20 April 2008

Cerita Panas Suami Adikku  

0 komentar

Sekedar catatan, semua nama dalam cerita ini, kecuali nama saya, adalah nama samaran.

********

Edwin mendesah panjang. Nafasnya memburu, sementara goyangan tubuh bagian bawahnya mendesak kedua pahaku semakin terbuka lebar. Kedua lengannya berdiri tegak menahan badannya di kiri-kanan kepalaku. Dadanya menutupi semua pandanganku. Aku hanya bisa melingkarkan lengan kepunggungnya. Tanpa bisa kutahan, desahanku terdengar keras mengikuti irama gerakan Edwin. Derit ranjang tempat kami bercinta semakin cepat. Kulirikan mataku keatas, kulihat mata Edwin terpejam sambil menggigit bibir bawahnya. Aku berusaha menyilangkan kaki ke atas pinggulnya, terlihat Edwin tersenyum tanda ia senang akan apa yang aku perbuat. Lengannya tertekuk sedikit dan bibirnya mengecup dahiku. Ketekan pantatku ke bawah, mulutnya bergumam.
"Ouh...enak San, lagi...,"

Edwin merengek meminta saya melakukan hal yang sama berulang-ulang, sementara ia terus menggoyangkan pantatnya. Merasa nikmat, Edwin malah semakin buas. Nikmat sekali memang jika gerakannya semakin cepat seperti itu. Pelan-pelan aku rasakan puncak kenikmatan semakin dekat. Mataku mulai terpejam, ah..., saat-saat seperti ini yang aku tunggu setiap bercinta dengan laki-laki. Desahku semakin terdengar tak beraturan. Darah ditubuhku mengalir dengan cepat. Dan, tak berapa lama, tubuhku terasa bergetar. Aku menggelinjang, punggung Edwin aku dekap erat, sementara kakiku menekan pantatnya sekuat tenaga. "Terus Win...terus...." Gerakan Edwin semakin cepat. "Sedikit lagi...sedikit lagi." Kenikmatan itu aku rasakan semakin dekat, dan..... "Ooooooh.....," desahku panjang dan terdengar keras. Kakiku menghentak-hentakkan pantatnya, nafasku memburu, dan pinggulku terlonjak-lonjak. Edwin memperlambat gerakannya dan melihatku sambil tersenyum. Kemudian, nafasku mulai tenang. Mataku masih terpejam saat Edwin mencium bibirku lembut. Aku membuka mata. Edwin mulai lagi bergerak dengan buas. Penisnya menghujam vaginaku tanpa ampun. Hanya reda beberapa saat, desahku mulai kembali memburu, demikian juga dengan Edwin.
"Uuh...uh, Ayo Win,...aku sudah,"

Aku bergumam berusaha memacunya agar cepat menyelesaikan adegan percintaan ini. Penisnya terasa makin keras, guratan di sekujur alat kelaminnya terasa sekali membentur dinding vaginaku.

"Sandraaaa!!!" teriaknya memanggil namaku. Seketika, goyangannya terputus-putus, tubuhnya bergetar, desahnya membahana memenuhi ruangan, diiringi denyut penisnya, dan cairan hangat yang memenuhi kemaluanku. Ia terjerebab menimpaku. Aku memeluknya erat dan menciumi dadanya yang menimpa wajahku. Edwin tergolek lemas, kepalanya terkulai di atas dadaku, ia tampak berusaha mengatur nafasnya. Lantas tubuhnya terguling ke sisiku. Di wajahnya tersungging senyum tanda kepuasan. Kuhampiri wajahnya, dan kurebahkan kepalaku ke dadanya.

"Enak, Win?"
Ia mengangguk dan membuka matanya. Tanpa berkata-kata, ia mencium bibirku dan memelukku erat. Ia tersenyum lagi dan mencium dahiku lembut. Kami berpelukan agak lama. Keringat terasa membasahi tubuh kami. Aku usap dahinya yang berpeluh. Ia membelai rambutku lembut, kucium lengannya yang kekar dan mendekapnya.

