekitar 32B tetapi begitu kencang. Pentilnya terlihat begitu kecil dan berwarna coklat muda. Saya menelan ludah. Bella terlihat memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan yang ia rasakan. Saat itu pikiran normal saya sudah tidak jalan. Dengan mantap saya berjalan menuju ranjang.

Peter rupanya sangat tertarik juga pada buah dada Bella, dia meninggalkan paha dan pinggul Bella dan meneruskan remasan tangannya ke buah dada Bella. Andi sendiri sudah mencium buah dada lainnya. Saya bergerak ke daerah paha dan kemaluan Bella yang masih tertutup oleh roknya. Saya meletakkan tangan saya di pahanya, terasa sangat mulus dan hangat. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu, tok... tok... tok... kami seakan dibangunkan dari mimpi indah. Dengan cepat saya, Gunawan, dan Andi bersembunyi di kamar mandi. Saat itu saya kepingin tertawa, tetapi karena takut ketahuan saya memaksakan diri untuk diam. Dari dalam kamar mandi saya melihat Bella meraih handuk yang terletak di kasur dan menutupi bagian dadanya. Terlihat dia membereskan roknya juga.

Rupanya yang datang adalah roomboy untuk mengantarkan kondom pesanan Peter. Selang beberapa waktu terdengar Peter menutup pintu. Segera kami yang di kamar mandi berhamburan keluar. Saya, Peter, dan Andi berjalan ke arah Bella dan kami melanjutkan belaian dan ciuman kami. Saya berusaha membuka ritsluiting rok mininya sedangkan Andi dan Peter berjuang membuka handuk yang dililitkan di dadanya. "Udah ah..." tiba-tiba Bella bersuara. Saya sedikit kaget karena ada nada marah di suaranya. Rupanya kehadiran roomboy menyadarkan dia. Tetapi saat itu kami sudah terangsang dan melanjutkan remasan, belaian, dan ciuman kami. Bella meronta dan berkata, "Udah... gua bilang... udah!" kami menghentikan segala tindakan kami dan saya berjalan menghampiri Bella.
"Kenapa yang? Kenapa marah?" tanya saya.
Dia cuma cemberut.
"Kenapa sich? kalau loe nggak mau ya nggak papa..." bujuk saya.
Dia berdiam diri. Kemudian saya berbisik di telinganya,
"Kenapa sich?"
Tiba-tiba Bella menjawab,
"Kaliannya egois!" kami terdiam semuanya, kenapa ya dibilang egois?
"Gua udah hampir telanjang dan kalian masih berpakaian lengkap. Ayo buka pakaian kalian semuanya!" perintah dia.
Hahahaha... Rupanya karena itu toh.

Mendengar permintaan Bella, dalam hitungan detik Peter dan Andi segera mencopot pakaiannya sehingga hanya mengenakan celana dalam. Saya berpandang-pandangan dengan Gunawan. Gila! pikir saya, ini sungguhan! Saya seakan-akan sedang bermimpi. Tetapi saya tidak berpikir lama karena Peter dan Andi sudah naik ke kasur. Terlihat tonjolan di celana dalam mereka. "Loe mau nggak, Gun?" tanya saya ke Gunawan. Karena takut Peter dan Andi melangkah lebih jauh segera saja saya mencopot pakaian saya hingga hanya mengenakan celana dalam. Gunawan juga melakukan hal sama. Sekarang di kamar tersebut terdapat lima insan manusia yang hanya mengenakan celana dalam (hihi...).

Kemudian saya naik ke ranjang. Si Bella sekarang berbaring telentang. Peter dan Andi sedang menikmati buah dada Bella, Peter yang sebelah kanan dan Andi yang sebelah kiri. Bella sendiri hanya menutup matanya, tetapi terlihat rona kemerahan di mukanya. Rupanya dia sudah terangsang sekali. Saya berusaha membuka ritsluiting rok Bella, cukup lama saya berjuang. Akhirnya saya berhasil juga. Kemudian saya menarik rok tersebut ke bawah. Karena celana dalamnya sudah ditinggal di dalam kamar mandi, tatapan saya langsung tertuju ke bulu kemaluannya yang jarang dan halus. Tangan saya mengelus pahanya dan naik ke arah kemaluannya. Bulunya terasa halus (saya baru tahu keesokkan harinya bahwa si Bella berumur 18 tahun!).

Tiba-tiba terasa tangan lain di paha Bella, rupanya tangan si Gunawan. Tangannya terasa sangat dingin, hihi... masih perjaka sih. Kemudian si Gunawan menurunkan mulutnya untuk mencium paha kiri Bella, ciuman tersebut dilanjutkan ke arah kemaluannya. Gila juga saya pikir, anak ini benar perjaka tidak sih? Ciuman Gunawan sekarang berlanjut ke kemaluan Bella. Benar loh kemaluan Bella masih terlihat sempit dan berwarna kemerah-merahan. Saya merasakan nafsu saya semakin menggelegak. Sementara itu si Bella mulai merintih dan mendesis. Sepertinya dia sangat menikmati permainan kami. Bayangkan saja empat puluh buah jari, delapan tangan, dan empat lidah, wanita mana yang tahan?

Tiba-tiba Gunawan menengadahkan kepalanya dan berbisik ke saya.
"Bau, Gus...." katanya dengan mimik yang begitu polos.
Hampir saja meledak ketawa saya mendengar komentar dia. Untung saja saya masih bisa menahannya.
"Ya memang begini baunya..." jawab saya.
Padahal saya sendiri belum mencoba.
"Tetapi punya pacar gua nggak begini..." jawab si Gunawan, sekarang ketahuan kalau dianya pernah melakukan hal tersebut dengan pacarnya.
"Udah, sikat saja... kalau nggak mau... gua mau nich," kata saya menggertak.
Tetapi jujur saja sebenarnya saya tidak begitu bernafsu melakukan ismek (tahukan kepanjangannya?) dihadapan teman-teman saya.

Di saat kami lengah karena mengobrol, kepala Andi ternyata sudah sampai di kemaluannya Bella. Memang teman saya ini terkenal dengan jilatan sejuta kenikmatannya. Terlihat dia menjulurkan lidahnya di klitoris Bella. Dalam hitungan detik terdengar teriakan Bella yang semakin histeris. Saya kemudian berpindah tempat dan sekarang saya meraih buah dada kiri si Bella dan saya remas perlahan. Remasan jari saya berlanjut ke puting susunya yang masih basah oleh ludah Andi. Karena itu, saya memutuskan untuk tidak melakukan jilatan dan hisapan. Saya memperhatikan muka si Bella yang sudah merah padam, dia tetap memejamkan matanya. Kemudian Bella membuka matanya dan mendorong saya dan Peter.
"Sekarang saya pengen main... ayo satu per-satu!" terdengar suara Bella di sela-sela rintihannya.
Kami bengong dan saling melirik. Akhirnya Peter menawarkan diri menjadi yang pertama tetapi dengan segera ditolak kami soalnya dia ini bisa main 2 jam tanpa orgasme. Dia bisa mengatur waktu ejakulasi. Kasihan dong kami-kaminya kalau harus menunggu selama itu, telanjur terkilir batang kemaluan kami barangkali.

Saya menganjurkan agar Peter mendapat giliran terakhir dan saya yang pertama, kemudian disusul Gunawan dan Andi.
"Nggaakk maauu!" jawab Gunawan terlihat ketakutan.
"Saya yang terakhir saja..."
Karena tidak ada komentar dari Andi dan Peter, saya langsung berjalan ke meja dan membuka bungkusan kondom yang baru dibeli. Ketika berjalan ke ranjang, saya meminta teman-teman saya untuk tidak melihat ketika saya main soalnya saya merasa nggak bakalan bisa main kalau diperhatikan. Mereka setuju (memang teman saya sangat pengertian). Mereka kemudian membalikkan sofa yang menghadap ke ranjang ke arah lainnya dan duduk di sana.
"Ayooo! Cepetan..." pinta si Bella.
Bella sendiri sudah membuka pahanya lebar-lebar. Tanpa pikir panjang lagi saya meloloskan celana dalam saya dan memakai kondom tersebut. Melihat tubuh mulus si Bella, nafsu saya sudah sampai di ubun-ubun. Apalagi saat itu dia meremas-remas buah dadanya sendiri.

