14 Januari 2008

Tugas baru pembantu rumahku  

1 komentar

Aku adalah seorang ayah dari 2 orang anak lelaki yang berusia 9 dan 4 tahun. Isteriku bekerja sebagai pengarah di sebuah syarikat swasta. Kehidupan rumah tanggaku harmoni dan bahagia, kehidupan seks-ku dengan isteriku tidak ada masalah sama sekali.

Kami memiliki seorang pembantu, Sumiah namanya, berumur kurang lebih 23 tahun, belum kawin dan masih segar karena kami dapatkan terus dari kampungnya di Jawa Timur. Wajahnya biasa saja, tidak cantik, juga tidak hodoh, kulitnya bersih dan putih terawat, badannya kecil, tinggi kira-kira 155 cm, tidak gemuk tapi sangat ideal dengan bentuk tubuhnya, buah dadanya juga tidak besar, hanya sebesar nasi di Kentucky Fried Chicken.

Cerita ini terjadi pada tahun 1999, bermula ketika aku pulang dari kerja kira-kira pukul 2 p.m, jauh lebih cepat dari biasanya yang pukul 7 p.m. Anak-anakku biasanya pulang dengan ibunya pukul 6:30 p.m, dari rumah neneknya. Seperti biasanya, aku terus menukar seluarku dengan kain pelikat kegemaranku yang tipis tapi jarang, tanpa seluar dalam. Pada saat aku keluar bilik, nampak Sumiah sedang menyiapkan minuman untukku, segelas besar teh limau ais.

Pada saat dia memberikan padaku, tiba-tiba dia tersandung karpet di depan sofa di mana aku duduk sambil membaca paper, gelas terlempar ke tempatku, dan dia tersembam tepat di pangkuanku, kepalanya mencium keras kemaluanku yang hanya bersarung tipis. Spontan aku mengaduh kesakitan dengan badan yang sudah basah kuyup tersiram teh limau ais, dia bangun membersihkan gelas yang jatuh sambil memohon maaf tidak henti-hentinya.

Mulanya aku marah, namun melihat wajahnya yang sayu aku jadi kasihan, sambil aku memegang kemaluanku aku berkata, "Sudahlah tidak apa-apa, cuman benda jadi sengal", sambil menunjuk ke kemaluanku.
"Sum bagaimana Pak?" tanyanya bodoh.
Aku berdiri hendak mengganti kain pelikat, menyahut sambil tegas, "Ini mesti diurut nih!".
"Ya, Pak nanti saya urut, tapi Sum berkemas ini dulu Pak!" jawabnya.

Aku terus masuk bilik, perasaanku saat itu kaget bercampur senang, karena mendengar jawaban pembantuku yang tidak disangka-sangka. Tidak lama kemudian dia mengetuk pintu, "Pak, Mana Pak yang harus Sum urut...". Aku langsung rebah dan membuka sarung tipisku, dengan kemaluanku yang masih lembik. Sum menghampiri tepi tempat tidur dan duduk.
"Pak, nak pakai apa Pak?" tanyanya.
"Pakai tangan aja, tak boleh panas!" jawabku.

Lalu dia meraih batang kemaluanku perlahan-lahan, sekonyong-konyong kemaluanku bergerak tegang ketika dia menggenggamnya.
"Pak, kok jadi besar?" tanyanya kaget.
"Wah itu bengkaknya mesti cepat-cepat diurut. Gunakan air liurmu supaya tidak kesat", kataku sedikit tegang.
Dengan tenang wajahnya mendekati kemaluanku, diambilnya ludah dari mulutnya dan mengelapkan di batang kemaluanku.
"Ah.. kurang banyak", bisikku bernafsu.

Kemudian kuangkat pelirku, sampai kepala pelirku menyentuh bibirnya, "Masukkan saja ke mulutmu, tidak susah nak urut nanti, dan cepat hilang bengkak!", perintahku seenaknya.

Perlahan dia memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya, kepalanya kutuntun naik turun, awalnya kemaluanku kena giginya terus, tapi lama-lama mungkin dia terbiasa dengan irama dan tusukanku. Aku merasa nikmat sekali. "Akh.. uh.. uh.. hah.." Kulumannya semakin nikmat, ketika aku mau keluar aku bilang kepadanya, "Sum nanti kalau aku keluar, jangan dimuntahkan ya, telan aja, sebab itu obat buat kesehatan, bagus sekali buat kamu", bisikku. "Hepp.. ehm.. hpp", jawabnya sambil melirikku dan terus mengulum naik turun.

Akhirnya kulepaskan semua air maniku. "Akh.. akh.. akh.. Sum.. Sum.. enakhhh.." Pada saat aku menyemprotkan air maniku, dia diam tidak bergerak, wajahnya meringis merasakan cairan asing membasahi kerongkongannya, hanya aku saja yang membimbing dan menahan kepalanya agar tetap tidak melepas kulumannya.

Setelah aku lemas baru dia melepaskan kulumannya, "Udah Pak?, apa masih sakit Pak?" tanyanya bodoh, dengan wajah yang merah, bibirnya yang basah memerah, dan sedikit berkeringat. Aku tertegun memandang Sum yang begitu menggairahkan saat itu, aku duduk menghampirinya, "Sum kamu sakit ya, apa kamu mau tahu kalau kamu diurut juga kamu boleh segar seperti Bapak sekarang!"
"Tidak Pak, saya tidak sakit, apa benar kalau diurut seperti tadi, boleh jadi segar? tanyanya semakin galak. Aku hanya menjawab dengan anggukan dan sambil meraih mukanya kucium keningnya, lalu turun ke bibirnya yang basah dan merah, dia tidak meronta juga tidak membalas. Aku merasakan keringat dinginnya mulai keluar, ketika aku mulai membuka kancing bajunya satu persatu, sama sekali dia tidak berontak hingga tinggal panties dan bra saja.