"Yuk, kita tidur...," ajak Edwin.
Aku mengangguk dan menarik selimut.
Namun, hingga setengah jam kemudian, aku masih belum bisa tidur. Kupandangi Edwin yang tertidur pulas meyimpulkan kenikmatan bagi dirinya. Kulihat wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang tinggi besar tergolek lemas di sampingku. Ah, saya masih tak habis pikir, bagaimana semua ini bisa terjadi? Kekhilafan itu seakan melupakan kita akan status masing-masing yang seharusnya aib jika melakukan hubungan layaknya hubungan suami istri. Pikiranku menerawang jauh, tak ada duanya memang, sensasi yang kami lakukan.
--------

Namaku Sandra, lengkapnya Sandra Damayanti. Anak keempat dari lima bersaudara. Ketiga kakakku semuanya laki-laki, hanya aku dan adikku, Shinta, yang perempuan. Jarak usiaku dengan ketiga kakakku cukup jauh. Dengan kakak sulung, Mas Adi, saya berselisih hampir sepuluh tahun. Sementara dengan Mas Oki dan Mas Nanto, masing-masing delapan dan lima tahun. Hanya aku dan Shinta yang dekat sekali (satu tahun), sehingga wajar jika aku dan Shinta menjadi amat akrab.
Aku bukan gadis alim. Jujur saja, di SMA aku sudah mengenal hubungan intim pria-wanita. Ah, pengalaman masa muda yang sulit dilupakan. Usiaku saat ini 25 tahun. Di keluarga, hanya aku satu-satunya yang belum menikah. Calon sudah ada, Rico, tapi peresmiannya masih harus menunggu pacarku selesai sekolah.

Kedekatanku dengan Shinta juga yang membuatku bisa menumpang di rumahnya. Shinta sudah menikah bulan Juli tahun lalu dengan pria mapan seusia Mas Adi. Saat menikah, Shinta masih amat lugu. Sebagai anak bungsu, ia memang dilarang ayah dan ibuku bersekolah di luar negeri seperti halnya aku dan ketiga kakakku. Kepindahannya ke Jakarta mengikuti suaminya, mungkin adalah yang pertama baginya keluar dari kota kelahiran kami, sebuah kota di Jawa Tengah.

Tak lama setelah Shinta menikah, aku selesai sekolah dan kembali ke Indonesia. Tawaran tinggal di Jakarta datang dari Shinta. Tentunya Shinta berpikir lebih baik aku menetap di Jakarta agar lebih mudah mencari kerja. Apalagi, rumahnya, di daerah elit Jakarta, hanya dihuni berdua dengan suaminya. Tawaran tersebut aku sambut baik. Aku hijrah ke Jakarta mengikuti apa yang dikatakan Shinta, Desember tahun lalu. Di Jakarta, saya sibuk melamar pekerjaan. Pahit juga nasibku, disaat lulusan-lulusan luar negeri dengan mudahnya memperoleh pekerjaan, saya justru terbalik.

Lama-lama, tidak enak juga tinggal di rumah orang, walaupun itu adik sendiri, tanpa memberikan kontribusi apapun. Dengan kesadaran sendiri, aku mengurus rumah sebagaimana layaknya ibu rumah tangga. Shinta juga bukan pemalas, di tengah kesibukannya berkarir, ia masih sempat mengurus rumah sebelum dan sesudah bekerja. Ia tidak tersinggung ketika perlahan-lahan tugas utamanya di rumah mulai aku ambil alih. Memasak adalah pekerjaan rutin saya di rumah.

Situasi berubah kira-kira tujuh bulan yang lalu. Shinta mendapat kesempatan belajar di AS dari kantornya. Tentunya, kesempatan ini tidak disia-siakan Shinta. Suaminya setuju melepas Shinta untuk masa kurang lebih dua tahun. Pesan Shinta kepadaku sebelum ia berangkat amat singkat, hanya satu kalimat. "Mbak, tolong urus Mas Edwin selama Shinta di Amerika, ya."