Saya naik ke kasur air tersebut dan mengarahkan batang kemaluan saya di kemaluannya Bella yang belahannya terlihat begitu rapi dan tanpa kerutan. Saya mencium keningnya dan perlahan-lahan saya mulai memasukkan batang kemaluan saya. Bella menutup matanya dan mendesah. Saya sendiri merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluan saya menyusuri lubang kemaluan Bella. Terasa begitu sempit dan jepitan otot selangkangannya begitu enak. Kemudian saya mulai menggerakan pinggul saya, turun naik secara perlahan sambil menikmati setiap kenikmatan yang ada. Karena kasur tersebut adalah kasur air, pertama-tama cukup sulit bagi saya untuk mengontrol gerakan saya. Tetapi lama-lama saya bisa memanfaatkan goyangan kasur tersebut untuk memperkuat hujaman senjata saya.

Bella melingkarkan tangannya di leher saya. Gerakan saya semakin lama semakin cepat sambil sekali-kali saya menghujamkan kemaluan saya sedalam-dalamnya. Tangan saya bergerak meremas buah dadanya dan gerakan saya semakin cepat apalagi saat itu Bella ikut menggerakkan pinggulnya. Tiba-tiba saya mendengar nafas Bella yang semakin cepat, teriakannnya semakin keras.
"Ah... ahhh... ahhh... terus Gus! saya mau... aaahhh..." teriak si Bella. Rupanya dia sudah mencapai puncak kenikmatannya. Terasa tubuhnya mengejang dan terasa cengkraman kukunya di pundak saya, sakit tetapi tidak saya pikirkan (habis lagi enak... hihi...) Saya menghentikan gerakan pinggul saya dan mencium pipinya.

Kira-kira dua menit kemudian, saya melanjutkan hujaman batang kemaluan saya. Dimulai dari perlahan dan makin cepat. Dua menit kemudian Bella sudah kembali terangsang. Dia menggerak-gerakkan pinggulnya, saya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tiba-tiba saya merasakan cairan sperma saya sudah mendesak keluar.
"Gua datang... Bell..." kata saya sambil menghujam batang kemaluan saya sekuatnya, nikmatnya.
Ketika saya mencabut batang kemaluan saya, eh ternyata si Andi sudah berdiri di samping saya lengkap dengan kondomnya. Sialan, cepat sekali nih anak, pikir saya.
"Cepetan dong... Gantiannn... cepetan...!" terdengar rintihan si Bella.
Saya seperti serdadu kalah perang memakai kembali celana dalam saya dan berjalan ke toilet untuk membuang kondom. Setelah itu saya berjalan ke arah sofa. Terasa lemas di seluruh sendi-sendi saya.
"Gimana... Enak nggak?" tanya Peter dan Gunawan sambil berbisik.
"Asyik banget... loe coba saja sendiri..." jawab saya.

Setelah itu saya berpakaian (karena kedinginan) dan hampir tertidur di sofa. Tidak berapa lama kemudian terdengar teriakan histeris Bella.
"Ahhh... uhhh... Saya daataaanggg!"
Saya membuka mata saya dan saya melihat Peter dan Gunawan sedang tertawa terkekeh-kekeh dan mengintip ke arah ranjang. Karena penasaran saya ikutan mengintip. Terlihat kepala Andi di antara kedua paha Bella dan sambil kedua tangannya meremas payudara Bella. Bella sendiri sedang menjambak rambutnya Andi. Rupanya Bella mencapai orgasme karena hisapan dan jilatan Andi. Luar biasa, memang julukannya bukan hisapan jempol belaka. Perlu saya informasikan bahwa lidah si Andi sangat panjang (mirip hantu) dan bisa menyentuh ujung dagunya. Jadi buat wanita yang suka dioral, carilah laki-laki berlidah panjang, hihihi.

Setelah itu terlihat Andi bangkit dan memcoba memasukkan batang kemaluannya yang panjang kurus tersebut ke kemaluan Bella. Melihat kejadian tersebut, batang kemaluan saya kembali tegang. Memang saya ini sanggup main berkali-kali dan permainan selanjutnya daya tahan saya akan semakin baik. Inilah keistimewaan saya! Terlihat Andi mulai menggerakkan pinggulnya dan mulai memompa. Tetapi hanya sekitar 1 menit, terlihat badan dia mengejang, hihihi ternyata dia sudah orgasme. Melihat hal tersebut, secepat kilat Peter menyambar kondom yang terletak di meja dan mencopot celana dalamnya.
"Ayo... cepetan...!" seru si Peter kepada Andi.
Dia tidak memberikan waktu bernafas buat Andi.
"Ayo... yang lain... cepetannn!" si Bella ikut berseru.
"Gila nih cewek, hiper..." demikian pikir saya.
Karena capai, saya akhirnya tertidur dengan senjata yang masih tegang, hihihi.

Antara sadar dan tidak sadar saya mendengar beberapa kali teriakan Bella. Saya akhirnya terbangun ketika Peter ikutan berteriak, rupanya mereka orgasme pada saat bersamaan. Saya memperhatikan jam tangan saya, pukul 06.30, karena tidak percaya, saya mengucek-ngucek mata saya... gila si Peter bermain selama satu jam. Sekali lagi ternyata julukan teman-teman saya benar adanya. Dan saya tahu dari Andi kalau si Bella orgasme empat kali ketika bermain bersama Peter. Menakjubkan!

Dengan langkah tertatih-tatih Peter berjalan ke arah sofa. Saya melirik ke arah ranjang, terlihat Bella berbaring telentang dengan paha terbuka lebar. Matanya hampir tertutup, dia terlihat lemas.
"Yang lainnya... mana?" tanya Bella dengan suara lemas.
Gila benar. Saya memandang ke Gunawan.
"Giliran loe sekarang..." Dia terlihat ragu-ragu.
"Ehhh..." terlihat dia sedang berjuang antara mempertahankan keperjakaannya atau tidak.
Mungkin juga dia merasa malu.
"Ayo..." desak saya.
"Ah...! Nggak mau..." akhirnya Gunawan memutuskan.

Saya menghargai pendirian dia, lagi pula saat itu saya sudah terangsang kembali melihat tubuh mulusnya Bella. Saya membuka pakaian saya, memakai kondom dan berjalan ke ranjang. Bella membuka matanya sedikit.
"Ayo dong... mau lagi..." pinta dia dengan suara lemas.
Saya membalikkan tubuhnya sehingga sekarang Bella berbaring menghadap ke samping. Belahan kemaluannya terlihat basah dan sangat merah. Badan Bella sendiri sudah basah oleh keringatnya. Saya menyambar handuk dan melap badannya, Bella tersenyum. "Ayo... cepetan...!" tetapi suaranya terdengar lemas. Dari belakang (dengan posisi berbaring miring) saya mengarahkan batang kemaluan saya dan memasukkannya secara perlahan. Dalam posisi seperti ini terasa lubang kemaluannya menjadi semakin sempit. Ketika batang kemaluan saya baru masuk setengahnya saya menggunakan tangan saya untuk memutarnya, "Aah..." Bella merintih perlahan. Kemudian saya melanjutkan dorongan kemaluan saya.
"Blesssss...!"
Akhirnya masuk juga seluruh batang kemaluan saya di lubang kemaluannya. Bella menjerit tertahan. "Aughhh..." Tetapi saya tidak langsung memulai goyangan pinggul saya, melainkan saya menggerakkan tangan saya melingkari pundaknya dan meremas buah dadanya. Sangat kencang dan pentilnya terasa keras.