Tiba-tiba dia berkata, "Pak, Sum malu Pak, nanti kalo Ibu datang bagaimanaPak?" tanyanya takut.
"lah... Ibu kan baru nanti pukul enam, sekarang baru pukul tiga, jadi kita masih boleh segarkan badan", jawabku penuh nafsu. Lalu semua kubuka tanpa penutup, begitu juga aku, kemaluanku sudah mulai berdiri lagi. Dia kurebahkan di tepi tempat tidur, lalu aku melutut di depan kemaluannya yang masih tertutup rapat, "Buka pelan-pelan ya, tidak apa-apa , aku cuma mau urut pantat kamu", kataku meyakinkan, lalu dia mulai membuka pangkal pahanya, putih, bersih dan sangat sedikit bulunya yang mengelilingi liang kewanitaannya, hampir botak.

Dengan ketidaksabaranku, aku langsung menjilat bibir luar pantatnta, tanpa henti aku jilat, sesekali aku sodokkan lidahku ke dalam, "Akh.. Pak geli.. akh.. akuhhfh.." Klitorisnya basah membengkak, berwarna merah jambu. Aku hisap, hanya kira-kira 5 menit kulumat liang pantatnta, lalu dia berteriak sambil menggeliat dan menjepit kepalaku dengan pahanya serta matanya terpejam. "Akh.. akh.. uahhh.." teriakan panjang disertai mengalirnya cairan dari dalam liang pantatnya yang terus kujilati sampai bersih.

"Bagaimana Sum, enak?" tanyaku nakal. Dia mengangguk sambil menggigit bibir, matanya basah kutahu dia masih takut. "Nah sekarang, kalau kamu sudah tahu enak, kita coba lagi ya, kamu nggak usah takut!". Kuhampiri bibirnya, kulumat, dan dia mulai memberikan reaksi, kuraba buah dadanya yang kecil, lalu kuhisap-hisap puting susunya, dia menggelinjang, lama kucumbui dia, hingga dia merasa rileks dan mulai memberikan reaksi untuk membalas cumbuanku, kemaluanku sudah tegang.

Kemudian kuraba liang pantatnya yang ternyata sudah berlendir dan basah, kesempatan ini tidak kusia-siakan, kutancapkan kemaluanku ke dalam liang pantatnya, dia berteriak kecil, "Aauu.. sakit Pak!". Lalu dengan perlahan kutusukkan lagi, sempit memang, "Akhh.. uuf sakit Pak..". Melihat wajahnya yang hanya meringis dengan bibir basah, kuteruskan tusukanku sambil berkata, "Ini tidak lama sakitnya, nanti lebih enak dari yang tadi, sakitnya jangan dihiraukan sangat.." tanpa menunggu reaksinya kutancapkan kemaluanku, meskipun dia meronta kesakitan, pada saat kemaluanku terbenam di dalam liang surganya kulihat matanya berair (mungkin menangis) tapi aku sudah tidak memikirkannya lagi, aku mulai mengayunkan semua nafsuku untuk si Sum.

Hanya sekitar 5 menit dia tidak memberikan reaksi, namun setelah itu aku merasakan denyutan di dalam liang pantatnya, kehangatan cairan liang kewanitaannya dan erangan kecil dari bibirnya. Aku tahu dia akan mencapai klimaks, ketika dia mulai menggoyangkan pantatnya, seolah membantu kemaluanku memompa tubuhnya. Tak lama kemudian, tangannya merangkul erat leherku, kakinya menyepit pinggangku, pantatnya naik turun, matanya terpejam, bibirnya digigit sambil mengerang, "Pak.. Pak terus.. Pak.. Sum.. Summ..Sum.. daaapet enaaakhh Pak.. ahh.." mendengar erangan seperti itu aku makin bernafsu, kupompa dia lebih cepat dan.. "Sum.. akh.. akh.. akh.." kusemprotkan semua maniku dalam liang kewanitaannya, sambil kupandangi wajahnya yang lemas. Aku lemas, dia pun lemas.

"Sum aku nikmat sekali, habis ini kamu mandi, terus bersihkan tempat tidur ini ya!", suruhku di tengah kenikmatan yang kurasakan.
"Ya Pak", jawabnya singkat sambil mengenakan pakaiannya kembali.
Ketika dia mau keluar kamar untuk mandi dia berbalik dan bertanya, "Pak.. kalo pulang siang gini telpon dulu ya Pak, biar Sum bisa mandi dulu, terus bisa ngurutin Bapak lagi", lalu ia berlalu keluar kamar, aku masih tertegun dengan kata-katanya tadi, sambil menoleh ke cadar yang terdapat kesan darah perawan Sum.

Saat ini Sum masih bekerja di rumahku, setiap dua hari menjelang period, aku pulang lebih awal untuk berhubungan dengan pembantuku, namun hampir setiap hari di pagi hari kurang lebih pukul 5, kemaluanku selalu dikulumnya saat dia mencuci di ruang cuci, pada saat itu isteriku dan anak-anakku belum bangun.

TAMAT
Pengirim: resender (resender@yahoo.com)

What next?

You can also bookmark this post using your favorite bookmarking service:

Related Posts by Categories