Sepeninggal Shinta, aku dan Edwin hanya berdua di rumah. Agak aneh memang, tinggal serumah dengan laki-laki yang bukan suami. Aku memang menggantikan peran Shinta di rumah. Semua kebutuhan Edwin aku yang menyiapkan. Shinta yang meminta aku melakukan ini. Kecuali kebutuhan biologis, bisa dikatakan semua kebutuhan Edwin aku layani. Paling tidak hingga lima bulan kemudian.

Memasuki bulan ketiga, aku dan Edwin mulai sering mencari hiburan di luar rumah berdua. Biasanya, kami pergi nonton film atau makan malam. Sesekali, Edwin menemaniku melihat pameran rumah atau lainnya. Beberapa kali, kami juga hinggap ke cafe-cafe. Dan tampaknya, hobi datang ke cafe ini adalah yang paling kami nikmati. Aku dan Edwin jadi keranjingan mendatangi cafe. Satu persatu kami jelajahi. Coba di sini, coba di sana, pokoknya hampir semua kami coba. Sedikit mendengar musik, ngobrol, dan minum, cukup membuat kami segar kembali. Shinta juga tahu kebiasaan kami ini. Dia juga yang menyuruh suaminya menemaniku jalan-jalan. Dari aksi jalan-jalan ini saya jadi tahu, Edwin memang seorang pria lembut.

Seiring dengan itu, kerinduanku dengan Rico semakin memuncak. Maklum, sudah hampir setahun kami berpisah. Dulu, saat masih bersama, aku dan Rico tinggal serumah, sehingga kebutuhan biologis bukanlah masalah yang serius. Beruntung, aku punya kesibukan di rumah, sehingga selama ini semua keinginan untuk berhubungan intim bisa kuredam. Namun, setiap pulang dari cafe, apalagi di sana aku juga mengkonsumsi minuman beralkohol (walaupun tidak banyak), keinginan tersebut kerap muncul. Dan, seringkali aku memupuskannya dengan cepat tidur, sehingga lupa. Sampai suatu hari, aku agak lepas kontrol dalam menenggak minuman. Singkatnya, aku sedikit mabuk. Berjalan ke mobil aku memang masih bisa, tapi sesudahnya tubuhku lemas dan setibanya di rumah, badanku terasa berat dan sulit untuk bisa beranjak keluar mobil. Edwin-pun sama, walaupun kadarnya masih lebih banyak aku. Ia masih bisa mengendalikan diri dan membantuku berjalan.

"Ayo San, aku bantu," ujarnya sambil melingkarkan tangannya ke pinggangku. Aku rangkul pundaknya dan kepegang tangannya erat. Pelan-pelan kami berjalan ke kamar. Edwin membantuku merebahkan tubuh di ranjang.

"Mau air putih?" tanyanya. Aku menggeleng. "Thanks Win. Sorry, aku kebanyakan
minum," ujarku. "Ngga pa-pa, biasa kok, sekali-sekali mabuk itu normal."

Ia berjalan hendak keluar kamar. Apa yang aku rasakan mendadak berubah. Lima bulan tinggal bersama di rumah ini, atau setahun lebih sejak aku pindah, baru sekali ini Edwin menyentuh tubuhku. Rasanya memang berbeda, tubuhku terasa bergetar. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba aku seperti ingin diperlakukan lebih.

Aku tersenyum memandang wajahnya. Edwin juga tersenyum. Edwin mengurungkan niatnya untuk keluar kamar. Ia mendekat dan membelai rambutku. Kusambut belaiannya dengan mencium tangannya. Tangannya menggenggam tanganku dan tanpa aku sadari, kutarik tubuhnya mendekati tubuhku. Sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku. Tanpa pikir panjang, aku sambut kecupannya dan akhirnya kami bercumbu.