Karena remasan saya, Bella mulai menggerakkan pinggulnya dengan tenaga terakhirnya. Terasa begitu nikmat dan akhirnya saya juga mulai mengeluarkan dan memasukkan batang kemaluan saya masuk dan keluar dengan cepat dan bertenaga. Cukup lama saya melakukan hal tersebut sampai terasa pinggul Bella bergerak semakin cepat. Semakin cepat, saya sendiri memperdalam dan memperkuat hujaman senjata saya. "Ahhh... lebihhh cepat... ahhh..." tubuhnya mengejang dan menggelepar, dia sudah orgasme. Saya sendiri masih belum apa-apa. Memang untuk kedua kali saya tahan lebih, apalagi ketiga dan keempat kali dan ini terbalik dengan perempuan yang semakin lama waktu orgasmenya semakin cepat, betul kan?

Saya kemudian membalikkan badannya dan sekarang Bella berbaring telentang. Saya membuka pahanya. Perlahan saya menggosok-gosokkan kepala batang kemaluan saya di bibir kemaluan Bella. Cukup lama saya melakukan hal tersebut sambil memberi kesempatan kepada Bella untuk menikmati orgasmenya. Setelah itu saya kembali memasukkan batang kemaluan saya dan langsung memompa. Bella sendiri sudah lemas dan tidak bertenaga, tetapi masih terdengar desahan dan rintihannya. Mungkin karena kemaluannya yang sudah basah kuyub, terdengar suara lain yang begitu menggairahkan, "Plok... plok... plok..." Hanya dalam selang 10 menit, dia kembali menggerakkan pinggul yang menandakan dia menikmati dan akan mencapai puncak kenikmatan.
"Ah... Ahhh... saya datanggg lagiii..." Bella berseru.
Heran juga saya kok dia masih mempunyai tenaga ya? Tubuhnya mengejang untuk kedelapan kalinya malam itu. Tetapi raut mukanya begitu bahagia dan cakep. Oh ya, coba para pembaca perhatikan, wanita itu paling cakep kalau habis orgasme dan paling jelek kalau tidak terpuaskan, hihihi... bener kan?

Setelah itu saya tidak mengeluarkan batang kemaluan saya dan membiarkannya di dalam kemaluan Bella. Karena sudah bernafsu saya melanjutkan goyangan pinggul saya. Tetapi kali ini saya yang harus menyerah. Dengan kekuatan penuh saya memasukkan batang kemaluan saya dan tubuh saya mengejang. Nikmatnya tiada tara. Saya langsung berbaring di atas tubuh mulus Bella. Bella sendiri sudah tidak mempunyai kekuatan, dia hanya terdiam dan memejamkan matanya. Dia tidak meminta tambah lagi. Hihi... sudah cukup barangkali. Akhirnya saya tertidur di dalam pelukan dia.

Sinar matahari yang silau membangunkan saya keesokan harinya. Bella masih tertidur dengan tubuh polos. Darah saya mendesir dan senjata saya bangun kembali. Tetapi karena capai saya tidak begitu bernafsu lagi. Saya melihat Peter juga sudah bangun. Saya melirik jam tangan saya, wah hampir jam 9.00 (kami harus check out jam 9.00 pas), buru-buru saya membangunkan Bella, Andi dan Gunawan.

Setelah itu kami mengantarkan Bella pulang ke rumahnya yang terletak di Pondok Indah (sekitar 500 m dari Bank Bali). Di perjalanan dia bercerita bahwa papanya ternyata orang Korea dan sering memukul mamanya. Mamanya sendiri jarang berada di rumah. Sewaktu kecil dia pernah memergoki papanya sedang berpesta seks dengan tiga orang wanita, sungguh menyedihkan.

Sewaktu saya berada di Inggis, saya beberapa kali mencoba menelepon Bella dan pernah beberapa kali mengobrol dengan dia. Dia mengaku bahwa dia membutuhkan sedikitnya 5 kali orgasme setiap kali berhubungan badan. Itulah sebabnya tidak suka bermain hanya dengan satu cowok. Sekitar 3 bulan kemudian pembantu dia memberitahukan saya bahwa Bella sudah berangkat ke Korea untuk menemani kakaknya yang sudah lebih dari 5 tahun berada di sana.

Saya sendiri tidak mempunyai keinginan untuk mengulangi pengalaman di atas, bagaimanapun juga saya tidak bisa menikmatinya secara utuh. Tetapi saat nafsu menjadi raja, apapun bisa terjadi bukan? Pembaca sekalian yang budiman, jangan lupa memberikan komentar, tanggapan, pertanyaan, kenalan, atau apa saja.

Cerita Panas Sepupuku Part II  

1 komentar

Sejenak kuseka air maniku yang sempat mengenai dagu mbak Arie.
Malam itu aku tidur dikamar mbak Arie, kudekap dengan perasaan sayang,
walaupun nafsuku sangat menggelegak untuk berbuat lebih jauh, namun
cepat-cepat kutepis saat kutatap wajah lugunya yang tertidur pulas di
pangkal lenganku. Kuciumi wajahnya, kuremas-remas bokongnya yang masih
telanjang, ingin rasanya kuciumi memeknya yang mulus tanpa rambut satu
helaipun, namun sekali lagi, aku tidak ingin mengganggu tidurnya yang
pulas.

Aku berusaha untuk selalu terjaga, karena aku harus segera kembali
kekamarku sesegera mungkin. Aku takut, apabila Bude tiba-tiba saja
datang membangunkan mbak Arie.

Jam tiga dini hari aku kembali kekamarku, setelah berusaha mengembalikan
celana dalam mbak Arie ketempatnya, namun ia tetap saja tertidur ataupun
. . . tidur-tiduran, aku tidak tahu. Kucium lembut bibirnya dan
kutinggalkan kamarnya.

Aku bergegas mengepak pakaianku, karena pagi itu aku mendapat
interlokal dari kota Malang untuk segera mengurus acara wisudaku. Cukup
berat aku meninggalkan kota ini, terlebih pengalaman semalam yang
membuatku ingin berlama-lama tinggal.

Bude melarangku pulang sebelum mbak Arie pulang sekolah. Aku berusaha
juga untuk tidak mengecewakannya, terlebih karena peristiwa semalam.
Sebentar kemudian mbak Arie pulang, akupun menyambutnya dan kemudian
dengan kuusahakan tenang dan teratur, aku berpamitan kepadanya.
"Nggak boleeeh . . . . . .!!!" dia berteriak panjang dan berlari menuju
kamarnya. Cukup keras dia menutup pintu kamarnya dan terdengar langsung
dikunci dari dalam. Aku tertegun tak bisa berbuat apa-apa, hanya bude
kemudian berusaha menenangkan sambil menceritakan kenapa aku harus
bergegas pulang hari itu dari luar pintu. Namun kelihatannya usaha
beliau tidak mendatangkan hasil, bahkan tidak ada tanda-tanda mau
membuka kembali pintu kamarnya.
Aku berusaha untuk menenangkan kali ini.
"Mbak . . . ini aku dik Bandi, nanti aku janji deh . . . kalau urusan
kampus udah selesai, kembali kesini lagi, janji deh mbak . . . "
kutunggu reaksinya . . . , namun tidak terdengar suara apapun dari dalam
kamar. "Mbak . . . kalau mbak Arie nggak bukain pintu, aku langsung pula
lho, soalnya nanti kehabisan bis yang ke Malang", kali ini kata-kataku
berhasil, terdengar suara kunci membuka pintu kamar, dan begitu pintu
terbuka, tanganku disambarnya dan ditarik masuk kedalam kamar, saat itu
bude tersenyum dan meninggalkan kami. Dia langsung memelukku sambil
terdengar isak tangisnya. Kukecup keningnya, kudekap erat tubuhnya.
"Mbak aku janji, nanti aku telepon kalau nanti sampai di Malang, dan aku
janji lagi, kalau urusan selesai, kesini lagi . . . yaa", bisikku sambil
meyakinkan. Kulonggarkan dekapanku, ia kelihatannya sudah lebih tenang,
kukecup keningnya sekali lagi, dan terakhir kucium bibirnya dengan
lembut.

Semenjak hari itu, dan selama hampir sembilan tahun !, kami berpisah.
Disini aku tidak bermaksud mengingkari janjiku, namun setelah hari
wisudaku, ada sebuah kontraktor asing yang sedang mengerjakan mega
proyek memanggilku untuk segera bergabung. Pertimbangan kesempatan, yang
membuatku untuk tidak menyia-nyiakan peluang ini. Sampai kemudian aku
terlarut dengan kesibukan profesiku.
Tiga tahun setelah itu, aku menikah dengan teman seprofesi, setelah
menikmati masa pacaran yang benar-benar bersih selama dua tahun. Akupun
tidak lupa waktu itu untuk mengundang mbak Arie. Menurut buku tamu ia
hadir, namun sama sekali aku tidak melihatnya. Sebentuk kado berisi
bingkai foto perak yang cantik, dengan tanda tangan dibelakangnya :
Arie.

Bunyi peluit teko air, menyadarkanku dari kenangan yang manis tersebut.
"Mbak . . . aku rebusin air untuk mbak Arie mandi, ayo sekarang mandi
dulu, biar seger". Ia tersenyum mengangguk. Aku berusaha sebaik mungkin
untuk melayani dia supaya tinggal nyaman untuk sementara di rumahku.
"Ngomong-ngomong, mbak Arie kok tahu nomer teleponku ?" tanyaku sambil
menuang air panas ke bath tub. "Iya, aku nanya dulu ke tante Palupi
(ibuku), soalnya dari sini khan deket ke Airport". Rumahku memang deket
sekali dengan airport, tempat transit dia untuk menuju ke Bali, karena
dari kota asalnya tidak ada flight langsung ke Denpasar.
Semakin cantik kulihat dia sehabis mandi, bath robe pink membalut tubuh
yang putih itu semakin kelihatan bersih. Dia kelihatan sedikit berisi,
terlihat dadanya yang sedikit montok namun tidak terlalu besar. Aku
berencana mengajak makan malam keluar, karena semenjak istriku keluar
kota aku jadi "anwar" (anak warung).
Kutunggu mbak Arie di corolla DX-ku yang butut. T-shirt ungu dengan
leher berbentuk "V" membuat belahan dadanya semakin nyata.
"Dik . . . aku pengen jalan-jalan aja, soalnya tadi aku udah makan di
bis", katanya sambil menutup pintu mobil. Akupun menyetujui
permintaannya. Kukebut DX-ku ke bioskop terbaik di kotaku, kugandeng
tangannya yang halus, namun ia sempat berbisik "Dik , nanti kalau
ketahuan temennya di Yanti gimana?"
"Lho, mbak Arie khan kakakku, cuek ajalah mbak, ntar aku yang tanggung
jawab" jawabku sekenanya, sambil kurengkuh pundaknya untuk meyakinkan
kesungguhanku. Kami kebagian film Armagedon di jam itu, yang sebetulnya
aku pernah lihat di VCD. Tidak terlalu banyak penonton malam itu, bahkan
bisa dihitung dengan jari, kamipun bebas memilih tempat duduk, kubiarkan
mbak Arie memilih tempat yang disukainya, nomor dua dari belakang dan
paling pinggir. "Ah, kenapa kok tidak paling belakang" protesku dalam
hati, namun tidak apa, dibelakang pun tak seorang pun duduk. Dua puluh
menit layar armagedon tengah berputar, kulihat mbak Arie tak bergerak
sedikitpun. Kuremas jemari kirinya, tapi tidak ada respon yang hangat.
Kutatap wajahnya lekat-lekat, aah kasihan . . . mbak Arie tertidur, aku
mengerti, perjalanan yang panjang membuatnya berat untuk menikmati film
itu. Kukecup keningnya dan kurengkuh kepalanya dan kubiarkan ia tidur di
pangkal lenganku. Akupun tak bisa menahan hasrat untuk menciumi
wajahnya.
"Mbak , kita pulang duluan yok" akupun membantunya berdiri dari tempat
duduknya, kutuntun dia, karena kelihatan mbak Arie sudah tidak mampu
membawa badannya. Kubiarkan ia teridur dalam perjalanan menuju kerumah.
Sengaja aku tidak membangunkannya sesampainya dirumah. Kubuka pintu di
garasi yang menghubungkan dengan ruang tengah. Terbayang di kepalaku
untuk mengulang kenanganku yang lalu, kubopong dia untuk kupindah ke
kamar tidurnya. Namun kali ini rupanya ia sempat terjaga dan
melingkarkan tangannya ke leherku. Kubaringkan dia diranjang, aku
meneruskan dengan pijitan-pijitan ringan di kakinya. Dari mata kaki
sampai ke betisnya yang indah, aku berusaha untuk membuatnya nyaman ,
dan kelihatannya memang demikian. Tanganku semakin naik untuk membuatnya
nyaman. Kupijit ringan pahanya yang mulus dan nyaris tanpa noda yang
mengganggu. Kuangkat paha kirinya, untuk sekedar mengusap sisi bawahnya,
tersingkap rok mininya keatas, terlihat CD wacoal kremnya yang rupanya
agak transparan, sehingga aku dapat dengan jelas isi didalamnya .
Kontolku tak terasa sudah mulai meradang di balik levi's-ku yang ketat.
Kuusap memeknya yang masih terbungkus CD. Akupun tak bisa menahan hasrat
untuk mengulang kenangan yang indah itu. Kulihat wajah mbak Arie yang
sebentar-sebentar menelan ludah, ini seperti sinyal bagiku untuk
melanjutkan rangsanganku. Kuturunkan celana dalamnya, sekali lagi . . .
kali ini aku tidak bisa lagi menyembunyikan rasa heranku, memek itu . .
. entah mengapa aku jadi terangsang hebat melihatnya seperti dulu.
Tanpa satupun bulu !!! montok dan . . . aaaah aku sulit untuk melukiskan
disini. Aku sapukan bibirku lembut diatas belahan memeknya Kulanjutkan
dengan menciumnya habis. Kelentit-nya yang terangsang, seperti nya
tidak kuasa lagi bersembunyi di lipatan memeknya, tersembul keluar dan
aku langsung menghisapnya penuh nafsu.
" Aaah dik . . . oohh . . . eeeehhmmmmfffff" mulutnya mulai meracau.
Kadang aku gigit ringan bibir memeknya karena gemas. Lidahku bergerak
liar menggelitik lobang memeknya, kuhisap kuusap cairannya yang
membanjir keluar. " Terus dik, teerrrrruuuussssss . . . . . aaaahhhhhhh"
pinggulnya bergetar hebat, mbak Arie sudah pada klimaksnya yang pertama.
"Dik . . . buka punyamu dik". Akupun mulai melepas risleting levi'sku.
Kuloloskan semua celana dan CD yang menghalangi kontolku tegak, rasa
berdenyut-denyut di helm kontolku semakin menyiksa, namun aku belum
berani melanjutkan lebih jauh. Sementara kulihat mbak Arie melepas
t-shirt dan beha. Aku tak tahan segera menghisap putingnya yang
tenggelam di bundar payudaranya, mbak Arie membusungkan dadanya untuk
memudahkanku berbuat semaksimal mungkin. Secara tidak sengaja ujung
kontolku bergesekkan dengan pahanya, membuatku semakin gila menghisap
payudaranya. Mbak Arie hanya bisa menggigit ujung guling dengan mata
yang terpejam rapat-rapat merasakan serangan-seranganku.
"Dik maassssukkan dik . . . punyamu dik" sambil memegang kepalaku dengan
kedua tangannya . . . meminta. Entah . . . hatiku terharu mendengarnya,
sambil kudekap aku membisikkan sesuatu ditelinyanya. "Mbak Arie . .
.tahu akibatnya kalau ini terjadi"
"Dik, sebenarnya aku ingin yang dulu tidak terhenti, kali ini biarkan
ini terjadi. Aku ingin rasa kangenku kamu isi". Sekali lagi, mbak Arie
aku dekap, dengan perasaan yang bercampur baur menjadi satu, antara rasa
bersalah, haru dan . . . sayang. Aku tidak ingin membuat peristiwa ini
sebagai bencana terhadap dirinya, namun dilain pihak aku juga tak ingin
mengecewakannya. Kucium bibirnya, kali ini tidak saja nafsu yang
menyelimuti perasaanku, tetapi juga sayang serta penebusan rasa
bersalahku. Mbak Arie menyambut dengan hangat bibirku, kali ini
kurasakan lain lumatan bibirnya. Dibuka perlahan-lahan kakinya, akupun
menyambutnya dengan perlahan-lahan mengarahkan kontolku kelubang
rahimnya. Namun aku merasakan, setiap usahaku untuk menekan masuk ke
lobang itu selalu gagal. Sangat rapat dan kenyal sekali bibir memeknya,
selain itu juga, mbak Arie masih perawan!. Aku melepaskan dekapanku,
kuubah posisi mbak Arie melintang, dengan pinggul dibibir ranjang.
Kuangkat tinggi-tinggi kakinya, kujilati sekali lagi memeknya agar lebih
licin untuk kumasuki. Kubuka lebar-lebar bibir memeknya dengan jari-jari
kiriku. Woow . . . sejenak aku merasa tertegun dan ragu, akankah
kejantananku bisa masuk keliang yang menurutku sangat kecil tersebut
Kupegang kontolku dengan tangan kananku. Dengan hati-hati perlahan-lahan
ujung kontolku ku masukkan menerobos selaput keperawanannya. " Dik,
aaahhhhhh . . .terus, teerrrrrrusss aahhhhh !!". Aku sudah tidak bisa
melihat, apakah dia merasa kesakitan ataukah merasakan kenikmatan yang
lain. Kulihat bibir kanan memeknya mengeluarkan darah, padahal baru
separuh panjang kontolku menghujam lubang rahimnya. Kulihat mbak Arie
tidak sabar untuk segera menelan bulat-bulat kontolku, ia mengayun
bokongnya dan . . . blesss, habis sudah panjang kontolku masuk ke
memeknya. Aku sengaja menahannya didalam, dan sedikit berusaha
menggoyang-goyangkannya aku juga ingin dia merasakan kontolku mengisi
ruang-ruang diliang vaginanya. Helm kontolku terasa berdenyut-denyut
nikmat, merasakan hangat yang sangat rapat menggigit. Kuciumi belakang
telinganya, kulumat bibirnya. Kali ini mulai kuayun kontolku
perlahan-lahan . . . aku sudah tidak lagi merasakan, ganas kukunya
mencengkeram punggungku, kutambah irama ayunanku. Mbak Arie hanya bisa
menggelepar-gelepar laksana ikan mencari air. Kakinya mencekeram
pinggangku, seakan tidak mau kontolku meninggalkan memeknya. Kuayun
semakin cepat, rapat-nya lubang memeknya membuat aku kesetanan
menghujamnya berkali-kali, mbak Arie sudah tidak bisa lagi menguasai
gerakan tubuhnya. Akupun teringat, betapa keras dia menendang pundakku
dulu. Mulutnya hanya mengeluarkan desisan-desisan tak beraturan.
Akhirnya aku sudah tak tahan untuk lebih lama menahan spermaku keluar.
Kucabut kontolku, aku ingin menumpahkan diluar. Tetapi cengkeraman
kakinya membuatku kesulitan membebaskan kontolku. " Ssssshhhhh mbak . .
. aku mau keluar !" . Direngkuhnya leherku, dengan terbata-bata dia
membisikkan. "Dik, keluarkan di tempikku , keluarkan semuanya ". Akupun
sudah tak bisa menahan spermaku, kutanamkan dalam-dalam kontolku dan . .
. menyemburat spermaku. "Ooohhhhhhh dik , . . . . ennnnhhhhaaaaak dik",
kupeluk mbak Arie, kali ini kutumpahkan rasa sayangku semuanya,
senyumnya mengembang manis, sambil membisikkan sesuatu di telingaku
"Sampaikan permintaan maaf untuk dik Yanti", aku berjanji didalam hati
untuk menyampaikannya, walaupun dengan alasan yang lain tentu saja.