Pengaruh alkohol seakan semakin memanaskan adegan percintaan kami. Tangan Edwin mulai meraba sekujur tubuhku, membuat aku semakin lepas kendali. Kecupannya juga sudah merambat ke leher. Aku hanya bisa memeluknya erat dan menarik polo shirtnya ke atas. Kuciumi pundaknya dengan ganas. Edwin meronta kegelian, dan kini giliran lidahnya menari-nari diatas dadaku. Kerah kaus yang aku pakai semakin turun dan sedikit demi sedikit lidahnya terasa membasahi dadaku. Edwin semakin ganas, tanpa meminta persetujuanku, kancing di kausku mulai terbuka satu per satu. Dengan sigap, tangannya juga melepas bra hitam milikku. Ia tersenyum menyaksikan payudaraku polos dihadapannya. Dirabanya lembut seluruh permukaan payudaraku itu. Kami kembali berciuman, kali ini lebih ganas. Aksi pagut-memagut terjadi. Sambil terus berciuman, ia mulai membuka kancing celanaku dan perlahan-lahan menurunkannya. Jemarinya menelusup ke sela-sela celana dalamku. Seketika aku mendesah keras saat jari-jari menyentuh organ paling intim di tubuhku. Rabaannya halus dan sungguh merangsang nafsu birahiku. Tak sampai sepuluh menit, kami sudah berpelukan polos tanpa batas.

Nikmat sekali rasanya didekap oleh tangan Edwin yang kekar. Bulu-bulu tubuhnya seperti menggelitik sekujur tubuhku. Kami makin lupa diri. Tanpa perlawanan, aku memang rela menyerahkan tubuhku pada Edwin dalam kondisi seperti itu. Edwinpun sepertinya semakin bernafsu. Nafasnya semakin memburu. Penisnya mulai menyentuh bibir vaginaku, seperti hendak mencari jalan masuk. Saat itu, bagiku tidak ada pilihan selain menerima penisnya terbenam di liang vaginaku, setahun lebih aku menanti saat-saat seperti ini.

"San...?"
Aku mengangguk pelan dan sesaat kemudian tubuhnya mulai menekan tubuhku. Kugenggam penisnya dan membantunya mengarahkan ke vaginaku. Sekali lagi ia menciumku, tak lama kemudian penisnya sudah bersarang di vaginaku tanda sebuah perselingkuhan telah terjadi.
--------
Aku terbangun oleh bunyi telepon yang berdering kencang. Edwin terlonjak dari tidurnya dan berjalan menuju ruang tengah. Tubuhnya masih telanjang. Seadanya aku mengenakan kimono. Langkahku terhenti di pintu dan menguping pembicaraan Edwin.
"...Iya sayangku, sebentar lagi aku berangkat,...baru keluar kamar mau sarapan,....ada, di kamar,...iya..iya nanti aku sampaikan,...kamu di mana?....ooh, kasihan..., capek?....Ya udah, kamu cepat pulang terus istirahat,...nanti aku telpon dari kantor....baik,...i love you too, bye..."
Mata Edwin beralih ke diriku. Sorot matanya sedikit berbeda dibanding tadi malam.
"Shinta...?"

Edwin mengangguk. Aku menunduk, tak terasa, ada genangan air di mataku. Edwin mendekat dan memeluk diriku erat. Ia membelai rambutku dan mencium keningku.
"Maafkan aku San. Aku khilaf," ujarnya singkat.

Aku tak kuasa berkata-kata, mulutku seperti kaku. Aku memang jahat, telah mengkhianati adikku sendiri, adikku yang paling aku sayangi.
"Kita semalam mabuk," ucap Edwin berusaha mencari pembenaran. Aku tetap diam tak bereaksi apa-apa. Aku hanya bisa memandang wajahnya dan tersenyum tipis. Ia membalas senyumku dan kembali memeluk erat tubuhku. Aku segera menyadari, hubungan kami tidak akan seperti lima bulan terakhir, karena pembatas itu sudah jebol, walaupun lewat sebuah perselingkuhan.