Cerita Panas Sepupuku Part 1  

1 komentar

Kisah ini bermula setahun yang lalu, dimana aku harus jaga rumah, karena
anak dan istriku sedang berkunjung ke saudaranya selama lebih dari
seminggu.

Sore itu sekitar jam lima sore, teleponku berdering, aku angkat . . .
terdengar suara lembut seorang wanita namun dengan background yang
lumayan ramai. "Halo . . . , dik Yanti ada", suara yang sepertinya aku
kenal, namun sungguh aku lupa siapa dia, yang lebih membuat aku
bertanya-tanya, dia mencari istriku (Yanti).
Aku pun menjawab apa adanya "Yanti sedang ke Solo, ada yang bisa saya
bantu ?".
"Lho, ini dik Bandi ya . . . aku Arie, dik, aku sedang di terminal Bis ,
boleh aku mampir ke rumah sebentar?". Belum sempat aku menjawab
permintaannya, telepon sudah ditutup, dan aku sendiri masih
bertanya-tanya, siapa Arie itu?.

Selang satu jam kemudian, ada sebuah taxi yang berhenti didepan rumah,
aku melihat dari arah dalam jendela rumah, seorang wanita muda keluar
serta menenteng sebuah tas traveler yang lumayan besar. Dibawah
keremangan sinar lampu jalan, aku mulai bisa melihat wajahnya. Ya ampun
. . . ternyata dia adalah mbak Arie, kakak sepupuku. Meskipun dia
kupanggil "kakak" tapi dia sepuluh tahun muda dari aku, dia anak budeku,
kakak dari ibuku. Tersentak aku dari kekagetanku, manakala dia berusaha
membuka pintu pagar, akupun berlari menyambutnya, menenteng tasnya yang
. . . upss ternyata lumayan berat. Kupersilahkan dia untuk istirahat
sebentar di ruang tamu, dan kuletakkan traveler bag-nya di kamar depan,
yang memang biasanya selalu kosong itu.

Aku bergegas menemui mbak Arie dan mengajaknya ngobrol sebentar.
"Mbak Arie mau kemana?"
"Aku mau ke Bali dik, tempat kerjaku pindah kesana"
Kenanganpun muncul, tatkala aku menatap wajahnya lekat-lekat. Sungguh
ia belum berbeda ketika aku ketemu dia sembilan tahun yang lalu, ketika
ia masih kelas tiga SMP!.
Arie adalah gadis yang manis, sekilas ia seperti artis Maudy Koesnaedy.
Tubuhnya yang putih bersih dengan tinggi sedang dibalut T-shirt MCM
putih dan celana jeans strecth yang membungkus pinggul dan kakinya yang
indah (paling tidak menurutku). Payudaranya sedang besarnya, padahal
dulu lumayan kecil kalau tidak bisa dibilang rata. Aku bisa mengatakan
demikian, karena dulu . . . sungguh kenangan ini seperti barusan kemarin
terjadi.

Waktu itu (sembilan tahun yang lalu dan masih bujangan) , aku berkunjung
kerumahnya (di sebuah kota besar di Jawa Tengah), selama seminggu aku
tinggal dirumahnya yang besar, yang dihuni Bude, mas Bayu (sulung) dan
mbak Arie (ragil). Aku sendiri seperti menaruh perhatuan khusus
kepadanya. Aku tidak tahu ini perasaan sayang atau hanya sekedar suka
saja. Ia kelihatan bongsor untuk anak seusianya 14 tahun, namun sungguh,
ia seperti kekanak-kanakan. Sering disaat aku membantunya dalam belajar
bahasa inggris, kucium keningnya disaat ia mulai suntuk, untuk memberi
semangat supaya giat belajar kembali, namun lama-lama perasaan yang
sekedar memberi semangat itupun berubah, aku sering juga mencium kelopak
matanya, pipinya dan akhirnya kucium bibirnya disaat ia benar-benar
ketiduran di atas meja belajarnya, karena kupaksa untuk menyelesaikan
latihan ulangannya. Kugendong tubuhnya untuk, kupindah ke tempat
tidurnya. Mbak Arie tak bergerak sedikitpun, saat kubaringkan di
ranjangnya, terlalu capek rupanya. Terkesiap sejenak aku dibuatnya,
jantungku mulai berdegup kencang, saat kulihat rok mininya tersingkap
keatas. Kontolku mendadak menggeliat bangun. Kukunci pintu kamarnya,
entah dorongan dari mana, ada keinginan untuk mencium memeknya.
Perlahan-lahan kuturunkan celana dalamnya . . . dan terlepas !. Kulihat
lekat-lekat memeknya yang tak satupun bulu tumbuh diatasnya . . . sebuah
gundukan daging yang mengundang hasratku untuk segera menciumnya.
Kuangkat kedua pahanya, sehingga posisi kakinya membentuk huruf "O".
Kelentit-nya yang merah muda menyembul keluar. Akupun menciumnya lembut
dan aroma memek seorang perawan yang khas-pun tercium. Kontolku semakin
tegang dan sakit, karena posisiku yang kurang menguntungkan. Aku terus
mencium dan menjilati naik turun. Lobang vaginanya basah karena ludahku.
Sejenak aku kaget, karena mbak Arie mulai menggeliat, aku cepat-cepat
menarik selimut untuk sekedar menutupi posisi kakinya. Namun posisinya
tidak berubah sampai ia tertidur kembali . . . seperti bayi. Akupun
semakin penasaran untuk mengulangi kembali, kali ini aku tidak saja aku
jilati, tapi aku mulai menghisap kelentitnya yang kelihatan semakin
memerah, aku seperti kesetanan menghisap yang lainnya. Aku berusaha
membuka memeknya dengan kedua ibu jariku, kelihatan lubang memeknya
masik kecil dan terlihat nyaris rapat. Kujilati lubangnya, kuusahakan
ujung lidahku menerobos lobang yang sempit itu, sampai pada saatnya
kemudian . . . ia terbangun dalam keadaan aku masih asyik menjilati
memeknya.
"Kamu apakan tempikku dik . . .?"
Tenggorokanku seakan tersekat sesuatu, sehingga tidak mampu menjawab,
apalagi melihat wajahnya. Naluriku mengatakan pasti ia benar-benar marah
atas kelakuanku tersebut, dan aku tidak tahu, aku harus bagaimana
setelah ini, aku hanya bisa menunggu . . . . Sampai beberapa menit
kemudian, tangannya meraih wajahku dan mengangkatnya perlahan-lahan,
sampai wajahku dan wajahnya berhadap-hadapan. Sekali lagi dia bertanya
"Diapakan tempikku dik . . . ?"
"Aku sayang mbak Arie . . . maafkan aku mbak" kataku menghiba. Namun
keadaan yang tidak kuduga-duga, mbak Arie mencium bibirku.
"Aku sudah merasakannya, sejak dik Bandi menciumku di meja tadi"
bisiknya ditelingaku . Akupun langsung melumat bibirnya, tangan kananku
berusaha mencari-cari payudaranya yang hanya seperti putting saja .
Akupun menyingkap t-shirt nya untuk mengalihkan ke payudaranya. Kuhisap
putingnya, mbak Arie hanya mendesis-desis dan mencengkeram pinggangku
erat-erat. Kuhisap bergantian kiri dan kanan putting payudaranya, sampai
akhirnya kuhisap kembali tempiknya (demikian ia menyebut memeknya) yang
sudah sangat basah. Kuhisap kelentitnya dengan gemas,dicengkeramnya
kepalaku, ia menggerakkan bokongnya naik turun, sampai pada saat
berikutnya, ditendangnya pundakku keras-keras sehingga bibirku terlepas
dari memeknya. Belakangan aku ketahui ia mengalami orgasme yang hebat,
sehingga ia tidak bisa lagi menguasai gerakannya. Kupeluk dia, agar ia
segera dapat menguasai dirinya kembali. Demi menjaga perasaannya, akupun
berusaha untuk mengeluarkan kontolku yang sudah tersiksa sedari tadi dan
kuperlihatkan kepadanya. Dielus-elusnya kontolku, sambil diamatinya
cermat-cermat (mungkin mbak Arie baru melihat kontol yang membesar itu
pertama kali), dipermainkannya kontolku sampai digesek-gesekannya ke
putting payudaranya, sampai pada saat aku sudah tidak bisa lagi menahan
cairan di kontolku muncrat kemana-mana. Mbak Arie terlihat bergerak
sekenanya untuk menghindari.
"Apa itu tadi dik . . . ?"
" Itu spermaku mbak, itu yang bisa membuat perempuan hamil kalau sempat
masuk kesini" sambil kuusap memeknya.
Mbak Arie memelukku, akupun menyambutnya dengan mendekapnya erat-erat.

Cerita Panas Seribu Satu Malam  

1 komentar

Saat itu ulang-tahun gue yang ke 28. Cewek gue cakep,
badannya pendek, kecil, pinggangnya langsing,
pantatnya nonggeng, ukuran toketnya gede buat badannya
yang kecil itu. Rambutnya hitam rada ikal, kulitnya
putih dan hidungnya mancung. Umurnya kalo nggak salah
22 waktu itu.

Dia ngajak gue keluar makan, tempatnya rahasia
katanya, spesial surprise buat gue. Gue nurut aje,
pengen tau apa surprisenya. Yang jelas Jasmine, cewek
gue itu, dandan ekstra spesial, tapi nggak menor. Dan
parfumnya samar-samar merangsang.

Ternyata dia pesen kamar di hotel. Bukan hotel mewah,
tapi bukan motel kelas kambing juga. Kamarnya udah
didekor a la Timur Tengah, banyak bantal2 bertebaran
di karpetnya, oiya dia mesennya suite, jadi agak gede
dan ada ruang tamunya. Ada meja rendah juga, ada
wangi2an khas Timur Tengah, dan ada musik khas daerah
situ juga.

„Wah, spesial amat ini, say“, kata gue terheran-heran.
„Bener2 gak disangka lho, kapan elo menghias ini
semua?“
Jasmine cuma senyum-senyum aja. „Udah, santai aja….
Sini, dibuka jaketnya yah, kamu ini rapi2 amat….“ Lalu
dibawanya jaket gue itu ke lemari. Sepatu gue
menyusul. Dan gak lama kemudian kita udah duduk
nyantai, gaya lesehan, di bantal2 itu.
Jasmine nuang red wine buat gue, udah disiapin juga
sebelum kita masuk rupanya. Suasananya tambah intim,
sesekali kita ciuman, dan Jasmine mengelus2 lenganku
yang kekar.