Pagi itu, aku merasa semakin dekat dengan Edwin. Aku seperti mendapat peran tambahan, seperti menjadi istri baru bagi Edwin. Untuk pertamakalinya, aku mengantarnya berangkat ke kantor sampai ke mobil. Edwin terlihat senang sekali diperlakukan seperti itu. Sebelum pergi, ia mencium bibirku lembut, persis seperti yang dilakukannya pada Shinta. Ah, kejadian malam itu seakan mengubah semua sikap kami berdua. Malam itu, habis-habisan kami bertempur. Dua jam kami bergumul di ranjang kamarku sampai akhirnya kami kelelahan. Kenikmatannya memang tiada tara, ada sensasi tersendiri yang terasa menyelinap.

Kenikmatan yang sama selalu kami usahakan berulang lagi. Aku selalu siap melayaninya kapan saja ia butuh, demikian juga dengannya. Tanpa pernah menolak, Edwin selalu meladeni permintaanku. Rasanya, aku tak bisa melewatkan satu hari tanpa bertemu dengan penisnya yang sudah memberikan kenikmatan padaku. Jadwal rutin kami adalah pagi sebelum Edwin berangkat ke kantor dan malam hari. Di hari libur, frekuensinya meningkat. Tanpa mengenal waktu, setiap saat kami bisa melakukannya sesuka kami. Lebih-lebih jika kami khusus pesiar ke suatu tempat. Bak pengantin baru, kami memuaskan diri dengan hubungan intim yang luar biasa.

Kemampuannya memang lain dibanding Rico. Jika kekasihku itu punya kelebihan dalam mencari variasi baru dan membuatku nyaman, maka Edwin lain lagi. Daya tahannya memang bagus. Mungkin akibat ia rutin berolahraga. Nafsunya juga besar, melihat aku memakai pakaian sedikit seksi saja, ia langsung mendekapku dan biasanya berakhir dengan persetubuhan. Jiwa petualangannya juga sedikit di luar batas. Dalam dua bulan ini saja, sudah berulangkali ia mengajakku berhubungan intim di tempat-tempat yang agak mengandung resiko. Yang paling saya ingat adalah saat ia mengajakku bersetubuh di kolam renang sebuah hotel di Bandung. Padahal, saat itu banyak orang di sekitar kita. Caranya memang unik. Tanpa keluar dari kolam, ia mengeluarkan penisnya di dalam air dan memasukkannya ke vaginaku sambil berdiri. Aku disuruhnya tetap diam dan ia yang mengontrol permainan kami. Maksudnya agar orang-orang tidak curiga.

Dari dia juga saya jadi tahu ternyata Shinta tidak seperti yang saya kira. Adikku ini pendiam dan tidak banyak maunya. Tadinya aku berpikir, Shinta akan pasif di tempat tidur. Ternyata aku salah besar. Menurut Edwin, sejak malam pertama, Shinta selalu berusaha mencari sesuatu yang baru dalam berhubungan suami istri. Nafsu seksualnya juga besar, kadang, masih menurut Edwin, mereka melakukannya tiga sampai empat kali sehari. Dalam hati aku berkata, sama saja dengan kakaknya. Kami amat menyadari, apa yang telah terjadi diantara kita adalah sebuah perselingkuhan. Kami juga sepakat tidak mengaitkan hal ini dengan keberadaan Shinta. Dengan Rico, walaupun kami sangat terbuka, saya juga tetap merahasiakan hubungan gila ini. Mengapa? Semata-mata agar kami tidak merasa bersalah. Nikmati saja dulu apa yang kini sudah terjadi.
********

Begitulah, rasanya hanya itu yang bisa saya ceritakan. Biasa saja 'kan? Saya hanya bisa bercerita karena saya tidak ingin menulis kisah yang menjurus seperti stensilan. Lagipula, bukan adegan ranjangnya yang ingin saya tonjolkan, tapi sensasi yang saya rasakan dari perselingkuhan ini. Lain memang, seperti ada petualangan yang mengasyikkan.

What next?

You can also bookmark this post using your favorite bookmarking service:

Related Posts by Categories