Gak lama kemudian pintu diketok. Gue baru mau bangun
membukanya, tapi dicegah Jasmine.
„Kamu duduk aja disitu“, katanya, „Biar aku yang
buka“.
Ternyata room service. Wah ekstra spesial juga nih,
pikirku..
Menunya campuran antara makanan Asia dan Timur Tengah.
Gue nggak tau namanya apa, tapi enak juga.. Ada daging
kambing, ayam, nasi, dan banyak lauk pauk di cawan
kecil, dan ada roti juga. Penutupnya semacam kue
manis.

Sebelum duduk makan, Jasmine mengunci pintu baik2, dan
menghilang ke kamar mandi. „Aku ganti dulu ya, biar
nggak panas“, katanya dari dalam situ.
„Apanya yang panas?“, gue terheran2.
„Ah pokoknya elo santai aja“ jawabnya disambung
cekikikan.

Wah begitu dia keluar, udah pake kostum lho. Kaya
gadis2 di harem jaman dulu kali ya. Rambutnya dihias
semacam rantai koin emas, tetap tergerai seksi. Di
telinganya dipasang anting2 lingkaran2 agak panjang
bergoyang2, di lehernya juga berkalung emas kira2
tiga-empat kalung. Trus Jasmine cuma pake beha dan
celana dalem, tapi ini juga spesial. Behanya warna
biru muda, dihias mutiara2 palsu dan koin di sepanjang
tali behanya, dan disekelilingnya. Tengahnya hampir
transparan, hingga kelihatan jelas toket dan putting
susunya yang aduhai itu. Behanya seakan nggak muat
menampung semua susunya Jasmine. Gue sampe nelen ludah
saking terpananya. Jasmine juga memakai semacam rok
panjang yang transparan, warna biru muda juga, tipis.
Di pinggangnya melingkar ikat pinggang koin yang
bersusun2. Samar2 kelihatan kakinya yang mulus dan
berlekuk indah. Di pergelangan kaki dan tangannya ada
gelang2 emas dan rantai2 emas yang bergemerincing tiap
kali dia bergerak. "Nah, mari kita makan sekarang,“
katanya dengan senyum manis.

Gue makan rada-rada nggak konsen gara2 si Jasmine yang
seksi itu. Tiap kali tangannya menjulur untuk ngambil
lauk, toketnya otomatis keangkat juga, dan bergoyang
sedikit. Lagian dari duduknya yang ngeleseh itu
keliatan pahanya yang mulus dan bayangan di antara
pahanya. Duh… bikin ereksi aja…
Dengan anjuran Jasmine, kita saling menyuapi. Kadang
dia ngasih aku sepotong daging atau lauk, dan karena
kita makan dengan tangan, rasanya benar2 erotis. Gue
mencoba menyuapinya juga, dan tiap kali Jarmine
menyedot dan menjilati jari2ku. Seksi sekali, dan tiap
kali kontolku bereaksi juga, seakan ikut merasakan
rasanya disedot2 Jasmine.
„Ini aku masak sendiri lho….“katanya sambil menyuapiku
sepotong kentang. „Resepnya rahasia keluarga, dan
bumbu2nya……..“
„Emang enak sekali ini, say,“kataku sambil terus
makan. „Bumbunya enak sekali lho“
„Iya dong… dan kombinasi rempah2 ini bakal bikin
kamu….“ Matanya mengedip nakal,“kuat dan perkasa
sepanjang malam….“
„Hah?“kataku kaget. Bakal panjang malam ini….“Eh, tapi
gue kira room service?“
„Ah… cuma titip di ovennya aja, biar tetep
anget..“jawabnya singkat.

Gue beruntung sekali dapet cewek kaya si Jasmine ini.
Tampangnya imut & innocent, tapi dalam urusan ranjang,
wah… gak ada duanya. Sepongannya maut, ciumannya
bermacam tehnik, dan adegan ranjangnya bikin gue
geleng kepala kadang2. Soalnya gue merasa udah tau
semua gaya main seks, eh si Jasmine masih bisa bikin
gue kagum dengan tehnik2nya. Gak abis2nya surprise
dari cewek satu ini.

Abis makan kenyang, kita cuci tangan di cawan air yang
ada bunga melati dan irisan jeruk lemonnya. Jasmine
ngeringin tanganku dengan handuk kecil.
Gue langsung narik dia dan ngajak ciuman. Udah gak
tahan lagi sih, kita makan santai2 selama kurang lebih
30 menit-an, dan rasanya lamaaaaaa banget karena
terus2an dirangsang dengan suap menyuap dan kostum
transparan si Jasmine.
Langsung gue lahap bibirnya yang merah alami itu,
kukulum2 dan kita sedot menyedot lidah juga. Jasmine
udah mendesah2 erotis. Tapi tiba2 dia mendorong
dadaku.

„Jangan sekarang, aku masih punya hadiah untuk elo,“
katanya sambil tersenyum.
„Ah, apa nggak bisa ditunda?“ gue rada kecewa juga,
udah tegang begini kok..
„Ssh…pokoknya dijamin gak nyesel nanti,“ katanya
sambil menumpuk beberapa bantal di dekat dinding. Lalu
disuruhnya gue nyender disitu. Dia menuang wine lagi
di gelasku, naruh sepiring buah2an, anggur, pisang,
jeruk, dll. Semua meja dan bantal yang lain digeser ke
pinggir, mengosongkan area ruang itu sebisanya. Lalu
ia meremangkan lampu di kamar itu. Lalu dia ke kamar
mandi lagi, keluar2 udah pake secarik kain transparan,
pasangan kostumnya. Kain itu menutup setengah
wajahnya, hingga kini matanya yang indah mempesonaku.

Dengan remote control ia memilih lagu dari CD yang
sedang dipasang. Dan Jasmine mulai menari. Gak nyangka
dapet tontonan tari perut di ulang tahunku ini. Aku
melotot menonton tubuhnya yang indah itu bergoyang2
ditengah ruangan, persis di depan mataku.

Musik mulai dengan lembut, mengalun, seperti suara
seruling. Nadanya panjang mengalun. Jasmine mulai
menggerakkan tangannya, kepalanya bergoyang ke kiri
dan kanan, hiasan di telinganya ikut bergoyang. Lalu
dadanya turun naik, kedepan belakang, toketnya yang
gede itu seperti berputar2 disodor2kan padaku, lalu ia
mulai menggerakkan pinggulnya, naik turun, naik turun,
seirama dengan musik yang masih asing ditelingaku itu.
Gue seperti terhipnotis dengan gerakan2 yang indah
merangsang.

Irama musik makin cepat, diiringi tabuhan semacam
gendang, menurutku. Gue tidak terlalu tahu alat2 musik
daerah Timur Tengah. Tapi yang jelas unik dan enak
didengar, apalagi diikuti goyangan2 Jasmine yang makin
hot. Pinggulnya kini berputar, pertama pelan, dan
makin cepat, naik turun, lalu kaki kanannya maju
kedepan, tangan kirinya naik keatas, lalu pinggul
kanannya itu terhentak2 untuk tontonanku, lalu yang
kiri.

Musik mengalun lebih lembut, dan Jasmine berjalan
berputar2 di depanku. Gaya Arabesque seperti penari
balet. Gerakannya erotis sekali. Matanya menggodaku.
Lalu musik seakan berhenti, tiba2 ia melepas roknya
yang tipis itu, dan gue melotot melihat apa yang
dipakai Jasmine. Celana dalemnya sepasang sama
behanya, cuma bertali tipissssss, dihias koin2 emas
juga, dan belakangnya model G-string, yang cuma tali
doang, koin emasnya berhenti persis dibelahan
pantatnya yang bulat. Penutup depannya mini,
transparan juga, dan si Jasmine mencukur semua bulu
jembutnya hingga belahan memeknya terlihat menantang
dibalik secarik kain transparan itu.

Lalu ia mendekatiku, dan mulai menari lagi persis
depanku. Pinggulnya naik turun, menggodaku, karena
sekarang kelihatan sekali kewanitaanya yang menantang.
Tiap kali ia berputar kelihatan pantatnya yang seksi,
bulat bergoyang. Koin2 emas bergermerincing. Ini pasti
khusus untukku seorang. Gue belum pernah lihat tari
perut, tapi pasti tidak hampir telanjang begini yang
nari. Rasanya seperti sultan sehari aja gue ini.

Lalu gerakan Jasmine makin cepat, makin cepat,
seluruh tubuhnya bergetar, dan toketnya seakan
terlempar-lempar ke kiri kanan, pinggulnya naik turun
dengan cepat sekali Ia mulai menekuk lututnya, makin
rendah,makin rendah, masih bergoyang cepat, dan
dipuncak tarian itu ia jatuh menyembah dihadapanku,
jemarinya menyentuh kakiku. Dan musik berhenti.

Gue tak tahan lagi dan langsung menyergap tubuhnya,
menindihnya, kita bergumul ditumpukan bantal diiringi
alunan musik lembut. Kubantu ia melepas celana
dalamnya, biar nggak robek, katanya. Gue melarang
Jasmine mencopot behanya. Seksi sih kelihatan putting
susunya dibalik kain itu. Kusentuh, kugosok2 pelan
dengan jari2ku, sambil terus mencumbu bibirnya.
Jasmine mengerang. Tangannya mengerayangi tubuhku,
membantuku melepas bajuku satu demi satu sampai
telanjang. Kontolku udah kaku dan bergetar menahan
rasa. Tapi gue sengaja nggak langsung mengentotnya.
Gue pengen denger dia memohon-mohon.

Kuteruskan mengulum bibirnya, tanganku terus merabai
puncak2 toketnya yang gede, sesekali meremas pelan,
sesekali meremas kuat2 sampai ia merintih dan
berontak. Kuelus perutnya yang putih mulus,
pinggangnya. Ciumanku turun ke bawah, ke lehernya yang
jenjang dihiasi kalung2 emas. Kutiup pelan toketnya,
kupijit2 putting susunya. Lalu tanganku yang satunya
meraba2 memeknya yang telanjang tanpa bulu itu. Dia
sudah basah sekali.

Jari2ku menyentuh klitorisnya yang sudah membengkak
terangsang. Jasmine mendesah, mengerang makin kuat.
„Sshhh…..“ kataku mencoba menenangkan. Telunjukku
kumasukkan ke memeknya, berputar2 disitu, lalu
kumasukkan juga jari tengahku. Jasmine mengerang makin
hebat, pinggulnya naik memaksa jariku masuk makin
dalam.
Gue tertawa melihatnya makin meronta menahan
rangsangan.

„Ayo dong, Ndi… ayo… uh… ah…..ahhhh…..,“ ceracaunya
sambil mengelinjang…. Keringat mulai membasahi
tubuhnya, membuatnya mengkilap seksi..
„Hm….?,“kataku santai sambil menggosok2 klitorisnya
dan menusuk2kan jari2ku kedalam memeknya. Dia sudah
dekat sekali, sebentar lagi orgasmenya pasti sampai.
„Oh…oh… Ndi….Ndi… masukkan.. kontolmu..
Ndi….oh…….,“katanya terbata-bata.
Saat kutahu dia akan orgasme, dengan bengis kuhentikan
rangsangan di memeknya. Dan kembali kucium bibirnya.
Ia menjerit kecewa. Kuraba toketnya lagi…
„Bilang apa..??“ kataku.
„Oh… kau kejam Ndi… kau mau aku memohon..oh…“ katanya
terengah-engah..
„Ya, sayang… ayo…bilang…“kataku sambil terus memijat
toketnya.
„Oh…a…yo…entot aku, Ndi… pleaseeeeeeee…. Oh.. aku tak
tahan lagi…. Oh…. Memekku serasa terbakar
Ndi…“bisiknya. „Sekarang, Ndi… aku mohon… oh… „

Kuselipkan salah satu bantal dibawah pantatnya,
membuat posisi memeknya mendongak keatas. Dan dengan
satu tusukan keras gue masukin seluruh kontolku
dedalam memeknya yang rapat.
„Aaaaahhhhhhhhh!!!!!,“jeritnya sambil kakinya
melingkari pinggangku.
Aku mulai menusuk-nusukkan kontolku, keluar masuk
lembut empat kali, lalu kuhentakkan pinggulku
sekuat2nya sekali, terus begitu, lembut, keras,
lembut, lembut, keras.. keras sampai menyentuh dasar
rahimnya. Dan Jasmine mengerang, menjerit, dan
menghentak2kan pinggulnya serirama denganku. Kita
ngentot begini selama 20 menit..

„Ohhhhhhhhhhhh…. Ndi….. ohhhh…nikmatnya…oh… jangan
berhenti…“ katanya disela2 permainan kami.
„Uh…. Hhh….“
Kucabut kontolku dari memeknya. Kubalikkan dia,
sekarang tengkurap.
„Sini, sayang… ayo… nungging yang tinggi
untukku..“kataku makin bernafsu. Ini posisi favorit
gue, Jasmine terlihat pasrah sekali dalam posisi ini.
Pantatnya yang bulat menantang, dan kalau dirumahku,
kutaruh cermin besar didepannya, biar gue bisa liat
ekspresi mukanya dalam keadaan terangsang, saat
kusodok2 dari belakang.

Setelah berdogi beberapa saat, kita ganti posisi lagi.
Sekarang Jasmine terlentang, dengan bantal2 dibawah
punggungnya. Kakinya kuangkat hingga bersandar di
pundakku. Tanganku kutumpu dikiri kanan lehernya,
dalam posisi ini Jasmine juga tak bisa bergerak, tak
kuasa menghindari hantaman2 kontolku di memeknya. Dan
karena pahanya merapat, memeknya terasa makin sempit
buatku. Ia cuma bisa mengerang2 nikmat.

Dan kemudian gue ngerasa kontol gue makin kenceng, aku
hampir sampai. Dan kebiasaanku adalah menghujamkan
kontolku sedalam2nya, ini menyebabkan si Jasmine
orgasme juga, karena kontolku menghantam dasar
rahimnya.

„Aaaaaaaaaahhhhhhhhh… Ndi…… aku sampaiiiiiiiiiiiii,
ohhhhhhhhhh……..“jeritnya melengking. Otot2 memeknya
mencengkram kontolku. Tubuhnya bergetar kuat. Kukunya
terasa mencakar punggungku. Aku makin asyik
menghujamkan kontolku kedalam memeknya, lagi dan lagi
dan lagi dan lagi… Sampai akhirnya gue nggak kuat
lagi, dan…
„Ahhhhhhh……….“ teriakku sambil menyemprotkan spermaku
ke dalam memeknya. Karena udah terangsang dalam waktu
yang lama, maniku kali ini banyak sekali. Kira2 lima
semprotan ke dalam memeknya. Rasanya energiku
terkuras.

„You animal….“ kata Jasmine sambil tersenyum lembut.
Aku terbaring diatasnya. „Happy Birthday, Andie….“
Bisiknya mesra.
„Hm… makasih sekali, cintaku,“ kataku sambil mencium
bibirnya.
Tak lama kita tertidur di ranjang hotel itu. Hari
sudah malam saat kita bangun. Kita lalu mandi busa,
ngentot lagi sebentar di bak mandi marmer itu. Lalu
tidur lagi, di tengah malam kurasakan kontolku naik
lagi. Berkat masakan si Jasmine ya…. Gue kerjain lagi
si Jasmine sampai terampun-ampun. Habis itu baru aku
tidur lelap sampai pagi.
Ulang tahun paling berkesan seumur hidupku.